Konversi Budaya: Agama, Ideologi dan Transformasi Modernitas

Posted on

Converting-Culture-Washburn-200x135 Konversi Budaya: Agama, Ideologi dan Transformasi ModernitasTesis konversi budaya untuk memaknai transformasi modernitas yang melibatkan anasir agama dan ideologi dalam masyarakat modern diajukan untuk menjawab paradoks modernitas itu sendiri. Dunia modern yang disebut Weber sarat rasionalisasi dan intektualitas sering berujung pada “kekecewaan pada dunia” (disenchantment of the world). Kultur modern tersibukkan oleh penerjemahan keyakinan ke dalam diskursus modernitas, bagaimana menahan kekecewaan (pada dunia) yang membawa pada keterasingan. Karenanya, nilai-nilai keluhuran mundur dari kehidupan publik menuju wilayah transendental kehidupan mistik atau dan hubungan personal. Dan, faktanya, rasionalisme dan ilmu pengetahuan, pada kenyataannya, digali dan berakar pada keyakinan yang ada dalam moral tradisional dan nilai spiritual. Sedikit menggamangkan, transformasi modernitas dengan ciri rasionalitas budaya kontemporer bertemu dengan agama dan ideologi dalam praktik sosial. Muncullah pemikiran tentang konversi budaya!

Dennis Washburn dan A. Kevin Reinhart mengajukan tesis konversi budaya dalam transformasi modernitas yang melibatkan anasir dan pengaruh agama dan ideologi dalam masyarakat modern, dalam bukunya, Converting Cultures: Religion, Ideology and   Transformations of Modernity.

Dennis Washburn, Professor of Japanese and Comparative Literature dari Dartmouth College, bersama Kevin Reinhard, Emergency Physician dari ST. Johns Clinic, mengeditori buku ini, mencoba mengelaborasi berbagai perdebatan menarik seputar transformasi modernitas dalam lingkaran kehidupan masyarakat modern. Mereka mengajukan gagasan tentang konversi budaya.

Buku ini merupakan kumpulan  dari beberapa esai hasil kolaborasi Institute humaniora Dartmouth. Dan dari kontributor dialog dan pelatihan dari berbagai disiplin ilmu di Perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk mempertimbangkan kembali makna konversi dalam konteks global budaya modernitas.

Modernisme dan globalisasi, baik disadari maupun tidak secara signifikan mempengaruhi kehidupan manusia dalam berbagai aspek dan skalanya terutama dalam proses individualisasi, sosial maupun budaya. Meluasnya proses individualisasi dalam masyarakat kontemporer yang muncul dari sifat relatif suatu praktik sosial telah menjauhkan manusia dari konteks general. Dalam konteks ini nilai-nilai individual yang diferensial telah mendominasi nilai-nilai general yang universal.

Konversi ditempatkan sebagai  perubahan dari satu sistem pengetahuan ke sistem yang lain. Bila kata kuncinya adalah perubahan, maka akan timbul beragam pertanyaan seputar konversi. Mulai dari perubahan yang bagaimanakah yang masuk dalam wilayah konversi, sampai pada pertanyaan-pertanyaan seputar apakah peristiwa yang mendorong terjadinya sebuah konversi? Atau, apakah efek dari konversi itu? Atau, situasi masyarakat di mana konversi itu terjadi? Lalu, ketika kita membahas tentang konversi, pertanyaan yang lai adalah bagaimanakah terbentuknya konversi?

Bahwa konversi memiliki dinamika yang disesuaikan dengan situasi kemasyarakatannya. Konversi dapat menjadi politis, subversif, dan aib bila hal itu terjadi di tengah masyarakat yang ber-identitas suatu agama tertentu, atau konversi itu bisa mengancam status quo (entah itu status quo sistim ekonomi, masyarakat, politik ataupun keagamaan). Ada proses untuk terbentuknya identitas masyarakat berbasiskan suatu agama tertentu. Sebaliknya, konversi hanyalah hal biasa bila konversi itu tidak mengancam status quo. Maka, bisa jadi konversi melahirkan pergeseran dari masyarakat monolitik ke masyarakat pluralistik,  melahirkan pergeseran dari faith-driven society ke civility of faith-driven society untuk mengaggas civil faith-based civil society dan seterusnya.

Pengertian konversi menurut kontributor dalam buku ini adalah menggambarkan tranformasi, atau sesuatu yang bertentangan dengan budaya kompleks/ adaptasi ideologi. Konversi bukan hanya proses searah, namun cukup kompleks, dimana didalamnya ada pengaruh budaya dan adaptasi. Juga melalui  negosiasi yang mencakup resistensi terhadap dominasi ideologi dan transformasi. Maka berarti konversi sebagai pengalaman sosial, pengalaman kolektif  dan budidaya diri. Itulah sebabnya mengapa pengalaman konversi tidak hanya sebatas masalah spiritual saja, tapi juga kegiatan politik yang berfungsi sebagai kritik budaya. Maka konversi juga merupakan reorientasi dari jiwa individu baik yang disengaja maupun tidak sehingga menyebabkan perubahan besar.

Meski pada praktiknya, kata konversi itu identik dengan konversi agama (religious convertion), dimana fenomena konversi biasanya dipelajari dalam konteks tradisi keagamaan didirikan, tetapi konsepsi konversi sendirinya sejatinya bisa digunakan untuk area studi yang lebih luas; seperti konversi budaya, ekonomi, negara dan lainnya. Buku ini ada dalam posisi untuk menggunakan konsepsi konversi dalam pengertian luas tersebut.

Konversi dalam buku ini  dikategorikan dalam tiga bentuk: Pertama, konversi sebagai bentuk pemaksaan budaya, karena faktor adopsi. Kedua, konversi sebagai bentuk perubahan budaya. Ketiga, konversi sebagai bentuk kalibrasi ulang terhadap budaya. Dalam kerangka sejarah, konversi dianggap sebagai kegiatan yang paling tidak stabil dalam masyarakat modern, mengubah tidak hanya pola demografis, tapi juga karakterisasi kepercayaan sebagai komunal sanksi persetujuan untuk agama/ ideologi. Maka kajian tentang konversi dianggap sangat penting untuk mempelajari sejarah pertemuan selain budaya barat dengan imperialisme dan kolonialisme .

Sehingga bisa dipahami bahwa konversi kebudayaan dalam buku ini dipengaruhi beberapa faktor:

  • Adanya tafsir ulang terhadap konsep kenegaraan.
  • Adanya tafsir ulang terhadap konsep kelembagaan.
  • Adanya tafsir ulang terhada konsep keagamaan.
  • Adanya tafsir ulang terhadap konsep diri.

Adanya tafsir ulang  terhadap konsep kenegaraan bisa dipahami dalam buku ini, bagaimana ideologi bangsa dan lembaga-lembaga modern terkooptasi dengan praktek konversi negara. Dalam konsep kelembagaan, terjadinya konversi melalui lembaga pendidikan dengan memasukkan nilai-nilai modernisme dan menciptakan media untuk menghasilkan subjektivitas modern.

Terjadinya konversi kebudayaan juga dilihat dari sifat kebudayaan yang memiliki kecenderungan saling bertentangan, seperti: bagaimana sebuah kebudayaan bisa berevolusi atau sebaliknya berhenti berevolusi, bagaimana kebudayaaan menjadi terbuka atau sebaliknya menjadi tertutup, juga bagaimana kebudayaan dapat mengikuti gerak kebudayaan itu sendiri atau malah berusaha menghentikan ruang geraknya sendiri dan bagaimana kebudayaan bisa dipahami dengan pendekan multi tafsir atau dipandang sebagai dogmatis.

Tafsir Ulang Konsep Kenegaraan

Tafsir ulang terhadap konsep kenegaraan dan keagamaan, seperti ditulis oleh Trent Maxey dan Alan Tansman  yang mengulas tentang   krisis konversi diawal restorasi Meiji dan atmosfir konversi dalam perang menuju restorasi meiji. Dalam konsep kelembagaan dikaji oleh Ertan Aydin yang menguraikan tentang konversi sekuler sebagai proyek revolusionir Turki pada tahun 1930 dan tentang konversi gender dalam gerakan perempuan yang ditulis oleh Barbara Reeves-Ellington. Dan dalam konsep diri banyak menyoroti konversi modernisasi di Turki serta di India barat yang memandang tubuh sebagai locus identitas agama, sebagaimana ditulis oleh James W. Laine dan tulisan Sho Konishi tentang agama Tolstoian di Meiji Jepang.

Wilayah geografis yang menjadi perhatian dalam karya ini adalah India, Cina, Jepang, Serbia, dan Turki. Wilayah-wilayah tersebut memiliki kekuatan yang mencolok dalam dinamisasi konversi, dan memiliki variasi gerakan adat masyarakat setempat sebagai reaksi dari tekanan yang datang dari kolonialisme dan imperialisme, dan oleh tipe transformasi budaya modernitas seperti; sekularisasi masyarakat; pertumbuhan gerakan ideologis massa; perkembangan populasi dan informasi yang cepat dan berskala besar; kompresi, melalui teknologi, persepsi ruang dan waktu; dan politisasi keyakinan agama.

Sejarah masyarakat yang dibedah dalam buku ini menunjukan bagaiman proses konversi budaya itu terjadi. Pada pertengahan abad 19 misalnya, masyarakat Jepang membuat distingsi tegas antara etika Timur dan pengetahuan Barat, dengan mengizinkan untuk mengadopsi kebudayaan material Barat.

Modernitas adalah sebuah proyek, kesadaran diri untuk memproduksi perubahan evolusioner sebagai sesuatu yang dipilih atau dipaksakan, dan yang sering ditempatkan melintasi pandangan dan kebiasaan. Konflik dan ketegangan yang tercipta melalui pertemuan budaya non-Barat dan kekuatan negara Barat, mereplikasi sekaligus memperkuat kontradiksi budaya modernitas.

Krisis konversi diawal restorasi Meiji dan atmosfir konversi dalam perang menuju restorasi Meiji (Jepang Era 1830)

Restorasi Meiji, Meiji Ishin, Revolusi Meiji, atau Pembaruan Meiji adalah serangkaian kejadian ‘reformasi’ di Jepang. Tumbangnya pemerintahan feodal-korup keshogunan Tokugawa sebagai akhir zaman Edo dan berpuncak pada pengembalian kekuasaan di  Jepang kepada Kaisar pada tahun 1868, sebagai awal zaman Meiji.

Dalam sejarah Jepang, babak pertama pemerintahan diktator militer feodalisme korup dimulai dengan kudeta Tokugawa Ieyasu atas  kekuasaan kaisar sebagai pemerintahan yang sah setelah melewati pertempuran Sekihara tahun 1600. Karena terhalang garis keturunan untuk menjadi jenderal, Tokugawa Ieyasu memalsukan silsilah keturunan menjadi klan Minamoto agar bisa ‘absah’ menjadi Shogun. Sebab, Shogun, yang dalam konteks sejarah Jepang adalah Sei-i Taishogun, Jenderal Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, hanya berhak dijabat oleh keturunan klan Minamoto.

Inilah babak pertama pemerintahan diktator militer feodalisme di Jepang. KeshogunanTokugawa berkuasa turun-temurun 15 generasi selama 265 tahun sejak 24 Maret 1603 dengan pengangkatan Tokugawa Ieyasu sebagai Sei-i Taishōgun dan berakhir pada 9 November 1867 ketika Tokugawa Yoshinobu (Keiki), Shogun generasi terakhir mengembalikan kekuasaan ke tangan kaisar (Taisei Hōkan).

Inilah era zaman edan ala Jepang, disebut Zaman Edo, merujuk pada ibukota Edo (sekarang Tokyo), zaman kegelapan KeshogunanTokugawa atau Keshogunan Edo (Edo Bakufu). Di masa ini, kekuasaan kaisar yang berkedudukan di Kyoto hanyalah simbolik belaka tanpa daya, sebab istana kaisar hanya mengeluarkan kebijakan, sedang yang menjalankan wewenangnya adalah klan Shogun Tokugawa.

Ketakutan era Tokugawa pada unsur asing telah membawa sebuah model isolasi yang teramat ketat dibanding periode sebelumnya. Rakyat Jepang dilarang pergi ke luar negeri dan berdagang dengan bangsa asing, sedangkan orang-orang asing diawasi dengan ketat. Penekanan kaku yang mengharuskan seseorang patuh tanpa syarat pada peraturan-peraturan mengenai ketaatan dan kesetiaan. Tak dapat dipungkiri memang, jika para samurai ini amat bertekat untuk memurnikan barang setetes budaya Jepang dari penetrasi modernitas yang ditawarkan oleh barat. Terus hidup dengan berkudung kemiskinan memang harus tanggung oleh Tokugawa dan para samurainya, semua ini sekali lagi dilakukan demi sebuah prinsip suci yang telah turun temurun meraka warisi.

Dengan berakhirnya abad 19, pemerintahan Tokugawa mandeg dan korup. Kapal-kapal asing mulai mencoba memasuki Jepang dengan desakan terus-menerus. Kelaparan dan kemiskinan melemahkan dukungan untuk pemerintah. Jepang di masa Edo Tokugawa (1603-1867) bagaikan sebuah telaga di pegunungan, stabil dan menyendiri. Gejolak politik diredam melalui sistem kelas yang ketat, pengaruh asing dibendung dengan kebijakan menutup diri dari dunia luar. Namun dua setengah abad yang tentram ini akhirnya koyak oleh kedatangan empat kapal perang Amerika yang merapat di Teluk Tokyo pada 1853. Lewat kekuatan militernya, komandan Perry menuntut Jepang membuka pintu bagi Amerika. Dua dekade kemudian berakhirlah masa keshogunan yang telah berlangsung dua ratus tahun lebih itu.

Kedatangan Perry memang telah memicu sebuah transformasi besar.
Orang-orang mulai mengkritik keshogunan Tokugawa, masyarakat yang anti pendatang asing berubah pikiran dan mulai berkata bahwa orang Jepang mesti mencoba hidup bersama mereka. Konflik kepentingan yang rumit pun merebak, membenturkan kelompok yang mendukung kebijakan terbuka dengan kelompok yang menghendaki pengusiran orang asing; dan kelompok yang mendukung kaisar dengan yang mendukung shogun. Pertempuran antar faksi ini berujung dengan Restorasi Meiji yang mengembalikan autoritas politik ke tangan kaisar pada 1868.

Restorasi Meiji dalam arti sempit dapat diartikan sebagai pemulihan kembali Kaisar Meiji setelah penggulingan pemerintahan Tokugawa pada tanggal 3 Januari 1868 oleh kekuatan-kekuatan yang dipelopori oleh daerah-daerah Satsuma (sekarang propinsi Kagoshima), dan Coshu (sekarang propinsi Yamaguchi). Peristiwa tersebut telah membuka ke arah pembaharuan-pembaharuan dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, angkatan perang, dan lain-lain, serta meletakkan sendi-sendi bagi  Jepang untuk  modern.

Proses modernisasi di Jepang sesungguhnya dimulai sejak pembukaan Jepang oleh Commodore Perry yang memaksa Jepang membuka beberapa pelabuhannya dan memberi konsesi pada negara-negara Barat. Bangsa Jepang mulai menyadari ketinggalan-ketinggalan yang mereka alami. Perkembangan yang dicapai selama negara tertutup (politik isolasi), ternyata tidak dapat mengimbangi kemajuan yang dicapai negara-negara Barat. Jepang menyadari untuk segera mengadakan perubahan dan menyesuaikan diri pada perkembangan baru yang terjadi di negara-negara Barat kalau tidak ingin dijajah seperti bangsa-bangsa lainnya di Asia pada masa itu. Perubahan dan penyesuaian diri tersebut kemudian dikenal dengan Restorasi Meiji.

Restorasi Meiji menimbulkan sistem pendidikan baru, mengikuti pendidikan Barat. Kewajiban belajar untuk anak usia 6 tahun diharuskan bagi semua penduduk. Untuk tiap 600 penduduk diadakan 1 sekolah rendah. Negara dibagi menjadi8 daerah pendidikan, tiap daerah terdiri 32 sekolah menengah dan 1 universitas. Banyak pelajar dikirim ke luar negeri untuk menyempurnakan ilmu pengetahuan tentang peradaban Barat. Sekembalinya ke Jepang mereka ditugaskan dalam pembangunan dan modernisasi negara. Dalam waktu 50 tahun Jepang telah menjadi negera modern.

Ada beberapa faktor yang memungkinkan tercapainya modernisasi secara cepat. Pertama, dasar-dasar untuk mencapai modernisasi sebenarnya sudah ditanamkan sejak jaman Tokugawa yang berlangsung kira-kira dua setengah abad lamanya. Karena selama itu rakyat Jepang telah ditempah dalam persatuan dan kebiasaan patuh kepada pimpinan dengan kerelaan mengorbankan diri. Kepatuhan tersebut kemudian menjelma menjadi bentuk cita-cita nasional dengan kesetiaan kepada Tenno dan cinta tanah air. Semangat ini menjadi salah satu faktor yang mendorong tercapainya pembentukan masyarakat modern. Kedua, karakter bangsa Jepang yang ingin belajar, berhasrat besar menerima pengetahuan itu dan melakukan perbaikan atasnya. Mottonya; “cari dan temukan praktek terbaik di seluruh dunia dan lakukan perbaikan atasnya.” Hal inilah yang menyebabkan Jepang mengalami “loncatan-loncatan” besar kemajuannya, berperadaban tinggi dan modern.

Restorasi Meiji menjadikan Jepang sebagai negara terkemuka di Asia pada waktu itu. Perkembangan industri militernya mengancam kedudukan bangsa-barat Barat di Asia, sehingga Jepang dijuluki sebagai “bahaya kuning”. Namun kemajuan yang dicapai akibat Restorasi Meiji tersebut juga menimbulkan masalah-masalah dalam negeri yang menyebabkan Jepang menjadi negara imperialis.

Semasa Restorasi Meiji, feodalisme Jepang secara perlahan-lahan digantikan oleh ekonomi pasar dan menjadikan Jepang sebagai negara yang dipengaruhi negara-negara Barat hingga kini. Restorasi Meiji menekankan pendidikan sebagai mata tombak reformasi dan modernisasi. Pendidikan menjadi hak dan kewajiban semua warga. Inilah salah satu kunci keberhasilan restorasi Jepang, yang menjadikan negara ini cepat beradaptasi dengan perkembangan sains dan teknologi Barat di masa selanjutnya, disamping administrasi pemerintahan yang sangat rapi warisan dari rezim Tokugawa.

Walaupun Restorasi Meiji telah mewujudkan Jepang menjadi negara yang modern, namun jepang tetap mempertahankan Kaisar sebagai titisan dewa  dan penentu arah kebudayaan yang dinamis dan eksis. Meski makmur dalam konteks sosial, ekonomi dan industri, masyarakat jepang tetap berpegang pada prisip-prinsip shintoisme, dan Jepang menjadi negara termodern pada saat setelah restorasi meiji digulirkan. Jepang, dimodernisasi tidak hanya untuk menjadi seperti barat, tetapi untuk mengatasi barat.

Bisa ditarik kesimpulan, bahwa konversi kebudayaan oleh negara dalam  rezim tokugawa antara lain:

  • Isolasi negara dari dunia luar (politik sakoku)
  • Masyarakat tidak diijinkan keluar dari kekaisaran Tokugawa
  • Bangsa dari  luar yang masuk  kejapan  diusir
  • Sosial, ekonomi dan industri era kelam

Sedangkan pada masa kaisar Meiji adalah:

  • Membuka diri dari dunia luar
  • Hubungan antar negara menjadi trasformasi sosial, ekonomi dan modernitas di bidang industry
  • Kondisi sosial, ekonomi dan industri japan menjadi lebih kuat

Maka Era Meiji mengawali era reformasi dari sistem feodal ke sistem modern. Termasuk didalamnya memodern-kan tentara jepang dengan sistem barat. Di tahun 1889 Jepang membuat Undang-Undang bergaya barat, prinsip yang mengantarkan kepada kesadaran nasional dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi. Serta kepercayaan diri yang tumbuh dalam bangsa ini. Prinsip yang terkandung dalam Undang-undang tahun 1889 inilah yang mampu mengantarkan modernisasi barat dan adat tradisi Jepang dapat berjalan seiring, sehingga kekaisaran modern Jepang terbentuk pula.

Konversi Diri: Identitas Modern Dalam Agama Tolstoian di Meiji Japan

Penganut agama di Jepang hampir dua kali lipat dari total penduduk Jepang. Penganut agama Shinto dan Buddha dalam berbagai sekte saja sudah mencapai 200 juta, ini berarti total penganut agama di Jepang melebihi jumlah penduduk disebabkan tradisi beragama orang Jepang.

Sebagian besar orang Jepang menganut lebih dari satu agama dan sepanjang tahunnya mengikuti ritual dan perayaan dalam berbagai agama. Mayoritas orang Jepang dilahirkan sebagai penganut Shinto, merayakan Shichi-Go-San, hatsumōde, dan matsuri di kuil Shinto. Ketika menikah, sebagian di antaranya menikah dalam upacara pernikahan Kristen. Penghormatan terhadap arwah leluhur dinyatakan dalam perayaan Obon, dan ketika meninggal dunia dimakamkan dengan upacara pemakaman agama Buddha. Di luar dua agama tradisional tersebut, saat ini banyak orang Jepang beralih ke berbagai gerakan keagamaan populer, yang biasa dikelompokkan dengan nama “Agama-agama Baru” (Shinshūkyō). Agama-agama ini memiliki unsur-unsur Shinto, Buddha, dan takhayul lokal, dan sebagian telah berkembang untuk memenuhi kebutuhan sosial kelompok-kelompok masyarakat. Salah satu yang terkenal adalah Sokka Gakkai, suatu aliran Buddha yang didirikan pada tahun 1930 dan memiliki moto kedamaian, budaya, dan pendidikan.

Sebagai negara sekuler, Jepang  tidak ikut campur masalah agama. Dalam setiap data pemerintahan atau surat resmi lainya tentang identitas penduduk, identitas agama tidak dicantumkan dan juga tidak akan pernah ditanyakan. Agama hanya dibahas dalam konteks sejarah saja. Yang paling menarik mungkin adalah tentang agama Shinto. Karena bagi orang jepang Shinto bukanlah agama, namun hanya budaya atau kebiasaan saja. Shinto sama sekali tidak mengenal ajaran, kitab suci atapun nabi, namun uniknya memiliki kuil atau tempat suci untuk sembahyang. Sebetulnya bukan cuma sebatas agama Shinto saja, pada dasarnya semua agama bagi orang Jepang hanyalah sekedar budaya, tradisi atau kebiasaan saja.

Bagi kebanyakan orang Jepang, agama adalah suatu kebebasan. Dengan beragama jiwa menjadi bebas. Mereka sama sekali tidak mau terikat dengan satu faham agama tertentu. Jadi bukan hal aneh kalau masyarakat di negara tersebut menjalankan berbagai ritual agama campur aduk tanpa pernah ada yang memperdebatkannya. Kebanyakan orang akan Jepang di hari tertentu akan berdoa di kuil Shinto, namun di hari yang lain juga berdoa di kuil Buddha. Saat upacara kelahiran, dewasa, peresmian gedung dan ritual lain yang bersifat keduniaan umumnya dilakukan dengan ritual Shinto dan untuk upacara kematian dilakukan sepenuhnya dengan ritual Buddha. Sedangkan khusus untuk upacara pernikahan sepertinya jauh lebih unik lagi. Ada dua pilihan yang ada yaitu menikah ala Jepang yaitu dilangsungkan di kuil Shinto atau menikah ala barat yang berlangsung di gereja. Apakah pasangan pengantin tersebut adalah beragama Kristen, Shinto atau Buddha tidaklah terlalu penting bagi mereka. Jadi agama betul betul merupakan kebebasan di negara tersebut. Hal inilah yang mungkin menyebabkan kebanyakan orang Jepang merasa nyaman kalau memilih tidak beragama, suatu kebebasan yang sepertinya tidak mungkin bisa didapatkan kalau harus memeluk suatu agama tertentu.

Ketika zaman Edo (1603 – 1868) agama Kristen dilarang dan ditindas. pengikutnya dihukum mati atau diusir ke luar Jepang. Perlu diketahui bahwa konfilk agama yang ada saat itu sesungguhanya bukan disebabkan oleh alasan agama semata namun lebih banyak karena alasan politik dan kekuasaan.

Maka sejak era Meiji, Amerika di Jepang diberikan kebebasan dalam beragama dan mereka berhak mendirikan tempat ibadah, karena Amerika dan Jepang tidak akan melakukan apapun yang memancing permusuhan agama.

Agama Tolstoian memandang bahwa semua agama adalah benar, sehingga melakukan upacara dengan cara agama apapun tetap sah karena semua berdasarkan atas kebenaran. Maka agama tolstoian menjadi konversi diri sebagai bentuk identitas modern masyarakat Jepang.

Konversi agama tolstoian di Jepang menurut  Sho Konishi dalam buku ini adalah produk dari dialektika pertukaran pengetahuan antara timur-barat. Maka kehadiran agama tolstoaian di Jepang sebagai dampak modernisasi di Jepang. Disamping  itu juga, bahwa penyebaran agama kristen di Jepang sebagai ekspresi dorongan untuk membudayakan dan memodernisasi Jepang agar menjadi sama dalam tataran  internasional, salah satunya dengan melalui westernisasi.

Konversi Sekuler sebagai Proyek Revolusioner Turki tahun 1930

Ulasan tentang  konversi sekuler sebagai proyek revolusioner Turki tahun 1930 ini ditulis oleh Ertan Aydin, yang memandang sekulerisasi sebagai proyek besar di Turki, tema yang diusung adalah tentang “mengubah”, dengan mengatasnamakan “peradaban Turki” dari populasi muslim Turki menjadi sekuler dan kemudian mewabah menjadi “Kemalis”. Hal ini berarti mengkonversi muslim menjadi sekuler dan benar-benar keluar dari tradisi Islam. Revolusi kebudayaan yang dipimpin oleh elit-elit kemalis di Turki ini jelas merupakan contoh dari konversi yang sangat luar biasa. Dimana untuk memahami essensi revolusi kemalis, perlu menjelajahi “transfer sacrality” dari domain agama yang selama berabad-abad dikaitkan dengan ottoman-muslim menuju kedomain sekuler.

Tujuannya adalah mengkonversi relegiusitas sebelumnya sehingga menjadi sekuler, rasional dan modern. Sekularisasi berbeda dengan sekularisme. Sekularisasi berhubungan dengan proses penurunan kegiatan keagamaan, kepercayaan dan cara berfikir. Sedangkan sekularisme adalah ideologi yang bertujuan untuk mengecam segala bentuk supernaturalisme yang mengarah pada non relegius/anti relegius. Maka ide-ide barat menjadi kekuatan utama dalam proyek revolusioner Turki.

Hal ini merupakan cita-cita Mustafa Kemal Attaturk, sebagaimana diungkapkannya, “bahwa Turki akan membangun sebuah demokrasi yang sempurna, maka bagimana bisa ada demokrasi yang sempurna bila dalam negara ada perbudakan?. Untuk itu, wanita harus dibebaskan dari berbagai tirani, setiap orang akan memakai topi bukan ‘fez’, dan wajah wanita harus tampak.

Sebelumnya, agama adalah satu-satunya moralitas, namun saat ini moralitas berasal dari kesadaran sosial, moralitas tidak ditentukan dari penilaian agama/tidak ada hubungan dengan agama. Maka dasar moralitas tidak lagi agama, tapi kultur.  Itulah konversi sekuler, sebagai proyek revolusioner Turki.

Dalam konstelasi sejarah peradaban Islam, Turki sebelum tersentuh dunia Barat menjadikan Sultan sebagai khalifah. Artinya sebagai pemimpin negara, sekaligus juga memegang jabatan sebagai pemimpin agama. Kekhalifahan Turki Usmani didukung oleh kekuatan ulama (Syeikhul Islam) sebagai pemegang hukum syariah dan kekuatan tentara, yang dikenal dengan sebutan tentara Janisssari.

Sistem politik negara Turki adalah salah satu contoh proses perubahan sebuah ideologi. Awalnya, peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan Dinasti Usmani. Islam di masa kekhalifahan diterapkan sebagai agama yang mengatur hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Khalik, Sang Pencipta; dan juga suatu sistem sosial yang melandasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Selanjutnya arah modernisasi yang berkiblat ke Barat telah menyerap unsur-unsur budaya Barat yang dianggap modern. Campuran peradaban Turki, Islam dan Barat, inilah yang telah mewarnai identitas masyarakat Turki. Yang membawa perubahan adalah ketika terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal pada tahun 1919-1923. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan Turki, mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki. Gerakan nasionalisme ini, yang pada waktu itu merupakan leburan dari berbagai kelompok gerakan kemerdekaan di Turki, semula bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Turki dari rebutan negara-negara sekutu. Namun pada perkembangan selanjutnya gerakan ini diarahkan untuk menentang Sultan.

Prinsip Pemikiran Pembaruan Mustafa Kemal di awali ketika ia ditugaskan sebagai attase militer pada tahun 1913 di Sofia. Dari sinilah ia berkenalan dengan peradaban Barat, terutama sistem parlementernya. Adapun prinsip pemikiran pembaharuan Turki yang kemudian menjadi corak ideologinya terdiri dari tiga unsur, yakni : nasionalisme, sekularisme dan westernisme. Menurut  Mustafa kemal, sekularisme bukan saja memisahkan masalah bernegara (legislatif, eksekutif dan yudikatif) dari pengaruh agama melainkan juga membatasi peranan agama dalam kehidupan orang Turki sebagai satu bangsa. Sekularisme ini adalah lebih merupakan antagonisme terhadap hampir segala apa yang berlaku di masa Usmani tahun 1923 menyatakan sebagai sebuah negara sekuler, di mana Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad, dijauhkan peranannya dan digantikan oleh sistem  barat.

Pada tahun 1919-1923 terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan Turki, mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki. Gerakan nasionalisme ini, yang pada waktu itu merupakan leburan dari berbagai kelompok gerakan kemerdekaan di Turki, semula bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Turki dari rebutan negara-negara sekutu. Namun pada perkembangan selanjutnya gerakan ini diarahkan untuk menentang Sultan. Mustafa Kemal mendirikan Negara Republik Turki di atas puing-puing reruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani dengan prinsip sekularisme, modernisme dan nasionalisme. Meskipun demikian, Mustafa Kemal bukanlah yang pertama kali memperkenalkan ide-ide tersebut di Turki. Gagasan sekularisme Mustafa Kemal banyak mendapat inspirasi dari pemikiran Ziya Gokalp, seorang sosiolog Turki yang diakui sebagai Bapak Nasionalisme Turki. Pemikiran Ziya Gokalp adalah sintesa antara tiga unsur yang membentuk karakter bangsa Turki, yaitu ke-Turki-an, Islam dan Modernisasi. Dengan demikian Mustafa dan pengikutnya menggerakkan reformasi-reformasi di Turki dengan dasar-dasar yang telah diletakkan oleh para pembaru-pembaru di kekhalifahan Turki. Pada perkembangan selanjutnya ide-ide reformasi Mustafa Kemal menjadi suatu gerakan politik pemerintah yang dikenal dengan sebutan Kemalisme.

Reformasi agama, yang bentuknya upaya Turkifikasi Islam atau nasionalisasi Islam ini merupakan bentuk campur tangan pemerintah Kemalis dalam kehidupan beragama di masyarakat Turki. Sekularisme yang sejatinya memisahkan hubungan agama dengan pemerintahan, dimana negara menjamin kebebasan beribadah, bagi warga negara, pada pelaksanaannya dijalankan dengan semangat nasionalisme yang radikal dan dipaksakan oleh Kemalis. Peradaban menurut Mustafa Kemal, berarti peradaban barat. Tema utama dari pandangannya tentang pem-Barat-an adalah bahwa Turki harus menjadi bangsa barat dalam segala tingkah laku.

Tentang sekularisasi dan modernisasi di Turki pada masa Rezim Kemalis seperti diuraikan di atas, Bryan S. Turner, seorang guru besar sosiologi di Universitas Flinders (Australia Selatan), menyimpulkan bahwa sekularisme tersebut merupakan suatu bentuk pemaksaan dari pemerintah rezim, bukanlah sekularisasi yang tumbuh sebagai suatu konsekuensi dari proses modernisasi seperti di negara-negara Eropa.

Selain itu sekularisasi di Turki pada saat itu merupakan peniruan secara sadar pola tingkah laku masyarakat Eropa yang dianggap modern dan lebih maju (1984:318). Bagi kemalis, manusia Turki baru tidak saja harus berpikiran rasional seperti orang-orang Eropa, tetapi juga harus meniru tatacara berperilaku dan berpakaian seperti mereka.

Gerakan Perempuan Bulgaria (1857-1876)

Gerakan perempuan Bulgaria ini merupakan gerakan feminisme gelombang pertama dan ditulis oleh Barbara Reeves-Ellington. Gerakan feminisme eropa ini mengkonversi lembaga melawan konversi kristen dalam negara. Tokoh utamanya adalah Lady Mary Montagu dan Marquis Condorcet.

Munculnya gerakan ini, adalah berangkat dari adanya fase-fase pemasungan terhadap hak-hak dan kebebasan kaum perempuan. Dalam konstelasi sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomorduakan oleh kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriarki sifatnya. Dalam berbagai bidang, seperti sosial, budaya, pekerjaan, pendidikan, dan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki didepan, di luar rumah dan kaum perempuan di rumah.

Kemudian merembet dengan semakin diperparah dengan adanya fundamentalisme agama yang cenderung melakukan opresi terhadap kaum perempuan. Seperti, di lingkungan agama Kristen  ada semacam praktek-praktek dan kotbah-kotbah yang menunjang situasi demikian, faktanya terlihat banyak gereja menolak adanya pendeta perempuan bahkan tua-tua jemaat pun hanya dapat dijabat oleh pria. Banyak juga khotbah mimbar yang menempatkan perempuan sebagai manusia yang harus berbakti pada suami.

Maka di Eropa berkembanglah sebuah gerakan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan walaupun gaungnya masih kurang kuat, tapi kemudian  setelah terjadi revolusi sosial dan politik di Amerika Serikat, maka perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat.

Kemudian muncullah feminis gelombang kedua dan seterusnya pasca revolusi Perancis dan liberalisme di Eropa juga Amerika. Gerakan ideologi feminis mampu masuk dalam dunia parlemen sebagai keterwakilan kesetaraan derajat perempuan. Hal ini menjadikan ideologi feminisme secara kelembagaan sehingga memberikan kontribusi berarti terhadap konversi kebudayaan dengan melalui ideologi feminis tersebut.

Hibriditas dan Masalah Ketulusan, Konversi Kebudayaan Melalui Gerakan Massa dan Ketokohan Individual di India Selatan

Gerakan massa di India Selatan (1877-1936) dalam buku ini dianalisis oleh Eliza F. Kent, sedangkan yang menyangkut tentang ketulusan dalam representasi gerakan massa ubah tahun 1930 di India diulas oleh Laura Dudley Jenskins.

Kekuatan gerakan sosial yang berkembang menjadi kekuatan politik yang berpengaruh di negara bagian tersebut. Mengikuti sejarah selatan India tidak terlepas dari sejarah dari Masyarakat Dravidian khususnya masyarakat Tamil . Terutama  peradaban Indus pada masa kerajaan Tamil di  Selatan, yang berkembang 2000 tahun yang lalu. Seperti diketahui bahwa kekayaan sastra Tamil berasal dari peradaban kuno ini.

Kedatangan bangsa Arya menjadi salah satu faktor kemunduran peradaban Dravidian. Biarpun Hindu sebagai sebuah religi dalam penafsiran sejarah merupakan kombinasi dari Arya dan Dravida.  Terlihat dari  penemuan arkeologi yang menjelaskan bahwa penyembahan terhadap Durga dan Siwa sudah dilakukan sebelum datangnya  bangsa Arya.  Tetapi para nasionalis Dravida menegaskan bahwa  ajaran Hindu bukan berasal dari bangsa Dravida Hal ini terbukti dengan religi sanksrit adalah alat untuk melakukan sosial kontrol oleh  kaum Brahmana.

Ketika kaum Brahmana  bermukim di daerah Selatan India, konflik antara kaum brahmana dan non brahmana mencuat ke permukaan .  kaum Brahmin mencoba untuk memperkenalkan organisasi sosio religious ke dalam masyarakat Tamil. Tetapi memperkenalkan oligarki dalam religi untuk masyarakat Tamil di Selatan India mengalami kegagalan, tidak seperti kesuksesan kaum Brahmin dalam memperkenalkan  sistem kasta pada masyarakat Utara India .

Dalam perkembangannya hubungan antara kaum Brahmin dan non Brahmin di Selatan ditandai dengan munculnya kecemburuan sosial terhadap kaum Brahmin.  Kaum Brahmin berusaha mempertahankan ekslusifitasnya kastanya

Tak jarang hal tersebut dikombinasikan dengan kekuatan ekonomi  yang diperoleh dari kepemilikan tanah yang dilandaskan pada otoritas religi. Dengan begitu mereka memperkuat posisinya dengan memisahkan diri dari kasta terendah dan berusaha meningkatkan kontrol mereka .

Pada zaman moderen, kaum Brahmana  dengan status yang lebih unggul merupakan kelompok yang pertama sekali merespon Westernisasi yang dilakukan oleh barat. Tradisi kesusasteraan yang cukup panjang dalam tradisi Brahmana,  membuat mereka lebih mudah menyerap dan mendapatkan keuntungan dari pendidikan barat yang berbasiskan pada bahasa Inggris. Dengan pendidikan tersebut kaum Brahmana masuk ke dalam administrasi kolonial, dan menemukan status baru dalam sistem kolonial  baik dalam politik maupun ekonomi sehingga membuat jurang perbedaan yang semakin dalam antara elit dan massa.

Tanpa memiliki kekuatan politik dan ekonomi  serta kurangnya pendidikan , membuat kelompok Non Brahmin di berbagai daerah di Selatan India merasa tertekan dan tereksploitasi oleh golongan Brahmin. Sehingga memunculkan berbagai gerakan  untuk melakukan counter  terhadap dominasi status  kaum brahmin.  Pada tahun 1873, Jyotirao Phoolay of Poona, berasal dari Kasta Mali yang relative kurang dalam pendidikan, mendirikan Sayasshodhak Samaj, dengan tujuan untuk menegaskan betapa bermanfaatnya memandang manusia tanpa melihat kastanya. Gerakan ini tidak sepenuhnya berlawanan secara total dengan kaum Brahmin, tetapi lebih kepada perlawanan terhadap  tirani  sistem kasta dan perlawanan untuk menggugurkan system kasta tersebut. Selanjutnya  pada tahun 1914, Dr. C. Natesa Mudaliar  pada tahun 1914 bersama mahasiswa kedokteran di Madras, mendirikan” Dravidan Home”, merupakan asrama bagi mahasiswa  non Brahmin. Mudaliar melihat bahwa mahasiswa non Brahmin kesulitan dalam mendapatkan akomodasi hotel di madras dikarenakan kasta. Asrama tersebut hanya berfungsi selama dua tahun ,Tetapi dalam kurun  waktu tersebut  Mudaliar memulai  membentuk organisasi Dravidian yang bertujuan meningkatkan kekuatan politik kelompok non Brahmin.

Pada tahun 1916, dibentuk organisasi  non Brahmin dengan nama South Indian People’s Association.  Kegiatan organisasi ini adalah menyuarakan keluhan-keluhan yang dimunculkan golongan kaum non Brahman melalui jurnal berbahasa inggris maupun berbahasa lokal. Setelah itu muncullah harian Justice berbahasa Inggris yang mulai terbit pada tanggal  26 Februari tahun 1917, disusul dengan munculnya harian berbahasa Tamil yaitu Dravidian dan yang terakhir adalah harian Andhraprakaskka.

Setelah terbentuknya South Indian People’s Association, maka dikeluarkanlah Manifesto Non Brahmin. Manifesto ini berbicara tentang dominasi kaum Brahman pada pelayanan public dan kantor-kantor pemerintahan dan menyadari bahwa monopoli kekuatan politik terjadi karena faktor pendidikan kaum Brahman yang lebih baik. Untuk itu golongan kaum Dravida tidak mendukung transfer kekuasaan dari pemerintahan Inggris kepada kaum Brahmin. Dalam manifesto ini juga ditegaskan tentang  kesetiaan dan kesediaaan kaum Dravida untuk diatur oleh hukum pemerintahan Inggris.

Dengan memproklamasikan manifesto non Brahmin, maka organisasi komunitas Dravida menyadari pentingnya membuat organisasi yang bertujuan politik untuk membela kepentingan mereka. Maka pada Agustus 1917 dibentuklah Indian Liberal Federation atau yang sering disebut dengan Justice Party yang tujuannya adalah tuntutan persamaan tingkat sosial dan mewujudkan  keadilan. Menang dalam pemilihan umum pertama pada masa kolonial Inggris di daerah Madras pada tahun 1920.

Pada tahun 1944, Periyar membentuk Dravida Kazhagham, dan keluar dari Justice Party. Organisasi ini bertujuan untuk membentuk Negara sendiri bagi kaum Dravida yang disebut dengan negara Dravida Nadu daerahnya meliputi wilayah Madras pada zaman kolonial Inggris.

Pada tahun 1949, terjadi perpecahan antara Periyar dan para pengikutnya. Tokoh-tokoh seperti: C.N. Annadurai, V. R. Nedunchezhiyan, K.A. Mathiazhagan, K. Anbazhagan, E. V. K. Sampath dan ribuan orang lainnya pada tanggal 17 September 1949 mendirikan partai Dravida Munnetra Kazhagam (DMK). Sebagai pendiri DMK, Annadurai berkeinginan untuk mendirikan Dravida Nadu sebagai Negara sendiri. Tetapi DMK sebagai partai politik terlihat dalam sikapnya pada tahun 1962, ketika china melakukan invasi ke India, DMK memotivasi untuk perlunya perang terhadap China dan menjadi salah satu penyandang dana untuk perang tersebut. Ketika perang usai, dan jiwa nasionalisme meningkat, akhirnya DMK tidak meneruskan idenya untuk memisahkan diri menjadi sebuah bangsa Dravida.

Pada tahun 1972, DMK mengalami perpecahan. Karena salah satu tokoh pentingnya keluar dari partai. Ia adalah M.G. Ramachandran yang popular karena ia adalah seorang actor terkenal dan menjadi penyumbang dana terbesar bagi partai sehingga memiliki peranan yang cukup vital di partai. Konflik antara Ramachandran dan presiden partai Karunanidhi berujung pada pembentukan partai baru kaum Dravida yakni All India Anna Dravida Munetra Kazhagam (AIADMK) Para Ideolog dalam gerakan kaum Dravida.

Terdapat tiga tokoh penting yang mempengaruhi ideologi komunitas Dravida di Selatan India dan satu tokoh lainnya yang cukup mempengaruhi gerakan tersebut. Pertama, adalah Periyar E.V. Ramaswamy Naicker yangmerupakan seorang sosialis radikal. Tidak hanya sebagai seorang intelektual tetapi ia juga memahami tentang kondisi masyarakatnya. Periyar sangat dipengaruhi oleh pemikiran Marx  dan menurutnya sangat cocok dengan kondisi masyarakat Tamil. Ia mengkombinasikan ajaran sosialisme, ateisme dan anti Brahman dalam gerakannya. Gagasan untuk menjadikan Justice party menjadi organ gerakan adalah ide dari Periyar. Penentangannya terhadap agama karena sifat dasar religi yang eksploitatif, khususnya yang berkaitan dengan kasta.

Penyebab terakhir adalah serangan ideology neoliberalisme dari berbagai arah menyebabkan kultur tradisional Dravidan melemah. Diperparah dengan ditinggalkannya ideology yang bersifat revelusioner dalam gerakan sehingga sulit untuk melakukan counter terhadap serangan neolib tersebut. Ditengah krisis ideology tersebut hindutva dengan ideology fasisnya mampu mempengaruhi kesadaran rakyat untuk melakukan perlawanan terhapa neoliberalisme. Sehingga rakyat Tamil membuka pintu untuk masuknya pengaruh Hindu ketimbang mempertahankan ideology gerakan Dravida yang telah usang.

Catatan  

Konversi adalah  perubahan dari satu sistem pengetahuan ke sistem yang lain, perubahan dari satu bentuk (rupa, dan sebagainya) ke bentuk (rupa, dan sebagainya) yang lain. Bisa jadi  perubahan tersebut berlangsung  secara bertahap maupun secara drastis. Pada awalnya terdapat dua hal pada pikiran orang yang akan berkonversi: Pertama, rasa ketidaklengkapan atau kesalahan yang ada pada masa kini, sangat ingin terbebaskan dari sesuatu; dan kedua, ideal positif yang sangat ingin ia raih. Konversi juga dipandang sebagai sebuah “transformasi”, dimana konversi terjadi secara terus menerus. Dimana konsep konversi tidak hanya sebuah perpindahan saja, melainkan juga proses berkelanjutan, seperti dalam konversi agama dengan berlanjut mentaati agama yang dianutnya. Salah satu kriteria utama dalam konversi adalah suatu perubahan yang sangat besar dalam diri. Karena  konversi terjadi secara terus menerus, seperti dalam kasus teori konversi agama, maka teori ini tidak hanya melihat konsep konversi sebagai perpindahan agama, melainkan juga proses berkelanjutan dalam mentaati agama yang dianutnya.
Fenomena konversi menjadi ulasan menarik dari berbagai kalangan keilmuan, namun belum mendapatkan perhatian serius dari komunitas tersebut. Sehingga belum ada suatu ‘resolusi konversi’ yang dapat menjadi panduan didalam merespon isu seputar konversi. maka etika konversi dipandang sebagai jalan keluar mengatasi problem-problem yang muncul dari konversi. Etika Konversi dapat mengurangi ketegangan antar masyarakat, memberi respek kepada masyarakat lain, dan me-revitalisasi relasi antar masyarakat. Maka kemudian konversi tidak akan menjadi persoalan serius apabila masing-masing komunitas religius ataupun budaya menghormati apa yang menjadi etika dalam berkonversi.

Masalah pokok dari kultur modern adalah salah satu keyakinan: bagaimana membenarkan keyakinan kala berhadapan dengan transformasi sosial, bagaimana menerjemahkan keyakinan ke dalam diskursus modernitas, bagaimana menahan kekecewaan (pada dunia) yang bisa membawa pada keterasingan.

Dennis Washburn  mengutip perkataan  Max Weber, nasib zaman kita dicirikan oleh rasionalisasi dan intektualisasi, serta yang utama adalah “kekecewaan pada dunia” (disenchantment of the world). Nilai-nilai tertinggi dan yang paling sublim, mundur dari kehidupan publik menuju wilayah transendental kehidupan mistik atau menuju persaudaraan langsung dan hubungan personal.

Paradoks modernisasi, seperti yang diekspresikan oleh Weber melalui kata “disenchantment” adalah bahwa rasionalisme dan ilmu pengetahuan, pada kenyataannya, digali dan berakar pada keyakinan yang ada dalam moral tradisional dan nilai spiritual.

________________________________________________

Direview oleh Hasanatul Jannah (Kemenag Kabupaten Pamekasan), dengan beberapa penyuntingan oleh WK.

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *