Membangun Sikap Ilmiah, Moral dan Sosial

Posted on

Terakhir, -dari dua sekuel sebelumnya-, yakni Belajar Filsafat Ilmu Dikit Biar Bisa Berpikir Lintas Isi Kepala dan Membangun Pemahaman Filsafat Ilmu Untuk Membaca Kebenaran, berikutnya adalah membangun sikap ilmiah, moral dan sosial. Disamping melakukan pembahasan mengenai ilmu itu sendiri (pembahasan sebelumnya), filsafat ilmu juga terkait dengan aspek kehidupan manusia berikut manusianya. Filsafat ilmu haruslah memiliki dimensi-afektif pada manusianya (dimensi aksiologis dari filsafat ilmu), yakni membangun sikap ilmiah dan moral. Bagaimanakah kedua buku ini (baca 2 bahasan sebelum artikel ini) membangun sikap ilmiah dan moral?

Jujun menampilkan pesan-pesan membangun sikap ilmiah dan moral ini secara menyebar dan embedded dalam topik-topik bahasan. Membaca buku Jujun dengan sabar dan tidak tergesa-gesa akan menemukan pesan-pesan ini. Aspek rasionalitas, akal sehat yang ditekankan Jujun jelas memesankan keharusan rasionalitas sebagai sikap ilmiah yang harus dibangun (halm 50-53, 109, 111-112).  Sikap ilmiah berikutnya yang dipesankan untuk dibangun adalah berpikir yang berdasarkan penalaran (halm. 43), cara berpikir ilmiah (halm. 46-48), mencintai kebenaran, karena kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu (halm. 50) dan kebenaran diperoleh melalui kegiatan berpikir ilmiah dan mendasarkan diri pada metode ilmiah (halm. 119-140, 165-169) dengan menggunakan instrumen penelitian dan penulisan ilmiah (halm. 307-363). Sedangkan pada aspek moral, Jujun menegaskan pada bagian bahasan “ilmu dan moral” (halm. 229) dengan mencontohkan “munculnya ilmu ekonomi yang tidak mengajarkan keserakahan”, buku ini me-wanti-wanti masalah moral terkait pembelajaran suatu ilmu. Disebutkan adanya keterkaitan antara ilmu dan moral, yakni bahwa ilmu harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat manusia (halm. 235). Moral juga terkait dengan upaya manusia mendapatkan dan mempertahankan kebenaran, dengan konsekuensi apapun agar ilmuwan terhindar dari prostitusi intelektual (halm. 236). Moralitas sosial dari ilmu adalah tanggungjawab sosial ilmuwan. Sikap sosial ilmuwan adalah konsisten dengan proses penelaahan keilmuan yang dilakukan (halm. 239).

 

Jujun mempertegas aspek moral ini dengan memunculkan kisah-kisah moralitas di balik aktivitas keilmuan, misalnya kisah nuklir dan pilihan moral (halm. 246-252). Lebih luas, aspek sosial ilmu dipesankan buku Jujun untuk pengembangan kebudayaan (halm. 261), yang kemudian dilakukan melalui strategi pendidikan (halm. 263), karenanya, ilmu, mengharuskan kita untuk memusatkan perhatian pada nilai-nilai yang relevan dengan masyarakat modern (halm. 266).

 

Buku ini juga memesankan khusus untuk konteks Indonesia yakni ilmu untuk pengembangan kebudayaan nasional (halm. 272), yaitu dengan mengembangkan ilmu sebagai cara berpikir (halm. 273), dan ilmu sebagai asas moral (halm. 274), untuk memunculkan nilai-nilai ilmiah dalam pengembangan kebudayaan nasional (halm. 275). Dan untuk mengoperasionalkan gagasan-gagasan moral dan sosial tersebut, diperlukan perangkat untuk mengomunikasikan ilmu berupa bahasa (halm. 301-302).

 

Pesan-pesan membangun sikap ilmiah, moral dan sosial secara jelas diberikan oleh Watloly dengan lebih menekankan pada konteks sosial dan praxis sebagai “andalan” sosio-epistemologi. Sikap ilmiah yang dipesankan buku ini (mengikut watak sosialnya) adalah melampaui “kesekedaran minimalis” seperti berpikir ilmiah, logis, skeptis dsb itu, namun lebih memiliki rasa dan keberanian menggugat tradisi teori-teori sosial modern yang disebut oleh Max Horkheimer sebagai ilmu yang memiliki social discrimination, menyimpan konflik pemikiran (halm. 374).

 

Pesan-pesan sikap ilmiah – moral – sosial buku Watloly ini sangat luas mengingat keluasan jangkauan daya jelajah dan kekuatan karakter sosio-epistemologi ini. Namun ada beberapa yang paling penting yang bisa dituliskan, yaitu:

 

(1) mengajarkan keterbukaan dan rendah hati serta tidak sombong karena watak sosio-epistemologis yang memandang kebenaran yang dicarinya sebagai sebuah kebenaran yang bersifat subjektif, terbatas, dialogis (diskursif), intersubjektif dan berevolusi, serta anggapan tidak ada kebenaran tunggal-mutlak yang angkuh tetapi bersifat majemuk, hipotetis, konsensus, dan bertegangan  (negosiatif) yang kesemuanya itu memerlukan pertautan secara humanis-emansipatoris dengan dialog atau disebut “dialektis emansipatoris”. Ini menuntut keterbukaan dan kesediaan berdialog dengan menanggalkan keangkuhan-intelektual dan egositas ilmuwannya (mengajari rendah hati serta tidak sombong);

 

(2) mengajarkan sikap humanis, empati dan menghargai kemanusiaan, karena terbawa karakter praxis dari sosio-epistemologi (penghargaan pada perspektif manusia atau masyarakat dalam pengembangan keilmuan);

 

(3) open-mind, kebebasan berpikir dan pro-perubahan dan pemahaman multikultural, yang terbentuk dari karakter dialektis emansipatoris sosio-epsitemologi (halm. 393);

 

(4) sikap kritis positif terhadap rasio dan ilmu pengetahuan (halm.392);

 

(5) sikap konstruktif-aktif dan responsif yang terbawa dari karakter rasionalisasi perkembangan masyarakat (halm. 388);

 

(6) selalu kritis terhadap teori dan terbuka pada pembaruan teori (halm. 408);

 

(7) produktif keilmuan dan dinamis, yang terbawa dari sifat sosio-epistemologi yang menguatamakan perspektif kerja dan perspektif komunikasi (halm. 422-423); dan

 

(8) tanggungjawab budaya dan kemanusiaan yang lebih luas, karena sosio-epistemlogi membuka ruang kesadaran praktis moral (halm. 424) untuk rasionalisasi masyarakat dalam paradigma komunikasi dalam teori sosial untuk menjadi ajang pertautan dan pengembangan daya kognisi serta kreativitas budaya masyarakat (halm. 427). Revolusi intelektual ilmuwan sangat terasa dalam buku ini. Terasa lebih tajam, berani dan menggugah relung kesadaran.

 

Kesimpulan

  1. Misi keilmuan kedua buku filsafat ilmu (Jujun dan Watloly) memiliki kesamaan yakni sama-sama memandang filsafat sebagai cara berpikir, dan filsafat ilmu adalah hakikat pemikiran radikal untuk menelaah ilmu. Namun keduanya berbeda cara penyampaiannya dan cara pandang pada filsafat ilmu, yang mana buku Jujun memandang filsafat ilmu sebagai bagian dari epsitemologi (filsafat pengetahuan), sedangkan buku Watloly menempatkan epistemologi (filsafat pengetahuan) sebagai basis kajian, dengan menautkannya dengan konteks sosial masyarakat (praxis), karenanya dinamakan filsafat ilmu yang berwatak sosial.
  2. Dalam memahami filsafat ilmu, didapatkan melalui pemahaman hakikat ilmu pengetahuan, dan mengantarkan pada pemahaman pengetahuan, sumber pengetahuan, posisi manusia (masyarakat) dalam dinamika konteks sosial dan revolusi keilmuan yang tak pernah berhenti. Kedua buku menyadari hakikat ini, namun penekanan lebih terasa pada buku Watloly yang mendasarkan pada pemikiran dialektis-emansipatoris yang tidak hanya memahami ilmu dalam pisau bedah filsafat ilmu saja, tetapi melanjutkan telaah kritisnya pada dataran teori-teori sosial modern.
  3. Kebenaran, adalah tujuan pencarian filsafat dan ilmu. Filsafat ilmu, melakukan kajian terhadap ilmu dalam rangka mencapai kebenaran. Dalam membaca dan memaknai kebenaran, terdapat perbedaan cara pandang dalam proses menuju penemuan kebenaran universal. Buku Jujun lebih memunculkan kebenaran rasionalis dengan mencontohkan teori kebenaran koherensi, korespondensi dan konsistensi. Sedangkan Watloly memandang proses humanis yang menghargai indigenasi (kebenaran sektoral, endogen) yang berorientasi praxis, memunculkan kebenaran dialektis sebelum mencapai konsensus akan kebenaran universal.
  4. Kritik atas ilmu, kedua buku sama-sama mengupayakannya namun lebih menonjol dan atraktif pada buku Watloly yang melakukan kritik akan sifat dan esensi ilmu hingga teori sosial yang dianggapnya kurang berwatak sosial, sehingga perlu dibongkar dan diganti dengan ilmu yang berkarakter sosial, praxis dan berparadigma komunikasi sehingga tercapai apa yang disebut “rasionalisasi masyarakat”. Sedangkan buku Jujun melakukan kritik atas sistem pengetahuan pra-ilmiah untuk tujuan membangun ilmu pengetahuan dan bermuara pada membangun kebudayaan.
  5. Membangun sikap ilmiah, moral dan sosial. Kedua buku menunjukkan misi yang sama (dengan watak masing-masing). Buku Jujun memberi pesan-pesan sikap ilmiah dan sikap moral dan sosial dengan penekanan pada rasionalitas dan kebenaran rasional sebagai sikap ilmiah serta memesankan sikap moral dan sosial yang produktif bagi pembangunan kebudayaan. Corak positivistik terasa pada buku Jujun namun juga kritis dan peduli konteks sosial dan kebudayaan. Sedangkan buku Watloly dengan andalan sosio-epistemologi-nya, melampaui sikap ilmiah, lebih berbicara kekritisan ilmu dan mengutamakan praxis untuk “proyek humanistik” rasionalisasi masyarakat.

 

 

Dari deskripsi dan kesimpulan, untuk menunjukkan perbandingan kedua buku (Jujun dan Watloly)  saya ilustrasikan sebagai berikut:

 

Perbandingan Kajian Filsafat Ilmu Jujun Surasumantri dan Sosio-Epistemologi Aholiab Watloly

 

Kriteria Buku Jujun Suriasumantri (Filsafat Ilmu)

 

Buku Aholiab Watloly               (Sosio-Epistemologi)
Misi keilmuan –        Filsafat sebagai cara berpikir.

–        Filsafat ilmu merupakan cabang epistemologi (filsafat pengetahuan).

–    Filsafat sebagai cara berpikir.

–    Epistemologi (filsafat pengetahuan) sebagai basis pemikiran.

Pendekatan Saintis, positivistik Reflektif, kritis
Penjelasan hakikat ilmu Membangun ilmu Mengritik ilmu untuk pembaruan ilmu
Landasan epistemologis Linier Dialektis-emansipatoris
Sumber pengetahuan Pengalaman empiris, dengan metode ilmiah Indigenasi, praxis.
Subjek ilmu Ilmuwan Masyarakat
Tujuan ilmu Pembangunan kebudayaan Rasionalisasi masyarakat
Praxis ilmu pengetahuan Menggali pengalaman empiris dan memaknai secara metodologis Memahami hakikat ilmu pengetahuan dari perspektif masyarakat.
Ciri kebenaran Rasionalitas Dialektis-bertegangan
Membaca kebenaran Mutlak Dialektis, konsensus, praxis.
Kritik atas ilmu Membangun ilmu Kritik atas teori sosial, pembaruan ilmu
Membangun sikap ilmiah, moral dan sosial Rasionalitas, metode ilmiah, membangun kebudayaan Kritis, kesadaran praxis, rasionalisasi masyarakat.

 

 

Buku yang digunakan:

Suriasumantri, Jujun S (2010) Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Watloly, Aholiab (2013) Sosio-Epistemologi: Membangun Pengetahuan Berwatak Sosial. Yogyakarta: Kanisius.

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *