Islam Tengger

Posted on

26-200x135 Islam TenggerTengger, Bromo, lazimnya dikenal sebagai kawasan yang dihuni oleh masyarakat beragama Hindu (baca “Mengenal Masyarakat Tengger”). Memang mayoritas warga suku Tengger adalah penganut agama Hindu (menurut perspektif lokal, disebut “Shiwa-Buddha”, bukan Hindu). Tetapi terdapat satu desa Tengger yang mayoritas (hampir 100 persen) masyarakatnya menganut agama  Islam, yakni desa Wonokerto. Dan ada desa lain yang sebagian masyarakatnya beragama Islam dan Kristen.

Islam Tengger telah berhasil mengajari wong Islam Tengger, sebagai mayoritas tidak arogan, dan sebagai minoritas mereka tangguh.

Umat Islam Tengger ini memiliki profil yang unik. Sebagai warga yang mendiami lereng gunung Bromo mereka disebut “wong Tengger”, umat Islam yang mendiami desa Wonokerto ini diapit oleh desa-desa sekitar yang seluruhnya beragama Hindu yakni desa Jetak, Wonotoro, Ngadas dan Ngadisari.  Dalam entitas keberadaan suku Tengger yang Hindu, maka masyarakat muslim Wonokerto merupakan komunitas kecil minoritas. Praktik sosial warga Islam Tengger (Wonokerto) ini menarik. Sebagai masyarakat minoritas, warga muslim Wonokerto Tengger ini memiliki ketahanan religi yang kuat bahkan mereka tidak mau berpindah agama misalnya dengan mengikuti tradisi suku Tengger yang Hindu. Dalam hal keyakinan agama, muslim Tengger Wonokerto menunjukkan “ketaatannya” pada konstruks Islam yang dianutnya. Termasuk penolakan masyarakat muslim setempat terhadap ajaran Islam yang dirasa mengandung unsur fanatisme atau unsur radikalisme. Masyarakat setempat menyebutnya “Islam yang nganeh-nganehi[1]. Mereka juga menolak praktik ajaran Islam yang berbeda dari keyakinan mereka. Mereka tidak anti dakwah dari luar, namun mereka memiliki filter-budaya. Jika mereka merasa aneh dengan “ajaran baru”, mereka langsung menolak. Sekilas perilaku ini bisa ditafsir sebagai perilaku konservatif yang berdekatan dengan perilaku “fanatik” dan “militan” yang secara umum cenderung memelihara egositas kelompok dan intoleran. Namun pada saat yang sama mereka juga menunjukkan yang sangat toleran terhadap masyarakat lain yang non-muslim (Hindu yang mayoritas dan Kristen yang lebih minoritas); dan masyarakat Hindu Tengger juga menunjukkan perilaku yang sama-sama menghormati dan toleran. Perilaku toleran itu tampak dalam kehidupan keseharian dan yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan.

Mereka memiliki tafsir sosial atas aplikasi ajaran agama secara unik, dengan membiarkan rembesan budaya lokal yang sama-sama bermuatan kerukunan, ajaran kedamaian dan toleran. Mereka juga memiliki fleksibilitas sosial, sebagai mayoritas, mereka tidak arogan dan sebagai minoritas, mereka tangguh.

Inilah Islam Tengger. Dan, tafsir sosial yang seperti apa Islam Tengger? Memang, masih saya teliti. Namun, salah satu kearifan lokal dari budaya Tengger yang merembes ke wilayah tafsir sosial atas praktik ajaran agama (Islam) adalah praktik toleran, kerukunan sosial dan kedamaian. Ini sedang saya dalami.

Tradisi Toleran Yang Muncul Dari Budaya Lokal

Dengan penampilan yang tiada beda dengan umat Tengger Hindu, namun mereka cukup taat beragama dalam arti, tidak mau berpindah agama, misalnya menjadi Hindu, sebagai “ciri khas wong Tengger”. Warga muslim Wonokerto, pada penampilan keseharian, bahkan ke masjid pun, adalah penampilan “wong Tengger” pada umumnya. Tidak ada perbedaan. Semua orang Tengger mengenakan kain sarung yang “di-kemul-kan” (diselimutkan) hingga ke pundak dan menggelantung ke bawah dan penutup kepala dari kain atau topi. Pakaian khas Tengger ini dimaksudkan untuk melawan hawa dingin gunung Bromo. Walaupun mengenakan jaket, wong Tengger tetap berselimut sarung melapisi jaketnya. Inilah identitas ketenggeran yang melekat pada semua wong Tengger, baik penganut Hindu maupun Islam.

Masyarakat Islam Tengger Wonokerto walaupun bersosialisasi sesama muslim di desa Wonokerto (sebagai mayoritas) tidak pernah mengenakan busana model “busana muslim” dalam konstruksi masyarakat muslim pada umumnya yakni yang disebut “baju takwa” atau berkopyah baik warna hitam maupun putih, tetapi tetap berbusana tradisional Tengger, sehingga dari cara berpakaian tidak dapat dibedakan antara masyarakat Tengger Islam dan Tengger Hindu. Jika pergi ke masjid pun, orang Islam Tengger Wonokerto tetap mengenakan kain sarung yang dikaitkan dan diselimutkan ke pundak seperti pada umumnya orang Tengger. Namun sesampainya di masjid, sarung dikenakan dengan melilitkan ujungnya di pinggang, sama dengan gaya bersarung kaum santri di daerah lain. Hal ini, menurut penuturan Heri Dwi Hartono, kepala desa Wonokerto, beragama Islam, telah menjadi kebiasaan masyarakat muslim Tengger di desa Wonokerto sejak dirinya masih kecil[2]. Pernyataan kepala desa Wonokerto ini dibenarkan oleh Sugeng, Kaur Umum Desa Wonokerto, beragama Islam. Menurut Sugeng[3], warga muslim Wonokerto tetap merasa sebagai orang Tengger, namun tidak beragama Hindu, dan telah terjadi sejak jaman kakeknya masih anak-anak warga desa Wonokerto sudah Islam. Mereka tidak pernah mempersoalkan agama nenek moyangnya yang berbeda dari suku Tengger secara mainstream. Bagi masyarakat Islam Wonokerto, yang terpenting adalah kerukunan hidup. Kerukunan sosial juga tercermin dalam peringatan hari besar agama. Ketika Idul Fitri (Islam), umat Hindu bertandang ke rumah-rumah orang Islam, dan sebaliknya, ketika upacara Karo (Hindu), umat Islam piun bertandang ke rumah-rumah orang Hindu. Mereka melakukan hal yang sama yakni “bersilaturahmi” (warga lokal menyebutnya demikian) dan saling mencicipi hidangan hari raya.

WP_20150827_024-200x135 Islam TenggerBahkan, kerukunan antar umat beragama di desa ini tercermin dalam pemakaman jenazah di pekuburan umum yang dinamai “Rumah Masa Depan” dengan tulisan besar di gerbang masuk pekuburan inklusif ini. Tidak ada eksklusifitas dalam pemakaman orang mati. Kira-kira begitu falsafah kuburan ini. Dalam areal pekuburan umum ini tampak kuburan jenazah orang Islam dan orang Hindu diletakkan berdampingan, berselang-seling dan kelihatannya diletakkan berdasarkan urutan orang yang meninggal dunia, bukan berdasarkan agama orang yang meninggal. Tidak ada klaster kavling terpisah antara kuburan orang Islam dan orang Hindu.

WP_20150827_028-200x135 Islam TenggerSatu-satunya tanda yang membedakan hanyalah bentuk dan ukuran nisan kuburan. Kuburan orang Islam dibuat sepanjang ukuran tubuh orang yang meninggal dunia, sedangkan kuburan orang Hindu berukuran kurang lebih antara 40-an centimeter hingga satu meter persegi, karena yang dikuburkan adalah abu jenazah setelah dikremasi. Masyarakat tidak membeda-bedakan dirinya atas dasar agama, tetapi kesamaan ke-Tengger-an mereka. Mereka, baik yang beragama Islam maupun Hindu, tetap merasa sebagai orang Tengger. Hal ini sejalan dengan penuturan kepala dukun Tengger[4], Sutomo, yang bertempat tinggal di desa Ngadisari, bahwa semua penduduk yang tinggal di lereng gunung Bromo adalah suku Tengger[5].

Identitas kultural tampak lebih menonjol dalam kehidupan sosial masyarakat muslim Tengger di desa Wonokerto. Kuatnya identitas kultural tersebut diperkuat dengan masih mentradisinya budaya lokal dalam realitas kehidupan sehari-hari. Benang merah antara budaya lokal yang mentradisi secara kental hingga terinstitusi pada tatacara perilaku sosial dalam menafsir perilaku keberagamaan yang toleran. Inilah kemenarikan Islam Tengger.

Mengapa masyarakat Tengger-Islam ini bisa mentransformasikan nilai-nilai budaya lokal Tengger dalam tatacara dan perilaku toleran dalam menafsir ajaran agama Islam sekaligus mengaplikasikannya dalam praktik sosial? Menarik sekali, praktik sosial umat Islam Tengger ini, yang bersumber dari local wisdom nilai-nilai budaya lokal masyarakat Tengger. Local wisdom yang kompatibel, bahkan merupakan modal sosial masyarakat bagi akseptabilitas terhadap ajaran Islam yang bermuatan “ajaran kebajikan universal (rahmatan lil alamiin)”.

[Local Knowledge Tengger dan Modal Sosial Demokrasi]

Kiranya, baik untuk belajar dari kearifan lokal wong Tengger, untuk menafsir secara sosial atas aplikasi ajaran agama yang bermuatan “ajaran kebajikan universal (rahmatan lil alamiin)” itu benar-benar menjadi rahmatan lil alamin betulan. Saya rasa, para penggagas dan penyepakat gagasan Islam Nusantara baik untuk menyanding-bandingkan gagasannya dengan praktik sosial “wong Islam Tengger” ini. Modal sosial untuk (ber)demokrasi.***

_____________________

[1] Wawancara dengan Heri Dwi Hartono, kepala desa Wonokerto, di rumah ybs., wawancara tanggal 25 Agustus 2015, pukul 16.30 – 18.00 WIB.

[2] Wawancara dengan Heri Dwi Hartono, kepala desa Wonokerto, di rumah ybs., wawancara tanggal 25 Agustus 2015, pukul 16.30 – 18.00 WIB.

[3] Wawancara dengan Sugeng, di kantor desa Wonokerto, tanggal 27 Agustus 2015 pukul 13.00 – 14.00 WIB.

[4] Suku Tengger mengenal hirarki kepemimpinan spiritual yang disebut “dukun”, yang terdiri dari “Kepala Dukun” (menguasai empat wilayah Tengger di seputar lereng gunung Bromo yakni wilayah Probolinggo, Lumajang, Malang dan Pasuruan), “Dukun Perwakilan” (menguasai masing-masing wilayah Probolinggo, Lumajang, Malang dan Pasuruan), “Dukun Perwakilan” ini mengoordinasi “Dukun Desa” (dukun yang bertugas di masing-masing desa di tiap-tiap wilayah).

[5] Wawancara dengan Sutomo, di rumah ybs., wawancara tanggal 27 Agustus 2015 pukul 15.00 – 16.30 WIB.

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *