Internet dan Masyarakat: Teori Sosial Pada Era Informasi

Posted on

internet-and-society-fuchs-200x135 Internet dan Masyarakat: Teori Sosial Pada Era InformasiAspek sosial pemanfaatan internet dan teknologi informasi dalam perubahan sosial di masyarakat. Bagaimana teknologi mempengaruhi nilai dan praktik sosial. Kajian ini disebut ‘informatika sosial’, yang mana dari pemikiran ini akan membuka jalan bagi pemikiran tentang organisasi sosial dan politik dalam era informasi.

Menghindari pandangan determinis teknologi, Christian Fuchs dalam bukunya “Internet and Society: Social Theory in the Information Age” (2008) menyebutnya sebagai Information and Communication Technologies & Society (ICT&S) yang mengacu pada relasi antara IT dan masyarakat. Kolaborasi ilmu sosial dan teknologi (sains eksak) yang secara fakta sosial tidak menafikan keterhubungan antara keduanya, merupakan kajian menarik. Titik tolak pemikiran informatika sosial akan membuka jalan bagi pemikiran tentang organisasi sosial dalam era informasi (juga dibahas Fuchs), juga organisasi politik. Berikutnya, akankah kajian ini juga merambah kekhawatiran teori kritis akan fenomena dunia modern sebagaimana disindir oleh Lukacz dan Marcuse? Bahwa manusia terkuasai oleh teknologi buatannya sendiri? Dan bagaimanakah peradaban manusia pada abad teknologi informasi ini kelak? Yes.. silakan ikuti pemikiran Fuch ini… Pada artikel berikutnya, kita lanjutkan bahasan masyarakat dan IT dan dunia cyber ini.. Makin seru… Nanti, pada bahasan berikutnya lagi, akan kita kaitkan dengan modal sosial dalam dunia online…

Okay… ini dulu…

 

Internet dan Masyarakat:
Teori Sosial Pada Era Informasi

Author: Christian Fuchs | Publisher: Routledge, New York | Year: 2008

Internet telah merambah hampir semua sektor kehidupan masyarakat. Kita menggunakan internet untuk mencari dan menyebar informasi; menyampaikan gambar, foto, pikiran  atau perasaan tertentu dengan berkomunikasi lewat e-mail, messenger, media sosial (misal facebook, twitter, instagram, dan sebagainya), telepon internet, milis, video conference, dan sebagainya); mendengar musik dan radio, menonton video; membeli atau menjual produk / jasa, menulis di blog kita sendiri / orang lain; bermain game, mengunduh software, dan sebagainya.

Kajian seperti ini secara luas biasanya disebut Informatika Sosial (social informatics), dan umumnya didefinisikan sebagai studi yang mempelajari aspek-aspek sosial dari pemanfaatan ICT dalam perubahan sosial, termasuk bagaimana pemanfaatan teknologi ini dipengaruhi dan mempengaruhi nilai serta praktik sosial budaya dalam masyarakat.[1] Di dalamnya terdapat cabang-cabang kajian khusus seperti dampak sosial penerapan komputer (social impacts of computing), analisis sosial komputerisasi (social analysis of computing), kebijakan informasi, komunikasi berperantaraan komputer (computer-mediated communication), dan sebagainya.

Christian Fuchs, penulis buku ini berpendapat, informatika sosial sebenarnya juga bersifat kritis. Tidak dalam arti emansipasi sebagaimana dikemukakan para pengusung Teori Kritis, tapi lebih dalam arti sebuah orientasi pengetahuan tentang desain ICT yang menantang untuk digunakan, dikembangkan dan disebarkan. Kritis baginya ialah kritis terhadap determinisme teknologi. Informatika Sosial dilandasi cara pandang (paradigma) bahwa ada hubungan saling mempengaruhi antara teknologi informasi dan masyarakat penggunanya.

Namun, karena di kalangan ilmuwan sosial istilah ini sering terkesan determinisme teknologi, sehingga Fuchs lebih suka memakai istilah penelitian Information and Communication Technologies & Society (ICT&S). Pemakaian istilah ini barangkali juga juga disebabkan karena Fuchs sendiri sejak 2004 kebetulan bekerja di sebuah lembaga bernama Center for Advanced Studies and Research in Information and Communication Technologies & Society (ICT&S Center) di Universitas Salzburg, Austria.

Sesuai namanya, lembaga yang didirikan Ursula Maier Rabler (dibantu Wolfgang Hofkirchner) ini mengkaji interaksi ICT dan masyarakat, terutama dalam 2 aspek yang saling berhubungan, yaitu:

  1. Pembentukan sosial / desain sosial ICT.Bagaimana manusia / masyarakat mendesain / membentuk ICT, serta
  1. Dampak penggunaan ICT di masyarakat. Bagaimana penggunaan ICT mengubah masyarakat.

Namun apa pun istilah yang dipakai, tidak mengubah fakta bahwa interaksi ICT dan masyarakat berlangsung dinamis secara inheren. Keduanya saling terhubung dan memiliki efek konstruktif satu sama lain.

Pandangan yang menganggap hubungan ICT dan masyarakat sebagai proses yang dinamis demikian ini, memungkinkan untuk terlepas dari pandangan determinisme teknologi yang melihat hanya teknologi yang membentuk masyarakat di satu pihak, maupun dari pandangan konstruksi sosial yang melihat hanya masyarakat yang membentuk teknologi di lain pihak. Pandangan yang digunakan dalam pendekatan ini didasarkan pada gagasan bahwa masyarakat dan ICT itu pada dasarnya saling membentuk.

Yang menarik dari buku setebal 294 halaman ini ialah digunakannya konsep utama pendekatan teori sistem modern, yaitu konsep Self Organization yang sebenarnya berasal dan dipinjam dari ilmu alam (fisika dan biologi) untuk mengkaji kerangka teori sosial yang mampu memahami relasi masyarakat dan ICT. Fuchs meramu konsep ini dengan adaptasi tertentu penerapannya dalam ilmu sosial, dengan pendekatan teori kritis yang berpijak pada tradisi Marxian. Ia yakin dengan penggabungan yang tepat dari kedua garis pemikiran ini akan bisa didapat kerangka teori sosial yang mampu memahami kapitalisme di era internet.

Self Organization

Self organiztion merupakan salah satu konsep utama dalam pendekatan teori sistem modern yang dikemukakan Niklas Luhman, sosiolog Jerman yang banyak mendasarkan kerangka berpikir tentang masyarakat pada teori fisika modern, teori informasi, teori sistem klasik, neurofisiologi, dan biologi. Luhmann berusaha menggunakan teori-teori dalam gugus biology of cognition dan teori sibernetik untuk menembus kebuntuan analisis teori-teori postmodernisme tentang masyarakat. Sintesis antara teori sosial dengan refleksi fisika modern di tangan Luhmann menghasilkan formula baru pendekatan teori masyarakat yang menyegarkan Teori Sistem Parsonian.

Dalam pandangan Luhmann, segala sesuatu itu sebenarnya bisa dilihat sebagai sistem. Setiap sistem pasti memiliki lingkungannya sendiri, dan itu harus jelas batasnya, sehingga jelas pula perbedaannya. Sistem ialah hasil proses self-making atau self-organising, yang dalam istilah mikrobiologi disebut autopoiesis (bahasa Yunani, auto = sendiri, poiesis = mencipta), yaitu proses penciptaan diri sendiri dengan memanfaatkan materi-materi yang ada di dalam diri sendiri maupun lingkungannya. Sedang lingkungan ialah segala sesuatu yang tidak termasuk di dalam sistem, yang bercirikan kompleksitas atau chaos.

Sistem itu bersifat tertutup, karena ia berbeda dari lingkungannya. Tapi ia juga sekaligus bersifat terbuka, karena bisa memanfaatkan materi-materi yang ada di lingkungan untuk kepentingan autopoiesis-nya. Jadi, sistem sebenarnya ialah hasil dari reduksi kompleksitas, atau hasil dari seleksinya terhadap materi-materi apa yang mau dimanfaatkan untuk kepentingan pembentukan atau kelangsungan dirinya.

Kompleksitas ialah akumulasi dari seluruh kemungkinan peristiwa atau keadaan. Sesuatu akan lebih kompleks jika ia memiliki lebih dari satu kemungkinan. Jika sesuatu hanya memiliki satu kemungkinan dalam hubungannya dengan sesuatu yang lain, atau hanya memiliki satu elemen yang menjadi bagiannya, maka ia tidak kompleks. Bertambahnya jumlah elemen yang menjadi bagiannya akan menyebabkan bertambahnya kemungkinan hubungan yang terjadi. Karena itu, kompleksitas meningkat sejalan bertambahnya kemungkinan (kontigensi).

Peristiwa membentuknya sistem dikenal dengan istilah emergence. Kondisi antara sistem dengan lingkungan bisa digambarkan sebagai dua tingkatan kompleksitas yang berbeda. Tapi lingkungan akan selalu lebih kompleks dari sistem sebab lingkungan mengandung seluruh kemungkinan peristiwa, hubungan, dan proses yang dapat terjadi di luar keteraturan peristiwa, hubungan, dan proses di dalam sistem.

Jadi dalam proses pembentukannya, sistem secara bersamaan membangun dirinya sendiri dan lingkungannya. Sistem terbentuk dengan penyederhanaan berdasarkan kriteria sistem tersebut, mengeluarkan apa yang dianggapnya tidak bisa ia terima ke dalam lingkungan. Kemampuan sistem mereduksi kompleksitas bisa dianggap sebagai mekanisme perlindungan diri (self-defensed mechanism) sehingga memungkinkan sistem bisa mengatur dimensi internalnya sendiri. Dengan reduksi maka kompleksitas yang tak tertata bisa diubah menjadi kompleksitas yang tertata (organized complexity).

Reduksi kompleksitas mengandaikan adanya kontingensi (risiko / risk). Pilihan yang tidak tepat atas berbagai kemungkinan akan membuat sistem hancur. Tantangan terberat ialah sulitnya memberikan definisi-definisi yang koheren terhadap kompleksitas tersebut, sebab kompleksitas tidak pernah benar-benar bisa diamati dan dipilah-pilah. Oleh karena itu, proses reduksi harus dilakukan dengan perhitungan-perhitungan yang bersifat strategis.

Sebuah sistem tidak akan sesederhana lingkungannya. Sebuah sistem yang mencoba agar sekompleks lingkungannya akan mengingatkan kita pada kisah Borges (1964) tentang raja yang memerintahkan seorang kartografer membuat peta yang akurat untuk negaranya.[2] Saat kartografer itu selesai membuatnya, peta itu ternyata besar sekali, hampir sebesar negeri itu, sehingga malah tidak

Peta, seperti sistem, harus mereduksi kompleksitas. Kartografer harus memilih ciri-ciri yang penting. Peta yang berbeda atas area yang sama dapat dibuat karena pemilihan kontingensinya. Ini selalu diperlukan, tapi ini juga berisiko karena pembuat peta tidak pernah dapat merasa pasti bahwa yang tidak masuk bukanlah penting untuk penggunanya. Jadi, secara paradoks bisa dikatakan, “hanya kompleksitaslah yang dapat mereduksi kompleksitas”.[

Kontribusi terpenting Luhmann ialah pemahamannya tentang sistem sebagai autopoietic. Konsep autopoietic merujuk pada diversitas atau keragaman sistem-sistem dari sel biologis sampai ke seluruh masyarakat dunia. Ia menggunakan istilah ini untuk menunjuk pada sistem-sistem seperti, antara lain ekonomi, hukum, politik, saintifik, dan birokrasi. Sistem autopoietic memiliki empat karakteristik berikut:

1)   Sistem autopoietic menghasilkan elemen-elemen dasar yang menyusun sistem itu sendiri. Uang adalah elemen dasar sistem ekonomi modern. Nilai benda-benda dalam sistem ekonomi dapat dipandang dari segi uang. Namun makna uang, apa nilainya, dan untuk apa kegunaannya akan ditentukan oleh sistem ekonomi itu sendiri. Uang tidak eksis sebelum sistem ekonomi ada. Bentuk uang modern dan sistem ekonomi muncul bersama-sama. Mereka saling tergantung satu sama lain. Sistem ekonomi modern tanpa uang sulit dibayangkan. Uang tanpa sistem ekonomi modern akan menjadi secarik kertas atau sekeping logam.

2)   Sistem-sistem autopoietic mengorganisasikan diri (self-organizing) dalam dua cara, mereka mengorganisasir batas-batasnya sendiri, serta mengorganisasir struktur intemalnya. Sistem mengorganisasir batas-batasnya sendiri dengan membedakan antara apa yang ada dalam sistem dengan apa yang didalam lingkungannya. Misal, sistem ekonomi menghargai sesuatu yang langka dan untuk itu harganya dapat ditetapkan sebagai bagian dari sistem ekonomi. Udara ada di mana-mana dan melimpah persediaannya; karena itu udara tidak ditetapkan harganya dan bukan bagian dari sistem ekonomi, melainkan lingkungan. Contoh lain, misalnya terkait tentang prostitusi dan perdagangan obat terlarang. Jika sistem politik mengesahkan undang-undang yang ditujukan untuk mencegah prostitusi dan obat terlarang, maka undang-undang itu justru memengaruhi harga prostitusi dan obat terlarang di dalam sistem ekonomi. Ketidakabsahannya (ilegality) membuat harganya lebih tinggi, dan karena itu mengurangi daya beli untuknya. Tapi, di dalam sistem ekonomi harga tinggi yang mengurangi pembelian juga mendorong penjualan. Jika banyak uang dapat dihasilkan dari penjualan prostitusi dan obat terlarang, mereka akan tetap berada di dalam sistem ekonomi. Oleh karena itu, undang-undang yang mencoba menjaga komoditas di luar sistem ekonomi akan mempengaruhi cara komoditas itu dihargai di dalam sistem ekonomi. Di dalam batas-batas ini, sebuah sistem autopoietic menghasilkan strukturnya sendiri.

3)   Sistem autopoietic adalah self-referential. Misal, harga di pasar saham seringkali ditentukan bukan oleh individu, tapi oleh ekonomi itu sendiri. Begitu pun, sistem hukum punya undang-undang yang mengacu pada sistem legal.

Sebuah sistem autopoietic adalah sistem tertutup. Ini berarti bahwa tidak ada kaitan langsung antara sistem dengan lingkungannya. Sebaliknya sistem berhubungan dengan representasi dari lingkungannya. Misalnya, sistem ekonomi dianggap merespon kebutuhan material dan keinginan orang-orang; akan tetapi, kebutuhan dan keinginan itu mempengaruhi sistem ekonomi hanya sejauh mereka dapat dipresentasikan dalam term uang. Konsekuensinya, sistem ekonomi merespon dengan baik pada kebutuhan dan keinginan material orang kaya, tetapi merespon secara buruk kepada kebutuhan dan keinginan orang miskin.

Masyarakat dan Sistem-sistem Psikis

Masyarakat ialah sistem antopoietic karena memenuhi empat karakteristik di atas, yaitu menghasilkan elemen-elemen dasar sendiri, membangun struktur dan batas-batas sendiri, self-referential, dan tertutup. Elemen dasar masyarakat ialah komunikasi, dan komunikasi dihasilkan masyarakat.

Partisipan dalam masyarakat mengacu kepada masyarakat melalui komunikasi. Individu relevan dengan masyarakat hanya sejauh ia berpartisipasi dalam komunikasi atau diinterpretasi sebagai pihak yang berpartisipasi dalam komunikasi.

Yang dimaksud sistem psikis ialah kesadaran individu. Sistem psikis dan masyarakat, mempunyai properti sama. Keduanya bersandar pada makna (meaning). Makna terkait erat dengan pilihan yang dibuat sistem. Ia hanya muncul terhadap latar belakang dari kontingensi (contingency). Jika tidak ada kemungkinan, maka tidak akan ada makna. Tindakan hanya bermakna sejauh pemilihannya dibuat dari rangkaian kemungkinan tindakan. Misalnya, pakaian kita berarti sesuatu hanya karena kita dapat memilih untuk sesuatu yang lain.

Baik sistem psikis maupun sistem sosial yang mengandalkan pada makna bersifat tertutup, karena (1) makna selalu mengacu pada makna lain, (2) hanya makna yang bisa mengubah makna, (3) makna biasanya menghasilkan lebih banyak makna. Makna membentuk batas-batas untuk masing-masing sistem. Misal dalam sistem psikis, apa-apa yang tidak bermakna berada di luar sistem, sebagai “penyebab” tindakan kita, sedang apa-apa yang bermakna berada di dalam sistem, sebagai “motivasi” untuk tindakan kita.

Sistem psikis dan sistem sosial berevolusi bersama. Masing-masing ialah lingkungan yang diperlukan untuk masing-masing sistem. Elemen-elemen dari sistem makna psikis ialah representasi konseptual, elemen-elemen dari sistem sosial ialah komunikasi. Akan keliru jika menganggap makna di dalam sistem psikis mempunyai prioritas di atas makna di dalam sistem sosial, sebab keduanya ialah sistem autopoietic, yang memproduksi makna masing-masing dari prosesnya sendiri-sendiri.

Dalam sistem psikis, makna dikaitkan dengan kesadaran, sedang dalam sistem sosial dikaitkan dengan komunikasi. Makna dalam sistem sosial tak bisa dianggap berasal dari niat individu. Misal, sapaan “Halo” “Ada apa?” “Bagaimana kabarmu?” “Selamat siang”, dan “Hei!” mungkin berasal dari niat yang sama yaitu memberi salam.

Tapi, jika seseorang mengatakan “Selamat siang” ketika dia bisa menggunakan “Hei!”, maka beberapa makna akan dikomunikasikan. Makna tak selalu diniatkan, atau dikaitkan dengan kata-kata tertentu. Makna berasal dari pemilihan kata-kata khusus dalam perbandingan terhadap kata-kata yang dapat dipilih. Makna berasal dari kontingensi dari kata-kata yang dipilih.

Kontingensi Ganda (Double Contingency)

Luhmann menjelaskan bahwa tiap sistem menjadikan sistem yang lain sebagai lingkungannya, namun pada saat yang sama sistem itu menyadari dirinya juga merupakan lingkungan bagi yang lain. Tiap perkembangan sistem, betapa pun autopoiesisnya, tak pernah lepas dari lingkungannya, yaitu sistem-sistem lain. Karena itu, tiap determinasi terhadap “diri” juga berarti determinasi terhadap “yang lain”.[4]

Dalam konteks inilah tercipta sistem simbolik yang dimiliki dan dibagi bersama, bersifat normatif dan memungkinkan para pihak berkomunikasi dan membentuk tatatan yang kemudian disebut sebagai masyarakat. Sistem simbolik ini diyakini sebagai penyangga sistem kemasyarakatan, sebagai penjamin bahwa partikularitas dan sifat autopoesis sistem-sistem tidak berakhir dengan chaos, tapi dengan kondisi keseimbangan, equilibrium, antar sub-sistem masyarakat. Kebebasan untuk memilih yang berhadapan dengan kebebasan memilih yang lain takkan saling mengalahkan, tapi justru akan mencapai titik keseimbangan.

Inilah yang disebut sebagai kontingensi ganda dalam teori sistem. Parsons juga membahas problem kontingensi ganda ini, tapi dia membatasi solusinya pada konsensus nilai yang sudah ada sebelumnya.Kontingensi ganda mengacu pada fakta bahwa tiap komunikasi harus mempertimbangkan cara komunikasi itu diterima. Tapi kita juga tahu bahwa cara ia diterima akan tergantung kepada estimasinya kepada komunikator. Ini membentuk lingkaran yang mustahil: penerima tergantung pada komunikator, dan komunikator tergantung pada penerima. Misal, seorang profesor memilih memberi salam pada mahasiswanya dengan memakai bentuk informal “Hai!” jika ia menganggap itu akan terdengar lebih bersahabat (komunikator mempertimbangkan si penerima). Tapi, jika mahasiswa yang disalami itu mengira profesor itu sombong maka ia takkan menganggap ucapan itu bersahabat (penerima mempertimbangkan komunikator). Makin sedikit yang kita ketahui tentang ekspektasi orang lain, makin besar problem kontingensi gandanya.

Struktur sosial berkembang untuk menjadikan komunikasi yang mustahil (improbable) menjadi lebih mungkin (probable). Misalnya, mengatakan “selamat siang” kepada orang tertentu pada waktu tertentu adalah tidak mungkin, tetapi struktur sosial membuat salam menjadi normatif pada lingkungan tertentu, memberi kita sejumlah cara terbatas yang dapat diterima untuk memberi salam kepada orang-orang, dan memastikan bahwa pihak yang disapa akan memahami ucapan salam dengan cara yang hampir sama dengan yang dimaksudkan oleh si pemberi salam.

Masyarakat adalah lebih dari sekadar kumpulan interaksi independen. Dari sudut pandang masyarakat, interaksi ialah episode-episode dalam proses sosial yang terus berjalan. Sistem sosial akan berhenti eksis jika tidak ada jaminan komunikasi lebih lanjut, yaitu tak ada kemungkinan menghubungkan komunikasi sebelumnya dengan komunikasi masa depan.

Untuk menghindari keterputusan komunikasi, struktur harus dikembangkan agar mengijinkan komunikasi terdahulu berhubungan dengan komunikasi yang kemudian. Seleksi yang dilakukan dalam satu komunikasi dibatasi oleh seleksi yang dilakukan dalam komunikasi sebelumnya, dan komunikasi sekarang juga membatasi komunikasi masa depan. Ini adalah cara lain di mana ketidakmungkinan proses komunikasi diatasi dan diubah menjadi kemungkinan oleh sistem sosial. Kebutuhan untuk mengatasi kontingensi ganda dan memungkinkan komunikasi yang tak mungkin inilah yang mengatur evolusi dari sistem sosial.

Evolusi Sistem Sosial

Evolusi secara sederhana ialah sebuah proses trial-and-error. Evolusi bukan teleologis. Hasilnya tidak diatur oleh tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Salah satu implikasinya ialah bahwa ide kemajuan menjadi tidak ada artinya. Ini membedakannya dari ide evolusioner universal masyarakat modern dari Parsons yang mengasumsikan satu jalan pasti dari perkembangan kemasyarakatan (teleologis) dan mengabaikan fakta bahwa ada variasi jalan untuk menghadapi masalah tertentu.

Pada tingkat umum, evolusi membuat kemustahilan menjadi lebih mungkin. Evolusi bukan sebuah proses, tetapi seperangkat proses yang dapat dideskripsikan sebagai pelaksanaan tiga fungsi: varian, seleksi, dan stabilisasi karakteristik yang dapat direproduksi. Fungsi-fungsi ini merepresentasikan mekanisme konkret yang dengannya evolusi itu beroperasi. Variasi adalah proses trial-and-error. Jika sebuah sistem menghadapi problem yang unik, suatu variasi solusi mungkin akan berkembang untuk menangani gangguan lingkungan. Beberapa dari solusi ini akan berhasil, dan yang lainnya mungkin tidak. Seleksi atas solusi tertentu bukan berarti bahwa yang dipilih adalah solusi yang “terbaik”. Ini mungkin berarti bahwa solusi tertentu adalah yang paling mudah untuk menstabilkan, atau dengan kata lain, solusi yang paling mudah untuk mereproduksi struktur yang stabil dan tahan lama. Dalam sistem sosial, stabilisasi ini biasanya menyangkut jenis diferensiasi yang memerlukan penyesuaian dari semua bagian sistem kepada solusi baru. Proses evolusioner akan mencapai akhir temporer hanya ketika stabilisasi telah selesai.

Diferensiasi

Ciri utama masyarakat modern ialah meningkatnya proses diferensiasi sistem sebagai cara menghadapi kompleksitas lingkungannya. Diferensiasi ialah “replikasi, di dalam sistem, dari perbedaan antara sebuah sistem dan lingkungannya”. Ini berarti, dalam sistem diferensial ada dua jenis lingkungan yang lazim untuk semua subsistem dan sebuah lingkungan internal yang berbeda untuk masing-masing subsistem. Diferensiasi di dalam sistem ialah cara penanganan perubahan dalam lingkungan. Masing-masing sistem harus menjaga batas-batas dalam hubungannya dengan lingkungan. Jika tidak ia akan dikuasai oleh kompleksitas lingkungannya, ambruk dan berhenti eksis. Untuk bertahan hidup, sistem harus mampu menghadapi variasi lingkungannya.

Tiap organisasi harus menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungannya (misalnya, tuntutan publik, perubahan politik, atau termasuk perkembangan teknologi seperti ICT). Mereka berkembang; berevolusi dengan menciptakan diferensiasi di dalam sistem. Perubahan lingkungan mungkin “diterjemahkan” dengan merubah struktur organisasi. Misal dengan membentuk departemen baru yang menangani situasi baru, merekrut karyawan dengan kualifikasi tertentu, mengadakan pelatihan bagi mereka, mengangkat manajer, dan seterusnya. Proses diferensiasi ini berarti meningkatkan kompleksitas sistem, karena subsistem dapat membuat hubungan yang berbeda-beda dengan sistem lainnya. Ia menghasilkan lebih banyak variasi di dalam sistem untuk merespon variasi di lingkungan. Dalam contoh di atas, departemen baru itu adalah, seperti departemen sistem birokrasi lain, sebuah lingkungan untuk departemen lainnya, tapi ia meningkatkan kompleksitas organisasional karena relasi tambahan baru antardepartemen menjadi mungkin.

Departemen yang baru yang diciptakan untuk menyervis komputer pekerja akan lebih mampu beradaptasi dengan perubahan dalam teknologi komputer dan membantu seluruh organisasi untuk berintegrasi dengan kapabilitas baru ini. Selain itu, ia mungkin menyediakan koneksi baru antardepartemen yang ada, seperti mengizinkan akunting umum disentralisasikan atau tenaga penjualan dapat mengakses inventori secara langsung. Lebih banyak variasi yang dihasilkan oleh diferensiasi bukan hanya akan menghasilkan respon yang lebih baik terhadap lingkungan, tapi ia juga mempercepat evolusi. Ingat bahwa evolusi adalah proses seleksi dari variasi. Semakin kompleks bentuk diferensiasi akan berpotensi mempercepat evolusi sistem.

Kode

Kode (code) ialah cara untuk membedakan elemen-elemen sistem dari elemen-elemen yang tidak termasuk sistem. Sebuah kode adalah “bahasa” dasar dari sistem fungsional. Kode-kode itu misalnya, kebenaran (versus ketidakbenaran) untuk sistem sains, pembayaran (versus nonpembayaran) untuk sistem ekonomi, dan legal (versus ilegal) untuk sistem hukum. Setiap komunikasi yang menggunakan kode tertentu adalah bagian dari sistem yang referensi kodenya dipakai. Kode dipakai untuk membatasi jenis komunikasi yang diperbolehkan. Setiap komunikasi yang tidak menggunakan kode itu bukan komunikasi yang masuk pada sistem terkait. Dalam teori sistem Luhmann, tidak ada sistem yang menggunakan dan memahami kode sistem lainnya. Tidak ada cara untuk menerjemahkan kode satu sistem ke dalam kode sistem lainnya.

Karena sistem-sistem itu tertutup, mereka dapat bereaksi hanya kepada hal-hal yang terjadi dalam lingkungan mereka (jika yang terjadi itu menimbulkan cukup banyak “kebisingan” hingga diperhatikan oleh sistem). Namun sistem itu harus mendeskripsikan kebisingan atau gangguan dalam lingkungan yang berhubungan dengan kodenya sendiri. Inilah satu-satunya cara untuk memahami apa yang terjadi. Satu-satunya cara untuk memberi makna kepadanya. Misal, sistem ekonomi akan “melihat” sistem ilmiah hanya dari segi apa yang bisa menghasilkan uang (memungkinkan pembayaran di masa depan) atau memerlukan investasi (sebelum mendapat pembayaran kembali).

Problem Diferensiasi Fungsional

Diferensiasi fungsional menyebabkan setidaknya satu problem sentral untuk masyarakat modern. Apa yang diperlukan masyarakat secara keseluruhan mungkin tidak ditangani oleh sistem fungsional apa pun. Sistem fungsional mungkin tidak mempunyai kode yang dapat merepresentasikan problem secara memadai. Misalnya, sistem ekonomi tidak dapat merepresentasikan problem ekologis secara memadai, karena sebagian besar polusi secara ekonomis adalah rasional. Sistem legal mungkin mempunyai UU yang ditujukan untuk membatasi polusi udara, tapi UU tersebut diinterpretasikan beda dalam sistem ekonomi. Ini ditunjukkan misal dalam kasus yang terjadi di bekas Cekoslowakia, di mana di sana ada pembatasan pencemaran udara secara legal.

Industri-industri bereaksi terhadap aturan ini dengan membangun cerobong asap lebih tinggi lagi, mengakibatkan penyebaran polusi lebih meluas dan karena itu menurunkan tingkat polusi udara di dekatnya. Reaksi ini bertentangan dengan maksud dari undang-undang tersebut, tapi ini adalah reaksi yang sesuai dengan kode sistem ekonomi; ini adalah cara untuk meminimalkan biaya. Proteksi yang lebih baik terhadap polusi udara akan membutuhkan lebih banyak biaya ketimbang membangun cerobong yang lebih tinggi.

Problem-problem seperti itu umumnya diakibatkan oleh diferensiasi fungsional. Diferensiasi fungsional memerlukan pembuangan problem dari level masyarakat ke level subsistem. Setiap subsistem mendapatkan independensi dan fleksibilitas dalam membuat keputusan dengan kodenya masing-masing. Akan tetapi, masing-masing tergantung kepada subsistem lainnya untuk menggerakkan sosial secara keseluruhan. Ringkasnya, akibat dari independensi sistem fungsional yang lebih besar adalah sistem sosial secara keseluruhan menjadi semakin rentan.

Tiap problem dalam lingkungan adalah problem untuk sistem hanya jika ia dapat direpresentasikan dalam kode sistem tersebut. Misalnya, hukum dapat bergerak melawan pihak pencemar hanya jika apa yang mereka lakukan direpresentasikan sebagai tindakan melanggar hukum (ilegal). Jadi, adalah mungkin bahwa problem ekologi tidak akan ditangani secara memadai. Yang lebih penting adalah kesimpulan umum: diferensiasi fungsional dapat dibayangkan sebagai faktor penyebab dari krisis ekologis.

Sistem fungsional menghasilkan terlalu banyak dan terlalu sedikit resonansi (resonance) terhadap problem dalam lingkungan mereka. Terlalu sedikit resonansi berarti bahwa sebuah sistem tidak bereaksi dengan baik terhadap problem yang tidak dapat direpresentasikan oleh kode-kodenya. Misal, kelompok lingkungan mungkin melawan industri mobil dengan tuntutan agar produksi mobil tidak menimbulkan banyak polusi; tapi industri mobil tidak mungkin bereaksi terhadap tuntutan itu kecuali protes-protes itu mulai memengaruhi profitnya.

Terlalu banyak resonansi berarti penanganan problem ekologi di dalam sistem fungsional mungkin menghasilkan reaksi dalam sistem fungsional lain karena sistem-sistem itu saling tergantung. Misal, industri mobil mungkin memproduksi mobil tanpa banyak menimbulkan polusi dengan cara membuat mobil yang lebih kecil, ringan dan konsekuensinya, lebih murah. Ini berimplikasi pengembangan sistem transportasi umum akan melambat sebab tiap orang bisa membeli mobil, di samping kemungkinan meningkatnya jumlah kecelakaan lalu lintas dan meningkatnya biaya perawatannya Reaksi atas tuntutan kelompok lingkungan menimbulkan konsekuensi yang tak terduga di dalam sistem fungsional yang saling tergantung dan kompleks.

Masyarakat & Sosiologi Pengetahuan Luhmann

Apakah masyarakat itu? Sosiologi, sebagai ilmu tentang masyarakat, hanya mungkin terwujud jika ada konsep tentang masyarakat yang didefinisikan dengan jelas. Teori sistem Luhmann mendefinisikan masyarakat sebagai “semua yang mencakup sistem sosial termasuk semua sistem kemasyarakatan lainnya”. Ini mengimplikasikan konsep masyarakat identik dengan konsep masyarakat dunia; hanya akan ada satu konsep masyarakat. Sistem sosial adalah tiap sistem yang menghasilkan komunikasi sebagai elemen dasarnya untuk mereproduksi dirinya sendiri. Sistem kemasyarakatan (societal) adalah sistem fungsional seperti ekonomi, sains, dan hukum di dalam semua sistem masyarakat yang serba meliputi.

Sebuah masyarakat dunia yang serba meliputi (all-encompassing) tidak punya batas-batas dalam ruang dan waktu; dalam satu pengertian, sebuah masyarakat dunia tidak punya “alamat” dan tak ada masyarakat lain dalam lingkungan itu. Lalu bagaimana masyarakat dapat diamati? Hanya ada satu jawaban: Suatu masyarakat dapat diamati hanya dari perspektif di dalam masyarakat, yaitu melalui sistem fungsional dari masyarakat. Akan tetapi, tidak sistem fungsional yang mempunyai perspektif “yang benar” untuk observasi masyarakat. Setiap perspektif adalah sah.

Lalu bagaimana kita bisa sampai pada jalan tunggal untuk mencipatkan informasi tentang dunia sosial? Sesungguhnya, tak ada jalan untuk menciptakan perspektif sederhana semacam itu. Tak ada sudut pandang superior terhadap sudut pandang lain. Karena itu, perspektif yang dipakai umum tidak pernah dapat dicapai karena tidak ada kemungkinan mengevaluasi pandangan pesaing. Misalnya, jika kita sebagai sosiolog ingin mengetahui sesuatu tentang masyarakat, kita sudah terbiasa dengan pencarian pengetahuan sosiologis. Menurut Luhmann, pencarian ini juga akan mungkin lewat membaca koran, buku, nonton tv, atau bicara dengan teman. Masing-masing metode ini adalah cara yang sah untuk mendapat informasi tentang masyarakat. Sistem sains atau sistem lainnya tak punya privilese dalam hal ini.

Menurut Luhmann, masyarakat mendeskripsikan dirinya melalui, misalnya, legenda dan mitos di masa kuno dan pengetahuan ilmiah di masa modern. Akan tetapi, sosiolog mampu untuk mengamati observasi ini. Dan karena para sosiolog sebagai pengamat sekunder mampu mengamati observasi pertama, mereka dapat menarik kesimpulan tentang relasi antara masyarakat dan semantiknya, yakni, deskripsi diri dari masyarakat. Ini adalah kunci untuk mengetahui tentang masyarakat mengamati semantik masyarakat (semantics of society), yaitu “komunikasi tentang komunikasi”, yang menyusun sistem masyarakat.

Seluruh sistem-sistem sosial terbentuk oleh perbedaan antara sistem dan lingkungan serta merupakan sistem-sistem komunikasi. Komunikasi, seperti yang telah dijelaskan di atas adalah kombinasi dari informasi dan pemahaman, informasi yang memberikan perbedaan, membentuk bentuk paling mendasar dari operasi sistem-sistem sosial.

Komunikasi yang dimaksud di sini bukan dalam model pengirim-penerima, dimana komunikasi dihantarkan sebagai sebuah tindakan dari seseorang ke orang yang lain. Komunikasi merupakan sebuah pembatasan, membedakan informasi-informasi yang berarti dengan yang tidak berarti. Dan karena sistem sosial merupakan sebuah sistem komunikasi yang terdiri dari sistem dan lingkungannya, maka penggambaran sistem harus turut menggambarkan lingkungannya karena sistem komunikasi terbentuk melalui perbedaan, tanpa lingkungan sistem tidak akan memiliki kesamaan.

Sistem ini bersifat rekursif, artinya keluarannya sekaligus menjadi masukannya. Dengan cara ini sistem sosial tidak lagi bergantung pada masukan dari luar, seperti digambarkan oleh Parsons yang menggambarkan sistem terbentuk oleh akumulasi tindakan individu di dalam sistem. Tidak ada komunikasi yang memasuki sistem tanpa terlebih dahulu diamati dan diseleksi oleh sistem. Hingga tidak ada komunikasi yang memasuki sistem tanpa diproduksi oleh sistem tersebut. Sistem bersifat mandiri dan mereproduksi dirinya sendiri (autopoietic). Tiap komunikasi yang dihasilkan merupakan hasil self refleksi sistem tersebut dan tiap komunikasi yang dihasilkan merupakan masukan baru bagi sistem hingga sistem dapat bertahan hidup dan terus mereproduksinya dirinya sendiri.

Jika sistem-sistem sosial terbentuk oleh komunikasi dan hanya oleh komunikasi, maka masyarakat (society) merupakan tingkatan tertinggi dari sistem sosial yang terdiri dari seluruh komunikasi yang ada di dunia. Tidak ada komunikasi diluar masyarakat atau antara masyarakat dengan sistem-sistem lain di lingkungannya. Karena itu dalam penggambaran masyarakat yang terbentuk oleh komunikasi semata tidak mungkin menarik garis batas berdasarkan kriteria-kriteria lain seperti geografi, keanggotaan, atau berbagai eksternalitas lainnya yang bukan didasari oleh komunikasi.

Karena itu, maka apa yang dikemukakan Luhmann ini sebenarnya merupakan sebuah teori konstruktivis radikal. Seluruh masyarakat terdiri dari komunikasi yang didasari oleh pemaknaan, dan dengan berasumsi seluruh dunia telah terhubungkan oleh komunikasi maka kini hanya ada satu masyarakat, yaitu masyarakat dunia (world society). Singkatnya, bagi Fuchs, Teori Luhmann tentang masyarakat modern merupakan alat analitik yang bisa membuat sosiologi mendapat perspektif segar tentang problem di masyarakat dewasa ini. Teori umum evolusi dan diferensiasi, dan pemikiran Luhmann tentang sistem spesifik seperti sains dan ekonomi, membuka area teori dan riset baru. Perbedaan dasar antara sistem dan lingkungan membuka kemungkinan riset interdisipliner baru yang didasarkan pada asumsi bahwa kompleksitas adalah problem besar yang menghubungkan bidang-bidang terpisah dari ilmu manusia dan ilmu alam.

Tentu ada sejumlah kritik terhadap kerangka teoritik sistem yang demikian ini. Fuchs mencatat ada setidaknya empat, yaitu:

  1. Banyak teoritisi, termasuk Jurgen Habermas, mengatakan bahwa apa yang dilihat Luhmann sebagai keniscayaan perkembangan evolusioner sesungguhnya adalah bersifat regresif dan tidak mesti (unnecessary).
  2. Dalam teori Luhmann, diferensiasi adalah kunci untuk mendeskripsikan perkembangan masyarakat dan meningkatnya kompleksitas sistem sosial dalam menghadapi lingkungannya. Tetapi, kita juga dapat menemukan dua proses yang berbeda dalam masyarakat kontemporer. Yang satu adalah de-diferensiasi, yaitu proses pembubaran batas-batas antarsistem sosial, misalnya antara kultur tinggi dan kultur populer. Yang satunya lagi adalah interpenetrasi, yaitu proses pembentukan institusi untuk memperantarai sistem-sistem sosial. Teori sistem Luhmann cenderung melihat proses-proses ini sebagai antievolusioner karena evolusi didefinisikan sebagai peningkatan diferensiasi.
  3. Teori sistem Luhmann tampaknya terbatas kemampuannya untuk mendeskripsikan relasi antarsistem. Tidak semua sistem tampak tertutup dan otonom seperti yang diasumsikan Luhmann.
  4. Teori sistem Luhmann mengasumsikan variasi pandangan terhadap masyarakat yang semuanya valid tanpa kemungkinan memberi prioritas pada satu pandangan.

Menarik untuk disimak bahwa di antara Luhmann dan Habermas, yang pernah terlibat perdebatan sengit di tahun 1970-an, sesungguhnya bukan hanya terdapat jurang yang menganga, tapi juga persinggungan pemikiran. Habermas pada akhirnya menyimpulkan bahwa integrasi sosial di dunia kehidupan dan integrasi sistem sesungguhnya saling mengandaikan. Kompleksitas sistem selalu disertai dengan peningkatan rasionalisasi dunia kehidupan. Sebaliknya, peningkatan rasionalitas dunia kehidupan akan mendorong kompleksitas dan diferensiasi sistem.

___________________________________________________________

Direview oleh Dandy Patrija Wirawan (Unitomo Surabaya), dengan penyuntingan oleh WK.

[1] Rob Kling, Howard Rosenbaum and Steve Sawyer. 2005. Understanding and Communicating Social Informatics. Medford, NJ: Information Today.

[2] Lihat George Ritzer, 2014, Teori Sosiologi Modern (Edisi Ke Tujuh), Penerbit Kencana, Jakarta, hal. 232.

[3] Niklas Luhmann, Social Systems, penerjemah John Bednarz Junior dan Dirk Baecker (Stanford, CA: Stanford University Press, 1995), hal. 9. Lihat juga, Ludwig von Bertalanffy, General Systems Theory (New York: Penguin Books, 1968), hal. 36.

[4] Ibid. hal. 109-110.

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *