Wayang Ang Hien Hoo

Posted on

Anghienho_1-300x199-200x135 Wayang Ang Hien HooAng Hien Hoo,  sebuah perkumpulan orang-orang keturunan Tionghoa di Malang, yang menjadi simbol kecintaan warga keturunan Tionghoa pada kesenian wayang, khususnya wayang orang, yang umumnya diketahui populer di kalangan masyarakat Jawa.  Tak banyak orang Jawa yang menyukai wayang, apalagi memainkannya. Menonton wayang dianggap identik dengan “orang tua”, jadul, ndeso, kolot, dan “kurang modern”.  Juga, tak banyak orang keturunan Tionghoa yang suka wayang. Namun, adanya warga keturunan Tionghoa yang masih nguri-nguri  kesenian wayang, sungguh patut diapresiasi.

Sayangnya, Ang Hien Hoo, berikut “wayang orang Tionghoa”-nya, atau wayang orang yang dimainkan oleh orang keturunan Tionghoa, tidak banyak dikenal. Bahkan, sejarah keberadaannya diwarnai kisah tragis hingga perkumpulan ang hien hoo hampir mati, namun kemudian dapat kita jumpai kembali.

Adalah Eng An Kiong, sebuah “sasana” kebudayaan milik masyarakat keturunan Tionghoa, yang di dalamnya juga terdapat tempat peribadatan 3 agama kaum Tionghoa yakni Konghucu, Tao dan Buddha Mahayana, yang dengan setia tetap memelihara “wayang Tionghoa” ini. Rumah kebudayaan ini mengkader anak-anak muda untuk memainkan wayang, karawitan, gending-gending Jawa, disamping kesenian Tionghoa, dan juga olahraga.

Sejarah ang hien hoo, tak lepas dari peran tokoh-tokoh Tionghoa, yang antara lain dapat kita jumpai di kelenteng Eng An Kiong di Jalan Gatot Subroto, juga tokoh-tokoh Tionghoa yang tinggal Jalan Martadinata, Kota Malang.  Berikut, saya unjukkan di sini, sebuah tulisan yang dimuat di Malang Pos edisi 20 Agustus 2013:

Jejak Ang Hien Hoo Wayang Orang Dari Malang

Ruang berlantai keramik di Jalan Laksamana Martadinata no.70 Kota Malang, menjadi saksi bisu matinya seni wayang orang Tionghoa. Di lantai tersebut, era tahun 1957 – 1962 menjadi tempat latihan wayang para seniman tari Tionghoa. Kini, ruangan itu dihuni jenazah yang dipersemayamkan. Mereka mati, seperti matinya wayang orang bermata sipit.

Terhitung hingga saat ini, 48 tahun sudah, wayang Orang Ang Hien Hoo ‘terbunuh’ perubahan kekuasaan. Wayang orang itu lahir, tahun 1957, kemudian pada tahun 1965 dipaksa mati. Bersama tertindasnya kaum Tionghoa akibat krisis politik, yang tenar dengan nama Gestapu.

Perkumpulan wayang Ang Hien Hoo, awalnya merupakan nama dari perkumpulan sosial dan kematian. Akibat peristiwa 1965, nama berbau Tionghoa juga harus diganti. Tak terkecuali Ang Hien Hoo, yang kemudian beralih nama menjadi “Panca Budhi”.

Ruang-ruang yang dahulu digunakan untuk berlatih tari dan karawitan, telah disekat sebagai persemayaman. Roh-roh kesenian era itupun juga tak tampak, berganti aura kematian di setiap sudutnya. Sejak gestapu, Ang Hien Hoo memang tenggelam dalam nama dan karakter baru.

Namun orang-orangnya, ternyata masih ada hingga sekarang. Mereka mengenang Ang Hien Hoo, sebagai bukti kecintaan peranakan Tionghoa terhadap tradisi masyarakat Jawa. Prinsip dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, dilaksanakan peranakan Tionghoa era tersebut. Wayang orang Ang Hien Hoo memang beranggotakan seniman Tionghoa, hampir seluruhnya orang-orang bermata sipit. Tapi soal olah gerak menari, mereka tak bisa diremehkan. Pada masanya menjadi pujaan, bahkan menarik perhatian Presiden RI pertama Soekarno. Bung Karno mengundang, kelompok itu ke Istana Merdeka pada tahun 1958. Turut serta di dalam rombongan, penari cantik bernama Ie Kiok Hwa atau Nelly Ie. Kelak oleh Bung Karno, Nonik Tionghoa cantik ini, diberi nama Ratna Djuwita, cantik bak kuntum bunga yang mekar.

Si cantik ini, telah meninggal dunia pada 3 Juni 2013 lalu, sesuai pengumuman dalam satu media cetak. Dia mangkat pada usia 77 tahun, kemudian dimakamkan di Solo. Karakter kejawaannya, tampak pada foto diri di pengumuman duka, bersanggul dan memakai kebaya. Tapi rupanya, penari lainnya masih ada yang hidup, yakni Ratnawati (70 tahun). Perempuan sepuh ini, baru-baru ini didatangkan di gedung Dewan Kesenian Malang. Dia tak lain, pasangan menari Ratna Djuwita, dulu tinggal di Jalan Tanggamus 9 Kota Malang, kini hijrah ke Surabaya.

‘’Nama Tionghoa saya kebetulan mirip dengan Nelly, yakni Melly Oei, jadi saat Nelly diberi nama Ratna Djuwita oleh Bung Karno, saya pun berganti nama menjadi Ratnawati,’’ tuturnya.

Sebetulnya, selain Ratna Djuwita, Ratnawati, masih ada lagi, satu primadona. Yakni Shierlly Hiang, tapi Ratna mengaku telah kehilangan jejaknya. Tahun 1958 itu, dirinya berusia 14 tahun, Ratna Djuwita 21 tahun, sedangkan Shielly sekitar 15 tahunan.

Tahun 1958, di undang ke istana negara tepat 17 Agustus 1959, kemudian tahun 1961 bersama Ang Hien Hoo juga diundang kembali, saya berperan sebagai Dayun, Ratna Djuwita menjadi Minakjinggo,’’ cerita penari yang kini tinggal di Granting Baru 5 Surabaya itu. Perempuan yang masih tampak gurat kecantikannya ini, menerawang ke masa lalu. Pada tahun 1958, sebelum tampil ke istana, para penari diboyong ke Keraton Solo. Di sana mereka digembleng selama seminggu oleh guru penari keraton.

‘’Kemudian ke Jakarta, dan saya sebelum tampil rias di kamar Megawati, wow kamarnya luas sekali,’’ kenangnya sembari tersenyum.

Ratna sendiri berhenti menari pada tahun 1962, kemudian berhenti total tahun 1965. Situasi tanah air yang tak bersahabat dan larangan suami, membuatnya membuang keinginan tampil. Peran sembodro. Anggraeni, Sinta hingga Larasati, sampai saat ini masih berkelebatan di benaknya.

‘’Hanya foto-foto ini yang membuktikan, dulu latihan saya ya di Panca Budhi itu, yang sekarang menjadi persemayaman jenazah,’’ katanya.

Akan tetapi, sebelum berhenti menari, Ratna masih sempat bermain film nasional. Yakni film berjudul di balik awan pada tahun1962. ketika itu dia berperan sebagai Giok Li, dengan lawan main Bambang Irawan. Film yang menceritakan asimiliasi antara gadis Tionghoa dan pribumi itu dilakonkan dengan apik.

Tapi pada kenyataanya, kisruh negeri pada tahun 1965, tak seperti gambaran dalam film.  Negeri kian membara, bahkan warga Tionghoa tak dianggap ada. Mereka hidup di negeri sendiri, tapi diberlakukan seperti orang asing.

Etnis Tionghoa yang tergabung dalam Ang Hien Hoo, berkecimpung dalam wayang orang, sebuah kebudayaan Jawa. Meskipun pada akhirnya, wayang orang ini, ikut hilang bersama konflik politik 1965. Konflik itu bahkan, ikut menghapuskan sejarah Ketua Ang Hien Hoo era 1958 – 1965, Siauw Giok Bie.

Konflik waktu itu, memang juga berbuah diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Keinginan mereka untuk nguri-nguri budaya Jawa lewat wayang orang, tergilas juga oleh kekuasaan. Pentas kesenian adiluhung itu mati, seiring ditutupnya Ang Hien Hoo pada tahun 1965. Ang Hien Hoo (AHH) membuka lembaran baru dengan nama Panca Budhi, untuk menghapus nama Tionghoa yang dianggap memiliki stigma kecinaan. Selain menghapus nama AHH, pengurus waktu itu juga mengapus nama Siauw Giok Bie Ketua Ang Hien Hoo 1958 – 1965.

Di Panca Budhi, sampai detik ini, Siauw Giok Bie hilang dalam wall of fame dari masa ke masa Ketua Panca Budhi. Sebab, Siauw Giok Bie sempat ditangkap karena posisinya sebagai Ketua Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) Jawa Timur.

Siauw sekeluarga dulu tinggal Surabaya pada tahun 1918, kemudian tahun 1942 pindah ke Jalan Kayutangan 69 Kota Malang. Kakak Siauw Giok Bie, tak lain adalah Siauw Giok Tjhan, tokoh Baperki pusat sekaligus pendiri universitas milik Baperki yakni Universitas Trisakti (dulu Universitas Res Publika).

Maka tak heran, konon di Kayutangan 69, pernah pula kedatangan Adam Malik semasa muda. Jejak sejarah ini, diperoleh Malang Post melalui penuturan putri Siauw Giok Bie, bernama Wance Siauw (Tingsoan). Wance didatangkan ke Malang oleh budayawan dari Pasar Senggol bernama Abdul Malik.

‘’Saya juga ikut latihan wayang orang di Ang Hien Hoo, ketika saya masih belum mahir, hanya sempat ikut pentas sekali saja di Kota Malang,’’ aku Ibu Wan sapaan akrabnya. Wan, juga sempat belajar petilan, untuk menari Gatot kaca Gandrung. Guru yang mengajari dia adalah, Prapto, sekaligus sebagai guru wayang orang di Ang Hien Hoo pada waktu itu. ‘’Selain ikut latihan wayang orang , saya juga ikut kegiatan bulu tangkis Ang Hien Hoo. Termasuk bermain catur, kebetulan ayah saya termasuk yg mahir untuk bermain catur,’’ kenangnya.

Sehingga, aktivitas ayahnya, sebagai Ketua Ang Hien Hoo tak sekedar mengurus  yang sehubungan dengan masalah kematian saja. Dia merasakan adanya kerukunan dalam komunitas AHH. Diikuti orang Tionghoa dari berbagai aliran dan golongan, mulai yang disebut totok, baba,.orang tua sampai anak-anak.

‘’Mereka dari golongan menengah, menengah ke bawah, komunitas Tionghoa memerankan wayang dengan baik, mereka menjiwai kebudayaan Jawa dan Indonesia,’’ katanya. Hanya saja, yang membuat Wan sedih, ayahnya kemudian ditangkap dan tahun 1965 – 1978 menjadi tahanan politik, dituduh tersangkut G30S PKI. Padahal, ayahnya dulu pernah menjadi anggota DPRD Kota Praja Malang, kemudian DPRD tingkat l Jatim di Surabaya sebagai wakil Baperki.

‘’Jadi, tahanan politik, tanpa alasan maupun peradilan hukum atas tuduhan tersangkut G 30S. Itu adalah penjara kedua kalinya beliau pernah meringkuk di penjara Lowokwaru, pada aksi polisionil, 1947/1948,’’ urainya.

Sebagai keluarga eks tapol, Wan pernah mendapat perlakuan tak enak. Bahkan kakaknya harus memiliki ‘Surat Ampera’, yang menyatakan bebas dari keluarga tersangkut G30S, kalau mau melanjutkan kuliahnya. Dia sendiri ketika ikut penerimaan mahasiswa baru di Universitas Airlangga juga mengalami tekanan.

‘’Sempat mengalami tekanan dan olokan karena masih bernama Tionghoa yang telah diberikan semenjak saya lahir, akibat tekanan itu, ibu saya berusaha keras agar saya dan kakak saya kuliah di luar negeri,’’ terangnya.

Maka keluarga itu meninggalkan Indonesia tahun 1967 sewaktu Wan umur 19 tahunan. Mereka tinggal di Jerman, ayahnya juga hidup dan wafat di Jerman. Negara itu dipilih karena tak butuh visa dan kuliahnya gratis (‘tuition fee free’) bagi seluruh mahasiswa tanpa perkecualian. ‘’Saya lulus sebagai sarjana kedokteran gigi dan juga sempat bekerja sebagai dokter gigi di daerah Koeln Jerman. Pertengahan tahun 1992 kami sekeluarga pindah ke USA berhubung suami saya diangkat menjadi Professor dalam ilmu kedokteran di Georgetown University Hospital di Washington DC, Amerika Serikat,’’ urainya.

Kini, Wan berkeinginan kembali ke Indonesia, menetap selamanya di negeri ini. Dan ingin memanfaatkan ilmu dari Washington DC dalam bidang Dental Technology. Keinginannya adalah hidup di Bali, sebab suaminya juga sudah bisa meninggalkan tugas di kampus. ‘’Komunitas Tionghoa telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia, baiknya kita bersama, bahu membahu, terutama bersama komunitas Kota Malang, tanpa membedakan, apa dan siapa, untuk lebih membangun Kebudayaan Wayang Orang termasuk Wayang Orang AHH Malang,’’ ungkapnya.

Sementara itu, salah satu pengurus Panca Budhi, Chambali (61 tahun) ingat dengan ayah Wan. Di Panca Budhi memang tidak dipasang foto Siauw Giok Bie, sebab datanya hilang semua. Chambali sendiri dulu di wayang orang Ang Hien Hoo menjadi pemukul bonang. ‘’Baperki sebenarnya bukan PKI, tapi organisasi untuk pemberdayaan orang Tionghoa, Pak Siauw itu dulu hanya korban saja,’’ ungkapnya.

Lantas bagaimana jika Ang Hien Hoo dihidupkan lagi saat ini. menurut Chambali sangat susah, sebab jamannya sudah berbeda. Anak-anak sekarang, tak tertarik lagi dengan gerak tari seperti itu.

‘’Kalau ingin hidupkan wayang orang lagi sudah susah, orang Jawa saja sudah enggan kok, apa lagi Tionghoa,’’ ujarnya.

Ang Hien Hoo sendiri, pernah pentas di depan Bung Karno, juga tak lepas dari peran Komisaris Utama Malang Post, almarhum Indra Slamet Santosa. Kenapa begitu, sebab Indra, pernah menjadi ketua wayang orang AHH. ‘’AHH dulu satu-satunya wayang orang Tionghoa di Jawa Timur, bahkan mungkin di Indonesia, sebab wayang orang lainnya, adalah campuran Tionghoa dan Jawa contohnya Perbusa di Surabaya  dan di Solo ada PMS,’’ tandasnya.

(Sumber: MalangPost)

Perkumpulan Ang Hien Hoo, yang kemudian beralih nama menjadi Panca Budhi, hingga kini (2016) tetap menampilkan wayang orang, hanya saja aktivitas pewayangan  tersebut berpindah ke kelenteng Eng An Kiong, dan Panca Budhi sendiri telah berubah fungsi menjadi rumah persemayaman jenazah. Di Eng An Kiong lah kegiatan-kegiatan kesenian dan olahraga dilakukan termasuk mengkader anak-anak muda dalam olah kesenian, karawitan dan gending-gending Jawa.

Beberapa tulisan terkait “wayang Tionghoa” dari perkumpulan Ang Hien Hoo:

  1. Outside The Marketplace? Culture, Power and Identity: In The Case of Ang Hien Hoo Malang.
  2. Pembelajaran Wayang Orang Anak Sebagai Upaya Pelestarian Seni Drama Tari Jawa di Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang.
  3. Seabad Wayang Orang Ang Hien Hoo Malang.
  4. Bung Karno dan Ang Hien Hoo.
  5. Malang Mignon: Cultural Expression of The Chinese 1940 – 1960.
  6. Prominent Indonesian Chinese (Leo Suryadinata).
  7. Heirs to World Culture: Being Indonesian 1950 – 1965 (Jennifer Lindsay).
  8. Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia.
  9. Perancangan Video Kelompok Wayang Orang Ang Hien Hoo Malang.

Tulisan lain terkait pelestarian kesenian wayang Jawa oleh orang keturunan Tionghoa (yang berikut ini bukan dari ang hien hoo):

  1. http://nasional.kompas.com/read/2012/01/22/08595119/peranakan.tionghoa.pelestari.wayang.jawa
  2. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2014/01/28/250661/Warga-Tionghoa-Berperan-dalam-Seni-Wayang

Sekarang kita bandingkan dengan “wayang Cina” ini:

  1. http://www.antaranews.com/foto/85753/wayang-orang-tionghoa
  2. http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2014/09/15/117675/pementasan-wayang-tionghoa/#.VrFMeuZg_a0
  3. http://www.tribunnews.com/lifestyle/2012/01/23/mengenalkan-budaya-tionghoa-melalui-wayang-potehi
  4. http://life.viva.co.id/news/read/24453-pekan_budaya_tionghoa_di_tmii_1
  5. http://life.viva.co.id/news/read/596335-menilik-akulturasi-budaya-tionghoa-dalam-seni-indonesia

Nah, makin bervariasi kan…. . Sekarang, mari kita saksikan sindhen China ini, yang disebut “chong pe”. Perhatikan “cengkok”-nya. Menarik.

Itu semua variasi kesenian yang berawal dari orang Jawa, dan mengalami berbagai kembangan dalam perjalanannya. Dan, orang-orang keturunan Cina, baik dari Malang dengan perkumpulan ang hien hoo-nya, maupun dari daerah lain di Indonesia, juga menyukai dan melestarikan wayang Jawa, disamping wayang Cina. Menarik jika wayang Jawa dan wayang Cina sama-sama dilestarikan.

Okay, kembali ke Tionghoa. Berikut ini adalah beberapa tulisan tentang kontribusi orang-orang keturunan Tionghoa pada bidang kesenian dan kebudayaan:

  1. http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150216161001-241-32533/kontribusi-besar-etnis-tionghoa-di-ranah-hiburan/
  2. http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20141031131543-241-9089/jakarta-jelang-konvensi-peranakan-ke-27/

Pada tahun 2016 bertepatan dengan rangkaian peringatan tahun baru Imlek 2567, Eng An Kiong Malang menggelar wayang orang Tionghoa Ang Hien Hoo ini pada tanggal 22 Februari 2016 mulai jam 18.00 WIB. Pertunjukan ini bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh, dan dihadiri oleh walikota Malang, HM. Anton (Abah Anton), yang juga seorang keturunan Tionghoa.

Menurut penjelasan Bunsu Anton, seorang bunsu (rohaniwan) agama Konghucu, ketika saya temui di kelenteng Eng An Kiong, pertunjukan wayang ang hien hoo ini mengambil lakon (cerita) “Hanuman Obong” (Hanuman Terbakar), yang disesuaikan dengan karakter shio tahun 2016 yaitu Kera, dari unsur Api, atau “Kera Api”.

Tulisan ini saya buat pada awal tahun 2016, bertepatan dengan perayaan tahun baru Imlek 2567, menjelang perayaan Cap Go Meh.

Gambar ilustrasi diambil dari terakota.id

 

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *