Perubahan Sosial: Dampak Teknologi Informasi Terhadap Modal Sosial

Posted on

social-capital-internet-200x135 Perubahan Sosial: Dampak Teknologi Informasi Terhadap Modal SosialSebenarnya teknologi informasi itu membangun modal sosial ataukah menghancurkan modal sosial? Pertama, internet akan sangat efisien agar orang menjadi lebih produktif dan menghindari masalah transportasi yang ribet ketika menyelesaikan pekerjaan online yang berhubungan dengan perbankan, belanja, riset perpustakaan, bersosialisasi online. Hasilnya (berkurangnya stres, lebih banyak waktu, kontak online baru) akan membuat individu lebih terpenuhi dan membangun modal sosial bagi masyarakat secara keseluruhan. Kedua, internet sebagai katalis utama dalam perubahan sosial, yakni menyebabkan isolasi dan menarik orang untuk menjauh dari keterlibatan dalam komunitas mereka. Pandangan determinis teknologi ini menganggap bahwa internet memainkan peran yang dominan dalam mengubah masyarakat.

[Baca: Bagaimana Internet Mempengaruhi Modal Sosial]

Nah lu… bagaimana dampak teknologi informasi dan komunikasi bagi perubahan sosial akan kembali diulas dengan lebih lengkap di sini…

[Baca artikel pendahulu: Modal Sosial Dalam Bisnis e-Commerce]

 

Bagi Durkheimians, media komunikasi seperti telepon memperkuat solidaritas organik, sementara media penyiaran seperti radio atau televisi menghasilkan representasi kolektif yang kuat (Alexander 1988). Pengikut Marxis fokus pada eksploitasi media komunikasi untuk memperkuat kontrol elit terhadap politik dan produksi melalui hegemoni budaya sekaligus memperkuat pemeriksaan (Schiffer 1996, Davis, dkk., 1997).

 

Weberian sendiri menghadirkan cara dimana media poin-ke-poin mengajukan rasionalisasi dengan mengurangi batasan waktu dan ruang, sementara media penyiaran menyediakan elemen status budaya yang berbeda (Collins 1979). Tradisi Weberian membangkitkan pertanyaan mengenai dampak dari teknologi internet pada birokrasi dan lembaga ekonomi.

 

Pakar-pakar teori kritik mempersoalkan dampak dari perubahan teknologi pada bidang politik dan integritas masyarakat madani (Habermas 1989; Balhoun 1998). Karya Habermas dan Balhoun mengarahkan kita untuk menanyakan bagaimana internet bisa mengubah praktek politik. Teori kritik juga melontarkan pertanyaan penting tentang bagaimana internet bisa mempengaruhi seni dan media hiburan.

 

Daniel Bell (1977) sebagai ahli sosiologi pertama yang menulis mengenai dampak sosial dari media komunikasi digital ini. Bell memperkirakan bahwa konsekuensi sosial besar akan berasal dari dua perkembangan terkait, yakni penemuan miniatur sirkuit elektronik dan optikal yang mampu mempercepat arus informasi melalui jaringan, serta integrasi dari proses komputer dan telekomunikasi kedalam apa yang disebut oleh Anthony Oettinger dari Harvard sebagai teknologi “kompunikasi”. Dengan mengantisipasi demokratisasi surat elekktronik dan telefaks, sekaligus penyiaran digital dari suratkabar dan majalah, Bell mengeksplorasi dilema kebijakan perubahan tersebut yang nanti muncul, yang disebut dengan “organisasi sosial dari teknologi ‘kompunikasi’ baru”, yang merupakan isu utama “bagi masyarakat pascaindustri” (1977: 38). Manuel Castells berpendapat bahwa dunia sedang memasuki “jaman informasi” dimana teknologi informasi digital “menyediakan dasar materi” untuk “perluasan pervasif” dari apa yang ia sebut “bentuk jejaring dari organisasi” dalam setiap keadaan struktur sosial (1996:468).

 

Dampak Isolasi Sosial atau Pembentukan Modal Sosial?

Persoalan dampak efisiensi waktu vs anti sosial akan tampak duluan. Internet akan sangat efisien didalam membuat orang menjadi lebih produktif dan memperkuat mereka menghindari masalah transportasi yang tak perlu ketika menyelesaikan tugas-tugas online seperti dalam masalah perbankan, belanja, riset perpustakaan, bahkan sosialisasi online. Hasilnya (berkurangnya stres, lebih banyak waktu, kontak online baru) akan membuat individu lebih terpenuhi dan membangun modal sosial bagi masyarakat secara keseluruhan.

Dampak Anomi & Pengikisan Modal Sosial vs Keaktifan Dalam Kegiatan Riil

Namun kajian terbaru, dua studi menyebutkan bahwa internet bisa memicu anomik dan mengikis modal sosial dengan mendukung para pengguna untuk keluar dari dunia artifisial (Kraut dkk., 1998; Nie & Erbring 2000). Analisa tahun 1995 dan survei nasional 1998 oleh Pew Center for the People and the Press, yang menanyai responden tentang aktifitas “hari kemarin” menemukan penggunaan internet menjadi tak berkaitan atau secara positif berhubungan dengan interaksi sosial (Robinso dkk., 1997, 2000a).

Lebih jauh lagi, analisa terhadap data tahun 1997 dari Federal Survey of Public Participation in the Arts menunjukan bahwa pengguna internet (dengan pengendalian) membaca lebih banyak literatur, lebih banyak menghadapi acara seni, lebih banyak menonton film, dan menonton serta melakukan lebih banyak olahraga daripada non-pengguna (Robinson & Kestnbaum 1999).

Studi terbaru yang didasarkan pada data Pew Center 1998 menunjukan perubahan terkait dengan difusi internet. Dikalangan pengguna yang telah menjadi pengadopsi awal, penggunaan internet adalah berhubungan dengan penggunaan besar terhadap media cetak. Namun demikian, dikalangan pemakai baru internet, hubungan ini hilang (Robinson dkk., 2000b). Tak ada penurunan signifikan pada menonton TV yang ditemukan setelah pengendalian demografik. Secara keseluruhan, analisa tersebut menyediakan dukungan untuk penyingkiran waktu dikarenakan ekuivalensi fungsional dengan melihat pada media lain (Lihat juga Cole 2000, yang menjumpai penggunaan TV lebih rendah dikalangan pengguna internet tapi sedikit lebih tinggi untuk media lainnya).

 Dampak Isolasi Sosial vs Penurunan Stres

Dua studi yang telah dipublikasikan melaporkan adanya indikasi bahwa penggunaan internet telah menggantikan interaksi lainnya. Kraut dkk., (1998), yang memanfaatkan disain longitudinal langka untuk mempelajari 169 keluarga diwilayah Pittsburgh yang memiliki komputer dan koneksi internet lebih dari dua tahun, melaporkan bahwa tingkat tertinggi dari penggunaan internet adalah “terkait dengan penurunan dalam komunikasi bersama anggota keluarga lain, penurunan dalam lingkaran sosial, dan semakin meningkatnya rasa sepi dan depresi.” Para penulis mengatakan bahwa pemakai berat mengganti interaksi dengan ikatan lemah di internet untuk waktu yang dihabiskan bersama teman dekat dan keluarga.

Meski ketika peneliti mengikuti sampelnya, mereka menemukan bahwa, kecuali untuk stres yang meningkat, dampak psikologikal negatif berkurang dan hasil akhir yang positif muncul. Mereka menyebut perubahan meningkatkan pengalaman dan kompetensi serta lebih spekulatif, meningkatkan manfaat terbesar internet dalam periode akhir serta mengubah tanda dari jaringan eksternalitas negatif ke positif sebagaiman teman dan keluarga pengguna ber-online (Kraut dkk).

Dampak Penurunan Sosialisasi vs Peningkatan Jaringan Sosial

Nie & Erbring (2000) telah melakukan survei terhadap empat ribu pengguna internet online dan menanyakan bagaimana internet mengubah kehidupan mereka. Sebagian besar melaporkan tidak ada perubahan, tapi pada pemakai berat dilaporkan adanya penurunan dalam sosialisasi, pemakaian media, belanja dan aktifitas lainnya.

Survei terbaru (online dan off) mengungkapkan bahwa pemakai internet mempunyai tingkat kepercayaan umum lebih tinggi dan jaringan sosial lebih besar daripada non-pemakai (Uslaner 1999; Robinson dkk., 200b; Hampton & Wellman 2000; Cole 2000). Hasil dari analisa survei juga menyebutkan bahwa penggunaan internet bertindak melengkapi daripada mengganti media cetak dan sosialisasi offline. Memang, studi diari waktu yang lengkap juga menemukan bahwa pengguna internet menjadi kurang aktif sebagai pengguna media atau mahluk sosial offline daripada non-pengguna, meski mereka memang kurang mengerjakan rumah tangga, kurang mengabdikan waktu untuk keluarga dan kurang tidur pula (Robinson dkk., 2000b).

Dampak Penurunan Pembentukan Komunitas Riil vs Peningkatan Modal Sosial

Wellman (2001) berpendapat bahwa internet ikut menyebabkan perubahan dari masyarakat berbasis kelompok ke masyarakat berbasis jaringan yang menguraikan masyarakat dan geografi sehingga membutuhkan pemahaman baru dan operasionalisasi dari yang sebelumnya. Sejalan dengan pengertian ini, Katz dkk., melaporkan bahwa pengguna internet mengunjungi teman lebih banyak dan berbicara dengan mereka melalui telepon lebih sering, tetapi mereka juga mengadakan perjalanan lebih banyak dan mempunyai teman lebih sedikit dilingkungan tetangga.

 Lin (2001) menganggap komunikasi online, termasuk email, memperluas tersedianya modal sosial. Memang, banyak literatur menyebutkan bahwa internet memperkuat ikatan sosial yang didefinisikan kedalam banyak cara, kerap dengan memperkuat pola perilaku yang ada. Sebuah laporan tentang survei nasional terhadap pemakai (Howard dkk.) menyebutkan bahwa internet membuat pemakai berada dalam kontak yang lebih sering bersama keluarga dan teman, dengan email menjadi alat komunikasi utama.

Studi longitudinal oleh Kraut dkk menemukan bahwa penggunaan internet meningkatkan interaksi bersama anggota keluarga dan dilaporkan adanya kedekatan bersama teman, khususnya bagi penggua yang merasakan jaringan pendukung sosial yang kuat sebelum mereka mulai memakai internet.

Internet adalah unik diantara media karena membuat mudah orang berkomunikasi (jarak jauh) bersama orang lain pada waktu yang bersamaan seperti dalam chat room atau forum diskusi online. “Komunitas online” bentuk dan ukurannya berbeda-beda, mulai dari komunitas virtual yang menghubungkan orang yang jauh secara geografi untuk berbagi kepentingan bersama sampai pengaturan dimana mempermudah interaksi dikalangan jaringan pertemanan atau anggota keluarga hingga jaringan komunitas yang fokus pada isu-isu yang relevan dengan lingkungan tetangga secara geografi (Smith & Kollock 1999; Wellman & Gulia 1999; Preece 2000).

Dampak Pembentukan Komunitas Baru & Identitas Baru

Game permainan-peran online yaitu, multi-user dungeons atau MUD (Turkle 1995) memberi kontribusi pembentukan newsgroups (Hauben & Hauben 1997). Ini merupakan komunitas online pertama dan masih menjadi situs riset popular, Melalui penelitian “Etnografi online” telah didapatkan pemahaman tentang persoalan pembentukan identitas (Paecagnella 1997) serta status. (dalam penelitian ini, para periset harus mengikuti pengguna masuk kedalam jenis komunitas online yang lebih baru yang didasarkan pada kepentingan bersama atau jaringan komunitas fisik). Jumlah studi kasus komunitas online adalah banyak dan terus tumbuh. Para peserta menilai pengaturan online tersebut mempermudah (dan murah) untuk berkomunikasi dalam jarak jauh, dengan menyediakan peluang untuk ikut serta sekaligus memperkuat orang dengan kepentingan minoritas atau gaya hidup menemukan persahabatan dan bimbingan yang sebelumnya tak tersedia dalam komunitas lingkungan mereka (Etzioni & Etzioni 1997). Studi klasik Rheingold (1993) tentang komunitas online menekankan pada kapasitas jaringan online untuk menyediakan kepada anggota mereka dengan dukungan sosial. Dan periset lain telah mencatat bahwa, bila dibandingkan dengan jaringan sosial kehidupan-nyata, komunitas online lebih sering didasarkan pada kepentingan bersama dari peserta bukan karakteristik demografi bersama (Wellman & Gulia 1999).

Namun demikian, isu yang berhubungan dengan ras, gender dan dinamika seksual memang menembus dan membuat rumit interaksi online (misalnya meminta komunitas agar membuat norma-norma ketika berhubungan dengan bahasa intimidasi atau ofensif (Lessig 1999; Silver 2000).

Dampak Interaksi Online Terhadap Interaksi Tatap Muka

Hampton & Wellman (2000) mengungkap bahwa pengguna internet mempertahankan ikatan komunitas melalui komunikasi mediasi-komputer dan interaksi tatap muka langsung. Meski mereka mempertahankan hubungan jarak jauh daripada non-pemakai internet, mereka berkomunikasi bahkan dengan tetangganya – dan bahkan tiga kali lebih banyak daripada tetangganya. Studi terhadap komunitas yang sama mengungkapkan bahwa para penghuni banyak memanfaatkan internet untuk “aktifitas pembentukan modal-sosial” namun tingkat keterlibatan dan keterkaitan komunitas tingkat-individu itu meningkat hanya untuk penghuni yang sangat aktif (Kavanaugh & Pattrson). Studi serupa mengemukakan bahwa walau internet membantu mempertahankan kontak jarak jauh, banyak kontak email yang terjadi adalah antar orang yang juga mengadakan kontak tatap muka langsung (Koku dkk., 2001). Dengan kata lain, riset menyebutkan bahwa internet melanjutkan ikatan komunitas dengan melengkapi, bukan menggantikan, saluran interaksi lainnya.

Dampak Penciptaan Modal Sosial

Banyak kajian percaya bahwa internet mempermudah penciptaan modal sosial dan barang publik lainnya dengan membuat arus informasi menjadi lebih efisien melalui komunitas residensial atau profesional (Lin 2001; Wellman, 2001). Namun Putnam (2000) melaporkan bahwa, setelah pengendalian demografi, pemakai internet tidaklah berbeda dengan non-pemakai dalam hal tindakan keterlibatan sipil. Namun demikian, ia mencatat bahwa adalah terlalu dini memproyeksikan hasil ini kedalam rekan pemakai internet dimasa mendatang, dan ia merasakan adanya kontribusi internet untuk modal sosial ditingkat komunitas. Putnam sangat perhatian pada perlunya memahami perbedaan kualitatif antara interaksi termediasi dan tatap muka langsung serta mengeksplorasi ketegangan antara potensi teknologi dan bahaya tidak samanya akses maupun “cyberbalkanisasi” (Putnam 200-:177); untuk operasionalisasi, lihat Van Alstyne & Brynjolfsson 1997).

Studi lain memperlihatkan bahwa, dibawah keadaan tertentu, penggunaan internet dapat memperkuat modal sosial. Dalam studi longitudinal terhadap penghuni Pittsburgh, Kraut dkk., menjumpai bahwa penggunaan internet terkait dengan partisipasi besar dalam aktifitas komunitas dan kepercayaan yang lebih tinggi (meski sedikit komitmen dalam komunitas mereka), dengan dampak positif lebih besar bagi peserta yang ekstrovert. Analisa terhadap responden survei online dari Amerika Serikat, Inggris Raya, Kanada, dan Australia mengemukakan bahwa penggunaan internet yang semakin meningkat cenderung mempunyai dampak positifi langsung pada modal sosial (dioperasionalisasikan sebagai partisipasi dalam jaringan dan aktifitas komunitas) serta dampak positif tak langsung (melalui modal sosial) pada partisipasi politik (Gibson dkk., 2000).

Ada pula pendapat bahwa internet membentuk modal sosial dengan memperkuat efektifitas serikat sukarela tingkat komunitas, namun sedikit riset yang telah mengevaluasi klaim ini. Internet juga diterangkan sebagai alat murah dan efektif untuk mengadakan gerakan sosial oposisi. Lin (2001) menjelaskan kasus organisasi Falun Gong China, yang memanfaatkan internet untuk melancarkan gerakan hirarki keagamaan yang kuat dibawah hidung rejim yang berkuasa. Baik apakah gerakan yang sama akan mengikuti atau tidak akan tergantung pada keberhasilan negara didalam memantau dan mengendalikan aktifitas tersebut.

 

Bersambung……..

Pengembangan Teori Baru Tentang Teknologi Informasi dan Modal Sosial

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *