Mengembangkan Masyarakat Sipil, Rekayasa Sosial dan Human Factor

Posted on

20130519_215208-2-200x135 Mengembangkan Masyarakat Sipil,  Rekayasa Sosial dan Human FactorKegagalan umum pengembangan civil society melalui rekayasa sosial (social engineering), adalah pada faktor manusia (human factor) yakni terjadi kelemahan subjek (human factor decay). Lantas, bagaimana melakukan social engineering dalam agenda perubahan sosial untuk mencapai ‘tertib sosial’ agar dapat mengeliminasi peluang kebocoran tersebut?

Senyo Adjibolosoo (SA), profesor dari Fermanian School of Business, Point Loma Nazaren University, San Diego, California, mengajukan gagasan tertib sosial terpercaya (“trustworthiness social order”) melalui social engineering yang berfokus pada subjek, yang disebut human factors, dalam bukunya, Developing Civil Society: Social Order and the Human Factor.

Ia menawarkan gagasan pengembangan civil society yakni rekayasa sosial, dari perspektif subjek (ia menyebutnya  “human factor, HF”), yakni human factor sebagai penentu social engineering dalam pengembangan civil society menuju “tertib sosial” yang disebutnya “trustworthiness social order” (tertib sosial yang terpercaya). Perspektif subjek (human factor) dihadirkan untuk melengkapi pendekatan social engineering yang dianggapnya menemui kendala pada faktor manusia (subjek) yakni terjadinya kelemahan subjek, yang disebutnya sebagai “human factor decay (HFD)”.

Pemikiran perubahan sosial melalui rekayasa sosial yang berfokus pada aktor atau subjek, yang disebut “human factor” (faktor manusia), merupakan pendekatan baru dan “tak lazim” dalam studi sosial dan perubahan sosial mainstream. Kebaruan gagasan ini serasa menyontak kemapanan ajaran rekayasa sosial yang pada umumnya bercorak positivis dan strukturalis, dengan pemikiran baru yang berfokus pada faktor subjek atau subjektivitas, yang sejalan dengan pemikiran post-strukturalis.

Kajian subjektivitas human factor ini berdekatan dengan ajaran subjektivitas seperti konsepsi subjeknya Lacan, yang mengarah pada anasir internal manusia seperti motivasi, hasrat, emosi, dan anasir psikis lain yang mendasari tindakan sosial subjek. Konsep pembentukan subjek Jacques Lacan (post-strukturalis) yang mengadopsi psikoanalisis Freud untuk studi perubahan sosial, sebagaimana dikutip Mark Bracher dalam Lacan, Discourse and Social Change, kemudian diperkuat oleh Slavoj Zizek, Yannis Stavrakakis dll (penerus Lacan untuk kajian sosial politik), sejalan dengan gagasan human factor, dalam konteks relasi dan proses sosial dalam pengembangan civil society.

Gagasan social engineering dengan fokus human  factor, dimaksudkan untuk:

  • Memperbaiki kualitas kehidupan (SEPE: Social, Economi, Politic, Education) melalui pengembangan civil society dengan cara rekayasa sosial (social engineering) menuju tertib sosial (social order) yang disebutnya “trustworthy social order” .
  • Pengembangan CS dilakukan melalui “positive human factor (HF)”, karena menurutnya, kegagalan pengembangan civil society / social engineering sebelumnya adalah karena adanya “human factor decay” (HFD).
  • Syarat utama agar terjadi “evolusi fungsional civil society” dalam social engineering adalah ketersediaan “positive HF” , untuk menjamin berlangsungnya “trustworthy social order” yaitu suatu tertib sosial yang mengandung: kebebasan sipil, HAM dan tertib hukum (“rule of law”).
  • Human Factor, HF (integritas, trust, respect, responsibility, akuntabilitas, komitmen) sebagai penentu penciptaan civil society yang harmonis (harmonious civil society) dan tertib sosial yang terpercaya (trustworthy social order).
  • Konsep utama: civil society, civility, social engineering, pola kultural (cultural patterns), social order, kualitas Human Factor (HF), constitutional rule, demokratisasi, strategi survival.

 

Tertib Sosial (Social Order)

Tertib sosial dalam konteks social engineering (rekayasa sosial) yang berfokus pada subjek atau human factor, yang diklaim oleh pencetusnya lebih efektif karena melibatkan aktor utama dalam social engineering, menghasilkan tertib sosial yang disebutnya trustworthiness social order (tertib sosial yang terpercaya), yaitu suatu tertib sosial yang mengandung: kebebasan sipil, HAM dan tertib hukum (“rule of law”) dan non-violence (tanpa kekerasan). Gagasan “non-violence” inilah yang membedakannya dari konsepsi lain tentang social order, pengembangan civil society maupun social engineering. Pengertian non-violence (tanpa kekerasan) dalam bahasan tertib sosial ini adalah tertib sosial yang menggunakan atau menempatkan human factor (faktor manusia) yang disebutnya “positive human factor” sebagai faktor utama.

Pengembangan Masyarakat (Civil Society Development)

Konsep Civil Society. Konsep ini tidak terlalu mementingkan untuk memberi pengertian civil society secara khusus, namun berusaha memfokuskan pada kajian pengembangan civil society melalui social engineering yakni dengan pendekatan human factor. Karenanya, pengertian civil society, dieksplorasi dari berbagai pengertian civil society mulai dari pengertian yang diberikan oleh Aristoteles yakni gagasan tentang koinonia politike, hingga Ralf Dahrendorf dan Walter Lippmann. Lebih lanjut SA mengutip gagasan Althusius tentang civil society, yang berarti tatanan kemasyarakatan; solidaritas kaum sipil berbasis pembagian kerja; kemudian Montesquieu yang memaknai civil society sebagai masyarakat yang terjalin dalam kohesi sosial, terikat dalam kepentingan politik, kemerdekaan individu dalam relasi sosial yang konsisten; serta Hegel yang memberi pengertian civil society  sebagai kesadaran relasi individual yang diatur menurut utilitas, meliputi hak dan kewajiban, kebebasan individual, berdasarkan aturan moral, political life.

Pemaknaan civil society dalam konsep ini menyukai gagasan civil society sebagai sebagai suatu entitas sosial di luar pemerintah. Ia juga memasukkan pemikiran Ferguson tentang civil society yakni keseluruhan hubungan sosial di luar ‘institusi orde politik dan hukum’ dan Boaz, yang memandang civil society sebagai asosiasi orang-orang dalam pengertian yang lebih luas, asosiasi sipil yang ‘bermakna’ di masyarakat (Chapter 4, p. 59 – 75). Pendapat  Lisman tentang civil society sebagai inter-relasi di antara warga atau kelompok-kelompok masyarakat sipil yang secara bersama mengupayakan tujuan bersama: kebebasan, fairness, respect, hidup damai, dan keadilan seperti yang dikonsepsikan oleh Dahrendorf, turut memberi kontribusi pada pemaknaan civil society dalam buku ini. Dan pemaknaan yang merujuk pada pengertian interaksi sosial, SA mengutip Serrano yang menyatakan bahwa civil society merupakan organisasi-mandiri masyarakat di luar pemerintah dan pemikiran Lippmann yang menyatakan bahwa civil society adalah  kelompok masyarakat yang setuju untuk hidup bersama dalam aturan yang sama, terlibat transaksi sosial dengan aturan yang sama. Akhirnya, konsep SA ini memberikan penyimpulan atas pengertian civil society sebaagai sebuah sistem yang tersusun dari organisasi non-pemerintah (NGO), asosiasi sukarela, organisasi sektor swasta, yang bekerja secara independen dengan cara mereka sendiri untuk kepentingan bersama (Chapter 4, p. 59 – 75).

Pengembangan Civil Society (Civil Society Development)

Dari pengertian dan konsep civil society di atas ditemukan bahwa karakter dasar civil society sebangun dengan demokrasi, yakni sama-sama mengandung unsur kebebasan individu, “rule of law”, respek pada kehidupan dan HAM, keterlibatan aktivitas ekonomi, kesepahaman antar sesama. Juga memuat akuntabilitas, partisipasi, perubahan-perubahan yang terjadi dalam suasana damai, terbebas dari dominasi negara (state). Di sinilah demokrasi, yang bermakna sistem sosio-politik di mana terjadi mayoritas bertindak untuk dan atas nama “whole nation”, dikatakan sejalan dengan karakter civil society yang tertib, yang oleh SA disebut tertib sosial “yang terpercaya” (trustworthiness social order). Maka proses demokrasi, di sini diartikan sebagai bentuk dari social engineering, yang ditujukan untuk memantapkan sistem politik yang akan memunculkan social engineering yang efektif (Chapter 4, p. 59 – 75).

Social Engineering (Rekayasa Sosial)

Rekayasa sosial (social engineering) adalah suatu konseptualisasi, desain, aplikasi dan manajemen pengetahuan, ingenuity, intuisi, akal sehat, kreativitas, inovasi dan pembaruan (invention) yang berkaitan dengan masalah ‘SEPE’. Rekayasa sosial (social engineering) ini melibatkan aplikasi secara simultan: ide, teknik, praktik, pemeloporan, dsb untuk meminimalisasi masalah ‘SEPE’. Karenanya, rekayasa sosial (social engineering) dapat berbentuk: institusi sosial yakni institusi ekonomi, politik, pendidikan, hukum, keluarga, agama (Chapter 2, p. 13 – 32).

Secara epistemologis, rekayasa sosial (social engineering) dirancang berbasis pengetahuan. Basis pengetahuan rekayasa sosial (social engineering) ini bersumber dari beberapa pemikiran filosofis semacam, pertama, filosofi Kantian (Imanuel Kant), bahwa pikiran manusia tidak ‘kosong’ seperti kata John Locke & David Hume, tetapi selalu aktif, menginterpretasi data & informasi yang diterima. Kedua, dialektika Hegel, yang juga mendasarinya, bahwa sejarah manusia mengalami perubahan secara dialektik menuju kualitas humanitas dalam waktu cukup lama. Ketiga, Karl Mannheim, dengan gagasan perencanaan sosial yang menurutnya digantikan oleh “pasar bebas” (unfettered market) dan invisible hand. Juga, Hayek, yang mementingkan pasar bebas sebagai satu-satunya mekanisme yang mampu mewujudkan alokasi sumberdaya secara efisien, kekayaan dan kebahagiaan (Chapter 3. p.33 – 58).

Filsafat eksistensialisme juga turut memeriahkan bangunan epistemologis rekayasa sosial (social engineering) ini. Setidaknya, Soren Kierkegaard,  yang meyakini bahwa manusia senantiasa hidup dalam kegelisahan dan keputus-asaan, sehingga membutuhkan  ‘Tuhan’. Kemudian, Nietzsche yang tidak percaya jika manusia itu lemah. Nietzsche meyakini bahwa manusia bisa mengatasi masalahnya sehingga tak seharusnya manusia tergesa-gesa memulangkan persoalan kepada ‘Tuhan’. Ia menggugat itu dengan idenya tentang  “Death of God”. Gagasan tentang kontrak Sosial (Hobbes, Locke, Rousseau), juga mendasari rekayasa sosial (social engineering) ini. Kontrak sosial, yang mengasumsikan  masyarakat bersedia untuk hidup bersama, dalam harmoni, bersedia memelihara kepentingan bersama membawa pengertian akan adanya kebutuhan untuk merancang kebersediaan untuk hidup bersama, dalam harmoni tersebut dan memelihara kepentingan bersama. Usaha ini, dalam rangka  menjawab usaha manusia dalam keyakinan Nietzsche dan Kierkegaard tadi, yaitu yang disebut “social engineering” (rekayasa sosial) (Chapter 3. p.33 – 58).  

Social Engineering Yang Efektif   

Epistemologi rekayasa sosial (social engineering) tersebut, membangun pemahaman rekayasa sosial (social engineering) yang efektif, yaitu social engineering yang non-violence (tanpa kekerasan), humanis, berfokus pada faktor manusia (human factor), memunculkan cinta, forgiving the offenders, letting-go of the situation. Dalam merangkai rekayasa sosial (social engineering) efektif, konsep human factor ini seolah hendak menjawab kegalauan social engineering yang berbenturan dengan kondisi-kondisi “kekacauan” yang ditimbulkan oleh (faktor) manusia dalam aktivitas rekayasa sosial (social engineering) yaitu aktivitas kriminal, tindak kecurangan, penyakit sosial, dendam, pembunuhan dll hingga  persoalan-persoalan berdimensi personal-domestik. Konsep baru ini hendak menjadi obar penawar bagi kekacauan dalam social engineering tadi, yang bersumber dari faktor manusia, yaitu yang disebut “human factor decay” (HFD). HFD-lah yang menyebabkan kegagalan social engineering (Part II Chapter 6. p.107 – 127).

Kegagalan Social Engineering Terdahulu Chapter 7. p.129- 154

Senyoo, pencetus gagasan human factor ini  banyak mengkritik program social engineering dalam civil society development yang menurutnya terlalu fokus pada simbolisme dan retorika, diwarnai pelanggaran HAM, kejahatan, kemubaziran konvensi-konvensi internasional. Ia mencontohkan mulai kegiatan seremonial hingga kejahatan tokoh-tokoh seperti Adolf Hitler, Idi Amin, Mobutu Sese Seko, Ferdinand Marcos, Pol Pot, Slobodan Milosevic, Nicholai Chesescu, dll. Inilah yang disebutnya human factor decay (HFD) di atas. Menurutnya, persoalan besarnya adalah human factor (faktor manusia) dan humanitas.

Perspektif Human Factor dalam Pengembangan Civil Society

Civil society yang baik adalah kesejahteraan-bersama warga-mandiri yang terhubung bersama dalam kesamaan kepentingan, bahu-membahu dalam meningkatkan taraf hidup yang mengutamakan HAM, martabat, kebebasan, dan tanggungjawab. Maka, diperlukan positive personality character dan positive qualities of human factor. Faktor inilah yang diyakini SA mampu mengoperasionalkan hubungan sosial dalam kerangka yang positif, yang dalam terminologi SA disebut “loving relationships and harmonious living in civil society. Prinsip inilah yang menjadi dasar pengembangan civil society (principle-centered civil society) (Part III. Chapter 8, p.157 – 175).

Human Factor (HF) Sebagai Penentu Perubahan / Rekayasa Sosial

Gagasan human factor dalam social engineering (rekayasa sosial) ini mendudukkan human factor dalam posisi sebagai agen dalam apa yang disebut SA sebagai transformasi humanitas. Transformasi humanitas ini memuat prinsip-prinsip human factor dalam social engineering dan community building. Konsep ini menekankan pentingnya human factor dalam perubahan dan rekayasa sosial ini untuk lebih menjamin efektivitas social engineering (rekayasa sosial). Dasar dari prinsip tersebut diperoleh dari pemahaman dari beberapa prinsip bahwa:

  • Kehidupan berasal dari Tuhan.
  • Kehidupan itu suci dan bermartabat.
  • Tiada manusia yang boleh menghancurkan manusia lain.
  • Cinta tanpa syarat terhadap sesama.
  • Semangat memaafkan dan “personal love” yang kemudian memunculkan “personal peace” dan ketenteraman dalam masyarakat manusia.
  • Semesta telah dipesan Tuhan dan secara abadi ditetapkan untuk sesuai dengan prinsip-prinsip universal yang menuntun langkah penghuninya (Chapter 9, p. 177 – 198).
  • Kekayaan dan kepapaan tak pernah berakhir. Ia datang silih berganti dalam penghambaan abadi dan kemiskinan spiritual. Pemenuhan HF-yang-berkembang akan membawa kedamaian, kemerdekaan, kesamaan dan keadilan.
  • Kreasi dan kemunculan kedamaian, kejujuran, kesetaraan, kebebasan dan masyarakat-adil hanya mungkin terjadi pada keberadaan “positive HF”.

Prinsip-prinsip tersebut, dalam konsepsi SA, dapat di-setting dalam aksi nyata melalui:

  • Keluarga, yakni peran orangtua (the Family: Significance of Parental Role).
  • Relevansi dan peran pendidik dan pelatih (relevance & Role of Educators & Trainers).
  • Mengedukasi penegak hukum (Educating The Rulers).
  • Media untuk komunikasi dan pendidikan (Media for Communication & Education)
  • Memahami hakikat manusia dan kemanusiaan (Understanding The Nature of Human-Being) (Chapter 9, p. 177 – 198).

Adapun, secara khusus, komunikasi edukasi berbasis human factor yang transformasional, memuat unsur-unsur berikut untuk dapat menjalankan rekayasa sosial (social engineering):

  • Musik: lagu dan tarian.
  • Tradisi oral: Narasi, Cerita, Dongeng, Slogan.
  • Verbal & Visual: teater, kartun, fotografi, radio, TV.
  • Media cetak: surat kabar & majalah.
  • Pertemuan diskusi publik terarah (Chapter 9, p. 177 – 198).

 

Masa Depan Kajian Human Factor dan Humanitas

SA merasa optimistik dengan masa depan kajian sosial yang menggunakan pendekatan maupun perpektif human factor. Menurutnya, kajian human factor tetap akan digunakan dan diperlukan, mengingat kondisi berikut:

  • Ide “Global Village” dan masalah bersama.
  • Hasrat manusia untuk berdamai dengan masalah memungkinkan pengembangan pendekatan yang berbeda.
  • Human Factor Decay (pembusukan faktor manusia) dan pemutakhiran teknologi yang berujung pada ketidakmampuan perwujudan social order dan perkembangan ekonomi politik.
  • Kondisi kemanusiaan dan kualitas hidup (Chapter 10, p. 199 – 210).

Keyakinan SA sangat mantap, ketika saya hubungi via LinkedIn message, ia menegaskan bahwa jikapun pemikirannya belum banyak diterima umum, mungkin karena menyebal dari ajaran mainstream social engineering, ia tetap optimis. Tetapi menurut saya, inilah uniknya. Dan memang, faktor manusia tak bisa diabaikan dalam studi sosial khususnya tentang perubahan sosial, karena perubahan sosial berawal dari aktor, agen,  atau subjek.***

________________________

Kajian lebih lanjut…..

Social Engineering Human Factor dan Teori Subjek Lacan

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *