Pembangunan Ekonomi dan Perubahan Sosial

Posted on

economic-development-and-social-change-1-200x135 Pembangunan Ekonomi dan Perubahan SosialPembangunan ekonomi dapat menciptakan perubahan sosial di masyarakat. Bagaimana pembangunan ekonomi dioperasikan, -dengan perspektif tertentu-, dan dampaknya pada perubahan dan kondisi masyarakatnya. George Stathakis dan Gianni Vaggi, pakar ekonomi politik, mengemasnya dalam buku yang dieditorinya, Economic Development And Social Change: Historical Roots and Modern Perspectives”.

Buku ini akan mengajak pembaca untuk bertamasya intelektual-teoritis untuk memahami secara historis, teori-teori pembangunan ekonomi, mulai dari klasik hingga modern. Buku ini secara garis besar membahas cukup detail tentang masalah pembangunan ekonomi dunia dengan melacak dasar teoritikalnya dan akar historisnya. Dan merepresentasikan pada praktik-praktik pembangunan ekonomi di belahan Eropa, khususnya di Prancis dan Inggris ketika terjadi revolusi industri pada abad 17. Teori pembangunan ekonomi dalam buku ini, para penulis berusaha menjelaskan secara detail dan teoritis, teori-teori ekonomi klasik dari para tokohnya dan teori-teori ekonomi modern dan para tokohnya. Buku ini juga berusaha menisik dan mengevaluasi pemikiran dan teori-teori pembangunan ekonomi klasik. State of the art yang coba dibangun buku ini adalah teori pembangunan dengan model pertumbuhan. Pemikiran ekonomi klasi mulai dari pemikiran Merkantilisme sampai dengan Adam Smih dengan berbagai variannya.

Karena itu,  secara umum buku ini merupakan kajian teoritis dan mendasar, membahas kerangka ideologi, paradigma, dan teori tentang pembangunan ekonomi dan pengaruhnya terhadap perubahan sosial dalam masyarakat. Sang editor (George Stathakis dan Gianni Vaggi) berusaha membingkai buku ini dengan me-recall dan merujuk pada pemikiran-pemikiran atau teori-teori ekonomi klasik; pemikiran merkantilisme sampai pada ekonomi klasik. Beberapa pokok pikiran yang dihantarkan dalam pendahuluan buku ini, diantaranya adalah pemikiran ekonomi kaum Merkantilisme, Adam Smith, David Richardo (ekonomi liberal) dan pisiokrasi.

Ekonomi Merkantilisme

Merkantilisme adalah suatu kebijakan ekonomi dalam bidang perdagangan yang terjadi pada jaman perintis, yakni pada tahun  1500-1750, dan bukan merupakan sebuah madzab ekonomi. Merkantilisme merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata Merchant yang berarti pedagang. Menurut paham merkantilisme ini, tiap Negara jika ingin maju harus melakukan kegiatan ekonomi berupa perdagangan, perdagangan tersebut harus dilakukan dengan Negara lain. Sumber kekayaan Negara akan diperoleh melalui surplus perdagangan luar negeri yang diterima dalam bentuk emas atau perak, sehingga kebijaksanaan pada waktu itu adalah merangsang ekspor dan membatasi aktifitas impor. Negara-negara yang menganut paham merkantilisme pada waktu itu antara lain, Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis, dan Belanda.

Merkantilisme adalah suatu teori ekonomi yang menyatakan bahwa kesejahteraan suatu negara hanya ditentukan oleh banyaknya aset atau modal yang disimpan oleh negara yang bersangkutan, dan bahwa besarnya volum perdagangan global teramat sangat penting. Aset ekonomi atau modal negara dapat digambarkan secara nyata dengan jumlah kapital (mineral berharga, terutama emas maupun komoditas lainnya) yang dimiliki oleh negara dan modal ini bisa diperbesar jumlahnya dengan meningkatkan ekspor dan mencegah (sebisanya) impor sehingga neraca perdagangan dengan negara lain akan selalu positif. Merkantilisme mengajarkan bahwa pemerintahan suatu negara harus mencapai tujuan ini dengan melakukan perlindungan terhadap perekonomiannya, dengan mendorong eksport (dengan banyak insentif) dan mengurangi import (biasanya dengan pemberlakuan tarif yang besar). Kebijakan ekonomi yang bekerja dengan mekanisme seperti inilah yang dinamakan dengan sistem ekonomi merkantilisme.

Ajaran merkantilisme dominan sekali diajarkan di seluruh sekolah Eropa pada awal periode modern (dari abad ke-16 sampai ke-18, era dimana kesadaran bernegara sudah mulai timbul). Peristiwa ini memicu, untuk pertama kalinya, intervensi suatu negara dalam mengatur perekonomiannya yang akhirnya pada zaman ini pula sistem kapitalisme mulai lahir. Kebutuhan akan pasar yang diajarkan oleh teori merkantilisme akhirnya mendorong terjadinya banyak peperangan dikalangan negara Eropa dan era imperialisme Eropa akhirnya dimulai. Sistem ekonomi merkantilisme mulai menghilang pada akhir abad ke-18, seiring dengan munculnya teori ekonomi baru yang diajukan oleh Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations, ketika sistem ekonomi baru diadopsi oleh Inggris, yang notabene saat itu adalah negara industri terbesar di dunia.

Penerapan perspektif ini dapat memberikan dampak yang positif maupun negatif. Dampak yang positif adalah ketika kepentingan ekonomi nasional dipandang penting sebagai bagian dari mempertahankan keamanan nasional. Tetapi dampak yang negatif muncul ketika dalam penerapannya, negara melakukan eksploitasi atau perilaku lain yang dapat merugikan negara lain demi kepentingan ekonomi nasionalnya sendiri. Contohnya adalah pada praktik imperialisme dan kolonialisme oleh negara-negara Eropa kepada wilayah-wilayah di Afrika dan Asia sejak abad ke-16. Beberapa tokoh merkantilisme ini antara lain Alexander Hamilton, salah satu founding fathers Amerika Serikat; dan Friedrich List, seorang ekonom yang berasal dari Jerman. Singkatnya, merkantilisme memandang bahwa kepentingan negara merupakan hal terpenting, sehingga segala aktivitas ekonomi berada  dibawah kendali kepentingan politik, yang dalam konteks negara adalah pemerintah. Sebab negara bertanggung jawab atas atas tercapainya kepentingan nasional. Untuk menjaga supaya kepentingan tersebut tidak terpecah antara kepentingan keamanan dan kepentingan ekonomi, maka sebisa mungkin negara menghindari ketergantungan kepada negara lain.

Beberapa pemikiran tentang ekonomi kaum Merkantilisme (uang dan Logam mulia sebagai sumber kekayaan negara), diantaranya adalah;

  • Ajaran merkantilisme dominan sekali diajarkan di seluruh sekolah Eropa pada awal periode modern (dari abad ke-16 sampai ke-18, era dimana kesadaran bernegara sudah mulai timbul).
  • Teori ini muncul sekitar abad ke 16 dengan memandang pentingnya negara berdaulat sebagai elit politik yang utama. Sehingga aktivitas ekonomi seharusnya tunduk pada tujuan utama dalam membangun negara yang kuat, yang dengan kata lain, ekonomi merupakan alat politik dan dasar bagi kekuasaan politik
  • Merkantilisme mengajarkan bahwa pemerintahan suatu negara harus mencapai tujuan ini dengan melakukan perlindungan terhadap perekonomiannya, dengan mendorong eksport (dengan banyak insentif) dan mengurangi import (biasanya dengan pemberlakuan tarif yang besar). Kebijakan ekonomi yang bekerja dengan mekanisme seperti inilah yang dinamakan dengan sistem ekonomi merkantilisme.
  • Terkenal dengan Kebijakan Ekonomi Proteksionis
  • Merkantilis yang menyatakan bahwa kekayaan itu terdiri dari uang dan logam-logam mulia

Teori Ekonomi Klasik (Ekonomi Liberal)

Perbedaan pendapat antara Smith dan Kaum Merkantilis salah satunya mengenai faktor yang menentukan kemakmuran, dimana kaum Merkantilis percaya bahwa alamlah yang menentukan tingkat kemakmuran. Sedangkan menurut Smith, penentuan tingkat kemakmuran adalah kemampuan manusia sendiri sebagai faktor produksi. Teori  klasik  atau  bisa  juga  disebut  aliran  klasik  muncul  akhir  abad ke 18. Seperti yang telah kita ketahui, pemikiran Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang filsafat sosial dan politiknya didasarkan kepada azas pengembangan hak milik pribadi dan pemeliharaannya serta perluasan faham kebebasan. Sistem ini merupakan sekumpulan kebijakan ekonomi yang juga merujuk kepada pemikiran bapak ekonomi Kapitalis Adam Smith. Inti pemikiran ekonomi Adam Smith adalah perekonomian yang berjalan tanpa campur tangan pemerintah.

Pada umumnya para ahli ekonomi  yang  mengemukakan  teorinya  pada  sekitar  abad  tersebut,  dinamakan  kaum klasik. Aliran klasik sendiri dalam sejarahnya ada dua yaitu: aliran Klasik dan aliran Neo Klasik. Yang termasuk aliran klasik adalah mereka yang  mengemukakan  teorinya  sebelum  tahun  1870  an,  yang  termasuk  dalam golongan ini adalah Adam Smith, Robert Malthus, David Ricardo dan  John  Stuart  Mill.  Yang  termasuk  aliran  neo  klasik  adalah  mereka  yang  mengemukakan  teorinya  sesudah  tahun  1870  an,  yang  termasuk  dalam  golongan  ini  adalah  Alfred  Marshall,  Leon  Walras  dan  Knut  Wicksel. Kaum klasik pada dasarnya banyak membahas masalah-masalah  mikroekonomi,  yang  dalam  perkembangan  selanjutnya  teori  tersebut dikembangkan  lebih  lanjut  oleh  kaum  neo  klasik.

Para  ahli  ekonomi  klasik  banyak  membahas  masalah-masalah  yang  berkaitan  dengan  pembangunan  ekonomi,  sedang  para  ahli  ekonomi  neo  klasik  banyak  membahas  masalah  yang  bersifat  jangka  pendek  dalam  kegiatan  masyarakat  dan  sedikit  sekali  menganalisa  mengenai  masalah  pembangunan ekonomi. Kaum neo klasik mempunyai keyakinan bahwa, dalam jangka panjang mekanisme pasar akan menciptakan perekonomian  yang  stabil  dengan  sendirinya,  sekalipun  perekonomian  tumbuh  secara  perlahan tetapi akan lancar dan teratur.  Pendapat  ini  mengacu  dari  pendapat  klasik  yaitu  Adam  Smith  dengan  Laissez  Fairenya.[1]

Dalam buku The Wealth of Nations, Smith mendukung prinsip “kebebasan alamiah”, yakni setiap manusia memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang diinginkannya tanpa campur tangan pemerintah. Ini mengandung pengertian negara tidak boleh campur tangan dalam perpindahan dan perputaran aliran modal, uang, barang, dan tenaga kerja. Lebih lanjut, Smith juga sependapat bahwa pada dasarnya tindak laku manusia berasal pada kepentingan sendiri (self-interest) bukan belas kasian ataupun perikemanusiaan.

Teori  pembangunan  ekonomi  dari  klasik  muncul  pada  saat terjadinya revolusi industri di Inggris, sehingga teori-teori mereka banyak sekali diilhami dari keadaan tersebut. Pada saat itu  negara-negara maju mengalami pembangunan ekonomi yang sangat pesat  dan mulai tercipta era tinggal landas yang dipelopori oleh negara Inggris. Dalam  menganalisa  mengenai  masalah-masalah  pembangunan  ekonomi,  kaum  klasik  menganalisa  tentang  sebab-sebab  dari  perkembangan ekonomi dalam jangka panjang dan mengenai corak dari  terjadinya proses pertumbuhan tersebut.  Dalam menganalisa hal tersebut  para  ahli  ekonomi  klasik  mempunyai  pandangan-pandangan  yang  berbeda satu sama lainnya, oleh karena itu teori dari mereka akan dibahas  satu persatu

Dalam pembagian kerja, Smith menyimpulkan bahwa produktivitas tenaga kerja akan lebih maksimal apabila dilakukan pembagian kerja (division of labor). Yang artinya pembagian melalui spesialisasi perorangan yang melakukan produksi akan menghasilkan output yang lebih baik dan lebih efisien. Smith juga menjelaskan dengan menggunakan teknologi-teknologi baru dalam sistem produksi akan meningkatkan hasil produksi pula. Maka dari itu, Smith percaya pada kekuatan investasi dalam pembelian atau penggunaan teknologi.

Berbicara mengenai arti nilai dalam ekonomi, Smith mengidentifikasikan barang memiliki dua nilai yakni nilai guna (value in use) dan nilai tukar (value in exchange). Nilai tukar barang akan ditentukan oleh jumlah tenaga (labor) yang diperlukan salam menghasilkan barang tersebut, sedangkan nilai guna adalah nilai kegunaan atau fungsi barang itu sendiri. Contoh nilai tukar barang dapat dilihat dari tingkat keterampilan ataupun lama waktu yang digunakan dalam proses pembuatan barang yang nantinya dipakan dalam menentukan harga.

Menurut Smith, hubungan antara nilai tukar dan nilai guna bersifat relatif. Hal ini terlihat dari perumpamaan air dan intan yang ia jelaskan sebagai contoh kasus dimana air yang notabene memiliki nilai guna lebih tinggi, tidak memiliki harga yang lebih tinggi pula dibandingkan intan yang sebenarnya tidak memiliki nilai guna. Teori nilai Smith sebenarnya merupakan salah satu kelemahan dari teori klasik yang tidak mengedepankan nilai utilitas, namun persoalan paradoks ini selanjutnya mampu dipecahkan oleh murid Smith yakni Alfred Marshall.

Dasar Filsafat Teori Klasik

Adapun dasar fislafat teori klasik lebih mengacau pada filsafat liberalism atau kebebasan inidividu. Beberapa dasar filsafatnya adalah sebagai berikut;

  1. Setiap individu bebas melakukan kegiatan ekonomi (dalam batasan tertentu) untuk memenuhi kebutuhannya
  2. Kebebasan dapat mencapai kemakmuran
  3. Peranan pemerintah minimal agar lebih efisien
  4. Kegiatan pemerintah diprioritaskan pada bidang yang tidak dapat dikuasai swasta
  5. Dalam jangka pendek, peranan pemerintah tidak diperlukan

Adam Smith menjelaskan, dalam ekonomi pasar bebas masyarakat harus bekerja di atas dua prinsip, yaitu kebebasan dan kebutuhan

Ekonomi Pisiokrasi[2]

Sekumpulan pemikiran atau ide-ide ekonomi yang didasarkan pada tulisan-tulisan Qusnaay dan ahli-ahli ekonomi dan Filsafat Prancis pada abad 18 lainnya. Para ahli fisiokrasi memandang bahwa tanah merupakan sumber satu-satunya pendapatan dan kekayaan dalam masyarakat dan mampu memproduksi suatu “produk netto”. Mereka percaya atas ide-ide mengenai “tatanan alamiah” dalam masyarakat yang menyejajarkan kepentingan individu tertentu dengan kepentingan umum masyatakat.

Mereka adalah pendukung kuat dari kebebasan individu dan penentang-penentang yang kuat dari campur tangan pemerintah dalam masyarakat, untuk melindungi individu dan hak-hak atas harta bendanya. Pemikiran Adam Smith, ekonom abad 16 sangat dipengaruhi secara kuat oleh ide-ide pisiokrat dan “tatanan alamiah” yang ditekankan dalam bentuk bekerjanya mekanisme pasar atau yang lebih kita kenal sebagai laissez  faire (“biarkan apa adanya”).  Smith  pada  dasarnya menentang  setiap  campur  tangan  Pemerintah  dalam  industri maupun perdagangan. Ia penganut paham bebas dan penganjur kebijaksanaan  “  pasar  bebas  ”dalam  aktivitas  kegiatan ekonomi.  Dengan  kebijaksanaan  pasar  bebas,  yaitu terwujudnya  pasar  persaingan  sempurna  yang  merupakan mekanisme menuju keseimbangan secara otomatis, cenderung untuk memaksimalkan kesejahteraan nasional. Sistem  ekonomi  yang  demikian  dinamakan  juga sistem mekanisme pasar atau sistem pasar bebas.

Aliran ini yang terpenting bagaimana penguasaan alam. Jikalau kaum merkantilis adalah sebagai perintis ilmu ekonomi, maka kaum physiokrat disebut sebagai pendasar ilmu ekonomi. Kaum pisiokrat memandang kehidupan perekonomian sebagai suatu sistem yang sudah ditentukan dan sebagai suatu sistem yang diatur oleh hukum-hukum tersendiri, dan atas dasar itu dapat dibuat perhitungan dan ramalan-ramalan serta mereka mencoba merumuskan hukum-hukum ini. peredaran ekonomi (aliran barang-barang di masyarakat) seperti aliran darah di dalam tubuh manusia. Prinsip dasar pandangan kaum physiokrat adalah di dalam kehidupan harus mendasarkan kepada natural order. Organisasi yang asasi bahwa setiap individu mengetahui kepentingan sendiri, dan selanjutnya yang terbaik mengurus kepentingan sendiri itu adalah setiap orang itu sendiri. Akhirnya kepentingannya sendiri dan kepentingan umum jatuh bersamaan, sehingga bilamana setiap individu dibebaskan untuk membela kepentingannya sendiri, maka juga kepentingan umum akan teriris dengan baik sekali. (leisser faire, leisser passer, le monde va alors de luis meme).

Kaum physiokrat mengembangkan teori harmoni, yakni keserasian antara kepentingan individu dan kepentingan umum (masyarakat). Selanjutnya diketengahkan prinsip ekonomi yang dijadikan dasar umum teori ekonomi kaum physiokrat di mana setiap individu berusaha memperoleh suatu hasil tertentu dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Teori harmoni ini kemudian dilanjutkan kaum klasik yang berbunyi: setiap individu berusaha memperoleh pendapatan sebanyak-banyaknya, dan pendapatan hanya dapat bertambah bilamana subyek ekonomi menawarkan kepada sesamanya barang yang lebih baik dan atau lebih murah, serta pemerintah tidak perlu campur tangan. Pemerintah hanya bertugas di dalam bidang justisi, milisi, pengajaran dan pekerjaan umum. Hal ini merupakan reaksi atas campur tangan pemerintah yang begitu jauh yang diajarkan oleh kaum merkantilis.

Jikalau kaum merkantilis menempatkan perdagangan luar negeri dalam pusat pandangan ekonominya, maka kaum physiokrat menempatkan pertanian dalam pandangan ekonominya. Hanya pertanianlah yang dapat memberikan hasil yang produktif.

Cakupan Bahasan Buku ini

Secara garis besar buku ini terbagi dalam 3 bagian. Bagian pertama; dibuka dengan pendahuluan oleh sang editor;  George  Stathakis dan Gianni Vaggi. Dalam bab ini dikupas mengenai mengenai pembangunan ekonomi dan perubahan sosial; perspektif teori ekonomi klasi dan modern. Stathkis dan Gianni Vaggi, dalam kupasannya tentang pembangunan ekonomi dan perubahan sosial di bab pendahuluan ini berusaha untuk menghantar para pembaca tentang pembangunan ekonomi dalam perspektif klasik dampai modern. Dalam bab pendahuluan ini menyajikan beberapa esai yang membentuk buku dan menyoroti beberapa tema utama yang menghubungkan dengan teori pembangunan klasik dan modern.

Sejarah teori-teori dan pemikiran klasik tentang ekonomi dan perubahan sosial dihantarkan oleh sang editor. Sehingga pembaca sebelum membaca konteks lebih dalam dari para kontributor dalam buku ini, akan memiki pemahaman awal tentang pembangunan ekonomi dan perubahan sosial ini. beberapa teori ekonomi klasik dijelaskan dengan melacak akar historisnya. Beberapa teori ekonomi klasik yang diungkap di bab pendahluan ini adalah pemikiran ekonomi klasik dan neoklasik; Merkantilisme, Adam Smith, David Ricardo, kau Keynesian, dan sebagainya.

Pada bagian I, secara umum membahas teori-teori pembangunan ekonomi di suatu negara. Pembahasan ini dimulai dengan masalah bagaimana pembangunan ekonomi suatu negara dilakukan, bagaimana suatu negara menjalankan perekonomian dengan tujuan untuk mendapatkan kemakmuran masyarakatnya. Salah satu pemikiran atau teori awal yang membahas masalah ini adalah pemikiran Mekantilisme.

Presentasi dari beberapa pakar ekonomi dalam bab I ini terkait dengan penilaiannya (evaluasi) terhadap jalanya pembangunan ekonomi dengan menggunakan teori pembangunan ekonomi klasik dan modern.. Pembaca segera diminta untuk membandingkan “state of the art” dalam teori pembangunan dengan model pertumbuhan dan perkembangan yang muncul dalam klasik ekonomi politik.  Beberapa kontributor dalam buku ini, diantaranya adalah:

Robert Boyer dengan “Teori-Teori Pembangunan Abad Pertengahan; Survey Kaum Institusioanalist (pendekatan Kelembagaan)”. Dalam papernya Boyer membuat survei ekstensif teori pembangunan pasca Perang Dunia ke 2 dalam perspektf kaum institusionalist. Dalam peparnya Boyer juga mengulas perdebatan tentang nasalah kebijakan pembangunan modern. Menurut Boyer yang menggunakan pendekatan kelembagaan, bahwa pembangunan ekonomi suatu negara harus dijalankan secara terencana dan terlembaga. Dalam konteks ini, Boyer menggunakan perspektif ekonomi klasik Adam Smith, dimana pembangunan ekonomi suatu negara jika akan berhasil perlu adanya intervensi negara. Ini sevisi dengan teori ekonomi liberal dan neo-liebral, yang lebih menekankan pada kebebasan individu, pemerintah diminta tidak melakukan intervensi kegiatan ekonomi, biar kegiatan ekonomi berjalan secara alamiah.

Boyer juga menyinggung peran tiga pihak dalam kegiatan pembangunan ekonomi, yakni negara, pasar, dan civil society. Lebih lanjut, Boyer mengatakan; dalam kegiatan tersebut melibat tiga elemen penting dalam proses pembangunan suatu negara yang saling berhubungan, yakni Negara, civil Society, dan Pasar. perspektif teori ekonomi klasik, pasar merupakan salah satu sistem besar yang bisa dijalankan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonominya yang meliputi produksi, konsumsi, dan distribusi. Pasar dengan mekanismenya mampu berjalan sendiri dengan mengikuti logika hukumnya, permintaan dan penawaran. “Invisible hand”, pasar diatur oleh tangan yang tidak terlihat, mengatur sendiri. Pasar dianggap sebagai mekanisme otomatis (self-regulating) yang selalu mengarah pada neraca keseimbangan, equilibrium, sehingga terwujud alokasi sumberdaya dengan cara yang paling efektif dan efisien.

Adam Smith memaklumatkan liberalisme pasar secara luas dalam mekanismenya. Melalui ajarannya, Laissez faire (biarkan saja), Smith menahbiskan “absolutisme pasar” atas lembaga-lembaga lainnya di masyarakat. Menurutnya ekonomi pasar akan berkembang dengan bebas jika negara tidak menghalanginya dengan memberi batasan-batasan. Peranan pemerintah sebaiknya ditekan seminimal mungkin dalam mekanisme ekonomi pasar. Adalah pasar dapat mengatur dirinya sendiri merupakan argumentasi terkuat kapitalisme liberal dan menentang campur tangan negara. Smith mengatakan, jika seluruh sistem yang memberikan hak istimewa dan memberikan batasan dihapuskan maka dengan sendirinya akan terbentuk suatu sistem kebebasan alamiah yang jelas dan sederhana. Selama setiap pribadi tidak melanggar aturan ini, ia akan diberikan kebebasan sepenuhnya agar dapat mengikuti kepentingannya dengan caranya sendiri serta dapat mengembangkan modalnya di bidang lain.

Kendati demikian, bukan berarti pasar sama sekali imun dari peran negara, melainkan pada kondisi-kondisi tertentu masih memungkinkan negara melakukan campur tangan terhadap pasar. Hanya saja upaya itu sejauh mengamankan kemungkinan-kemungkinan terjadinya kompetisi yang tidak fair di antara sub sistem di dalam pasar, seperti munculnya gejala destruksi yang berpotensi mengancam kebebasan ekonomi individu yang lain atau yang lebih terjauh lagi problem sanitasi lingkungan yang akan mengganggu alur pasar.

Kompetisi yang terjadi di pasar berlangsung secara terbuka bagi siapapun yang mampu bersaing. Proses persaingan di antara individu itu mendapat jaminan dari pemerintah. Negara dalam konsep ini hanya bertugas menyediakan kerangka hukum untuk kontrak, pertahanan serta ketertiban dan keamanan. Ia hanya menjadi “stempel” bagi mekanisme pasar yang berjalan. Karena, dalam keyakinan ekonomi klasik, intervensi negara yang besar terhadap pasar akan memperburuk lajunya pasar.

Menurut Smith, negara hubungannya dengan pasar memiliki tiga tugas utama, yaitu melakukan proteksi masyarakat dari pelanggaran yang dilakukan masyarakat lainnya. Kedua, proteksi itu dimungkinkan sejauh melindungi dari tekanan atau ancaman individu masyarakat atas masyarakat lain; negara juga menjaga kondisi agar tetap ada dalam keadilan. Ketiga, menjaga institusi-institusi publik agar tetap aman dari tindak kerusakan yang dilakukan oleh komunitas.

Dari penjelasan Smith tampak bahwa negara semaksimal mungkin tidak melakukan intervensi terhadap pasar. Negara diberikan tugas pada bidang-bidang tertentu seperti menjaga kemungkinan terjadinya pelanggaran. Mekanisme pasar dibiarkan berjalan sendiri. Pada konteks ini pasar menjadi sub sistem dari sebuah masyarakat yang sangat kuat, berdiri di atas sub lainnya. Negara hanya menjadi subordinasi dari pasar dalam upaya mensejahterakan masyarakatnya. Pasar steril dari kepentingan negara. Kenyataan ini pun telah menegaskan bahwa ada gejala baru dari proses tersebut, yaitu “fundamentalisme pasar”. Pasar dengan hukum-hukumnya menguasai seluruh kehidupan masyarakat.

Berdasarkan kajian dan analisis terhadap berbagai pengalaman di beberapa negara; terkait konsep pembangunan dengan relasi Negara, Civil Society dan Pasar. Pola relasi yang memberikan dominasi pasar lebih besar dari negara dan masyarakat dianggap telah “gagal” dalam memberikan pembangunan yang berkeadilan. Boyer menawarkan pendekatan kelembagaan, yang lebih menekankan pada peran institusi-institusi negara dalam proses pembangunan. Dan hasil dari pendekatan inovasi kelembagaan, dapat ditunjukan sebagai berikut:

Jorge Braga De Macedo, “Pembangunan Komparatif dan perubahan Kelembagaan”, dalam papernya Braga menekankan perdebatan modern pada kebijakan pembangunan. Braga mengutip teori pembangunan dan pertumbuhan dari Adam Smith. Menurut Braga, pembangunan nasional suatu negara tidak hanya sekedar didasarkan pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga pada aspek kohesi sosial dan stabilitas politik dalam bingkai demokrasi. Ini menyiratkan adanya berkelanjutan peningkatan kesejahteraan rakyat. Dalam sejarah demorkasi ekonomi, pembangunan ekonomi dalam jangka penjang harus memperhatikan hak-hak sipil masyarakat. Perdagangan luar negeri pun harus memperhatikan hak-hak sosial-ekonomi masyarakat. Perdagangan internasional perlu dilakukan untuk menambah kemakmuran nasional, dan tentu saja beroeirntasi pad peningkatan kesejahteraan. Globalisasi ekonomi dalam wujudnya perdagangan antar bangsa, lintas negara harus berjalan secara inklusif. Perdagangan internasional yang melbatkan banyak negara, harus memberi keuntungan ekonomi suatu negara. Braga melihat perdagangan internasional dalam konteks untuk mendapatkan keuntungan komparatif antar negara. Pembangunan ekonomi suatu negara dan antar negara harus melahirkan keadilan dan kesejahteraan.

Amit Bhaduri, Peningkatan Pendapatan dan Pembagian Tenaga Kerja dalam Teori Pembangunan Ekonomi”, dalam papernya, Bhaduri menjelaskan tentang peningkatan pendapatan suatu negara dengan menggunakan pendekatan pembagian kerja. Dengan adanya pembagian kerja akan pengaruh pada pertumbuhan ekonmi suatu negara. Proses  pertumbuhan  bersifat  kumulatif.  Apabila  timbul kemakmuran  sebagai  akibat  kemajuan  di  bidang  pertanian, industri  manufaktur,  dan  perniagaan  kemakmuran  itu  akan menarik ke pemupukan modal, kamajuan teknis, meingkatkan penduduk,  perluasan  pasar,  pembagain  kerja  dan  kenaikan keuntungan  secara  terus  menerus.  Situasi  yang  progresif  ini akan  menyenangkan  masyarakat.  Dalam  keadaan  maju  ini, sementara  masyarakat  meraih  hasil-hasil  yang  lebih  baik, keadaan  buruh  miskin  yang  merupakan  bagian  terbesar  dari masyarakat,  agaknya  menjadi  kelompok  paling  bahagia  dan nyaman.

Dalam pandangan Adam Smith, pertumbuhan ekonomi dan pembagian tenaga kerja; menrutnya Pembagian kerja Pembagian kerja adalah titik permulaan dari teori pertumbuhan ekonomi.  Menurut  Adam  Smith,  dengan  adanya  pembagian kerja,  maka  akan  meningkatkan  produktivitas  tenaga  kerja, yang pada gilirannya akan : meningkatkan ketrampilan pekerja; penghematan waktu dalam memproduksi barang; penemuan-penemuan yang sangat menghemat tenaga kerja.Namun demikian, pembagian kerja tergantung luas pasar.

Sementara itu, dalam pandangan D. Richardo, Pertumbuhan ekonomi terjadi akibat adanya produksi yang dihasilkan  oleh  masyarakat  berupa  adanya  pemupukan  modal. Pembagian pendapatan ini berdasarkan pada pendapatan tuan tanah berupa  sewa,  pengusaha  atau  kapitalis  berupa  keuntungan  dan buruh berupa upah.

Heinz D. Kurz and Neri Savadori; “Pertumbuhan Endogen dalam Stylised Classical” Model

Model  pertumbuhan  ini menjelaskan  keanehan  aliran modal  internasional  yang memperparah  ketimpangan  antara Negara  maju  dan  Negara berkembang (Todaro, 2006). Teori ini  mencoba  mengidentifikasi  dan menganalisis  faktor-faktor  yang mempengaruhi  proses pertumbuhan  ekonomi  yang berasal  dari  dalam  (endegenous) sistem  ekonomi  itu  sendiri. Menurut Heinz, Kami berpendapat bahwa dalam pertumbuhan ekonomi ekonom klasik dan pembangunan suatu bangsa dianggap benar endogen, yang dicontohkan sehubungan dengan versi yang sangat bergaya satu aspek yang dihadapi dalam tulisan-tulisan para penulis klasik, terutama Ricardo:  ‘Alami’ kursus ekonomi akan mengikuti dalam kasus hipotetis di modal yang menumpuk dan penduduk tumbuh tetapi tidak ada perubahan teknis Argumen bersangkutan dijelaskan dalam hal model sederhana Model tentang ‘jagung’. Dalam konstelasi yang dipertimbangkan, kembali menurun akan cepat atau lambat membuat diri mereka merasa karena kelangkaan lahan (s). Dengan tingkat upah riil yang diberikan dan konstan tingkat laba yang terikat jatuh dan sewa tanah akan meningkat. Kecenderungan penurunan tingkat laba yang memerlukan perlambatan akumulasi modal dan pertumbuhan.

Dari  uraian  di  atas,  maka  inti  dari  teori  Adam  Smith  dan David Ricardo adalah sebagai berikut : Adam Smith (Optimis Dalam Jangka Panjang) Faktor-faktor yang menentukan pembangunan ekonomi adalah :

Perkembangan Penduduk

Mendorong adanya pembangunan ekonomi memperluas pasar:  akan menimbulkan  spesialisasi Produktivitas Tingg : Teknologi akan berkembang maka perkembangan ekonomi tinggi. jika ini sudah terjadi maka ini akan berlangsung secara kumulatif.

Bila  Pasar  Berkembang,  maka  produktivitas  dan  spesialisasi meningkat,  pendapatan  nasional  meningkat  penduduk  juga meningkat.

Pasar berkembang lebih luas lagi,  tabungan  masyarakat  dan tingkat keuntungan pengusaha meningkat.

Pengusaha dapat meningkatkan teknologi dan inovasi Teknologi/Inovasi berkembang. Akhirnya  perkembangan  ekonomi  akan  terjadi  terus menerus  dan  pendapatan  nasional  akan  bertambah  terus  dengan  demikian  pendapatan  perkapita  masyarakat  juga  mengalami kenaikan terus.

David  Ricardo  dan  Robert  Malthus  (Pesimis  Dalam  Jangka Panjang). Kedua  ahli  ekonomi  klasik  ini  berbeda  sekali  padangannya  dengan  Adam  Smith  yang  optimis.  Ricardo  dan  Malthus  justru pesimis. Dalam jangka panjang menurutnya perekonomian justru akan mengalami apa yang dinamakan stationary state, yaitu suatu keadaan dimana  perkembangan  ekonomi  tidak  terjadi  sama  sekali.  Adapun berbedaan  pandangan  antara  Adam  Smith  dan  kedua  ahli  tersebut disebabkan  adanya  pandangan  yang  berbeda  mengenai  peranan penduduk dalam pembangunan ekonomi.

Menurut  Ricardo  dan  Malthus,  perkembangan  penduduk  yang berjalan  dengan  cepat  akan  memperbedar  jumlah  penduduk  hingga dua  kali  lipat  dalam  waktu  satu  generasi,  yang  nantinya  hal  tersebut akan  menurunkan  kembali  tingkat  pembangunan  ke  taraf  yang  lebih rendah.  Pada  tingkat  ini  pekerja  akan  menerima  upah  yang  hanya cukup untuk hidup (subsistance level).Apabila  yang  dibicarakan  mengenai  teori  pertumbuhan  dari klasik,  maka  yang  dimaksud  adalah  teori  pertumbuhan  dari  Ricardo yang  sangat  dipengaruhi  teori  perkembangan  penduduk  dari  Malthus dan teori hasil lebih yang semakin berkurang.

Richard A Werner, Aspek Moneter Jerman dan Pembangunan Ekonomi dan Penerimaannya di Jepang.

Werner dalam papernya ini mengupas tentang pembangunan ekonomi Jerman, khususnya terkait dengan sisem moneter Jerman dan pengaruhnya terhadap pembangunan ekonomi Jerman. Dan bagaimana Sistem moneter dan pembangunan ekonomi jerman di terima di Jepang. Werner mengarhakan analisisnya pada masalah kridit yang dibreikan kepada negara-negara Asia, seperti Jepang. Kredit diarahkan, diberikan dalam bentuk kontrol kredit, telah diidentifikasi sebagai instrument katalis penting bagi pertumbuhan ekonomi pasca perang yang tinggi di beberapa Negara-negara Asia, termasuk Jepang, Korea, Taiwan, Thailand dan Indonesia. Berfokus pada negara yang berkembang paling awal di antara ini, esai ini menunjukkan bahwa asal-usul sejarah praktek dan teori kontrol kredit ini berada di Jerman. Secara khusus, dorongan penting adalah berasal dari praktek Reichsbank di bawah bawah Hjalmar Schacht, dan pemikiran ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan Pada paruh pertama abad ke 20 di Jerman. Saran kebijakan Jerman didasarkan pada model yang kurang dibatasi oleh asumsi daripada sezaman klasik mereka.

Arah kredit juga harus dipahami sebagai aspek kunci dari desain kelembagaan yang konsisten yang  ‘dipandu’ ekonomi yang mentransmisikan dari atas ke bawah melalui organisasi sektor swasta untuk perusahaan-perusahaan individu, dan yang memberdayakan manajer sektor swasta dan memanfaatkan mereka untuk keseluruhan tujuan memaksimalkan pertumbuhan.

Teori dan praktek di Jerman, dalam perkembangannya dipengaruhi oleh kenyataan di Jepang. Sampai-sampai lembaga-lembaga ekonomi Jepang diperkenalkan kekaisaran Jepang, yang pada saat itu termasuk Korea hari ini dan Taiwan. Kontinuitas struktur pra-1945 di Asia didokumentasikan dengan baik. Sedangkan di era pasca perang, Dr Schacht tetap aktif sebagai penasihat kebijakan pembangunan pemerintah  di sektor keuangan. Secara khusus, dia adalah penasihat ekonomi Indonesia di era pasca perang, di mana kebijakan kredit alokasi juga sebelum tahun 1945, mereka hampir sama diperkenalkan di bagian lain dari kekaisaran Jepang, yang pada saat itu termasuk Korea hari ini dan Taiwan. Secara khusus, dia adalah penasihat Indonesia di era pasca perang, di mana kebijakan alokasi kredit juga terus berlanjut.

Hagen Kramer : Perkiraan Pembagian Upah secara Konstan dalam Teori Distribusi Pendapatan

Dalam papernya Kramer memperhatikan peran penting dugaan keajegan pendapatan Saham bermain di tiga helai yang paling penting dari teori distribusi, kita harus menegaskan bahwa UU Bowley didasarkan pada agak gemetar empiris yayasan. Ini berarti validitas Klein dan Kosobud diperlukan untuk setiap ukuran ekonomi yang digunakan oleh pembangun model ekonomi sebagai empiris titik awal tidak diberikan: ‘Jika rasio berada dalam sifat dasar parameter, spesifikasi-penyederhanaan teori dapat terjadi. . . Untuk teori konstruksi, bagaimanapun, standar kita harus tinggi. . . “(1961: 173; penekanan ditambahkan).

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menunjukkan bahwa persyaratan untuk standar yang tinggi dalam penyelidikan empiris, yang disahkan ahli teori menganggap keteguhan saham pendapatan dalam jangka panjang, belum bertemu. Hari ini kita harus menyatakan bahwa kebermaknaan sejarah studi tentang distribusi pendapatan tidak yang mencukupi untuk merumuskan umum hukum distribusi pendapatan, seperti UU Bowley itu. Karena kenyataan telah membuktikan, dalam dekade terakhir, bahwa saham pendapatan berfluktuasi cukup substansial, juga di jangka panjang, neoklasik, pasca-Keynesian dan, dengan beberapa terkenal pengecualian, juga teori distribusi Kalecki yang buruk dirancang. Karena semua teori utama distribusi pendapatan ekonomi makro masih beristirahat di asumsi pangsa keteguhan, saat teori makro-distribusi harus mengembangkan pendekatan modern yang tidak lagi bersandar pada invalid – atau setidaknya sangat dipertanyakan – asumsi seperti Hukum Bowley itu.

Mengikuti teori dan pemikiran ekonomi klasik Adam Smith, sebagaimana dijelaskan dalam bukunya yang fenomenal, Inquiry Into The Nature and Causes of The Wealth of Nation atau disingkat The Wealth of Nation. Buku menjadi buku yang cukup terkendal di Eropa dan menjadi rujukan dalam pembangunan ekonomi di Barat. Secara khusus buku ini mengagambarkan sejarah perkembangan industry dan perdagangan di Eropa serta dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme. Kemakmuran suatu negara dapat diperoleh melalui berbagai cara. Menurut Smith, kemakmuran negara dapat diperoleh melalui penumpukan kekayaan, dan penumpukan kekayaan negara dapat diperoleh melalui adanya pasar bebas tanpa campur pemerintah/negara.

Bagian II

Pembangunan Ekonomi dan Perubahan Sosial: beberapa tema pemikiran dari pra klasik sampai klasik.

Pada bagian II ini, Geoarge Stakhkis dan Gianni Vaggi, menyajikan beberapa tema yang terkait dengan Pembangunan Ekonomi dan Perubahan Sosial. secara khusus tema-tema pembangunan ekonomi dan perubahan sosoil dalam bagian ini, dilihat dari permikiran pra-kasik dan pemikiran klasik. Ada tujuh contributor dan tema khusus yang disumbang untuk menjelaskan masalah Pembangunan Ekonomi dan Perubahan Sosial ini. beberapa tema Pembangunan dan  perubahan sosial dalam perspektif teri pra-klasik dan klasik, di antaranya sebagai berikut

Antoin E. Murphy; yang menulis tentang “Nicolas Du Tot and John Law; Murphy mengangkat pemikiran ekonomi Nicolas Du Tot dan John Law. Kedua pemikir ekonom itu berkembang pada awal abad 18 di Inggris. Pemikiran kedua ekonomi ini berbarengan dengan lahirnya revolusi industry di Eropa, khususnya di Inggris. . salah satu pemikiran Law dalam ekonomi adalah membahas tentang Uang dan Perdagngan. Law ingin menunjukkan bahawa uang tidak hanya dihubungkan dengan leval harga. Tapi uang juga dapat dihubungkan dengan output, atau perdagangan sebagai sesuatu yang telah ditentukan. Dalam buku tentang Money and Trade menjelaskan panjang lebar tentang hal itu. Law sangat berkomitmen menggunakan pendekatan yang inovatif untuk pembangunan teorisasi makroekonomi yang mungkin melalui penemuan sebagai berikut, yakni

  1. Uang dalam Reuiment Menengah
  2. Arus sirkulasi Pendapatan
  3. Menekankan konsep penawaran uang;
  4. Analisis lebih lanjut dari inlasi internasional dalam permintaan uang/kerangka kerja penawaran uang
  5. Formalasi dari hukum satu harga untuk ekonomi terbuka kecil.

Law selalu percaya bahwa pertumbuhan ekonomi yang riil, didorong oleh ekspansi moneter, akan yang mencukupi untuk menciptakan uang. Memang ia melangkah lebih jauh dan Money and Trade berpendapat bahwa ekspansi moneter akan menyebabkan surplus neraca pembayaran. Untuk UU periode mencoba untuk mengunci transaksi ke dalam sirkuit keuangan dengan langkah-langkah mulai dari larangan penyelenggaraan lebih dari 500 livre dari specie atau bullion, untuk de-monetisasi emas dan bertahap de-moneteriisasi bulanan perak.

Tatsuya Sakamoto: Asal usul ekonomi politik Hume

Dalam paper ini, Tatsuya Sakamoto membahas tentang pemikiran ekonomi David Hume. Isu teoritical yang diangkat dalam paper ini adalah masalah tata karma atau etika ekonomi politik Hume. Penelusuran Hume dalam materi dimulai pada awal 1741 dan 1742 ketika dia mempublikasikan “Essays Moral and Political”. Hume berusaha menjelaskan pembangunan ekonomi dalam rejim pemeritahan Monarchy yang sewenang-wenang dan pemerintahan republic kewargaan. Hume menyangkal pandangan kaum republican klasik tentang sesuatu masa lalu dan sumber historis modern untuk menyimpulkan bahwa monarchy modern yang tercivilized direpresentasikan oleh Prancis dan Inggris. Sebagai negara dengan Monarchy “Absolut” yang hidup dengan pemerintahan yang sewenang-wenang/despotik.

Teori moneter Hume memiliki pengaruh panjang dan menjadi bagian dari pemkiran ekonomi . dalam konteks yang lebih khusus, pentingnya yang relative atau sentralisasi dalam Hume antara teori kuantitas dan teori para inflasionist. Sakamoto melihat bahwa ide Hume tentang etika/tata karma yang dimainakn memiliki peran penting dalam koodrinasi secara keberlanjutan dua secaa formal tidak konsisten atau tentang teori kontradiksi dari uang.

Walter and Shelagh M. Eltis: perdebatan Prancis tentang moralitas dan ekonomi politik kemewahan; dari Boisgulbert ke Quesnay.

Publikasi ekonomi meningkat pesat di Perancis pada tahun 1750. Jumlah buku yang diterbitkan pada perekonomian dua kali lipat 1745-9 ke 1750-4, dan dua kali lipat lagi antara tahun 1750-4 dan 1755-9.  Ekonomi politik Perancis juga terkenal karena perbedaan sosial dan politik penulis dari beberapa kontribusi terkemuka. Seperti di Inggris, memimpin filosof bersama dengan para bankir dan pedagang diterbitkan pada politik ekonomi; tetapi penulis Perancis awal juga termasuk tiga puluh tujuh menteri yang diterbitkan pada ekonomi antara tahun 1750 dan 1789 (Ada 1998, hal. 37). Para penulis ekonomi terkemuka yang memberikan kontribusi besar terhadap perdebatan mewah diantaranya Argenson, Boisguilbert, Cantillon, Forbonnais, Melon, Mirabeau dan Quesnay. Fenelon, Montesquieu, Rousseau dan Voltaire juga menulis secara ekstensif dan di fl uentially mewah. Mereka sangat prihatin dengan setiap aspek dari masyarakat Perancis, dan filsuf dan teolog tidak kurang dari menteri dan intendants tertarik dampak mewah terhadap perekonomian dan masyarakat.

Walter dan Shelagh mengupas masalah ketidakadilan yang besar dalam pendapatan dan kemakmuran pada abad 17 dan 18. Ini terjadi di Prancis dan Britania Raya (Ingiris). Perdebatan di mulai Pierre de Boisguilbert yang dianggap sebagai orang yang dihormati sebagai pendiri ekonomi politik di Prancis dan dia terbuka pada dimensi ekonomid ari debat kemewahan di dalam decade final dari rejim Louis ke XIV.

Sementara itu, Quesnay dan Mirabeau dikembangkan sebagai pendekatan teknikal ke pertanyaan tentang kemewahan, yang mana telah dirubah/dihilangkan dari debat tentang insentif dan kedtidakadilan sosial. Untuk Qeusnay, semua aktivitas ekonomi non-agricultural “terbebas” karena ini digeneralsiasikan sebagai bukan surplus ekonomi atau produk bersih, adan ini adalah elemen mewah di dalam pembelenjaan nasional/negara, yang mana dapat dikenakan untuk mengikis vialibilitas ekonomi dalam jangka panjang.

Philippe Steiner: politik ekonomi Prancis; industrialsiasi dan perubahan sosial (1815-1830). Steiner mengupas tentang ekonomi politik Prancis; masa Industriasliasi dan Perubahan sosial (pada kurun waktu 1815-1830 an). Dari bahasan ini, Steiner berkesimpulan; Diskusi antara ekonom Perancis dan para wartawan/ publik  memiliki akar, bagaimana cara ekonomi politik Say menekankan pentingnya produksi yang diselenggarakan oleh pengusaha yang – dengan bantuan alam menggabungkan industri, ilmu pengetahuan dan modal untuk mengekstrak dari alam utilitas untuk dapat memperoleh manfaat bagi manusia manusia dalam kehidupan sosial mereka. Namun, diskusi ini cepat menyebabkan proposisi yang mengubah ekonomi politik menjadi ilmu masyarakakat seacra keseluruhan. Ini belum tentu posisi yang Say akan menolak, tapi dia pasti tidak datang mendekati mengembangkan mereka dengan keberanian yang sama.

Oleh karena itu ekonomi politik merupakan wacana politik baru: baru karena motivasi yang melatarbelakangi (self-interest), baru rekening perilaku yang menyoroti (industri, yaitu produksi utilitas), baru karena jenis politik yang mengusulkan (administrasi hal-hal), baru fi akhirnya karena kelas yang mereka sebut untuk mengambil kekuasaan. Baru ini juga fi ekspresi nds dalam unsur-unsur yang penting ekonomi politik mengurangi atau menganggap sebagai nihil: kehormatan, perang, kekuatan pria di atas laki-laki dan, lebih umum, untuk memasukkannya ke dalam istilah Saint Simon, drone menganggur yang parasit sarang industri.

Dalam wacana baru ini, sebuah signifikan keretakan antara para pendukung industrialisme cepat akan terjadi. Menurut Saint-Simon dan A. Comte, ekonomi politik harus pertama-tama harus direformasi sehingga dimensi sosialyang diberikan memiliki nilai penuh Tapi ini nampanya tidak lagi sepenuhnya memuaskan bagi mereka. Mereka segera datang untuk menunjukkan bahwa perlu untuk pergi di luar ekonomi politik – atau lebih tepatnya untuk kritik itu dalam rangka untuk melahirkan ilmu sosial sejati, baik dalam dimensi statis dan dinamis. Inilah yang disebut  A. Comte dalam kajian sosiologi. Dengan melakukan ini, mereka menempatkan penekanan pada dimensi normatif kehidupan sosial (altruisme) dan pada pengembangan kapasitas moral (filantropi) yang harus menyertai kemajuan peradaban karena, tanpa menyangkal pentingnya materi kepentingan, mereka melihatnya sebagai sendiri insufisiensi memadai untuk menjamin tatanan politik yang stabil.

Investigasi perdebatan ini tentang industrialisme di Perancis antara
1817 dan 1830 menunjukkan bahwa teori ekonomi tidak maju secara
linear atau sederhana, dan bahwa kita harus selalu diingat bahwa konflik antara penggambaran alternatif realitas baru merupakan unsur penting dalam memahami evolusi ekonomi politik (Steiner 1998b). Dalam hal ini, cukup mengejutkan untuk dicatat bahwa Friedrich Hayek (1952) menghilangkan – tanpa membuat referensi sedikit untuk itu – posisi liberal Dunoyer, meskipun dia belajar secara rinci bahwa protagonis dari Posisi konstruktivis dipertahankan oleh Saint-Simon, Comte dan pengikut berikutnya Saint-Simon.

Dalam bahasan ini, Steiner membahas pemikiran Hayek, sebagai pendekar kebebasan individu, Hayek secara efektif menunjukkan mengapa dan bagaimana sosialisme membuka jalan ke fasisme. Hayek mendiskusikan naiknya Nazisme di Jerman dan Fasisme Mussolini di Italia pada 1920an hingga 1930an, suatu fenomena yang menurut pengamatan Hayek tampaknya sedang berulang di Inggris pada masa itu. Waktu itu, kaum intelijensia Inggris gencar mendorong intervensi pemerintah ke pasar lewat kebijakan perencanaan ekonomi terpusat untuk mewujudkan cita-cita pembangunan ekonomi yang lebih merata dan berkeadilan sosial.

Hayek berpandangan bahwa perencanaan terpusat boleh jadi efektif di masa-masa perang, saat masyarakat disatukan oleh nilai kebersamaan dalam menghadapi musuh yang mengacam; mereka juga bisa memaklumi ketika sebagian kebebasan mereka dikorbankan pemerintah demi mengalahkan musuh. Namun, kebijakan demikian jelas tidak jalan di dalam sistem politik demokratis pada masa damai. Alasannya: pasti akan terjadi ketidaksamaan nilai yang mengakitbatkan perbendaan pandangan di kalangan para politisi tentang bagaimana “rencana terpusat” itu mesti dijalankan. Perbedaan semacam ini akan berujung pada deliberasi yang tak habis-habisnya di parlemen.

Akibatnya kemudian, lanjut Hayek, terjadi suasana ketidakpastian politik, memburuknya keadaan ekonomi, meningkatnya ketidaksabaran massa akan pemenuhan tuntutan keadilan sosial seperti yang sebelumnya disuarakan kaum sosialis (yang kemudian ragu-ragu terhadap jalan otoriterisme untuk mewujudkan “rencana”). Lalu: Tuntutan terhadap “pemimpin kuat” muncul, seiring nyaringnya populisme ekstrem baik dari politisi Kanan (nasionalis-chauvinis) maupun Kiri (komunis) dan menyatunya kalangan massa lugu berpendidikan rendah membentuk partai bersama para politisi populis itu, merebut kekuasaan (secara demokratis maupun tidak) dan kemudian memberangus kebebasan dan bahkan nyawa jutaan manusia. Itulah jalan kekuasaan Nazisme di Jerman dan Fasisme di Italia, seperti yang ditunjukkan oleh Hayek. Karya Hayek ini, menurut Thee, memang dipengaruhi oleh pengalaman dia hidup di dua dunia yang memiliki kecenderungan serupa: Di Austria di mana dia berhadapan langsung dengan eksperimen Nazisme yang sedang naik daun di Jerman saat itu, dan Inggris di mana dia menyaksikan maraknya suasana “kolektivistik” yang mendorong intervensi pemerintah dan perencanaan terpusat.

Alan Clement: kelambanan dan ketamakan; perspektif Merkantilis dan klasik Tentang Human Nature Dan Pembangunan Ekonomi. Sejak awal kaum Merkantilist bekerja pada masalah kekayaan dan pembangunan ekonomi yang mengadopsi berbagai pendekatan yang banyak. Pertama, analisis mereka menyoroti masalah pentingnya sumber daya alam untuk menunjukkan bahwa mereka adalah yang diperlukan tetapi bukan suatu kondisi yang mencukupi pembangunan dan pengayaan. Bahkan lebih penting daripada lahan atau kesuburan, lokasi tanah sangat menentukan dalam menciptakan kekayaan, karena daerah yang terletak di persimpangan banyak saluran dan beragam komunikasi memberikan kontribusi lebih terhadap kekayaan negara dari sumber daya alam saja.

Kedua adalah factor Faktor manusia dan akhirnya lebih penting yang mempengaruhi pembangunan tidak hanya untuk kaum Merkantilis, tetapi juga untuk kaum liberal awal dan kemudian untuk banyak ekonom klasik. Lebih dari masalah volume kerja, itu adalah kebugaran penduduk dan kecenderungan untuk pekerjaan yang menentukan. Karena sebagian besar penulis dari merkantilis sampai Malthus pada abad kesembilan belas percaya bahwa orang-orang malas untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi, mereka tertarik dalam peran sumber daya alam dan lembaga lain yang mendorong kegiatan ekonomi.

Untuk beberapa ekonom, lingkungan alam bermusuhan, umumnya diperparah oleh tekanan demografi, sangat menentukan dalam mendorong kemajuan ekonomi. Pada saat yang sama, berarti kelembagaan tidak diabaikan: kerja wajib, terutama pada abad ketujuh belas; -upah rendah kebijakan yang disarankan oleh beberapa merkantilis; bertentangan dengan undang-undang miskin dibuat oleh penulis klasik pada akhir kedelapan belas dan di awal abad kesembilan belas. Sebaliknya, kemudian Kaum Merkantilis dan penulis klasik berpendapat bahwa pembinaan keserakahan – melalui pembukaan ekonomi ke pasar dunia untuk menciptakan kebutuhan baru – bisa menjadi bukti solusi yang lebih efektif daripada rasa lapar yang digunakan untuk mendorong orang-orang untuk bekerja.

Pada semua masalah ini, kaum Merkantilis dan liberal meramalkan tulisan ekonomi pembangunan kontemporer. Perdebatan diprakarsai oleh Boserup pada tahun 1960 pada efek tekanan demografis, perdebatan tentang pembukaan pasar dunia, adalah contoh dari keprihatinan yang banyak diperdebatkan dari abad ketujuh belas hingga abad kesembilan belas.

Sandrine Leloup: Dua alur pembangunan ekonomi menurut Adam Smith.

Itu komentator dalam tradisi dijelaskan oleh Brown (1997) sebagai revisionist yang merupakan pertama untuk mengklaim bahwa teori ekonomi Smith tidak optimis seperti yang kita mungkin telah cenderung untuk percaya. Memang, ini  kritikus pergi sejauh menantang gagasan bahwa Smith adalah liberal, dan menekankan fakta bahwa kendala alam bukan satu-satunya rem pada akumulasi modal. Menurut penulis Wealth of Nations, proyektor Investasi menyiratkan pemborosan modal dan oleh karena itu menghambat modal akumulasi. Sebaliknya, berbudi luhur, orang yang bijaksana, peduli persetujuan dari penonton memihak, unfailingly berkontribusi pada pertumbuhan kekayaan (Reisman 1976; Pesciarelli 1989; Prasch 1991; Sen 1993; Hollander 1999). Sudut pandang ini juga dimiliki oleh filsuf seperti Dwyer (1998) dan Griswold (1998), menurut siapa Smith adalah dari berpendapat bahwa peningkatan kekayaan nasional terhambat jika individu tidak berbudi luhur.

Sejalan dengan revisionis, saya pikir ada hubungan yang kuat antara moral dan ekonomi dalam pemikiran Smith. Saya menyatakan bahwa, untuk Smith, jika ada hubungan antara ekonomi dan kebajikan, itu tampaknya hanya berjalan dari kebajikan untuk ekonomi, bukan sebaliknya. Dalam hal ini, Teori Moral Sentiments, merupakan bagian penting dari pekerjaan Smith, diperlukan untuk pemahaman tentang konsep-konsep ekonomi yang dikembangkan di Wealth of Nations.

Namun demikian, ada beberapa hambatan untuk interpretasi revisionis. Pertama-tama, tradisi revisionis biasanya mengabaikan dimensi analitis ekonomi Smith. Ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi hasil melalui empat tahap berturut-turut pembangunan, masing-masing berdasarkan tertentu modus subsisten: berburu, pastoral, pertanian dan komersial. Itu masyarakat komersial – – yang terakhir adalah di mana kekayaan maksimal, tetapi sebagai pria bermoral, bangsa tetap cenderung ke arah penurunan. Development ment akan lebih cepat jika pelaku ekonomi yang berbudi luhur. Tapi apa komentator ini gagal untuk memperhitungkan adalah teknis faktor yang terlibat dalam pembangunan.1 ekonomi Apalagi jika kita mengikuti interpretasi revisionis, kita dipaksa untuk menyimpulkan bahwa investasi

Kesimpulan

Menurut Smith, perjalanan alami hal tidak berdiri bertentangan dengan Retrogade orde dalam hal pembangunan ekonomi. Yang kedua adalah hanya lebih lambat dari yang pertama. Intervensi lembaga memainkan peran penting dalam menghindari bencana. Apa yang Smith maksudkan dengan ini adalah bahwa lembaga yang mampu mencegah urutan retrograde /kemunduran dari turun menjadi memburuk, tapi intervensi mereka tidak cukup untuk mengembalikan sesuatu secara alamiah.

Andrea Manechi: Richardo dan Keuntungan Komparatif

David  Ricardo  terkenal  dengan  teori  Ricardian  menulis dalam  bukunya  The  priciples  of   political  economy  and  taxation pada  tahun  1912  –  1823.  David  Ricardo  dalam  analisanya mengenai  proses  terjadinya  pertumbuhan  ekonomi  menjelaskan sebagai berikut : Pada  awalnya  jumlah  penduduk  sangat  rendah  dan kekayaan  alam  masih  melimpah.  Pada  keadaan  seperti  ini  para pengusaha  dalam  menjalankan  usahanya  dengan  menggunakan kekayaan  alam  sebagai  faktor  produksi,  mengakibatkan  para  pengusaha  dapat  memperoleh  keuntungan  yang  tinggi.

Dengan  tingkat  keuntungan  yang  tinggi  itu  dapat  mempertinggi  tingkat modal  yang  dimiliki  yang  selanjutnya  dapat  mempertinggi tingkat  produktivitas  tenaga  kerja.  Dalam  perkembangan  selanjutnya  dengan  adanya  kenaikan  tingkat  produktivitas  ini  para  pekerja  mulai menuntut tingkat upah yang tinggi. Pada  tingkat  upah  yang  tinggi  mengakibatkan  penduduk bertambah  sedang  luas  lahan  tetap  dengan  demikian  mutu  tanah juga  mulai  menurun,  sewa  tanah  semakin  tinggi  mengakibatkan pendapatan  menurun  yang  selanjutnya  mengakibatkan  tingkat keuntungan  para  pengusaha  menjadi  berkurang.

Dengan  demikian modal juga menjadi berkurang, permintaan tenaga kerja berkurang, upah  turun.  Begitu  terus  sampai  tingkat  upah  mencapai  minim. Dalam keadaan seperti ini dikatakan dalam kondisi stationary state atau  perekonomian  dalam  keadaan  statis  (pertumbuhan  berhenti).

Kritik

Buku ini secara umum merefleksikan lahirnya pemikiran dan teori ekonomi dan praktiknya di Eropa yang sedang terjadi revolusi industry, khususnya di Inggris dan Prancis pada abad 16/17. Ulasan-ulasan yang dibahas dalam buku ini, lebih dominan pada lahir dan berkembangkanya pemikiran-pemikiran ekonomi klasik. Yang lebih mengedepankan ekonomi pasar bebas, yang lebih menekankan pada pembangunan ekonomi suatu negara dan perdagangan inetrnasional tanpa adanya campur tangan negara atau dalam istilah Adam Smith dengan . Laissez  Faire (berjalan secara alamiah) Pemikiran ekonomi klasik ini merupakan “antitesa” terhadap pemikiran ekonomi sebelumnya, kaum Merkantalisme, dimana dalam pembanguna ekonomi suatu negara dan perdagangan internasional, dibutuhkan kekuatan negara. Dan dalam konteks ini, campur tangan negara sangat diperlukan untuk melindungi “kepentingan nasional” dan kepentingan masyarakat.

Beberapa kritik atas buku ini:

Pertama, buku ini adalah, buku ini adalah kumpulan essay dari beberapa penulis (13 penulis). Meskipun dibingkai dalam konteks pembahasan “pembangunan ekonomi dan perubahan sosial dilihat dari perspektif teori ekonomi klasik dan modern, tapi 13 tulisan tersebut “terkotak-kotak” dan bersifat mandiri dari para penulisnya. Sehingga tidak terlihat adanya satu rangkaian yang lengkap untuk membahas sesuai dengan judul besar “Pembangunan Ekonomi dan Perubahan Sosial”.

Kedua, berbagai teori ekonomi lahir tidak saja dalam rangka pertarungan memberi makna terhadap realitas sosial, tetapi juga berimplikasi pada perubahan sosial karena pada dasarnya perubahan sosial dibangun di atas pemahaman teoritik dan suatu teori sangat berpengaruh dalam membentuk suatu program aksi dilapangan. Teori-teori pembangunan ekonomi yang dikuasa dalam buku ini dibangun dan refleksi dari kondisi sosial-ekonomi di belahan Eropa, khususnya di Inggris dan Perancis. Pemikiran dan teori ekonomi yang dibangun pada pemikirnya merupakan bacaan dan refleksi dari kondisi sosial-ekonomi di Eropa.  Sebagian besar dasar pemikiran dan teori ekonomi di Eropa dibangun atas dasar filsafat liberalism atau kebebasan individu. Dan secara kultural masyarakat Barat adalah masyarakat liberal. Bangun teori ekonomi liberal tersebut mungkin cocok dengan kondisi masyarakat Eropa, tapi belum tentu sesuai dengan masyarakat atau  negara-negara Asia yang lebih menekankan kolektivisme.

Ketiga, janji-janji kesejahteraan dan kemakmuran negara dan masyarakat yang dikampanyekan oleh teori ekonomi liberal yang kemudian menjadi pijakan lahirknya kapitalisme ala Adam Smith, ternyata kesejahteraan dan kemakmuran untuk segelintir elit, sementara kaum alit tetap menjadi korban pembangunan. Persaingan bebas telah melanhirkan kesenjangan sosial-ekonomi yang begitu lebar. Beberapa kritik atas teori Adam Smith ini, diantaranya adalah:

  • Argumen-argumen Smith didasarkan pada asumsi-asumsi yang tidak realistis. Smith mengatakan bahwa kekuatan penawaran dan permintaan akan membawa harga pada tingkat terendah. Hal ini benar jika tidak ada perusahaan yang memiliki kekuatan monopoli sedikit pun. Namun kenyataannya sekarang berbagai industry dikuasai bermacam-macam perusahaan besar yang mampu mengatur harga dan produksi sekehendak mereka,
  • Apabila Smith berkata bahwa setiap produsen akan meminimasi biaya untuk memaksimumkan profit, maka pada kenyataannya ada biaya yang tidak dicoba untuk diminimasi oleh perusahaan sebab mereka tidak perlu membayar biaya tersebut. Sebagai contohnya adalah polusi dan limbah, serta berbagai biaya eksternal lainnya,
  • Manusia tidak selalu bertindak untuk kepuasan dirinya sendiri seperti yang dikatakan Smith. Manusia secara teratur menunjukkan kepedulian terhadap kemanfaatan yang dirasakan orang lain. Nilai-nilai kejujuran dan keadilan turut mewarnai kehidupan pelaku ekonomi dalam menjalankan aktivitas ekonominya,.
  • Kritik dari Keynesian mengatakan bahwa peran pemerintah diperlukan untuk menyikapi pengangguran. Adapun isu pengangguran ini muncul dari sanggahan Keynes terhadap pendapat Smith yang mengatakan bahwa mekanisme pasar yang efisien akan menciptakan kondisi di mana tidak akan ada pengangguran sebab semua factor produksi akan terserap untuk memenuhi permintaan dengan seimbang. Bagaimana bisa?  Argumen Smith yaitu apabila ada sumber daya/factor produksi yang tak dimanfaatkan maka biaya penggunaannya akan turun dan mendorong produsen memperbesar produksi dengan menggunakan  sumber daya tadi. Sehingga, semua sumber daya termanfaatkan dan permintaan selalu bertambah menyesuaikan dengan jumlah produksi. Keynes mengatakan bahwa jumlah permintaan mungkin tidak akan cukup tinggi untuk mengimbangi semua produk yang dihasilkan. Permintaan, yang selanjutnya disebut permintaan agregat(rumah tangga, pengusaha, dan pemerintah) tidak seimbang karena ada sebagian yang dialokasikan untuk menabung. Pemerintah, menurut Keynes bisa mempengaruhi kecenderungan menabung masyarakat dengan mengatur tingkat bunga. Untuk itulah, peran pemerintah diperlukan untuk memaksimumkan kemanfaatan social.

Keempat, teori ekonomi klasik “ala Adam Smith” yang dikupas dalam buku ini, telah menjadi mainstream dalam pembangunan ekonomi, tidak hanya di Eropa juga di belahan dunia, tidak hanya di negara-negara Eropa tapi juga di Amerika dan Asia. Teori ekonomi klasik atau liberal saat ini telah menjadi teori dominan bahkan sudah menjadi idiologi ekonomi, yakni idilogi ekonomi kapitalisme. Dalam konteks ini, dominasi suatu paradigm pembangunan ekonomi terhadap paradigm pembangunan ekonomi yang lain, bukanlah karena urusan “salah atau benar”, yakni yang benar akan memenangkan paradigm pembangunan atau perubahan sosial yang lain.

Ritzer (1975) mengungkapkan bahwa kemenangan satu paradigma atas paradigma yang lain lebih disebabkan karena para pendukung paradigm yang menang inil lebih memiliki kekuatan dan kekuasaan (power) dari pengikut paradigm yang dikalahkan, dan sekali lagi bukan karena paradigm yang menang itu lebih benar atau “lebih baik” dari yang dikalahkan. Dengan demikian, dominasi atau berkuasanya suatu teori pembangunan ekonomi dan perubahan sosial, adalah lebih karena teori tersebut yang merupakan hasil atau dibentuk oleh paradigm tertentu, ada kaitannya dengan kekuatan dan kekausaan bagi penganut teori tersebut.

Kontribusi Buku

Buku ini setidaknya membantu kita atau pembaca dalam memahami konsep-konsep pembangunan ekonomi di suatu negara saat ini dengan melacak dasar teoritisnya. Para pembaca diajak untuk me-recall dasar filosofis dan teoritis konsep pembangunan ekonomi dan perubahan sosial yang terjadi di belahan dunia atau negara-negara di dunia. Dan konsep pembangunan ekonomi dominan (ekonomi liberal-kapitalisme) ini tak lepas dari pemikiran ekonomi klasik, dan dirujuk dari pemikiran Adam Smith.

Pemikiran dan teori ekonomi klasik –atau pasar bebas-, tidak hanya sekedar pemikiran atau teori tapi sudah menjadi idiologi dominan dalam pembangunan ekonmomi dan perubahan sosial yang terjadi di suatu negara. Teori ekonomi klasik ini juga telah memberikan kontribusi “positif” terhadap pembangunan ekonomi dan perubahan sosial suatu negara. Teori ekonomi klasil ini telah memberi kontribusi bagi kemajuan dan kemakmuran suatu negara. Kebaikan utama pasar bebas antara lain: Faktor-faktor produksi akan digunakan dengan efisien; Kegatan ekonomi dalam pasar diatur dan diselaraskan dengan efisien; Pertumbuhan ekonomi yang teguh akan dapat diwujudkan; Pelaku kegiatan ekonomi diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan ekonomi.

Namun demikian, keburukan dari sistem ekonomi pasar bebes, diantaranya adalah; Sulitnya melakukan pemerataan pendapatan, ada kecenderungan terjadinya eksploitasi kaum buruh oleh para pemilik modal; Munculnya monopoli yang dapat merugikan masyarakat.; Sering terjadi gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasi sumber daya oleh individu.; Akibat-akibat ekstern (externality) yang merugikan, yang terjadi apabila ongkos sosial melebihi ongkos pribadi.dalam konteks global, Kapitalisme telah membawa negara-negara Dunia Ketiga pada situasi penjajahan kolonialisme, atau fungsi yang serupa. Sistem ekonomi neo-liberal ini, saat ini sedang menjadi rujukan bagi negara-negara berkembang dalam menjalankan kebijakan pembangunannya. Pelaksanaan agenda liberalisme seperti kebijakan yang anti proteksi pada rakyat; jauhkan campur tangan pemerintah dalam perdagangan melelui deregulasi; tingkatkan perlindungan bagi investasi dan proses produksi; hilangkan subsidi pada rkayat; namun tegakkan hukum yang melindungi industry; serta kembangkan pemerintahan yang bersih (good governance) dan transparansi.[3]

Banyak orang beranggapan bahwa konsep atau teori pembangunan dengan berbagai varian-variannya seperti teori ekonomi kapitalisme klasik David Richardo dan Adam Smith, modernisasi, pertumbuhan, motivasi, struktural-fungsionalimse sampai pada teori pembangunan ekonomi modern dan berbagai teori sepadanannya adalah resep yang cukup menjanjikan bagi proses perubahan sosial dan perbaikan kondisi masyarakat.

Tapi kenyataannya yang terjadi adalah proses dehumanisasi yang membunuh kemanusiaan yang begitu parah. Masyarakat jadi korban-korban keganasan idiologi pembangunan ini. Hak-hak sosial-ekonomi, budaya masyarakat tercerabut dari akarnya. Konsepsi di atas persis seperti apa yang terjadi dalam praktik dan proses pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga, termasuk di Indonesia. Berbagai proyek pembangunan berskala besar dan mewah bermuculan bagaikan cendawan di musin hujan, tapi pada saat yang sama terajdi praktik dehumanisasi yang begitu masif terhadap kehidupan masyarakat. .

Paradigma pembangunan kapitalistime sudah nyata-nyata tidak mampu memberikan solusi perbaikan bagi kehidupan masyarakat, tetutama bagi sektor ekonomi usaha kecil atau lemah.  Sudah waktunya kita dan terutama para pembuat kebijakan pembangunan mendekonstruksi teori atau idiologi pembangunan dan varian-variannya, dan memunculkan konstruksi idiologi pembangunan alternatif yang lebih empowerment dan berpihak pada kepentingan masyarakat. .

Penutup

Buku ini menitikberatkan pada paradigm pembangunan ekonomi klasik atau neoklasik. Aliran ekonomi klasi dan neoklasi adalah rahimnya idiologi ekonomi pasar bebas atau kapitalisme. Faham dan praktik ekonomi pasar melalui liberalasasi perdagangan, dalam pandangan kritis dinilai tidak akan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan ekonomi negara, terutama negara-negara sedang berkembang atau miskin. Ekonomi pasar yang memberikan peran yang terbatas pada negara, akan menjemuruskan ekonomi negara pada keterpurukan. Krisis ekonomi dan moneter yang terjadi di berbagai negara, terutama negara-negara berkembang yang berdampak pada kehidupan masyarakat, merupakan salah satu akibat dari lepasnya kontrol peran negara atas ekonomi domestik suatu negara.  Ekonomi domestik negara sudah dikendalikan oleh kekuatan pasar. Dan kita semua tahu bahwa kekuatan pasar itu bukan sesuatu yang netral, berjalan alamiah, akan tetapi dikendalikan oleh negara-negara industry maju. Dengan kata lain, negara-negara industry maju memiliki mission terselurung dalam mengendalikan sistem ekonomi negara-negara di dunia.

Di tengah persaingan usaha yang tidak sehat, antara pasar modern dengan pasar, pemikiran Peter Evans saya pikir perlu dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai solusi menyelamatkan nasib pedagang dan pasar tradisional yang semakin tergerus. Evans mengatakan, perlu ada intervensi terhadap pasar yang sudah begitu “liar” dikuasai para pemodal besar. Pemda tidak mesti mengikuti selera ekonomi pasar yang kapitalistik tersebut secara keseluruhan. Pemerintah harus memproteksi kepentingan ekonomi kerakyatan, terutama para pedagang tradisional yang memiliki modal usaha pas-pasan.[4]

Dalam pandangan para ekonom pro pasar, ekonomi pasar atau liberalisasi ekonomi -yang salah satunya diwujudkan dalam bentuk pembangunan pasar modern, mallisasi, dan ritelisasi di suatu negara- dianggap sebagai jalan keluar bagi kemacetan pertumbuhan ekonomi bagi dunia ini, sejak awal oleh mereka dari kalangan ilmu sosial kritis dan yang memikirkan perlunya tata dunia ekonomi yang adil serta bagi kalangan yang melakukan pemihakan terhadap yang lemah, telah dicurigai sebagai bungkus baru dari imperalisme dan kolonialisme.[5]

Perubahan sosial akan terjadi ketika terjadi perubahan dalam pembangunan ekonomi. Dan ketika telah terjadi suatu perubahan sosial, -dengan berbagai latar penyebab dan pemercepatnya–, memicu pula berbagai percepatan dalam kehidupan ekonomi. Begitu seterusnya…. Bagaimana kita meresponsnya? (WK)

_______________________________

[1] Model pemikiran Adam Smith ini disebut Laissez Faire  yang berasal dari bahasa Perancis yang digunakan pertama kali oleh para psiokrat di abad ke 18 sebagai bentuk perlawanan terhadap intervensi pemerintah dalam perdagangan. Laissez-faire menjadi sinonim untuk ekonomi  pasar bebas yang ketat selama awal dan pertengahan abad ke-19 (Skousen, 2005). Secara umum, istilah ini dimengerti sebagai sebuah doktrin ekonomi yang tidak menginginkan adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian. “In economics, Laissez-faire means allowing industry to be free of government restriction, especially restrictions in the formof tariffs and government monopolies.” Adam Smith memandang produksi dan perdagangan sebagai kunci untuk membuka kemakmuran

[2] Pisiokrasi adalah sistem pertama ekonomi yang berkembang di Prancis pada abad 18. Pemimpin sistem ekonomi ini adalah seorang eknomi Prancis; Francois Quesnay (1694-1774). Kaum Pisiokrat mengatakan Kaum fisiokrat menganggap bahwa sumber kekayaan adalah sumber daya alam. Aliran ini dinamai aliran physiocratism, yaitu penggabungan dari dua kata physic (alam) dan cratain atau cratos (kekuasaan), yang berarti mereka yang percaya pada hukum alam (believers in the rule of nature).

[3] Mansour Faqih, 2001, Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi, INSIST Press – Pustaka Pelajar, Yogyakarta, halaman 207

[4]Peter Evans, Embedded Autonomy; State and Industrial Transformation, Princeton University Press, 1995, halaman 21

[5] Mansour Faqih, Ibid, halaman 211.

____________________________

Buku direview oleh Umar Solahudin (Universitas Muhammadyah Surabaya), dengan beberapa penyuntingan oleh WK.

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *