Modal Sosial, Manajemen Pengetahuan dan Peran Teknologi Informasi

Posted on

cybersocial2-200x135 Modal Sosial, Manajemen Pengetahuan dan Peran Teknologi InformasiModal sosial merupakan konsep sosiologi yang digunakan dalam beragam ilmu seperti bisnis, ekonomika, perilaku organisasi, politik, kesehatan masyarakat dan ilmu-ilmu sosial. Semua itu untuk menggambarkan adanya hubungan di dalam dan antarjejaring social, misalnya modal fisik atau modal manusia yang dapat meningkatkan produktifitas individu dan kelompok dengan menggunakan teknologi informasi.

Marleen Huysman dan Volker Wulf dalam bukunya, “Modal Sosial dan Teknologi Informasi”, membuka dengan perdebatan teori dan konsep tentang modal sosial dalam berbagai penelitian dan relevansinya. Ia memunculkan berbagai konsep modal sosial mulai dari perspektif sosiologi seperti Pierre Bourdieu, Robert Putnam, James Coleman, Fukuyama, dari tradisi Marxian, komunitarian, dan berbagai teoritisi yang mengembangkan modal sosial seperti Granovetter Portes, Cohen dan Pruzak, Narayan, Woolcook, dan sebagainya yang berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi.

[Baca artikel pendahulu: Modal Sosial dan Teknologi Informasi]

Modal sosial baru-baru ini telah memperoleh tempat yang penting dalam berbagai medan penelitian. Konsep ini awalnya diperkenalkan oleh sosiolog dan ilmuwan politik. Akhir-akhir ini, para sarjana dalam ilmu organisasi dan manajemen telah menunjukkan meningkatnya minat terhadap konsep Modal Sosial mengacu pada hubungan jaringan, goodwill, saling mendukung, bahasa bersama, norma-norma bersama, kepercayaan sosial, dan rasa yang membuat orang dapat memperoleh nilai dari. Hal ini dipahami sebagai perekat yang menyatukan agregat sosial seperti jaringan hubungan pribadi, masyarakat, daerah, atau bahkan seluruh negara.

Modal sosial adalah tentang nilai yang berasal dari menjadi anggota dari suatu masyarakat atau komunitas. Dengan menjadi anggota, orang memiliki akses ke sumber daya yang tidak tersedia untuk non-anggota. Penelitian tentang modal sosial bervariasi dengan jenis sumber daya yang diperoleh dari menjadi anggota dari jaringan sosial atau masyarakat. Modal sosial juga telah diadopsi baru-baru ini oleh para peneliti yang  tertarik pada topik pembelajaran organisasional-organisasi dan manajemen pengetahuan. Konsep modal sosial memiliki eksistensinya (lih Hanifan 1916), sejak menjadi topik menonjol dalam berbagai diskusi selama dua dekade terakhir.

Modal sosial menjadi kajian penting dalam bidang ilmu politik dan sosiologi dimulai dari kritik luas terhadap perspektif ekonomi neoklasik (dalam ekonomi makro) dalam kegiatan ekonomi (misalnya, Bourdieu 1986; Granovetter 1985; Uzi 1997) yang berasumsi bahwa: “Asumsi dasar analisis ekonomi deterministik melihat ekonomi sebagai sesuatu yang terpisah, dibedakanknya ruang lingkup dalam masyarakat modern, dengan transaksi ekonomi tidak didefinisikan oleh masyarakat atau kinship obligator tetapi oleh perhitungan rational dari kepentingan individu”. Dasar argument: bahwa dalam masyarakat industri berbeda dengan masyarakat yang praindustri karena dimensi sosial dari kegiatan ekonomi yang ter-subordinasi di bawah transaksi kekuatan pasar.

Konsep Modal Sosial dan Tokoh-Tokohnya  

Modal sosial merupakan konsep sosiologi yang digunakan dalam beragam ilmu seperti bisnis, ekonomika, perilaku organisasi, politik, kesehatan masyarakat dan ilmu-ilmu sosial. Semua itu untuk menggambarkan adanya hubungan di dalam dan antarjejaring sosial (wikipedia). Jejaring itu memiliki nilai. Seperti halnya modal fisik atau modal manusia yang dapat meningkatkan produktifitas individu dan kelompok maka modal sosial pun demikian pula.

Bourdieu mengembangkan konsep modal sosial selama tahun 1970-an dan tahun 1980-an. Bourdieu menekankan bahwa kelompok-kelompok sosial dapat menggunakan simbol-simbol budaya sebagai petunjuk-petunjuk pembagian, yang sekaligus memberi tanda dan membentuk posisi mereka dalam struktur sosial. Dalam studi monumentalnya tentang cita rasa dan pengelompokan di kalangan menengah Jerman, memberikan kekuatan besar pada indikator-indikator empiris modal sosial. Ia menunjukan hanya satu indikator modal sosial : keanggotaan dari klub-klub golf, yang ia anggap sangat membantu dalam meminyaki roda-roda bisnis (Bourdieu 1984:291).

Modal sosial adalah jumlah sumber-sumber daya, aktual atau virtual (tersirat) yang berkembang pada seorang individu atau kelompok individu karena kemampuan untuk memiliki suatu jaringan yang dapat bertahan lama dalam hubungan-hubungan yang lebih kurang telah diinstitusikan berdasarkan pengetahuan dan pengenalan timbal balik. (Bourdieu dan Wacquant 1992: 139). Bourdieu juga mencatat bahwa supaya modal sosial mereka dapat mempertahankan nilainya, individu-individu harus mengusahakannya. Pierre Bourdieu (1986), dalam bukunya The Forms Of Capital membedakan tiga bentuk modal yakni modal ekonomi, modal budaya, dan modal sosial. Dia mendefinisikan modal sosial sebagai “the aggregate of the actual or potential resources which are linked to possession of a durable network of more or less institutionalised relationships of mutual acquaintance and recognition”.

James Coleman (1988) berpendapat modal sosial secara fungsi adalah sebagai “a variety of entities with two elements in common: they all consist of some aspect of social structure, and they facilitate certain actions of actors…within the structure”. Dia mengatakan bahwa modal sosial memfasilitasi kegiatan individu dan kelompok yang dikembangkan oleh jaringan hubungan, timbal balik, kepercayaan dan norma sosial. Modal sosial, menurut pandangannya, merupakan sumberdaya yang netral yang memfasilitasi setiap kegiatan dimana masyarakat bisa menjadi lebih baik dan bergantung pada pemanfaatan modal sosial oleh setiap individu. Sosiologi pilihan rasional mengandaikan suatu model individualistik tingkat tinggi atas tingkah laku manusia, di mana setiap orang secara spontan melakukan apa yang akan memenuhi kepentingan-kepentingan mereka sendiri, tanpa memperhitungkan nasib orang lain. Konsep modal sosial bagi Coleman adalah suatu sarana untuk menjelaskan bagaimana orang berusaha untuk bekerja sama. Norma-norma, jaringan-jaringan sosial dan hubungan-hubungan di antara orang dewasa dan anak-anak yang membentuk nilai dalam pertumbuhan anak itu. Modal sosial ada di dalam keluarga, tetapi ada juga di luar keluarga, dan di dalam komunitas (Coleman 1990:334). Robert Putnam telah tampil sebagai penggagas modal sosial. Jika Bourdieu dan Coleman terkenal terbatas dalam dunia teori sosial dan sosiologi, kontribusi Putnam telah menembus batas-batas bidang profesinya dalam ilmu politik dan telah menjangkau publik yang jauh lebih luas.

Francis Fukuyama (2001:1) mendefinisikan modal sosial secara sederhana adalah “an instantiated informal norm that promotes co-operation between two or more individuals. By this definition, trust, networks, civil society, and the like, which have been associated with social capital, are all epiphenominal, arising as a result of social capital but not constituting social capital itself”.

Modal sosial memiliki peran yang sangat penting pada beberapa kelompok masyarakat dalam berbagai aktivitas. Namun Fukuyama juga mengatakan bahwa tidak semua norma, nilai dan budaya secara bersama-sama dapat saling melengkapi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sama seperti halnya modal fisik dan modal finansial, modal sosial juga bisa menimbulkan dampak negatif. Fukuyama (2001) mengatakan bahwa modal sosial dibangun oleh kepercayaan-kepercayaan antar individu. Rasa saling percaya dibentuk dalam waktu yang tidak sebentar serta memerlukan proses-proses sosial yang berliku.

Modal sosial di sini menunjuk pada segi-segi organisasi sosial seperti kepercayaan, norma-norma dan jaringan-jaringan sosial yang dapat menyempurnakan efisiensi dengan memfasilitasi aksi-aksi yang terkoordinasi (Putnam 1993a: 167). Definisi Putnam tentang modal sosial berubah sedikit sekitar tahun 1990-an. Pada tahun 1996, ia menyatakan bahwa, dengan modal sosial yang saya maksudkan adalah corak-corak kehidupan sosial jaringan-jaringan, norma-norma dan kepercayaan yang menyanggupkan para partisipan untuk bertindak bersama lebih efektif untuk mengejar tujuan-tujuan bersama(Putnam 1996:56). Ide pokok dalam teori modal sosial adalah bahwa jaringan-jaringan sosial mempunyai nilai kontak-kontak sosial mempengaruhi produktivitas dari individu-individu dan kelompok-kelompok (Putnam 2000: 18-19).

Kemudian Putnam memperkenalkan suatu distingsi di antara dua bentuk dasar dari modal sosial, menjembatani (inklusif) dan mengikat (eksklusif). Modal sosial yang mengikat cenderung memperkuat identitas eksklusif dan mengutamakan homogenitas. Modal sosial yang menjembatani orang-orang yang melintasi batasbatas sosial yang berbeda-bedakan. Setiap bentuk berperan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda. Modal sosial yang mengikat adalah baik untuk mendasari resiproksitas sepesifik dan menggerakkan solidaritas, sambil berperan sebagai sejenis perekat kuat dalam meningkatkan loyalitas yang tinggi dalam kelompok dan memperkuat identitas-identitas spesifik. Ikatan-ikatan yang menghubungkan berperan sebagai penghubung kepada aset-aset eksternal untuk difusi informasi dan menyediakan suatu sociological WD-40 yang dapat menghasilkan identitas dan resiprosiktas yang lebih luas (Putnam 2000: 22-3).

Modal sosial mengacu pada stok, kepercayaan norma-norma sosial dan jaringan bahwa orang dapat memanfaatkan untuk memecahkan masalah-masalah umum. Sedangkan modal fisik mengacu pada obyek fisik, dan modal manusia mengacu pada sifat individu seperti pengetahuan, modal sosial menunjukkan hubungan antara individu dan nilai yang timbul dari hubungan ini. Ini terdiri dari jaringan sosial dan norma timbal balik dan kepercayaan yang timbul dari interaksi sosial. modal sosial adalah suatu persediaan sambungan aktif antara orang-orang : kepercayaan, saling pengertian, dan nilai-nilai bersama dan perilaku yang mengikat orang, anggota jaringan manusia dan masyarakat dan membuat tindakan co-operatif mungkin (Cohen & Prusak 2001).

Modal sosial merupakan konsep sosiologi yang digunakan dalam  beragam ilmu seperti bisnis, ekonomi, perilaku organisasi, politik, kesehatan masyarakat dan ilmu-ilmu sosial. Semua itu untuk menggambarkan adanya hubungan di dalam dan antarjejaring sosial (wikipedia). Jejaring itu memiliki nilai. Seperti hal modal fisik atau modal manusia yang dapat meningkatkan produktifitas individu dan kelompok, maka modal sosial pun demikian pula suatu komunitas virtual adalah jaringan sosial individu yang berinteraksi melalui media tertentu dalam virtual berbasis internet, melintasi batas-batas geografis dan politik untuk mengejar kepentingan bersama atau tujuan-tujuan. Dalam bukunya “Social Capital and Development: The Coming Agenda”, Francis Fukuyuma (1996). Fukuyama mengupas pentingnya modal sosial berbasis pada kepercayaan. Dalam keseharian, masyarakat berinteraksi dengan modal sosial yang kuat yang ditunjukkan dengan suasana saling percaya antarwarga.

Persoalannya, fakta yang ada di negara-negara berkembang menunjukkan kecenderungan bahwa dampak positif modal sosial dari mekanisme outward looking tidak berjalan seperti yang diidealkan. Walaupun asosiasi dibangun oleh masyarakat dengan keanggotaan yang heterogen dan dibentuk dengan fokus dan jiwa untuk rnengatasi problema sosial-ekonomi masyarakat (problem solving oriented), tetapi tidak mampu bekerja secara optimal. Buruknya unsur-unsur penopang seperti trust, dan norma-norma yang telah mengalami kehancuran akibat represi rezim otoriter yang pengaruhnya cukup dalam pada kehidupan masyarakat, modal sosial yang terbentukpun menjadi kurang sekuat dan seberpengaruh seperti yang diharapkan. Akibatnya, tidak memiliki dampak yang signifikan bagi perbaikan kualitas hidup individu, maupun bagi perkembangan masyarakat dan bangsa secara lebih luas.

Dimensi Modal Sosial

Modal sosial berbeda dari modal lainnya. Apabila modal manusia (human capital) dapat dilihat dan diukur dari pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai oleh seseorang maka modal sosial hanya dapat dirasakan dari kapabilitas yang muncul dari kepercayaan umum dalam sebuah masyarakat atau bagian-bagian di dalamnya.  Menurut Fukuyama (2001) modal sosial ditransmisi melalui mekanisme-mekanisme kultural, tradisi atau kebiasaan sejarah. Modal sosial dibutuhkan untuk menciptakan komunitas moral yang tidak bisa diperoleh atau dibentuk seperti dalam pembentukan modal manusia. Penanaman dan pengembangan modal sosial memerlukan pembiasaan terhadap norma-norma moral sebuah komunitas dan dalam konteksnya sekaligus mengadopsi kebajikan-kebajikan seperti kejujuran, kesetiaan dan kemandirian. Dimensi Modal sosial menurut Nahapiet dan Ghoshal (1998; dalam Huysman: 2004):

  • Dimensi struktur; intansi, stuktur jaringan
  • Dimensi kognitif; Bahasa dan kultur
  • Dimensi relational; yang bekerja untuk mutual trust dan reciprocity.

Sementara itu, Menurut Cohen dan Prusak L., modal sosial adalah setiap hubungan yang terjadi dan diikat oleh suatu kepercayaan (trust), saling pengertian (mutual understanding) dan nilai-nilai bersama (shared value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat kemungkinan aksi bersama dapat dilakukan secara efisien dan efektif. Sedangkan Woolcock dan Narayan (2000), memperkenalkan 4 perspektif dalam mengkaji modal sosial dan pembangunan yaitu: komunitarian (communitarian view, jaringan (network view), kelembagaan (institutional view), sinergi (sinergy view).

Pandangan Komunitarian

Perspektif atau pandangan komunitarian cenderung melihat modal sosial sama dengan organisasi sosial biasa seperti perkumpulan, asosiasi, dan kelompok masyarakat sipil. Pandangan komunitarian memberi tekanan pada partisipasi anggota dalam berbagai kegiatan kelompok sebagai ukuran modal sosial. Semakin besar jumlah anggota suatu perkumpulan atau asosiasi semakin baik modal sosial dalam komuntas tersebut. Modal sosial yang besar akan memberi dampak positif terhadap kesejahteraan komunitas. Pandangan ini melihat bahwa modal sosial mempunyai kontribusi yang cukup penting melepaskan anggota komunitas dari kemiskinan (Woolcock 2000).

Sisi Gelap Modal sosial

Dalam pengantar buku ini, Huysman dan Volker tidak hanya mengkaji modal sosial dalam arti yang positif. Sebagian besar penelitian tentang modal sosial dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi, menempatkan modal sosial pada sisi yang positif, dimana perkembangan teknologi informasi cenderung meningkatkan peran modal sosial seperti, ikatan-ikatan sosial, norma, kepercayaan (trust), jaringan dalam komunitas. Namun dalam tulisan ini huysman dan beberapa peneliti juga melihat sisi lain yaitu sisi gelap dari modal sosial. Berbagai sisi gelap dari modal sosial dari tulisan hasil penelitian ini antara lain:

  • Adanya pembatasan yang diberlakukan pada aktor yang tidak masuk jaringan (Portes 1998; Cohen dan Prusak 2001);
  • Kurangnya persepsi mengenai perubahan lingkungan di luar jaringan (Cohen dan Prusak 2001);
  • Munculnya dinamika sosial yang negatif dalam jaringan dan meratakan bawah norma (Portes 1998);
  • Adanya ketergantungan pada aktor pusat dan loyalitas mereka terhadap jaringan (Uzi 1997);
  • Adanya pembatasan otonomi dan individualitas yang dihasilkan dari tuntutan kesesuaian (Portes 1998);
  • Munculnya perilaku ekonomi rasional karena rasa solidaritas terhadap mitra-mitra dalam jaringan (Portes dan Sensenbrenner 1993);
  • Dan perilaku ekonomi rasional karena keengganan pribadi (Uzi 1997).

Namun perlu diperhatikan sisi negatif modal sosial. Modal sosial tidak selamanya menguntungkan tapi dapat merugikan orang yang bukan kelompok. Misalnya, modal sosial yang terbentuk di kalangan kriminal atau kelompok preman dapat dianggap sebagai modal sosial yang merugikan (perverse social capital) yang menghambat pembangunan (Woolcock 2000).

Kehadiran kelompok kriminal yang berlebihan dapat membuat para investor atau pengusaha merasa tidak aman sehingga mereka mencari tempat yang lebih baik bagi investasi. Kejahatan yang terorganisir selain menyebabkan korban jiwa, dapat pula menciptakan situasi yang tidak menentu bagi pengusaha. Dengan kata lain modal sosial negatif menciptakan biaya yang lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh sehingga para investor menghindari lokasi tersebut.

Tipologi Modal Sosial

Mereka yang memiliki perhatian terhadap modal sosial pada umumnya tertarik untuk mengkaji kerekatan hubungan sosial dimana masyarakat terlibat didalamnya, terutama kaitannya dengan pola-pola interaksi sosial atau hubungan sosial antar anggota masyarakat atau kelompok dalam suatu kegiatan sosial. Bagaimana keanggotaan dan aktivitas mereka dalam suatu asosiasi sosial merupakan hal yang selalu menarik untuk dikaji. Dimensi lain yang juga sangat menarik perhatian adalah yang berkaitan dengan tipologi modal sosial, yaitu bagaimana perbedaan pola-pola interaksi berikut konsekuensinya antara modal sosial yang berbentuk bonding/ exclusive atau bridging atau inclusive. Keduanya memiliki implikasi yang berbeda pada hasil-hasil yang dapat dicapai dan pengaruh-pengaruh yang dapat muncul dalam proses kehidupan dan pembangunan masyarakat.

Modal Sosial Terikat (Bonding Social Capital)

Di dalam bahasa lain bonding social capital ini dikenal pula sebagai ciri sacred society. Menurut Putman (1993), pada masyarakat sacred society dogma tertentu mendominasi dan mempertahankan struktur masyarakat yang totalitarian, hierarchical,dan tertutup. Di dalam pola interaksi sosial sehari-hari selalu dituntun oleh nilai-nilai dan norma-norma yang menguntungkan level hierarki tertentu dan feodal.

Modal Sosial yang Menjembatani (Bridging Social Capital)

Mengikuti Colemen (1999), tipologi masyarakat bridging social capital dalam gerakannya lebih memberikan tekanan pada Dimensi fight for (berjuang untuk). Yaitu yang mengarah kepada pencarian jawaban bersama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kelompok (pada situasi tertentu, termasuk problem di dalam kelompok atau problem yang terjadi di luar kelompok tersebut). Pada keadaan tertentu jiwa gerakan lebih diwarnai oleh semangat fight againts yang bersifat memberi perlawanan terhadap ancaman berupa kemungkinan runtuhnya simbul-simbul dan kepercayaan-kepercayaan tradisional yang dianut oleh kelompok masyarakat. Pada kelompok masyarakat yang demikian ini, perilaku kelompok yang dominan adalah sekedar sense of solidarity (solidarity making).

Bentuk modal sosial yang menjembatani (bridging capital social) umumnya mampu memberikan kontribusi besar bagi perkembangan kemajuan dan kekuatan masyarakat. Hasil-hasil kajian di banyak negara menunjukkan bahwa dengan tumbuhnya bentuk modal sosial yang menjembatani ini memungkinan perkembangan di banyak Dimensi kehidupan, terkontrolnya korupsi, semakin efisiennya pekerjaan-pekerjaan pemerintah, mempercepat keberhasilan upaya penanggulangan kemiskinan, kualitas hidup manusia akan meningkatkan dan bangsa menjadi jauh lebih kuat.

Konsep-Konsep Penting

Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)

Managemen pengetahuan adalah bagaimana mengelola dinamika penggunaan pengetahuan yang terintegrasi dengan pengetahuan eksplisit.  Managemen pengetahuan (knowledge management) dapat dilihat sebagai keinginan mengembalikan hakekat “pengetahuan” dan menghindari pandangan bahwa penegathaun adalah benda mati. Di dalam kehidupan berorganisasi, baik untuk bisnis maupun non-bisnis, maka pengetahuan selalu dikaitkan dengan potensi nilai yang ada pada berbagai komponen atau proses (aliran) keseluruhan “modal” dalam organisasi tersebut. “Modal” di sini bukan hanya investasi dan uang, namun juga “modal Sosial” . Ada 3 proses knowledge management yang didukung oleh media sosial diantaranya: knowledge evolution, knowledge use/reuse, knowledge sharing.

 Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing)

Knowledge Sharing adalah aktivitas pertukaran knowledge antar orang, teman, keluarga, komunitas atau organisasi . Proses knowledge sharing didukung oleh knowledge sharing system. Knowledge sharing system sendiri merupakan sistem yang memungkinkan anggota organisasi untuk mengakusisi tacit knowledge dan explicit knowledge dari anggota yang lain. Knowledge sharing melakukan sharing dengan cara yang tidak dimaksud dengan banyak petunjuk tanpa objek yang jelas.

Komunitas Virtual (Virtual Community)

Porter mendefinisikan virtual community (komunitas virtual) sebagai sekumpulan individu atau rekan bisnis yang berinteraksi seputar minat yang sama, di mana interaksi ini didukung dan dimediasi oleh teknologi dan diatur oleh beberapa moderator ataupun aturan tertentu. McQuail[mengutip Lindlof dan Schatzer (1998) mengatakan bahwa virtual community terbentuk karena adanya orang yang memiliki kesamaan minat dan sering berinteraksi satu sama lain. Virtual community ini dapat terbentuk dari berbagai media sosial dan jejaring sosial misalnya, Facebook.

Baca tulisan saya terdahulu tentang komunitas virtual, “Mengeksplorasi Komunitas Virtual di Arab Saudi

Menurut Yap dan Bock seperti dikutip dalam Akkinen, komunitas virtual berada di dalam internet memiliki aktivitas yang didukung dengan komputer berteknologi informasi. Komunitas virtual menfokuskan diri di dalam komunikasi dan interaksi yang dibentuk oleh partisipasi dan mengkhususkan pada hubungan antara anggota di dalam komunitas virtual dan peran dari teknologi informasi.

Di era masyarakat informasi, transaksi ekonomi tidak selalu dalam bentuk jual beli tatap muka di pasar, namun bisa pula terjadi dalam bentuk dunia maya. Di kalangan komunitas virtual, hubungan sosial antara penjual dan pembeli dilakukan dengan bantuan media teknologi diantara lain internet, sms , bahkan telepon. Dengan adanya internet, transaksi ekonomi saat ini tidak harus selalu dilakukan secara langsung antara penjual dan pembeli yang berlokasi di tempat yang berbeda kini dengan mudah bisa melakukan transaksi ekonomi serta menyepakati kontrak jual beli melalui interaksi sosial di dalam komunitas virtual. Internet telah berkembang dalam dua dasa warsa terakhir hingga saat ini, terlebih dengan semakin banyak sekolah dan instansi pendidikan lainya yang mewajibkan muridnya untuk mengenal internet, dan juga banyak situs jejaring sosial dan online shop yang membuat masyarakat banyak yang menjadikan internet sebagai suatu kebutuhan (Laohapensang,2009).

Berkembangnya internet banyak hal baru yang timbul dari berkembangnya internet tersebut, salah satunya adalah pembelian atau belanja barang ataupun jasa secara online berbelanja secara online telah menjadi alternatif cara pembelian barang ataupun jasa, penjualan secara online berkembang baik dari segi pelayanan, efektifitas, keamanan, dan juga popularitas. (Laohapensang,2009). Perubahan teknologi komunikasi yang sangat cepat dan mengglobal, telah memberikan kesempatan para pemasar yang lebih luas dan efesien. Pertimbangan dunia bisnis saat ini perusahaan menggunakan internet sebagai cara untuk menjangkau pelanggan secara global, telah membawa beberapa dampak transformasional pada beberapa aspek kehidupan termasuk perkembangan dunia bisnis (Laohapensang, 2009). Internet merupakan sarana elektronik yang dapat dipergunakan untuk berbagai aktivitas seperti komunikasi, riset, transaksi bisnis dan lainnya. Sejak diperkenalkan pada tahun 1969 di Amerika Serikat, internet mengalami perkembangan yang luar biasa. Apalagi dengan diperkenalkannya teknologi World Wide Web (www), semakin menambah sempurnanya teknologi tersebut (McLeod dan Schell, 2004:64).

Teknologi internet menghubungkan ribuan jaringan komputer individual dan organisasi di seluruh dunia. Setidaknya ada enam alasan mengapa teknologi internet begitu populer. Keenam alasan tersebut adalah internet memiliki konektivitas dan jangkauan yang luas; dapat mengurangi biaya komunikasi; biaya transaksi yang lebih rendah, dapat mengurangi biaya agency, interaktif, fleksibel, dan mudah, serta memiliki kemampuan untuk mendistribusikan pengetahuan secara cepat (Laudon, 2000:300). Tetapi seiring perkembangan zaman, Kemajuan Pesat di bidang ICT (Information and Communication Technology) melahirkan masyarakat informasi dalam dunia maya yang disebut komunitas virtual (virtual community) . Salah satu yang meresap sebagian besar jenis komunitas virtual mencakup layanan jaringan sosial, yang terdiri dari berbagai komunitas online. Internet sejak pertengahan 1990-an juga telah menumbuhkan perkembangan komunitas virtual mengambil bentuk layanan jaringan sosial dan komunitas online. Sifat dari komunitas tersebut beragam, dan manfaat yang Rheingold gambarkan tidak selalu menyadari, atau dikejar, oleh banyak orang. Di dalam suatu komunitas virtual hubungan sosial disebut Interaksi online merupakan efektif sebuah penggabungan dari email, chatting dan bentuk komunikasi publik (diskusi forum dan newsgroup). Akibatnya, tujuan utama dari komunitas virtual adalah cermin yang dari tatap muka masyarakat. Howard Rheingold mendefinisikan komunitas online sebagai agregasi sosial yang muncul dari bersih ketika cukup banyak orang melakukan diskusi publik yang cukup lama, dengan perasaan manusia yang memadai untuk membentuk web dari hubungan pribadi (Rheingold, 1993: 5).

Rheingold melihat masyarakat sebagai perluasan dari interaksi online berkepanjangan. Dengan kemajuan ini datang gagasan bahwa definisi masyarakat dalam hal komunikasi online jauh lebih luas dari itu yang diterapkan dalam masyarakat tatap muka (Whittle, 1998: 241). Komunitas virtual itu tak terbatasi (borderless) oleh keterpisahan tempat, waktu, ideologi, status sosial ekonomi maupun pendidikan. maka hubungannya jauh lebih fleksibel karena bisa berhubungan kapan saja dan dari mana saja. Tak ada lagi zona proksemik seperti pernah digagas Edward Hall, yang membagi antara jarak intim, jarak personal, jarak sosial, jarak publik. Di era digitalisasi ini, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology atau ICT) di dunia telah semakin luas dan berkembang. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan ICT yang tidak terbatas pada segala bidang. ICT ini dipergunakan karena memiliki kelebihan-kelebihan yang menguntungkan dibandingkan dengan menggunakan cara tradisional dalam melakukan interaksi. Kelebihan dari ICT ini adalah dalam hal kecepatan, kemudahan dan biaya yang lebih murah. Kehadiran berbagai forum di ICT telah membawa dampak perubahan perilaku para pemakai internet. Salah satu contoh adalah munculnya forum/blog di internet yang telah melahirkan media online yang interaktif, komunikatif, efektif, murah, dan gratis bagi siapa saja.

Seorang pengamat web, Steven Streight (2004) mengatakan bahwa forum/ blog membuat orang yang tidak paham bagaimana caranya membuat situs internet  mempunyai akses untuk merancang web content guna mengkomunikasikan ide dan produk mereka. Ada banyak jaringan sosial di mana modal sosial berada. Beberapa ini adalah jaringan keterlibatan masyarakat, asosiasi klub dan koperasi, lingkungan, dan komunitas virtual. Bahkan, gagasan tentang modal sosial menunjukkan sumber tersembunyi abstrak, yang dapat diakumulasikan, disadap, dicapai ketika orang nilai hubungan antara satu sama lain, berinteraksi, berkolaborasi, belajar dan berbagi gagasan.

Dalam buku ini, perkembangan internet pada akhirnya telah banyak melahirkan komunitas virtual yang memakai world wide web dalam bentuk forum diskusi untuk wadah para anggota komunitas virtual seperti tulisan Anna-Liisa Syrjanen pada bab 2 buku ini yang mendeskripsikan berkembangnya Komunitas pencinta Anjing Pelacak (KBD; Karnelian Bear Dogs) yang menjalin hubungan dan berkomunikasi dengan para pecinta anjing pelacak di seluruh dunia dengan memanfaatkan internet, kemudian  tulisan Anita Blancard (bab 3) terkait Komunitas virtual Face To Face dan Multiple Sport Newgroup (MSN) yaitu komunitas virtual para atlet di seluruh dunia, Demikian juga komunitas LSM di Teheran Iran, tulisan Markus Rohde (bab 4) tentang perkembangan komunitas LSM di Teheran Iran yang berkembang sangat pesat setelah teknologi informasi berkembang di Iran yang berdampak pada menguatnya modal sosial di antara komunitas yang terjalin melalui teknologi informasi.

 

Bersambung...

Internet, Modal Sosial dan Pergerakan Sipil

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *