Kurban ala Tengger

Posted on

Jika umat Islam mengenal ‘kurban (qurban)’ dalam hari raya Idul Adha atau disebut juga “hari raya kurban”, karena terdapat ritual penyembelihan hewan ternak (kambing, sapi), umat Hindu Tengger pun mengenal “kurban ternak”. Ini dilakukan oleh umat Hindu Tengger dalam rangkaian ritual Yadnya Kasada (yadnya kasada berarti “kurban suci di bulan ke dua belas”) selain ritual labuhan sesaji  “ongkek”. Dan uniknya, peserta “kurban” ini tidak hanya umat Hindu Tengger saja, namun juga orang-orang  luar Tengger non-Hindu (sebagian beragama Islam).

“Kurban” ala Tengger ini disebut “labuhan” atau “nglungsur”.

 

Masyarakat adat Tengger memiliki keunikan budaya yang menarik untuk dikaji. Masyarakatnya yang mampu menjaga tatanan sosial secara kondusif dan harmonis. Di tulisan saya yang lain, “Masyarakat dan Budaya Tengger” dan “Yadnya Kasada” disebutkan bahwa upacara “standard” Kasada berawal dengan pembersihan Pura Luhur Poten Bromo, odalan, mendhak tirta, dan berakhir dengan labuhan sesaji ongkek (kurban suci) ke dalam kawah gunung Bromo. Namun dalam pelaksanaan kini, banyak terjadi perubahan. Yang paling menonjol adalah pelaksanaan nadar umat Hindu Tengger yang dilaksanakan bersamaan dengan upacara Kasada. Nadar (ujar, kaul) ini bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan atau hajatnya (kajaté). Supaya terkabul hajatnya (kabul kajaté),  orang Hindu Tengger melaksanakan “nadar kurban”. Bermacam-macam keperluan atau hajat dan nadar (janji)-nya. Biasanya seputar urusan rejeki seperti pertanian, supaya panen melimpah, dan pangkat (bagi yang memiliki jabatan). Pelaksanaan (pemenuhan) nadar ini melibatkan banyak warga Hindu Tengger (secara komunal) dan melibatkan peran dukun untuk mengesahkan. Kurban yang dinadarkan (diperjanjikan untuk dikurbankan) bermacam-macam pula berikut “modus operandi”-nya. Bisa berupa ternak, umumnya ayam dan kambing (jantan atau betina tidak diperhatikan, tergantung nadarnya). Ternak ini (ayam atau kambing, tergantung nadarnya), biasanya dilabuhkan (dilemparkan) ke dalam kawah Gunung Bromo (juga tergantung nadarnya). Praktis, labuhan sesaji pada Kasada, tidak hanya ongkek, namun mengalami perubahan dengan berbagai inovasi warga Tengger. Menariknya, inovasi ini juga banyak melibatkan warga non-Hindu di luar masyarakat Tengger.

Perubahan yang paling fenomenal yang terjadi pada pelaksanaan upacara Kasada adalah ditambahinya praktik-praktik sesaji yang menggunakan binatang ternak, hal yang sebelumnya tidak dikenal dalam standard upacara Kasada (ongkek isinya hanya tumbuh-tumbuhan). Binatang ternak di sini umumnya adalah ayam dan kambing. Ayam dan kambing tersebut dapat berjenis jantan atau pun betina, tergantung dari niatan (janji) orang yang akan melakukan nadar untuk bersesaji. Jika ingin menunaikan suatu keperluan, pada umumnya masyarakat Tengger akan bernadar, “suk Kasada, reyang / ingsun arep nglungsuraken wedus, menyang … (disebutkan tempat yang dianggap suci sebagai tempat melabuh ternak sesajiannya tersebut). Artinya, pada upacara Kasada besok (tahun depan), saya (bernadar) akan melakukan kurban berupa kambing, yang akan dilabuhkan di … (sambil mengatakan suatu tempat yang dianggap suci sebagai tempat melabuh sesaji ternak kambing tersebut). Masyarakat Tengger yang bernadar ini jumlahnya cukup banyak sehingga tempat-tempat yang dianggap suci oleh umat Hindu Tengger ini (di sekitar gunung Bromo) penuh oleh umat yang melakukan “sesajian tambahan” ini. Bahkan, masyarakat dari luar Tengger (non-Hindu) juga meramaikan kurban ternak ini. Menurut sesepuh Tengger, di antara orang-orang tersebut banyak yang berbicara dalam logat Madura[1]: “…sayya suddah lamma pak ikut ini…”. Seorang tetangga saya (dia Muslim) mengaku bahwa dia rajin setiap Kasada selalu berkurban kambing di Tengger, dengan alasan untuk penglaris dagangannya.

Praktik melakukan korban kambing dan ayam ini, dilakukan (dilabuh) pada tempat-tempat yang dianggap suci oleh orang Tengger, yaitu:

  1. Kawah gunung Bromo (tempat suci yang paling utama).
  2. Watu Dukun atau Watu Wungkuk.
  3. Watu Balang.
  4. Poten (Pura), yakni Pura Luhur Poten Bromo.

Masing-masing tempat suci tersebut dipandu oleh dua orang dukun, untuk melayani umat yang akan melakukan korban sesaji ternak tersebut.

Umat yang akan melakukan korban sesaji ternak (kambing atau ayam) boleh memilih satu atau lebih lokasi labuhan sesaji. Tempat suci yang paling utama adalah kawah gunung Bromo. Sehingga umat akan memilih kawah gunung Bromo untuk melabuh ternaknya. Namun, mereka boleh memilih tempat suci mana saja, tergantung niat (nadar)-nya. Mereka yang akan melabuh ternaknya ke dalam kawah gunung Bromo, biasanya melakukannya bersamaan dengan labuhan sesaji ongkek. Sehingga, Kasada ini mengalami inovasi dalam hal ragam sesajian. Atau dapat pula dilakukan pada saat yang lain, namun tetap bersamaan waktunya dengan pelaksanaan Kasada. Karena boleh memilih tempat suci yang lain sebagai tempat melabuh ternaknya, umat akan menentukan suatu tempat suci tertentu selain kawah gunung Bromo. Untuk tempat suci selain kawah gunung Bromo, orang yang akan melakukan labuhan ternak ini biasanya telah memiliki pilihan tempat suci berikut orang-orang yang akan menerima labuhan ternaknya (nglungsur).

Pada waktu yang telah ditentukan, dengan disaksikan dan disahkan oleh dukun yang memandu tempat suci tersebut, orang-orang yang bernadar (yang akan melakukan labuh sesaji) melepaskan ternak tersebut. Dan orang-orang lain akan berebut untuk nglungsur (menangkap) ternak tersebut untuk dibawa pulang. Praktik seperti ini pada waktu sekarang ini mengalami perubahan (inovasi) lagi, yaitu, orang-orang yang akan nglungsur ternak dari si empunya hajat tersebut, telah dipersiapkan oleh si empunya hajat. Biasanya tetangga atau kerabat dekat si empunya hajat.

Terdapat perubahan pada praktik bersesaji yang melingkupi Kasada ini, yakni : melabuh ongkek (tumbuh-tumbuhan) ke kawah gunung Bromo, melabuh ternak (ayam atau kambing) ke kawah gunung Bromo, melabuh ternak dengan nglungsur  di luar kawah gunung Bromo yakni dengan cara melepas hewan ternak untuk di-lungsur orang lain yang berada di areal tempat suci, kemudian terdapat inovasi lagi, yakni di-lungsur oleh orang-orang yang telah dipersiapkan sebelumnya (biasanya tetangga atau kerabat dekat). Pelaku, juga mengalami perubahan: dari orang-orang Hindu Tengger, kemudian bertambah dengan ikutnya orang-orang Hindu non Tengger dan orang-orang non Hindu.***

[1] Orang Madura dapat dipastikan, beragama Islam.

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *