Wayang Jawa

Posted on

Dari Arab kita langsung luncur ke Jawa ya.. Kita omongin wayang Jawa aja deh.. Kok wayang? Ya, Jawa terkenal wayang-nya, sampai-sampai sinden Megan dari LA Amrik jadi terkenal..  Tapi yang kita bahas adalah wayang purwa. Nah.. apa pula tu…

Wayang kulit purwo (pakeliran purwo) merupakan bentuk berkesenian  yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga masih bertahan di kalangan masyarakat jawa hinggga kini. Seni pertunjukan pakeliran purwo sebagai salah satu bentuk kesenian Jawa merupakan produk masyarakat Jawa (Hauser, Arnold, 1974:94). Disaat pindahnya Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Desa Solo (sekarang Surakarta) membawa perkembangan dalam seni pewayangan. Seni pewayangan yang awalnya merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang yang bercerita, adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/ irama gamelan, diwarnai dialog yang menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.

 

Seni pewayangan tersebut digelar dalam bentuk yang dinamakan Wayang Kulit Purwa, dilatarbelakangi layar/kelir dengan pokok cerita yang sumbernya dari kitab Mahabharata dan Ramayana, berasal dari India. Namun ada juga pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon cerita yang di petik dari ajaran Budha, seperti cerita yang berkaitan dengan upacara ruwatan (pensucian diri manusia). Pagelaran wayang kulit purwa biasanya memakan waktu semalam suntuk. Kata purwo untuk membedakan dengan dengan pakeliran jenis lain, misalnya wayang orang (wong), wayang madya, wayang gedong dan sebagainya. Pakeliran purwo tidak dapat dilepaskan dari konteks masyarakat Jawa dalam berbagai aspeknya seperti aspek-aspek ekonomi, politik, dan sosio-kultural (Chanman & Baskoff,[ed.], 1964:140-157).

 

Mulder (1981: 30) mengatakan bahwa pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman hidup. Pandangan hidup tersebut dibentuk oleh suatu cara berfikir dan cara merasakan tentang nilai, organisasi sosial, prilaku, peristiwa-peristiwa dan segi-segi lain dari pengalaman. Pemikiran orang Jawa adalah membangun sikap batin yang sesuai dan seimbang. Karena pada prinsipnya segi lahiriah itu selalu melukiskan kekacauan dan selalu mengikatkannya pada dunia materi, maka hal tersebut dapat menimbulkan hambatan.

 

Magniz Suseno membagi pandangan dunia Jawa menjadi empat lingkaran bermakna (1988:83-84). Lingkaran pertama bersifat ekstrovert, yang intinya adalah sikap terhadap dunia luar yang dialami sebagai kesatuan nominus antara alam, masyarakat dan alam adikodrati yang keramat, yang wujudnya lebih kuat dipedesaan dan atau dalam lapisan masyarakat buta huruf, yang oleh Geertz (1969) sementara disebut agama abangan. Lingkaran kedua memuat penghayatan kekuasaan politik sebagai ungkapan alam nominus. Lingkaran ketiga, berpusat pada pengalaman tentang keakuan sebagai jalan ke persatuan dengan nominus, yang oleh Geertz (1969) disebut sebagai agama priayi. Lingkaran keempat yakni penentuan semua lingkaran pengalaman oleh Yang Ilahi atau Takdir.

 

Wayang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Jawa. Cerita-cerita dalam pakeliran purwo tersebut mengiaskan perilaku watak manusia dalam perjalanannya mencapai tujuan hidup baik lahir maupun batin. Pemahaman terhadap kias tersebut tidak semata-mata dilakukan dengan pikiran melainkan dengan seluruh cipta, rasa, karsa bergantung kepada kedewasaan orang masing-masing.

 

Masyarakat Jawa gemar beridentifikasi diri dengan tokoh-tokoh wayang tertentu dan bercermin serta bercontoh padanya dalam melakukan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Pengidentifikasian tersebut dapat ditunjukkan dengan pemberian nama. Selain pemberian nama terkadang juga penyerupaan diri manusia dengan tokoh-tokoh wayang juga diberikan kepada orang lain yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. Karena begitu besarnya peran wayang dalam kehidupan orang Jawa, maka tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa wayang merupakan identitas manusia Jawa.

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *