Masyarakat Pecandu: Salah Zat Adiktif atau Lingkungan Pergaulan?

Posted on

Nampaknya, budaya hidup sehat memang sangat susah
untuk diterapkan di Indonesia. Walaupun dengan maraknya usaha pemerintah untuk
mengkampanyekan hidup sehat, sebut saja kampanye “4 Sehat 5 Sempurna” beberapa
tahun lalu, yang mengajak masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi makanan yang
bergizi lengkap setiap harinya, atau pun kampanye bahaya merokok, yang salah
satu gerakannya yaitu dengan mengubah tulisan peringatan di bungkus rokok
menjadi “Rokok Membunuhmu”, sambil menambahkan gambar-gambar penderita penyakit
kanker paru-paru di bungkus yang sama. Semua upaya tersebut dilakukan untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat. Namun,
ternyata masih banyak masyarakat Indonesia yang sepertinya acuh tak acuh
terhadap berbagai macam peringatan tersebut.

Jumlah perokok di Indonesia masih tergolong sangat
tinggi. Berdasarkan data
terakhir Riset Kesehatan Dasar 2013, perokok aktif mulai dari usia 10 tahun ke
atas berjumlah 58.750.592 orang. Angka tersebut, menurut Kepala Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga
Aditama, merupakan sepuluh kali lipat dari seluruh penduduk Singapura. Hal ini
menandakan bahwa masih kurangnya kesadaran akan bahaya merokok atau kurangnya
kepedulian terhadap bahaya tersebut di kalangan masyarakat Indonesia. Dan
parahnya, kini bukan hanya orang dewasa saja yang merokok. Berdasarkan data
yang sama, anak-anak dimulai dari umur 10 tahun ke atas pun ikut serta dalam
upaya menumpuk zat karsinogen di dalam tubuhnya lewat merokok.

Bukan hanya
rokok, konsumsi fast food, atau yang biasa juga disebut junk food,
di Indonesia pun semakin meningkat, dengan semakin menjamurnya restoran cepat
saji yang menyediakan berbagai macam menu dan paket makanan fast food,
seperti KFC, McDonald, A&W, dll. Sebagai contoh, menurut berita yang
dirilis Kontan.co.id pada 2 Maret 2015, pemiliki gerai restoran cepat saji Kentucky
Fried Chicken (KFC) di Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST)
menyatakan, dengan percaya diri, bahwa akhir tahun 2015 perusahaannya akan
mampu meraup penjualan hingga Rp 4,97 triliun. Angka ini tumbuh 15,53% dari
data penjualan di tahun 2014 yang ‘hanya’ mencapai Rp4,3 triliun. Selain itu, FAST
juga akan membuka gerai-gerai baru, sejumlah 10-13 gerai, di kuartal I tahun
2015. Meningkatnya penjualan fast food  tersebut dari tahun ke tahun, serta penambahan
gerai yang konstan terjadi setiap tahunnya, semakin membuktikan tingginya minat
masyarakat terhadap jenis makanan seperti fast food ini.

Zat Adiktif Penyebab Ketergantungan

Entah
apakah metode yang digunakan agar masyarakat bersedia melakukan pola hidup
sehat kurang menarik dan efektif, ataukah memang sudah sebegitu tergantungnya
masyarakat kita terhadap hal-hal yang justru membahayakan hidupnya secara
perlahan? Jika memang demikian, pasti ada alasan kuat yang menjadi penyebab
‘kecanduan’ tersebut. Dugaan pertama yang timbul, pasti langsung diarahkan ke
zat-zat adiktif yang terkandung di produk-produk tersebut. Memang, di rokok
misalnya, terkandung zat adiktif yang bahkan menjadi salah satu komponen utama
penyusun rokok: nikotin.

Nikotin
yang masuk ke dalam tubuh ketika merokok akan langsung dibawa oleh darah menuju
otak, dan mempengaruhi keseimbangan dopamine dan epinephrine,
cairan kimiawi otak yang mengendalikan sensasi bahagia dan rileks. Ketika efek
nikotin mulai bekerja, nikotin akan meningkatkan konsentrasi dopamine dan
epinephrine di dalam otak, menimbulkan perasaan nyaman dan bahagia
ketika merokok. Di saat bersamaan, ketika terjadi peningkatan konsentrasi dopamine
dan epinephrine yang abnormal, otak akan melakukan mekanisme
penyeimbangan dengan mengeluarkan semacam zat kimia “anti-nikotin”. Zat kimiawi
ini lah yang menyebabkan seseorang merasa gelisah, depresi dan mood
menurun ketika tidak merokok. Dengan cara ini, nikotin menciptakan bentuk
ketagihan yang bahkan akan tetap ada ketika seseorang telah berhenti merokok.

Faktor Sosial Turut Berperan dalam
Fenomena Ketergantungan Ini

Walau
demikian, bukan berarti tidak mungkin bagi seseorang untuk, secara total,
berhenti merokok. Selain itu, zat nikotin, maupun zat yang sejenis dengannya,
masih belum terbukti ditemukan di berbagai macam jenis fast food.
Sehingga masih belum bisa menjelaskan penyebab ketergantungan masyarakat
terhadap konsumsi jenis makanan ini. Rupanya ada faktor lain yang turut
berperan dalam hal ini. Salah satu faktor tersebut yaitu asumsi kebanyakan masyarakat
bahwa fast food merupakan jenis makanan mewah dan mahal, yang hanya
orang-orang tertentu saja yang dapat menikmatinya. Anggapan bahwa dengan
mengkonsumsi fast food, seperti KFC dan McDonald, yang merupakan brand
ternama dan memiliki franchise di berbagai negara di dunia, akan
meningkatkan status sosial mereka di mata masyarakat, serta harga fast food
yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga makanan di warung-warung
pinggir jalan, turut mendukung tertanamnya asumsi ini di masyarakat kita.

Menurut
Abraham Maslow, manusia memiliki kebutuhan akan harga diri, termasuk pengakuan,
perhatian, serta prestasi. Setelah merasa memiliki cukup pengakuan dan
prestasi, manusia pun akhirnya beralih mencari kebutuhan yang sifatnya lebih
tinggi, yaitu aktualisasi diri, atau kebutuhan akan terus menerus memenuhi
potensi dirinya. Menikmati layanan di gerai restoran cepat saji ternama dianggap
sebagai ‘prestasi’ tersendiri bagi sebagian besar besar kalangan masyarakat,
menjadikan mereka merasa lebih mampu dan berkecukupan dibanding orang-orang
lain di sekitar. Di sisi lain, orang-orang yang merasa tidak mampu untuk turut
menikmati layanan di gerai-gerai restoran cepat saji pun, mulai mempertanyakan
kapasitas diri mereka dalam menikmati layanan di gerai-gerai itu dalam rangka
pemenuhan kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri tersebut. Telah
tertanam di dalam pikiran mereka, bahwa hanya orang-orang berkecukupan yang
mampu menyantap fast food, sehingga timbul usaha lebih dari mereka, agar
mampu menikmati fast food, yang dipercaya dapat meningkatkan status sosial
mereka.

Hal yang
serupa ternyata juga terjadi dalam kasus rokok. Di dalam pergaulan masyarakat
kita, terutama anak-anak sekolahan, telah tertanam semacam pola pikir bahwa
merokok adalah sesuatu yang dianggap keren. Pola pikir semacam ini dapat
menjelaskan banyaknya jumlah perokok aktif di kalangan anak-anak usia 10-15
tahun. Lingkungan pergaulan, yang cenderung untuk menjauhi dan mengucilkan
mereka yang berusaha menolak ajakan untuk merokok, turut menjadi penyebab akan kecanduan
semu masyarakat kita terhadap merokok. Mereka menganggap bahwa dengan tidak
merokok, mereka akan kesulitan untuk mendapatkan kawan dan bersosialisasi.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketergantungan akan
konsumsi produk tertentu, seperti rokok dan fast food, bukan hanya
dipengaruhi oleh kandungan zat adiktif di dalam produk tersebut, tetapi juga
lebih kepada asumsi yang beredar di masyarakat perihal konsumsi produk-produk
tersebut. Seperti, anggapan bahwa dengan mengkonsumsi produk-produk tertentu
menjadikan mereka lebih unggul dari orang lain, merasa mendapatkan tempat di
lingkungan masyarakat, atau ketakutan untuk dikucilkan dari pergaulan jika
tidak mengkonsumsi produk tersebut. Rupanya bangsa kita belum sepenuhnya merdeka,
terutama merdeka dari pola pikir masyarakatnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *