Memahami Dinamika Sosial Dengan Teori Konstruktal

Posted on

constructal-theory-200x135 Memahami Dinamika Sosial Dengan Teori KonstruktalSebuah pemikiran “tak lazim” pada tradisi keilmuan di Indonesia (tak linier), tetapi sebagai insan yang open-mind, boleh kita menyimak teori dinamika sosial yang diadopsi dari ilmu alam, oleh ilmuwan natural science pula, ahli thermodinamika. Teori ini disebutnya, teori konstruktal (Constructal Theory), dengan dasar kerangka berpikir:

“Desain dari setiap sistem yang terbuka atau tertutup, baik yang hidup misalnya masyarakat manusia atau benda mati misalnya daerah aliran sungai didasarkan pada postulat bahwa “untuk aliran sistem yang terbatas agar bertahan konfigurasinya harus berevolusi sedemikian rupa sehingga memberikan akses yang lebih mudah”

 

Teori ini diperkenalkan oleh Adrian Bejan dan Gilbert W. Merkx, dalam buku Constructal Theory of Social Dynamics yang terbit pada tahun 2007, setebal 343 halaman. Adrian Bejan menciptakan merk teori ini dari kata ”construere” (bahasa Latin) yang berarti “untuk membangun.” Teori Constructal atau hukum constructal berpendapat bahwa desain dari setiap sistem yang terbuka atau tertutup, baik yang hidup misalnya masyarakat manusia atau benda mati misalnya daerah aliran sungai didasarkan pada postulat bahwa “untuk aliran sistem yang terbatas agar bertahan konfigurasinya harus berevolusi sedemikian rupa sehingga memberikan akses yang lebih mudah.”

Hukum Konstruktal

Masyarakat dengan semua lapisan dan poin-poin organisasinya adalah satu sistem aliran. Ini adalah satu sistem “kehidupan,” mungkin merupakan yang paling rumit dan paling berteka-teki dari semua yang kita tahu karena kita, ada di dalam sistem aliran ini.  Masing-masing dari kita seperti sebuah gelembung dalam paru-paru, seperti pusaran air dalam satu sungai yang bergejolak, atau satu daun di batang pohon. Dari posisi tunggal semacam ini, yang identik dengan tingkatan posisi-posisi sejumlah besar orang, ini merupakan sebuah tugas yang berat dan hebat dan menjelaskan gambaran besar – paru-paru, palung sungai, dan hutan.

Alam membuat kita kagum dengan bentuknya, strukturnya, konfigurasinya, polanya, ritmenya, dan kesamaannya.  Semua itu  adalah anugerah bagi kita. Darinya, ilmu pengetahuan dilahirkan dan berkembang sampai sekarang ini, dimana dia bertanggungjawab untuk keberadaan fisik dan intelektual kita. Arsitektur yang berteka-teki dan sejarah masyarakat memiliki banyak kemiripan dengan arsitek dan evolusi dari sistem aliran lainnya (tapi lebih sederhana): vaskularisasi darah, lembah sungai, dan dataran tinggi, pergerakan binatang, pernafasan, dan lain-lain. Ketepatan-ketepatan yang terjadi dalam perjalanan waktu adalah satu fenomena universal sedang terjadi. Apakah ada satu prinsip fisika yang darinya fenomena konfigurasi dan ritme dapat disimpulkan tanpa sumber untuk empirisme?

Ada satu prinsip, dan ini berdasarkan pada observasi umum (universal) bahwa jika satu sistem aliran (sebagai contoh, lembah sungai, pembuluh darah) diberkahi dengan kebebasan yang cukup untuk merubah konfigurasinya, sistem ini menampilkan konfigurasi-konfigurasi yang menyediakan rute akses yang semakin lebih baik untuk arus-arus yang mengalir. Observasi-observasi dari jenis ini banyak muncul dan memiliki satu arti: panah waktu berhubungan dengan urutan konfigurasi aliran yang menyusun keberadaan sistem ini. Gambaran-gambaran yang ada digantikan dengan gambaran-gambaran yang lebih mudah mengalir. Bejan merumuskan prinsip ini pada tahun 1996 sebagai hukum konstruktual dari generasi konfigurasi aliran (Bejan 1996, 1997a-c):

“Untuk ukuran yang pasti dari sistem aliran agar dapat bertahan seiring dengan berjalannya waktu (untuk dapat bertahan hidup), maka konfigurasinya harus berevolusi dalam cara sedemikian rupa dimana dia dapat menyediakan akses yang semakin lebih mudah untuk arus-arus yang mengalir di dalamnya”.

Pernyataan umum hukum constructal adalah bahwa ini tidak menggunakan kata-kata seperti pohon, rumit vs sederhana, dan alami vs teknis. Bagaimana untuk menyimpulkan satu kelas konfigurasi aliran dengan mengadakan hukum constructal adalah sebuah pemikiran yang sepenuhnya berbeda (terpisah, selanjutnya), yang tidak boleh rancu dengan hukum constructal.  Ada beberapa (tidak banyak) kelas konfigurasi aliran, dan masing-masing kelas dapat diperoleh dari hukum kontruktal dalam beberapa cara, secara analitis (kertas dan pensil) atau numerik, perkiraan atau lebih akurat, acak (melalui penelitian acak) atau menggunakan intelegensi (strategi, jalan pintas), dll. Kelas-kelas yang telah kami amati secara mendetail dan oleh beberapa metode adalah bentuk-bentuk saluran lintas bagian, bentuk-bentuk sungai lintas bagian, penjarakan internal, dan arsitektur bentuk pepohonan (Bejan 1997c, 2000, 2006; Bejan and Lorente 2005).

Berhubungan dengan pepohonan, kelompok kami memperlakukan mereka bukan sebagai model (banyak yang telah menerbitkan dan terus menerbitkan model-model), tapi sebagai masalah mendasar dalam maksimalisasi akses: volume yang harus dipenuhi, daerah untuk dipakai, garis untuk digambar, dan masing-masing arah aliran yang berlawanan. Yang penting adalah hal tentang geometri bahwa “volume”, “wilayah”, dan “garis” mewakili ketidak terbatasan poin-poin. Temuan teoritis kami akan pohon-pohon berasal dari keputusan untuk menghubungkan satu poin (sumber atau bak) dengan tidak terbatasnya poin-poin (volume, area, garis). Ini adalah realita dari kelanjutan yang secara rutin dibuat oleh pemodel yang memperkirakan ruang sebagai satu jumlah terbatas dari poin-poin khusus, dan kemudian menutupi ruang tersebut dengan gambaran-gambaran “tongkat” yang tentunya akan menutupi ruangan atau tempat ini tidak sepenuhnya (dan dari hal ini, geometri fraktal). Pemahaman lebih lanjut memerlukan satu studi tentang ruang, yaitu satu tempat diantara hubungan-hubungan pohon. Plot-plot ini hanya dapat dibasahi oleh difusi dengan resistivitas yang tinggi (satu aliran tidak terlihat yang tidak teratur), saat hubungan-hubungan pohon berperan sebagai saluran untuk aliran dengan resistivitas rendah yang teratur (aliran yang terlihat, saluran-saluran).

Kedua model pengaliran dengan ketidak sempurnaan termodinamika (yaitu dengan ketahanan/resistansi), plot-plot ruang dan hubungan-hubungan atau saluran-saluran harus seimbang sehingga bersama-sama mereka memberikan kontribusi minimum untuk ketidak sempurnaan untuk arsitektur aliran global. Poin penghambat harus seimbang dan didistrubusikan. Arsitektur aliran adalah ekspresi grafis dari keseimbangan antara saluran-saluran dan ruang-ruangnya. Arsitektur yang diperoleh (pohon, bentuk saluran, penjarakan, dll.) adalah distribusi optimal dari ketidaksempurnaan. Mereka yang memodelkan pohon-pohon alami dan kemudian menggambarkannya sebagai garis-garis hitam di kertas (saat pada waktu yang bersamaan tidak mengoptimalkan lauout dari setiap garis hitam di ukuran dan alokasinya yang optimal) kehilangan setengah dari gambaran. Yang putih sama pentingnya seperti yang hitam.

Penemuan kami tentang arsitektur aliran berbentuk pohon didasarkan pada tiga pendekatan. Dalam Bejan (1996), awalnya adalah satu jalan pintas analitis berdasarkan pada beberapa asumsi yang menyederhanakan: 90o antara cabang dan anak sungai, satu urutan konstruksi dimana bangunan-bangunan kecil yang optimal dipertahankan, cabang-cabang dengan ketebalan konstan, dan lain-lain. Beberapa bulan selanjutnya, kami menerbitkan masalah yang sama (Ledezma et al. 1997) secara numerik, dengan menghilangkan sebagian besar dari asumsi yang menyederhanakan (sebagai contoh, urutan konstruksi) yang digunakan dalam studi-studi pertama.  Kami juga melakukan pekerjaan ini dalam satu lingkup aliran daerah poin dengan blok-blok acak dengan resistansi yang rendah yang masuk dalam satu latar belakang dengan resitensi yang tinggi (Errera and Bejan 1998), dengan menggunakan bahasa aliran Darcy (perembesan, dan bukan konduktivitas dan resistensi). Sejauh ini, kami menemukan pohon-pohon kinerja yang lebih baik dan “tampilan yang lebih alami” saat kami mengkaji lebih berlanjut, yaitu seiring dengan kami memberikan lebih banyak kebebasan kepada struktur aliran untuk berbentuk.

Keumuman dari fenomena-fenomena ini terlalu jelas untuk dilewatkan.  Disini ditulis bahwa pada masa lalu dan paling terbaru (secara empiris) dalam gemetri fraktal, dimana ini disimulasi berdasarkan pada pembagian yang berulang-ulang yang harus dipertimbangkan dan dipotong.  Asal dari perhitungan semacam ini ada pada penjelasan bahwa bagian-bagian yang pecah (atau blok-blok bangunan, dari pandangan makalah ini) adalah hasil dari satu proses optimalisasi sendiri dan pengaturan sendiri.  Makalah saat ini menempatkan satu pendekatan penentuan murni dibalik kata “diri sendiri”. Pencarian untuk jalan paling mudah (paling tidak tahan) ketika batasan-batasan global (arus, tingkat aliran, ukuran) diberikan.

Jika kita membatasi pembahasan hanya pada contoh-contoh sistem-sistem aliran yang hidup (paru-paru, sistem sirkulasi, sistem sarah, pohon, akar, daun), maka adalah cukup dapat diterima untuk memiliki pemikiran akhir dengan kesimpulan bahwa fenomena semacam ini adalah umum karena mereka adalah hasil akhir dari satu proses yang panjang dari “seleksi alam”.  Banyak yang telah ditulis tentang seleksi alam dan dampak yang dimiliki oleh efisiensi pada kelangsungan hidup. Dalam kenyataannya, untuk mengacu pada sistem-sistem yang hidup sebagai unit tenaga yang kompleks telah menjadi hal rutin. Kecenderungan dari sistem-sistem yang hidup untuk menjadi optimal dalam setiap blok bangunan dan untuk mengembangkan hubungan-hubungan yang optimal dari blok-blok bangunan semacam ini belum dijelaskan: ini telah dihilangkan dengan pernyataan bahwa ini dinyatakan dalam kode genetik dari organisme yang terkait.

Jika demikian, maka kode genetik seperti apa yang bertanggungjawab untuk perkembangan struktur-struktur yang ekuivalen dalam sistem-sistem yang tidak hidup seperti sungai-sungai dan kilat? Kode genetik apa yang bertanggungjawab untuk jaringan-jaringan yang dibuat manusia (seperti pohon-pohon dalam tulisan ini)? Tentunya bukan milik saya, karena meskipun sangat berpendidikan, tidak ada dari orang tua saya yang tahu tentang transfer panas (namun, termodinamika klasikal tidak diperlukan dalam paper ini). Dalam kenyataannya, kode genetik siapa yang bertanggungjawab untuk pohon-pohon kemasyarakatan yang menghubungkan kita, untuk semua sirkuit elektronik, sambungan telepon, saluran udara, saluran perakitan, koneksi-koneksi antar unit, jalan raya dan ruang-ruang di lift dalam bangunan-bangunan dengan banyak tingkat?

Tidak ada perbedaan antara yang hidup dan yang tidak hidup ketika sampai pada kesempatan untuk menemukan satu rute yang leih langsung yang menjadi subyek untuk batasan global, sebagai contoh, kesempatan untuk pergi dari sini ke sana dalam satu cara yang lebih mudah. Jika sistem-sistem yang hidup dapat dipandang sebagai mesin yang bersaing untuk kinerja termodinamika yang lebih baik, maka sistem-sistem yang tidak hidup juga dapat dipandang sebagai sesuatu yang hidup (binatang) dalam persaingan untuk kelangsungan hidup.

Analogi ini murni bersifat empiris: kita memiliki sekumpulan observasi yang sangat baik kasus per kasus yang mengindikasikan bahwa konfigurasi-konfigurasi aliran (yang hidup dan yang tidak hidup) berevolusi dan bertahan dalam waktu, saat yang lainnya tidak. Sekarang kita tahu poin khusus (akses aliran maksimum) yang menentukan masing-masing desain yang dapat bertahan hidup terpisah, tapi kita tidak memiliki dasar teori dimana kita dapat mengharapkan bahwa desain yang bertahan dalam waktu adalah yang memiliki poin khusus. Kumpulan bukti empiris ini membentuk dasar untuk hukum alam baru yang dapat disimpulkan sebagai … [hukum constructal, pada awal bagian]. Hukum yang baru ini membawa kehidupan dan waktu secara eksplisit ke dalam termodinamika dan menciptakan satu jembatan antara fisika dan biologi.

Konstruksi Manusia dan Fosil Aliran Secara Umum

Piramida-piramida di Mesir dan tempat-tempat kuno lainnya membangkitkan minat kita karena ukuran dan bentuk geometrinya. Bahkan dengan standard-standard sekarang ini, ukurannya adalah sangat besar dan bentuknya sempurna. Begitu mengesankannya gambaran-gambaran ini dimana budaya kita cenderung untuk menambahkannya ke satu dasar ilmiah kuno yang telah hilang, dan untuk memperkirakan hubungan-hubungan antara masyarakat kuno yang tinggal di sisi yang berlawanan di dunia ini.

Teori konstruktal menawarkan satu penjelasan yang lebih langsung: piramida-piramida sebagai akibat dari satu fenomena alami universal yang begitu lazim dan permanen dimana dia mengatur gerakan-gerakan semua material di dunia. Pandangan ini tidak mengambil semua pengetahuan yang ada dari mereka yang mengetahui atau keberhasilan-keberhasilan yang diduga dari masa lalu, namun ini adalah satu argumen fisika yang dipilih oleh masyarakat kuno untuk dilakukan yaitu alami, “bahwa untuk mengusahakan atau membangun adalah alami”, dan bahwa geometri dari semua aliran material (yang hidup dan yang tidak hidup) dapat memiliki alasan berdasarkan pada satu prinsip. Piramida-piramida dan bukit-bukit semut adalah sama seperti dasar sungai yang mengering, lumpur yang retak dan kepingan salju. Mereka adalah jejak (fosil) dari konfigurasi-konfigurasi aliran yang pernah ada.

Fenomena universal adalah generasi arsitektur aliran dan prinsipnya adalah hukum constructal (bagian 1): untuk satu sistem aliran bisa bertahan dalam waktu (bertahan hidup), konfigurasinya harus berubah sampai dia menyediakan akses yang semakin lebih mudah pada aliran-aliran arusnya. Dalam satu sistem aliran, akses yang lebih mudah berarti lebih sedikit ketidak sempurnaan termodinamika (pergesekan, ketahanan aliran, tetesan, kejutan) untuk apa yang mengalir di lembah sungai atau binatang. Distribusi optimal dari ketidaksempurnaan yang sangat berbeda ini dan banyak ini adalah arsitektur aliran itu sendiri (paru-paru, lembah sungai, vaskularisasi darah, sirkulasi atmosfer, dan lain-lain.). Pada tingkat global, aliran-aliran sistem dengan ketidak sempurnaan minimum tapi pasti, yang berarti bahwa ini menghancurkan energi minimum yang berguna (bahan bakar, makanan, energi).

Dalam membuat satu piramida, hukum constructal memerlukan pengeluaran pekerjaan minimum. Prinsip ini memberikan lokasi dan bentuk bangunan. Pertama, lokasi ada di tengah tambang, karena pekerjaan minimum berarti jarak luncur minimum antara tempat pertambangan dan tempat konstruksi. piramida dan pertambangan berkembang pada waktu yang bersamaan. Jika piramida adalah satu arsitektur ‘positif’ (y > 0), maka pertambangan ada dalam posisi negatifnya (y < 0), dimana poin y ke arah atas. Pasangan positif negatif semacam ini ada di mana-mana dalam sejarah dan dalam geografi, meskipun kemajuan-kemajuan modern dalam teknologi transportasi cenderung untuk mengaburkannya.

Kedua, bentuk piramida juga dapat menjadi alasan untuk dasar hukum kontruktal. Dalam satu tumpukan batu yang disusun bersama dengan gaya gravitasi (“Konstruksi batu kering”), bentuk berarti sudut bawah a. Untuk sederhananya, anggap satu tumpukan dengan berbentuk kerucut.

Kontribusi yang dibuat oleh argumen teoritis ini adalah bahwa ada satu sudut dasar yang optimal, dan bahwa ini terlepas dari ukuran bangunan. Pergerakan yang optimal adalah satu jalan yang berbelok dalam hal Fermat. Ada dua media dimana arus aliran batu – dua mekanisme – satu dengan ketahanan rendah (m1) dan yang lainnya dengan ketahanan tinggi (m2).  Ketika kedua media ini sangat berbeda (m2 > > m1), sudut dari belokan mendekati 90o.  Sungai-sungai, batu, dan binatang mengalir dengan konfigurasi-konfigurasi yang muncul dari prinsip yang sama.

Hukum belokan mengatur pergerakan barang-barang dalam ekonomi, dimana ini diketahui sebagai hukum penghematan. Sejarah perkembangan rute perdagangan menunjukkan kecenderungan yang sama. Kita sering mendengar bahwa satu kota berkembang karena “dia menemukan dirinya sendiri” di persimpangan jalan – dipersimpangan rute perdagangan.  Kami percaya bahwa ini adalah cara lain: rute-rute yang dibelokkan secara optimal menentukan persimpangannya, kota, dermaga, tempat memuat dan menurunkan barang, dan lain-lain.

Aliran-aliran yang lebih rumit adalah kumpulan jalan-jalan yang dibelokkan secara optimal seperti akses aliran global yang dimaksimalkan.  Satu lembah sungai dalam sungai tropis adalah seperti satu daerah yang ditinggali oleh orang: setiap poin di tempat ini pasti memiliki akses maksimum ke satu poin umum dalam lingkup tersebut.  Ada dua media, satu dengan ketahanan rendah (saluran; kendaraan di jalan) dan yang lainnya dengan ketahanan tinggi (rembesan Darcy melalui pinggir sungai yang basah; berjalan).  Bentuk dari lembah sungai berasal dari maksimalisasi akses aliran.

Gerakan Berpola dan Struktur Aliran Bergolak

Satu teori baru memperkirakan, menjelaskan, dan mengatur satu pengetahuan yang berkembang secara empiris.  Ini telah kita lihat dalam bagian ini dengan membawa di bawah hukum konstructal pergerakan barang-barang, orang, dan binatang, dan konstruksi dan distribusi tempat tinggal manusia. Secara khusus, gerakan binatang tidak berbeda dari aliran-aliran lainnya, yang hidup dan yang tidak hidup: mereka semuanya mengembangkan (berbentuk, berevolusi) arsitektur dalam ruang dan waktu (pengaturan diri sendiri, optimalisasi diri sendiri, kelangsungan hidup), sehingga mereka memaksimalkan akses aliran di alam.

Semua binatang, tanpa memandang habitatnya (darat, laut, udara), udara campuran, air, dan tanah adalah jauh lebih efisien daripada jika tidak ada struktur aliran. Ini sepertinya kasar, tapi ketika semua dikatakan dan dilakukan, ini adalah apa yang diselesaikan oleh sistem-sistem aliran yang hidup dan mengapa warisannya adalah sama seperti yang dari sungai-sungai dan angin.

Tindakan hukum constructal dalam struktur pergolakan adalah bukti. Burung yang bermigrasi terbang dalam kelompok-kelompok besar yang diatur dalam pola yang tepat. Pengaturan eksternal yang sama untuk gerakan-gerakan dapat terlihat di darat, dalam tim balap sepeda. Prinsipnya adalah sama: dorongan aerodinamika menurun ketika masing-masing individu bersatu, dan dalam cara ini masa berjalan lebih cepat dan lebih jauh. Untaian pembalap di darat (garis conga) dan karpet terbang (burung, pesawat) di udara semuanya didorong oleh prinsip yang sama.

Proses adalah jelas di manapun. Kelompok-kelompok ikan adalah indah karena mereka menampilkan pola organisasi. Renang dan melompat yang singkron dari lumba-lumba adalah juga karena pengaturan spasial. Anak itik yang berenang di belakang ibunya tersusun dalam satu pola, seperti bidak dalam papan catur.

Para pakar biologi dan pakar mekanik cairan telah lama mengenali hubungan geometri antara satu proses yang berpola dan kemunculan reguler dari kemunculan sesuatu yang mengarahkan prosesi yang ada.  Mereka tentu benar, tapi tidak dalam hal umum yaitu dalam hukum constructal.  Ini adalah cairan yang tidak hidup dalam bagian yang mengarahkan yang mengatur dirinya sendiri. Dia melakukan hal ini dengan tanpa kekuatan otak sama sekali, sehingga dia dapat berjalan dan menyebar sendiri dan yang paling cepat adalah melalui cairan yang tidak bergerak.

Ikan dan anak itik, untuk alasan constructal mereka sendiri, berperan sebagai penanda dalam aliran. Mereka merasakan alirannya, dan mereka mengikutinya. Dalam cara ini, mereka memvisualisasikan hukum constructal yang tidak hanya berpengaruh untuk pusaran-pusaran air dan pergolakan dalam cairan, tapi juga untuk dorongan binatang (kecenderungan) untuk memajukan diri dengan paling mudah.

Ilmu Pengetahuan Sebagai Satu Arsitektur Aliran Konstruktal

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan kita akan bagaimana alam bekerja. Alam adalah segalanya, termasuk mesin: biologi dan obat manusia dan spesies mesin. Pengetahuan kita dipadatkan dalam pernyataan-pernyataan sederhana (pemikiran, hubungan-hubungan), yang berevolusi dalam waktu dengan digantikan oleh pernyataan-pernyataan yang lebih sederhana. Kita jadi lebih tahu karena evolusi yang terjadi dalam waktu, bukan karena otak yang menjadi semakin besar dan neuron-neuron yang lebih kecil dan lebih banyak. Ukuran otak kita yang sudah tetap menyesuaikan dengan aliran masuk informasi-informasi baru melalui satu proses penyederhanaan dengan penggantian: dalam waktu dan langkah kemajuan, banyak katalog informasi empiris (sebagai contoh, ukuran-ukuran, data, model-model empiris yang kompleks) digantikan oleh pernyataan-pernyataan kesimpulan yang jauh lebih sederhana (sebagai contoh, konsep-konsep, rumus-rumus, hubungan-hubungan yang sah, prinsip-prinsip, hukum-hukum). Satu hirarki pernyataan-pernyataan muncul di sepanjang jalan ini: ini muncul secara alami, karena ini lebih baik.

Yang paling sederhana dan paling universal adalah hukum-hukum.  Jumlah dan tenaga besar yang harus dikeluarkan digantikan oleh yang padat dan cepat. Dalam waktu, ilmu pengetahuan mengoptimalkan dan mengatur dirinya sendiri dalam cara yang sama dimana satu lembah sungai berevolusi: kearah konfigurasi-konfigurasi (hubungan-hubungan, saluran-saluran) yang menyediakan akses yang mengalir lebih cepat atau lebih mudah mengalir. Ukuran-ukuran dari bagaimana hal-hal jatuh (lebih cepat dan lebih cepat, dan selalu dari tinggi ke rendah) dianggap sebagai yang tidak diperlukan oleh prinsip Galilei dan hukum ke dua dari termodinamika.

Hirarki bahwa ilmu pengetahuan menampilkan pada tahap awal dalam sejarah perkembangannya merupakan satu ekspresi dari perjuangannya yang tidak pernah berakhir untuk mengoptimalkan dan mendesain kembali dirinya sendiri. Hirarki bearti bahwa ukuran-ukuran, asumsi-asumsi, dan model-model empiris muncul dalam jumlah yang banyak, satu “kelanjutan” dimana diatasnya pernyataan-pernyataan yang padat (hukum) muncul sebagai ujung jarum yang runcing.  Keduanya diperlukan, banyak maupun tunggal.  Peradaban dengan semua konstruksinya (ilmu pengetahuan, agama, bahasa, tulisan, dan lain-lain) adalah fisika yang tidak pernah berakhir tentang pemacuan konfigurasi-konfigurasi baru, dari aliran masa, energi, dan pengetahuan untuk migrasi dunia dari orang-orang tertentu yang baginya pemikiran-pemikiran ini muncul (mereka yang kreatif).  Pemikiran-pemikiran yang baik berjalan. Konfigurasi-konfigurasi yang mengalir dengan lebih baik menggantikan konfigurasi-konfigurasi yang ada.  Fakta-fakta empiris adalah sangat banyak, seperti lereng bukit dari satu lembah sungai. Hukum-hukum constructal seperti pada aliran sungai besar, Seine dan Danube.

Teori Konstruktal Dalam  Ranah  Sosial

Pola-pola yang diperkirakan oleh teori constructal untuk fenomena-fenomena alam juga ditemukan dalam fenomena sosial yang melibatkan sejumlah besar aktor yang saling berhubungan dan terkait melalui jaringan-jaringan yang melibatkan pertukaran. Diantara tipe-tipe fenomena sosial adalah jaringan-jaringan sosial, sistem-sistem tingkatan sosial, aliran investasi modal, dan arus migrasi. Contoh-contoh dari dua fenomena terakhir, investasi modal dan migrasi, dibahas secara mendalam.

Masyarakat beserta semua lapisan dan struktur organisasi yang ada di dalamnya adalah sistem aliran.  Ini adalah sebuah sistem hidup yang mungkin paling komplek dan membingungkan yang kita ketahui.  Hal ini juga merupakan sesuatu yang sulit dipahami karena kita sebagai individu yang mencoba untuk memahaminya berada di dalam sistem aliran tersebut.  Setiap dari kita sebagai individu, bagaikan alveolus di paru-paru, air di sungai yang bergolak, atau daun di cabang pohon.

Di tahun akhir-akhir ini, banyak literatur telah membahas sekitar konsep-konsep jaringan sosial dan modal sosial, yang pertama adalah sumber dari yang ke dua. Literatur ini membuat beberapa poin umum sebagai berikut:

  1. Jaringan-jaringan sosial tidaklah acak dan juga tidak seragam (seperti jaring ikan) tapi terdiri dari ikatan-ikatan interaksi yang kuat antara banyak unit dan satu poin utama.
  2. Jaringan ini akan memiliki ikatan-ikatan yang lemah atau jembatan-jembatan ke jaringan-jaringan lain yang mengarahkan pada aliran-aliran diantara jaringan-jaringan.
  3. Jaringan-jaringan adalah sistem-sistem yang lebih efisien daripada bentuk-bentuk alternatif hubungan.
  4. Semakin besar efisiensi dari jaringan utama jika dibandingkan dengan sistem-sistem lainnya menyediakan keuntungan yang lebih besar (juga disebut modal sosial) dalam berbagai bentuk (sebagai contoh, peningkatan informasi, kepercayaan) daripada yang ditemukan dalam sistem-sistem alternatif.
  5. Jaringan-jaringan berkembang seiring dengan siring dengan yang utama menarik benda-benda baru. Keenam, jaringan-jaringan yang lebih besar berkembang dengan pengorbanan dari jaringan-jaringan yang lebih kecil. Akhirnya, dimensi-dimensi (ukuran dan jumlah relatif dari cabang-cabang) dari jaringan-jaringan sosial menggambarkan properti-properti seperti fraktal yang irip dengan yang ada dalam jaringan-jaringan yang berbentuk pohon di alam, seperti yang ditemukan untuk lembah sungai oleh Rodriguez-Iturbe and Rinaldo.

Jaringan-jaringan sosial dalam kenyatannya merupakan struktur-struktur pohon tiga dimensi dan bukan jaringan dua dimensi seperti jari maka apa yang dikarakterkan sebagai satu poin utama dalam teori jaringan sosial tidak benar-benar menjadi satu poin utama, tapi telah menjadi batang atau saluran pada aliran-aliran pertukaran sosial sekali mereka dikumpulkan dari sekeliling, atau sebelum mereka didistribusikan ke sekeliling.

Bagian ini menampilkan dua kasus dimana jaringan-jaringan dihubungkan oleh saluran-salurna dan bukan oleh poin utama. Kasus ini menyarankan bahwa jaringan memastikan prediksi-prediksi dari teori constructal. Mereka juga menyarankan bahwa asal dan karakterisitk dari batang utama (yang merupakan kesatuan pada variabel-variabel eksogen) adalah penentu yang penting dari kemunculan jaringan sosial.

Fenomena Sosial Versus Alami: Satu Perbedaan Penting

Pemikiran bahwa teori constructal, yang menjelaskan properti-properti fisik atau sistem-sistem alami, juga harus menjelaskan properti-properti sistem sosial mungkin perlu dipertanyakan. Sebagian ilmuan sosial menganggap bahwa di dalam memahami manusia berbeda dengan memahami alam dimana manusia memiliki kehendak dan rasionalitas masing-masing untuk setiap tindakan yang dilakukan. Ungkapan yang paling terkenal dari perspektif ini ditemukan dalam konsep  Max Weber tentang “verstehen.”  Verstehen, atau “pemahaman simpatis” adalah perhatian bahwa perilaku dari para aktor sosial termotivasi oleh pemikiran dan budaya, yang membuat adanya satu pemahaman akan alasan-alasan untuk perilaku tersebut yang sangat berbeda dalam karakternya dari penjelasan-penjelasan yang mendeskripsikan perubahan-perubahan dalam unit-unit yang tidak hidup atau fisik.

Jika dijamin bahwa orang-orang tidak seperti tetesan air, mengapa harus ada pemikiran bahwa jaringan sosial harus menyerupai jaringan sungai atau pohon?  Paling tidak ada empat penjelasan memungkinkan untuk menjawab pertanyaan ini.

  • Karakteristik yang unik dari masing-masing individu yang menyusun satu jaringan adalah tidak relevan dengan karakter dari jaringan itu sendiri. Maka, tidak ada dua daun pada satu pohon yang benar-benar sama, tapi mereka memainkan fungsi-fungsi yang serupa sebagai anggota dari sistem pohon yang sama.
  • Konsep Weber tentang birokrasi dinyatakan dalam satu asumsi yang serupa yaitu bahwa aturan-aturan dari sistem birokrasi menentukan perilaku, bukan karakteristik unik dari orang-orang dalam birokrasi. Maka, orang-orang dapat digantikan tanpa mengganti dasar dari organisasi birokrasi.
  • Masing-masing motivasi dihilangkan dalam situasi-situasi yang melibatkan sejumlah besar orang, atau massa, satu topik yang dipelajari oleh bidang perilaku kolektif. Perilaku orang-orang dalam satu kelompok mungkin sangat berbeda dari perilaku orang-orang saat mereka sendiri.  Efek-efek yang sama mungkin juga terlihat ketika sejumlah besar orang termotivasi oleh kepercayaan bersama, bahkan ketika mereka secara fisik tidak bersama, seperti dalam kesukaan mendalam (sebagai contoh, tulip mania pada abad ke 17 di Belanda) dan kepanikan (pergolakan pasar saham pada tahun 1929).  Jika proses penyebaran kepercayaan bersama, baik dalam satu kelompok orang atau dalam perkumpulan tertentu menyusun pembentukan sebuah jaringan sosial, kemudian episode-episode perilaku kolektif juga dapat ada dalam rubrik umum yang masuk dalam perilaku yang ditentukan oleh sistem.
  • Saat motivasi-motivasi orang dapat dipahami, seperti pemahaman mengarahkan pada penemuan bahwa sebagian besar orang seringkali menjadi aktor rasional yang sangat suka untuk meminimalkan biaya dan memaksimalkan keuntungan dari perilaku mereka. Ini tentu merupakan dasar dari teori pilihan rasional yang melatarbelakangi perekonomian modern dan sedang mendapatkan tempat dalam ilmu pengetahuan sosial lainnya.  Di semua kasus, untuk hal dimana orang berperilaku untuk memaksimalkan keuntungan mereka, mereka akan memilih atau menemukan kembali atau menemukan sistem-sistem interaksi yang lebih efisien.  Teori constructal menjelaskan bahwa ada jaringan pohon karena mereka memerlukan jumlah terkecil dari energi yang berguna, dan oleh karena itu juga yang paling efisien.  Oleh karena itu, para aktor rasional akan cenderung untuk mengarah ke jaringan sosial yang menampilkan properti-properti efisiensi yang sama yang ditunjukkan oleh sistem-sistem di alam.
  • Bisa juga terjadi bahwa setiap rangkaian interaksi-interaksi manusia yang dipertahankan menjadi satu jaringan alami, dan bahwa semua jaringan adalah sama, berevolusi ke arah efisiensi. Jika tidak, mereka digantikan oleh jaringan-jaringan lainnya. Semakin jaringan semacam ini berevolusi ke  arah efisiensi, maka dia akan lebih cenderung untuk terlihat seperti jaringan-jaringan lain yang efisien, yaitu semakin dia menyerupai sistem-sistem pohon yang ditemukan di alam.  Di semua kasus, motivasi-motivasi yang dimiliki orang dalam konteks sosial atau perbedaan-perbedaan diantara bagian penyusun dalam sistem alam, adalah tidak relevan dengan pemahaman evolusi jaringan-jarngan, yang didorong oleh properti-properti utama yang umum untuk jaringan-jaringan pohon baik di alam maupun dalam kehidupan sosial.

Empat penjelasan di atas mengarahkan pada kesimpulan yang sama, bahwa di dalam memahami fenomena sosial sebagia sebuah aliran sebagaimana di dalam ilmu alam hendaknya bertitik tolak pada pemikiran bahwa properti-properti yang penting dari sistem dan bukan properti-properti yang unik dari masing-masing unit yang berkembang dan bergerak dalam sistem ini. Dengan pemahaman yang seperti ini, pengingkaran terhadap kesamaan realitas sosial dengan realitas alam menjadi terbantahkan karena ternyata di dalam realitas sosial jika dilihat secara keseluruhan akan menampakkan properti-properti yang penting dari bangunan sosial yang dapat berjalan dalam alur yang semakin efisien sebagaimana yang terjadi di dalam ilmu alam.

Untuk menunjukkan bekerjanya teori constructal dalam ilmu sosial, Gilbert menunjukkan beberapa fakta empirik fenomena sosial yang bekerja sesuai dengan teori constructal. Diantaranya adalah kasus jaringan perdagangan Argentina dengan Eropa dan jaringan migrasi orang Meksiko ke Amerika Serikat. Kedua kasus ini menunjukkan bahwa pengenalan akan teknologi baru yang menciptakan satu mekanisme aliran dengan efisiensi yang lebih besar dan biaya yang lebih sedikit daripada alternatif-alternatif sebelumnya akan menjadi dasar untuk sebuah jaringan sosial baru.  Hal ini juga menunjukkan bahwa pengenalan terhadap teknologi-teknologi seperti koran, telepon, transportasi udara, dan internet telah memiliki efek dalam proses aliran ini.

Studi-studi kasus ini juga menunjukkan bahwa saat pengenalan teknologi mungkin merupakan satu kondisi yang diperlukan untuk perkembangan satu jaringan, mereka tidaklah mencukupi.  Kondisi-kondisi yang lain harus menciptakan permintaan atau tekanan untuk unit-unit sekeliling atau aktor-aktor untuk memiliki hubungan dengan yang utama.  Di kasus Anglo Argentina, banyak modal dari Inggris sedang mencari outlet untuk investasi, sedangkan pada waktu yang bersamaan ada satu permintaan yang tidak terpenuhi untuk bahan makanan yang lebih baik untuk tenaga kerja industri Inggris yang berkembang dengan pesat. Di sisi Argentina, ada kelebihan produksi pertanian yang mencari pasar-pasar baru, dan juga banyak daerah-daerah yang kaya akan rumput menunggu eksplorasi.

Di kasus Meksiko  dengan Amerika Serikat, penciptaan awal dari saluran batang  El Paso tidak mengarahkan pada satu arus migrasi yang masuk maupun keluar. Arus migrasi mulai berkembang dengan cepat dengan lahirnya Perang Dunia II, ketika Amerika Serikat merespon kekurangan tenaga kerja dengan merekrut orang-orang meksiko masuk ke Program Bracero. Dalam hal ini, permintaan tenaga kerja di Amerika Serikat berlawanan dengan yang di Meksiko yang membutuhkan banyak pengusaha yang dipicu oleh perkembangan populasi yang pesat.

Di kedua kasus ini, ada permintaan-permintaan atau kebutuhan-kebutuhan yang menciptakan keuntungan-keuntungan untuk menggunakan batang, analog untuk tekanan dalam satu sistem hidrolik.  Sekali keuntungan-keuntungan ini ada, maka efisiensi-efisiensi yang ditawarkan oleh batang yang utama mengarahkan pada perkembangan yang cepat dari jaringan pohon di kedua ujung saluran ini.

Poin lain yang dapat disimpulkan dari jaringan Anglo-Argentina adalah bahwa sistem pohon akan berhenti berkembang atau mungkin bahkan berhenti berfungsi jika tekanan-tekanan atau keuntungan-keuntungan hilang dari sistem ini. Dalam jaringan di Amerika dengan orang Meksiko, keuntungan-keuntungan masih karena kekurangan tenaga kerja di Amerika dan perbedaan gaji antara Amerika dan Meksiko. Bagaimanapun juga, usaha-usaha untuk membendung arus ini telah mengganggu pola pohon alami dan arus gelombang, yang mengarahkan pada berbagai bentuk kebocoran, dan meluaskan riak ombak di sisi Amerika hingga ke perbatasan. Kebijakan-kebijakan penjagaan perbatasan tidak akan berhasil menjaga arus migrasi, tapi jaringan akan berhenti berfungsi jika keuntungan-keuntungan dan tekanan-tekanan dihilangkan. Ini akan terjadi jika adanya depresi di Amerika Serikat menghilangkan permintaan untuk tenaga kerja, atau jika pertumbuhan populasi di Meksiko menurun secara signifikan dan mengarahkan pada kekurangan tenaga kerja di negara tersebut.

Dari kedua kasus di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan teori constructal untuk jaringan-jaringan sosial akan muncul  menjanjikan. Langkah-langkah selanjutnya dapat mencakup:

  • Mensistematiskan prediksi-prediksi akan teori constructal untuk ukuran, bentuk, dan evolusi dari jaringan-jaringan social.
  • Memperbaiki konsep-konsep yang menyebabkan tekanan sosial (yang telah disebut sebagai kebutuhan, permintaan, atau keuntungan).
  • Mengembangkan satu definisi umum tentang batang utama sosial atau saluran utama (dapatkah kita menspesifikannya ketika ada?).
  • Mengoperasionalisasikan ukuran-ukuran dimensi-dimensi pohon; dan kemudian
  • Menguji akurasi dari prediksi-prediksi teori constructal saat diterapkan untuk fenomena sosial dengan menggungakan data empiris tentang jaringan-jaringa sosial.

Ketahanan atau kemunculan rintangan-rintangan yang mengganggu maksimalisasi efisiensi melalui perkembangan pola-pola constructal mengharuskan satu tindakan  lebih lanjut. Gilbert menyatakan bahwa rintangan-rintangan atau ketidakefisienan adalah hasil dari jaringan-jaringan yang bersaing yang mencoba untuk menguasai ruang properti yang sama seperti satu jaringan yang sudah ada.   Maka, satu pohon yang berkembang ke sungai adalah seperti sungai itu sendiri satu sistem constructal yang mencari efisiensi, tapi dalam melakukannya akarnya melambatkan aliran air dan menciptakan ketidak efisienan dalam sistem sungai.  Hal yang sama, satu sindikat kriminal yang berhubungan dalam praktek korupsi mungkin merupakan satu sistem constructal yang baru, tapi yang mengganggu aliran-aliran normal dari pasar yang tidak terbelenggu.   Oleh karena itu dalam alur-alur fenomena sosial, ketidakefisienan atau rintangan-rintangan bukanlah anomali, melainkan merupakan akibat-akibat yang dapat diperkirakan dari persimpangan sistem-sistem constructal yang bersaing.

Teori Konstruktal Dalam Berbagai Ranah Ilmu Pengetahuan

Desain Kota

Konfigurasi (geometri, tipologi) adalah halangan utama  dalam desain. Desainer yang baik membuat pilihan pilihan yang benar, misalnya, konfigurasi yang telah teruji. Pengalaman dan ketahanan sangatlah berguna saat sistem yang dibutuhkan merupakan bagian dari yang sudah ada. Apakah ini cara untuk memproses semua hal dalam setiap aplikasi? Maka akan bermanfaat sekali bagi desainer ketia ia mendapatkan akses dari sejak awal atas konfigurasi yang selalu ada. Akses tersebut kebebasan untuk mendapatkanya semua, tanpa adanya halangan berdasarkan pengalaman sebelumnya.   Akan sangat berguna juga ketika memiliki sebuah strategi (peta jalan, arahan( untuk mendapatkan fitur fitur arkitektur yang akan membawa pada konfigurasi yang lebih menjanjikan, dan akhirnya desain yang lebih optimal dan lebih baik.

Determinisme Sosial  dan Teori Constructal

Untuk mengilustrasikan  hubungan antara  teori constructal dan determinsime sosial adalah sebuah contoh tentang  akses  masuk ke pendidikan superior di Perancis.   Di Perancis, sistem pendidikan superior terbagi ke dalam dua  bentuk.  Menurut sejarahnya,  universitas diperuntukan  bagi  transfer pengetahuan  dan budaya  dan untuk penelitian sedangkan’les grandes ecole’, yang dibuat untuk  ahli mesin, kelompok  eksekutif dan  perusahaan pribadi.  jIka lembaga pendidikan pertama tidak memilih  pelajar, ‘les grande ecole’  sangat selektif.

Hal diatas menunjukkan bentuk tipologi determisnisme sosial: sebagaian besar pelajar  di ‘les grandes ecole’  merupakan anak-anak  dari kelas menengah atas, kelas atas atau anak-anak dari guru dan professor. Kami memiliki  aliran utama   dengan  alur perlawanan  yang sangat rendah melalui   keistimewaan anak-anak untuk masuk ke  ‘les grandes ecole’ dan kami memiliki chanel lain   dengan aliran perlawanan yang sangat yang tinggi dari waktu ke waktu, orang yang brilian  dapat masuk ke salah satu  sekolah-sekolah terbaik ini.

Dalam teori constructal, kami sangat yakin  bahwa kami  tidak dapat mengeliminasikan alur perlawanan melainkan kita dapat mendistribusikannya secara optimal melalui jaringan-jaringan.  Di sini, jaringan dibuat sebagai salah satu jalan untuk menempati tempat yang terbaik.  Malahan keberadaan bagian  dengan akses langsung  ke sekolah elite bagi kategori sosisal yang istimewa merupakan  alternatif cerdas  karena ia  membawa anak-anak  dari status sosial yang lain dan yang lebih rendah untuk  ikut di dalam  alur utama.

Pola-pola Aliran Alamiah dan Dinamika Masyarakat yang  Terstruktur: Sebuah Pandangan Constructal

Di sini kita menunjukkan bahwasanya pola pola penyaluran mirip dengan  yang muncul di alam bisa juga diketemukan dalam penyaluran manusia dan komiditas dan bisa dimengerti dengan prinsip yang sama juga-Hukum Constructal.  Lembah sungai adalah contoh dari arsitektur penyaluran yang secara alami terorganisirkan dimana hal tersebut telah diketahui sejak lama.

Kita menunjukkan bahwasanya hukum-hukum penyekalaan ini bisa diantisipasi berdasarkan teori constructal, yang memandang jalur dimana jaringan drainase berkembang dalam sebuah lembah bukan sebagai hasil yang kebetulan tetapi sebagai arsitektur aliran yang berasal secara alami sebagai hasil dari minimalisasi hambatan secara keseluruhan untuk mengalir. Selanjutnya kita tunjukkan bahwasanya sirkulasi planetari dan zona cuaca global yang utama bisa juga diantisipasi berdasarkan prinsip yang sama.  Pada akhirnya, kami pun mengspekulasikan bahwa prinsip yang sama tersebut memerintah “sungai manusia,” dimana arkitektur berkembang secara berkala untuk menyesuaikan diri dengan tujuan pengoptimalan akses dalam sebuah daerah tertentu

Teori constructal yang telah dengan sempurna diaplikasikan terhadap sirkulasi planetari dan cuaca dan terhadap morfologi muara sungai telah dipertunjukkan untuk menyediakan sebuah bingkai kerja yang bermanfaat dalam menggambarkan aliran manusia. Kami tunjukkan di sini, dengan contoh contoh yang sederhana, bahwasanya aturan aturan intuitif atas organisasi kepadatan bisa diantisipasi berbdasarkan prinsip, misalnya, berdasarkan Hukum Konsturktal.  Selain itu, mirip dengan kasus aliran benda yang tidak bernyawa, dalam kasus aliran manusia, pola-pola aliran muncul sebagaimana mestinya sebagai konsekuensi pengurangan aliran perlawanan  manusia secara global.  Pola aliran ini menunjukkan penurunan resistivitas (perlawanan) untuk arus manusia dan komoditas. Panjang jalur berbanding terbalik dengan resistivitas sedangkan jumlah jalur meningkat dengan resistivitas.

Ringkasnya, teori constructal menyediakan sebuah bingkai kerja yang luas untuk dilakukanya analisis semua jenis aliran termasuk arus manusia, dimana terlepas kompleksitasnya memberikan fitur yang mirip dalam arus benda yang tidak bernyawa.

Proses Kesenjangan (Inequality Process) Adalah Proses Evolusi

“Jika sistem kehidupan bisa dilihat dari sudut pandang mesin dalam kompetisi untuk mendapatkan performa termodinamik, maka sistem fisik juga bisa dilihat sebagai entitas yang hidup dalam kompetisinya untuk terus hidup… Untuk sebuah sistem terbuka yang berkuran tidak lama, maka ia harus berevolusi dengan sebuah cara dimana ia menyediakan akses yang lebih mudah terhadap keadaan dunia yang ada saat itu juga” (Bejan 1997, pp. 806–807).

Sebuah populasi partikel (molekul, organisme, pekerja, selanjutnya disebut dengan “partikel”) yang bertindak sebagai mesin pemanas yang melakukan aktivitas dan menjaga diri mereka sendiri dengan mengkonversikan energi lingkungan menjadi bahan bakar maka hal ini akan hilang lebih lama selama sisa waktunya, mungkin tidak akan bisa ditentukan kapan menghilangnya, jika partikel partikel berkompetisi demi bahan bakar dan kebutuhan kebutuhan lainnya berdasarkan Proses yang tidak seimbang (Inequality Process)Inequality Process, selanjutnya disebut IP, tersebut adalah sistem partikel yang berinteraksi secara stokastik dimana partikel-partikel berlomba lomba mendapat kuantitasnya yang positif, misalnya, energi, bahan bakar, makanan, atau kekayaan, dimana partikel-partikel yang lebih efisien dalam memproduksi kuantitas tersebut itu maka akan kehilanga lebih sedikit ketika mereka kalah dengan lawan lainnya.  IP ini relevan dalam menjelaskan dinamisme kekayaan dan distribusi pendapatan (tingkat makro) dan dinamika kekayaan dan pendapatan seseorang jika, secara empiris, lawan yang sering kalah namun kuat maka akan lebih produktif.  Mungkin saja mereka, secara empiris, jika karena produktivitasnya yang lebih besar mereka (a) kembali bangun lebih cepat ketika kalah, (b) diperlakukan lebih halus, (c) memiliki posisi tawar yang lebih banyak, atau (d) mengendalikan kekayaan, seperti keahlian keahlian (modal manusia) yang tidak bisa kapan saja dihilangkan begitu saja, misalnya, jagung bisa diambil dari seorang petani. Pendidikan atau pelatihan terhadap seorang pekerja adalah sebuah investasi kekayaan oleh orang itu sendiri.

Pada saat yang tepat, kelak, IP akan mentrasnfer kuantitas yang positif, entah itu energi, bahan bakar, makanan atau kekayaan- selanjutya dalam tulisan ini disebut dengan kekayaan-dari partikel aprtikel yang kurang efisien dalam memproduksinya menjadi partikel yang lebih efisien. IP tersebut melakukan tugas ini lewat kompetisi zero sum dengan mentrasnfer kekayaan, dengan jangka yang panjang, dari lemah menjadi lemah namun kuat. IP membuat semua partikel lebih aman dari kehancuran-kelaparan dengan memaksimalkan produksi kekayaan.  Dalam peningkatan IP pada perangkat yang tanpa syarat kekayaan secara universal dibagikan secara proporsional dengan produktivitas partikel dengan lebih produktif menerima bagian yang lebih besar dari peningkatan. IP menjamin bahwa semakin efisien yang lebih kompetitif menjauh dari kehancuran pada setiap jumlah kekayaan.  Jadi IP meminimalkan risiko kepunahan seluruh populasi dan, khususnya, risiko kepunahan untuk bagian yang lebih produktif.

IP ini mulanya berasal dari sebuah model matematika teori spekulatif oleh seorang sosiologis, Gerhard Lenski (1966), perihal arah ketidakseimbangan kekayaan atas evolusi budaya teknologi.  Spekulasi ini menyatakan bahwasanya:

  • Semakin banyak modal manusia (keahlian) diinvestasikan dalam masing masing pekerja lewat evolusi budaya teknologi
  • Modal manusia adalah sebuah bentuk kekayaan yang tidak bisa dihancurkan dan dikendalikan oleh masing masing
  • Modal manusia menjadi bagian yang lebih besar dalam keseluruhan total kekayaan masyarakat dalam evolusi budaya teknologi.
  • Konsentrasi kekayaan yang berkurang yang dikendalikan oleh orang orang kaya. Jelas sekali bahwasanya kebanyakan orang kaya masyarakat saat ini memiliki modal manusia yang kaya, sebuah fakta yang diteguhkan oleh “kapitalisasi”, dimana mengestimasikan jumlah modal yang ada yang dipersyaratkan untuk mewujudkan aliran pendapatan dengan ukuran yang sama.

Mekanisme yang digunakan oleh IP untuk mengirimkan kekayaan kepada mereka yang lebih produktif adalah asimetri dengan pendapatan dan kerugian. Apabila mereka yang lebih produktif rugi sedikit ketika mereka rugi-karena mereka melakukan pengembalian awal yang lebih cepat, atau diperlakukan lebih halus, atau memiliki leverasi yang lebih banyak, atau memiliki kekayaan yang lebih secara langsung di bawah kendalinya dalam bentuk yang tidak bisa rusak, seperti modal manusia- maka sebuah proses empiris kompetisi seperti IP akan mengirimkan kekayaan kepada mereka yang lebih produktif, merawat produksi mereka yang lebih efisien, menyebabkan pengendalian yang positif atas produksi kekayaan, merendahkan resiko hilangnya dalam masyarakat, terutama mereka yang lebih produktif, dan membuat insentif untuk semua partikel dalam masyarakat untuk menjadi lebih produktif dengan cara yang lebih tepat.

IP menunjukkan pergeseran lebih cepat ke atas dalam produksi kekayaan, semakin tinggi tingkat produktivitas dalam tenaga kerja, semakin lama beroperasi, karena mekanisme transfer kekayaan terhadap pekerjaan yang lebih produktif secara lebih efisien dalam tenaga kerja yang lebih produktif. Dengan demikian IP menjadi “penarik” untuk setiap proses kompetisi dalam sebuah populasi dari waktu ke waktu (Angle 2006), yaitu, proses evolusi, suatu proses dimana populasi  yang menghasilkan kekayaan, apa yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup, mempertahankan dirinya sendiri dan berkembang dari waktu ke waktu berdasarkan produksi yang lebih efisien untuk apa yang dibutuhkan dan melestarikan secara diferensial organisme yang lebih produktif.

Persaingan zero-sum adalah mekanisme penting yang mentransfer kekayaan dari yang kurang produktif untuk lebih produktif dalam IP melalui asimetri kerugian dan keuntungan untuk kekayaan. Persaingan zero-sum adalah bagaimana IP mempelajari tentang produktivitas partikel, pengeluaran dengan kebutuhan untuk mengukur produktivitas kekayaan individu dalam semua variasi dan kompleksitas yang besar. Satu-satunya informasi yang dibutuhkan IP agar bisa bekerja adalah pengetahuan tentang kekayaan  sebuah partikel dan kekayaan masa lalu yang akan kembali beberapa diantaranya  pada waktunya, cukup lama untuk memperkirakan parameter,  proporsi kekayaan yang hilang ketika kehilangan perjumpaan kompetitif.

Dengan demikian IP dapat beroperasi secara homogen dengan skala yang naik dan turun  untuk evolusi budaya-techno: di negara industri saat ini dengan puluhan juta pekerja dan pembagian kerja yang kompleks seperti dalam masyarakat pemburu-pengumpul dengan beberapa lusin pekerja dan pembagian sederhana pekerjaan. Sebagai proses empiris, IP beroperasi secara paralel dalam sebuah populasi, tanpa arahan yang memusat. Jika alam memilih parsimoni ekstrim untuk algoritma untuk memaksimalkan produksi kekayaan, itu mungkin telah memilih kompetisi zero-sum seperti pada IP.

Sehingga seseorang mungkin akan mengspekulasikan bahwa IP adalah ekspresi manusia atas proses kompetisi antar manusia dalam pekerjaan pada segala macam spesies. Seseorang mungkin akan berspekulasi bahkan lebih tegas lagi, berdasarkan Adrian Bejan (1997) bahwa kompetisi demi mendapatkan energi dapat mengkarakterisasikan sistem non hidup, dimana IP bisa mengoperasikan pra biotis antara molekul molekul organis yang berkompetisi untuk mendapatkan energi melalui reaksi kimia, misalnya, IP adalah ekspresi matematika atas evolusi yang disetir oleh penghamburan energi, pembentukan pusaran arus dalam aliran yang berhamburan ini. Konfirmasi empiris dari IP yang dapat diambil dari bab ini adalah, bagaimanapun juga, secara khusus adalah proses kekayaan dan distribusi pendapatan antar manusia.

Hidup dan Pengakuan

Apakah Hidup?

Jika seseorang ingin menstimulasi kapasitas kapasitas kognitif, maka dia harus mencaritahu apa yang dimaksud dengan kognisi dan komputasinya.   Pada akhirnya, pertanyaan demi pertanyaan, seseorang akan bertanya apakah itu Alam, “keberadaan seseorang” bagi filsuf, “kehampaan” untuk yang lainnnya. Untuk mendapatkan perjalanan yang hampir aman, kita harus mengikuti jalan yang sama. Dimulai dari fisik dan kognisi hilemorfinya, karena perjalanan kita, akan dilihat dari sudut panjang yang berbeda.  Maka benar sekali sebuh perjalanan melewati wiayah kognisi itu sendiri, dan bukan sebuah perjalanan menuju kognisi seperti ia adalah kognisi.

Perjalanan-perjalanan adalah tanda kepercayaan diri bagi mereka yang mendalami kehidupan. Ini adalah hal hal yang berurusan dengan sejarah dan, maka dari itu, hanya bisa diceritakan seperti mendongeng.  Maka dari itu, akan terbuang sia sia ketia menjelaskanya secara matematis, menguranginya menjadi sejumlah titk yang tidak terbatas dengan ruang infinestimal dimana ini terlalu sempit. Sejarah tidak memberikan penjelasannya.  Ia hanya membiarkan dirinya diceritakan dalam sebuah cerita yang tidak pernah berakhir.  Sebagaimana juga, dan untuk alasan yang sama pula, hidup tidak membiarkanya sendiri berkurang menjadi beberapa bagian penjelasan yang dibuat oleh inferensi, namun kadang kadang, untuk bagian bagian yang paling sensitif bagi kita, dalam sebuah tindakan yang tidak sengaja menemukanya (Van Andel 1994) seperti penjelasan Bejan dari pengalamanya sendiri (Bejan 2000, hlm. 3): “Aku tertarik dalam topik ini murni atas ketidaksengajaan, bukan karena aku sedang mencoba untuk menyelesaikan permainan puzzle”.

Intuisi dan ketidaksengajaan keduanya tidak diketahui dan merupakan kapasitas kognitif yang tidak berdasarkan mode yang ada yang mengkaitkan tidak hanya pengakuisian pengetahuan namun juga atas realitas yang selalu terselip. Secara luas ini dihiraukan leh ilmuwan kontemporer dalam bidang ilmu kognitif, mereka memaksa kita untuk mempertanyakan fondasinya dan ambisinya: Apakah Ilmu Kognitif bertujuan pada pengetahuan fundamental, ataukah mereka sudah mengambil bagian dalam sebuah praktek instrumental tertentu?

Cerita Yang Tidak Pernah Selesai

Seperti mineral, sel, atau tanaman, teori, gagasan, dan instrumen adalah makhluk non-kesengajaan juga (jika seseorang ingin memanggil mereka “meme,” maka kita harus menempatkan “non-intentional” pada kata tersebut) dan seperti semua makhluk bukan “bagian” dari Nature tapi ungkapan darinya.
Makhluk bukanlah bagian-bagian akhir, mereka tidak harus menjadi “kecenderungan tetap,” untuk makhluk yang disengaja, “ideologi.” Mereka adalah perspektif. Ide yang optimal, dalam arti constructal, ide-ide yang menetap pada waktunya, tetapi mereka bukanlah “baik” atau “buruk,” mereka tidak memiliki niat. Mereka hanya optimal. Dan “gagasan optimal” belum tentu “optimalitas bagi manusia.” Ketika kita belajar sesuatu yang baru, mengetahui gagasan yang “baru”, seseorang dalam persimpangan serangkaian kausal independen. Ini menimbulkan problematik (ketidaksempurnaan, sehingga dalam-ketegangan) yang harus diselesaikan. Solusinya, sebuah individuasi baru setiap individu, berakhir dalam sintesis atau pembubaran, sebagian atau seluruhnya, dari ide-ide lama dan baru. Untuk menentukan “baik” atau “buruk” efek gagasan milik individu yang disengaja, dalam konteks keyakinan dan budaya mereka. Namun, bagi seseorang yang mencoba untuk mencakup kebebasan manusia, ada beberapa petunjuk untuk ide-ide yang lebih berbahaya daripada yang lain, karena mereka memaksa tren peradaban. Ketika sebuah tren ideologi sengaja disalurkan dengan penipuan atau penipuan diri yang terjadi dalam mencari optimalitas global, tampak bahwa pencarian pada kenyataannya merupakan satu yang mementingkan diri sendiri.  Karena manusia adalah kesengajaan, pilihan mereka untuk menyalurkan orang lain hanya dapat berhubungan dengan kurangnya rasa ingin tahu, karena keterbatasan akan pengetahuan. Tentu saja, ada banyak penyebab kurangnya pengetahuan.

Gagasan, seperti teori, yang diperlihatkan tanpa harus secara erat disamakan dengan moral pembuatnya, bisa diambil darinya. Setelah gagasan tersebut dipisah, seseorang bisa mengubahnya, secara sengaja atau tidak, menjadi benda. Konsekuenya, gagasan menjdi alat ideologikal dengan penipuan dan desepsi diri sendiri

Seperti Teori Darwin, Teori Constructal Bejan bukanlah akhir dari realita kita, sebuah tren yang jelas dengan akhir yang pasti. Maka adalah kesalahan ketika menggunakan Darwin’s Natural, ketika menggunakanya seperti alat, dengan tidak memperhitungkan maksud dari pembuatnya dalam membingkai pilihan alami dalam “dampak reversif evolusi”.  Jika terdapat pelajaran untuk dipelajari dari Darwin dan Neo-Darwinisme, maka itu adalah sebuah teori yang seharusnya tidak dipisahkan dari pembuatnya. Jika seseorang ingin menggunakan teori tersebut, maka ia harus memperhitungkan teorinya dan pemikiran pembuatnya secara bersamaan, sepaket. Jika seseorang itu membawa pemikiranya, maka dia akan memiliki perspektifnya.

Teori Constructal adalah pemikiran Bejan. Jika kita menggunakan teori tersebut tanpa pemikiran yang terkandung didalamnya, maka teori itu akan menjadi alat yang akan menghasilkan tren yang pasti dimana ini adalah bukti munculnya persepsi diri kita sendiri, intelejensi alami kita yang mendorong kita untuk hidup hampir hanya dalam bertindak.

Teori Sosiologi, Teori Constructal, dan Globalisasi

Teori constructal sebagaimana diformulasikan oleh Bejan dan kolega-koleganya (2000, 2005), merupakan upaya keras  ‘untuk membangun  desin teori sosial yang meramalkan’ dalam bentuk  hukum constructal: bagi sistem aliran agar dapat bertahan  konfigurasinya hendaknya berubah sehingga ia menyediaka akses yang lebih mudah  untuk zaman sekarang.   Undangan  ahli teknik atau fisikawan  untuk berdialog  dengan ilmu-ilmu sosial, khsusunya sosiologi, sebagai bidanng saya, sangat terbuka ketika undangan-undangan dan kodisi yang kondusif untuk dialog antar berbagai bintang masih sangat jarang.  Aliran-aliran dan struktur sistem sosial yang komplek merupkan perhatian utama sosiologi  sejak perubahan sosial merupakan   fokus utama  teori-teori sosiologi sejak  abad 19 sampai sekarang.

Wajah keberlangsungan modernitas  merupakan perubahan sosial dan sosiologi memiliki berbagai  model dan cara penjelasan  terhadap perubahan sosial, untuk memprediksikan beberapa hasil darinya.  Dalam masa kontemporer ia telah semakin diakui  sekjak 15-20 tahun bahwa problema bagi makro teori adalah  untuk menyediakan kerangka konseptual terhadap kemunculan fenomena  globalisasi sebagai sebuah unit analisis.  Dan dengan satu set pertanyaan: hubungan antara globalisasi dan negara bangsa (ia menjadi unit analisis  pada level makro).

Saya akan akan memberi  gambaran lebih khsuus  tentang globalisasi,  akan tetapi untuk dipresentasikan  saya mengambil globalisasi  bukan sebagai sebuah pernyataan  dunia sosial yang  memiliki bentuk yang permanen  tapi lebih sebagai  satu set alur-alur  yang mengubah  bentangan sosial dan lingkungannya dan yang berubah karena  perubahan ranah.  Aspek komplek dan dinamis  globalisasi  membuat suatu persesuaian antara sosiologi  dan fisika /teknik dengan perhatian yang saling mengisi  baik dalam pencarian  ranah-ranah aplikasi baru bagi masing-masing maupun bagi perbaikan masing-masing teori.  Jadi poin dasar bagian ini adalah  bahwa teori constructal-nya Bejan  jika itu mencari  area yang aplikasi yang lebih luas dari “alur-alur’  dunia ‘alamiah’ ke dunia sosial memiliki  domain yang penting untuk menggali  globalisasi.

Sejak akhir 1990 dan dengan semakin cepatnya akselerasi , globalisasi  telah menjadi  suatu tema yang mencuri perhatian besar  interdisipliner, bagi ilmu sosial dan kemanusiaan. Ini karena dengan  globalisasi telah menciptakan perubahan dunia yang sangat besar baik secara kuantitatif maupun kualitatif, perubahan yang  yang berimplikasi pada  aspek politik, sosial, ekonomik, budaya  ekologi dari organisasi sosial pada  level lokal, regional, nasional dan  internasional.

Jika tidak ada yang lain,  globalisasi merupakan aliran yang cepat yang melingkupi arena yang sangat luas dan yang menempati berbagai bentuk gaya yang lebih banyak dari pada sebelumnya.   Aliran-aliran itu adalah aliran kapital barang dan produksi mereka, informasi.  Oleh karena itu, aliran-aliranya multidimensi yang mencakup sistem global yang kompleks.

Dalam pernyataan ‘kompleksitas’  yang merupakan  pendekatan yang lebih akurat terhadap  realitas global; dari pada  suatu model kausalitas  hubungan  yang bervariasi.   Tidak ada satu kekuatan global  melainkan suatu   organisasi, lembaga dan masyarakat  global yang independen yang mencari ‘aturan main’  untuk menciptakan tatanan global.

Kami memerlukan untuk keluar  dari kata ‘kompleksitas’  dalam berbagaiu perspektif untuk mengkaji sistem sosial global, kami menyodorkan dua skema dari Parson  yang dikenal dengan  AGIL (Adaptation, Goal Attaiment, Integration, Latency) yang merupakan satu set  saling keterhubungan  atau alur-alur yang  menyediakan  kapasitas adaptif tumbuhnya sistem global. Semua kerangka kerja ekonomi, politik dan budaya globalisasi yang merupakan master proses pembangunan yang akan meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi kebanyakan masyarakat.

Pendeknya, saya percaya  bahwa dalam  arena globaliasasi sangatlah penting bagi terbentuknya suatu hubungan yang saling melengkapi antara ilmu  teknik sebagaiman direpresentasikan oleh Bejan dan berbagai  asosiasi ilmu pengetahuan yang lain termasuk  sosiologi.  Workshop dan seminar yang menghasilkan buku ini sangatlah penting untuk memperluas hubungan antara  sosiologi dan ilmu teknik tidak hanya dalam masalah globalisasi.

Penutup

Kritik

Kritik utama dari hukum constructal adalah bahwa perumusannya tidak jelas.  Hukum constructal menyatakan bahwa “Untuk sistem yang ukurannya terbatas untuk bertahan dalam waktu (hidup), itu harus berkembang sedemikian rupa sehingga menyediakan akses yang lebih mudah”, tapi tidak menyebutkan apa yang dimaksud dengan ” arus “yang juga merupakan definisi eksplisit apa yang” memberikan akses yang lebih mudah “berarti, atau tepatnya merumuskan hubungan dengan matematika.  Tanpa mendefinisikan kuantitas fisik atau hubungan mereka dengan tepat, tidak fisik atau matematika.

Kritik terkait hukum constructal adalah bahwa belum ada upaya untuk membuktikannya dari prinsip pertama.  Tidak ada bukti teori constructal berdasarkan sistem sederhana dari fisika statistik.  Klaim bahwa teori constructal adalah prinsip dasar termodinamika sendiri juga telah diperdebatkan.

Pendekatan yang dipakai untuk memahami realitas sosial yang dianggapnya sama dengan ilmu alam sangatlah positivistik yang menganggap realitas sosial sebagai sebuah kelompok dan mengabaikan keunikan-keunikan individu hingga cenderung untuk melakukan generalisasi untuk semua fenomena sosial sehingga kalau pendekatan ini dipakai untuk sebuah rekayasa sosial dikhawatirkan akan memberikan kerangka pemecahan masalah yang cenderung monolitik yang belum tentu dapat sesuai untuk semua kelompok masyarakat.

Kontribusi Teori Konstruktal

Sumbangan teori konstruktal  terhadap khazanah ilmun pengetahuan telah memberikan  sebuah alternatif  pisau analisis untuk memahami alam dan lingkungannya (termasuk masyarakat) dengan teori constructal  melihat dunia  sebagai sebuah sistem aliran yang senantiasa mengarah kepada akses yang lebih mudah dan lebih efisien.  Sehingga dengan menggunakan teori ini dapat membuat sebuah prediksi terhadap realitas yang mungkin muncul dikemudian hari berdasarkan fakta yang ada sekarang di mana hal ini sangat berguna  dalam membuat sebuah rekayasa sosial yang sangat diperlukan bagi para pengambil kebijakan.***

___________________

Tentang Penulis

Adrian Bejan, seorang Profesor dari Tehnik Mesin di University Amerika yang mengembangkan termodinamika modern dan hukum constructal desain dan evolusi di alam.  Ia lahir di Galati, sebuah kota pelabuhan yang terletak di Danube Rumania.  Ibunya adalah seorang apoteker dan ayahnya adalah seorang dokter hewan.  Adrian Bejan memperlihatkan awal bakatnya dalam menggambar sehingga didaftarkan orang tuanya di sekolah seni.  Dia juga ahli dalam olah raga basket yang membawanya memperoleh posisi pada tim basket nasional di Rumania. Adrian Bejan menerima semua gelarnya dari Departemen Teknik Mesin di MIT: BS 1971 (Honors Course), MS 1972 (Honors Course), dan PhD pada tahun 1975.  Ia diangkat sebagai professor di Duke University pada tahun 1984 dan telah menerbitkan 600 artikel dan 28 buku.  Dia dianugerahi gelar 17 doktor  Honoris Causa dari universitas di 11 negara.

Gilbert W. Merkx,  lahir di Maracaibo, Venezuela.  Ia menerima AB dari Harvard University dan MA dan Ph.D. dalam sosiologi dari Universitas Yale. Dia telah mengajarkan pada fakultas dari Universitas Yale, Göteborgs Universität dan University of New Mexico. Minat penelitiannya termasuk sosiologi agama, dinamika sosial, globalisasi, migrasi internasional, kebijakan pendidikan internasional dan teori sosial.

___________________________________

Direview oleh Tutung Nurdiyana (Universitas Lambung Mangkurat), dengan beberapa penyuntingan oleh WK.

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *