Etnografi

Posted on

Setelah penjelasan tentang metode penelitian kualitatif, ada baiknya kita mengenal metode penelitian sosial yang juga berakar dari pendekatan kualitatif, namun lebih khusus untuk mendalami kehidupan masyarakat dengan memahami suatu pandangan hidup dari sudut pendang masyarakat atau penduduk asli, yakni tentang kehidupan mereka, untuk mendapatkan pandangan mengenai dunia mereka. Jadi benar-benar “menyalin” dunia masyarakat, menurut cara pandang masyarakat, dan kita (peneliti) memberitahukan kepada “dunia kita”. Bukan, menurut cara pandang kita (peneliti), kita “salin untuk kita beritahukan kepada dunia kita”. Peran peneliti di sini “sebagai seseorang yang sedang belajar” kepada masyarakat atau penduduk yang sedang kita teliti. Kata kuncinya adalah: “dari sudut padang masyarakat”. Penelitian sosial ini adalah ‘etnografi’.

Etnografi, merupakan penelitian ilmu sosial yang menggunakan paradigma kualitatif, berakar berakar pada pendekatan kualitatif. Ia berupaya menjelaskan fakta atau realitas sosial secara mendalam, memahami realitas sosial apa adanya berdasarkan struktur pengalaman subjek (native’s point of view)[1]. Ia menangkap makna (meanings) yang diketemukan pada peristiwa atau subjek yang diteliti, bersifat “belajar dari masyarakat” (learning from the people), tidak hanya “mempelajari masyarakat” (learning about the people)[2].

Penelitian etnografi bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan sistem makna budaya yang digunakan masyarakat dalam mengorganisir tingkah laku mereka serta menginterpretasikan pengalaman mereka[3]. Karenanya, aspek penting penggalian ‘makna dari struktur pengalaman subjek’ inilah yang mencirikan penelitian etnografi ini yang dekat dengan paradigma kualitatif. Etnografi meniscayakan kedekatan peneliti dengan subjek yang diteliti, mempelajari dalam konteks alaminya yang berupaya memahami atau menafsirkan fenomena dilihat dari sisi makna yang dilekatkan manusia (peneliti) kepadanya. Etnografi dilakukan berdasar pada cara kerja penelitian kualitatif yang mencakup penggunaan subjek yang dikaji dan kumpulan berbagai data empiris -studi kasus, pengalaman pribadi, introspeksi, perjalanan hidup, wawancara, teks-teks hasil pengamatan, historis, interaksional dan visual- yang menggambarkan saat-saat dan makna keseharian dan problematis  dalam kehidupan seseorang.

Meminjam cara kerja kualitatif sebagai dasar, maka sebagai pengantar metode etnografi ini, sebelum kita bahas lebih lanjut, ada baiknya sedikit merefresh metode kualitatif, yang berhubungan dengan etnografi. Cara kerja penelitian kualitatif, yakni menerapkan aneka metode yang saling berkaitan[4], peneliti kualitatif mengamati (observasi), terlibat dalam peristiwa bersama subjek (partisipatoris) untuk memberikan tafsir (interpretif) terhadapnya hingga menemukan meanings hingga proposisi. Karakter kualitatif ini menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif berparadigma non-positivis. Ia bisa berparadigma post-positivis, interpretif-konstruktif maupun kritis. Sejalan dengan apa yang ditulis Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln dalam buku Handbook of  Qualitative Research, bahwa penelitian kualitatif tidak terikat dengan disiplin keilmuan tunggal manapun, juga tidak mempunyai seperangkat metode yang berbeda yang murni miliknya. Peneliti kualitatif memanfaatkan semiotika, analisis naratif, isi, wacana, arsip, dan fonemis, bahkan statistika; juga mendayagunakan pendekatan, metode, dan teknik etnometodologi, fenomenologi, hermeneutika, feminisme, rhizomatika, dekonstruksionisme, etnografi, wawancara, psikoanalisis, kajian-kajian kebudayaan, penelitian survei dan observasi partisipatif dll. Semua praktik penelitian ini “dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang berharga”.[5] Keluasan dan keluwesan penelitian kualitatif dalam menggali makna pengalaman masyarakat ini memberi penekanan pada proses, makna dan sifat realita yang terbangun secara sosial, hubungan erat antara peneliti dan subjek yang diteliti dan tekanan situasi yang membentuk penyelidikan.

Dari keluwesan metode kualitatif, maka kedudukan teori dalam penelitian kualitatif tidak seketat pada penelitian kuantitatif yang menjadi bingkai yang memagari peneliti. Pada penelitian kualitatif, teori merupakan guidance awal untuk memandu peneliti, yang selanjutnya  peneliti menganalisis dan memahami realitas yang ditelitinya secara alami. Alur pikir yang digunakan adalah induktif (bukan deduktif seperti pada kuantitatif). Karena tujuan penelitian kualitatif adalah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyoroti cara munculnya pengalaman sosial sekaligus perolehan maknanya (hal yang sebaliknya pada penelitian kuantitatif yang menitikberatkan pada pengukuran dan analisis sebab-akibat antara bermacam-macam variabel, bukan prosesnya)[6]  maka keluasan dan kedalaman makna yang direngkuh oleh penelitian kualitatif ini membutuhkan kecakapan penelitinya untuk dapat berinteraksi dengan subjek dengan baik dan mampu menyerap makna dari subjek. Kemampuan ini digambarkan oleh Denzin sebagai seorang “bricoleur” yakni seorang yang “serba bisa” atau seorang yang mandiri-profesional. Bricoleur ini menghasilkan “brikolase” yaitu serangkaian praktik yang disatupadukan dan disusun secara rapi sehingga menghasilkan solusi bagi persoalan dalam situasi nyata. Bricoleur memanfaatkan paradigma interpretif (feminisme, Marxisme, kajian-kajian kebudayaan, konstruktivisme) yang dapat difungsikan untuk memecahkan masalah, dan sekaligus memahami bahwa penelitian kualitatif itu merupakan proses interaksi yang dibentuk oleh perjalanan  hidup, biografi, gender, kelas sosial, ras dan kesukuannya sendiri sekaligus oleh hal-hal yang berada dalam konteks. Hasil kerja bricoleur berupa brikolase yakni sebuah ciptaan kompleks, padat, refleksif, dan mirip klipping yang mewakili citra, pemahaman, dan interpretasi peneliti mengenai dunia atau fenomena yang dianalisis.[7]

Karakter holistik-integratif penelitian kualitatif dalam pemahaman di atas dan kedalaman makna hingga menguak behind the fact, beyond the reality, (mengungkap ada apa sebenarnya di balik realitas yang tampak ini)[8] dalam penelitian kualitatif ini memberi penjelasan bahwa dalam metodologinya, penelitian kualitatif menghendaki adanya thick description untuk menelusuri dan membongkar realitas sosial yang didapatkan melalui in-depth interview (wawancara mendalam) dalam pengumpulan datanya (penelitian lapang)[9]. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan atau narasumber, yang mana informan atau narasumber ini adalah orang-orang yang memahami konteks masalah yang sedang diteliti. Mereka adalah pelaku peristiwa, orang yang sangat tahu, paham dan ahli serta dekat dalam bidang atau masalah yang sedang diteliti, sehingga yang penting dari informan atau narasumber ini adalah kualitasnya, bukan jumlahnya seperti dalam penelitian kuantitatif. Karenanya, bukan jumlah informan atau narasumber yang dipentingkan, tetapi kedalaman, intensitas dan kualitas data yang diperoleh / digali dari mereka-lah yang penting. Apa yang disebut sebagai “tingkat kepercayaan” dalam penelitian kuantitatif yang direpresentasikan dengan ukuran sampel (semakin besar ukuran sampel atau jumlah responden maka penelitian akan semakin bisa dipercaya atau memperkecil margin of error), dalam penelitian kualitatif adalah kedalaman dan kualitas data yang dapat digali inilah yang penting. Karenanya, pemilihan informan atau narasumber menjadi penting.

Penelitian kualitatif memilih informan atau narasumber tidak secara acak, tetapi dipilih berdasarkan kriteria kepahaman dan kedekatan akan suatu masalah yang sedang diteliti. Biasanya dilakukan dengan teknik snow-ball dengan terlebih dahulu menentukan seorang informan atau narasumber kunci (purposive) yang darinya menjalar kepada informan atau narasumber lain atas referensi informan atau narasumber sebelumnya. Demikian dilakukan terus hingga informan atau narasumber ke-x ketika data telah jenuh yakni ketika informan atau narasumber telah tidak lagi bisa memunculkan konstruksi yang berbeda dan baru. Instrumen penelitian, menggunakan “panduan wawancara kualitatif” yang tidak bersifat terstruktur (ketat) seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi lebih fleksibel, dengan tipe pertanyaan open-ended, yakni tiap pertanyaan akan berakhir dengan membuka jalan bagi pertanyaan berikutnya yang mengikuti alur semi-terstruktur maupun tidak terstruktur (peneliti bebas melakukan improvisasi di lapangan namun tetap dalam koridor desain penelitian). Ini bedanya dengan kuantitatif yang baku-kaku. Mengikuti alur ini, maka analisis data kualitatif bisa dilakukan sambil melakukan pengumpulan data, yang dilakukan setiap saat selama pengumpulan data, yang biasanya dicatat dalam jurnal harian atau logbook. Data-data dari informan kemudian dianalisis dengan teknik tertentu yang berpusat pada peneliti (interpretif-kritis) dan bisa juga menggunakan alat bantu software CDC-EZ Text, semacam SPSS-nya kualitatif. Software ini membantu mempermudah peneliti kualitatif untuk memilah dan mengklasifikasi data dari jawaban-jawaban informan atau narasumber (catatan: analisis, interpetasi tetap pada peneliti). Analisis data dilakukan selama pengumpulan data.

Hasil penelitian kualitatif bersifat memahami realitas sosial, menyentuh sisi praxis, bertujuan membangun teori, memunculkan pemahaman atau konsepsi atau teori baru atau memberikan kritik atas teori yang ada atau memperbarui teori.

Lebih lanjut tentang etnografi, tentang manfaat, mengapa menggunakan etnografi, keunggulan metode etnografi, hasil yang didapat dari metode etnografi, problem sosial apa saja yang sesuai diteliti dengan metode etnografi, hingga aspek teknis, kita bahas nanti ya…

Dan untuk lebih menyambungkan pemahaman dan temuan dalam menjelaskan realitas sosial, pada artikel mendatang akan saya tuliskan juga pertautan antara metode dan teori sosial dalam aplikasi yang kita gunakan dalam penelitian sosial.

 

Artikel terkait:

Etnografi Konstruktivis dan Penggunaannya Untuk Meneliti Komunitas Virtual

 

 

Referensi:

Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln. Handbook of Qualitative Research. Terj. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Spradley, James P. Metode Etnografi. Terj. Yogyakarta: Tiara Wacana,  1997.

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *