Membangun Pemahaman Filsafat Ilmu Untuk Membaca Kebenaran

Posted on

Melanjutkan bahasan Belajar Filsafat Ilmu Agar Bisa Berpikir Lintas Isi Kepala, kini kita kembangkan pemikiran tentang bagaimana membangun pemahaman filsafat ilmu? Filsafat ilmu adalah kegiatan berpikir radikal dan menyeluruh untuk mencapai hakikat kebenaran atas sesuatu, demi ilmu itu sendiri dan demi kemanusiaan. Untuk mencapai pemikiran radikal, menyeluruh dan kritis melalui pemahaman hakikat ilmu (objek kajian filsafat ilmu adalah ‘ilmu’) dan pemahaman dimensi ontologis-epistemologis-aksiologis ilmu, memerlukan “serangkaian laku”.

Membangun Pemahaman Filsafat Ilmu

Kedua buku (silakan baca tulisan terdahulu) ini menawarkan “rangkaian laku” yang berbeda, dengan sentuhan rasa yang juga berbeda walaupun memiliki tujuan yang sama. Perbedaan yang ternyatakan itu merupakan kenikmatan-tersambung, dari buku Jujun yang meraba hakikat ilmu dalam basis rasa naluriah yang tersaji dalam “narasi alamiah” (ketika membaca buku Jujun, terasa tekstur dataran alamiahnya dalam penjelasan hakikat ilmu sekaligus merasakan “kehadiran” Jujun yang humoris-kritis) hingga ke buku Watloly yang terasa lebih bersuara, penuh aktualisasi dari padatan-padatan gagasan hakikat ilmu secara eksplisit sambil mengupas teori-teori sosial yang lahir dari kegiatan filsafat ilmu hingga memunculkan gagasan tentang kebenaran, praxis, tuntutan teoretis-metodis dan rasionalisasi masyarakat.

Kenikmatan-tersambung akan kesadaran hakikat ilmu ini terasa pada buku Watloly pada bagian pembahasan proyek sosio-epistemologi pada dataran teori-teori sosial (halm. 117-153) dan mulai menaik pada teori kritis sebagai peletak dasar bangunan filsafat sosio-epistemologi (halm. 155 – 196) dan masa pematangan sosio-epistemologi dalam pembaruan teori kritis (halm. 197-232) dan mencapai puncak kenikmatan pada bahasan inti argumen sosio-epistemologi sebagai program teori (halm. 233 – 251), sebagai program kritik atas teori pengetahuan (halm. 253 – 275). Puncak kenikmatan ini tertahan sebentar pada bahasan yang mempertanyakan posisi sosio-epistemologi sebagai teori pengetahuan ataukah teori sosial mengingat keakraban sosio-epistemologi ketika mengupas teori sosial (halm. 277 – 287).

 

Namun karakter epistemologis yang tetap menenggerkan kajian sosio-epistemologi pada wilayah filsafat diperoleh penegasan pada bagian ini juga, yang disebutkan bahwa sosio-epistemologi sebagai kritik rasio modern memiliki daya pembaruan tuntutan rasio dan membangun rasionalitas secara utuh dan mendasar hingga mencapai hakikat kebenaran (halm. 278 – 328). Jelaslah posisi sosio-epistemologi “di atas” teori sosial, sehingga memunculkan tuntutan objektif dalam sosio-epistemologi dan tuntutan teoretis-metodis sebagai validitas dalam sosio-epistemologi (halm. 329-372). Kelegaan ini membawa kenikmatan lanjutan yang terus membumbung namun berhati-hati ketika meniti “objektivitas” atau “kebenaran objektif” dalam debat tentang objektivitas dalam keilmuan sosial yang memunculkan paradigma penyangkalan (falsification) Karl R. Propper dan paradigma objektivitas Thomas S. Kuhn dan Drucker. Objektivitas ini bersanding dengan watak praxis sosio-epistemologi sehingga tetap tidak meninggalkan objektivitas dan tidak mematikan praxis yaitu melalui komunikasi rasional.

Tampaklah bahwa buku Jujun dalam membangun pemahaman filsafat ilmu dengan menampilkan contoh-contoh pengalaman budaya atau menggali pengalaman masyarakat untuk dibahas dalam koridor keilmuan dan diberi makna, hal yang menunjukkan pemahaman yang mendarah-daging dari seorang Jujun akan hakikat ilmu, dan itu disuguhkan dalam kemasan bahasa populer. Enak dicerna namun memerlukan kesabaran dalam memahami isinya dan mempertautkannya dengan nilai-nilai filsafat ilmu dan pengenalan pemikiran logis, penalaran dan metodologis yang terkandung di dalamnya. Jika kurang sabar, maka bangunan makna filsafat ilmu yang tersembunyi dan implisit dalam timbunan peristiwa keseharian akan kurang tergali. Namun bangunan pemahaman filsafat ilmu yang ditawarkan Jujun sangat mendasar dan mencerahkan, hingga penyadaran akan pentingnya berpikir ilmiah-metodik dalam memahami dan memecahkan masalah (bahasan tentang metode  ilmiah), bahasa dan konteks budaya.

Sedangkan Watloly, hantaran pemahaman filsafat ilmu lebih menampilkan padatan-padatan keilmuan sehingga gagasan filsafat ilmu lebih tampak nyata melalui gugusan teori-teori sosial yang dimaknai berdasarkan pemikiran sosio-epsitemologi.  Bedanya lagi, pemahaman filsafat ilmu buku Watloly menampilkan visi baru atau “pendekatan berparadigma baru” dalam istilah Fritjof Capra, atau “visi baru tentang realitas”, memiliki jangkauan pemahaman holistik yang memuat inti filosofis dengan menunjukkan bahwa teori pengetahuan dan keilmuan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri untuk menuju proses humanisasi diri dan sesama melalui tindakan pendidikan secara sadar (buku Watloly, halm. 58-62).

 

Membaca Kebenaran

 Bagaimana kedua buku ini membaca kebenaran? Ujung pencarian filsafat adalah kebenaran. Ujung pencarian ilmu adalah kebenaran. Filsafat ilmu membaca dan menemukan kebenaran melalui serangkaian pemikiran, metode dan pendekatan. Bagian ini memaksudkan dua hal, yaitu pertama, membaca kebenaran itu sendiri, yakni tentang bagaimana buku ini memaknai ‘kebenaran’; dan kedua, menggapai kebenaran, yakni tentang bagaimana buku ini mengantarkan pada kebenaran atau membawa pembaca pada penyimpulan-penyimpulan akan nilai-nilai kebenaran. Buku Jujun dan Watloly menampilkan wajah khas masing-masing.

 

Jujun, melalui contoh-contoh keseharian menampilkan unsur-unsur kebenaran yang digali dari pengalaman empiris manusia dan masyarakat. Sebuah hantaran pemahaman yang menarik. Pembaca bisa langsung belajar dan berpraktik, misalnya menganalisis adakah unsur-unsur kebenaran yang terkandung dalam kalimat, tutur, ungkapan, peristiwa dan situasi sosial atau budaya tertentu. Dari pengalaman-pengalaman empiris, buku Jujun kemudian menarik pengalaman empiris tersebut pada pemaknaan yang bersandar pada metode ilmu untuk menyuguhkan arti ‘kebenaran’ yang didefinisikan dan digolong-golongkan, sehingga kita mengenal (1) teori kebenaran koherensi, yaitu kebenaran yang bersumber dari koherensi dan konsistensi dengan pernyataan sebelumnya; (2) teori kebenaran korespondensi, yaitu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut; dan (3) teori kebenaran pragmatis, yaitu kebenaran yang bersifat fungsional dalam kehidupan praktis (halm. 56 – 59). Selanjutnya paham kebenaran dalam buku Jujun diperkenalkan secara menyebar dalam bahasan-bahasan epistemologi (cara mendapatkan pengetahuan yang benar), yang terdistribusi dalam bahasan “jarum sejarah pengetahuan (halm. 101-103), pengetahuan  (halm 104 -118), metode ilmiah (halm. 119-140).

 

Jujun mengajari berpikir ilmiah untuk mencapai kebenaran. Dan cara-cara berpikir ilmiah (metode ilmiah) juga tergambar dalam bahasan struktur pengetahuan ilmiah (halm. 141 – 162), sarana berpikir ilmiah (halm. 165-170). Pada aspek kedua, tentang bagaimana mengenalkan pembaca pada anasir kebenaran, buku Jujun melakukan penjelajahan pengalaman empiris manusia (masyarakat), kemudian ditafsir dengan pendekatan metodologis untuk menguji bahwa pengalaman empiris tersebut memenuhi kaidah kebenaran atau tidak, yakni dengan parameter kelogisan, masuk akal, akal sehat, rasionalitas (halm. 111-112) melalui serangkaian metode ilmiah (halm. 113 – 140).

 

Jujun menekankan arti penting metode ilmiah (halm. 165-169) sebagai proses penemuan pengetahuan (menemukan kebenaran) dan mengomunikasikan penemuan ilmiah tersebut kepada masyarakat ilmuwan (“menguji dan mempertanggungjawabkan temuan kebenaran” untuk menuju “kebenaran yang lebih teruji”). Sebagai penguat piranti metodik keilmuan (mesin pencari kebenaran), buku Jujun mengungkap struktur pengetahuan ilmiah yang memuat konsep tentang pengetahuan, ilmu, teori, yang disebut memiliki keumuman (universalitas) yang tinggi (halm. 141-147); dan penelitian sebagai sarana untuk menemukan pengetahuan baru (halm. 159).

 

Jika buku Jujun memaknai dan menggapai kebenaran secara “jalur tunggal” dan agak “doktriner” (melalui metode ilmiah), maka buku Watloly, dengan konsep utama sosio-epistemologi (pengetahuan berwatak sosial), memaknai kebenaran dengan pendekatan dan jalur yang berbeda sehingga aroma kebenarannya pun terasa berbeda walaupun berujung sama: kebenaran. Memang, kebenaran dalam  kajian sosio-epistemologi (buku Watloly) menjadi tema sentral dan tujuan pengetahuan, dan menurutnya pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran (halm. 288). Dan sosio-epistemologi memaknai dan menyikapi kebenaran secara “berbeda”, sesuai dengan watak sosialnya, namun dilakukan secara kritis dan optimis.

 

Baginya, pertama,  kebenaran tetap menjadi tuntutan bagi manusia berbudaya, di tengah rumitnya kebenaran. Sosio-epistemologi mendekati tuntutan kebenaran ini, dari sisi pengetahuan, yakni kebenaran pengetahuan adalah kebenaran dalam batas kemanusiaan manusia, sehingga meniscayakan kebutuhan akan keterbukaan dialog dan komunikasi.

 

Kedua, kebenaran tidak bersifat tunggal, tetapi bersifat majemuk, hipotetis, konsensus, dan bertegangan  (negosiatif). Kemajemukan sifat kebenaran berarti bahwa realitas kebenaran yang dihadapi dalam sosio-epistemologi bukanlah realitas kebenaran bendawi yang statis, tunggal, terisolir, tetapi kebenaran itu berhubungan dengan dunia realitas kemanusiaan yang kaya, dinamis, berkembang dan penuh daya misteri. Kebenaran bersifat hipotetik,  karena tidak ada kebenaran yang memutlakkan diri secara sepihak dan mengklaim diri sebagai yang benar satu-satunya dan terlepas dari yang lain. Ada kepentingan kemanusiaan dalam situasi kehidupan praxis yang dinamis dan berubah-ubah. Konsensus, karena hakikat kebenaran walau bersifat mutlak, tidak terisolasi dari kehidupan manusia yang majemuk dan komunikatif. Sosio-epistemologi berusaha mengembangkan tuntutan kebenaran yang bersifat konsensus-hipotetis yang terus berproses ke arah kebenaran yang bersifat universal.

 

Tidak ada kebenaran “subjektivitas murni” atau “objektivitas murni” yang berdiri sendiri dan saling mengabaikan. Egoisme dan eksklusivisme sektoral harus ditinggalkan. Kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan adalah kebenaran yang selalu berkaitan dengan pengetahuan manusia, maka kebenaran itu selalu bersifat subjektif, terbatas, dialogis (diskursif), intersubjektif dan berevolusi. Sedangkan kebenaran bertegangan (tensional truth) sebagai ciri kebenaran dalam paham sosio-epistemologi merupakan kebenaran dialektis, sebagai kritik atas kebenaran rasional (selanjutnya ditulis pada bagian “Kritik Atas Ilmu”).

 

Kebenaran dialektis hadir dalam rangka memperdalam konsep kebenaran sektoral untuk memulihkan kebuntuan dogmatisme, seperti dikatakan oleh Habermas yang dikutip Giddens, kebenaran dalam sosio-epistemologi bukan tergantung pada objektivitas pengalaman tetapi pada argumentasinya. Baginya, kebenaran dialektis terletak pada pemahaman yang mendasar mengenai kepentingan manusia di dalam realitas sosio-historisnya. (halm. 291-295), dan diperoleh kebenaran yang bersifat universal sekaligus kontekstual (halm. 298).

 

Kedua, bagaimana mengenalkan dan mencapai kebenaran? Kebenaran dalam sosio-epistemologi adalah kebenaran sebagai praxis, maka inti kebenaran ini diperoleh melalui pertautan dialektis antara tuntutan kebenaran transenden universal (mutlak) dan tuntutan kebenaran imanen yang bersifat kontekstual-empiris. Yaitu pertautan dialektis antara gagasan-gagasan empiris-positivis tentang kebenaran sebagai koherensi (persesuaian antar gagasan) dengan gagasan dialektika mengenai kebenaran sebagai praxis atas realitas kehidupan sosio-historis manusia yang dinamis. Sosio-epistemologi berusaha memperlihatkan adanya kebenaran sebagai praxis yang berdasar pada keputusan-keputusan pragmatis-intersubjektif (halm. 299), dan berorientasi pada kepentingan praxis manusia (halm. 300).

Yaitu diperoleh dengan cara pertama, jalur penyelidikan empiris, untuk menghasilkan jenis pengetahuan instrumental (menghasilkan jenis pengetahuan teknis, enklaren/ menerangkan).

Kedua, jalur ilmu-ilmu kemanusiaan, yakni praxis, melalui penghayatan (erlebnis) internal kognitif manusia atas realitas diri dan lingkungannya (verstehen, memahami). Dialektika ini tidak berhenti di sini. Watloly melanjutkan “teka-teki”-nya dengan menghadirkan wacana kebenaran objektif (objective truth) yang dipandang sebagai objektivitas pengalaman manusia yang dinamis (halm. 330), karena objektivitas itu adalah hasil konstruksi manusia (halm. 331). Tuntutan objektivitas tidak diartikan sebagai sosok ego atomis yang mengabaikan keterlibatan subjek dalam berbagai nilai dan kepentingan, tetapi objektivitas sebagai suatu eksistensi terbuka yang berada sebagai objek pengetahuan (halm. 351).  Di sini terasa sekali tantangan bagi libido dialektika pembaca untuk meraih kebenaran universal melalui pertarungan beberapa kebenaran yang memang riil terjadi sebagai realitas sosial. Di sinilah pentingnya buku ini menghadirkan teori sosial terutama teori kritis sebagai tuntutan teoretis dan metodis untuk memahami realitas sosial untuk mencapai validitas sosio-epistemologi (halm.357-372). Hal yang tidak dilakukan di buku Jujun secara pejal dalam distribusi telaah atas teori-teori sosial, namun sebatas memberi isyarat relasi ilmu pada konteks sosial kehidupan masyarakat modern (buku Jujun, halm. 266).

Kritik Atas Ilmu

Karena berfilsafat adalah (berpikir untuk) menemukan kebenaran, maka refleksi-sistematis pemikiran filsafati membawa pada derajat keraguan (skeptisisme) tertentu untuk mencapai kebenaran (yang bisa dianggap) universal. Bidang gerak filsafat yang lebih luas daripada ilmu, dan ilmu itu menjadi objek kajian filsafat ilmu, maka, ilmu (science) pun tak luput dari incaran filsafat ilmu untuk diberikan kritik. Bagaimana kedua buku filsafat ilmu ini  memberikan kritik atas ilmu?

 

Jujun lebih menekankan pada gagasan membangun ilmu pengetahuan. Ia memberikan pembedaan antara ‘pengetahuan’ (knowledge) dan ‘ilmu pengetahuan’ (science). Kritiknya, ada pada bangunan sistem pengetahuan yang hidup di masyarakat yang dikatakannya tidak dapat dikategorikan sebagai “ilmu” karena tidak didasarkan pada prosedur ilmiah dalam memperolehnya tetapi atas dasar akumulasi pengalaman hidup saja (halm.108-109). Karenanya, buku Jujun menekankan arti penting metode penelitian sebagai bagian epistemologi ilmu. Rasionalitas dan berpikir ilmiah dan metode ilmiah menjadi amat penting. Dan untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik,  diperlukan sarana berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika (halm. 167).

 

Sedangkan Watloly, sosio-epistemologi memberikan kritik atas ilmu bertitik tolak dari ide dasar watak sosial yang harus ada pada ilmu, yakni referensi sosial manusia dalam pengembangan dan pembaruan pengetahuan atau teori pengetahuan dan keilmuan yang didorong kesadaran kritis untuk mencairkan kebekuan “ideologis” (sikap memutlakkan diri sendiri) dalam ilmu-ilmu serta tuntutan (klaim) pengetahuan (teori makro) sektoral (teori mikro) dalam epistemologi modern (halm. 48-49).

 

Kritik sosio-epistemologi baik struktur intelektual (isi dan cara berpikir) maupun skema metodik (cara kerja) setiap cabang dan aliran pengetahuan modern mulai dari zaman Descartes (zaman awal epistemologi modern) hingga Wittgenstein dan Ayer (zaman epistemologi kontemporer) telah meletakkan tuntutannya yaitu tuntutan kebenaran, objektivitas, validitas, metodis, logis, dan klaim teoretis yang bersifat sektoral atas epistemologi itu sendiri (halm. 49).

Kritik sosio-epistemologi (pengetahuan berwatak sosial) memiliki skema pemikiran yang bertegangan dialektis, berwatak kritis terhadap ilmu. Pertama, meletakkan asumsi teoretiknya pada realitas sosial empiris (naturalis) bertujuan melakukan penelitian dan penetaan atas berbagai realitas sosial (mekanisme sosial dan wacana sosial), sebagai faktor konstitutif (stock of knowledge). Ini disebut kritik imanen.

Kedua, mempertautkan filsafat transendental dengan realitas sosial yang imanen. Bersifat dialektis. Bertujuan mengangkat hasil pemetaan pertama (realitas sosial) dalam pendekatan filsafat transendental (filsafat kritis/ rasional) guna melakukan kritik, pengujian, pengkajian, debat, dialog, konseptualisasi, sistematisasi dan pewacanaan yang membentuk dunia objektif bagi teori pengetahuan. Ini disebut kritik transenden (halm. 89-90). Kritik imanen, diperkenalkan oleh Jurgen Habermas dan Steve Fuller. Fuller banyak menyerang berbagai pandangan epistemologi yang bersifat normatif dan utopis (“mengawang”) atau tanpa sasaran praxis yang tegas. Sedangkan Habermas lebih menggunakan pendekatan dialektis sebagai refleksi atau “kritik  epistemologi” terhadap teori-teori sosial. Dalam pandangan Habermas, telaah sosio-epistemologi (filsafat pengetahuan) dilakukan dalam dua tataran, yakni pertama, melakukan kritik imanen (kritik teori sosial) untuk menemukan kondisi sosio-historis dalam konteks tertentu yang memengaruhi pengetahuan manusia. Kritik diarahkan kepada berbagai bentuk penindasan dogmatis, ideologis dan teknologis yang menekan konfigurasi kehidupan sosial manusia atau masyarakat. Kedua, melakukan kritik transendental (kritik teori pengetahuan) untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan pengetahuan dalam diri subjek itu sendiri.

Telaah sosio-epistemologi dengan ini berusaha mengatasi “saintisme” atau “positivisme” yang begitu kuat menguasai alam pengetahuan dewasa ini (halm. 94-95).  Sosio-epistemologis, tetap teguh dalam tataran filosofis (sebagai sebuah filsafat pengetahuan), dengan ciri berpikir yang dibangun di atas fondasi tegangan dialektis, melakukan kritik epistemologis terhadap teori-teori pengetahuan dan teori-teori sosial (halm. 98-99), berusaha membangun hubungan dialektis antara teori dan praxis antara pengembangan ilmu pengetahuan dan kepentingan masyarakat (halm. 102). Watak dialektika emansipatoris sosio-epistemologi (bukan dialektika materialis) dan penuntunan pada praxis dari sosio-epistemologi membawa pencerahan keilmuan dan berimplikasi pada tuntutan teoretis dan metodis sebagai validitas sosio-epistemologi itu sendiri dan pembaruan atas teori-teori sosial modern mengenai perkembangan masyarakat, yaitu teori rasionalisasi masyarakat dan teori modernisasi masyarakat (halm. 373).

Apa yang disebut teori sosial modern, dalam pandangan sosio-epsitemologi harus dikritik karena teori-teori tersebut telah meletakkan pandangannya yang sempit atau yang disebut Max Horkheimer, social discrimination, yang menurutnya telah menghadirkan konflik dan cara berpikir ideologis di dalam pemikiran para filsuf dan pemikir ideologis modern. Teori sosial tersebut juga telah meletakkan sebuah ontologi mengenai realitas sosial yang partikular dan terisolasi, bukan realitas sosial sebagai sebuah ontologi yang utuh dan bereksistensi (halm. 373-374).

Teori-teori sosial disebutkan  telah melepaskan hakikat perkembangan masyarakat dari realitas permasalahannya yang utuh dan kompleks. Perkembangan masyarakat dipandang sebagai hal yang bersifat  teknologis, terbukti dengan pola yang digunakannya yaitu reduksi, institusionalisasi dan objektivikasi masyarakat. Tujuannya agar realitas sosial dan perkembangan (modernisasi) masyarakat dapat dimanipulasi menurut hukum perkembangan yang bersifat teknologis dan ekonomis sebagaimana yang mereka kehendaki.

Watak teori sosial ini harus direvolusi atau diubah, karena masyarakat dengan ciri sosialnya yang dinamis dan penuh daya misteri selalu berkembang dalam realitasnya yang bersifat kompleks, holistik, bebas, dan berubah-ubah (halm. 375). Kritik dilakukan juga atas teori modernisme yang gagal akibat keangkuhan rasionalisme modernnya (halm. 375, 378), untuk membangun pembaruan “rasionalisasi perkembangan masyarakat”  (halm. 381, 398-402) dengan mengembangkan konsep praxis (halm. 395).

Pembaruan terhadap teori modernisasi (halm. 402 – 407) terasa direkomendasikan sosio-epistemologi ini disamping juga usulan pembaruan terhadap paradigma materialisme sejarah Karl Marx yang menurutnya harus diganti dengan paradigma komunikasi (halm. 427).

Berlanjut ke…

Membangun Sikap Ilmiah, Moral dan Sosial

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *