Social Entrepreneur

Posted on
SOCIAL-ENTREPRENEUR1-200x135 Social Entrepreneur
Social Entrepreneur

Social entrepreneurship, social entrepreneur atau entrepreneur sosial, seringkali menjadi istilah yang membingungkan, kadang mengalami kesalahkaprahan penafsiran. Wajar, karena istilah ‘entrepreneur‘ pun seringkali disalahtafsirkan, bahkan seringkali direduksi menjadi sebatas melakukan aktivitas bisnis. Mengacu pada Gregory Dees, tidak semua pelaku atau leader bisnis adalah entrepreneur. Nah lo…

Entrepreneur

Sebelum kita bahas ‘social entrepreneur’, ada baiknya kita pahami dulu ‘entrepreneur’. Kita mulai dari pemahaman yang diberikan Joseph Schumpeter, yang mendeskripsikan ‘entrepreneur’ sebagai inovator, yang mengarahkan ide ‘kreatif-destruktif’ dalam proses kapitalisme menjadi sikap reformis dan revolusionis dalam pola-pola produksi. Di sini, seorang entrepreneur melakukan eksploitasi, penemuan (invention) dan inovasi. Sedangkan Peter Drucker, memfokuskan pada ‘opportunity’ (peluang) pada pengertian entrepreneur. Bagi Drucker, entrepreneur tidak harus menjadi penyebab perubahan, tetapi mengambil peluang dari perubahan itu. Selanjutnya Drucker menyatakan, the entrepreneur always searches for change, responds to it, and exploits it. Wow…bener-bener drucker master nih… 😀

Entrepreneur selalu mencari perubahan, meresponsnya dan mengeksploitasinya. Saya  lebih suka menyebutnya “me-utilisasi” perubahan. Di sini, ‘opportunity’ adalah peluang untuk menciptakan nilai (value). Mind-set entrepreneur adalah lebih melihat ‘kemungkinan’ (possibilities)   ketimbang ‘masalah’ dalam menyikapi perubahan sosial yang terjadi. Inilah nilai (value) entrepreneur.

Bagi Drucker, menjalankan bisnis tidaklah cukup untuk menjelaskan gagasan entrepreneur. Katanya, “not every new small business is entrepreneurial or represents entrepreneurship”.

Tidak semua bisnis adalah atau merepresentasi entrepreneur!

Nah loo… binun ya…. So.. entrepreneur itu makhluk apaan?

Saya mencoba menjembatani pemahaman entrepreneur dari beberapa pemikiran, bahwa entrepreneur(ship) adalah kecakapan kreativitas dalam menciptakan atau menemukan peluang atau kemungkinan manfaat positif dalam setiap perubahan sosial yang terjadi.

Entrepreneurs always see possibilities rather than problems created by change. Entrepreneur selalu melihat sisi kemungkinan daripada sisi masalah, dari perubahan (sosial, politik) yang terjadi.

20130615_142752-200x135 Social EntrepreneurDi sini meliputi inovasi, kreasi dan mindset positive thinking (berpemikiran positif) dengan selalu melihat peluang. Terdapat dinamisasi berpikir positif untuk me-utilisasi setiap kondisi atau perubahan yang terjadi menjadi peluang yang bermanfaat. Dalam “situasi (yang disebut) buruk” pun (dalam pandangan orang lain), seorang entrepreneur selalu melihat celah yang bisa dimanfaatkan di situ. Nah, ini yang tidak mesti dimiliki orang, bahkan oleh seorang pebisnis sekalipun. Terbukti banyak pebisnis yang menyerah pada keadaan sulit.

Seorang entrepreneur selalu melihat ‘celah peluang positif’ dan memanfaatkannya! Dia selalu berpikiran positif ! Gampangnya, jika orang menganggap sesuatu sebagai masalah, seorang entrepreneur selalu menganggapnya sebagai peluang. Pada situasi seburuk apapun, pasti ada yang bisa dimanfaatkan. Memanfaatkan peluang dari suatu perubahan sosial (Drucker) untuk sebuah upaya survivalitas diri, tidak melanggar nilai etika kok, asalkan tetap memperhatikan kaidah sosial. Apalagi pada era teknologi informasi dan komunikasi yang sedang maju pesat seperti sekarang, perubahan sosial juga terjadi lebih cepat (rapid social change). Maka, peluang yang dapat diciptakan dengan me-utilisasi keadaan, semakin terbuka luas. Semua tergantung faktor manusia (human factor)-nya untuk mampu menangkap perubahan tersebut dan mengambil peluang dan manfaat dari perubahan itu ataukah tertahan oleh kegagapan sosialnya. 

Memang tidak mudah untuk dapat melihat sisi keuntungan atau kemanfaatan pada situasi yang tidak menguntungkan. Setidaknya, melihat ada secercah harapan, dibanding cuma ngomel ketika berada pada situasi yang tidak menguntungkan. Mungkin perlu latihan, dari hal sederhana. Ini pelajaran tentang mindset, sudut pandang, perspektif, untuk mampu melihat realitas dari berbagai kemungkinan, untuk melatih diri menuju mind-set entrepreneur. Karena mindset-lah yang menjadi nahkoda (penyebutan istilah “nahkoda” ini juga mindset lho… mindset dari budaya maritim.. hehe… 🙂 ) untuk mengarahkan pada tindakan positif, karena ia selalu berpikir tentang peluang !

Ingat: mindset menentukan hasil.

Nantikan tulisan saya tentang “Monetize Rapid Social Change”, yang antara lain berisi tips dan tricks me-monetize keahlian diri, “menjual diri” dengan menunggangi arus besar perubahan sosial yang disebabkan oleh pesatnya teknologi informasi. Tetap dengan memperhatikan karakter masyarakatnya, baik karakter online maupun offline, agar “jualan” bisa masuk dalam agenda bawah sadar khalayak target, antara lain dengan pendekatan soft marketing, utilisasi bahasa dan wacana untuk membangun personal trust.

Social Entrepeneur

20131027_101737-200x135 Social EntrepreneurSocial entrepreneur, dari beberapa referensi (Say, Dees, Drucker, Schumpeter, dsb), saya lebih cenderung memaknai social entrepreneur sebagai tindakan entrepreneur yang dilakukan dalam basis sosial, yakni meliputi misi dan aktivitas sosial yang dijalankan dalam paradigma entrepreneur, maupun aktivitas usaha ekonomi yang dijalankan dalam bingkai misi sosial, yang keduanya dimaksudkan untuk menciptakan nilai (value) kemanfaatan sosial secara terus menerus bagi para pelaku yang terlibat . Lha misi sosial ini bisa dilakukan oleh kalangan korporasi, pegiat sosial atau siapa saja, baik bagi dirinya maupun orang lain. Korporasi yang menjalankan misi sosial melalui social entrepreneurship akan dapat mempertahankan benefit sosial secara berkelanjutan. Aktivitas ini sambil sekaligus berisi edukasi publik pada masyarakat agar mampu menjalankan prinsip-prinsip social entrepreneur. Dan kalangan umum juga dapat ber-entrepreneur (inovatif, positive thinking, efektif, efisien dsb ciri-ciri entrepreneur) dalam aktivitas sosial mereka.

Kita perhatikan pula pendapat Nicholls ini,

“ A social entrepreneur is someone who recognizes a social problem and uses entrepreneurial principles to organize, create, and manage a venture to make social change….rather than bringing a concept to market to address a consumer problem, social entrepreneurs attempt to bring a concept to market to address a public problem. “ (Alex Nicholls, Oxford University’s Skoll Centre).

Social entrepreneur itu mengenali persoalan sosial dengan menggunakan prinsip-prinsip entrepreneur untuk mengorganisasi dan mengelola risiko untuk melakukan perubahan sosial. Dala hal ini, persoalan sosial adalah isu atau persoalan publik. Publik sebagai acuan sasaran, bukan konsumen.

Ketika aktivitas sosial yang dijalankan dalam paradigma entrepreneur, ataupun aktivitas usaha ekonomi yang dijalankan dalam bingkai misi sosial, social entrepreneur senantiasa mencari metode efektif dalam aktivitas pelayanan misi sosial tersebut.

diskusi-politik1-200x135 Social EntrepreneurGregory Dees memaknai social entrepreneur sebagai entrepreneur with social mission, dengan menempatkan kriteria yang berupa dampak  yang terkait dengan  misi sosial, bukan kekayaan. Terinspirasi Dees dan Drucker, saya memahami social entrepreneur sebagai usaha untuk valuing social improvement to make benefit for people who cannot afford to pay for resources and market. Maka yang dihasilkan oleh social entrepreneur adalah social value creation, not wealth ! Lhahh… lha untungnya apa? Ntaar.. sabar dulu ya….

Kita runut dulu pemikiran Say yang mengedepankan value creation, Schumpeter dengan innovation and change agents-nya, Drucker yang suka pursuit of opportunity , Stevenson dengan ide resourcefulness-nya. Dan Nicholls dengan ‘public problem’-nya.

Lha… dari ide-ide tersebut Dees memaknai social entrepreneur sebagai aksi revolusioner untuk menciptakan dan melanggengkan nilai-nilai kesosialan (social value) dengan pengejaran peluang-peluang yang sesuai dengan misi, melibatkan diri dalam proses inovasi, adaptasi dan pembelajaran yang berkesinambungan dan memiliki keberanian bertindak dalam keterbatasan sumberdaya serta menunjukkan akuntabilitas sosial yang tinggi. Nah… tu.. apaan tu…

Social entrepreneurship ini mengutamakan “social impact” daripada “wealth”, karena ia mengejar a long-term social return on investment and sustaining the impact. Nah, ini untungnya.. Di titik ini ada elemen ketahanan sosial yang berdaya jangkau jangka panjang dan lentur! Inilah powerfulnya social entrepreneurship.

Semacam kemenancapan secara sosial dari aktivitas ekonomi-bisnis. Bukankah aktivitas ekonomi-bisnis disemai dan mengharapkan respons ekonomi dari orang-orang? Social entrepreneur adalah persoalan mengelola aset sosial. Persoalan sudut pandang! Dan sudut pandang sosial lebih memiliki daya tahan yang awet dan tahan lama…. (kok kayak iklan….)

[lhahh… cuman tricks bisnis tho ternyata….]

Sebentar.. kita lanjut ya…

20130519_215208-2-200x135 Social EntrepreneurMenurut saya, social entrepreneurship merupakan operasionalisasi konkret dari social engineering atau rekayasa sosial yang memberdayakan, achieving, sehingga tepat diaplikasikan pada upaya pemberdayaan masyarakat dengan jalinan civil society.

Social entrepreneur meretas kebuntuan dan kebekuan sosial serta kegalauan sosial dalam menghadapi perubahan sosial dan perubahan politik.

Karena begini….

Pendekatan ekonomi murni, rentan dan jangka pendek, mudah jatuh karena lemah di sandaran sosialnya (bisnis kan berurusan dengan orang kan… demikian pula entrepreneur, juga ngurusin orang). Lha pendekatan sosial thok, yo kecut reek….. ga ada duitnye… hehe… Kenapa gak dikawinin aje…. Ini gagasan dasar social entrepreneurship.

Masyarakat, siapapun diharapkan akan mampu berperilaku entrepreneur dalam aktivitas sosial mereka, yakni inovatif, kreatif, cakap dan selalu melihat peluang dalam setiap perubahan, selalu berinisiatif, kaya ide-ide baru, ber-positive thinking, berani bertindak termasuk mengambil risiko (taking risk), dan ber-mindset “everything and everytime is opportunity to make everything better”. Gampangnya, apapun kondisinya, bisa dijadiin duit ! hihi… kasar ya… biariin… yang penting gampang dipahami… hehe… [emang ngomongin duit itu kasar? Nah, jika masih ada orang yang berpikiran demikian, harus direvolusi tuh pikirannya, biar dekat ke pikiran entrepreneur!]

20131102_154915-200x135 Social EntrepreneurDalam aktivitas dan relasi sosial yang para pelakunya memiliki wawasan entrepreneur, akan dapat menimbulkan econonomical benefit disamping social benefit. Pada kalangan korporasi (yang secara jelas mengejar economical benefit) yang mengaplikasikan social entrepreneur akan mengalami penguatan misi korporasi secara berkelanjutan. Social entrepreneur mengutamakan orientasi misi sosial, sehingga lebih mampu bertahan karena berjalin dan mengakar secara sosial.

Dan, social entrepreneur ini bisa jadi merupakan aksi lokal, namun memiliki potensi merangsang pembaruan-pembaruan berskala global pada bidang-bidang sosial yang ditentukan misalnya pada bidang pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, lingkungan hidup, kesenian, dsb).

Jelas ya…. social entrepreneur(ship)...

Sip deh….

Ini beberapa contoh praktik social entrepreneur

Lha.. dalam praktik ada beberapa model social entrepreneur. Diantaranya yang bisa saya temui dan catat adalah:

Model pertama, punya usaha ekonomi produktif, dengan menjalankan misi sosial dalam usaha ekonominya itu (bukan ‘sambil menjalan misi sosial’ ya.. beda). Contohnya, seperti yang dilakukan Ibu Tatik Winarti, pengusaha tekstil bernama “Tiara”, yang beralamat di jalan Sidosermo Indah II/ 5 Surabaya. Bu Tatik menggunakan seluruh tenaga kerja dalam industrinya dari kalangan diffabel (penyandang cacat). Dia tidak menerima karyawan orang-orang non-diffabel (yang dalam bahasa awam disebut “orang normal”, tidak cacat). Bu Tatik ini menjalankan misi sosial dalam usaha ekonominya. Dia tidak sekedar ‘menolong orang cacat’ (ini disebut “sambil menjalankan misi sosial”), tetapi memberdayakan. Dengan menjadi pekerja terampil di sektor industri, para difabel tampil tidak berbeda dari orang-orang lain yang tidak cacat. Para difabel ini lebih memiliki percaya diri dan tidak merasa sebagai “orang yang kurang”. Lingkungan kerjanya pun (dimotori oleh pemilik usaha) tidak memperlakukan orang-orang difabel seperti orang yang patut dikasihani. Biasa saja. Dan orang-orang difabel ini merasa tersinggung jika dilihat dengan pandang mata kasihan. Tidak ada perbedaan dari produktivitas para difabel ini, terbukti hasil mereka sama bahkan lebih baik daripada hasil karya orang non-cacat. Dan para pembeli produk Tiara ini, menurut penuturan owner, Bu Tatik, membeli produknya bukan karena faktor kasihan, tetapi memang melihat kualitas. Produk Tiara diklaim ownernya awet sehingga disukai oleh para pembelinya. Dia berharap para pembelinya akan mereferensi orang lain untuk membeli produk Tiara. Nahh.. minat beli ? Silakan langsung cekidot ke TKP yaa…..

Nah kan.. bu Tatik dapat promosi gratis dari saya, dan saya pun tidak mendapat imbalan lho dari bu Tatik atas penjualan produknya karena orang membaca tulisan saya ini… Dan jika suatu saat saya tiba-tiba mendapat rejeki dari sektor lain terkait dengan tulisan-tulisan seperti ini, ini namanya “berkah”. Bisa dikata saya juga sedang menjalankan social entrepreneur. Saya melakukan misi sosial, dengan menulis dan membagikan artikel (apapun), misalnya memuat informasi tentang Tiara ini, tentang tips menulis, dsb dan ternyata tulisan tersebut disukai orang, kemudian saya mendapat berkah (manfaat ekonomi) dari situ misalnya berupa pendapatan dari iklan atau produk lain yang terjual dengan adanya jaringan informasi-komunikasi yang terbangun dari aktivitas menulis online. Kalau yang model begini, social entrepreneurship ketika bersinggungan dengan media sosial berbasis internet (bukan “media sosial” thok thil ya…), akan menjelma menjadi ‘online social media entrepreneur’ atau ‘internet social media entrepreneur’ (ISME). Kapan-kapan saya lanjut khusus tentang “social entrepreneur” model online ini ya… Saya namai “TypoPreneur”. Ber-social entrepreneur dengan menulis online! Ini social entrepreneur model kedua! Di tulisan lain aja, biar ndak ngisruh di sini jika ditulis di sini.

Pengembangan aktivitas bisnis secara online berbasis menulis maupun bisnis online berbasis barang, ini bisa melibatkan karyawan difabel seperti yang dilakukan bu Tatik tadi lho…  Kan kalau online kan ndak perlu kaki, kenapa tidak mengambil orang difabel yang cacat kaki misalnya. Lha yang membungkus (wrapping), packing barang para difabel pasti bisa melakukan dengan baik, bahkan mungkin lebih baik. Social media entrepreneur ini saya sebut sebagai social entrepreneur model kedua.

Model ketiga, aktivitas ekonomi yang dibangun di atas pelibatan komunitas sosial. Contohnya, industri pengolahan hasil pertanian yang dilakukan secara kemitraan dengan petani baik petani pemilik lahan maupun petani penggarap. Model ini dilakukan oleh  Aaron (warga Amerika Serikat) yang membuat pabrik pengolahan mete di desa Karangasem, Bali dengan menggunakan tenaga kerja masyarakat lokal di areal lahan mete seluas 60.000 ha. Pekerja lokal yang mayoritas perempuan itu merupakan penduduk lokal yang berlokasi terisolir. Sebelum ada pabrik, masyarakat lokal menjual hasil mete sebagai bahan mentah, penjualan hingga ekspor ke Vietnam. Karena ekspor bahan mentah maka harganya murah. ternyata mete Bali ini kualitasnya terbagus di dunia, namun karena tercampur dengan aneka mete lain di Vietnam, maka kualitas mete Bali terbenam. Dengan adanya pabrik milik Aaron ini, yakni “East Bali Cashews”, kualitas mete Bali sudah dikenal di pasaran internasional. Di Jawa Timur ada model kemitraan dengan petani lokal dalam komoditas agrobis yakni Kaliandra di Pandaan dan Agrobis Tamandayu, Pandaan dan Bhakti Alam, Pasuruan.

wawan-kuswandoro-with-syamsu-alam-gaharu-foundation Social EntrepreneurJika Aaron dalam contoh ini menerapkan prinsip-prinsip social entrepreneurship dalam company-nya, adalah warga Amerika Serikat, yang mendirikan perusahaan di desa Karangasem, Bali, selanjutnya pengusaha Indonesia yang masuk dalam kategori ini adalah H. Syamsu Alam, pendiri dan pemilik Gaharu Foundation, berlokasi di Kota Probolinggo. Gaharu Foundation adalah yayasan yang berafiliasi dengan perusahaan pengolahan gaharu milik H. Syamsu Alam, berlokasi di Kota Probolinggo. Perusahaan ini adalah eksportir produk gaharu olahan, dengan tujuan ekspor terbanyak adalah negara-negara Timur Tengah diantaranya Qatar, Kuwait, Abu Dhabi dan Dubai. Belakangan, Tiongkok menjadi sasaran eksportnya. Gaharu Foundation menjalin kerjasama dengan penduduk setempat sebagai mitra untuk menjalankan sebagian proses produksinya, seperti yang dilakukan East Bali Cashews punya Aaron. Terdapat sekitar 270 komunitas mitra yang bekerjasama dengan Gaharu Foundation, tersebar di wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo.

Model keempat, full aktivitas sosial berupa kegiatan pendampingan komunitas sosial. Ini seperti layaknya aktivitas pegiat LSM di Indonesia. Model ini paling berat dijalankan kecuali oleh orang yang benar-benar memiliki passion sosial dan tidak dipermasalahkan oleh lingkungan terdekatnya misalnya keluarga. Ini dikarenakan ya tidak jelas profitnya, atau profitnya berjangka panjang… kadang panjaaang banget eh bingits… 🙂

Aktivitas sosial memang tidak mencari profit (keuntungan materiil/ finansial), namun komunitas dan sistem sosial yang terbangun dapat bernilai ekonomi. Sebentaar.. jangan ngeres dulu… misalnya dituduh “menjual atau mengkomersialkan komunitas sosial”.  Tapi monetizing yang terjadi dalam konteks ini digunakan untuk menghidupkan komunitas. Ini memang agak rumit dijelaskan. Lebih baik nyebur langsung di komunitas sungai Brantas di Surabaya aja. Yuk kita nemuin Mas Prigi, aktivis sungai Brantas… eh.  Dia ini pegiat sosial yang secara tidak disadari “bergelar” social entrepreneur model keempat. Selama 20 tahun mas Prigi yang sarjana ilmu biologi ini beraksi menyelamatkan air sungai Brantas dari pencemaran. Dia melakukan pendampingan dan penyadaran komunitas pada warga sekitar sungai sehingga menjadi mini civil society yang sadar lingkungan, sadar sungai. Mungkin jika bukan mas Prigi akan susah menjalani hidup seperti ini. Mungkin dari sononya mas Prigi ini harus dekat dengan air. Kalau dilihat dari namanya aja “Prigi” (perigi) artinya “sumber air” atau “sumur”. Nah lo….  Hehe….

Masih banyak model lain… Dan penjelasan lebih dalam lagi tunggu buku saya “Social Entrepreneur: Mindset Produktivitas Dalam Keterbatasan dan Perubahan Sosial” rampung ya… Disamping teoritik -tentu saja-, dengan balutan konsep-konsep rekayasa sosial (social engineering), perubahan sosial (social change) dan perubahan mindset (mindset changing) juga memuat banyak contoh praktik social entrepreneur dari yang sederhana dan kasat mata hingga yang “rumit” dan “tidak kasat mata”.

“Social entrepreneur is soft power to make a better life without leaving social wealth and sense of humanity”, kata WK. ***

“Social wealth means something…. somedays it will grow your business…” lanjut WK sambil ngeloyor pergi…..

Ya.. kapan-kapan saya tuliskan, bagaimana social wealth itu bekerja membangun dan menyokong bisnis (dengan manfaat ekonomi). Dan bagaimana pula membangun social wealth di era informasi komunikasi ini.

 

 

A simple question is…

How do we start a social entrepreneur?

How we build spirit of social entrepreneur?

Social entrepreneur and it’s spirit, started from personality with compatible human factors.

First things first is….

Ensure your mindset of entrepreneur enabled. Check it. Change your mindset!

 

Mindset entrepreneurship lebih menekankan pada ‘ada atau tidak ada’-nya mindset entrepreneurship tersebut pada seseorang, bukan pada ‘jaminan keberhasilan’ apabila seseorang telah memiliki mindset entrepreneurship.

Namun yang jelas, mindset entrepreneur lebih mendekatkan pada keberhasilan dibanding dengan yang tidak memiliki mindset entrepreneur. Yuk kita simak kisah nyata bekerjanya mindset entrepreneur ini pada seorang anak muda kreatif-produktif yang telah mencetak income Rp.300 juta per bulan di jalur social entrepreneur model kedua!

_________________________________________________

Tulisan ini adalah edisi penyempurnaan dari artikel saya http://wkwk.lecture.ub.ac.id/2016/02/social-entrepreneur/

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *