Melawan Dominasi Wacana Mainstream: Perang Wacana Dalam Perebutan Panggung Kuasa

Posted on

Komentar atas Buku “Salju di Aleppo” yang ditulis Dina Y. Sulaeman

Salju-di-Aleppo-200x135 Melawan Dominasi Wacana Mainstream: Perang Wacana Dalam Perebutan Panggung Kuasa
komentar atas buku Dina Y. Sulaeman, Salju di Aleppo

Salju di Aleppo ini adalah pemantik kecil yang memicu penyegaran kembali tentang bagaimana menyikapi perbedaan informasi, perbedaan argumen, perbedaan berpikir, perbedaan keyakinan, berbedaan isi kepala, tentang bagaimana mengembalikan kesegaran ingatan akan berpikir benar, menegakkan kembali logika yang terombang-ambing hampir tumbang oleh deraan arus liar peperangan wacana yang dilancarkan oleh mereka yang sedang berjuang menegakkan dan mengibarkan panji-panji kepentingan dan merajut kuasa. Karena, all about interest and power! Semua adalah (bicara) tentang kepentingan dan kekuasaan. Dan perang wacana tak lepas dari kemampuan produksi wacana guna merebut panggung kuasa dan klaim kebenaran sehingga layak disebut sebagai “Yang Universal”.

 

Hal pertama yang terlintas dalam benak saya ketika seorang kawan, aktivis sebuah kelompok studi di Malang menelpon saya (13 April 2017), menanyakan apakah saya bersedia menjadi pembicara pembanding untuk bedah buku “Salju di Aleppo” tulisan Dina Y. Sulaeman (DYS), adalah, mengapa penulis buku ini, melibatkan kata “salju” untuk menyajikan kisah drama politik di Aleppo? Saya hanya menebak-nebak saja, mungkin penulisnya memaksudkan akan hadirnya salju yang dingin-dingin empuk nan lembut ditengah-tengah wacana Aleppo yang panas, ganas dan liar.

Dan karena saya telah memiliki jadual kegiatan pada sekitar tanggal 3 – 6 Mei 2017 (diskusi “Salju di Aleppo” dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 2017), jadi saya tidak bisa hadir, dan saya menghubungi kolega saya di UB, Yusli Effendy, dosen HI, untuk bertindak sebagai pembanding. Beliau pun lebih berkompeten tentang kajian Timur Tengah dibanding saya yang telah cukup lama tak menekuni kajian Timur Tengah. Buku “Salju di Aleppo” ini bagi saya merupakan “salju” yang mendinginkan atau setidaknya menyajikan ‘wacana lain’ pada musim pertarungan wacana khususnya tentang Aleppo yang seringkali dilekatkan dalam narasi ‘rezim Suriah  (Bashar Assad) harus diruntuhkan’, yang dengannya dilekatkanlah isu-isu sensitif di tanah air, semisal ‘syiah’, ‘teroris’, ‘pembunuhan massal’, dsb. Buku ini berbeda. Ia hadir dengan narasi gugahan dan “gugatan” atas wacana mainstream yang terbangun perihal Suriah melalui penyajian teks dari sisi lain perihal Suriah, sehingga pembaca akan dibawa pada dataran lain yang menantang dan menentang perspektif dan cara berpikirnya, cara bertindak berikut cara bersikap. Pembaca mungkin akan sedikit terhenyak, jika mungkin tak terkoyak “rasa keimanannya” ketika mendapati buku kecil setebal 257 halaman yang dikemas dalam kaidah  ilmiah namun tersaji dalam bahasa populer ini, bahwa informasi yang tersaji sangat berbeda dari yang telah beredar di berbagai sumber bacaan maupun media pemberitaan yang telah dikenal, bahkan sumber mainstream.

Terlalu sangat berbeda. Dan saya lebih tertarik untuk melihat dari sisi ‘bagaimana menyikapi perbedaan’, melihat dan membaca realitas tanpa prasangka dan curiga, meletakkan objek kajian (realitas, fenomena) sebagaimana mestinya, lebih bersabar dalam melihat peristiwa, sambil melatih kesabaran  dan sikap adil dalam berpikir, mengendalikan  ego yang hendak menghentak liar berebut dengan hasrat kepentingan yang mengiringi penginderaan sosial. Juga, dalam musim  pertarungan wacana berebut panggung kuasa yang semakin mengeras akhir-akhir ini, saya makin berhasrat untuk mempertajam pelatihan keseimbangan dalam diri, mendalamkan pembatinan dalam meditasi sosial untuk meraih kejernihan dalam penginderaan sosial tersebut.

Kebetulan, buku ini hadir di tengah-tengah musim saling hujat dan saling tebar wacana (bukan ‘tebar pesona’) dalam rangka menyelamatkan kepentingan masing-masing secara liar dan brutal sehingga melupakan logika, menumpulkan inderaan sosial. Dan yang memprihatinkan, masih banyak kalangan penelan wacana bahkan wacana palsu (sering disebut “hoax”) yang secara sukarela menjadi korban para petarung dan pemiara wacana, dengan mengonsumsi aneka wacana liar tanpa filter, tanpa berpikir. Satu-satunya ‘filter’ hanyalah ‘keselarasan dengan hasrat, pengetahuan, dan kepentingan yang mengekang hasrat meng-update pengetahuan’, berbalut emosional untuk meledakkan sikap reaktifnya manakala bersinggungan dengan anasir lain yang berbeda (media sering menyebutnya dengan “sumbu pendek”).

Inilah, buku ini, adalah ‘materi pelatihan’ untuk pengendalian ruang logika yang mulai melemah, sebuah titik masuk dan peluang untuk “tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat” (meminjam “kata sakti” Ebied G. Ade).

Buku ini adalah materi untuk men-‘tes’ kadar kewarasan logika untuk mampu melihat peristiwa secara jernih, adil, tanpa prasangka, dengan memberi kesempatan pada pikiran untuk mempersilakan argumen lain (yang mungkin berbeda) mampir di benak kita, bukan  lantas mengusirnya mentah-mentah hanya karena “berbeda dan mengganggu keimanan” kita. Wajarlah memang, jika informasi dan pengetahuan yang lebih awal kita terima dan miliki, akan lebih menguasai dan mendominasi cara berpikir. Namun akan menjadi aneh jika kita mati-matian memegang teguh ‘keyakinan akan pengetahuan’ tersebut tanpa mau meng-update. Bukankah kaidah ilmiah yang paling dasar mengatakan bahwa ‘suatu teori akan tetap diterima sebagai sebuah kebenaran sepanjang belum ada teori baru yang menumbangkannya’? Dengan apa suatu teori ditumbangkan? Dengan pembuktian pada teori baru. Dengan apa pembuktiannya? Dengan data baru. Data yang bagaimana? Data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bukan data sembarangan, apalagi asumsi, yang dibesarkan dengan “ilmu kira-kira” dan “ilmu pokoknya”. Dalam dunia peradilan pun dikenal adanya “novum” (bukti baru), yang dengannya jalannya proses peradilan pun bisa berubah. Ini sebenarnya adalah kaidah dasar dalam berpikir, bukan sebuah “ilmu hebat”. Namun, apadaya, trend-nya kini, hal dasar ini mulai memudar, melenyap. Kesulitan apa yang menahan orang untuk mempersilakan “hal lain yang berbeda” mampir sejenak di benak untuk dipikir dan kemudian berkesimpulan dan bersikap setelahnya? Berkesimpulan dan bersikap tanpa didahului dengan proses berpikir adalah tindakan yang saya tidak tahu harus menyebut apa. Dan proses berpikir itu membutuhkan asupan informasi atau data. Dan data atau informasi itu semestinya dipastikan kevalidannya. Rupanya hiruk pikuk dunia gaduh telah memudarkan kadar berpikir benar yang sebenarnya merupakan “pelajaran dasar cara berpikir”.

Terlalu lama hidup dalam kekacauan berpikir dalam dunia gaduh, bisa membunuh pelan-pelan, yang biasanya tak disadari oleh korbannya, bahkan sang korban menikmatinya. Hadirnya ‘salju’, bisa mendinginkan dunia pikir yang panas dan kering kerontang, walau berefek radikal pada awalnya.

Salju di Aleppo ini bisa merupakan pemantik kecil untuk menyegarkan kembali tentang bagaimana menyikapi perbedaan informasi, perbedaan argumen, perbedaan berpikir, perbedaan keyakinan, tentang bagaimana mengembalikan kesegaran ingatan akan berpikir benar, menegakkan kembali logika yang terombang-ambing hampir tumbang oleh deraan arus liar peperangan wacana oleh mereka yang sedang berjuang menegakkan dan mengibarkan panji-panji kepentingan dan merajut kuasa.

All about interest and power! Semua adalah (bicara) tentang kepentingan dan kekuasaan.

Wacana yang diproduksi oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk merawat dan meruwat kepentingan tertentu hingga menjadi wacana dominan  yang pada titik tertentu sanggup menguasai public mind, membina mindset bahkan menciptakan belief tertentu dalam struktur pikiran khalayak. Maka menjelmalah wacana dominan menjadi ‘rumusan baku yang harus diikuti’, menjadi pakem, menjadi kebenaran yang memandu jalan pikiran dan tindakan, menjadi takdir, yang jika ada orang yang tak mengikutinya, akan menjadi “manusia aneh” dan melawan “kebenaran”. Ia telah menjelama menjadi sebuah realitas! Inilah kekuatan wacana dominan. Ia mampu menghipnotis khalayak sehingga mereka tak menyadari bahwa wacana apapun bekerja mengabdi pada suatu kepentingan tertentu. Berpendapat melawan arus besar wacana dominan, adalah sebuah kelucuan yang ganjil dan keganjilan yang lucu, ibarat bercerita tentang pesawat terbang pada sekumpulan monyet dalam cerita binatang.

Semua wacana yang diproduksi adalah berlatar kepentingan tertentu, yang bermuara pada ‘kekuasaan’ (power). Kebanyakan orang mengenal dunia adalah melalui informasi media, termasuk media sosial berbasis internet (kakek nenek saya sering menyebutnya dengan “tembung jare”, katanya, konon kabarnya).

Perang wacana, antara wacana mainstream, wacana dominan versus wacana anti-mainstream yang diklaim pembuatnya, Dina Y. Sulaeman (DYS) melalui buku Salju di Aleppo ini, sebagai wacana berbasis data faktual, berasal dari sumber terpercaya yang diperoleh dan dianalisis berdasarkan kaidah ilmiah. Maka hadirlah buku Salju di Aleppo ini sebagaimana adanya, yang boleh dipersepsi berbeda dari wacana mainstream tentang Aleppo.

Buku Salju di Aleppo ini sekaligus mengingatkan kembali cara berpikir kita agar tidak secara gegabah menelan setiap informasi yang diterima tanpa menelaahnya kembali atau setidaknya mempertanyakan validitasnya. Dalam hiruk pikuk dunia gaduh yang terdukung kekuatan teknologi informasi, maka dalam perang wacana untuk memperoleh dukungan atas klaim kebenarannya, maka tak ada lagi istilah “benar” dan “hoax”, semua adalah sarana produksi wacana untuk mendukung misi dan kepentingan! Tinggal kita selaku penghuni dunia gaduh ini yang sebaiknya bertindak selaku warga bumi yang cerdas, berpikir dengan landasan kaidah ilmiah walaupun dalam tataran sederhana misalnya “tak langsung mempercayai” apapun kisah yang beredar. Filter kita adalah “logika”. Memang agak payah dalam berlogika jika asupan data yang kita miliki juga minim. Orang yang miskin informasi dan miskin data apalagi miskin kemauan untuk berpikir secara sabar, netral tanpa prasangka, akan menjadi sasaran empuk bagi penyebar wacana. Wacana tentang Aleppo sebagaimana wacana mainstream, dibangun di atas narasi kesesatan rezim Suriah, sehingga terciptalah pola pikir dan keyakinan umum bahwa penguasa Suriah (Bashar Assad) adalah kejam dan layak dimusuhi orang sedunia dan layak ditumbangkan. Berbagai argumen dengan aneka data pendukung (teks, gambar, video dll) dimunculkan untuk mendukung narasi ini. Jadilah media-media online disesaki oleh kisah-kisah yang menggambarkan kekejaman rezim Bashar Assad. Inilah yang mausk ke otak kita selama beberapa waktu ini (data dan pengetahuan yang datang lebih awal). Pengetahuan yang datang lebih awal, cenderung mendominasi pikiran.

Tiba-tiba muncullah DYS yang mengusung “informasi baru” yang sama sekali bertolak belakang dengan “keyakinan sejuta umat”, dan “melawan kebenaran”!

Maka, bagaimanakah menyikapi perbedaan dalam peristiwa yang sama? Dalam perspektif wacana politik (political discourse), pertama, bahwa kedua wacana tersebut adalah wacana, baik wacana terdahulu (pengetahuan tentang Aleppo yang telah diterima sebelumnya dan telah tertanam dalam pikiran) dan wacana Aleppo yang diusung DYS. Dan keduanya berpeluang sama untuk diperlakukan secara setara, dan ini berkaitan dengan pengetahuan dan kadar keilmiahan dalam berpikir yang dimiliki seseorang yang menerima berita tersebut. Kedua, bahwa kedua wacana tersebut sama-sama berlatar kepentingan tertentu. Ketiga, bahwa kedua wacana tersebut bermuara pada suatu kekuasaan tertentu yang sedang diusahakan dan dipelihara. Keempat, bahwa kedua wacana tersebut sedang melakukan peperangan yakni perang wacana, untuk berebut panggung kuasa. Kelima, kekuasaan yang dibangun melalui (perang) wacana adalah kelaziman dalam dunia panggung sandiwara ini. Karena wacana mampu menciptakan realitas (Wodak, 2005:23)! Maka siapa yang mampu membentuk wacana yang dapat memenuhi ruang berpikir khalayak, maka dialah pemenangnya. Wacana juga mampu menciptakan kebenaran! Jika dulu Samuel Huntington bersikeras pada tesis benturan peradaban dan siapa yang memenangkan pertarungan peradaban tersebut maka layak disebut sebagai “Yang Universal”, maka kini, yang layak disebut “Yang Universal” adalah mereka yang memenangkan pertarungan wacana! Wacana mampu membentuk peradaban, sebuah panggung kuasa! Ini pendapat WK.

Soal Aleppo, ini perang siapa? Dapat dikatakan: ini adalah perangnya mereka yang menebar wacana tentang Aleppo. Untuk apa? Untuk menggenggam “pikiran massa” (mass mind), dan mengontrol pikiran massa tersebut  untuk digiring dalam kuasanya. Wacana menciptakan kuasa! Inilah jenis soft power, silent war, kuasa lembut, perang tanpa peluru. Eh ada sih, pelurunya ya wacana itu. Dan soft power atau kuasa lembut ini jauh lebih powerful dibanding hard power atau ‘kuasa keras’. Kelembutan mampu menundukkan kekerasan, sinkang mampu mengalahkan gwakang (jika ndak ngerti, boleh baca dulu cersil Kho Ping Hoo.. hehe… 🙂 ).

Dan ketika DYS menulis buku Salju di Aleppo, bolehkah dia digolongkan sebagai “mereka yang berperang”? Jawabnya: sangat boleh! Bolehkah digolongkan sebagai produsen wacana, yang menurut perspektif political discourse, disebut berlatar kepentingan dan kuasa tertentu? Jawabannya:  sangat boleh! Bolehkan disebut bahwa sedang terjadi peperangan wacana antara –sebut saja (untuk memendekkan istilah)– : “wacana Aleppo versi mainstream versus Aleppo versi DYS”? Boleh saja jika dianggap demikian.

Benarkah ini perangnya DYS, atau perangnya mereka yang sepaham dengan DYS melawan ‘pembentuk dan pengikut wacana mainstream’? Terserah yang menafsir.

Jika ada dua “kubu” yang berperang, lantas bagaimanakah “nasib” para follower, yakni mereka yang tidak ikut berperang? Sebenarnya secara tak disadari, mereka juga ikut berperang, namun dengan peran dan porsi yang disesuaikan yakni bukan sebagai pembuat wacana, tetapi sebagai pengikut atau pendukung atau penyetuju salah satu wacana.

Terombang-ambing dalam pusaran arus liar wacana memang tidak mengenakkan dan terasa dibodohi. Menjadi pengikut salah satu kubu atau poros wacana juga mempertaruhkan harga diri jika ternyata hanya menjadi “follower yang tidak tahu apa-apa”, apalagi jika hanya bermodalkan “tembung jare”. Bolehlah sependapat dengan salah satu kubu tersebut dengan didukung seperangkat alat berpikir benar. Berpikir benar akan berebut ruang dengan kesombongan berpikir berbalut sektarian dan emosional personalis.

Mungkin perlu berlatih mengembalikan kejernihan berpikir, dengan kembali pada “tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat”. Debu mental yang mengganggu kejernihan berpikir adalah keengganan melihat hal baru, bahkan melirik pun tidak mau, jika hal baru tersebut dirasa menganggu kenyamanan dan kepentingannya.

Dengan berpikir secara sabar, netral tanpa prasangka, kita dapat mengatakan bahwa wacana yang sedang berkembang tentang Suriah (Aleppo) adalah “belum tentu benar”. Kita punya metode untuk menerima atau menolaknya kemudian bersikap atas wacana tersebut. Secara fair, kita juga bisa mengatakan bahwa wacana yang sedang dibangun DYS juga patut diperlakukan dengan berpikir secara sabar, netral tanpa prasangka dengan mengatakan “DYS belum tentu benar”. Kita punya metode untuk menerima atau menolaknya kemudian bersikap atas wacana DYS tersebut. Sekali lagi, filter kita adalah “logika”, cara berpikir ilmiah, metodik dengan didukung data yang valid, sehingga kita tidak terjebak dan tergerus dalam pusaran arus wacana yang bergerak bak tsunami.

Sebagai seorang “pendatang baru” dalam  medan peperangan wacana Aleppo, mampukah seorang DYS, dengan produksi wacananya berikut style “ibu rumah tangga biasa yang berkepedulian untuk mengungkap kebenaran secara ilmiah” melawan “keyakinan khalayak dan kebenaran” (wacana mainstream yang terlanjur menjadi kebenaran)? Bagaimanakah kisah selanjutnya dari perang wacana antara wacana DYS dan wacana mainstream? Kita ikuti dengan sabar dan tanpa prasangka ya…

Sebagai penutup, saya ingin menandaskan, bahwa klaim kebenaran merupakan pertarungan wacana yang tak lepas dari kemampuan produser wacana dalam memproduksi wacana tersebut untuk memenangkan pertarungan wacana guna merebut klaim kebenaran dan panggung kuasa sehingga layak disebut sebagai “Yang Universal”.

Dan klaim kebenaran dimiliki oleh pihak yang memiliki kekuasaan memadai untuk merawatnya guna mereproduksi kuasanya, melalui produksi wacana dominan berkelanjutan. Inilah ‘kebenaran baru’ dan ‘tuhan baru’ dalam masyarakat modern rasional yang irasional ini.***

WK

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *