Modal Sosial dan Teknologi Informasi

Posted on

IMG-20161109-WA0019-200x135 Modal Sosial dan Teknologi InformasiSistem informasi mampu menampilkan pengetahuan hingga muncul kepercayaan dan modal sosial. Pengetahuan dipresentasikan memiliki akar yang jelas dalam realitas  karena terkait dengan obyek yang jelas, peristiwa, artifak dan orang-orang melalui proses interaksi. Kasus empiris ini menunjukkan bahwa teknologi informasi menghasilkan dan mempertahankan kepercayaan dan penerimaan yang berharga dalam kerjasama jangka panjang.

 

Buku Social Capital and Information Technology karya Marleen Huysman dan Volker Wulf ini membahas kaitan antara teknologi informasi dan modal sosial, keterlibatan warga, berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dan aplikasi teknologi informasi. Karenanya  buku ini dibagi dalam 3 bagian yang terdiri dari 14 bab: bagian pertama bertema Modal Sosial Dalam Keterlibatan Warga  (Social Capital in Civic Engagemen), bagian kedua bertema: Modal Sosial Dalam Berbagi Pengetahuan (Social Capital in Knowledge Sharing), dan bagian ketiga bertema “Aplikasi Teknologi Informasi (Applications of IT).

Teknologi Informasi dan Modal Sosial

Bagian pertama buku ini merupakan makalah hasil penelitian dari Marleen Huysman dan Volker Wulf sekaligus sebagai pengantar dalam melihat keterkaitan dan, peran dari modal sosial dan teknologi informasi dalam masyarakat. Semua bab dalam bagian ini secara umum menganalisis peran internet dalam aplikasi komputer dalam pembangunan masyarakat. Para peneliti juga menyelidiki aplikasi internet bekerja dan dampaknya terhadap kepekaan anggota dalam komunitas dalam agregasi masyarakat  yang berbeda.

Bagian (Chapter) 2 menyajikan studi kasus yang manarik yang dilakukan Anna-Liisa Syrjanen dan Karl Kuutti pada komunitas anjing pelacak dengan menggunakan sistem informasi. Studi ini mengikuti bagaimana komunitas didefinisikan  untuk dirinya sendiri dengan mengembangkan sistem informasi, bagaimana orientasi penyebaran anggotanya dan menjadi prinsip yang diterima. Kepercayaan, penerimaan dan keselarasan diperlukan kerjasama,  yang dihasilkan dan dipertahankan melalui interaksi sehari-hari antar anggota komunitas. Proses ini difasilitasi oleh sistem informasi.

Sistem informasi menjadi bagian integral dalam proses interaksi antar anggota komunitas yang akhirnya berfungsi sebagai infrastruktur penting sehari-hari, penentuan nasib sendiri, dan penegmbangan komunitas. Peran sistem informasi yang paling signifikan adalah bisa menampilkan pengetahuan yang relevan sehingga muncul kepercayaan dan modal sosial. Pengetahuan dipresentasikan memiliki akar yang jelas dalam realitas  karena terkait dengan obyek yang jelas, peristiwa, artifak dan orang-orang melalui proses interkasi. Kasus empiris ini menunjukkan bahwa teknologi informasi telah membantu untuk menghasilkan dan mempertahankan kepercayaan dan penerimaan yang merupakan elemen sangat berharga dalam kerjasama jangka panjang.

Bab 3, Anita Blanchard secara empiris meneliti efek dari komunitas virtual pada munculnya modal sosial Face to Face (FTF).  Komunitas virtual Multiple Sport Newgroup (MSN) adalah group baru bagi atlet yang tidak memiliki kantor secara fisik dan partisipasi anggota komunitas virtual ini dari seluruh dunia. Untuk memahami bagaimana partisipasi dalam MSN  mempengaruhi modal sosial FTF, jaringan interaksi sosial antar anggota baik di MSN dan FTF, Norma-norma perilaku di MSN dan FTF, dan kepercayaan (trust) satu sama lain di MSN dan FTF dengan menggunakan metode yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi aktif dalam MSN dapat berdampak positif terhadap modal sosial FTF, jika virtual dan jaringan sosial FTF interaksi yang tumpang tindih. Norma perilaku dan kepercayaan diantara anggota komunitas virtual FTF keduanya berpengaruh positif. Anggota yang aktif dalam komunitas FTF lebih kuat melekat pada  komunitas dibandingkan komunitas virtual. Jadi, studi kasus ini memberikan implikasi bahwa modal sosial komunitas virtual diperoleh melalui proses interaksi sosial di dunia fisik.

Bab ke-4 ditulis oleh Markus Rohde yang melihat bagaimana teknologi informasi mendukung pengembangan modal sosial di kalangan LSM (NGO) di Iran. Masyarakat sipil Iran  berkembang cepat saat ini. Ratusan LSM terlibat dalam proses jaringan organisasi sosial yang dikoordinir oleh dua pusat di Teheran. Bab ini berbagi pengalaman dengan proyek yang mendukung proses jaringan dengan cara sosioteknical.  Konsep modal sosial dan praktek komunitas  yang diterapkan untuk memberikan landasan teoritis untuk intervensi sosciotechnical. Pengenalan komunitas LSM Iran dilakukan melalui sistem teknologi informasi. Rohde menganalisis langkah-langkah pelatihan serta upaya yang ditujukan untuk perkembangan organisasi sosial dan teknologi. Dia menekankan mekanisme kedua desain sistem partispatif dan koordinasi jaringan dari e-komunitas. Bab ini menunjukkan bahwa proses teknologi informasi bisa menjadi pengantar menuju pengembangan modal sosial.

Bab 5, Anabel Quan-Haase dan Barry Wellman memberikan perspektif konseptual pada hubungan (relationship) antara Internet dengan pengembangan modal sosial dalam masyarakat. Mereka berpendapat bahwa internet telah diajukan sebagai katalis utama perubahan sosial: pandangan utopis memprediksi bahwa internet akan membangun kembali komunitas, sementara dystopian kawatir bahwa internet akan menyebabkan orang terisolasi dan menjauhkan orang dari keterlibatan mereka dalam komunitas.

Pandangan ini berdasar pada determinisme teknologi yang menganggap bahwa internet memainkan peran penting (dominan) dalam mengubah masyarakat. Dalam bab ini data dari beberapa studi tentang penggunaan dan dampak internet  pada modal sosial dianalisis.  Para penulis menempatkan analisis mereka dalam diskusi-diskusi akhir-akhir ini tentang penurunan modal sosial di Amerika Utara, termasuk perdebatan mengenai kontak sosial antara teman-teman dan kerabat, partisipasi komunitas, dan keterlibatan dalam politik.

Bukti empiris yang dikumpulkan Quan-Haase dan Wellman menunjukkan bahwa internet menempati posisi penting, tapi tidak dominan, place in everyday life,  yang menghubungkan teman-teman dan kerabat baik dekat maupun jauh. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan determinisme teknologi, internet adalah menambahkan ke—daripada mengubah atau mengurangi-modal sosial. Siapa yang menggunakan internet, sebagian besar mereka melanjutkan untuk komunikasi dengan  telephon dan tatap muka. Meskipun internet membantu menghubungkan komunitas yang jauh, namun juga menghubungkan orang-orang lokal.

 

1.3. Modal Sosial Dalam Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing)

Berbagi pengetahuan (knowledge sharing) merupakan salah satu metode dalam knowledge management (managemen penegtahuan) yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu organisasi, instansi atau perusahaan untuk berbagi pengetahuan, teknik, pengalamandan ide yang mereka miliki kepada anggota lainnya. Berbagi pengetahuan hanya dapat dilakukan bilamana setiap anggota memiliki kesempatan yang luas dalam menyampaikan pendapat, ide, kritikan dan komentarnya kepada anggota lainnya. Para ahli seperti Carl Davidson dan Phip Voss (2002) menyatakan bahwa mengelola knowledge sebenarnya merupakan bagaimana organisasi mengelola staf mereka, sebenarnya knowledge management adalah bagaimana orang-orang dari berbagai tempat yang saling berbeda mulai saling bicara.

Bagian II dari buku ini bertema Modal Sosial dan Berbagi Pengetahuan. Lima bab dari buku ini mengulas tentang managemen organisasi dalam berbagi pengetahuan baik di dalam maupun antar organisasi, peran modal sosial dalam Teknologi Irformasi Komunikasi dalam berbagi pengetahuan, Analisis modal sosial dalam desain instrument berbagi pengetahuan. Bab ini juga mengeksplorasi bagaimana  peran modal sosial dalam E-Commerce serta dampak modal sosial pada pembelajaran berbasis proyek.

Dalam bab 6, Rob Lintas dan Stephen P. Borgatti menggunakan analisis jaringan sosial dan penelitian kualitatif untuk mengeksplorasi kriteria yang digunakan individu untuk membangun hubungan dalam berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dengan individu lain.

Para penulis fokus pada dimensi berikut: kesadaran mencari informasi dari sumber yang terpercaya; waktu yang tepat dalam mengakeses; standart keamanan dalam hubungan (relationship); dan kesediaan sumber informasi untuk terlibat dalam memikirkan pemecahan masalah Bab berikutnya Bart van den Hooff, Jan de Ridder, dan Eline Aukema mengeksplorasi keinginnan berbagi pengetahuan, melihat peran modal sosial dalam teknologi informasi dan komunikasi dalam berbagi pengetahuan.

Literatur tentang modal sosial tampaknya lebih bersandar ke arah motivasi untuk berkontribusi dalam berbagi pengetahuan, padahal menurut penulis, semangat untuk berbagi pengetahuan mungkin lebih signifikan untuk pengembangan modal sosial. Para penulis juga mengusulkan bahwa TI memainkan peran tertentu dalam proses ini, karena menyediakan sarana komunikasi yang memberikan kontribusi untuk berbagi pengetahuan dengan dua cara: dalam hal meningkatkan efisiensi proses serta dalam hal meningkatkan kolektivisme dalam sekelompok pengguna. Teknologi informasi memiliki sejumlah karakteristik yang menyerukan perspektif baru tentang peran modal sosial dalam proses berbagi pengetahuan.

Dalam bab 8, Marleen Huysman melanjutkan diskusi tentang berbagi pengetahuan dalam organisasi. Dia secara eksplisit melihat celah sociotechnical dalam tradisi teknologi yang mendukung managemen pengetahuan. Huysman berpendapat bahwa kesalahan-kesalahan yang disebut generasi pertama manajemen pengetahuan dapat dielakkan dalam kasus di mana analisis modal sosial merupakan bagian dari persyaratan desain alat manajemen pengetahuan. Analisis modal sosial jaringan ‘sebagai bagian dari proses desain dan sebagai pengantar dalam proses managemen pengetahuan yang merespon spesifik persyaratan, dan akibatnya akan meningkatkan kemungkinan adopsi. Analisis tersebut melihat peluang struktural untuk berbagi pengetahuan, hubungan—yang berbasisis motivasi untuk berbagi pengetahuan, dan kemampuan kognitif untuk berbagi pengetahuan. Bab ini menawarkan pedoman untuk analisis modal sosial, sehingga berkontribusi terhadap desain alat manajemen pengetahuan.

Dalam bab 9, Charles Steinfield mengangkat diskusi tentang berbagi pengetahuan. Steinfield fokus pada peran Teknologi Informasi dalam mendukung pengembangan modal sosial, yang melampaui batas-batas organisasi.  Penekanannya adalah pada apa yang disebut pusat business-to-business (B2B). Ia berpendapat bahwa kelemahan utama dari sebagian besar hubungan B2B  adalah dominasi dari effisiensi yang terkait dengan layanan dan relatif kurangnya layanan untuk mengembangkan hubungan (relationship), yang relatif  sangat penting untuk pembentukan relasi bisnis yang stabil. Sebaliknya, bukti dari kesuksesan secara georgrafis yang didefinisikan sebagai cluster bisnis  memberi kesan bahwa lokasi dan kedekatan memfasilitasi pembentukan modal sosial  seperti hubungan antar perusahaan dengan cara yang tidak memerlukan sistem informasi interorganisasional. Dengan demikian, sistem interorganisasional (seperti B2B) kemungkinan akan kurang dimanfaatkan dalam kelompok yang didefinisikan secara geografis.

Hal ini menyimpulkan bahwa keberhasilan kolaboratif e-commerce dalam geographic business clusters harus mengakui serta melengkapi komunikasi dengan hubungan yang sudah ada sebelumnya yang telah meningkatkan kepercayaan dan perilaku kooperatif, daripada mencoba menjadi pengganti komunikasi dan relationship. Bagian II diakhiri dengan catatan kritis dari pihak  yang  optimis dengan karakteristik modal sosial dan manajemen pengetahuan dalam organisasi. Dalam bab mereka, Mike Bresnen, Linda Edelman, Sue Newell, dan Harry Scarbrough mempertanyakan anggapan bahwa akumulasi dari modal sosial berpengaruh positif dan proporsional terhadap kinerja dalam organisasi.

Argumen mereka didasarkan pada data yang dikumpulkan dari tiga proyek penelitian yang menggunakan model “pembelajaran berbasis proyek”. Temuan mereka mengindikasikan bahwa modal sosial akan memiliki dampak yang menguntungkan jika respek untuk mengakses infromasi dan sebaliknya, ada juga aspek yang kurang bermanfaat belum digali dalam literature empiris saat ini.

 

1.4.  Aplikasi Teknologi Informasi

Pada bagian ketiga buku ini menyajikan berbagai aplikasi dari teknologi informasi, seperti bagaimana para peneliti berbagi pengalaman dalam membuat aplikasi untuk tahap baru dalam managemen pengetahuan yang ditulis oleh Mark S. Ackerman dan Christine Halverson, Aplikasi Pearl of Wisdom (POW) suatu mutiara kebijaksanaan dalam Pengembangan modal sosial dalam lingkungan pembelajaran informal, ditulis oleh Robbin Chapman, Penemuan para ahli tentang pendekatan untuk mendorong modal sosial disajiakn oleh Andreas Becks, Tim Reichling, dan Volker Wulf dan Membina Kreativitas Sosial dengan Meningkatkan Modal Sosial ditulis oleh  Gerhard Fishcer, Eric Scharff, dan Yunwen Ye. Pada bab terakhir buku ini  membahas berbagai aplikasi komputer yang memiliki potensi untuk membantu pengembangan modal sosial. Pertanyaan utama di sini adalah bagaimana mendukung modal sosial melalui fungsi yang dirancang secara tepat?

Perlu dicatat bahwa aplikasi komputer dan desain pendekatan yang disajikan dalam empat bab buku ini menarik serta inovatif, namun untuk evaluasi (jangka panjang) pengaruhnya terhadap tingkat modal sosial di kalangan masyarakat pengguna masih belum tampak. Dalam bab 11, Mark S. Ackerman dan Christine Halverson menyajikan hasil survei bagian penting dari pekerjaan mereka sendiri. Mereka menyarankan bergerak dari metafora manajemen pengetahuan menuju  metafora baru, berbagi pengalaman, dan fokus pada kerjasama dalam aktifitas kehidupan sosial.

Para penulis menunjukkan bagaimana penerapan standar mekanisme untuk berbagi keahlian (pengalaman) dan knowledge management suffers dari berbagai macam masalah sosial. Mereka menyatakan bahwa masih ada kesenjangan yang cukup besar antara apa yang dilakukan secara sosial dan apa dipelajari dalam mempraktekkkan ilmu komputer  dan bagaimana mendukung secara teknis.

Mengatasi kesenjangan sociotechnical ini adalah salah satu tantangan yang dihadapi intelektual dalam desain penelitian yang beroreientasi pada modal sosial. Ackerman dan Halverson menjelaskan bagaimana mereka telah mencoba untuk menjembatani kesenjangan ini dalam pekerjaan mereka. Bab ini juga membahas peran modal sosial dalam konteks untuk pengembangan Kreativitas sosial Para penulis menunjukkan bagaimana kreativitas sosial dapat didukung oleh aplikasi komputer yang inovatif. Dalam mengembangkan kreativitas sosial, bagaimanapun, teknologi tepat guna harus dilengkapi dengan kepedulian terhadap modal sosial. Sistem ini menunjukkan pentingnya mendorong pengguna untuk bertindak sebagai kontributor aktif dan menggambarkan beberapa tantangan motivasi di mana sistem ini bergantung. Para penulis menyimpulkan bahwa tanpa penekanan yang sesuai pada modal sosial, dampak dari teknologi baru akan diabaikan.  Ackerman dan Halverson juga menjelaskan bagaimana mereka telah mencoba untuk menjembatani kesenjangan ini dalam pekerjaan mereka. Mereka mengklasifikasikan pendekatan mereka untuk mendorong berbagi keahlian dan modal sosial menjadi tiga jenis: ikatan kebersamaan timbal balik (repositori) dengan jaringan; mandiri dalam mencari atau menemukan keahlian; dan ruang sosial yang terbatas. Karya Ackerman dikembangkan pada aplikasi The Answer Garden dan dipresentasikan sebagai ikatan kebersamaan repositori (timbal balik) dan jaringan sosial. Sementara aplikasi The Answer Garden belum memecahkan masalah dan menemukan keahlian dalam suatu organisasi, bekerja lebih empiris dan teknis juga telah dilakukan pada gagasan mengembangkan bangunan secara mandiri dalam pencari keahlian. Akhirnya, penulis menggambarkan pekerjaan mereka di ruang sosial yang terbatas. Temuan mengenai desain dan penggunaan sistem pesan Zephyr bersama dengan alat komunikasi chatlike seperti Babble dan Loops secara  rinci dan juga dibahas.

Dalam bab 12, Robbin Chapman melihat dukungan diantara komunitas siswa sepulang sekolah. Seperti Ackerman dalam pendekatan The Aswer Garden, ia mengikat kebersamaan berbagi secara timbal balik (repositori) dengan dukungan teknis untuk jaringan sosial. Bab ini menguraikan sebuah studi di Computer Clubhouse, jaringan pusat teknologi di mana remaja berpartisipasi dalam kegiatan konstruksi-desain. Dalam Computer Clubhouse, modal sosial menyediakan kerangka yang mendukung proses pembelajaran melalui interaksi. Tantangan bagi komunitas seperti Computer Clubhouse telah menentukan bagaimana repositori bersama (kebersamaan timbal balik) dapat mendukung konektor, jaringan, dan perilaku timbal balik yang sangat penting untuk fungsi berkelanjutan mereka. Chapman telah memperhitungkan pentingnya modal sosial dalam desain setelan perangkat lunak (software), yang disebut Pearls of Wisdom (POW), untuk mendukung berbagi pengetahuan yang reelvan antara anggota komunitas. Aplikasi POW menawarkan fitur untuk memotivasi partisipasi individu dalam penciptaan dan menggunakan artefak pengetahuan. Dari sudut pandang desain, menarik untuk dicatat bahwa meskipun pendekatan dasarnya mirip dengan model Answer Garden, namun secara khusus apliaksiny berbeda. Sehingga komunitas khusus— seperti yang diasumsikan distribusi pengetahuan, insentif untuk berbagi pengetahuan, ketersediaan aktor, atau budaya homogenitas-telah menyebabkan implementasi yang berbeda. Ketika mengembangkan aplikasi untuk dampak  modal sosial, hal ini merupakan salah satu hal yang spesifik yang harus diperhitungkan.

Dalam bab berikutnya, Andreas Becks, Tim Reichling, dan Volker Wulf bekerja di luar kerangka kerja untuk lokasi keahlian dan penyesuaian (pencocokan). Sistem seperti ini dapat diterapkan untuk membuat aktor yang sedikit diketahui atau bahkan tidak diketahui satu sama lain tapi yang berbagi latar belakang yang sama, kepentingan, atau kebutuhan-menyadari satu sama lain. Terutama di ruang virtual, sistem tersebut dapat membantu mengembangkan modal sosial dalam mengkompensasi kurangnya konteks fisik. Para penulis menjelaskan kerangka kerja mereka, yang memungkinkan seseorang untuk menerapkan algoritma yang berbeda untuk mencocokkan data pribadi menggambarkan perilaku para aktor, latar belakang, spesifikasi-menyebutkan statusnya, atau kepentingan. Prinsip-prinsip desain untuk algoritma pencocokan, arsitektur umum untuk keahlian-matching, dan pelaksanaan fungsi ini disajikan. Para penulis juga menunjukkan bagaimana kerangka kerja mereka diterapkan untuk melengkapi platform pembelajaran dengan fungsi keahlian-matching. Dalam hal ini, pembentukan komunitas colearners (pembelajar) dapat didukung. Para penulis juga mendiskusikan tantangan masa depan di lapangan dari expertipertice matching (Pencocokan keahlian).

Pada bagian terakhir dalam bab 14, ditutup dengan tulisan Gerhard Fischer, Eric Scharff, dan Yunwen Ye hasil  survei pekerjaan mereka di lapangan terkait dengan kreativitas sosial. Mereka membahas peran modal sosial dalam konteks ini. Kreativitas sosial adalah hal penting dalam penelitian lapangan sejak masalah desain yang kompleks membutuhkan lebih banyak pengetahuan daripada hanya satu orang bisa memproses, dan pengetahuan yang relevan dengan masalah sering didistribusikan di antara pemangku kepentingan yang berbeda. Para penulis menunjukkan bagaimana kreativitas sosial dapat didukung oleh aplikasi komputer yang inovatif. Dalam mengembangkan kreativitas sosial, bagaimanapun, teknologi tepat guna harus dilengkapi dengan kepedulian terhadap modal sosial. Dalam bab ini, penulis pertama-tama menganalisis model sukses yang ada (open source dan berbagi pengetahuan melalui sebuah portal internet) untuk kreativitas sosial. Mereka kemudian mempresentasikan hasil kerja mereka sendiri dalam menciptakan aplikasi modal sensitif sosial (misalnya, Code Broker, Envisionment dan Discovery Collaboratory, dan coursea-as-seeds) yang mendukung desain kolaboratif, pemecahan masalah, dan pengetahuan co-construction. Sistem ini menunjukkan pentingnya mendorong pengguna untuk bertindak sebagai kontributor aktif dan menggambarkan beberapa tantangan motivasi di mana sistem ini bergantung. Para penulis menyimpulkan bahwa tanpa penekanan yang sesuai pada modal sosial, dampak dari teknologi baru akan diabaikan.

Bersambung…

Modal Sosial dan Teknologi Informasi: Debat dan Penelitian

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *