Identifikasi Tokoh Wayang dalam Kehidupan Orang Jawa

Posted on

Pakeliran purwo merupakan bentuk pertunjukan yang penuh dengan cerita falsafah hidup. Setiap tokoh dalam pakeliran purwo mempunyai watak dan prilaku yang mencerminkan kehidupan manusia di dunia. Watak dan prilaku ini meliputi watak yang baik dan juga watak yang tidak baik. Masyarakat Jawa gemar mengidentifikasikan diri, bercermin dan sekaligus mencontoh prilaku dan watak tokoh-tokoh wayang tertentu.  Bentuk identifikasi bisa ditemui dalam perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh dikatakan Mulyono (1992: 12) bahwa wayang merupakan simbol yang menerangkan eksistensi manusia dalam hubungannya antara daya natural dengan supernatural. Hubungan antara manusia dengan alam semesta, antara makhluk dengan penciptanya, antara pribadi dengan sesamanya. Wayang banyak memberikan ajaran tentang hakikat kehadiran manusia baik sebagai individu maupun kedudukannya sebagai anggota masyarakat. Wayang berisi ajaran batin dan ajaran lahir yang sesuai dengan peradaban manusia dan kesusilaan. Seni pertunjukan wayang mampu membantu manusia dalam memahami hidup dan mengenal diri sendiri serta sesama maupun orang lain tanpa prasangka dan tanpa pra-anggapan yang negatif.

Masyarakat Jawa dalam berintrospeksi diri atas kejadian yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, gemar mengaitkannya dengan cerita-cerita dalam wayang. Hal tersebut digunakan sebagai upaya menghibur diri. Selain itu, wayang juga digunakan untuk menunjukkan suri tauladan yang baik bagi kehidupan.

 

Pada sebuah pagelaran wayang seorang dalang dapat menyelipkan berbagai berbagai ajaran kehidupan, moral dan sebagainya. Ajaran tersebut dapat berfungsi untuk mendidik anak. Selain itu juga keterbukaan penafsiran dalam wayang juga bisa dijadikan sebagai sarana pendewasaan berpikir.

 

Pengidentifikasian tersebut dapat ditunjukkan dengan pemberian nama. Selain pemberian nama terkadang juga penyerupaan diri manusia dengan tokoh-tokoh wayang juga diberikan kepada orang lain yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu, misalnya tokoh Semar. Semar adalah punakawan dari para ksatria yang luhur budinya dan baik pekertinya. Sebagai punakawan Semar adalah abdi, tetapi berjiwa pamong, sehingga oleh para ksatria Semar dihormati.
Penampilan tokoh Semar dalam pewayangan sangat menonjol. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari tidak lebih dari seorang abdi, tetapi pada saat-saat tertentu Semar sering berperan sebagai seorang penasehat dan penyelamat para ksatria disaat menghadapi bahaya baik akibat ulah sesama manusia maupun akibat ulah para Dewa. Dalam pewayangan tokoh Semar sering dianggap sebagai Dewa yang ngejawantah atau Dewa yang berujud manusia.

 

Menurut Serat Kanda dijelaskan bahwa Semar sebenarnya adalah anak Syang Hyang Tunggal yang semula bernama Batara Ismaya saudara tua dari Batara Guru. Semar sebagai Dewa yang berwujud manusia mengemban tugas khusus menjaga ketenteraman dunia dalam penampilan sebagai rakyat biasa. Para ksatria utama yang berbudi luhur mempunyai keyakinan bilamana menurut segala nasehat Semar akan mendapatkan kebahagiaan. Semar dianggap memiliki kedaulatan yang hadir ditengah-tengah para ksatria sebagai penegak kebenaran dan keadilan. Dengan kata lain Semar adalah simbul rakyat yang merupakan sumber kedaulatan bagi para ksatria atau yang berkuasa dan pengayom rakyat.

Tokoh Semar adalah simbol yang cukup unik dalam pewayangan Jawa. Dia bisa menjadi wong cilik sekaligus juga seorang dewa. Biasanya para penguasa seolah ingin mewujudkan dirinya sebagai seorang semar. Tetapi yang menjadi masalah adalah hubungan antara hamba dan tuannya atau dalam konsep modern disebut dengan penyelesaian struktural yang diakui secara terus terang, tetapi dalam paham Jawa atau dalam kerajaan Jawa hubungan antara penguasa dan rakyatnya tidaklah demokratis seperti dalam pengertian modern (Hooker, 2001: 478).

Pada Pemerintahan orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto sebagai presiden, seni pertunjukan wayang dimanfaatkan untuk sosialisasi program-program pembangunan. Jika ditelusuri lebih lanjut mengenai hubungan wayang dan pemerintahan Soeharto, pada bulan April 1969, dalam rangka peluncuran Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang pertama, Soeharto mengumpulkan dalang-dalang wayang kulit dari berbagai daerah di istana kepresidenan, Jakarta. Soeharto bermaksud menggugah semangat mereka membantu proses pembangunan nasional dengan menyebarkan tujuan dan prioritasnya (Hooker, 2001: 477).

Sifat Soeharto sebagai pengayom dan pelindung rakyat kecil diperlihatkan saat dia berdialog dengan para petani. Itu terbukti dari rutinitas dia bertemu dengan para petani dalam acara Klompencapir (Kelompok Pendengar, Kelompok Pembaca dan Kelompok Pemirsa) di daerah-daerah. Soeharto berdialog langsung dengan mereka. Soeharto  mendengarkan keluhan-keluhan mereka, lalu ditanggapi satu per satu. Kegiatan seperti itu bisanya ditayangkan di TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang merupakan televisi milik pemerintah.

Sebenarnya Klompencapir bukan sesuatu yang baru karena sudah dipelopori sejak akhir tahun 1960-an. Pada tahun 1969, demi pembangunan FAO, mempopulerkan apa yang disebut sebagai Dewan Pembina Siaran Desa (Dhakidae, 2003: 269). Kegiatan ini disiarkan melalui stasiun Radio Republik Indonesia. Setelah itu, klompencapir diresmikan tanggal 14 Juni 1984 dengan Keputusan Menteri Penerangan, pada waktu itu dijabat oleh Harmoko. Pada tahun itu terbentuk 41.117 klompencapir yang harus dibina-bina di desa-desa Indonesia.

 

Dalam konteks seperti itu, Soeharto sebagai pengayom, pelindung bagi mereka yang hidup di pedesaan. Mereka tidak mengetahui sosok sebenarnya dari diri Soeharto, terutama dalam menjalankan pemerintahan. Mereka hanya mengetahui, Soeharto adalah dewa penolong, seorang yang bijak, seorang Bapak Pembangunan Bangsa. Gaya bicaranya halus, banyak tersenyum, sopan, selalu memperhatikan setiap pertanyaan para petani. Soeharto ingin menjadikan tokoh Semar sebagai bagian simbol-simbol kekuasaan dan pemerintahannya. Soeharto dalam beberapa pidato-pidatonya mengatakan bahwa dirinya berasal dari desa dan anak seorang petani yang sejak kecil hidup susah. Seperti yang kita ketahui, Semar juga merupakan simbol dari orang kecil.

 

Ada konsep yang dapat dipakai untuk menjelaskan sifat kebapakan Soeharto. Konsep tersebut adalah patrimonial, lebih khusus lagi konsep patron-client (Moedjanto, 1987: 102). Konsep ini dikembangkan oleh Max Weber untuk menjelaskan pola hubungan antara atasan dan bawahan. Atasan bertindak sebagai patron dan bawahan sebagai client. Lebih lanjut Moedjanto menguraikan konsep patron client dalam masyarakat Jawa. Dia menjelaskan (Moedjanto, 1987: 102) bahwa pada masyarakat Jawa dikenal konsep gusti dan kawula. Hubungan antara patron dan client tidak dibangun menurut sistem tertentu dalam sebuah birokrasi, tetapi menurut pola hubungan keluarga (famili). Oleh sebab itu, kedudukan seseorang bawahan (client) di dalam birokrasi ditentukan bukan oleh kemampuan profesinya melainkan oleh loyalitasnya terhadap atasan (patron). Keterikatan dan keloyalitasan terhadap bapak (patron) akan menjamin anak buah memperoleh status sosial dan sumber ekonomi.

 

Pada masyarakat pra atau non kerajaan, pemimpin berarti seorang pater. Ia harus bersifat kebapakan. Semua persoalan kembali kepadanya untuk dipecahkan. Semua warga masyarakat menyerahkan pemecahan masalah itu kepada bapak dan mereka akan menaatinya. Dalam situasi sulit karena ada ancaman, bapak akan menjadi pengayom dan pengayem (Moedjanto, 1987: 102).

 

Semar sering juga disebut dengan “Ki Lurah Semar” yang merupakan punakawan utama dalam pewayangan. Semar adalah tokoh wayang asli Indonesia. Di dalam kitab Mahabarata, tokoh Semar sema sekali tidak disebut. Semar dalam wayang Jawa menunjukkan suatu pengertian yang mendalam tentang apa yang sebenarnya bernilai pada manusia: bukan rupa yang kelihatan, bukan pembawaan lahiriah yang sopan santun, bukan penguasaan tata krama kehalusan yang menentukan derajat kemanusiaan seseorang, melainkan adalah sikap batinnya (Suseno, 1991: 39).

 

Mengikuti penjelasan Sindhunata (1999a: 208), Semar itu bukan hanya tokoh wayang, tapi juga tokoh yang selalu melekat pada kehidupan orang Jawa sepanjang jaman. Sebelum tanah Jawa ada, Semar sudah ada. Karena itu Semar juga disebut sebagai danyangane tanah Jawa (lelembut yang menjaga tanah Jawa). Lebih lanjut mengikuti penjelasan Sindhunata, dengan mengambil uraian yang ada dalam disertasi Koes Sardjono (1947), bahwa tokoh Semar itu bukan pertama-tama tokoh mistik atau ngelmu seperti anggapan orang kebanyakan.

 

 

Tokoh Semar adalah tokoh pewayangan dari budaya Jawa. Oleh sebab itu, asal-usul dan cerita-cerita mengenainya, diantaranya berkaitan dengan keadaan alam di tanah Jawa, yaitu cerita mengenai ditelannya gunung Mahameru. Ketiga putra Sang Hyang Tunggal beradu kesaktian untuk membuktikan siapa dari ketiganya yang paling sakti. Siapa yang dapat menelan gunung Mahameru dan kemudian memuntahkannya kembali, maka dialah yang berhak atas singgasana kahyangan.

 

Sang Hyang Antaga mendapat kesempatan pertama untuk menunjukkan kesaktiannya. Dia menelan gunung Mahameru. Tapi sampai mulutnya robek, gunung tersebut tetap tak dapat ditelannya. Pada giliran kedua, Sang Hyang Usmaya dapat menelan gunung Mahameru. Ismaya dapat menelan gunung Mahameru, tapi tak dapat memuntahkannya kembali sehingga gunung tersebut  hanya sampai dipantatnya. Pada giliran selanjutnya, tampillah Sang Hyang Manikmaya. Berhubung gunung Mahameru masih di pantat Sang Hyang Ismaya, maka Sang Hyang Manikmaya tak dapat membuktikan kesaktiannya. Tapi justru dialah yang dimenangkan oleh Sang Hyang Tunggal sebagai pewaris Kahyangan. Setelah kejadian ini, Sang Hyang Ismaya diperintah untuk turun ke bumi bertindak sebagai pamong bagi manusia yang berbudi baik.

 

Contoh lain lakon mengenai Semar adalah Semar Minta  Bagus (Semar Gugat). Lakon itu menceritakan Arjuna yang “menghina” Semar. Arjuna memegang kuncung kepala Semar semata-mata  untuk menyenangkan Srikandi. Semar marah dan menyatakan siapakah dia (Arjuna) sebenarnya. Ternyata, dia (Semar) lebih sakti dari tuannya. Lakon-lakon lainnya mengenai Semar yaitu: Bathara Wisnu Krama, Semar Tambak, Manumayasa Rabi, Semar Kuning, Pandu Lair, Pandu Krama, Mintaraga, Semar Mbangun Klampis Ireng, Semar Boyong, Semar Mbarang Jantur, Makutha Rama, Gatotkaca Sungging, Kilat Buwana, Semar Kuning.

 

Selain tokoh Semar pengidentifikasian wayang dalam kehidupan masyarakat Jawa yang lain adalah Batara Kamajaya. Dewa Batara Kamajaya merupakan putra dari Batara Ismaya (Semar) yang tinggal di Kayangan Cokrokembang.  Batara Kamajaya punya istri Batari Ratih pasangan ini selalu rukun bersama istrinya. Paras pasangan dewa ini sangat elok. Maka dari itu oleh orang Jawa dijadikan idaman sampai pada cita-citanya dimana kalau punya putra atau putri diharapkan dan dicita-citakan seperti Batara Kamajaya dan Batari Ratih yang berwajah elok dan cantik. Hal ini terbukti di dalam acara tujuh bulan bayi di kandungan diadakan upacara mitoni yang dilambangkan pada cengkir (kelapa muda) berlukiskan Batara Kamajaya dan Batari Ratih.

 

Pandawa juga seringkali menjadi identifikasi Manusia Jawa. Pandawa yang terdiri dari Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Unsur keadilan dan keberanian dalam dunia pewayangan dilambangkan dalam diri tokoh Pandawa. Yudhistira, putra tertua yang melambangkan keadilan; Bhima adalah putra yang sangat kuat; Arjuna, sangat tampan dan memiliki kekuatan gaib; Nakula dan Sahadewa, adalah putra kembar Pandawa. Mereka secara bersama-sama memerintah Negara Amarta.

 

Semua keluarga Pandawa adalah turunan Dewa. Kaurawa yang dipimpin oleh Duryodhana sebaliknya memiliki sifat suka menipu, jahat, dll. Mereka memperdaya Pandawa untuk mempertaruhkan bagian kerajaan mereka dengan permainan dadu (di mana mereka curang). Pendawa harus mengungsi ketengah hutan selama 12 tahun, dan harus menyamar selama setahun sebelum mereka kembali untuk menuntut hak atas kerajaan. Namun Kurawa menolak untuk mundur sehingga terjadi perang yang amat dahsyat, Bharatayuddha, dimana semua Kurawa terbunuh.  Salah satu dari sekutu Pendawa adalah Krisna (yang sebenarnya adalah reinkarnasi dari Bethara Wisnu) yang berperan dalam menentukan kemenangan bagi Pendawa.

 

Kelimanya tokoh Pandawa digambarkan bersama-sama bahagia dan bersama-sama menderita Tiap-tiap tokoh Pandawa mempunyai ciri watak yang berlainan antara satu dengan lainnya, namun dalam segala tingkah lakunya selalu bersatu dalam menghadapi segala tantangan. Puntadewa yang paling tua sangat terkenal sebagai raja yang adil dan jujur; bahkan diceritakan berdarah putih. Puntadewa dianggap titisan Dewa Dharma yang memiliki watak menonjol selalu mementingkan kepentingan orang lain, rasa sosialnya sangat besar. Masyarakat Jawa sering mengidentifikasi Pandawa dengan memberi nama putra atau putri mereka dengan nama Pandawa dengan harapan dan cita-cita kalau dewasa nanti anak-anak mereka akan mempunyai sifat-sifat seperti yang dimiliki oleh Pandawa.

 

Penutup

Pagelaran wayang kulit syarat dengan nilai-nilai dan petuah hidup bagi manusia. Wayang kulit merupakan refleksi budaya Jawa dalam pengertian sebagai pencerminan dari kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan dan cita-cita kehidupan orang Jawa. Sebagai suatu kebudayaan, dalam wayang terkandung ajaran-ajaran bagaimana hidup itu harus dijalani. Melalui cerita wayang masyarakat Jawa memperoleh gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup sesungguhnya dan bagaimana hidup seharusnya. Wayang sebagai kehidupan rohani masyarakat Jawa berisi nilai-nilai luhur yang dapat membantu manusia dalam melangsungkan, mempertahankan hidupnya, sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan hidupnya, yakni dapat membentuk dirinya menjadi manusia dan dapat menciptakan suatu kehidupan yang lebih baik.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Benedict R.O’G. 1996. Mitologi dan Toleransi Orang Jawa. Yogyakarta: Qalam.

Dhakidae, Daniel, 2003. Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Dwipayana, G dan Ramadhan K.H. 1989. Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada.

Endraswara, Suwardi. 2003. Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme, dan Sufisme dalam Budaya. Yogyakarta: Spiritual Jawa

Geertz, Clifford. 1992a. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisisus

Hooker, Virginia Matheson, 2001. “Ekspresi: Kreatif Biar pun Tertekan” dalam Emerson, Donald K (editor) 2001. Indonesia Beyond Soeharto: Negara, Ekonomi, Masyarakat, Transisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan The Asia Foundation.

Moedjanto. G. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.

Magniz Suseno, Franz Von, 1988, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar dan Kenegaraan Modern, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

Sardjono, Agus R. 2001. Sastra dalam Empat Orba. Yogyakarta: Bentang

Soekmono, 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia (jilid 2). Yogyakarta: Kanisius.

Sindhunata, 1990a. Bayang-bayang Ratu Adil. Jakrta: Gramedia Pustaka Utama

Slamet, T.Suparno, 2006, Pakeliran Purwo Jawa dari Ritus sampai Pasar, Disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga.

Sutini, Wayang, http://www.jawapalace.org/wayang.html

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *