Teori Baru Tentang Teknologi Informasi dan Modal Sosial

Posted on

internet-human-200x135 Teori Baru Tentang Teknologi Informasi dan Modal SosialBahasan teknologi informasi secara sosial memicu hasrat untuk mengulik lagi teori tentang modal sosial, dengan pro-kontranya. Dampak teknologi informasi terhadap modal sosial, yang dikatakan menumbuhkan modal sosial (dengan modus lain) maupun menghancurkan modal sosial (perampasan ruang sosial riil oleh karakter online), makin menarik ditelusuri.

[Sebaiknya baca dulu artikel pendahulunya: “Dampak Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap Modal Sosial Dalam Konteks Perubahan Sosial”]

Buku Teknologi Informasi dan Modal Sosial dengan editor Marleen Huysman dan Volker Wulf (2004) memberikan kontribusi kajian perubahan sosial khususnya terkait dengan pengembangan konsep dan teori modal sosial dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi beserta dampaknya baik dampak positif maupun negatif.

Tulisan ini merupakan kesimpulan dari 6 artikel sebelumnya secara bertautan, saya jadikan berseri untuk tidak menumpuk dalam satu artikel panjang. Sebaiknya membaca dari artikel pertama: Teknologi Informasi dan Modal Sosial dan berlanjut ke serial berikutnya secara berurutan.

 

Meskipun latar belakang akademik penulis bukan dari ilmu-ilmu sosial, namun pengalaman di lapangan dan keterlibatannya dalam berbagai proyek penelitian dalam bidang sosial telah memberikan perspektif baru dalam perkembangan teori dan konsep modal sosial terutama dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi, managemen pengetahuan dan Knowledge Sharing. Hal ini tentu saja merupakan satu kontribusi yang patut diperhitungkan dan mungkin hal in justru memberikan peluang dan tantangan bagi akademisi dan peneliti bidang sosial untuk mengkaji, meneliti lebih mendalam dan mengembangkan teori-teori dan konsep tentang modal sosial dalam kaitannya dengan realitas sosial dari perkembangan teknologi informasi yang hadir tak terelakkan dalam kehidupan masyarakat dengan berbagai problematika dan dampak yang ditimbulkannya dalam komunitas atau masyarakat saat ini. Di sinilah sisi kontekstual dan relevansi karya Huysman dan kawan-kawan perlu diberi ruang dan apresiasi dalam  upayanya untuk memperluas cakrawala pengetahuan (terkait teknologi informasi dan Modal sosial) melalui pendekatan multidisipliner bagi dunia akademik.

 Catatan Kritis

Dari sudut Ilmu Sosial, terutama Sosiologi, teori dan konsep modal sosial sendiri telah mengalami  perkembangan yang sangat pesat 1990-an.  Modal sosial adalah suatu konsep dengan berbagai definisi yang saling terkait, yang didasarkan pada nilai jaringan sosial. Sejak konsepnya dicetuskan, istilah “modal sosial” telah digambarkan sebagai “sesuatu yang sangat manjur” [Portes, 1998:1] bagi semua masalah yang menimpa komunitas dan masyarakat pada masa kini.

Sementara berbagai aspek dari konsep ini telah dibahas oleh semua bidang ilmu sosial, sebagian menelusuri penggunaannya pada masa modern kepada Jane Jacobs pada tahun 1960-an. Namun ia tidak secara eksplisit menjelaskan istilah modal sosial melainkan menggunakannya dalam sebuah artikel dengan rujukan kepada nilai jaringan. Uraian mendalam yang pertama kali dikemukakan tentang istilah ini dilakukan oleh Pierre Bourdieu pada 1972 (meskipun rumusan jelas dari karyanya dapat ditelusuri ke tahun 1984). James Coleman mengambil definisi Glenn Loury pada 1977 dalam mengembangkan dan memopulerkan konsep ini. Pada akhir 1990-an, konsep ini menjadi sangat populer, khususnya ketika Bank Dunia mendukung sebuah program penelitian tentang hal ini, dan konsepnya mendapat perhatian publik melalui buku Robert Putnam pada tahun 2000, Bowling Alone.

Istilah modal sosial pertama kali muncul pada tulisan L.J Hanifan (1916) dalam konteks peningkatan kondisi hidup masyarakat melalui keterlibatan masyarakat, niat baik serta atribut-atribut sosial lain dalam bertetangga. Dalam karya tersebut, muncul ciri utama dari modal sosial yakni membawa manfaat internal dan eksternal. Setelah karya Hanifan,The Rural School of Community Center, istilah modal sosial tidak muncul dalam literatur ilmiah selama beberapa dekade. Pada tahun 1956, sekelompok ahli sosiologi perkotaan Kanada menggunakannya dan diperkuat dengan kemunculan teori pertukaran George C.Homans pada tahun 1961.Pada era ini, istilah modal sosialmuncul pada pembahasan mengenai ikatan-ikatan komunitas. Penelitian yang dilakukan James S. Coleman (1988) di bidang pendidikan dan Robert Putnam (1993) mengenai partisipasi dan performa institusi telah menginspirasi banyak kajian mengenai modal sosial saat ini.

Dalam buku ini Huysman (2004, hal: 2-7) juga mengembang teori modal sosial dengan melihat peran modal sosial dalam managemen pengetahuan, proses berbagi pengetahuan dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi. Menurut Huysman ada tiga dimensi modal sosial dalam organisasi yang membuat managemen pengetahuan dan proses berbagi pengetahuan dapat berkembang dengan baik, dimensi tersebut adalah: dimesi struktur, dimensi kognitif dan dimensi relational.  Ketiga dimensi modal sosial tersebut bekerja pada dua sisi baik positif maupun negative.

Pada dasarnya Tujuan dari penulisan buku ini adalah:

  • Memberikan kontribusi dan menambah perspektif tentang modal sosial dan yang berkaitan dengan teknologi informasi
  • Sebagai penghubung dan sharing dari komunitas akademik dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda.
  • Sebagai referensi bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki peminatan terhadap Modal Sosial, Komunitas dan Teknologi informasi

 

Namun catatan kritis terhadap buku bunga rampai dari berbagai penulis tentang Teknologi Informasi dan Modal Sosial hasil editorial Marleen Huysman dan Volker Wulf (2004) ini adalah sebagai berikut:

Pertama, disadari betul oleh editor buku ini (Huysman) bahwa buku ini merupakan kumpulan artikel dari hasil-hasil penelitian empiris dari jaringan peneliti internasional yang berminat pada pengembangan modal sosial dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi dengan berbagai latar belakang akademis,  sehingga ketajaman analisis terhadap teori dan konsep modal sosial dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi masih sangat dangkal, sehingga Huysman merasa perlu memberikan kontribusi tulisannya yang khusus membahas tentang teori-teori modal sosial dari berbagai teoritisi sosial seperti, Pierre Bourdieu, Robert Putnam, Coleman, Portes, Hanifan, Pruzak Cohen, Narayan dan Woolcock. Dengan keterbatasan tersebut maka editor kemudian lebih memberikan judul buku “yang lebih aman” yaitu Teknologi Informasi dan Modal Sosial dengan dasar argument bahwa analisis Modal sosial dan relevansinya dengan dengan teknologi informasi belum secara jelas dan dalam dilakukan.

Kedua, Kecenderungan dari berbagai penulis (Dari empatbelas (14) artike) l yang ada dalam buku ini, sebagian besar lebih memberikan analisis secara mendalam pada perkembangan dan aplikasi teknologi informasi, managemen pengetahuan dan proses berbagi penegtahuan (knowledge sharing) dan kurang memberikan penekanan pada analisis dari teori dan konsep dari modal sosial, termasuk dimensi dan tipologi dari modal sosial dalam kaitannya dengan dampak perkembangan teknologi informasi dalam komunitas atau masyarakat yang sedang berkembang saat ini. Hal ini jelas berdampak pada ‘derajad’ kontribusi bagi perkembangan teori modal sosial terutama bagi peneliti-peneliti dan akademisi bidang sosial, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa buku ini juga bisa memberikan inspirasi dan peluang bagi peneliti sosial untuk mengembangkan dan menelitinya lebih mendalam.

Ketiga, terdapat ketimpangan yang tajam dalam melakukan kedalam analisis antara Modal sosial dengan analisis secara teknik dari sudut keilmuan para peneliti itu sendiri.  Pandangan determinasi teknologi dalam perubahan sosial sangat dominan dari buku ini terutama terlihat pada artikel-artikel yang terkait pada Bab II dengan tema Modal Sosial Dalam proses Berbagi pengetahun (knowledge Sharing) dan Bab III dengan tema Aplikasi teknologi. Analisisis secara mendalam dari berbagai peneliti lebih ditekankan pada bagaimana proses-proses secara teknis dari berbagi ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi informasi.

Namun ruang untuk analisis pada perubahan-perubahan atau dampak-dampak dari teknologi terhadap modal sosial dalam komunitas dengan segala problematikanya, pola-pola hubungan dan elemen-elemen yang ada dalam modal sosial seperti trust, norma, nilai bersama, jaringan, yang berkembang dalam komunitas baik di dunia maya seperti virtual community maupun komunitas yang ada dalam masyarakat sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi masih sangat terbatas. Kecuali pada tulisan (artikel) Huysman bab 1 tentang Modal Sosial dan teknologi Informasi (hal: 1), dan artikel Barry Wellman dan Anabel Quan-Haase  tentang “Bagaimana Internet Mempengaruhi Modal Sosial? (hal: 113) bab 5 bagian pertama.

Secara lebih khusus perlu digarisbawahi bahwa buku ini juga telah memberi kontribusi dan keutamaan yang membuat buku layak untuk direkomendaikan sebagai referensi dalam bacaan perubahan sosial.

Keutamaan Buku

Keutamaan- keutamaan dari buku ini adalah:

  • Buku ini menarik karena menyajikan hasil-hasil penelitian empiris terkait Modal Sosial dan Teknologi Informasi dari berbagai disiplin keilmuan sejumlah peneliti dalam jaringan internasional yang memiliki minat, fokus dan perhatian yang sama.
  • Buku ini tidak hanya mengungkap dampak-dampak positif dari modal sosial dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi, namun juga menyajikan temuan-temuan empiris dari sisi gelap dari Modal Sosial (Uzzi, 1997, Cohen dan Prusak, 2001).
  • Buku ini juga layak menjadi rujukan dan telah memberikan tantangan bagi peneliti yang berminat terhadap pengembangan modal sosial, komunitas dan teknologi informasi.
  • Buku ini telah memberikan perspektif yang lebih luas tentang Modal Sosial (17 kontributor) dari berbagai disiplin ilmu, Sosiologi, Komunikasi, Sistem Informasi, ekonomi Bisnis dan Studi Managemen.
  • Kajian tentang modal sosial dan teknologi informasi relevan dengan konteks sosial saat ini di mana perkembangan teknologi informasi berkembang luar biasa di seluruh belahan dunia dengan Isue-isue yang mengikutinya misalnya terkait dengan net society, virtual community, e-comerce, bisnis-online dan dampaknya terhadap komunitas baik di dunia maya maupun dalam masyarakat secara luas merupakan realitas sosial yang menarik untuk dikaji.

 

Buku yang ditulis dari berbagai peneliti dengan latar belakang akademik yang beragam ini membawa kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan perspektif teori serta konsep modal sosial dari sudut pandang yang jauh lebih luas, dan menemukan konteksnya dengan perkembangan teknologi informasi, masyarakat jaringan, virtual community yang berkembang luar biasa di era global saat ini dengan berbagai masalah sosial yang mengiringinya.

 

Referensi

Huysman, Marleen and Volker Wulf, (2004), Social Capital And Information Technology, The MIT Press, Cambridge, Massachasetts London, England.

Field, John,( 2014), Modal Social, Penerbit Kreasi Wacana Yogyakarta.

Fukuyama, (2002), The Great Disruption, (diterj. Ruslani), Penerbit Qalam, Yogyakarta.

Fukuyama, (2007), TRUST: The Social Virtues and The Creation of Prosperity (diterj Ruslani), Penerbit Qalam, Yogyakarta.

Harker, Richard, Cheelen Mahar dan Chris Wilkes (ed), (Habitus X Modal) + Ranah = Praktik: Pengantar Paing Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu, (2009), Penerbit Jalasutra, Yogyakarta.

Jenkns, Richard (2013), Membaca Pikiran Pierre Bourdieu, Penerbit Kreasi Wacana, Yogyakarta.

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *