Transformasi Jender: Teori dan Praktik Pada Jender dan Media

Posted on

gendered-transformation-200x135 Transformasi Jender: Teori dan Praktik Pada Jender dan MediaTransformasi sosial tentang gender, ide mengenai maskulinitas dan feminitas dan kontruksi terhadap pemaknaan yang berhubungan dengan perbedaan jenis kelamin dan kaitannya dengan media. Konstruksi jender melalui teks-teks media yang membuka wacana biner heteroseksual merepresentasikan kehidupan sosial yang turut mengonstruksi pengetahuan publik dengan ideologi jender yang telah melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Keterkaitan antara pengetahuan publik dan hiburan, yaitu antara domain kognitif dan emosional terlihat dengan cara dimana media dianggap sebagai alat yang mampu mempromosikan kesepakatan sosial normatif yang kemudian pada akhirnya mengkonstruksi moralitas hegemonik. Manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisah-pisahkan, karena saling terkait dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis.  Buku Gendered Transformation: Theory and Practices on Gender and Media, yang dieditori oleh Tonny Krijnen, Claudia Alvares dan Sofie Van Bauwel menyajikan pemikiran dengan pengkategorian terhadap studi-studi tentang posisi laki-laki dengan perempuan yang telah mengalami perubahan-perubahan atau pergeseran berdasarkan ruang dan waktu. Artinya pembahasan tentang gender bisa dilakukan dimana saja, dan space tersebut dapat terjadi pada Media. Media sebagai representasi atas realitas gender yang sesungguhnya, maka diperlukan teori-teori yang multidisipliner dalam membahasnya diantaranya dalam pembahasan buku ini melibatkan teori-teori tentang tanda, teori analisis kritis seperti Michel Foucault, Queer theory dan bahkan teorinya Sigmund Freud masuk dalam bahasan ini.

 

Perubahan dan pergeseran yang telah terjadi berdasarkan bagian-bagian (penggolongan) yang menjadi obyek analisa yang cukup menarik diantaranya bagaimana mengupas gender yang belum tuntas perspektifnya ini menjadi alat atau metode dalam mengkritisi sebuah media seperti blog, film, majalah, dan virtual game. Dalam beberapa chapter yang ada menggambarkan bahwa media-media tersebut dapat merepresentasikan perubahan gender yang sedang terjadi. Bahkan bisa disimpulkan bahwa gender mengalami perubahan dalam wujud virtual namun secara nyata masih terjadi dipertanyakan.

Relasi Jender dan Media

Relasi antara gender dan media mulai berkembang dan menjadi pembicaraan yang cukup menarik dimulai pada tahun 1970an. Studi ini dianggap penting oleh para penganut feminis media massa dan hubungan emansipasi dan perpindahan perempuan[1] yang memiliki kontruksi hubungan yang sangat kuat antara dunia akademis dengan issue gender. Feminis dan penelitian yang lebih luas tentang gender dan media merupakan suatu hubungan antara intervensi kebijakan dengan masyarakat dan dunia politik. Dugaan keberagaman dan kesejajaran ini adalah ini dari dua dunia dan fungsi yang data menjembataninya.

Hubungan antara gender dan media terus mendapat perhatian dari para akademisi sejak tahun 1970an sampai sekarang. Kemunculan kajian media feminis dan keterkaitannya terhadap emansipasi dan pergerakan perempuan[2] yang telah berhasil membangun hubungan tertentu antara masalah akademisi dengan masalah gender. Riset feminist atau bidang lain  yang lebih luas mengenai gender dan media saling terkait erat dengan kondisi sosial dan politik. Gagasan mengenai keanekaragaman dan kesetaraan merupakan inti dari kedua dunia tersebut dan berfungsi sebagai jembatan antara keduanya, yang berkontribusi terhadap pembentukan hubungan yang ada,  meskipun tidak selalu merupakan inti dari kajian ilmiah mengenai gender dan komunikasi. Seperti yang dinyatakan oleh Byerly dan Ross[3] bahwa inklusifitas ini direfleksikan oleh ‘hubungan antara perempuan dan media (yang) mulai mengungkapkan proses perjuangan perempuan telah melibatkan pengguaan media untuk meraih suara, keterlibatan, dan pengaruh publik.  Pandangan ini, yang akarnya berasal dari luar kajian akademisi dan menekankan pada ketimpangan perebutan kekuasaan gender yang merupakan inti dari penelitian ini.

Meski sampai pada tahun 1990an penelitian feminist masih memfokuskan diri pada ‘perempuan’, namun ketertarikan masa kini mulai beralih dan semakin memfokuskan pada masalah ‘gender’, khususnya pada isu-isu sosial dan politik yang berkaitan dengan produksi dan reproduksi diskursus gender dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kajian ini dapat, dan menurut pendapat kami sudah seharusnya bisa membuka diri terhadap pertanyaan gender dari perspektif post-struktural yang dipengaruhi oleh teori Queer, yang penekanannya berada pada konstruksi maskulinitas dan feminitas. Sebagaimana yang telah ditekankan oleh Gauntlett[4] bahwa ide-ide mengenai maskulinitas dan feminitas telah mengalami perubahan sosial dalam beberapa dekade terakhir dengan cara-cara yang sangat berbeda. Konstruksi tersebut berada dalam tindakan dan bersifat hybrid, sehingga tidak hanya diartikulasikan dalam bentuk baru namun juga direvisi dan masuk kedalam ruang-ruang hegemonik. Pengertian mengenai gender kini diaplikasikan ke dalam berbagai penelitian baik itu ditingkatan produksi, teks dan audiens, dan menggunakan perspektif paradigmatik mulai dari ekonomi politik sampai pada eksplorasi dekonstruktif yang bersifat poststrukturalis. Transformasi kontemporer yang terjadi di dalam masyarakat dan politik menggambarkan cara kerja riset gender di mana gagasan feminitas dan maskulinitas mengalami perubahan. Transformasi tersebut sangat terlihat dalam institusi-insitusi komunikasi dan media, yang memberikan ruang riset yang sangat penting untuk ‘melaksanakan’ atau ‘menghancurkan’ isu-isu gender.

Di bagian pendahuluan, Liesbet Van Zoonen menjelaskan mengenai isi dan pendekatan Transformasi Gender sebagai pembentukan kembali agenda penelitian mengenai gender dan media sebagai ‘normal science’ yang merupakan langkah maju dari masa lalu. Terdiri dari beberapa pilihan artikel yang pada awalnya disampaikan pada konferensi ECREA pada tahun 2008 di Barcelona, antologi ini sengaja dirangkai secara eklektik, yang meliputi berbagai topik yang mencerminkan keterkaitan media dan gender dalam berbagai konteks bahasan mengenai politik identitas, definisi ruang publik/privat, budaya visual, budaya maya/cyber serta akses kepada profesi-profesi di bidang media massa. Hal ini bertujuan untuk mempertemukan para ahli yang meskipun berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, namun memiliki fokus riset yang sama. Transformasi Gender memberikan gambaran mutakhir mengenai berbagai perspektif mengenai keterkaitan antara gender dan media, sekaligus mengeksplorasi dampak yang lebih luas serta bersifat interdisipliner ini.

Dengan memfokuskan perhatian pada pluralitas keterkaitan berbagai pendekatan mengenai tema tersebut, buku ini menempatkan dirinya ‘between camps’[5] atau di antara topik yang ada, dengan mengeksplorasi beragam perspektif yang berkisar dari perspektif esensialis-yang mengasumsikan keseragaman yang melekat pada perempuan- sampai pada anti-esensialis-yang mempermasalahkan dan bertujuan untuk mendekonstruksi keseragaman esensi seksual[6]. Diskursus seks sendiri kemudian membuka dirinya terhadap diskursus gender, dasar kehidupan yang bersifat performatif dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, yakni komunikasi dan media. Di satu sisi, diskursus esensialis mengenai seks merupakan aset politik yang berharga yang memungkinkan seseorang untuk melakukan perlawanan terhadap ‘seksisme’. Di sisi lain, dengan mencari jalan melalui proyek-proyek kegiatan transformatif yang mengandalkan klasifikasi yang bersifat konkrit dan representasi dari identitas yang bersifat kohesif, wacana anti-esensialis terhadap gender yang tidak kalah berharganya membahas hal tersebut melakukan fragmentasi sehingga membuka wacana tersebut maenad bersifat non-identik, yakni hal-hal yang bersifat konfliktual seperti kelas, suku, serta ras. Kedua perspektif tersebut, baik itu esensialis maupun anti-esensialis akhirnya (dan secara paradoks) menekankan pada dimensi politik: jika pendekatan esensialis secara strategis sangatlah membantu untuk menarik perhatian pada dimensi yang berakar pada sejarah mengenai diskriminasi seksual akan materialitas tubuh; sedangkan pendekatan anti-esensialis membuka jalan terhadap politik post-modern yang terus mencari jalan terhadap kontigensi permanen[7], yang dengan demikian dilakukan untuk mempertahankan pluralitas dan keragaman dari kekhasan pengekspresian gender. Hubungan antara gender dan media di dalam ontologi ini diterjemahkan kedalam dimensi representasi politik, yang diwujudkan alam performativitas dan konstruksi sosial dari realitas yang ada.

Gendered Politics

Dalam chapter ini membahas mengenai keterwakilan perempuan di ranah publik, dengan mengeksplorasi sejauh mana tema tersebut berkaitan dan mempengaruhi hal-hal yang ada di ranah pribadi. Isu mengenai representasi politik perempuan jelas merupakan hal yang bersifat esensialis yang mana mengasumsikan bahwa perempuan sebagai identitas yang bersifat kolektif (baik secara strategis atau sebaliknya) memiliki sejumlah hak hukum untuk memperoleh pengakuan di ruang publik. Tingkatan otonomi dan kesejajaran (dimana nilai-nilai demokrasi liberal sangat dihargai dalam masyarakat Barat) yang dinikmati oleh perempuan dalam kelompok masyarakat manapun menurut perspektif ini dapat diukur dengan melihat sejauh mana mereka diakui secara efektif di ruang publik. Karen Ross misalnya, berpendapat bahwa untuk memperoleh perubahan secara budaya dan politik dalam konteks bagaimana perempuan direpresentasikan dalam wacana pemberitaan, yang mengarah pada fakta bahwa pada saat ini terdapat peningkatan jumlah jurnalis perempuan namun tidak serta merta menunjukan bahwa perempuan digambarkan secara lebih adil dalam konteks pemberitaan. Claudia Alvares kemudian menganalisis hubungan antara diskursus akademis feminis dengan representasi jurnalistik mengenai ‘isu-isu perempuan’ dalam dua surat kabar Portugis, untuk mengetahui sejauh mana kepentingan masyarakat umum secara efektif dianggap sebagai hal yang bersifat overlapping dengan hal-hal pribadi.  Kemudian, topik mengenai masuknya perempuan ke ranah politik yang merupakan bagian dari benteng hegemoni laki-laki, dieksplorasi oleh Marlene Coulomb-Gully dalam konteks konstruksi identitas, reaksi yang ditimbulkan, serta kekhususan kontekstualnya. Sedangkan Margareth Luenenborg, Jutta Roeser, Tanja Maier dan Kathrin Mueller juga membahas mengenai meningkatnya visibilitas politisi perempuan, mendiskusikan mengenai perubahan yang terjadi baik itu dalam hal representasi media terhadap perempuan tersebut dan juga bagaimana mereka diterima oleh konsumen media.

Embodied Performativities

Dalam Chapter ini membahas mengenai penjenderan tubuh yang diproduksi dan di undang-undangkan dalam berbagai teks media. Istilah yang saling bertolak belakang (maskulinitas dan femininitas) yang muncul dalam ranah heteroseksualitas dan heteronormativitas yang dilembagakan yang kemudian membatasi kemungkinan penjenderan dalam sistem biner yang dirigidkan dari poliritas gender. Berdasarkan pada fakta yang ada bahwa definisi mengenai identitas gender hanya dapat didefinisikan secara saling bertolak belakang terhadap karakteristik yang terlewatkan, para anti-esensialis menekankan pada upaya-upaya gender untuk mendekonstruksi dikotomi rigid yang terjadi antara lelaki dan perempuan dengan menekankan pada fluiditas kategori tersebut. Frederik Dhaenens, Daniel Biltereyst dan Sofie Van Bauwel membahas mengenai integrasi teori queer kedalam penelitian sejarah film dan kemudian kedalam representasi gay dan lesbian, dengan menekankan pada tantangan yang ada dalam Motion Picture Production Code oleh tiga film populer di akhir tahun 1950-an dan di awal tahun 1960-an yang terkait dengan tema-tema homoseksualitas dan identitas queer. Begonya Enguix-Grau yang meneliti tentang pendekatan film terhadap interseksualitas, menyatakan bahwa hal tersebut tidak sering terjadi justru karena interseksulitas menghindari pemetaan kerangka representasi yang ditawarkan. Hal tersebut biasanya didasarkan pada keberadaan dua jenis kelamin dan dikotomi gender. Normalisasi dikotomi laki-laki/perempuan, juga berarti penindasan/penyerahan bentuk perilaku dalam infrastruktur popularitas platform dunia maya seperti yang dibahas oleh Delia Dumitrica dan Georgia Gaden; sebuah proses yang beresiko pada pengkondisian pilihan dan keinginan konsumen, seperti halnya persepsi mereka terhadap gender. Olena Goroshko dan Olena Zhigalina juga memfokuskan diri pada dunia maya, dengan menekankan pada fluiditas dan ketidakstabilan gender sebagai sebuah kategorisasi yang hampir tak terlihat keberadaannya dalam konstruksi identitas politik secara online di internet.

Gendered Socializations

Dalam Chapter ini menawarkan pemahaman mengenai dinamika yang ada dalam membentuk ideologi gender dalam kehidupan sehari-hari, yakni dengan melalui stereotyping yang dikonotasikan dengan esensialisme  berdasarkan jenis kelamin yang direproduksi dan diperkuat oleh media. Topik yang menjadi perhatian dalam hal ini adalah media profesional, serta wacana gender yang nampak dalam isi media yang secara sosial membentuk pandangan dunia. Toni Krijnen menekankan pada manifestasi gender secara emosi dan moralitas dalam realitas televisi, dengan menginvestasi sejauh mana stereotyping yang terjadi mengenai bagaimana masalah emosionalitas dikaitkan dengan feminitas dan searah dengan moralitas yang bersifat maskulin dalam tayangan-tayangan tersebut. Peran yang dimainkan oleh media sebagai alat sosialisasi dianalisis oleh Elke Van Damme yang memfokuskan diri pada bagaimana diskursus tayangan-tayangan pop dipergunakan oleh remaja untuk mendefinisikan identitas gender mereka sendiri, khususnya dalam pengartikulasian seksualitas. Martha Blomqvist dan Kristina Eriksson mengeksplorasi konstruksi gender di sektor TIK melalui surat kabar di Swedia, dengan melihat fakta yang menunjukan strategi media dalam membuat perempuan lebih sering melupakan keberadaan mereka selain hanya untuk mengabadikan status quo yang ada dalam hubungan gender. Dengan meneliti ketidaksetaraan gender di sektor media di Finlandia, Sinikka Torkkola dan Liris Ruoho menyatakan bahwa industri media saat ini terbagi diantara kubu yang menerima bahwa praktek jurnalistik sebagai bebas gender di satu sisi, dan kubu yang lain yang menyatakan adanya pembagaian tenaga kerja berdasarkan gender yang muncul dari masalah stereotyping gender di sisi lain.

Berikut merupakan tabulasi berdasarkan kajian-kajian gender dan media dalam buku gendered transformation:

No. Gendered Transformation Chapter Noted on Contributor Who is: Theory: Content Articles:
1 Gendered Politic Silent Witness: News Sources, the Local Press and the Disappeared Woman Kareen Ross Professor of media and publik communicaton at the University of Liverpool, UK. Feminist and media Dalam artikel ini menceritakan bahwa peningkatan jumlah jurnalis perempuan tidak sebanding dengan posisi perempuan terhadap laki-laki agar memberikan kesan setara dalam pemberitaan.
Tracing Gendered (in)visibilities in the Portuguese Quality Press. Claudia Alvares Associate professor in cultre and communicatin at Lusofona University, Lisbon, Portugal. Feminist content analysis: liberal and radical feminis;

CDA by Van Dijk and Fairclough’s.

Sigmund Freud.

Dalam artikel menjelaskan bahwa perempuan masuk dalam wilayah politik bukan mengatasnamakan kepentingan perempuan karena seringkali masih tumpang tindih dengan kepentingannya sendiri maupun kepentingan kelompok pengusungnya.
Woman’s Time Has Come: An Archaeology of French Female Presidential Candidates Marlene Coulomb-Gully Former student of the ‘Ecole Noemale Superieure de Lettres’. Archaeology by Michel Foucault; gender and politic. Keterlibatan perempuan dalam politik merupakan representasi dari bagian-bagian yang menganut hegemonitas laki-laki.
Gendered analysis of Mediated politics in German Margareth Luenenborg, Jutta Roeseer, Tanja Maier and Kathrin Mueler Professor at media and communication Feminist and politic Dalam artikel ini menjelaskan bahwa terjadi peningkatan visibillitas perempuan, dan bagaimana perempuan berupaya untuk melakukan diskusi aktif dalam membuat perubahan yang positif dan menggunakan media sebagai alat presentasi agar keberadaannya diterima oleh para pembaca.
2 Embodied Performativities Hollywood, Resistance and Transgressive Queerness: Re-reading Suddenly, Last Summer (1959), The Children’s Hour (1961) and Advise &consent (1962). Frederik Dhaenens, Daniel Biltereyst and Sofie Van Bauwel PhD student; professor in film, television and cultural studies. Queer Theory (Foucault), Cinematography. Telah terjadi integrasi teori queer kedalam film yang berjudul  Suddenly, Last Summer (1959), The Children’s Hour (1961) and Advise &consent (1962) untuk merepresentasikan kelompok gay dan lesbian dalam mengungkapkan identitas diri.
Political Blogging: At a Crossroad of Gender and Culture online? Olene Goroshko and olene Zhigalina Professor linguistics and sociology of communication; senior lecturer pf cross-cultural communication and modern language at dept National University “Kharkiv Polytechnic Institute”, Ukraine. Analisys quantitatif and qualtatif content of Blog. Focus penelitian ini ada pada dunia maya dimana penekanan fluiditas dan ketidakadilan gender menjadi sebuah kategori yang hamper tak terlihat keberadaannya sebagai idetitas politik secara online.
XXY: Representing intersex Begonia Enguix Grau Doctoral student in communications at the University of Calgary. Sigmund Freud, socio-cultural discourse. Film XXY merupakan representasi terhadap interseksualitas. Selama ini keberadaannya tidak diakui karena menganut sistem biner. Padahal diketahui secara essensialis bahwa ia memiliki penis tapi terlalu kecil dan memiliki klitoris tapi terlalu besar.

Terjadi normalisasi dikotomi antara laik-laki dengan perempuan sebagai bentuk penindasan dalam infrastruktur yang umum dalam dunia maya.

Disclipining Fantasy Bodies In Second Life Georgia Gaden and Delia Dumitrica PhD Candidate at the University of Calgary; a doctoral Student in Communications of Calgary too. Patriarchal and postfeminist neo-liberal discourse.

Foucault: “Technologies of the self”.

Artikel ini menganalisa tentang game virtual pada ‘second life’. Dimana tampilan-tampilan yang mencerminkan jenis kelamin berdasarkan keinginan dari konsumen. Artinya gender representasi dengan budaya yang ada. Seperti perempuan di gambarkan sebagai sosok kartun virtual yang memiliki ‘big breast’.
3 Gendered Socializations Reality TV’s Contribution to the Gender Differentation of Moral-Emotional Repertories. Tonny Krijnen Assisten Professor in media and communication at the Erasmus University of Rotterdam. Gender representation. Media, Qualitative film analysis. Dalam artikel ini menekankan bahwa siaran TV sebagai reality show menekankan sisi emosional dan moralitas sebagai manifenstasi dari gender. Perempuan identic dengan perasaan-perasaan yang ada kaitannya dengan emosi.
Casualizing’ Sexuality In Teen Series. A Study of the gendered sexual Discourse In The Popular American Teen Series one Tree Hill and Gossip Girl Elke Van Damme Researcher from the Research Foundation-Flanders (FWO). Cinematography Artikel ini menganalisa tentang bagaimana tentang tanyangan-tayangan popular yang ada di televisi telah menjadi acuan para remaja belasan tahun dalam mendefinisikan identitas gender dan artikulasi tentang seksualitas.

Laki-laki merupakan sosok individu yang seringkali memanfaatkan kesempatan (seksualitas) yang datang padanya tanpa menyia-nyiakan sedikitpun.

Perempuan akan mendapatkan cemoohan sebagai slutty apabila memiliki banyak pasangan.

Media Constructions of Gender In ICT Work Martha Blomqvist and Kristina Eriksson Associate professor in sociology and senior lecturer; PhD in Sociology at Uppsala University. Media analysis Analisa terhadap sebuah surat di Swedia  yang menunjukkan fakta bahwa perempuan lebih sering melupakan keberadaannya dan yang dilakukan hanyalah mengabadikan status qua dalam relasi gender.
Looking For Gender Equality In Jurnalism Sinikka Torkkola and liris Ruoho PhD, senior researcher; is the adjunct professor  the department of journalism and mass communication at the University of Tampere, Finland. Structural and cultural analysis. Gender discourse.

Based on social identity Theory (Marjan De Bruin, 2004): gender, professional and organizational identity.

Artikel ini menjabarkan faktor2 apa yang seharusnya dilakukan untuk mendapatkan posisi yang sama dengan laki-laki.

Perempuan harus melakukan cara-cara sebagaimana yang dilakukan oleh para pria dalam mengamankan posisi karernya.

Identitas sosial mengacu pada tata cara dimana individu dan kolektiv tersebut dibedakan dalam hubungan sosial mereka dengan individu lain atau kolektif.

Terdapat dua kubu antara yang bebas gender dengan kubu based on gender.

Sumber: rangkuman buku Gendered Transformation.

Kritik Terhadap Buku Gendered Transformation

Buku ini telah memberikan banyak inspirasi pada penulis tentang bagaimana peran media merepresentasikan kehidupan sosial yang terjadi dalam keterkaitannya dengan gender. Fakta sosial tersebut menjadi sebuah harapan baru bagi para pengusung gerakan feminis yang menginginkan kesederajatan antara laki-laki dengan perempuan melalui media. Namun harapan tersebut tidak semudah yang diinginkannya, karena media belum dianggap netral dalam merepresentasikan tentang realitas sosial dalam gender. Media belum menjadi sebuah instrumen yang benar-benar sebagai ‘true picture of reality’ yang mampu memberikan keterkaitan antara tiap-tiap bagiannya. Begitu pula apabila tema prostitusi menggunakan media sebagai instrumen dalam membawa perubahan agar lebih mengutamakan faham-faham esensialis sebagaimana dalam genealoginya Foucault maka sangat memungkinkan sekali akan mengalami nasib yang sama seperti isu gender. Berikut merupakan bagian-bagian yang dianggap sebagai bagian yang patut untuk dikritisi mengenai isi dari buku ini:

Media dan Politik

Buku ini memandang bahwa kenyataannya politik menjadi sebuah alat dalam mencapai kekuasaan yang telah mampu memanfaatkan media sebagai penerjemah dan metode dalam memahamkan masyarakat terhadap apaun keputusan yang telah dilakukan oleh penguasa. Foucault sendiri pun mengakui bahwa kekuasaan harus dilihat sebagai hal yang jamak, positif, produktif dan relasional. Hal tersebut mengandung arti bahwa tidak ada bentuk tunggal untuk kekuasaan. Kekuasaan hadir dimana-mana, ada dalam semua relasi sosial dan dilaksanakan pada titik-titik yang tak terkira banyaknya dalam bentuk-bentuk yang heterogen (Barry dan Ritzer, 2014: 650-651). Meskipun demikian peluang bagi media agar senantiasa independen dan bersikap netral dengan keleluasaan atas kuasa yang dimilikinya akan mampu membuat perubahan secara signifikan dalam mengubah paradigma yang selama ini terjadi pada kostruksi gender. Buku ini menunjukkan bahwa media tidak mampu berbuat apapun atas masyarakat yang selama ini terdogmatis dalam menempatkan posisi antara laki-laki dengan perempuan, sehingga perubahanpun hanya dalam bentuk alat atau instrumen dalam melihat gender. Kenyataannya konstruksi genderpun masih terjadi dalam beberapa media baik secara produksi, praktek dan teori yang menggunakan pendekatan foucaultpun tak mampu membuat dan membongkar gender sebagai salah satu pilar dalam mengatur tindakan antar relasi laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu kesan yang ditangkap oleh pereveiw sebagai penulis masih melihat bahwa buku ini masih menggunakan pendekatan positivisme yang tidak mampu membuat gender mengalami perubahan. Sebagaimana yang terjadi pada gender sebagai topik dengan media sebagai instrumen untuk mengukur perubahannya, maka pereview hanya akan menggunakan buku ini dalam mengupas prostitusi dengan media sebagai metode dalam mengukur perubahannya akan menggunakan perspektive essensialis. Kelemahan dari buku ini ada pada letak obyek media yang masih menggunakan obyek yang terjadi pada kurun waktu beberapa tahun yang sudah berlalu, oleh karena itu kekinian dari perkembangannya masih belum menunjukkan perubahan. Meskipun beberapa sudah menggunakan obyek media yang terjadi dibeberapa tahun saat ini, dengan hasil yang sama pula yaitu kesederajatan antara laki-laki dengan perempuan belum terjadi.

Kekuasaan tidak bekerja lewat bentuk represi hukum dan larangan, namun kreatif akan bentuk-bentuk subjektivitas, kapasitas dan mode tindakan. Kekuasaan juga tidak hadir sebagai subtansi yang dapat dimiliki oleh satu partai tertentu. sebaliknya kekuasaan dipahami sebagai perimbangan kekuatan, situasi strategis kompleks menyeluruh antara pihak-pihak dalam relasi-relasi pertentangan dan perlawanan kompleks (ibid, hal: 655). Selayaknya dalam buku ini melihat bagaimana kuasa atas kekuasaan yang dalam bentuk mikro terjadi dalam mempengaruhi teks media yang berguna sesuai dengan faham feminis bukan untuk memenuhi keinginan dari konsumen. Oleh karena itu kuasa tersebut tidak mampu digunakan secara membentuk relasi hubungan antara laki-laki dengan perempuan.

Media dan Konteks Sosial

Beberapa artikel ini menggunakan teori Foucault dalam mengkaji media dalam berbagai konteks sosial budaya yang tak mampu dikendalikan oleh media itu sendiri. Media harus mampu menuruti apa yang menjadi kehendak dari masyarakatnya. Foucault lebih tertarik menyebut masyarakat sebagai ‘masyarakat normalisasi’[8]. Ketidakberdayaan media apabila dihadapkan pada masyarakat yang secara umum berada dalam kostruksi yang sangat ketat hingga pesan yang disampaikan harus merujuk pada apa yang diinginkan dan disukai oleh masyarakatnya. Media tidak mampu membuat terobosan yang menentukan arahnya sendiri agar membuat perubahan bagi masyarakatnnya tentang gender yang sebenarnya diharapkan oleh kaum feminis, namun media masih melihat dari apa yang terjadi oleh masyarakat kemudian menyajikannya berdasarkan konstruk tersebut.

Dimana pengaturan individu dan populasi manusia menurut praktik-praktik yang membagi dan mengelompokkan mereka sesuai dengan norma-norma tertentu, dan identitas-identitas yang mereka terima atau tambahkan terkait dengan norma-norma tersebut[9]. Dengan demikianlah akhirnya media juga menjadi alat-alat bagi agama, norma-norma dalam membentuk produk beritanya, teks yang disampaikanpun juga menganut sistem moralitas yang dibangun diantara konteks sosial yang terjadi. Seperti yang terjadi dalam kegiatan prostitusi maka bisa dipastikan bahwa media akan memberikan dan memproduksi teks dan isi beritanya yang berdasarkan moralitas yang syarat akan menganggap bahwa media tidak pada pijakan yang netral.

Upaya yang dilakukan oleh Foucault tersebut dalam rangka menelusuri genealogi ‘masyarakat normalisasi’ agar setiap individu mampu mamahami dan mengatur diri keluar dari kerangka pikir norma dan identitas[10]. Media seharusnya menjadi instrumen yang mampu menuntut dan memberikan penjelasan yang sistematis agar masyarakat mampu keluar dari kerangka pikir yang syarat akan norma dan membentuk identitas baru. Secara normalisasi praktik prostitusi merupakan bentuk-bentuk masyarakat yang keluar dari identitias masyarakat namun secara arkeologinya seharusnya media mampu memberikan petunjuk yang sebaliknya dimana justru masyarakat tanpa lokalisasi itu masyarakat yang keluar dari identitasnya. Modernisasi telah membentuk masyarakat yang sangat ketat agar tunduk dan patuh pada konstruk yang ketat terhadap dogma yang ada, namun identitas yang lama yang essensialis menjadi pudar dan dtinggalkan.

Implikasi Teoretik

Buku ini membahas tentang bagaimana keterkaitan antara gender dengan media yang mendapat perhatian secara akademisi dari para kaum feminis sejak tahun 1970. Keterkaitan diantara keduanya menjadi bahan yang cukup menarik dalam melihat kekinian dari perkembangan hubungan antara laki-laki dengan perempuan yang erat kaitannya dengan kondisi sosial dan politik. Keterlibatan media dalam memperbaiki hubungan laki-laki dengan perempuan dianggap sebagai langkah yang berbeda dan memberikan harapan yang cukup besar terhadap persoalan-persoalan gender yang selama ini belum dianggap selesai. Media sebagai alat dan metode yang netral yang mampu menembut batas-batas normative dan mampu membuat perubahan yang besar terhadap gender namun tetap mendapat ganjalan dan halangan yang cukup luar biasa sekali sebab dalam media pun terdapat intervensi dari faktor sosial dan politik. Buku ini dpengaruhi oleh beberapa teori diantaranya tentang beberapa kajian gender dalam perspektif feminis poststrukturalis seperti teori Queer, selain itu teori-teori analisis wacana kritis dalam melihat beberapa produk dari media, teks dan audiens. Perspektif paradigmatik juga menjadi dasar analisa dari buku ini dimana terdapat kajian mulai dari ekonomipolitik sampai pada dekonstruksi ala poststrukturalis.

Penulis sebagai pereview dari buku ini memberikan perhatian yang besar terhadap fenomena prostitusi yang marak menjadi pembicaraan dalam berbagai media mulai dari media cetak maupun media elektronik. Kajian tentang prostitusi ini merupakan kajian yang erat hubungannya dengan relasi antara laki-laki dengan perempuan, oleh karena itu kajian gender menjadi kajian yang sangat penting bagi penulis dalam membuka paradigma agar lebih memahami persoalan prostitusi. Hubungan antara prostitusi dengan menjadi inspirasi yang cukup mendalam bagi penulis, karena media memberikan kontribusi dalam memproduksi beritanya baik secara teks dan audiens. Sebagaimana ketika gender dan media dianalisa keterkaitannya yang mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa masih ada persoalan secara sosial dan politik yang sangat ketat yang mempengaruhinya, maka prostitusi juga demikian adanya bahwa unsur sosial dan politik menjadi faktor yang harus diperhatikan secara serius bagaimana media tidak mampu menjadi alat yang netral dalam memahami persoalan tersebut sehingga prostitusi menjadi paradigma yang masih terdogmatis oleh hal tersebut.

Kajian Foucault menjadi dasar analisa dari beberapa artikel yang disajikan dalam buku ini diantaranya artikel yang berjudul “Disciplining fantacy bodies in Second Life” dimana dalam artikel ini mengamati game virtual pada ‘second life’ yang menampilkan gender berdasarkan konstruk sosial yang ketat yang biasa dibangun oleh masyarakat seperti perempuan identik dengan memiliki paras yang cantik, seksi, memiliki payudara besar dan bokong yang besar. Sedangkan laki-laki diidentikkan dengan sosok individu yang memiliki tubuh besar, dada yang bidang, tubuh atletis, perut six pack. Representasi game virtual ini menjadi gambaran yang tidak terlepas dari kehidupan sosial yang selama ini menjadi persoalan bagaimana membedakan dan menempatkan laki-laki dengan perempuan. Dalam teks yang disampaikan media dalam merepresentasikan gender tidak jauh beda dengan kontestasi yang selama ini dibangun oleh masyarakat, artinya media belum mampu membuat sebuah terobosan yang baru dalam menempatkan gender sebagaimana yang menjadi keinginan dari para feminis yang mencoba menelusuri jejak agar gender tidak terkonstruksi oleh struktur. Lalu bagaimana dengan rencana disertasi dari penulis sendiri yang menginspirasi keterhubungan media dalam memberitakan teks dan memproduksi berita tentang prostitusi. Semisal contoh yang menarik untuk dibahas bagaimana media memproduksi berita tentang prostitusi adalah bagaimana pemberitaan dari kementrian sosial dibawah pemerintahan Joko Widodo, mentrinya Khififah Indar Parawansa mengatakan Indonesia kini tengah darurat pornografi. Sehingga pemerintah Republik Indonesia akan menggelar Rapat Anti Pornografi untuk menangani masalah industri seks[11]. Khofifah juga menjelaskan kalau pembahasan tentang pornografi lebih tepat dari pada membahasakannya dengan pembahasan industri seks atau lebih bahkan prostitusi. Bukan kali ini pula Khofifah yang mencoba menghilangkan makna yang sebenarnya dari prostitusi, namun lebih membungkus persoalan yang sesungguhnya tentang makna prostitusi. Maraknya kasus prostitusi online yang memberikan beberapa dampak seperti kekerasan seksual, prostitusi anak, prostitusi terselubung seperti menggunakan kosan sebagai praktek prostitusi. Satuan tugas yang membahas tentang pornografi ini melibatkan pihak departemen keagamaan sehingga bahasa yang digunakan juga harus menggunakan bahasa yang langsung pada persoalan yang sesungguhnya tentang prostitusi, namun di samarkan dengan alasan bahwa lebih bisa diterima oleh masyarakat apabila menggunakan issu pornografi daripada prostitusi.

Bagi Foucault agama adalah sebuah kekuatan politis, sebuah instrumen kekuasaan yang hebat untuk dirinya sendiri. Dengan agama maka secara penuh terjalin sebuah elemen-elemen imajiner, erotis, efektif, badani, sensual dan seterusnya (Carotte, 2011; 150). Kekuatan tersebut digunakan oleh agama dalam mengontrol perilaku-perilaku kehidupan manusia. Bahkan dalam kehidupan seksualitaspun agama mengatur dengan mengatsnamankan kemoralan manusia dan generasi yang akan datang. Prostitusi tidak mendapat perhatian sedikitpun oleh kaum agama, namun mereka tidak juga menemukan jalan keluar setelah beberapa kejadian yang diungkapoleh media tentang beberapa praktek prostitusi online dan prostitusi terselubung. Agama menjadi pertimbangan media dalam menyajikan berita tentang prostitusi, keperpihakan ini dianggap sebagai kewajaran karena setiap konsumen media adalah masyarakat yang beragama. Keperpihakan media pada masyarakat beragama ini berguna demi keberlangsungan dari media itu sendiri, siapa media yaitu media yang mengerti keinginan dari para konsumennya. Oleh karena itu media tetap menjadi instrument yang mewakili kepentingan-kepentingan dari para masyarakat yang beragama, meskipun masyarakat tahu bahwa agama tidak menyediakan ruang khusus bagi kelompok yang tidak menhendaki surga atau yang berbuat kesalahan, prostitusi dibuat bagi kelompok yang tidak mengingkan surga hingga akhirnya memilih tindakan dosa tersebut. Agama menuntut homogenitas masyarakat yang digiring agar semua melakukan jalan menuju surga, namun tidak mencoba memahamkan ke pengikut masyarakatnya bahwa pilihan-pilihan ada ditangan masing-masing. Pilihan prostitusi sebagai instrument dalam mengatur kehidupan merupakan tindakan tidak bermoral dan tidak sinergi dengan tujuan agama yang mengantar pemeluknya menuju surga.

Buku ini penting dalam memahami teks yang diproduksi oleh media dalam merepresentasikan kondisi prostitusi yang telah dilakukan oleh beberapa media. Sebagaimana bahasa dalam media menjadi sangat penting dengan beberapa keistimewaan diantaranya adalah pertama tentang political factor, determinate different discursive stage in relation to globalization. These stage are not developmental ones. They di reveal, however, different phases of a group’s discursive creations in the face of globalization. Kedua, ‘persuation’, reveals the communicative function of persuation with regard to the recipient. Ketiga, adalah ‘discursive in relation factors’: menunjukkan bahwa wacana telah membuat sebuah perbedaan secara inklusiv maupun ekslusi terhadap sebuah negara. Keempat, adalah ‘macro linguistic factors’: adalah merupakan fungsi dari komunikasi. Merujuk pada sebagaimana sering bahasa tersebut digunakan dan seberapa kuat dalam mempengaruhi sebuah strategi dalam membuat dunai menjadi global[12].

Penutup

Pada masing-masing Chapter dari mulai ‘Gendered Politics’, Embodied Performativities’ dan ‘Gendered Socializations’ masing-masing secara khusus membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan saling terkait antar gender dan media. Namun status netral dan transparan yang diklaim media merupakan repersentasi akurat dari ‘true picture of reality’[13] yang memberikan keterkaitan yang sama diantara ketiga bagian tersebut: representasi politik yang mencoba menantang ketidaksetaraan bagaimana perempuan direpresentasikan di ruang publik; penekanan pada berlakunya pengenderan tubuh melalui teks-teks media yang bertujuan untuk membuka matriks biner heteroseksual pada kemungkinan lainnya; serta pembahasan mengenai esensialisme berdasarkan jenis kelamin yang terlihat di media dan menekankan sejauh mana ideologi mengkondisikan kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian, kita bisa menegaskan bahwa inti dari buku ini mengenai bagaimana media sebagai agen dari baik itu pengetahuan publik yang memberikan kontribusi terhadap pembentukan masyarakat, serta sebagai hiburan yaitu industrialisasi budaya populer[14]. Keterkaitan antara pengetahuan publik dan hiburan, yaitu antara domain kognitif dan emosional terlihat dengan cara dimana media dianggap sebagai alat yang mampu mempromosikan kesepakatan sosial normatif yang kemudian pada akhirnya mengkonstruksi moralitas hegemonik.

Namun pembahasan ini tidak menyangkal kemampuan otonomi audiens menafsirkan pesan media sesuai dengan  berbagai konteks sosial budaya yang mereka miliki. Hal yang sebenarnya berkesinambungan adalah penekanan postrukturalis mengenai gender sebagai sesuatu yang dikategorikan ambigu dan tidak stabil belum tentu menyiratkan penolakan terhadap politik, melainkan lebih kepada redefinisi istilah yang mengenai gender itu sendiri yang selama ini diaplikasikan secara tradisional[15].  Dengan demikian, peluang politik baru yang lebih demokratis lahir dari adanya pembahasan mengenai polisemik teks media, serta dalam peningkatan kemampuan interpretatif audiens.  Perjuangan bagi hak-hak dan keterwakilan yang sama  perempuan oleh media dan di industri media dengan demikian dilengkapi dengan dimensi politik yang lebih jauh yang terkait dengan riset khalayak.

Artikel-artikel yang ada di dalam Gendered Transformations merupakan kontribusi yang sangat berharga dalam kajian gender dan media ini, karena lingkup pembahasannya yang bersifat interdisipliner, ditambah dengan kemampuannya mendekonstruksi teori dan metodologi yang ada menunjukan bahwa dalam prosesnya hal ini merupakan cara baru menggabungkan kedua kajian tersebut. Hasilnya, ontologi ini membuka wilayah kajian gender dengan menganalisa perspektif tradisional sebelumnya seirama dengan kemajuan yang ada di bidang teori dan metodologi media. Buku berjudul Gendered Transformations ini mengarahkan pada perubahan yang menunjukan bahwa kombinasi yang baru dan berguna seperti teori dan metodologi dapat melampaui kompertamentalisasi pembatasan diskursus yang telah ditetapkan sebelumnya. Penulis mengharapkan bahwa refleksi kritis yang disajikan dalam buku ini mengenai gender dan media mampu menunjukan cara baru mendekonstruksi pandangan tradisional dalam kehidupan nyata yang tidak dapat direduksi keberadaannya dikarenakan keterlibatan abadinya dengan wilayah pengalaman yang mungkin terjadi dalam kenyataannya. Dalam pandangan penulis, dekonstruksi dari wilayah kajian yang dahulunya terpisahkan dapat memberikan wawasan baru terhadap alasan mengapa gender terus menjadi topik yang berada dalam daftar prioritas penelitian, terutama karena beberapa keterkaitannya dengan kajian analisis media.

Buku yang serupa pernah juga ditulis oleh Dr. Mansour Fakih pada tahun 1997 yang terbitkan oleh Pustaka Pelajar dengan judul buku “Analisis Gender dan Transformasi Sosial”. Ketidakadilan sosial terjadi pada berbagai dimensi kehidupan masyarakat, bahkan ketidakadilan sosial tersebut terjadi karena perbedaan jenis kelamin. Sebuah analisis yang mempertanyakan ketidakadilan dari aspek hubungan antar jenis kelamin merupakan ruang lingkup dari dari analisis gender, sebuah analsis yang menjadi gerakan feminisme. Dalam buku ini tidak hanya mencoba menyajikan apa sebenarnya analisis gender, namun segala macam analisis sosial dari perspektif konsep gender seperti mamahami masalah-masalah emansipasi kaum perempuan dalam kaitannya dan perubahan sosial dalam konteks yang luas. Pengertian tentang gender dan apa kaitannya dengan berbagai konsep tentang perubahan sosial. Perlu diungkapkan bahwa pemahaman atas pengertian gender sangat penting, perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun yang menjadi peroalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki terutama bagi kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur dimana laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam beragam bentuk ketidakadilan, seperti: marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan stereotype atau pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja yang banyak dan panjang, serta sosialisasi idiologi peran gender. Dalam buku ini menuliskan bahwa manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisah-pisahkan, karena saling terkait dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis.

Sumber Buku:

Gendered Transformation (theory and Practices on gender and media), edited by Tonny Krijnen, Claudia Alvares dan Sofie Van Bauwel. The University of Chicago Press. USA. Tahun 2011.

Literature Pendukung:

Carrette, Jeremy R, (ed). 2011. Agama, seksualitas, kebudayaan Michel Foucault. Jalasutra. Bandung.

Fakih, Mansour. 1997. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Pustaka Pelajar. Jakarta.

Pardo, Maria Laura. 2001. Critical Analisis of the Globalization Discourse in Argentina at the Turn and at the end of the Century.

Barry, Smart and Ritzer, George. 2014. Handbook Teori Sosial. Nusa Media. Bandung.

_______________________________________________

Direview oleh Suharnanik (UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang), dengan penyuntingan oleh WK.

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *