Perubahan Sosial dan Pembangunan Manusia

Posted on

social-change-n-human-devt-200x135 Perubahan Sosial dan Pembangunan ManusiaPerubahan sosial, senantiasa terjadi di masyarakat. Apalagi ketika teknologi informasi berkembang pesat seperti sekarang ini, memicu perubahan sosial yang amat cepat (rapid social change), tentu, dengan relasi ikutannya, dengan konseuensi antara social learning dengan menemukan nilai baru, ataukah terhanyut begitu saja.

Menilik sifat kompleksitas dinamikan sosial, diperlukan penglihatan sosial multi-disiplin, tak bisa jika hanya dengan perspektif ilmu sosiologi semata. Namun, tak banyak kajian yang menelaah perubahan sosial dari perspektif multi disipliner sehingga bisa diperoleh penjelasan yang komprehensif.

Buku berjudul Social Change and Human Development, merupakan salah satu kumpulan hasil penelitian yang menelaah perubahan sosial dari perspektif multidisipliner, khususnya psikologi sosial. Buku yang berisi kumpulan artikel ini membahas bagaimana perubahan sosial mempengaruhi adaptasi individu.

Buku ini merupakan hasil pertemuan para penulis pada lokakarya internasional yang disponsori oleh German National Science Foundation (DFG), yang diselenggarakan oleh dua peneliti muda, Martin Tomasik dan Claudia Haase, bersama-sama dengan salah satu editor buku ini (RKS). Sesi berlangsung di kamar terpencil biara tua di kota Würzburg di Jerman, sehingga menggarisbawahi masalah kontinuitas dan diskontinuitas sangat penting bagi buku ini. Selain penulis,  peserta diskusi internasional  lain juga ada yakni Andy Dawes, Suman Verma, dan Fred Vondracek. Selain itu tulisan  juga berasal dari  sekelompok mahasiswa PhD dari Pennsylvania State University dan University of Jena, yang mempresentasikan penelitian mereka tentang perubahan sosial yang terinspirasi oleh karya mereka.

Latar belakang keahlian  psikologi yang dimiliki 9 kontributor dan keahlian ilmu sosiologi oleh 11 kontributor  dalam buku ini,  membuat penelitian penelitian dalam buku ini lebih dalam mengupas masalah perubahan sosial dari perspektif interdisipliner khususnya dikaitkan dengan psikologi sosial.

Buku ini disusun menjadi tiga bagian, dimulai dengan bab yang membahas konsep umum tentang perubahan sosial, dan ditutup dengan bab yang lebih fokus pada beberapa negara yang dapat mewakili berbagai transformasi di masyarakat.

I

Dinamika Perubahan Sosial dan Respons Individu

Steffen Schmidt menulis artikel dengan judul A Challenge Response Model in Research on Social Change.  Bab ini membahas konsep tantangan dan respon yang telah dibahas di atas sebagai cetak biru struktural untuk penelitian psikologis dan menyajikan klarifikasi tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan tantangan dalam konteks perubahan sosial dan bagaimana respon dapat terjadi. Tantangan adalah ketegangan antara salah satu tingkat tersebut dalam realitas sosial. Tantangan dipahami sebagai akibat ketidakcocokan parsial dalam rencana tindakan, dan sebagai respon yang muncul di luar kegiatan rutin. Janji-janji ideologis sistem kemanusiaan yang bertentangan dengan pembatasan kebebasan individu yang dikenakan oleh lembaga-lembaga politik, mengakibatkan ketegangan tumbuh pada penduduk pada umumnya. Kehancuran sistem pada tahun 1989 adalah bukti kurangnya solusi, dan respon yang terjadi adalah penggantian struktur-struktur makro mengikuti cetakan Barat, yaitu, dengan perwakilan demokrasi dan didirikannya ekonomi pasar (Zapf, 1996). Perubahan pada tingkat makro yang demikian, tentu saja, tidak menjamin bahwa orang akan menyesuaikan diri dengan cepat dan mengembangkan kepercayaan dan kebiasaan yang sepadan dengan struktur makro yang baru. Selain itu, banyaknya orientasi tindakan yang berjalan dengan baik di sistem lama sebenarnya masih bisa digunakan, sehingga menghasilkan tantangan baru bagi sistem politik yang baru.

Jochen Brandtstädter memberi kontribusi artikel dengan judul Life Management in Developmental Settings of Modernity: Challenges to the Adaptive Self.

Menurut Brandtstadter,  Tantangan dari transformasi yang baru saja dijelaskan perlu dilihat dari segi ruang dan waktu. Masyarakat di negara-negara Barat telah mengalami perkembangan tren yang cepat di bidang inovasi budaya, globalisasi produksi dan komunikasi, dan pluralisasi konsep kehidupan. Dengan perkembangan yang demikian pesat, individu tidak bisa lagi hidup dengan mengikuti cara-cara seperti orang-orang dari generasi terdahulu. Sebaliknya, sesuai dengan ekspektasi sosial, mereka diharapkan untuk mengeksplor kemungkinan-kemungkinan baru, mencapainya dengan semangat, dan selalu sadar akan kebutuhan untuk beradaptasi terhadap kesulitan-kesulitan tanpa merasa rendah diri. Semua ini harus dicapai meskipun terdapat ketidakpastian pasar dalam menghargai perilaku-perilaku tersebut, adanya kesulitan dalam perencanaan masa depan, munculnya banyak pilihan baru yang belum pernah dialami sebelumnya, dan meskipun terjadi keruntuhan nilai-nilai yang sebelumnya dipegang seluruh populasi.

Tujuan kreatif dari bab ini adalah untuk melihat reaksi-reaksi paralel yang terjadi terhadap perubahan sosial. Terdapat situasi-situasi dimana terjadi kerugian dan kendala ireversibel, dan karenanya tindakan pertahanan diri penting untuk menemukan makna baru dan kepuasan pribadi dalam kondisi yang merugikan. Tindakan tersebut sesuai dengan bentuk pengolahan informasi yang lebih terbuka dan memberikan kepuasan yang lebih besar terhadap apa yang telah dicapai. Hambatan-hambatanyang dialami akhirnya berubah menjadi sumber kebanggaan,dan bukan perenungan atau bahkan depresi karena peluang yang tersia-sia.

Keseimbangan yang baik antara kegigihan dalam mencapai tujuan dan fleksibilitas dalam menyesuaikan diri terhadap kesempatan-kesempatan baru bukan hanya merupakan kunci sukses dalam manajemen kehidupan selama penuaan, tapi juga merupakan sumber daya personal yang penting dalam menghadapi ketegangan realitas sosial yang terjadi selama transisi politik dan ekonomi yang dibahas dalam buku ini.

Ross Macmillan dan Arturo Baiocchi menulis artikel dengan judul Conceptualizing the Dynamics of Lives and Historical Times : Life Course Phenomena, Institusional Dynamics and Sociohistorical Change.

Perubahan sosial yang ditekannkan di buku ini dimulai dengan ketegangan politik yang tinggi, yang diikuti dengan pergerakan dinamis perubahan institusi sosial, dan berakhir dengan ketidakpastian bagi individu yang harus beradaptasi dengan orientasi dan perilaku yang baru. Tulisan  ini menggambarkan hubungan timbal-balik antara perubahan sosial dan adaptasi individual dan klarifikasi konseptual serta demonstrasi empiris tentang bagaimana hal ini dapat terjadi. Ini memberikan gambaran tentang dinamika mutual antara tantangan dan respon dari semua tingkat, ‘makro-ke-mikro-ke-makro’ (Coleman, 1987; Esser, 1993), dan semua proses yang terkait di dalamnya.

Bab ini menggambarkan ilustrasi tentang bagaimana seseorang dapat menerima gabungan dari perubahan pada tingkat masyarakat dan perubahan pada kepercayaan dan perilaku individu.

II

Determinan pada Tingkat Individu

Dirk Hofäcker,  Sandra Buchholz, and Hans-Peter Blossfeld memberi kontribusi melalui artikelnya berjudul Globalization, Institutional Filters and Changing Life Course: Pattern in Modern Societies. Bab ini menjelaskan kerangka konsep, desain dan hasil-hasil dari sebuah program penelitian (GLOBALIFE) yang membandingkan berbagai negara OECD terkait efek globalisasi terhadap keputusan hidup individu. Di bawah ketidakpastian globaliasi, pasar dunia meningkat dengan pesat.  Apabila dilihat lebih dekat, ketidakpastian politik dan ekonomi tidak berdampak langsung pada individu, tapi terjadi melalui ‘filter institusional’ yang mewakili berbagai ideologi dan praktik pekerjaan, pendidikan, dan sistem kesejahteraan (Esping-Andersen, 1990).

Ketidakpastian secara konseptual berada di tingkat makro, namun penerimaan oleh setiap individu berdampak pada cara-cara tertentu untuk bertahan dalam situasi tersebut, misalnya dengan menunda masa transisi di kehidupan mereka.

Rainer K.Silbereisen, Martin Pinquart, dan Martin J Tomasik melalui artikel berjudul Demands of Social and Psychosocial Adjustment, memberikan kontribusi dalam buku ini. Bab ini, sebaliknya, membahas variasi nyata manifestasi pribadi terhadap ketidakpastian. ‘Tuntutan’dipahami sebagai dukungan dari perbandingan retrospektif mengenai tren negatif dalam menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan dan keluargasesuai jenjang usia individu. Tuntutan juga mencerminkan akumulasi kerentanan sepanjang hidup (Haase, Tomasik, & Silbereisen, 2008). Sebagaimana ditunjukkan pada bab sebelumnya, transformasi politik tidak bisa terlepas dari konteks globalisasi yang lebih luas dan perubahan-perubahan tingkat makro lainnya. Di sisi lain, menghadapi tuntutan yang terkait transformasi tidak bisa dipahami tanpa mempertimbangkan konteks yang lebih sempit tentang di mana individu itu tinggal. Bab ini menunjukkan bukti bahwa proses dalam menghadapi tuntutan disebabkan oleh perbedaan kesempatan yang berhubungan dengan ekonomi.

Jutta Heckhausen menulis artikel tentang Globalization, Social Inequality, and Individual Agency in Human Development : Social Change for Better or Worse?

Menurut Heckhausen, dalam rangka menyelesaikan tugas perkembangan, individu menegosiasikan inti dari tujuan, misalnya mencari pekerjaan pertama setelah lulus sekolah, dan bahwa ini dapat dilihat sebagai strategi keterlibatan tujuan (goal engagement) dan strategi pelepasan tujuan (goal disengagement). Strategi keterlibatan tujuan memerlukan investasi waktu dan usaha untuk mencapai tujuan yang dipilih (kontrol utama selektif) dan sering mencakup kegiatan motivasi untuk mempertahankan komitmen dalam pencapaian tujuan meskipun mengalami kesulitan (kontrol sekunder selektif). Dalam hal ini, orang-orang biasanya mengandalkan dukungan dan saran dari orang lain yang lebih berpengalaman (kontrol utama kompensasi). Tentu saja, tidak semua tujuan dapat dicapai oleh semua orang, dan pelepasan tujuan (kontrol sekunder kompensasi) sering tak terelakkan. Untuk menghindari menyalahkan diri sendiri dalam situasi ini berbagai strategi dapat digunakan, seperti membandingkan diri dengan orang lain yang berprestasi rendah atau dengan memfokuskan kembali pada kemungkinan keberhasilan di bidang lain. Meskipun, secara rata-rata, keterlibatan adalah strategi yang lebih baik – seperti misalnya, dalam kasus kesejahteraan — dalam kondisi tertentu, seperti ketika sumber daya sepenuhnya habis, pelepasan dapat menberikan hasil positif (Tomasik, Silbereisen, & Heckhausen, 2009).

Inti bab ini adalah untuk menghubungkan proses regulasi perkembangan dengan struktur peluang sosial dan kemungkinan perubahannya di bawah globalisasi, yang membuat regulasi perkembangan lebih rumit bila dibandingkan dengan masa lalu.

III

Transisi dan Transformasi Dalam Perspektif Internasional

Bab ini melaporkan penelitian-penelitian tentang transisi politik dan transformasi sosial dan ekonomi di beberapa negara. Penelitian-penelitian ini menggunakan perbandingan di dalam dan antar negara, dan perbandingan ini dibuat sedemikian rupa sehingga sampel yang dipilih memiliki indeks periode dari proses transformasi politik, sosial, dan ekonomi yang berbeda di bawah pengawasan. Negara-negara yang tercakup mewakili latar belakang Anglo-Saxon (USA, Inggris Raya), Eropa Tengah-Timur (Polandia, Ukraina), dan Asia (Vietnam, Cina). Meskipun ketidakpastian struktural tertentu dan tuntutan individu yang dihasilkan dari perubahan tingkat makro tidak dinilai secara langsung, dengan mengatur perbandingan melintasi ruang dan waktu dengan cara tertentu, peran paparan perubahan sosial dan konsekuensinya menjadi jelas.

Reinhold Sackmann menulis artikel dengan judul Institutional Responses to Social Change in Comparative Perspective. Artikel ini  membahas respons individu terhadap perubahan struktur sosial, tapi jelas juga ada aktor institusional terlibat yang tertarik dengan nasib individu. Bab ini unik karena membahas respon kota-kota di Jerman dan Polandia terhadap penurunan tingkat kelahiran yang mengikuti transisi politik pasca-komunis. Dampak negatif dari kehancuran pemerintahan sosialis mengurangi anggaran yang dialokasikan untuk lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas pendidikan. Salah satu cara untuk menutup kesenjangan antara menyusutnya sumber daya keuangan dan aspirasi pendidikan warga adalah pengurangan guru dan tenaga lainnya yang bertanggung jawab atas generasi muda. Yang cukup menarik, ini tidak terjadi di Polandia dibandingkan dengan Jerman, dan ini mencerminkan perbedaan besar tentang bagaimana transformasi politik dan ekonomi setelah tahun 1990 ditangani.

Pertama, saat Jerman Timur dimasukkan ke Jerman Barat beserta lembaga-lembaga dan elitnya, Polandia mengikuti cara otonom dalam melakukan transformasi, yang melibatkan negosiasi tatanan kelembagaan baru tanpa cetak biru membimbing. Penjajaran dasar ini dihipotesiskan penyebab perbedaan mengenai aspirasi untuk ‘hidup baru’. Di Jerman, sebagai refleksi dari standar tinggi yang sudah ada di Barat, Timur ingin mencocokkan diri dengan keuangan dan sumber daya lainnya sehingga terjadi peningkatan cepat dalam aspirasi. Di Polandia, karena peningkatan yang lambat dari sumber daya yang harus disediakan dari dalam negeri, terjadi kenaikan aspirasi yang lambat pula. Dengan kata lain, dan mengacu Elder (Elder & Caspi, 1988), sebagai ketidaksesuaian antara aspirasi baru dan sumber daya keuangan yang harus diselesaikan, kota-kota di bekas Jerman Timur akan mengumpulkan utang yang lebih tinggi dibandingkan kota lain yang sebanding di Polandia.

Kedua, Sackmann juga menduga bahwa tindakan oleh pemerintah kota di Jerman menunjukkan tingkat inovasi pembangunan lembaga yang rendah. Di Jerman otonomi kota dan kepala sekolah tetap kecil, seperti yang biasa ada di Jerman Barat. Di Polandia, bagaimanapun, tanggung jawab dipindahkan ke pemerintah daerah, dan struktur sekolah diubah sehingga jumlah siswa per sekolah meningkat. Ini juga berarti bahwa, tidak seperti di Jerman, jumlah guru dipertahankan atau bahkan ditambah dan, khususnya, sekolah dan pendidikan menjadi kasus teladan untuk pembangunan lembaga otonom. Kedua jenis transformasi menuju masyarakat demokratis tersebut cukup fleksibel untuk menangani hal yang tidak terduga, misalnya penurunan tingkat kelahiran, namun terdapat perbedaan mengenai cara pertahanan institusional dan efek jangka panjangnya.

Melvin L. Kohn melalui artikel berjudul Class, Stratification, and Personality Under Condition of Apparent Social Stability and of Radical Social Change, menjelaskan  bahwa posisi yang lebih tinggi dalam stratifikasi sosial dan kelas sosial berhubungan dengan fleksibilitas intelektual yang lebih besar, rasa percaya diri dan rasa kesejahteraan. Hal ini dijelaskan oleh kompleksitas substantif pekerjaan dan kebebasan relatif dari pengawasan. Karyawan di posisi yang lebih tinggi dalam struktur sosial memiliki kondisi kerja yang lebih baik dalam hal kompleksitas yang tinggi dan pengawasan yang rendah, dan pengalaman ini mempengaruhi kepribadian.

Dalam bab ini, Kohn memimpin pembaca pada perjalanan ke berbagai populasi di berbagai negara di berbagai titik dalam sejarah. Di bekas sosialis Polandia, beberapa perbedaan ditemukan dalam sampel pekerja laki-laki jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, namun dengan satu pengecualian menarik. Bila di Amerika Serikat posisi yang rendah dalam hirarki sosial mengungkapkan tingkat kesusahan yang lebih tinggi, di Polandia hal itu terjadi pada manajer yang lebih senior. Hal ini dijelaskan oleh perbedaan antara kapitalis dan sistem sosialis. Setelah transformasi politik di Polandia menjadi jelas bahwa, terlepas dari model ekonomi dan politik, memang posisi dalam hierarki sosial memberikan dampak yang besar pada kepribadian. Sebuah studi lebih lanjut dilakukan pada negara transformasi lain yaitu Ukraina. Di sini pendekatan umum itu sekali lagi terbukti, meskipun kekuatan asosiasinya lebih lemah, mungkin karena saat itu situasi ekonomi pasar pertama kali didirikan. Bagi mereka yang percaya bahwa dampak perubahan tingkat makro secara cepat mempengaruhi orientasi dan perilaku individu, hasil sejauh ini agak mengecewakan pada kekuatan transformasi sosial. Bagaimanapun radikal sebuah perubahan terjadi, mereka tampaknya tidak mempengaruhi stratifikasi dasar masyarakat dan peran penataan mereka dalam pengaruh pengalaman kerja pada kemampuan individu, setidaknya tidak selama periode yang diteliti.

Tujuan terakhir dari perjalanan ini adalah pembahasan tentang perubahan yang mengarah ke pembentukan ekonomi pasar di Cina. Pada dasarnya ditemukan pola yang sama seperti yang terjadi dalam transformasi Polandia dan Ukraina terkait hubungan antara struktur sosial dan kepribadian. Namun, tidak ditemukan moderasi sejauh mana daerah perkotaan di China yang diteliti berbeda dalam hal privatisasi. Ini adalah masalah yang menjadi perhatian karena perbandingan serupa tidak pernah dilakukan di negara-negara lain yang mengalami transformasi, dilihat dari homogenitas pengalaman mereka. Yang cukup menarik, masalah juga muncul tentang peran mediasi dalam mendalilkan kompleksitas pekerjaan. Seperti di negara-negara lain, ini berkaitan dengan struktur sosial, tetapi tidak dengan kepribadian. Kohn membahas kondisi kehidupan lain yang mungkin menimpa lebih lanjut tentang kepribadian, misalnya pengalaman ketidakpastian dan tuntutan baru di bawah tekanan dari perubahan sosial, yang terkenal dari Hofacker dkk serta Silbereisen dkk (buku ini).

Xinyin Chen dan Hiuchang Chen menulis artikel dengan judul Children’s Socioemotional Functioning and Adjustment in the Changing Chinese Society.

Artikel ini mengupas China dan perubahan yang cepat dari ekonomi komando ke ekonomi pasar. Untuk berhasil dalam sistem baru tersebut dibutuhkan sikap dan perilaku, seperti memilih otonomi individu di atas kepentingan keluarga, yang bertentangan dengan nilai-nilai tradisional Cina yang dipertahankan di bawah sistem ekonomi dan politik masa lalu. Perubahan pada tingkat sistem ekonomi harus disejajarkan dengan perubahan tujuan dan praktik sosialisasi keluarga, seperti mengambil inisiatif untuk mencari peluang daripada menunggu dorongan atau persetujuan orang tua. Ketika membandingkan sampel anak-anak sekolah yang mewakili periode yang berbeda dalam proses reformasi ekonomi baru-baru ini di pusat-pusat perkotaan Cina, penulis memang bisa mengkonfirmasi bahwa antara tahun 1998 dan 2002 ada kecenderungan menetapkan premi yang lebih tinggi pada dukungan otonomi, dan kurangnya dukungan terhadap pemaksaan kekuasaan. Sikap ini diketahui dari penelitian Barat yang menciptakan jenis situasi yang memungkinkan individu untuk mencari peluang dan belajar bagaimana untuk mengambil inisiatif.

Penelitian tentang perubahan apresiasi tradisional Cina pada perilaku pemalu anak-anak sangat penting untuk buku ini. Berbeda dengan Barat, perilaku seperti itu dikaitkan dengan penyesuaian positif dalam hal penerimaan teman sebaya dan prestasi akademik di Cina. Sekali lagi, dengan menggunakan sampel yang mewakili periode yang berbeda selama reformasi ekonomi pasar, Chen dan rekan menemukan bahwa pada tahun 2002 perilaku pemalu berhubungan dengan penolakan oleh rekan-rekan dan suasana hati depresi, sedangkan pada tahun 1998 terjadi kombinasi, dan pada tahun 1990 hal itu persis sesuai tradisi Cina. Akan terlihat bahwa satu dekade atau lebih sudah cukup untuk membentuk perubahan yang agak radikal dalam aspek fundamental dari repertoar perilaku dan preferensi mengenai hubungan sosial anak-anak muda. Sayangnya penelitian sejauh ini tidak mendukung penilaian individu sejauh mana keluarga dan anak-anak memang dihadapkan dengan manifestasi dari reformasi ekonomi dalam hal insentif untuk mengubah tujuan dan perilaku hidup mereka. Namun demikian, dalam data berikutnya dari daerah pedesaan, yang masih hampir tidak terpengaruh oleh reformasi ekonomi, dapat dibandingkan dengan data dari anak-anak migran desa-kota. Secara keseluruhan, bab ini menunjukkan bahwa perubahan dalam tujuan utama sosialisasi dapat dicapai tidak hanya melewati beberapa dekade (lihat Kagitcibasi & Ataca, 2005), tetapi dalam satu dekade atau lebih pendek jika tekanan untuk perubahan tinggi dan seragam, dan jika berbagai lembaga, seperti sekolah dan keluarga, bertindak sejalan.

Rukmalie Jayakody, Jessica Heckert, dan Dang Nguyen Anh memberi kontribusi buku ini melalui artikel berjudul Social Change and Premarital Sexual Behavior and Attitude in Vietnaman.

Artikel ini mengacu ke Vietnam, negara dengan ‘kapitalisme dari bawah’ (King & Szelenyi, 2005) yang dari tahun 1990-an dan seterusnya telah mengalami reformasi mengejutkan menuju ekonomi pasar dan membuka diri ke dunia. Seperti dalam kasus Cina, pertanyaannya adalah apakah sikap dan perilaku juga berubah secara sebanding. Contoh yang dipilih, yaitu kegiatan seksual di luar nikah, merupakan bahan perdebatan publik yang menanyakan apakah juga ada peningkatan dari negara-negara Asia lainnya (yang telah lama memiliki ekonomi kapitalis). Jawaban singkatnya adalah, ‘tidak’ – angka kegiatan seksual pranikah secara umum masih rendah di semua negara-negara Asia, namun sangat tinggi bagi orang-orang yang tinggal di pusat-pusat perkotaan. Dapat dilihat bahwa terjadi tren kenaikan, meskipun ini dimulai jauh sebelum reformasi ekonomi tahun 1990-an.

Hasil ini menyoroti kemungkinan mekanisme tentang perubahan pada tingkat individu yang terkait dengan perubahan sosial, lebih secara umum. Salah satu potensial tentu saja adalah pertumbuhan ekonomi dan liberalisasi, termasuk isu-isu seperti pergeseran dari dominasi pertanian untuk industri jasa, pergerakan dari daerah pedesaan ke pusat-pusat kota, dan peningkatan pendapatan. Namun, ini mungkin hanya mencerminkan faktor pendukung. Akibatnya, penulis menggarisbawahi peran perubahan ideasional dalam pandangan dunia, pengetahuan tentang preferensi di dunia luar, dan perubahan tidak langsung dalam hal nilai-nilai. Peran penting dalam hal ini dimainkan oleh TV gaya Barat dan isinya yang mendukung orientasi kebebasan terhadap seksualitas. Studi lapangan yang memperkenalkan TV ke daerah-daerah suku terpencil Vietnam mengungkapkan daya tarik yang tinggi bagi golongan muda, terutama karena adanyarayuan dan perilaku intim orang dewasa lainnya.

Ingrid Schoon turut andil memberi kontribusi melalui artikel berjudul Social Change and Transition Experiences Among Young Adults in Britain.

Artikel ini mengabil fokus pada perubahan ekonomi tanpa transisi dan transformasi politik radikal, serta juga melakukan perbandingan antar berbagai periode sejarah. The Birth Cohort Inggris Studies mengacu pada total 20.000 orang yang lahir antara tahun 1958 dan 1970. Meskipun hanya sekitar satu dekade terpisah, anggota kedua kelompok mengalami kondisi yang sangat berbeda dari segi perkembangan psikososial. Ketika kelompok yang lebih tua mendekati transisi dari sekolah ke dunia kerja, masa pertumbuhan ekonomi berakhir, tetapi mereka telah menyelesaikan pendidikan penuh waktu mereka dalam waktu booming. Kohort muda, sebaliknya, lahir dan mencapai pendidikan selama periode resesi yang luar biasa antara tahun 1970 dan 1980. Mereka dipengaruhi oleh tingkat pengangguran yang tinggi dan manifestasi lain dari kehancuran ekonomi. Penulis menggunakan data yang representatif ini untuk menguji konsepsi perubahan menyeluruh dalam masa kehidupan dan asal-usulnya. Dengan ‘de-standardisasi’ penulis mengerti klaim bahwa peran perbedaan demografi tradisional, seperti kelas sosial atau jenis kelamin, kehilangan pengaruhnya dalam membedakan program dan kualitas karir dan pembentukan keluarga. ‘Individualisasi’ ditunjukkan dengan peran individu yang lebih tinggi dibandingkan dengan demografi, seperti kemampuan kognitif dan motivasi sekolah, ketika memutuskanjalur karir yang dipilih, dan bagaimana menggabungkan pekerjaan dan keluarga. Klaim mengenai de-standardisasi tidak menerima banyak dukungan. Meskipun ada isyarat bahwa status sosial orang tua dan pendidikan agak kurang relevan untuk usia tamat sekolah dari kelompok kohort kedua, memasukimasa pekerjaan penuh-waktu dan menjadi orang tua mengungkapkan diferensiasi sosial tradisional; hal yang sama diterapkan pada urutan karir kerja. Terkait individualisasi terlihat hasil yang sedikit berbeda. Sejauh lintasan karir yang bersangkutan, kekuatan relatif faktor latar belakang sosial dan aspek lembaga hampir sama antara kedua kohort, dan tidak ada individualisasi lebih tinggi pada kelompok yang lebih muda. Efek individualisasi yang kuat muncul, bagaimanapun, berkaitan dengan hubungan antara pekerjaan dan keluarga. Di sini ada kecenderungan yang jelas dimana jumlah lajang lebih banyak dibandingkan pasangan yang memiliki anak, yang menunjukkan prevalensi lebih tinggi dari hubungan intim sementara. Saat di antara peserta kohort kedua motivasi SMA dan kembali ke pendidikan penuh waktu tampaknya relevan, kelompok kohort pertama tidak dipengaruhi variabel ini.

Mengenai proses yang menerjemahkan perubahan kondisi ekonomi menjadi perubahan gaya hidup, data seperti tidak bisa melenceng jauh dariperkiraan. Sesuai Hofacker dkk (Bab 4 buku ini), ada satu penjelasan bahwa tumbuhnya ketidakpastian tentang nasib ekonomi seseorang menghasilkan upaya untuk mendapatkan kembali kontrol, dan salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan menunda pembangunan keluarga atau dengan membuatnya kurang permanen. Bagaimanapun, elemen pentingnya mungkin bukan kebebasan individu dalam pengambilan keputusan, melainkan ketidakcocokan yang tumbuh antara pengaturan kehidupan tradisional dan kebutuhan untuk beradaptasi dengan kendala pasar tenaga kerja, seperti peningkatan persyaratan kualifikasi kerja. Posisi ini tidak sejalan dengan keyakinan bahwa peningkatan peluang bagi pribadi menyebabkan perubahan gaya hidup.

Jacek Wasilewski menutup buku ini dengan artikel berjudul Political Elites as an Agent of Social Change.

Artikel terakhir  ini menggambarkan bagian dari pemikiran ilmiah tentang peran elit dalam transisi dan transformasi masyarakat, aspek yang tidak dibahas dalam bab-bab lain, dan dicontohkan oleh perubahan politik di Timur-Tengah dan Eropa, bahkan sebelum tahun 1990-an. Klaim penting penulis adalah bahwa dampak dari pengaruh elit selalu menghasilkan ketergantungan perubahan sosial, dan juga mengubah seluruh proses. Di beberapa masyarakat pasca-sosialis, transisi dari sistem yang lama ke sistem yang baru ini diselenggarakan oleh elit tua yang telah waspada terhadap kelemahan doktrin komunis, dan menyerah pada pemimpin muda, kurang ortodoks dan lebih teknokratis – yaitu, massa yang pada dasarnya tidak memiliki pengaruh. Kasus Polandia berbeda sebagai segmen yang lebih terbuka dari elit komunis tua dihadapkan dengan gerakan massa untuk nilai-nilai universal manusia (Solidarnosc) dan para pemimpinnya. Tidak ada sisi yang bisa menggulingkan sisi lain, dan karena itu negosiasi ‘kesepakatan elit’, yang melibatkan semua pemain utama, memiliki kemungkinan tinggi dalam menciptakan rezim demokratis.

Selama proses transformasi lama dan mungkin belum selesai, elit memainkan tiga peran yang berbeda. ‘Elit terobosan (breakthrough elite)’ memberikan visi, mengimbau emosi, memberikan jawaban pertama atas identitas baru, menyebarkan kesiapan untuk perubahan, dan memperoleh legitimasi moral. Namun, hal itu belum melibatkan pembuatan kebijakan yang tepat, dan agak lebih berupa politik simbolis. ‘Elit pembangunan-lembaga (institution-building elite)’ kemudian mengganti politik simbolis dengan kebijakan, aturan, dan institusi konkret. Tentu mereka dihadapkan dengan konflik kepentingan, dan legitimasi mereka terletak pada keberhasilan dalam membangun sistem demokrasi, bukan pada superioritas moral. Akhirnya, ‘elit konsolidasi (consolidation elite)’ ditugaskan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dan memberikan stabilitas sebagai latar belakang untuk pembentukan kebiasaan demokratis.

Dalam penyesuaian elit selama transisi dan transformasi, reformasi berpikiran elit lama menjadi bagian dari sistem yang baru. Secara khusus, dan terkait fase pembangunan lembaga dan konsolidasi, mereka mampu menerjemahkan modal politik masa lalu menjadi modal ekonomi masa depan, tanpa mengorbankan demokrasi baru. Situasi ini agak berbeda pada bekas negara-negara sosialis di mana faksi elit tua memulai transisi tanpa oposisi atau golongan lain dari masyarakat.

Gagasan Perubahan Sosial Dalam Buku Social Change and Human Development

Dari struktur buku tersebut, gagasan utamanya adalah pengaruh perubahan sosial yang cepat terhadap adaptasi dan perkembangan manusia. Fokus utama yang dibahas adalah perpaduan antara konsekuensi transisi politik yang terjadi setelah kejatuhan sosialisme dan krisis yang dikaitkan dengan efek negatif globalisasi.

Perpaduan tersebut menyebabkan efek yang luas. Hal tersebut mempengaruhi sistem ideologi dan kepercayaan, institusi sosial pusat (mulai dari representasi politik hingga aktivitas ekonomi dan kesejahteraan), struktur kehidupan masyarakat, serta kondisi yang dialami keluarga. Dalam bab ini, dipertanyakan bagaimana hubungan perubahan-perubahan ini terhadap penyesuaian dan kesejahteraan yang dialami masyarakat. Hal yang menarik dan berbeda adalah  pada bagaimana masyarakat menghadapi perubahan dalam konteks ekonomi dan sosial, dan aktivitas apa yang dilakukan untuk meningkatkan situasi mereka, yang sering ditandai dengan menurunnya nilai sumberdaya yang telah terkumpul sebelum terjadinya krisis. Contoh klasik penelitian mengenai dampak terhadap individu akibat perubahan tingkat makro adalah penelitian yang dilakukan oleh Glen Elder (1974) tentang Great Depression (Depresi Besar) yang terjadi pada akhir tahun 1920-an. Krisis finansial skala dunia yang terjadi pada masa itu mengakibatkan kesulitan ekonomi pada banyak keluarga, terutama karena banyaknya pengangguran, yang secara tidak langsung mendorong upaya anggota keluarga untuk untuk menutup kesenjangan antara ketersediaan sumber daya dan kebutuhan. Penyesuaian ekonomi yang harus dilakukan oleh keluarga, salah satunya dengan cara menurunkan pengeluaran untuk kebutuhan pokok, menyebabkan tekanan psikologis dan bahkan fisik antar anggota keluarga sehingga fungsi sosialisasi dalam keluarga menjadi rusak dan berdampak pada kondisi psikologis anak. Penelitian Elder juga memberikan cetak biru bagi banyak peneliti sosial dan perilaku yang tertarik pada perubahan sosial yang lebih baru terkait berakhirnya sistem dunia bipolar yang sudah ada sejak Perang Dunia II (Silbereisen & Tomasik, 2008).

Perubahan Sosial dan Adaptasi Individu

Hubungan antara perubahan sosial pada tingkat makro dan adaptasi individu akan digambarkan dalam serangkaian langkah-langkah. Proses ini memberikan landasan untuk pemilihan kontribusi yang ada dalam buku ini.

Tipe-tipe Perubahan Sosial

Buku ini menyatukan penelitian-penelitian tentang konsekuensi jangka panjang dari suatu jenis perubahan sosial. Hal ini dihubungkan dengan perpecahan bekas negara-negara sosialis di Timur-Tengah Eropa di akhir 1980-an, yang ditandai dengan pembukaan perbatasan Timur-Barat di Hungaria dan pembongkaran Tembok Berlin pada tahun 1989. Perubahan sosial yang diteliti juga mempertimbangkan konsekuensi pembubaran Uni Soviet dan evolusi negara-negara pecahannya, baik dengan perubahan radikal seperti yang terlihat di Hungaria dan Jerman, maupun dengan reformasi politik menuju demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas seperti di Ukraina. Selain itu, liberalisasi ekonomi dan pembukaannegara-negara seperti Vietnam dan China terhadap pasar dunia, yang terjadi pada waktu yang kurang lebih sama, termasuk salah satu contoh perubahan sosial besar-besaran akibat perubahan dalam sistem politik.

Faktor umum dari perubahan sosial yang dibahas dalam buku ini adalah transisi radikal prinsip-prinsip ideologis dasar menuju nilai-nilai baru, seperti kebebasan berekspresi dan pergerakan tanpa batas, yang membuat sistem politik lama dan lembaga-lembaganya menjadi usang. Seperti yang biasanya terjadi dari sebuah transisi (misalnya, jatuhnya Tembok Berlin dan konsekuensi jangka pendek dari runtuhnya sebuah kekuasaan), mereka diikuti dengan periode transformasi yang lebih panjang yang mencakup mendirikan kembali lembaga-lembaga yang sejalan dengan sistem politik yang baru, misalnya lembaga ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan. Seperti dalam kasus Jerman, harapan tinggi yang muncul dari periode awal transformasi dipersulit oleh efek dari jenis perubahan sosial lain, yang biasanya disebut dengan ‘globalisasi,’ yang digembar-gemborkan dengan perubahan teknologi yang cepat, akses informasi di seluruh dunia, serta pasar global untuk barang dan tenaga kerja.

Meskipun sekilas nilai-nilai globalisasi tampaknya cocok dengan perubahan ideologis menuju sistem politik dan ekonomi model liberal di negara-negara transisi, pada dasarnya globalisasi mengganggu upaya untuk merestrukturisasi industri-industri yang sebelumnya milik negara dan dikelola secara terpusat, sehingga menyebabkan peningkatan pengangguran dalam jumlah besar dan kesenjangan diantara strata sosial. Biasanya, perpaduan antara transformasi dan ketegangan yang tumbuh akibat globalisasi mengakibatkan apa yang disebut ‘post-transformasi’ – yang menunjukkan bahwa pembentukan landasan politik dan ekonomi yang kuat perlu dikoreksi lagi karena konsekuensi yang tidak diinginkan terjadi diluar kendali. Salah satu contoh adalah utang dalam jumlah besar oleh kota-kota di Jerman yang terakumulasi dalam rangka memenuhi aspirasi akibat transisi politik, yang kemudian membuat mereka sangat rentan ketika pendapatan dari pajak perusahaan menurun akibat ketidakpastian ekonomi (Sackmann, Bab 7 buku ini).

Meskipun gambaran di atas tampaknya berlaku untuk semua contoh negara dan transisi yang termasuk dalam buku ini, setelah pembahasan lebih dalam terdapat perbedaan dalam bagaimana transisi dan transformasi politik dilakukan, dan bagaimana transformasi sistem ekonomi ditangani. Keduanya memiliki penurunan dari tingkat makro melalui pembangunan lembaga-lembaga menuju tingkat adaptasi individu. Berbeda dengan negara-negara lain disebutkan, Jerman tampaknya merupakan kasus khusus jika dikaitkan dengan jenis proses transformasi politik yang dilakukan. Setelah jatuhnya Tembok Berlin dan pembentukan pemerintahan transisi di Timur (bekas Republik Demokratik Jerman – GDR), penyatuan negara dan transformasi masyarakat di Timur dianggap selesai hanya dengan memanfaatkanlembaga dan elit fungsional Jerman Barat (Zapf, 1996). ‘Model penggabungan’ (penyatuan Vietnam menunjukkan beberapa kemiripan) ini berbeda dari ‘Model otonomi’ (lihat Wasilewski, Bab 12 buku ini), dimana transisi dicapai baik oleh kesepakatan antarkelompok oposisi dalam negeri, seperti dalam kasus Polandia, atau oleh reformasi dari atas ke bawah yang mempertahankan struktur lama dan mentransformasi pokok-pokok politik yang ada dalam sistem lama kedalam pokok-pokok ekonomi dibawah sistem yang baru, seperti dalam kasus Ukraina.

Tipologi lain oleh King dan Szelenyi (2005) berfokus pada peran golongan elit dalam pembentukan sistem ekonomi baru. Mereka membedakan antara berbagai jenis pengaruh. China dan Vietnam adalah contoh dari ‘kapitalisme dari bawah’ di mana, sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan politik yang penting, sistem pasar dimulai dengan usaha kecil dan berkembang seiring dengan perekonomian negara yang stabil: keduanya dikendalikan oleh sistem politik yang mapan. Sebaliknya, ‘kapitalisme dari atas’, yang dilakukan oleh Rusia dan Ukraina, adalah di mana ekonomi yang dikelola negara berubah menjadi sistem yang diprivatisasi, namun karena kurangnya kontrol demokratis, menghasilkan konsentrasi modal antara anggota jaringan politik yang berakar sejak masa lalu. Akhirnya, ‘kapitalisme dari luar’ mengacu pada situasi, sebagaimana dicontohkan oleh Polandia, di mana konsensus elit dan integrasi politik ke Eropa mengarah pada pembentukan sistem ekonomi terbuka dengan tingginya tingkat investasi asing. Dalam hal ini, Jerman mungkin lebih dekat ke Polandia dibandingkan negara-negara lain yang disebutkan.

Singkatnya, negara-negara yang tercakup dalam buku ini, beserta jenis perubahan sosial terjadi, mengalami kekosongan politik yang diikuti oleh transformasi politik dan ekonomi dalam jangka waktu yang lama. Dalam hal sistem ekonomi, mereka berbeda-beda dalam ketergantungannya pada sistem politik lama dan terkait bagaimana reformasi ekonomi yang ditimbulkan. Seperti, menurut Elder (2003), perubahan sosial harus dilihat berdasarkan waktu dan tempat, perbedaan dan kesamaan yang ada harus dipertimbangkan ketika menyelidiki konsekuensi untuk adaptasi individu.

Perbandingan Antar Negara Beserta Contohnya

Buku ini mencakup bab yang membahas negara-negara yang mengalami transformasi plus globalisasi, khususnya perbandingan antara mereka untuk tujuan tertentu. Dua pendekatan dapat dibedakan dalam membahas heterogenitas struktural perubahan yang baru saja dijelaskan. Pertama, seseorang dapat memanfaatkan variasi tersebut untuk mempelajari peran unsur tertentu dalam proses perubahan dengan memanfaatkan variasi sistematis diantara negara-negara yang dipilih, sebagaimana dicontohkan oleh proyek Globalife tentang perbedaan dan kesamaan reaksi terhadap ketidakpastian struktural akibat globalisasi (Hofacker, Buchholz, & Blossfeld, Bab 4 buku ini). Unsur yang dimaksud adalah peran peraturan pelindung untuk kesejahteraan individu yang berbeda-beda antar negara.

Kedua, seseorang dapat menggunakan variasi untuk mencari tahu tentang generalisasi model yang telah ada dengan sejumlah kondisi yang belum dianalisis sebelumnya atau yang tidak pernah ada sebelumnya. contohnya, dalam penelitian yang dilakukan oleh Kohn dan rekan-rekannya (Kohn, Bab 8 buku ini). Mereka menemukan bahwa hubungan antara kompleksitas substantif kerja dan fleksibilitas intelektual diterapkan tidak hanya untuk pekerja industri di Amerika Serikat tetapi juga untuk orang-orang di Polandia, yang masih sosialis pada saat penelitian. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa tingkat stres yang lebih tinggi dialami pekerja pada sampel di Amerika dan dialami manajer pada sampel di Polandia, ini mungkin disebabkan pengawasan yang dan kontrol yang ketat dari atasan mereka. Kondisi politik dan ekonomi di Polandia menantang penafsiran ini – apakah saat ini Polandia yang ‘baru’ menunjukkan hubungan antara kompleksitas kerja dan fleksibilitas intelektual yang mirip dengan Amerika Serikat? Jawabannya adalah, ‘ya’. Ini membentuk titik awal untuk serangkaian studi di Ukraina, sebuah contoh kapitalisme dari atas, dan di China, yang merupakan contoh kapitalisme dari bawah. Sekali lagi jawabannya adalah, ‘ya’, mereka memiliki hubungan yang mirip dengan Amerika Serikat,  demikian menunjukkan bahwa hubungan antara pengalaman kerja tertentu dan fleksibilitas intelektual yang kuat di berbagai kondisi sosial dan ekonomi, sejauh mereka menyediakan variasi pengalaman kerja yang cukup dan menawarkan kesempatan untuk memilih atau dipilih untuk pekerjaan berdasarkan kemampuan intelektual; jelas perubahan pada tingkat politik dan ekonomi tidak berpengaruh terhadap keteraturan ini.

Di masa lalu, jenis-jenis perubahan sosial yang terkandung dalam buku ini telah sering dipelajari dengan pendekatan serupa – membandingkan sampel dari berbagai negara yang berbeda dalam kualitas atau tingkat perubahan yang dicapai, atau sampel dari negara yang sama yang dikumpulkan dari periode-periode yang berbeda dalam proses transisi dan transformasi. Faktanya, banyak penyelidikan tentang unifikasi Jerman mengikuti model ini, dengan menggabungkan perbandingan Jerman Timur dan Jerman Barat dan perbandingan menurut waktu selama periode perubahan (Silbereisen, Pinquart, & Tomasik, Bab 5 buku ini, Tomasik & Silbereisen 2009). Mengingat ketegangan yang berkaitan dengan pecahnya lembaga sosial dan di pasar tenaga kerja, hipotesis yang dipegang secara luas adalah bahwa orang-orang di Timur akan menunjukkan kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan dengan orang-orang di Barat. Hasilnya samar-samar, dan butuh beberapa saat untuk memperjelas bahwa asumsi tingkat ketegangan yang terjadi secara homogen itu terlalu sederhana (Pinquart & Silbereisen, 2004). Pengamatan ini adalah insentif untuk menilai perbedaan paparan manifestasi dari tantangan sosial, dan berpikir tentang mekanisme psikologis yang menghubungkan ketegangan yang dialami dengan penyesuaian yang dicapai.

Sebuah Model Konseptual

Buku ini disusun dengan model konseptual mengenai hubungan antara perubahan sosial dan adaptasi individu. Buku ini menjelaskan aspek-aspek mana dalam perubahan pada tingkat makro yang merupakan titik awal untuk aksi dan reaksi individu, dan dengan demikian menjelaskan titik bahwa perbandingan pada tingkat yang lebih komples (seperti negara-negara atau periode) dengan sengaja mengesampingkan variasi besar dalam dampak psikososial.

Apabila menganggap model Elder dengan lebih serius – seperti adanya variasi pada tingkat kesulitan selama Depresi Besar, begitu pula dengan ketegangan yang berkaitan dengan perubahan politik dan sosial dibahas dalam buku ini. Tingkat ketegangan tergantung pada kondisi, misalnya tahap kehidupan individu atau tingkat pendidikan, atau sebagai fungsi dari jenis perubahan tertentu pada tingkat makro. Proses ini menjadi jelas ketika studi generasi baru dimulai dari model respon tantangan sosiologis yang disodorkan oleh Best (2007) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Rosa dan Schmidt (2007) dan Schmidt (Bab 1 buku ini). Prinsip dasar dari model ini adalah bahwa perubahan dalam basis ideologi dan lembaga-lembaga sosial bawahan dalam masyarakat harus dipahami sebagai tantangan yang mengarah ke respon, yang pada gilirannya akan menjadi asal dari tantangan baru. Kualitas dan arah respon dapat bervariasi tergantung pada keadaan, dan dapat berupa adaptasi, resistensi, pengunduran diri atau inovasi. Dengan latar belakang ini, model linear modernisasi yang kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan kasus transisi dan jalannya transformasi di Jerman (Zapf, 1996) dianggap terlalu sederhana, meskipun penjelasannyayang mudah dimengerti  (sistem lama yang tidak memiliki perencanaan ‘modern’ diperlukan untuk ekonomi bawah tekanan globalisasi) cukup menarik.

Gagasan mengenai tantangan dan respon mengingatkan psikolog-psikolog yang tertarik pada perubahan sosial-politik dari berbagai pendekatan yang membedakan proses adaptasi sebagai mekanisme perantara antara tantangan dan hasil– model Lazarus (Lazarus & Folkman, 1984) merupakan contoh yang paling menonjol. Jadi tugas penelitian ini untuk menentukan dan menilai manifestasi dari tantangan pada tingkat individu. Tantangan ini disebut sebagai ‘tuntutan’ (demand) (Tomasik & Silbereisen, 2009).   individu berurusan dengan ‘tuntutan’ tersebut dengan dua cara: melalui keterlibatan (engagement), yaitu upaya aktif untuk memecahkan tuntutan dengan tindakan langsung atau dengan mencari dukungan dalam menghadapi masalah, atau sebagai pemisahan diri (disengagement), yaitu berhenti berusaha untuk mencari potensi usaha di masa depan. perbedaan ini  bisa dilihat dalam  model kontrol primer dan sekunder oleh Heckhausen (Bab 6 buku ini). Pendekatan lain dalam mempelajari konsekuensi individu yang mengalami transisi dari komunisme sayangnya belum fokus pada upaya pertahanan diri, melainkan berpusat pada kerugian di bidang ekonomi, manusia, dan sumber daya sosial (Shteyn, Schumm, Vodopianova, Hobfoll, & Lilly, 2003). Menurut Hobfoll (1989, 2001) kerugian dari sumber daya tersebut lebih relevan untuk kesehatan mental daripada keuntungan dari sumber daya. Hal ini dapat menjelaskan mengapa keuntungan dalam hal kebebasan individu tidak dapat menandingi efek negatif dari hilangnya sumber daya, seperti ketidakpastian mengenai karir pekerjaan seseorang.

Tuntutan (demand) merupakan ketidaksesuaian antara klaim dan sumber daya yang disebabkan oleh tantangan pada tingkat makro, dan dipahami sebagai perbedaan antara basis ideologis masyarakat dan realitas lembaga-lembaga sosial. Contoh dari hal ini adalah orientasi humanistik menyatakan negara-negara sosialis yang berdiri yang sangat berlawanan dengan realitas penindasan sistematis posisi politik nonkonformis. Tergantung pada jenis dan tahap transisi dan transformasi, tantangan yang berbeda mungkin dominan, seperti pembubaran keadilan dan kesejahteraan lembaga, munculnya sistem dan kualifikasi baru dalam pendidikan, atau perubahan di pasar kerja karena globalisasi. Diantara tantangan-tantangan pada tingkat makro dan konteks mikro, individu merupakan ‘filter’ yang dapat mengurangi atau menghilangkan tantangan tersebut (Hofacker et al., Bab 4 buku ini). Bahkan, Elder sudah menunjukkan bahwa tahapan kehidupan individu merupakan filter tersebut – ketika Depresi Besar melanda, akibat sosialisasi mereka di masa yang stabil, remaja dapat menghadapinya dengan lebih baik daripada mereka yang berhadapan dengan tantangan di masa kecil (Elder 1974). Contoh filter lain adalah ‘rezim kesejahteraan’ (Esping-Anderson, 1990) yang mencerminkan pemahaman masyarakat tentang risiko apa yang harus ditanggung individu, dan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara dan masyarakat, seperti siapa yang memenuhi syarat untuk perlindungan terhadap redundansi, atau siapa yang memenuhi syarat untuk tunjangan pengangguran. Rezim kesejahteraan tersebut berbeda di seluruh Eropa, seperti halnya pemahaman masyarakat terhadap keadilan yang terkait dengan alokasi tanggung jawab (Hofacker et al., Bab 4 buku ini).

Tindakan (action) diperlukan untuk menemukan keseimbangan antara klaim baru yang terlibat dalam tuntutan dan tata cara kebiasaan hidup dan berperilaku. Contoh tuntutan tersebut dalam domainpekerjaan selama periode transformasi di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya,adalah tumbuhnya ketidakpastian mengenai keamanan kerja, persyaratan kualifikasi yang semakin menuntut, dan kekhawatiran tentang kecukupan dana pensiun. Ketidakpastian dalam domain keluarga mengacu pada kekhawatiran seperti ketidakstabilan dalam hubungan, ambiguitas tentang waktu yang tepat untuk membangun keluarga, dan anggapan generasi tua tentang perkembangan seseorang. Akhirnya, terdapat ketidakpastian mengenai kehidupan publik, seperti meningkatnya kompleksitas orientasi budaya karena imigrasi atau ancaman oleh ekstremisme.

Menurut bagan, tindakan yang berpotensi mengubah tata cara kebiasaan hidup dan berperilaku dipahami sebagai pola tertentu berbagai bentuk keterlibatan (engagement) dan pelepasan (disengagement) yang juga dipengaruhi oleh beberapa macam sumber daya, seperti ekonomi, sosial, dan manusia. Beberapa sumber daya biasanya menjadi usang selama masa transisi dan transformasi politik dan ekonomi, sedangkan sumber daya lain bisa saja  habis karena upaya untuk menyelesaikan tuntutan. Model ini sengaja tidak spesifik berkaitan dengan hasil psikososial tertentu. Kesehatan dan kepuasan hidup, bagaimanapun,merupakan hal yang sangat penting, karena memiliki peran universal dalam meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap tantangan dan memungkinkan individu untuk mengambil tindakan yang inovatif dan konstruktif (Diener, 2000). Contoh ini juga menunjukkan keadaan sebaliknya pada bagan. Serupa dengan tingkat makro, di mana respon tidak hanya menyelesaikan tantangan tetapi sering juga menghasilkan tantangan baru, pada tingkat individu, hasil psikososial akibat menghadapi tuntutan pada akhirnya dapat mengubah tuntutan menjadi lebih baik atau lebih buruk. Hal ini kemudian dapat menyebabkan siklus adaptif baru, atau bahkan berakhir dengan tindakan kolektif yang akhirnya mengubah tantangan pada tingkat makro. Salah satu bab (Macmillan & Baiocchi, Bab 3 buku ini) membahas secara eksplisit terlebih dahulu tentang potensial perubahan sosial, daripada menjadikan perubahan sosial sebagai input untuk adaptasi individu, seperti halnya standar dalam buku ini.

Dampak Psikososial

Bab-bab dari buku ini juga menyajikan dampak yang luas, sebagian terkait dengan aktor institusional, seperti kota-kota dipelajari oleh Sackmann (Bab 7 buku ini), namun lebih banyak kasus lain menyangkut perilaku dan adaptasi individu. Beberapa bab lebih fokus pada domain pendidikan, pekerjaan dan relawan, dan keluarga, dan khususnya tentang perbedaan dan perubahan terkait transisi antar domain-domain ini (Kohn, Bab 8 buku ini, Hofacker et al, Bab 4 buku ini; Heckhausen, Bab 6 buku ini, Schoon, Bab 11 buku ini;. Silbereisen et al, Bab 5 buku ini). Penekanan ini tidak mengherankan mengingat banyaknya ketidakpastian tentang keputusan hidup individu dan peran besar oleh karasteristik modernitas institusi selama periode transformasi politik dan ekonomi ini (Brandtstädter, Bab 2 buku ini). Selanjutnya, terdapat bab yang berkonsentrasi pada kemampuan dan orientasi pribadi, seperti fleksibilitas intelektual (Kohn, Bab 8 buku ini) dan gaya hidup pribadi (Macmillan & Baiocchi, Bab 3 buku ini). Akhirnya, ada satu set bab yang membahas terutama perbedaan dan perubahan pada fungsi sosial-emosional (Chen & Chen, Bab 9 buku ini;. Jayakody et al, Bab 10 buku ini) dan kesejahteraan (Silbereisen et al, Bab 5 buku ini). Hasil penelitian-penelitian yang dibahas dalam buku ini mewakili berbagai konsekuensi perubahan sosial pada siklus kehidupan organisasi (bidang penelitian sosiologi); untuk fungsi psikososial dalam hal kemampuan kognitif, orientasi tindakan dan hubungan dekat (bidang penelitian psikologi); dan akhirnya untuk kesehatan mental sebagai indeks keseluruhan penyesuaian yang dilakukan (dari segi semua disiplin ilmu lainnya yang terlibat, yaitu, antropologi, demografi, dan filsafat politik). Rentang usia dipelajari dalam bab-bab keseluruhan meliputi masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan juga lansia, dengan penekanan pada dewasa.

Penutup

Sebuah kesimpulan penting yang dapat diambil dari bukti-bukti yang disajikan dalam buku ini adalah perlunya pendekatan interdisipliner. Perubahan sosial yang dibahas di sini merupakan penggabungan transformasi sosial setelah transisi bencana, dengan ketegangan yang berasal dari globalisasi kegiatan ekonomi. Hal ini juga dipengaruhi oleh pergeseran demografi yang sebagian mendahului transisi, seperti penuaan populasi, merupakan bagian  reaksi masyarakat terhadap ketidakpastian, misalnya penurunan tingkat kelahiran. Tanpa pemahaman tentang jenis tertentu dari transisi dan transformasi, seperti penjajaran antara penggabungan dan modus otonomi transformasi politik dan ekonomi, kesamaan dalam membangun institusi sosial baru akan sulit untuk dipahami dan pengaruh mereka terhadap perilaku individu akan diabaikan. Seseorang bahkan dapat mengklaim bahwa perubahan institusi dapat mendorong adaptasi individu.

Sebagai contoh, perubahan sistem sekolah di Jerman Timur (dulunya GDR) diikuti oleh perubahan yang relatif cepat waktu sekolah sesuai dengan di Barat, sedangkan waktu keterlibatan romantis tidak berubah, di terlepas dari peluang rekreasi baru (Silbereisen, Reitzle, & Juang, 2002). Hanya pandangan interdisipliner yang bisa melihat hubungan yang kompleks seperti itu.

Terlepas dari perubahan radikal yang nyata di seluruh lapisan masyarakat, kontinuitas mungkin lebih menonjol dari yang diharapkan, dibandingkan diskontinuitas. Sebuah studi lintas-nasional tentang hubungan antara pengalaman kerja dan fleksibilitas intelektual mengungkapkan, hubungan antara stratifikasi sosial dan kompleksitas pekerjaan tetap pada dasarnya ada, dan dengan demikian perubahan sosial yang dipelajari dalam buku ini mengungkapkan lebih banyak kontinuitas dalam wacana publik daripada yang diharapkan. Penelitian lain pada negara-negara bekas Uni Soviet menunjukkan bahwa unsur konservatif ini dalam perubahan sosial mungkin tidak berlaku untuk fase awal transisi, yang biasanya ditandai dengan gejolak. Seperti yang dilaporkan Titma dan Tuma (2005), hal ini berlaku hanya setelah konsolidasi sistem politik baru yang mendukung pendidikan berhasil diterapkan, sedangkan pada masa transisi awal, hal tersebut telah kehilangan nilai relatif mereka dibandingkan denganatribut kepribadian seperti keberhasilan pribadi.

Perubahan sosial dari jenis yang dipelajari dalam buku ini tidak mempengaruhi individu secara langsung. Sebaliknya, apa yang mencapai seseorang sebagai tuntutan baru sebenarnya telah mengalami berbagai transformasi melalui pengaruh kondisi lain. Salah satunya adalah filter, seperti rezim kesejahteraan, yang melindungi beberapa golongan dengan mengorbankan orang lain dan mengikuti logika yang berakar pada kepercayaan dari budaya masing-masing. Yang cukup menarik, rezim ini juga tampaknya agak stabil meskipun terjadi perubahan besar di sekitar mereka, dan pengaruh mereka tampaknya lebih besar dari globalisasi dan transformasi.

Tuntutan berakar dari perubahan sosial, meskipun bukan sebagai penyebab proksimal. Mereka mewakili ketegangan (atau peluang) yang memerlukan tindakan untuk bisa menemukan keseimbangan baru antara klaim dan sumber daya. Di luar ‘kapital’ biasa, seperti dukungan sosial dan kemampuan kognitif, jenis peraturan ‘akomodatif’ tampaknya menjadi penting sebagai sumber daya disposisional. Serupa dengan tantangan sosial yang disaring melalui rezim kelembagaan, pada tingkat individu konteks ekologis berperan. Tampaknya beban tuntutan terkait pekerjaan dan keluarga membuat orang memiliki kerentanan berbeda terhadap penurunan kesehatan, tergantung pada tingkat kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan sosial mereka (Silbereisen et al., Bab 5 buku ini). Jika banyak orang terkena dampak bahaya yang sama, individ.u tampaknya melihat nasib mereka sendiri dalam kaitannya dengan orang lain yang juga terkena dampak, sehingga efek negatif dari bahaya dapat berkurang. Senada dengan hal tersebut, Hofacker dkk (Bab 4 buku ini) mengacu pada ‘ketidakpastian relatif’ sebagai ketegangan yang sebenarnya, dengan melihatbahwa ketidakpastian yang dialami relatif terhadap apa yang diharapkan dalam suatu negara atau budaya. Juga ada kemungkinan bahwa penyebab masalah seseorang, baik kegagalan sendiri atau kegagalan sistemik, penting untuk mencegah tantangan di tingkat makro. Ekologi itu sendiri, tentu saja, dipengaruhi oleh transformasi sosial. Dengan demikian, suatu lingkungan atau seluruh daerah akan kehabisan sumber daya yang diperlukan untuk melawan tuntutan baru. Dalam studi yang dilakukan oleh Silbereisen dkk (Bab 5 buku ini) efek positif dari keterlibatan menghadapi tantangan lebih kuat di daerah-daerah yang makmur.

Bab-bab buku ini menunjukkan bahwa jenis umum penelitian tentang transformasi sosial masih membutuhkan koreksi. Ketika membandingkan antar negara yang berbeda tingkat transformasinya, atau dalam negara yang sedang berada di periode perubahan sosial, jenis tantangan jelas bervariasi, tetapi belum jelas apakah variasi ini setara dalam tuntutan individu maupun proses mereka dalam menghadapi dampak psikososial. Dengan sedikit pengecualian, bahkan penelitian di bidang psikologis tentang negara-negara transformasi masih belum bisa menerjemahan tantangan untuk penyesuaian individu. Mengingat bahwa cetak biru untuk penelitian rumit tersebut dilakukan di tahun 1970-an (Elder, 1974), hal ini mengejutkan. Tetapi perhatikan bahwa bahkan serial penelitian menakjubkan oleh Kohn (Bab 8 buku ini) tentang kelangsungan peran stratifikasi sosial antar negara dan transformasinya akhirnya dihadapkan dengan spekulasi tentang bagaimana orang mengatasi peluang ekonomi baru di Cina. Apakah perbedaan ketidakpastian dan tuntutan yang dialami benar-benar berperan, meskipun terdapat perbedaan dalam tingkat privatisasi daerah terhadap paparan perubahan ekonomi?

Pengamatan lain saat membaca bab di buku ini menyangkut skala waktu perubahan dipelajari. Ketika penyatuan Jerman terjadi, politisi beranggapan transformasi akan selesai pada semua tingkatan dalam waktu satu dekade atau kurang, dari tingkat lembaga hingga individu. Realitas mengajarkan pelajaran yang berbeda, bukan hanya karena ketegangan dari globalisasi dan efek samping yang tidak diinginkan seperti penurunan tingkat kelahiran, memberikan tantangan dari transformasi. ‘Sintaks’ transformasi sebenarnya tidak memiliki akhir yang pasti – dengan efek negatif yang timbul setelahnya yang biasanya disebut tantangan urutan kedua (Best, 2007), dan hal ini membutuhkan respon baru. Bertahun-tahun yang lalu, mengacu pada ‘migrasi’ lembaga dari Jerman Barat ke Timur, kita memiliki wawasan dari penelitian tentang akulturasi antara imigran dalam satu skala waktu (Silbereisen, 2000). Meskipun dibutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru yang ditentukan oleh pragmatik hidup, seperti penyesuaian jadwal untuk kepentingan kerja pertama, diperlukan waktu bertahun-tahun, atau bahkan beberapa generasi, untuk mengubah nilai-nilai dasar dan penetrasi penuhnya ke dalam lapisan masyarakat untuk adaptasi manusia dan pembangunan. Dilihat dari latar belakang ini, hasil dengan Chen dan Chen (Bab 9 buku ini) tentang adaptasi cepat gaya interpersonal menunjukkan hasil yang menakjubkan. Mungkin itu berarti bahwa ada insentif untuk adaptasi yang kuat, tetapi tetap merupakan pertanyaan terbuka apakah perubahan perilaku bergerak secepat realita sekolah dan prestasi.

Idealnya penelitian masa depan akan memerlukan kedua arah – dari perubahan pada tingkat makro menuju adaptasi individu, dan dari sana menuju perubahan baru pada tingkat makro. Keadaan apa yang mendorong orang untuk bertindak kolektif sebenarnya sudah diketahui, seperti persepsi kerugian untuk kelompok sendiri, dan kelemahan lawan (Wright, 2002), dan fleksibilitas yang melekat dari beberapa lembaga juga dapat berkontribusi (Macmillan & Baiocchi, Bab 3 buku ini). Namun, penelitian yang menggabungkan kedua cabang perubahan sosial sebagai sebab dan akibat, jelas membutuhkan upaya kolaboratif baru dan desain penelitian interdisipliner.***

______________________________

Silbereisen, Rainer K and Xinnyin Chen (ed). Social Change and Human Development. London: Sage Publications, 2010.

______________________________

Direview oleh Farida Nurul Rahmawati (Universitas Trunojoyo), dengan beberapa penyuntingan oleh WK.

 

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *