Kritik Atas Teori Modernitas: Ancaman Terhadap Sosialitas dan Humanitas

Posted on

Setelah review atas teori modernitas, kita lanjutin ya.. Sekarang kritik atas teori modernitas, yang saya mengadopsi pemikiran F. Budi Hardiman sebagai pembuka jalan. Gagasan Budi Hardiman tentang corak-corak kesadaran yang terungkap dari studi tentang manusia modern, menurutnya lebih merupakan proses daripada esensi yang dialami dalam kesadaran manusia tersebut yakni individuasi, distansi, progress, rasionalisasi, dan sekularisasi.[10]. Proses-proses tersebut memberi pencerahan  akan makna konteks kehidupan modern yang melibatkan individuasi (pengindividuan) sebagai antitesis “grand narrative” yang mendominasi masyarakat modern. Distansi individu baik antar individu maupun dalam konteks sosial dalam progress, rasionalisasi dan sekularisasi memunculkan beberapa pemahaman kritis akan adanya ancaman humanitas dan sosialitas kehidupan dan peradaban manusia. Yaitu: grand narrative (beserta fenomena juggernaut) versus little winner,  dominasi struktural budaya (beserta kesadaran palsu-nya), dunia berdimensi tunggal, dan apa yang saya namakan ”silence world” (dunia senyap).

Grand Narrative versus Little Winner

Modernitas, mengasumsikan masyarakat modern dan perubahannya, yakni yang meliputi perilaku, sosial, politik, seksualitas, dan segenap skenario perkembangannya, didasarkan atas sebuah narasi besar (grand narratives) yakni suatu konstruks dunia yang meliputi kriteria kebenaran dan validasi ilmu pengetahuan tentang dunia modern, bahwa masyarakat (dan dunia) modern tunduk pada “aturan grand narasi” ini. Yaitu, dunia yang terstruktur, terdominasi oleh arus besar (struktur) piranti-piranti modernitas: efektif-rasional (Weber), cepat-instant yang menyerbu perilaku manusia, perikehidupan sosial, politik bahkan seksualitas. Grand naratives ini dalam dunia modern digambarkan oleh Giddens sebagai juggernaut yang melindas kehidupan manusia.

Fenomena ketakberdayaan subjek manusia dalam skenario grand narratives  ini mengisyaratkan dengan jelas, ketertundukan subjek atas struktur yang menghegemoni. Padahal realitas sosial senantiasa mengenal peran-peran subjek (aktor, individu) yang bersumber dari “kecerdasan budaya”, local wisdom, local genius, dan praktik-praktik sosial ini tak jarang membawa solusi bagi masalah sosial masyarakat, dan ini layak untuk diakui sebagai sumber pengetahuan. Peran-peran kecil dan “praktik-cerdas” (little winner) dari praktik-praktik sosial ini bahkan menjadi the sacred wisdom yang tumbuh dari masyarakat. Secara sosiologi pengetahuan, praktik “little winner” ini mampu menjadi “rujukan kecil” (mini narratives) yang berguna bagi kehidupan sosial, tidak hanya “grand narratives”.

Dominasi Budaya dan Runaway World

Karakter masyarakat modern, menurut Outhwaite, adalah masyarakat industrial dan ilmiah, berdasarkan filsafat rasionalisme dan utilitarianisme. Ia menolak kultur masa lalu, kultur yang tidak bisa dipahami. Modernitas selalu menatap masa depan[11]. Pandangan  Outhwaite tentang modernitas (masyarakat modern) sejalan dengan konsep dasar masyarakat yang berkarakter dinamis, senantiasa berubah. Karakter serba cepat dan instan berpadu dengan serba rasional (rasionalis) dan berdaya-guna (utilitarianis) yang didukung oleh teknologi (termasuk teknologi informasi) sebagai fasilitas penting masyarakat modern,  telah “sempurna” menjadikan masyarakat modern ini tergilas oleh “aturan modernitasnya sendiri” yang digambarkan oleh Anthony Giddens sebagai juggernaut (panser raksasa)[12] yang menggilas apa-apa yang di depannya termasuk kesadaran humanisme manusia dalam masyarakat modern tersebut tanpa dapat dikendalikan lagi sehingga disebut dunia yang tak terkendali (runaway world)[13].

Dominasi budaya yang kemudian merembes ke ranah gaya hidup dan cara hidup manusia modern, telah benar-benar menunjukkan bahwa masyarakat modern ditandai dengan adanya dominasi oleh elemen kultural atau “penindasan kultural atas individu dalam masyarakat”. Penindasan ini terjadi pada elemen-elemen kehidupan sosial yang menjangkau relung-relung sosial hingga ke wilayah gaya hidup, pemikiran, penggunaan alat-alat dan apa yang disebut “(produk) teknologi modern”. Penindasan kultural dalam masyarakat modern dihasilkan oleh rasionalitas. Kemudian, dominasi dan penindasan kultural menghasilkan irasionalitas; sehingga muncullah “irrasionalitas di dalam rasionalitas” yang menjadi ciri masyarakat modern.

Dunia Berdimensi Tunggal

Elemen “rasionalitas dan teknologi modern”, yang sejatinya berisi ketidakrasionalan tadi, berperan penting sebagai suatu “metode pengendalian eksternal” terhadap individu manusia modern. Teknologi modern (produk kebudayaan) telah menguasai manusia!  Ia tampak “netral” ketika diciptakan tetapi kemudian ia menjelma menjadi “alat bantu efektif” penindas individu! Seperti yang diyakini oleh Herbert Marcuse bahwa teknologi tidaklah netral. Ia sebenarnya memperbudak, dan membantu menindas manusia! Kebebasan batin aktor (individu) dilanggar dan dikurangi oleh teknologi modern, sehingga memunculkan apa yang disebut Marcuse sebagai “masyarakat berdimensi tunggal”, yakni ketika individu telah kehilangan kontrol atas pikiran kritis dan masyarakatnya. Di sinilah munculnya apa yang disebut sebagai “industri kultur”, yang bisa dibentuk, diatur, dimaterialkan, distrukturkan, dikonstruksikan, didefinisikan. Pelaku pengendali dari “sistem kultural baru” ini bisa jadi adalah elit baik individual maupun korporasi, menggunakan instrumen “produk kebudayaan” juga seperti media massa berpadu dengan kekuatan kultural, sosial, politik dan ekonomi. Di titik inilah muncul “kultur yang diatur, tak spontan, dan palsu”, atau yang dikenal dengan “kultur massal” atau pop culture.

Dunia Senyap (Silence World)

Istilah “dunia senyap (silence world) ini bikinan saya sendiri, belum ada dalam literatur ilmu sosial. Modernitas, salah satunya menampilkan fenomena kehidupan sosial yang dipenuhi oleh penggunaan alat-alat teknologi informasi-komunikasi semacam komputer, laptop, internet, yang memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan siapa saja di mana saja dan dari mana saja bahkan tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Dan kemudian fungsi-fungsi ini diperkecil dalam bentuk perangkat jinjing-gerak (portable) berbentuk “hand-phone” (telepon genggam) dengan kemampuan jelajah internet (online) yang kemudian dikemas dalam teknologi android, blackberry, windows phone, iPad dsb, sehingga memungkinkan setiap orang untuk tetap  bergerak dan beraktivitas sosial selayaknya orang-orang “biasa” namun sesungguhnya mereka ini sedang “berinteraksi sosial” dengan “orang-orang nun jauh di sana”. Fenomena yang seringkali kita saksikan adalah anak-anak muda yang berkelompok dan sedang asyik memainkan gadget mereka. Walaupun mereka duduk berkelompok dan secara fisik berdekatan, namun sebenarnya mereka  tidak sedang berinteraksi dan bersosialisasi dalam kelompok itu, tetapi sedang berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang-orang di tempat lain yang jauh jaraknya, tanpa ada batas wilayah dan bahkan negara. Mereka dekat, tetapi tidak saling interaksi. Dari habituasi semacam ini melahirkan “filosofi pergaulan modern” yang berbunyi “teknologi informasi itu mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat”. Dunia para “manusia modern” seperti ini adalah “dunia senyap” (noiseless world), dunia bisu. Penghuninya merasa sepi di tengah keramaian (together but alone).

Modernitas, yang juga bercirikan penggunaan teknologi informasi secara masif dan berbaur  dengan “irasionalitas dalam rasionalitas” manusia modern, sehingga menambah asupan ke arah masyarakat konsumtif, masyarakat cepat, instant, praktis, masyarakat virtual (online community), maka lahirlah insan-insan “selfish” dan tampak “cuek” karena selalu fokus pada dirinya sendiri, dan gadget-nya sendiri daripada kepada lingkungan sosialnya. Produk “tongsis” (tongkat narsis) yakni sebuah tongkat yang berfungsi memotret diri sendiri yang dilakukan sendiri, adalah bukti produk budaya selfish modernitas. Apalagi didukung dengan gadget yang memenuhi kebutuhan selfish ini: online, bercakap-diri (sehingga “sepi dalam keramaian”), memotret diri sendiri secara swalayan! Benar-benar sendiri, senyap, dan akhirnya terasing dari dunia konteks (sosial)-nya! Mengerikan!

Kondisi yang disebut terakhir ini memunculkan generasi yang “kesepian dalam keramaian” dan menghasilkan filosofi baru “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” akibat penggunaan gadget yang begitu khusyuk sehingga menyandera pikiran dan tindakan manusia modern serta mencerabut kesadaran humanisnya terhadap kehidupan sosial. Dunia yang dihuni oleh “manusia-manusia jenis baru” ini adalah “dunia senyap” (noiseless world) namun high product (efisien dan efektif) tetapi pada suatu ketika “noiseless technology of human-race habituation” ini akan mengendalikan kehidupan dan nasib manusia seperti yang digambarkan dalam film “The Net” yang dibintangi oleh Sandra Bullock, tentang kehidupan otomasi-terkendali-terkomputerisasi sehingga nasib manusia tergantung tombol dan bisa dipermainkan dalam hitungan menit! Mengerikan. Inilah salah satu contoh juggernaut gambaran Giddens. Awas, HP-mu adalah juggernaut ! Renungkan, kamu yang mengendalikan HP atau HP yang mengendalikanmu? Wkwkwk…

Produk modernitas (salah satunya adalah gadget online) telah membawa kemudahan, kepraktisan, kenyamanan, dan kecepatan. Intinya, memenuhi kriteria modernitas yang serba cepat dan rasional (Weber). Rasionalitas ini kemudian terganggu dengan adanya fenomena “mendekatkan yang jauh dan sekaligus menjauhkan yang dekat” tadi itu yang menyebabkan para manusia dalam masyarakat modern ini bergerak secara selfish. Muncullah irrasionalitas dalam rasionalitas, yang merupakan anomali dan bekerjanya fenomena juggernaut ilustrasi Giddens yang sedang menggilas para korbannya yakni “manusia rasional” yang tetap merasa rasional dan tetap tidak merasa terjajah ataupun terhegemoni oleh dominasi kultur modernitas yang tengah menyandera dan menindasnya dengan nikmat.***

___________________

Bacaan lain:

Teori Kritis (Mazhab Frankfurt)

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *