Konstruksi Sosial Atas Realitas, Sosiologi Pengetahuan, Fenomenologi, Filsafat Ilmu dan Wacana

Posted on

wansulap-200x135 Konstruksi Sosial Atas Realitas, Sosiologi Pengetahuan, Fenomenologi, Filsafat Ilmu dan WacanaKonstruksi Sosial Atas Realitas (Social Construction of Reality) adalah teori sosial untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial. Karena realitas sosial itu adalah hasil konstruksi, maka bagaimana ia ditangkap dan dimaknai oleh individu atau masyarakat, terkait dengan subjektivitas misalnya pengetahuan, kesadaran, nilai yang dianut, dsb (juga kepentingan[1]) yang berkaitan dengan realitas sosial tersebut (konstruksi sosial). Ada ‘modal’ yang dimiliki yakni pengetahuannya tentang realitas sosial tersebut (sosiologi pengetahuan). Lebih lanjut, tak hanya memaknai, kepentingan bisa juga memproduksi wacana atas realitas sosial.

Kita mulai dari realitas sosial dulu ya…

Realitas sosial, adalah kehidupan manusia yang terbentuk dalam proses yang terus-menerus, yakni gejala sosial sehari-hari, yang dalam pengertian sehari-hari dinamakan “pengalaman bermasyarakat”. Atau dengan kata lain, realitas sosial itu tersirat dalam pergaulan sosial yang diungkapkan secara sosial melalui tindakan sosial seperti komunikasi lewat bahasa, bekerjasama lewat organisasi-organisasi sosial. “Pengalaman bermasyarakat” inilah sebenarnya esensi masyarakat itu. Realitas sosial seperti ini ditemukan dalam pengalaman intersubjektif (intersubjektivitas), merujuk pada struktur kesadaran umum ke kesadaran individual dalam kelompok yang saling berinteraksi. Maka jika ingin mengetahui, mempelajari, menjelaskan dan memahami esensi masyarakat, didapat melalui mempelajari “pengalaman bermasyarakat” atau realitas sosial[2]. Dan “pengalaman bermasyarakat”, yang merupakan agregasi pengalaman-pengalaman individual yang membawa subjektivitasnya masing-masing, mengandung unsur pengetahuan sosial, kesadaran, persepsi individual (sistem nilai, dsb) dan memiliki dimensi subjektif  dan objektif yang berbeda-beda sehingga berciri paradoksal dan kompleks, membawa kompleksitas realitas sosial. Pengalaman intersubjektivitas ini dapat dijelaskan, bahwa pada proses sosial, masing-masing individu pada dimensi subjektif-nya menghadirkan kenyataan sosial dalam konstruksinya dan ia memanifestasikannya melalui proses eksternalisasi (sebagai kenyataan objektif, dimensi objektif) yang kemudian mempengaruhi kembali manusianya melalui proses internalisasi (realitas subjektif). Di sini terdapat dialektika antara diri (self) dengan dunia sosio-kultural, yang berlangsung dalam satu proses, melibatkan tiga momen simultan: eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural), objektivasi (interaksi sosial dalam dunia intersubjektivasi), dan internalisasi (identifikasi diri dengan lembaga sosial). Maka dapat dikatakan bahwa “masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat” seperti dikatakan Berger[3].

Untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial (dengan kompleksitasnya tersebut), diperlukan perangkat sistem pengetahuan sosial yang mampu menangkap gejala-gejala sosial yang bersifat intersubjektif (relativitas sosial) itu dan men-sintesa-kan gejala sosial yang kelihatan paradoksal dan kontradiktif ke dalam suatu sistem penafsiran yang sistematis, ilmiah dan meyakinkan (teori sosial). Teori sosial ini dibangun di atas bangunan sosial dari realitas yang paradoksal-kontradiktif, intersubjektif, relatif. Maka bangunan teori yang memadai adalah yang bercorak dialektis, yaitu pendekatan dialektika untuk menjelaskan dan memahami realitas sosial yang berciri relativitas sosial, paradoksal, dan intersubjektif, yang berlangsung dalam tiga momen simultan tadi itu.  Jika di-meta-konsepkan (meminjam terminologi “meta-teori), konsepsi “relativitas sosial, paradoksal, dan intersubjektif” terdiri dari anasir konteks sosial spesifik dan hubungan-hubungannya yakni pengetahuan-pengetahuan “kecil” yang tumbuh di masyarakat, konstruksi individual atas realitas sosial dan proses-proses sosial yang membawa serta perangkat “pengetahuan kecil” tadi. Variasi empiris ini semua terpelihara dalam  berbagai situasi sosial yang akhirnya membentuk suatu kenyataan, atau pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality).

Suatu realitas, sebenarnya adalah hasil konstruksi sosial atas ‘realitas’ itu. Dalam mengonstruksi tersebut, terdapat anasir ‘subjektivitas’ yang melekat yakni pengetahuan sosial, persepsi individual misalnya nilai dan kesadaran beserta ‘pengetahuan kecil yang tumbuh di masyarakat’. Inilah ‘sosiologi pengetahuan’. Konstruksi sosial atas realitas adalah ‘pembentukan kenyataan oleh masyarakat’ dalam proses tersebut. Maka, ‘apakah kebenaran itu?’

Di sinilah bidang gerak teori sosial (sosiologi) dimaksud, sebuah teori sosial yang relevan dengan konteksnya, memuat analisis sosiologis yang memadai mengenai konteks-konteks itu. Konteksnya adalah berbasis pada berbagai kenyataan yang dianggap sebagai “diketahui”  oleh masyarakat, atau dengan kata lain, suatu “sosiologi pengetahuan”, yang akan menjawab social construction of reality tadi itu.

Konsep sosiologi pengetahuan ini awal diciptakan oleh Max Scheler yang kemudian diperbarui rumusannya oleh Karl Mannheim (dalam bukunya “Ideologi dan Utopia”, -dan Berger juga menggunakannya-, menjelaskan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuannya sendiri atau interpretasi tentang kehidupannya sendiri, yang bersifat kompleks, maka dalam melihat realitas sosial harus memperhatikan pengetahuan dalam struktur kesadaran masyarakat. Karena itulah, sosiologi pengetahuan memfokuskan kajiannya pada hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial di mana pemikiran itu timbul, sehingga kesadaran manusia ditentukan  oleh keberadaan sosialnya. Rumusan Mannheim memberikan ruh pada sosiologi pengetahuan, dengan konsep “relasionisme” sebagai perspektif epistemologis dari sosiologi pengetahuannya, yakni pengetahuan yang senantiasa berelasi dalam relativitas sosio-historisnya, sehingga pengetahuan itu selalu merupakan pengetahuan dari segi suatu posisi tertentu.

Ringkasnya, sosiologi pengetahuan menekuni segala sesuatu yang dianggap sebagai pengetahuan oleh masyarakat. Pada perumusan teoretisnya, sosiologi pengetahuan pertama-tama harus sibuk dengan “apa saja yang “diketahui” oleh masyarakat sebagai “kenyataan” dalam kehidupan sehari-hari, yang tidak teoretis (prateoretis) atau pra-ilmiah, yakni pengetahuan akal sehat (common sense), yang hidup di masyarakat. Karenanya, sosiologi pengetahuan harus mengarahkan perhatiannya pada pembentukan kenyataan oleh masyarakat (social construction of reality) sebagaimana pemikiran Berger-Luckmann.

Teori Konstruksi Sosial Atas Realitas (Social Construction of Reality) ini berbicara tentang ‘masyarakat mengonstruksi realitas sosial’ berdasarkan pengetahuan, referensi yang dimilikinya (prinsip sosiologi pengetahuan). Maka pertanyaannya adalah, bagaimana kita selaku pengamat sosial atau peneliti sosial ini bisa menangkap ‘realitas sosial’ atau ‘realitas sosial yang telah dikonstruksikan’ atau ‘konstruksi sosial atas realitas’ tadi itu?

Syaratnya adalah…. realitas sosial harus menampak dengan senyatanya!

Bagaimanakah  suatu ‘realitas sosial’ itu menampak secara nyata?

Sebuah pendekatan dalam ilmu sosial melihat realitas sosial secara a priori, yaitu “terlepas” atau tidak diawali dan didasari oleh teori tertentu[4]. Yakni sebuah pendekatan yang melihat realitas sosial apa adanya, senyatanya, genuine, asli. Begitulah ia menampak, maka begitu pulalah adanya. Pendekatan ini adalah fenomenologi. Fenomenologi berangkat dari perspektif filsafat, mengenai “apa yang diamati” dan bagaimana cara mengamatinya. Premis dasar yang digunakan dalam penelitian fenomenologi adalah pertama, bahwa peristiwa akan berarti bagi mereka yang mengalaminya secara langsung; kedua, pemahaman objektif dimediasi oleh pengalaman subjektif; dan ketiga, pengalaman manusia terdapat dalam struktur pengalaman itu sendiri, tidak dikonstruksi oleh peneliti. Dengan kata lain, struktur pengalaman itu dikonstruksi oleh pelaku atau subjek itu sendiri. Di sinilah fenomenologi menemukan paduan yang klop dengan teori Konstruksi Sosial Atas Realitas (Social Construction of Reality) yang diperkenalkan oleh Peter L. Berger. Jadi klop lah timbal balik…***

Nah… selesailah, untuk sementara, keterkaitan antara konstruksi sosial atas realitas, sosiologi pengetahuan dan fenomenologi…..

Lain kali, kita sambungin ke filsafat ilmu ya…. Untuk menegaskan, jika realitas sosial itu adalah ‘realitas sosial yang dikonstruksikan’, dan memperhatikan pula sosiologi pengetahuan (dengan watak sedemikian), maka, di manakah kebenaran itu? Apakah yang dimaksud ‘kebenaran’ itu? Adakah ‘kebenaran’ itu? Kita kroscek dengan filsafat ilmu…

Dan ketika melakukan penelitian, kita melakukan wawancara, partisipan atau informan yang diwawancara kadang juga ngomong sekenanya, menurut pengetahuannya, kadang ber-wacana…. Nah…

[Ini juga “usikan” tersendiri bagi penelitian sosial khususnya tentang “validitas data”: bahwa penelitian sosial dilakukan untuk memahami atau menjelaskan suatu realitas berdasarkan ‘perspektif subjek’ atau ‘perspektif masyarakat’, maka apapun yang dipahami oleh partisipan, dikonstruksi, bahkan diwacanakan, oleh partisipan (melalui ucapannya ketika wawancara) adalah ‘valid’. Ekspresi bahasa inilah yang diteliti atau diinterpretasi oleh peneliti.]

 

Berikutnya….

Realitas sosial adalah hasil ‘konstruksi’, yang di situ ada unsur ‘persepsi’. Nah, persepsi terbentuk dalam diri subjek. Bagaimanakah ‘subjektivitas’ ini terbentuk sehingga memunculkan ‘persepsi’ yang kemudian membentuk (konstruksi atas) realitas? Habitus Bourdieu, genealogi Foucault, subjek-cermin-diri-realitas Lacan, bagaimana perannya dalam membentuk ‘subjektivitas’ ini. Dan, secara mikro-subjektif, persepsi ini muncul dari penggunaan bahasa-internal dalam diri subjek, yang disebut ‘realitas dunia internal’. Realitas dunia internal ini muncul lagi keluar untuk mempersepsi ‘realitas dunia eksternal’, yang kemudian mbalik lagi ke dalam ‘realitas dunia internal’ (dialektis).

 

Lanjutannya lagi…..

Unsur subjektivitas dalam individu yang mengonstruksi realitas… disamping pengetahuan, nilai, kesadaran, tak luput juga ada unsur ‘kepentingan’ dalam mengonstruksi itu….. Kemudian si subjek memproduksi “pengetahuan kecilnya” dalam bentuk ‘wacana’ (diskursus). Maka, bagaimana pulalah nasib dari sang ‘realitas sosial’ ini…

Tak ada realitas! Yang disebut ‘realitas’ adalah bikinan…. suka-suka yang bikin… (lebih canggih dari ‘konstruksi’, bahkan di luar ruang lingkup ‘konstruksi’).  Realitas palsu.. It’s a power….!

 

Jika dilanjutkan…. wacana ini…. bagaimana diproduksi…. untuk apa…. oleh siapa……. Rekayasa realitas? Kuasa apa yang digunakan untuk memproduksi wacana ini? Mencipta dunia realitas eksternal dengan ‘mencipta dunia realitas internal’? Memainkan persepsi? Bagaimana bahasa digunakan untuk produksi wacana? Bagaimana menciptakan kekuasaan baru dari kuasa sebelumnya melalui bahasa?

Kita bisa mencipta dunia yang kita mau, “hanya” dengan mencipta (imaji) dunia realitas internal para subjek! How? Rekayasa realitas internal melalui spinning dan spiralling realitas eksternal yang sistematis! It’s an amazing mass-hypnotism, a mass-mind control, dengan daya ledak luar biasa.. Sebuah rekayasa imaji yang sungguh berbeda dari yang saya lakukan di MiracleWays™!  It’s an extreme power…. !

 

“Realitas dan imaji tak ada bedanya… Yang membedakan adalah kesadaran subjek!” (WK)

 

And………… Is it a human factor?

 

How do we arrange effective social change, social engineering by utilizing discourse?

 

 

Suwe-suwe mblakrak aku iki….. haha…. 😀

 _________________

[1] Terkait ‘kepentingan’ akan dibahas tersendiri, karena berhubungan dengan ‘kesengajaan’ atau ‘agenda setting’ dalam memaknai realitas sosial serta mewacanakannya (di luar perspektif ‘konstruksi sosial atas realitas’).

[2][2] Peter L. Berger, dan Thomas Luckmann (2013) Tasfir Sosial Atas Kenyataan. Terj. Diterjemahkan oleh Hasan Basari. Jakarta: LP3ES, halm. xv.

[3] Ibid., halm. xx.

[4] Engkus Kuswarno (2013) Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Widya Pajajaran, halm. 58.

____________

Kajian Perubahan Sosial Pada Era Teknologi Informasi

Bagaimana Meutilisasi Bahasa Menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT)?

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *