Local Knowledge dan Fenomenologi

Posted on
WP_20161114_105-200x135 Local Knowledge dan Fenomenologi
local knowledge orang pelaut

Local knowledge, kehidupan sosial, kelompok sosial, komunitas, interaksi sosial dalam konteks lokalitas masyarakat yang memiliki nilai-nilai lokal, perspektif lokal,  dalam masyarakat Jawa di Indonesia. Bagaimana fenomenologi menjelaskan realitas sosial terkait dengan nilai-nilai lokal (local knowledge) untuk bisa diadopsi dalam konteks penguatan civil society pada wilayah jelajah yang lebih luas bagi pembaruan tata sosial (social order) di Indonesia. Tulisan ini menggunakan 10 artikel jurnal untuk ditemukenali rajutan kecakapan fenomenologi dalam memahami masyarakat beserta local knowledge-nya.

Penjelajahan Fenomenologi Dalam Memahami Komunitas

Fenomenologi, yang merupakan bagian dari teori kritis, dalam artikel pertama “Phenomenology of Everyday Expertise and the Emancipatory Interest (1), yang ditulis oleh Brian O’Connor ini memperkenalkan Axel Honneth, yang mengemukakan rekonseptualisasi teori reifikasi, mengadopsi ide-ide John Dewey untuk mengembangkan pengertian tentang: keaslian (an original), single, immediate, pengalaman kualitatif, analitik atau retroaktif atau refleksif. Konsep reifikasi Honneth  dikenal dalam pengembangan pengalaman individual dalam perspektif teori kritis berimplikasi pada pemikiran fundamental tentang pengalaman refleksif. Kerangka analitik refleksif yang diperkenalkan oleh Honneth ini merujuk pada pengalaman original pada aktivitas kognitif dalam koridor teori kritis dengan argumen-argumen konsisten tentang pengalaman manusia, telah menggugah sikap kritis yang terbingkai oleh kepentingan emansipatoris dalam pandangan Habermas. Pemikiran ini merepresentasikan  relasi antara elemen-elemen konstitutif pengalaman manusia yang perspektif teori kritis, berupaya untuk memahami beliefs masyarakat, alasan-alasan, norma-norma yang membuat masyarakat bertahan, dsb, yang lebih memungkinkan penggunaan metode fenomenologi, yaitu “phenomenology of everyday expertise” (PEE) yang diperkenalkan oleh Hubert Dreyfus. Pengembangan dari teori kritis yang berupaya memahami pengalaman-pengalaman original dalam kehidupan sosial. PEE mencari pengembangan status pengalaman-pengalaman tersebut dengan segala rekam-jejak dari dualisme subjek-objek. PEE Dreyfus bertitik tolak dari ajaran fenomenologi “mind-body”, tertarik untuk memahami pengalaman keseharian manusia yang berasal dari bawah.

Setiap struktur pengalaman subjek (manusia, masyarakat) dapat ditarik dari konsepsi relasi intersubjektif yang menghadirkan pergumulan “self” – “other” yang membentuk relasi antar subjek sebagaimana ditulis oleh Paul Simpson tentang inter-subjektivitas pada artikel ke-2, What Remains of  The Intersubjectives (2). Intersubjektivitas, dalam pemahaman relasinya, mengumpamakan bahwa masing-masing subjek membawa atribut subjektivitasnya masing-masing dalam berinteraksi antar subjek. Subjektivitas dalam ekspresi tutur kata sehari-hari (keseharian), seperti ketika misalnya seseorang mengungkapkan kata “I love you” kepada seseorang lain, maka sejatinya ia telah menautkan makna tentang kebersatuan (union), penyelesaian dari seseorang untuk seseorang yang lain, durasi emosi, spiritual, dan hubungan fisik serta kesalinghubungan secara terus menerus antara dua pribadi. Inilah kajian fenomenologis. Mengikut konsepsi ini, ungkapan kata sehari-hari, seperti juga dalam contoh “I love you”  ini (dikenal baik dalam konsep PEE, artikel 1),  yang dibutuhkan seseorang (subjektivitas) membawa perangkat subjektivitasnya ke dalam dunia subjektivitas orang lain. Di sini tidak hanya bermakna hubungan dalam pengertian biasa (fakta/ realitas), tetapi jauh lebih dalam, yakni membawa dunia subjektif seseorang ke dalam dunia subjektif seseorang lain lagi (di balik fakta/ realitas) secara kolaboratif.

Pertautan dua subjektivitas ini (one subjectifying others) terdapat proses subjektivikasi afektif yang diproduksi  dari penggandaan relasi yang ditunjukkan, dan setiap orang, setiap hari saling terkena afeksi ini, maka terjadilah subjectifying relations with the world, atau, terdapat relasi-relasi penyubjektivan dengan “dunia luar”. Gagasan bertemunya antar-subjektif yang melampaui batas-batas subjektivitas-diri ini memberi pengertian akan adanya gagasan “kolektivitas subjektivitas” dalam suatu komunitas. Jika dalam pemahaman “biasa”, komunitas berarti  “sekumpulan individu”, maka dalam pemahaman fenomenologis ini komunitas berarti “kolaborasi subjektivitas”. Maka gagasan Stein dan Nancy tentang fenomenologi komunitas, yang ditulis oleh Peter S. Costello dalam artikelnya yang berjudul “Toward A Phenomenology of Community” (3) akan membawa pemahaman yang lebih mendekati dan mengarah pada bagaimana memahami komunitas beserta dinamikanya dalam hubungannya dengan peran sosialnya secara lebih mendalam. Kita akan melihat inter-relasi yang tidak hanya melibatkan batas-batas fisik (antar-individu) atau batas-batas ideologi, kepentingan semata, namun lebih dari itu, melibatkan intensitas dan komitmen serta elemen life-world dalam pola hubungan intersubjektivitas dalam skala komunitas. Bahasan komunitas,  secara kontekstual membingkai empati, berisi kontinuitas dan keasadaran untuk sebuah kesamaan (sameness). Husserl memfokuskan perhatian fenomenologi pada situasi di mana pengalaman (yang mengandung anasir: persepsi, memori, empati) disatukan dan bahwa fenomenologi tertarik pada “konstitusi objek dalam kesatuan” sebagai gugusan adaptasi resiprokal atau koherensi. Stein mendeskripsikan empati sebagai aktivitas sekarang yang membedakan antara “self” dan “other”. Dalam kaitan ini, deskripsi tentang komunitas didasarkan atas pemahaman yang melekat pada komunitas – individu yang memiliki keintiman untuk saling memahami orang lain secara mendalam dengan kemampuan untuk menyerahkan diri bagi orang lain. Keberadaan komunitas dianggap sebagai suatu “hadiah” bagi manusia sehingga apapun pengalaman manusia” da dan  bagaimanapun buruknya pengalaman seseorang dengan komunitasnya, Stein berargumen bahwa pengalaman tetap memelihara mereka dengan komunitasnya. Dalam pandangan Stein dan Nancy, komunitas sebagai suatu “hadiah”, bukan mekanisme. Komunitas merupakan persepsi sebuah penampakan yang terkontrol sebagai suatu “hadiah”. Komunitas bisa bangkit sesuai intuisinya dan berkembang dalam mekanisme “giving oneself over” dari para anggotanya. Karakter kebajikan seperti ini embedded (menyatu) dalam suatu komunitas. Dikatakannya, community is a git but its is not given. Jadi, membutuhkan upaya manusianya untuk bisa tetap berkembang dalam “kebajikan “giving oneself over”. Ada nilai “shared-meanings” yang berkembang dalam hubungan ini yang membentuk bangunan utuh komunitas, ketika manusia dalam komunitas itu memiliki keterikatan emosi, sehingga interseksi (irisan) antara emosi dan lingkungan kerja komunitasnya atau sebagai “himpunan   bagian” dari komunitasnya sebagaimana ditulis oleh Kathryn Pratt, dalam artikelnya yang berjudul “Rethinking Community: Conservation, Practice and Emotion” (4) yang menulis tentang “himpunan bagian” dalam kajian lingkungan hidup yakni tentang peran komunitas dalam usaha-usaha konservasi lingkungan hidup yang diteropong dari keberadaan relasi komunitas dan ,manusianya dalam pemahaman “himpunan bagian”. Bagi Kathryn Pratt, tidak mudah menjelaskan dan berharap tentang pengelolaan lingkungan dalam konteks politik ekologi yang melibatkan (peran) komunitas secara bottom-up, karena komunitas, menurutnya, merupakan  suatu konsep fundamental yang memiliki asumsi-asumsi normatifnya sendiri, yang berakar pada realitas sosial-politik pada aras lokal. Argumennya adalah, perlu menggeser pemahaman masyarakat untuk fokus pada jaringan kerja (networking), institusi atau kolaborasi spesifik. Tulisan Pratt ini mengelaborasi pandangan alternatif tentang formasi kelompok yang melibatkan praktik-praktik sosial dan emosi sosial. Ia mengetengahkan konsep kebersamaan (togetherness), struktur pengalaman sosial sebagai “materi yang terbayang”. Walaupun komunitas secara normatif aalah sentral, tetapi ia tidak mungkin melokal pada soliditas komunitas secara khusus tanpa memainkan suatu “identitas politik” yang mengikat mereka secara alamiah. Dalam pendekatan ini, upaya  konservasi lingkungan berbasis komunitas yang diambil Pratt sebagai fokus studi, dengan setting di Costa Rica, perlu ditempuh upaya pemejalan (solidifying) elemen-elemen organisasional sebagai properti sosial untuk dikomunikasikan antar anggota kelompok untuk mendorong keterlibatan-bersama (collective engagement). Collective engagement merupakan pendorong koherensi kelompok dan solidified elementer dalam kelompok yang terkoherensi ini sejalan dengan gagasan collective feelings yang berisi intensitas emosional yang melekatkan anggota kelompok dalam formasi togetherness (kebersamaan) yang berciri open-ended sosial (becoming social). Praktik pengalaman ini disebut “practical-affect-emotion-spiral”. Formasi keterkaitan dalam gagasan becoming social, collective feelings, open-ended dan practical-affect ini mengisyaratkan relasi resiprositas antara manusia dan properti sosial elementer dalam komunitas untuk memejalkan collective engagement. Gagasan ini menemukan bentuknya yang makin memejal untuk menjelaskan aktivitas komunitas dan aspek “social engineering” yang mengaktivasi peran komunitas pada upaya sosial lingkungan hidup atau yang berkaitan dengan peran-peran civil society. Adalah Matteo Bianchin, yang menulis artikel “Reciprocity, Individual and Community: Remarks on Phenomenology, Social Theory and Politics” (5),  mengusung agenda fenomenologi Husserl sebagai kontribusi yang mendasari teori sosial dan politik pada konteks metodologi. Fenomenologi Husserl membawa agenda pertama, interaksi intersubjektif sebagai hal sentral pada konstitusi realitas sosial; kedua, menekankan resiprositas sebagai bangunan konstitusi dari intersubjektivitas. Dalam konteks ini individual dapat dilihat sebagai agen yang “mengonstitusi” atau terkonstitusi oleh”partisipasi mereka dalam komunitas di bawah batasan-batasan rekognisi timbal balik. Pandangan ini tidak bermakna atomistik, yang membiarkan identitas individual terkonstitusi secara intersubjektif, ia tetap individualistik hingga ia memasuki entitas kolektif. Pada level epistemologi, hal ini memunculkan dasar-dasar metodologi individualisme pada level normatif hal ini melahirkan tata sosial deliberatif dan legitimasi politik yang bersandar pada prinsip-prinsip moral resiprositas dan tanggungjawab yang setara.

Tinjauan Metodologis Dalam Penelitian Sosial

Review keenam adalah terhadap artikel yang ditulis oleh  Ahmad Maryudi dan Max Krott (2012) yang berjudul “Local Struggle for Accessing State Forest Property in a Montain Forest Village in Java, Indonesia” (6). Artikel  ini menuliskan laporan penelitian tentang perjuangan lokal warga masyarakat desa Benowo di lereng Bukit Menoreh di Jawa Tengah dalam mengakses properti hutan pemerintah. Penelitian ini bertitik tolak dari masalah yaitu adanya keterbatasan akses yang dimiliki masyarakat desa hutan terhadap hutan yang dikelola oleh pemerintah tanpa memperhatikan nasib masyarakat yang membutuhkan hutan tersebut sebagai sumber penghasilan. Penelitian ini hendak menjawab bagaimana perjuangan masyarakat desa hutan dalam memperjuangkan nasibnya berhadapan dengan pemerintah.

Hasil penelitian ini adalah pembelajaran tentang keterbatasan akses masyarakat berhadapan dengan program kehutanan yang memiliki nilai manfaat bagi rakyat sebagai “hutan komunitas”. Penelitian ini memperlihatkan keberhasilan terbatas masyarakat lokal yang telah dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah tentang program kehutanan melalui partisipasi aktif warga masyarakat penghuni hutan.

Tinjauan Metodologi

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk memperoleh gambaran sebagaimaana hasil penelitian di atas. Kritik atas penggunaan metodologi dalam penelitian ini dapat dilihat dari hasil penelitian. Bahwa hasil penelitian seperti di atas, menunjukkan bahwa metode yang digunakan kurang mampu mendeskripsikan perspektif masyarakat desa hutan dalam mepersepsi situasi yang mereka alami sehingga mereka mengalami keterbatasan akses (powerless, tak berdaya). Penelitian ini di antaranya kurang berhasil mengungkap sisi ketakberdayaan masyarakat sehingga mereka lebih sering dalam posisi kalah, marjinal dan menjadi orang-orang kalah bahkan jika berhadapan dengan negara yang berfungsi sebagai pengayom rakyat. Sentuhan sisi humanis yang menyentuh kurang tereksplorasi dalam penelitian ini, padahal sisi ini yang berkontribusi besar bagi pemerhatian publik terhadap nasib rakyat kecil-miskin-lemah seperti subjek penelitian ini. Keterbatasan jangkauan penelitian ini yang hanya sampai pada mendeskripsikan success story subjek penelitian dalam memerjuangkan nasibnya berhadapan dengan negara tidak mampu menimbulkan efek humanis yang bermakna bagi publik. Hal ini karena keterbatasan jangkauan metodologi yang digunakan. Temuan penting ini akan tergali dengan mendalam dan bermakna jika menggunakan fenomenologi.

Artikel ketujuh adalah “Environmental Ethics in Local Knowledge Responding to Climate Change: An Understanding of Seasonal Traditional Calender Pranoto Mongso and Its Phenology in Karst Area of Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia” (7) yang ditulis oleh Arry Retnowati et.al (2014). Artikel ini melaporkan hasil penelitian tentang pengalaman masyarakat desa di pegunungan karst di Gunung Kidul Yogyakarta dalam mengamalkan nilai-nilai lokal dan pengetahuan lokal (local knowledge) tentang kalender musim yang disebut “Pranoto Mongso”.

Tinjauan Metodologi

Penelitian ini menggunakan perspektif phenology (bio-indikator), sebuah pendekatan mirip fenomenologi-hermeneutika. Penelitian ini bertujuan menemukenali nilai-nilai lokal ini dengan metode kualitatif Focusses Group Discussion (FGD), dengan mengundang 25 orang (usia 20 – 60 tahun) yang mewakili masing-masing di sekitar pegunungan karst di area penelitian, yang memahami dan mengamalkan sistem kalender musim “Pranoto Mongso”. Penelitian ini menghasilkan pengetahuan yang tergali dari pengalaman peserta FGD tentang seluk beluk “Pranoto Mongso” dan nilai guna bagi masyarakat. Cukup bagus bisa mengeksplorasi nilai-nilai dan pengetahuan lokal, tetapi penelitian ini hanya “salah arah” lah dalam menggunakan metodologi. Ia hanya berhenti di FGD dan ketika sudah berhasil mengumpulkan data “Pranoto Mongso”, dianggap sudah selesai. Akan lebih baik jika yang dioperasionalkan adalah fenomenologi-hermeneutik yang telah diklaim pada bagian metodologi. Tetapi kemudian yang dijalankan adalah FGD. Akibatnya, penelitian ini kurang menjangkau esensi nilai dan local knowledge dari perspektif yang dalam dari masyarakat. Kurang berasa. Telah terjadi pendangkalan tujuan peenlitian.

Artikel kedelapan adalah “Kearifan Lokal Orang Bajo Dalam Pengelolaan Sumberdaya Laut” (8) yang ditulis oleh Bahtiar (2012). Penelitian ini difokuskan pada penelusuran kearifan lokal masyarakat Bajo di Tiworo Kepulauan dan Napa Balano, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, yang disebut “ongko” dan “pamali”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipan, studi dokumen dan diskusi terfokus.

Hasil penelitian ini adalah penemukenalan nilai kearifan local dalam pengelolaan sumber daya laut ditemukannya ide-ide konservasi yang berbasis pada budaya lokal yakni ongko dan pamali. Pamali atau tabu (pantang-larang) merupakan seperangkat nilai dan aturan yang tidak boleh dilanggar. Bagi yang melanggarnya akan mendapat kutukan atau musibah dari Dewa Laut. Dalam pamali tersebut ada yang berkaitan dengan kelangsungan ekosistem dan biota laut, dan ada juga berkaitan dengan keselamatan individu dan masyarakat Bajo secara umum. Orang Bajo juga mengenal sistem ongko, atau hak ulayat laut dalam pengelolaan sumber daya laut.

Tinjauan Metodologi

Penggunaan metodologi telah cukup mumpuni dalam mengeksplorasi nilai-nilai lokal “ongko” dan “pamali”, dengan cukup banyaknya terminologi lokal yang tergali dari penelitian ini, seperti “mbo”, “matai”, “sama”, “gagga”, “ngarua”, dsb  yang mengacu pada pengertian sehari-hari. Penelitian ini juga berhasil mengeksplorasi pengaruh nilai-nilai lokal tersebut bagi kehidupan sosial masyarakat lokal dengan juga menampilkan kisah-kisah yang sangat kultural  yang bagi pengetahuan “manusia modern” terdengar tidak masuk akal, mirip konsep “kualat” dalam terminologi Jawa, yakni ketika seseorang melanggar pantang-larang (“pamali”). Hanya saja, penelitian ini kurang mampu menampilkan sisi-sisi yang menghidupkan nilai lokal yang disebut “ongko” dan “pamali” tersebut. Menghidupkan artinya, memberi makna subjektif dalam perspektif masyarakat sehingga cukup penjelasan mengapa nilai lokal tersebut membawa pengaruh pada kehidupan mereka dan bagaimana masyarakat memaknainya. Dengan demikian, “orang luar” akan paham dan tidak menganggap sebagai hal yang tidak masuk akal. Inilah bagian dari realitas sosial yang perlu dipahami siapapun. Di sinilah urgensi metodologi fenomenologi yang seharusnya digunakan dalam penelitian ini.

Artikel kesembilan berjudul “Pengelolaan Sumberdaya Berbasis Komunitas: Studi Tentang Pemanfaatan Air Bagi Masyarakat Desa Dusun Rowo, Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono” (9) yang ditulis oleh Ihya Ulumuddin (2013). Artikel ini menuliskan laporan penelitian tentang pengalaman masyarakat Dusun Rowo, Desa Tlogopakis, Petungkriyono, Pekalongan, dalam mengelola sumberdaya air.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pengamatan, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Dengan metode penelitian kualitatif ini, penelitian dapat mengungkapkan pemanfaatan air yang dilakukan masyarakat setempat secara produktif dan berkesinambungan dalam memenuhi kebutuhan individu dan kebutuhan kolektif mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat aktor-aktor yang melakukan pengorganisasian terhadap warga lainnya di Dusun Rowo dalam memanfaatkan air, juga terdapat partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya air tersebut. Mereka menggunakan air untuk berbagai keperluan hidupnya, baik untuk mandi, minum, mencuci, maupun untuk memenuhi kebutuhan minum hewan ternaknya. Selain itu, air juga dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah, pengairan kolam ikan, kolam pengawetan kayu, dan termasuk untuk dijadikan pembangkit listrik tenaga air.

Tinjauan Metodologi

Melihat hasil penelitian, yang berkisar pada “deskripsi permukaan” di sekitar isu-isu air dan pemanfaatannya, maka dapat diketahui kedangkalan metodologi yang diaplikasikan. Hasil penelitian ini lebih menyerupai laporan kegiatan bakti sosial, dengan tidak adanya kedalaman makna dan sisi pengalaman-bermakna yang tergali.  Penggunaan fenomenologi akan sangat bermanfaat untuk memunculkan “nilai-nilai sakral” dari praktik sosial masyarakat, karena masyarakat memiliki struktur pengalamannya dan struktur normatifnya sendiri seperti pada artikel 3.

Dan, artikel kesepuluh adalah “In The Name of Adat: Regional Perspectives in Reform, Tradition and Democracy in Indonesia” (10) yang ditulis oleh David Henley dan Jamie S. Davidson ini, mendeskripsikan laporan penelitian tentang identifikasi dan revivalisasi adat di Indonesia pasca Suharto. Penelitian ini memuat isu yang lebih luas  sebagai kaitan makna dengan isu-isu lokal tentang adat yang bermuatan ide-ide tentang keaslian, komunitas, rasa keadilan, yang memiliki relasi dengan isu-isu politik seperti pemanfaatan sumberdaya, proteksi, pemberdayaan, mobilisasi dan kelompok-kelompok sosial. Penelitian ini bergerak pada wacana tentang revivalisasi adat secara umum dengan melakukan deskripsi keberadaan adat dan lembaga adat serta perlunya institusionalisasi adat di Indonesia, dengan deskripsi umum adat Jawa, Bali, Dayak (Kalimantan Barat), Sulawesi, Minangkabau, untuk bisa dihidupkan dalam panggung sosial yang lebih nyata. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya revivalisasi adat (lokal) dalam konteks kepentingan politik (nasional) yang lebih luas, tetapi tidak memberikan secara detil gambaran adat dan ide-ide revivalisasinya. Temuan hasil penting penelitian ini adalah politik adat, yang meliputi dominasi dan proteksi adat melalui institusionalisasi adat.

 

Tinjauan Metodologi

Metodologi yang digunakan (kualitatif deskriptif) telah berhasil baik menggambarkan elaborasi jawaban atas masalah pada konteks nasional yang lebih luas dan berguna, namun kurang memberikan penjelasan lebih mendetail tentang revivalisasi adat dalam perspektif “pemilik adat” (masyarakat lokal) akan lebih menarik, menantang dan menggugah. Banyak orang tidak memahami dan menyadari peran dan urgensi adat dalam konteks politik nasional, politik identitas, isu integrasi bangsa, pembangunan manusia, dsb. Selama ini adat hanya dipandang sebatas sebagai materi (properti) yang harus dilestarikan. Bukan sebagai bangunan sistem nilai yang berakar kuat dan memiliki kekokohan dari sisi akar budaya (ketahanan genuine) maupun dari sisi operasional-fungsional (sistem budaya) yang mampu bermain di isu-isu politik seperti integritas, pemberdayaan, konservasi lingkungan, demokrasi, dsb. Upaya pemahaman holistik tentang adat, dan penyadaran publik, baik publik intelektual maupun publik politik, sangat diperlukan. Upaya seperti ini sangat terbantu dengan penelitian yang mampu menghasilkan rumusan konsep yang  mendalam dan bermakna, mampu mengeluarkan makna yang hidup. Fenomenologi solusinya.

Kesimpulan

  • Penggunaan metodologi sangat penting untuk mengoperasikan penelitian, dan mempengaruhi hasil penelitian (mendalam atau tidak).
  • Penentuan metodologi yang tepat sangat penting dalam penelitian.
  • Metodologi yang digunakan dalam pendekatan kualitatif lebih mampu menjawab masalah penelitian hingga mendalam (dibandingkan metodologi kuantitatif); dan dalam metodologi kualitatif pun terdapat banyak pilihan yang dapat digunakan.
  • Fenomenologi, dipandang sebagai metodologi yang memadai dalam penelitian-penelitian yang memerlukan kedalaman makna.

Sumber:

Bahtiar (2012) Kearifan Lokal Orang Bajo Dalam Pengelolaan Sumberdaya Laut. Jurnal Mudra. Vol. 27 (2). Halm. 178 – 185.

Bianchin, Matteo (2003) Reciprocity, Individuals and Community: Remarks on Phenomenology, Social Theory and Politics. Philosophy and Social  Criticism. Vol 29 (6). Halm. 631-654.

Costello, Peter R. (2014) Toward a Phenomenology of Community: Stein and Nancy. Emotion, Space and Society. Halm. 1-13.

Henley, David dan Jamie S. Davidson (2008) In The Name of Adat: Regional Perspectives in Reform, Tradition and Democracy in Indonesia. Modern Asian Studies. Vol. 42. Halm. 815 – 852.

Maryudi,  Ahmad dan Max Krott (2012) Local Struggle for Accessing State Forest Property in a Montain Forest Village in Java, Indonesia. Journal of Sustainable Development.

O’Connor, Brian (2013) The Phenomenology of Everyday Expertise and The Emancipation Interest. Philosophy and Social Criticism Journal. Vol. 39 (9). Halm. 921-933.

Pratt, Kathryn (2012) Rethinking Community: Conservation, Practice, and Emotion. Emotion, Space and Society. Vol. 5. Halm. 177 – 185.

Retnowati, Arry, et.al (2014) Environmental Ethics in Local Knowledge Responding to Climate Change: An Understanding of Seasonal Traditional Calender Pranoto Mongso and Its Phenology in Karst Area of Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia. Procedia Environmental Sciences. Vol. 20. Halm. 785 – 794.

Simpson, Paul (2014) What Remains of The Intersubjectives?: On The Presencing of Self and Other. Emotion, Space and Society. Halm. 1- 9.

Ulumuddin, Ihya (2013), Pengelolaan Sumberdaya Berbasis Komunitas: Studi Tentang Pemanfaatan Air Bagi Masyarakat Desa Dusun Rowo, Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono. Jurnal Kebudayaan. Vol 8 (1). Halm. 24 – 39.

 

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *