Relasi Kuasa Dominan Dalam Produksi Wacana

Posted on
ket-dpkp-inspeksi-200x135 Relasi Kuasa Dominan Dalam Produksi Wacana
relasi kekuasaan dominan

Analisis wacana dilakukan pada teks beserta konteks dan historisnya. Teks meliputi tulisan, ucapan, tindakan, artifak (jejak peninggalan), baik yang dimuat media maupun dalam kehidupan nyata keseharian. Dalam Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis (CDA), tidak ada perbedaan antara teks lisan dan teks tertulis. Semua teks yang terlibat dalam produksi wacana dibuat melalui suatu olah bahasa, terkait dengan modus kekuasaan dan relasi kuasa, baik itu untuk meraih atau merebut kekuasaan, memelihara kekuasaan, melawan kekuasaan, dilakukan oleh aktor pemegang kekuasaan bahkan mereka yang sedang melawan kekuasaan. Tulisan ini membahas relasi kuasa dominan dalam produksi wacana dalam kaitannya dengan peran Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis (CDA).

Baca tulisan saya sebelum ini, “Mengenal K-Strategies Dalam Critical Discourse Analysis”

Dalam memproduksi wacana, dipergunakanlah bahasa. Bahasa, sebagai alat produksi wacana, mencerminkan realitas, ia menciptakan realitas yang diinginkan, melalui tanda (Saussure), ia meng-kode tanda. Karenanya, bahasa bisa hadir sebelum realitas. Bahasa digunakan sebagai strategi wacana (eufemisme, disfemisme, labelisasi, stereotipe). Bahkan menurut saya, sebagai strategi kebudayaan (baru), ketika bahasa digunakan untuk menciptakan realitas melalui coding bahasa untuk mempengaruhi pikiran dan perilaku manusia.

Baca tulisan saya terdahulu, “Bahasa dan Interpretasi Teks dalam Analisis Wacana Kritis”

Memahami Teks dan Konteks

Analisis linguistik, tentang bagaimana dan mengapa teks itu memiliki makna, berbasis tatabahasa dalam sebuah bahasa. Teks memiliki eksistensi ketika berkonjungsi dengan konteks, sebagai refleksi dari wacana (Widdowson, 2004:19). Teks dan tatabahasa memiliki dimensi interpersonal relations dan ideational relations.

Konteks

Konteks merupakan konstruks psikologis (Sperber & Wilson tentang teori relevansi), memuat seperangkat premis yang digunakan sebagai ungkapan yaitu konstruks psikologis yang memunculkan asumsi terhadap dunia. Asumsi ini berpengaruh terhadap interpretasi atas ungkapan tersebut. Pengertian ini sejalan dengan konsep sosiologi pengetahuan Karl Mannheim dan konstruksi sosial atas realitas Peter Berger – Thomas Luckmann.

Dalam kaitan konteks ini, lingkungan dari ungkapan tersebut adalah: ekspektasi terhadap masa depan, hipotesis ilmiah, belief (relijius), memori, asumsi kultural, belief (mental state). Kesemuanya ini (=sistem pengetahuan, sistem budaya) memungkinkan untuk mempengaruhi  interpretasi.

Membaca Wacana

Dalam membaca wacana, Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis (CDA) dapat hadir sebagai alat pembacaan dan sebagai metode penelitian, untuk memahami atau menjelaskan suatu wacana.

Sebagai alat pembacaan, Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis (CDA) menafsirkan suatu wacana dengan menggunakan satu atau lebih metode analisis wacana, dan ini tergantung dari referensi yang dimiliki “pembaca”-nya, tanpa melalui prosedur metodologis. Dan sebagai metode penelitian, Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis (CDA) diselaraskan dengan metode penelitian ilmu sosial.

Politik Identitas dan Batas Publik – Privat

Teks dan ucapan, sebagai subjek Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis (CDA), dapat bersifat publik maupun privat. Bahasa, sebagai bentuk dari praktik sosial dalam praktik komunikasi publik maupun privat, membentuk identitas politik yang memainkan peran dalam proses pendefinisian identitas.

Wacana tersusun atas tanda-tanda, menjadi suatu bahasa yang aktif (language in action) atau ‘parole’ dalam sebutan Foucault (Archaeology of Knowledge). Dalam wacana, peran subjek menjadi penting dan menentukan untuk membangun relasi pengetahuan dan kekuasaan.

Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis (CDA), membongkar dominasi wacana (teks, konteks, preteks) dari aktor dominan; karenanya memerlukan tafsir untuk memahami kode bahasa (algoritma sosial) untuk menangkap dan membongkar makna teks dan memahami makna intertekstual dalam konteks dan preteks-nya. Relasi sistem tanda yang terkandung dalam sistem bahasa yang digunakan dalam wacana, terkait dengan subjektivitas. Subjektivitas adalah pembentuk sistem pengetahuan dan sistem budaya yang mengiringi perjalanan hidup, histori, seorang individu dan mengonstruksi subjektivitas individu tersebut (genealogi Foucault).

Relasi kekuasaan intersubjektivitas memproduksi wacana dominan (power produces discourse), melalui instrumentasi sosialisasi politik, pendidikan, media massa, statemen elit, dll. Inilah yang hendak dibongkar oleh Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis (CDA).

Di titik ini saya berpikir tentang power, dalam era teknologi informasi-komunikasi (ICT) ini, who really have power? Strong person(s), market, negara? Dan bagaimana meraih dan  mempertahankan kekuasaan dengan mengelola wacana publik? Dan bagaimana banturan antar wacana ketika ada beberapa aktor dominan yang sama-sama memainkan wacana di ruang publik? Higher energy controls lower energy! Gerakan sosial, politik, kekuasaan, telah bergeser dari penanaman ideologi hard power menuju pengelolaan wacana publik melalui media publik. Wacana dominan ini pada titik berikutnya membentuk struktur bagi aktor, turut membentuk subjek untuk dapat membentuk wacana baru dari subjektivitas baru (dialektik).

 

Relasi Kuasa Dominan Dalam Produksi Wacana di dunia bisnis…

Dalam dunia bisnis pun tak luput dari relasi kuasa dominan dan produksi wacana, pertarungan wacana dominan elitis maupun non-elitis. Yaitu wacana dominan (produk, jasa) yang dipoduksi oleh “power holder” (pemilik produk, jasa) untuk membentuk wacana publik atau wacana dominan (promosi produk hingga diterima publik). Kuasa kecil non-elitis bisa diperankan oleh kompetitor maupun calon konsumen yang juga memiliki kuasa semisal sikap kritis hingga penolakan, dengan menggunakan perangkat pengetahuannya. Pertarungan wacana (perang dagang atau perang iklan) adalah pertarungan antar kompetitor terhadap produk sejenis di ruang publik.

Konsepsi wacana, pembentukan wacana, wacana dominan, kuasa, power holder beroperasi di ranah sosial, politik, ekonomi, bisnis, dll. Bahkan menurut saya, telah beroperasi di wilayah budaya, sebuah strategi kebudayaan baru dalam memunculkan dunia baru, peradaban baru!

 

Nah… berlanjut aja dah….

Siapa Power Holders (Pemegang Kuasa) dan Di Mana Mereka?

Dan bagaimana pula Membongkar Wacana Dominan Yang Diproduksi The Power Holders?

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *