Sejarah Masyarakat Tengger

Posted on

Menurut sesepuh desa, masyarakat Tengger ini sudah ada sejak jaman Majapahit yaitu pada zaman keemasan pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Seringkali terbetik informasi bahwa keberadaan masyarakat Tengger ini berawal dan berasal dari pelarian (pengungsi) dari Majapahit ketika terjadi huru hara di kerajaan akibat masuknya pengaruh agama Islam yang dibawa kerajaan Demak. Dan para pelarian tersebut sampai di daerah yang kini disebut Tengger ini, dan sebagiannya lagi sampai di pulau Bali dan menetap di sana hingga sekarang. Cerita ini menurut sesepuh tersebut tidak sepenuhnya benar, walaupun ia tidak menyalahkan. Menurutnya, adanya pelarian tersebut memang dibenarkan (walaupun ia terlihat tidak suka dengan istilah “pelarian”), namun ia tidak setuju jika keberadaan masyarakat Tengger sekarang ini hanya berasal dari pelarian asal Majapahit. Menurutnya, jauh sebelum geger Majapahit yang menyebabkan munculnya pelarian tersebut, masyarakat suku Tengger telah ada. Ia merujuk pada bukti-bukti peninggalan sejarah berupa prasasti[1]. Diantaranya, prasasti batu yang pertama kali ditemukan, berangka tahun 851 Çaka (929 M)[2], atau sekitar abad X, pada zaman pemerintahan Mpu Sindok, menyebutkan tentang keberadaan sebuah desa bernama Walandhit, yang terletak di kawasan pegunungan Tengger, dihuni oleh hulun hyang (abdi Hyang atau abdi dewata), yakni orang yang menghabiskan masa hidupnya untuk menjadi hamba Hyang Widdhi (semacam pertapa). Pada abad yang sama, prasasti kedua ditemukan. Prasasti tersebut menyatakan bahwa bahwa di kawasan yang bernama Walandhit di lereng pegunungan, terdapat pemujaan oleh masyarakat setempat terhadap dewa yang bernama Sang Hyang Swayambuwa, atau yang dalam agama Hindu dikenal sebagai Dewa Brahma[3] (Dewa Api).

Kemudian pada tahun 1888 (Masehi), ditemukan lagi prasasti di daerah Pananjakan (Wonokitri, Kabupaten Pasuruan). Prasasti yang berangka tahun 1327 Çaka (1405 M) yakni pada zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk di Majapahit, ini memperkuat prasasti sebelumnya. Prasasti ini menyebutkan adanya sebuah tempat suci yang dinamai hila-hila, berada di sekitar daerah yang disebut Walandhit. Orang-orang Walandhit, menurut prasasti ini, melakukan pujan (pemujaan), yakni pemujaan terhadap dewa-dewi. Prasasti ini juga menerangkan adanya pembebasan pajak kerajaan terhadap orang-orang Walandhit, karena mereka taat beribadah (pujan), sehingga Walandhit dinyatakan sebagai tempat suci, dan daerah bebas pajak (swatantra).

Yang terbaru, hingga makalah ini ditulis, prasasti berupa lempengan tembaga sebanyak 8 lempeng, masing-masing berukuran kira-kira 25 cm2 (ukuran tidak pas betul, kira-kira berbentuk empat persegi panjang), ditemukan oleh Pak Minarto, warga desa Sapikerep, pada tahun 2002 (prasasti ditemukan di wilayah desa Sapikerep, Kabupaten Probolinggo)[4]. Prasasti ini berangka tahun 1197 Çaka (1275 M), yakni bersamaan dengan masa kejayaan kerajaan Singhasari (sebelum zaman kerajaan Majapahit). Menurut isi prasasti, prasasti ini dibuat atas perintah raja Shri Kertanegara kepada Mahamenteri Anggraheni Geni, berisikan perintah raja tentang pembebasan pajak terhadap orang-orang Tengger. Prasasti ini juga berisi perintah untuk membuatkan tempat pemujaan untuk orang-orang Tengger, yang disebut Parameshvara Pura. Karenanya, prasasti ini dikenal dengan “Prasasti Parameshvara Pura”. Pesan-pesan sang raja Shri Kertanegara dalam prasasti ini antara lain, bahwa orang Tengger jangan sampai lalai melakukan pujan, dengan sarana sesajen (sesaji). Sesajen ini berisi ayam, itik, telur dipecah, dan uang emas atau uang perak. Kalau lalai dalam melakukan sesajen, mandar muga (semoga) disamber bledheg (disambar petir), dipangan macan (dimakan harimau), lan diterak banjir (dan diterjang banjir). Pesan-pesan ini konon semakin memperkuat keyakinan orang-orang Tengger untuk lebih taat melakukan pujan, terutama berkomunikasi spiritual dengan gunung Bromo yang memberi berkah bagi kehidupan mereka[5].

Ayu Sutarto, budayawan dari Universitas Jember (kini beliau almarhum), dalam makalahnya berjudul “Sekilas Tentang Masyarakat Tengger”, yang disampaikan pada pembekalan Jelajah Budaya 2006 yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, di Yogyakarta pada tanggal 7 – 10 Agustus 2006, mengemukakan bukti-bukti sejarah terkait keberadaan masyarakat Tengger ini. Ayu Sutarto, mengutip Pigeaud, “Java in The 14th Century” (The  Hague: Martinus Nijhoff, 1960-1963, jilid I-IV, halaman 443-444), menyebutkan tentang keberadaan prasasti berangka tahun 1327 Çaka (1407 M), yang menyebutkan tentang sebuah daerah yang disebut hila-hila, dihuni oleh hulun hyang, dan masyarakatnya taat beribadah, melakukan pemujaan kepada gunung Bromo, sebuah gunung yang dikeramatkan. Prasasti tersebut dihadiahkan oleh Bathara Hyang Wekas ing Sukha (Hayam Wuruk) pada bulan Asada. Nama “Walandit” juga dirujuk dalam Kakawin Nagarakartagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca, seorang pujangga kenamaan dari kerajaan Majapahit. Walandhit adalah nama tempat suci yang sangat dihormati oleh kerajaan Majapahit. Di tempat ini bermukim kelompok masyarakat yang beragama Buddha dan Shaiwa. Masih menurut Ayu Sutarto, kemungkinan besar Walandhit pada waktu itu merupakan mandala yang dipimpin oleh seorang dewa guru. Dewa Guru adalah seorang siddhapandhita (pendeta yang telah sempurna ilmunya) yang memimpin sebuah mandala.  Sebenarnya mandala adalah tempat tinggal pendeta yang sangat jauh dari keramaian, yang biasanya disebut wanasrama. Tempat seperti ini mungkin juga dihuni oleh para resi atau kaum pertapa yang hidup mengasingkan diri.

Bukti-bukti sejarah tersebut, yakni prasasti Walandhit dan prasasti Parameshvara Pura, menunjukkan bahwa kawasan Bromo–Tengger-Semeru sudah berpenghuni jauh sebelum kejayaan kerajaan Majapahit, bahkan pada masa sebelum era Majapahit, yakni pada era kerajaan Singhasari. Oleh karena itu, adanya keyakinan atau  anggapan bahwa nenek moyang orang Tengger adalah pelarian (pengungsi) dari Majapahit, patut dikaji ulang. Jika memang keterangan yang menyebutkan adanya pelarian asal Majapahit dapat dibenarkan, merujuk keterangan dari informan penulis (dukun Tengger, pewaris tradisi Tengger) dan temuan Ayu Sutarto, penulis mengajukan dua argumen. Pertama, terlepas dari fakta sejarah apakah orang-orang Walandhit yang mendiami gunung Bromo ini mempunyai hubungan dengan orang-orang Majapahit atau tidak, setidaknya praktik peribadatan mereka memiliki kesamaan dengan praktik peribadatan orang-orang Majapahit (sehingga raja Majapahit berkenan, dan membuat prasasti). Artinya orang Walandhit adalah “sebagian warga Jawa pada zaman itu” (warga Majapahit atau Singhasari?) yang secara kebetulan bertempat tinggal di “nun jauh di sana” (yakni di gunung Bromo), hal yang belum terjangkau oleh kerajaan. Keberadaan prasasti dapat bermakna “pengakuan raja atas warga yang berada di nun jauh di sana”. Kedua, jika tesis tentang adanya pelarian asal Majapahit itu benar, terdapat penerimaan secara penuh oleh orang-orang Walandhit terhadap para pelarian ini. Mereka kemudian hidup bersama, beranak-pinak dan menurunkan orang-orang Tengger yang dikenal sekarang ini. Hingga sekarang, di Tengger tidak ada bekas-bekas yang mengesankan adanya perbedaan tentang adanya orang-orang yang berasal-usul dari “masyarakat lain”. Semua orang Tengger tampak sama, dan Tengger tidak mengenal sistem pelapisan sosial berdasarkan kasta seperti terdapat di Bali.

[1] Penulis memperoleh informasi ini dari informan seorang wakil kepala dukun. Pada saat menjelaskan bagian ini, sang dukun sambil membuka-buka buku catatannya.

[2] Tahun Çaka adalah tahun pada kalender Jawa Kuna (Tahun 1 Çaka = 78 M).

[3] Nama ”Dewa Brahma” ini kelak menjadi cikal bakal sebutan ”Bromo” (gunung Bromo).

[4] Sekarang, prasasti ini tersimpan di Museum Trowulan, Mojokerto, karena setelah penemuan, prasasti langsung diserahkan oleh penemunya, bersama aparat pemda setempat ke museum tersebut.

[5] Konsep berbaik-baik dengan alam, merupakan salah satu konsep ajaran hidup orang Tengger yang disebut ”Tri Hita Karana” (Tiga Penyebab), dijelaskan pada Gunung Bromo dan Dukun Bagi Masyarakat Tengger.

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *