Mengenal K-Strategies Dalam Analisis Wacana Kritis

Posted on

Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA) berhubungan dengan wacana sosial, wacana publik, wacana dominan (mainstream) yang diproduksi atas nama kekuasaan, oleh power holders (pemegang kuasa).

Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA) tertarik pada wacana tentang kekuasaan (power), dominansi elit secara simbolik (dominance of symbolic elite) yang memiliki akses spesifik pada wacana publik. Karenanya, CDA adalah contextual knowledge strategies. CDA menganalisis kondisi sosial, sosio-kognitif  pada subjek personal, interpersonal maupun kultural, yang keduanya ini mempengaruhi produksi wacana dan mengonstruksi wacana.

Baca artikel saya sebelum ini, “Bahasa dan Interpretasi Teks Dalam CDA”

Terkait wacana publik, dalam Analisis Wacana Kritis, Wodak memperkenalkan K-Strategies, yaitu wacana publik berbasis asumsi bahwa pengetahuan dapat diartikan sebagai belief yang dibentuk oleh pengetahuan publik (public knowledge), menggunakan  pengetahuan  aktual yang diyakini oleh orang banyak secara meluas. Yang terjadi adalah terjadinya produksi wacana yang terlalu eksplisit, orang-banyak dianggap tidak memiliki suatu jenis pengetahuan tertentu, sehingga hanya ada satu pengetahuan yang hanya boleh disampaikan oleh elit.

Basis sosio-kognitif sebagai “arena” atau lapak dari wacana, dari konsepsi K-Strategies ini, berguna dalam pembentukan strategi sosio-kognitif untuk mengelola wacana, berbasis kondisi sosial kultural, maupun pengetahuan sosial politik historis  dan pengetahuan informasi baru, yang dapat dikembangkan untuk membentuk wacana pada platform sosial maupun politik secara spesifik.

Tegasnya, K-Strategies merupakan kondisi simbolik elit yang memaksakan pengetahuan dan belief mereka sendiri untuk dapat diterima secara atau sebagai pengetahuan umum.

Wacana dan pembentukan wacana dipengaruhi oleh faktor struktural (belief, asumsi, pikiran, nilai, pengetahuan, pengetahuan publik, prinsip kohesi dan integrasi sosial) dan kultural (sosio-kultural historis) pada dataran arena sosial-politik, atau dalam terminologi Bourdieu adalah habitus yang dipertemukan dalam arena untuk membentuk praktik sosial. Dalam pembentukan wacana ini pula, juga dipengaruhi oleh faktor dominan atau dominansi (elit kuasa, wacana dominan) atau doxa (Bourdieu), genealogi dan episteme (Foucault). Tak jarang, pembentukan  wacana juga melibatkan utilisasi kesadaran palsu. Ketika masing-masing individu dengan seperangkat habitus dan subjektivitas ketika berinteraksi dengan individu lain yang juga membawa seperangkat habitus dan subjektivitasnya dalam sebuah arena yang memungkinkan terjadinya pertemuan (pertarungan?) sosial secara dialektik, intersubjektivitas (fenomenologi), maka, bagaimanakah wacana dapat dibaca? Ditafsirkan? Bagaimanakah CDA dirumuskan? Bagaimana menggunakan tafsir (interpretasi) dalam kerangka kerja CDA? Metode analisis apa yang sesuai dengan CDA? Bagaimanakah hermeneutika-fenomenologi digunakan dalam CDA? Apakah CDA memiliki rumusannya sendiri ataukah memungkinkan kolaborasi dengan disiplin (teori, konsep) lain semisal konsep habitus – arena – kapital simbolik – doxa maupun genealogi atau hermeneutika? Akan saya tuliskan dalam artikel tersendiri.

Konteks Sosial dan Institusionalisasi Wacana

Basis sosial atau konteks sosial dalam pembentukan wacana publik atau wacana dominan agar terjelma menjadi pengetahuan umum, merupakan basis framing sosial atas suatu produk wacana (produk atau isu yang diwacanakan).

Basis framing sosial ini merupakan kerangka kerja teoritik untuk menjembatani sosiologi dan linguistik tanpa mereduksi makna masing-masing. Klasifikasi asumsi dan teori dasar terkait teks, wacana, bahasa, aksi, struktur sosial, institusi dan masyarakat di mana teks itu berkembang. Pengembangan piranti konseptual dilakukan untuk mengoneksikan level analisis teks atau analisis wacana dari posisi sosiologi terhadap institusi, aksi dan struktur sosial. Setelah klasifikasi  asumsi teoritis dan mengidentifikasi piranti konseptual, adalah mendefinisikan kategori dan konsep analitik untuk menandai isi dari fenomena spesifik. Kategori merupakan pembatas metodologi, seperti ruang publik, identitas, legitimasi, prasangka, diskriminasi, kekuasaan, rasisme, dll. Kategori dalam proses analitik sekaligus integrasi dalam wacana keseharian. Proses sosial produksi wacana ini dilakukan terus-menerus dalam kurun waktu tertentu, -hingga terbentuk wacana dominan yang sesuai agenda setting-, dan menjadi suatu pola dan keajegan yang diterima. Inilah institusionalisasi wacana. Atau dalam bahasa lain, rekayasa wacana sosial atau wacana publik.

Proses sosial ini melibatkan relasi yang kompleks antara wacana dan konten wacananya dalam jalinan dengan efek politik, kekuasaan dan ideologi. Ideologi adalah wacana dominan yang diproduksi oleh institusi untuk memelihara dan melanggengkan kekuasaan (elit). Demikian pula, aktor non-elitik juga memiliki kuasa-kuasa kecil (Foucault) yang bisa ditawarkan atau dipertemukan dengan kuasa dominan, dalam pertarungan wacana.

Strategi Wacana Dalam Dunia Bisnis

Dalam dunia bisnis pun tak luput dari pertarungan wacana dominan elitis maupun non-elitis. Yaitu wacana dominan (produk, jasa) yang dipoduksi oleh “power holder” (pemilik produk, jasa) untuk membentuk wacana publik atau wacana dominan (promosi produk hingga diterima publik). Kuasa kecil non-elitis bisa diperankan oleh kompetitor maupun calon konsumen yang juga memiliki kuasa semisal sikap kritis hingga penolakan, dengan menggunakan perangkat pengetahuannya. Pertarungan wacana (perang dagang atau perang iklan) adalah pertarungan antar kompetitor terhadap produk sejenis di ruang publik.

Konsepsi wacana, pembentukan wacana, wacana dominan, kuasa, power holder beroperasi di ranah sosial, politik, ekonomi, bisnis, dll. Bahkan menurut saya, telah beroperasi di wilayah budaya, sebuah strategi kebudayaan baru dalam memunculkan dunia baru, peradaban baru! (WK).***

 

Berlanjut…..

Relasi Kekuasaan Dominan Dalam Produksi Wacana

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *