Rekayasa Sosial, Human Factor dan Teori Subjek Lacan

Posted on

diskusi-politik1-200x135 Rekayasa Sosial, Human Factor dan Teori Subjek LacanMenyambung artikel saya yang lalu, Mengembangkan Masyarakat Sipil,  Rekayasa Sosial dan Human Factor, saya ingin menyambungkan konsep social engineering human  factor ini dengan teori pembentukan subjek  Jacques Lacan.

Pemikiran SA konsep social engineering human  factor, tampak berfokus pada aktor atau faktor manusia atau subjek dan menonjolkan sisi humanistik dengan dibumbui unsur moralis dalam kajian pengembangan civil society, dengan mengedepankan aspek manusia (human factor, HF) sehingga tampak personal-oriented, sehingga kurang bisa terukur. Memfokuskan faktor manusia dalam kajian civil society tanpa penjelasan gramatikal kurang menghargai aspek interaksi, relasi dan proses sosial.   Bahasan Human Factor  Decay (pembusukan faktor manusia)  yang disebut SA sebagai penghambat proses rekayasa sosial (social engineering) menyisakan persoalan bagaimana “menyembuhkan” HFD pada level individual dan bagaimana membina human factor yang supported pada social engineering dan trustworthiness scocial order. Ini yang menggantung dan tidak disentuh SA. Kajian “menyubjek-melokal” atau “melokal pada subjek” yakni faktor manusia, akan lebih kontekstual dan beroperasi jika didekati dari sisi “human with its life-world” atau subjek yang memiliki, membawa dan berkonteks dengan “dunia-kehidupannya”, dan darinya berinteraksi sosial (in context to its social life). Kajian subjek (human factor) dalam buku SA yang mendefinisikan subjek dengan anasir internal, tidak dapat dijelaskan bagaimana unsur internal (motivasi, hasrat, emosi dsb) itu mampu beroperasi di wilayah praksis, sehingga terkesan buku SA ini kurang menegaskan relasinya dengan proses sosial. Di sinilah kekurangan konsep ini. Karenanya, kekurangan ini, -dengan tetap meminjam terminologi “human factor” (subjek)-, dikombinasikan dengan konsepsi subjek menurut Lacan, teori pembentukan subjek.

Baiknya, SA telah meletakkan landasan cukup bagus untuk bisa ditapaki gagasan subjek Lacan. Subjek inilah yang dalam bahasan SA (disebut “human factor”) membawa serta anasir emosi, hasrat, motivasi dll dalam melandasi tindakan sosialnya dalam konteks relasi sosial dan pengembangan civil society. Dalam konteks relasi sosial inilah sang subjek membawa tafsir atas dirinya (self) dan tafsir atas liyan (the other). Inilah dasar relasi sosial yang dibawa oleh masing-masing subjek . Relasi sosial ini dalam pandangan post-strukturalis dan cultural studies, dipandang sebagai teks. Dalam aliran post-strukturalis, perspektif Lacan membawa konsepsi baru tentang subjektivitas yang kompatibel dengan teori dasar Lacan sendiri[1].

Konsepsi human factor dalam rekayasa sosial (civil engineering) dan tertib sosial terpercaya, sejalan dengan konsepsi subjek dalam pemikiran psikoanalisis Lacan dalam Teori Pembentukan Subjek. Pandangan tentang subjek ini ditekankan Lacan melalui penjelasannya tentang pengenalan diri pada apa yang disebutnya sebagai “Tahap Cermin” dalam pertumbuhan seorang individu. Dalam memahami siapa dirinya, subjek ternyata berpegang pada imago (cermin) mengenai dirinya sebagaimana yang dipantulkan oleh cermin. Cermin di sini adalah cermin dalam arti harfiah maupun cermin dalam arti “konfirmasi the other terhadapnya”. Konfirmasi ini terjadi di dalam bahasa. Dengan itu, apa yang dilihat dan diterima subjek sebagai dirinya yang utuh sebenarnya adalah diri yang telah dialienasi dan diri yang disajikan oleh the other. Dan tragisnya, selamanya, subjek bersandar pada imago mengenai diri utuh yang terpantul dari cermin itu. Akibatnya, diri yang terbentuk pada sang subjek sebenarnya lebih merupakan gambaran hasrat untuk mengkonfirmasi hasrat dari the other[2]. Dengan demikian, tidak ada subjek yang lengkap dan utuh. Subjek sedari awalnya adalah berkekurangan dan hidup dalam tujuan untuk mengisi kekurangan permanen itu. Lacan memformulasikan arena setelah manusia masuk ke dalam bahasa ini sebagai yang simbolik, sementara arena primordial yang ada sebelum manusia mengenal bahasa disebutnya sebagai yang riil. Subjek di dalam Lacan adalah ketegangan tak berkesudahan antara yang simbolik dan yang riil. Subjek, dengan kata lain, adalah kegagalan atau penundaan menjadi subjek.

Subjek Lacan mengadopsi pemikiran Freud tentang ketidaksadaran. “Manusia tidak lagi tuan dan penguasa dalam rumahnya sendiri”, demikian dikatakan Freud. Anggapan itu tidak kurang dari suatu revolusi dalam cara memandang manusia. Untuk itu kita teringat saja akan peranan yang dimainkan oleh kesadaran dalam seluruh pemikiran Barat sejak Descartes. Dengan menyelami ketidaksadaran, Freud memperlihatkan pada manusia suatu lapisan lebih mendalam yang tidak terduga sebelumnya, suatu taraf tak sadar serta anonym. Lacan menjelaskan ketidaksadaran itu dalam cahaya penemuan-penemuan lingusitik tentang bahasa. Perbedaan Saussure antara signifiant dan signifie, antara “penanda” dan “yang ditandakan”, banyak dipakai oleh Lacan. Mimpi, gejala neurotis, “salah tindak” (fehlleistung) dan lain-lain, semuanya merupakan “penanda”. Seluruh percakapan analis dengan yang dianalisis merupakan une chaine de signifiants, seuntai rantai penanda-penanda. Bahasa (langue seperti dimengerti oleh Saussure) merupakan suatu sistem yang terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi yang mempunyai prioritas terhadap subjek yang berbicara. Manusia tidak merancang system itu, tetapi sebaliknya takluk kepadanya. Dan justru ketaklukan ini memungkinkan dia berbicara. Menurut Lacan hal yang sama berlaku juga untuk ketidaksadaran. Ketidaksadaran adalah semacam logos yang mendahului manusia perseorangan. Manusia menyesuaikan diri dengannya dan mendengarkannya.

Subjek akan dianalisis berdasarkan psikoanalisis teori pembentukan subjek Lacan ini, yang secara ringkas digambarkan sebagai berikut. Dimulai dari fase imajiner, simbolik dan riil, subjek masyarakat pada mulanya mengalami peristiwa yang mirip fase imajiner, di mana pada fase ini subjek akan menemukan dirinya seperti subjek dalam cermin. Subjek mengenal dirinya seperti subjek dalam cermin, sekaligus “cermin sosial” yakni konfirmasi dari the other (subjek lain) tentang dirinya, termasuk pantulan (refleksi) hasrat yang terpantul dari hasrat akan hasrat orang lain. Disinilah subjek  mengalami kegamangan tafsir diri dan identitas, sekaligus alienasi pertama akan dirinya.  Pada tahap ini pula subjek mengalami fase simbolik yakni ketika bersinggungan dengan subjek lain (the other) dengan perantaraan bahasa. Perbedaan tafsir dan distorsi bahasa turut pula beroperasi pada tahap ini, di mana subjek mengalami “pembimbingan” dari yang lain dalam ketidaksadaran. Yang terjadi dalam ranah simbolik ini, adalah subjek selalu dikonstitusikan oleh negativitas, yakni apa yang disebut Lacan sebagai ‘kekurangan’ (lack ; manque). Dalam ranah penandaan, setiap penanda selalu mengacu pada apa yang ditandainya. Oleh karenanya, setiap penanda selalu merupakan kekurangan-akan-petanda, dan sebangun dengannya, hasrat selalu merupakan kekurangan-akan-kepuasan. Itulah sebabnya Lacan berbicara tentang “kekurangan yang tak terpuaskan dalam penanda”. Di sini subjek mengalami “kekurangan yang tak terpuaskan akan penanda” , yang kemudian membawa subjek menuju fase riil, yaitu kemunculan sesuatu yang telah direpresi dalam fase simbolik, dan sesuatu itu dapat muncul kembali sebagai halusinasi dalam ranah ‘yang-riil’.

Dengan komparasi subjek Lacan, maka tampak sebenarnya gagasan human factor SA ini relevan dalam studi perubahan sosial, rekayasa sosial dan tertib sosial.  Hanya saja, dengan gaya penyajian unik gaya SA, diperlukan kesabaran dalam memaknai dalam konteks dan gramatika yang sesuai dan produktif.

Saya pun mencermati detil-detil pemikiran SA tentang pengembangan civil society melalui social engineering (rekayasa sosial) dengan fokus human factor ini mengumpulkan berbagai referensi lain untuk memperluas spektrum kajian makna subjek dan subjektifitas untuk mengkaji interaksi dan relasi  subjek dalam kajian sosial dan politik. Gagasan human factor ini memang tidak secara langsung dan linier diterapkan secara “zakelijk” dalam konten dan konteks bahasan social engineering, namun perasan konsep ini diperluas dengan pemikiran Jacques Lacan tentang pembentukan subjek dalam perspektif psikoanalisis seperti telah dipaparkan di atas, akan memperkaya teori rekaysa sosial (social engineering) dan perubahan sosial.

Sebagai contoh, salah satu penerapan konsepsi human factor ini dalam kajian relasi civil society dan negara (state), relasi antar subjek bersinggungan dengan “social order”, perubahan sosial, social engineering, developing civil society, yaitu tentang bagaimana subjek masyarakat” berinteraksi antar mereka sendiri (inter-subjektivitas) dalam tafsir dinamis yang berkembang, dan dengan “subjek negara”, sehingga menghasilkan sintesis tafsir social order yang mendinamiskan peran masyarakat. Konsep “human factor” akan “dipinjam” idenya untuk diperluas dengan mengelaborasi “konsep subjek” Jacques Lacan dengan ramuan konstruksi sosial atas realitas. Dari elaborasi ini akan memunculkan sebuah pernyataan hipotetik, akankah “subject factor” dari masing-masing subjek masyarakat dan negara cukup mampu membawa arah baru relasi yang lebih baik di masa mendatang (a better relations in the future between political state and civil societies).

 

Kesimpulan

  • Pengembangan masyarakat diperlukan untuk menciptakan ‘tertib sosial yang terpercaya’ (trustworthiness social order).
  • Pendekatan Human Factor (SA menyebutnya “Positive Human Factor) efektif dalam usaha pengembangan masyarakat melalui social engineering, yakni berisi integritas, trust, respect, responsibility, akuntabilitas, dan komitmen.
  • Kegagalan social engineering sebelumnya adalah karena mengabaikan Human Factor.
  • Prospek perspektif Human Factor dalam social engineering di masa depan cukup cerah.
  • Pendekatan Human Factor dalam kajian social engineering terlalu berfokus pada aspek personal sehingga sulit diukur dan di-treatment.
  • Model Human Factor (subjek) bisa diadopsi untuk kajian civil society yang lebih luas, dalam relasinya dengan elemen sosial politik lain (misal: partai politik), dengan pembaruan pendekatan yang lebih memperhatikan kontekstualitas subjek.
  • Untuk mempertajam makna konsep human factor, maka perlu penyempurnaan dengan konsep subjek seperti dalam teori Lacan tentang pembentukan subjek.

Referensi

Adjibolosoo, Senyo (2006). Developing Civil Society: Social Order and The Human Factor. England: Ashgate Publishing Limited.

Bracher, Mark (1993) Lacan, Discourse and Social Change. Ithaca: Cornell University Press.

Garcia, George I dan Carlos Gmo. Aguilar Sanchez. Psychoanalysis and Politics: The Theory of Ideology of Slavoj Zizek. International Journal of Zizek’s Studies. Volume 2 No. 3.

Rothenberg, Molly Anne (2010) The A New Excessive Subject: A New Theory of Social Change. Cambridge: Polity Press.

Stavrakakis, Yannis (2002) Lacan and The Political. London: Routledge.

Zizek, Slavoj (ed.) (2003) Jacques Lacan, Critical Evaluation in Cultural Theory: Volume III: Society, Politics, Ideology. London: Routledge.

Zizek, Slavoj (2000) Lacan Between Cultural Studies and Cognitivism. UMBRA Journal, Science and Truth, No. 1, halm. 9 – 32.

[1] Yannis Stavrakakis, (2002) Lacan and The Political. London: Routledge, halm. 13.

[2] Jacques Lacan (1999) Ecrits. Terjemahan bahasa Inggris dari bahasa aslinya, Prancis, oleh Bruce Fink. New York: WW Norton & Company, halm. 93 – 94.

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

2 thoughts on “Rekayasa Sosial, Human Factor dan Teori Subjek Lacan

  1. tulisan bapak sangat menarik, saya sangat tertolong dengan penjelasan mengenai buku Senyo Adjibalosoo (SA) tersebut walaupun bagi saya masih kurang banyak.
    Kebetulan saya Mahasiswa Pasca Sarjana yang tengah menyusun tesis dengan mengambil grand theory dari SA.
    apabila pak Wawan berkenan, saya ingin interaksi via email, terima kasih untuk tulisannya dan terima kasih juga untuk perhatian bapak.

    1. Terimakasih Pak Tony Layangsahi, telah singgah di blog saya ini. Saya senang mendiskusikannya dengan bapak. Silakan pak… Mohon maaf ya, cukup lama saya tak masuk ke blog ini, sedang sibuk lapang… hitung-hitung mempraktikkan ‘human factor’ SA ini… (human factors in social engineering).. 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *