Etnografi Konstruktivis Untuk Mengeksplorasi Komunitas Virtual Di Saudi Arabia

Posted on

pakistani_women_6-200x135 Etnografi Konstruktivis Untuk Mengeksplorasi Komunitas Virtual Di Saudi ArabiaArtikel yang lalu membahas etnografi, kini kita membahas Arab ya… Senyampang Raja Salman datang tuh… Ya. Etnografi kali ini membahas perempuan Arab.. Ehm… Komunitas virtual yang membernya perempuan. Hasil penelitian Yeslam Shagaff (Saudi Arabia) dan Kirsty Williamson (Australia) ini mengungkap banyak fakta mengejutkan di balik cadar perempuan Arab. Sudut pandang orang Indonesia mungkin akan terkesima dan tidak terima… hehe… Baca aja deh…

Saudi Arabia merupakan negara yang membatasi warganya dalam banyak hal. Salah satunya penggunaan internet, apalagi untuk perempuan. Aktivitas sosial perempuan Arab Saudi sangat terbatas (namun bukan berarti ‘tidak dapat beraktivitas sosial’ sama sekali). Mereka beraktivitas dalam “dunia maya”, yang bertolak belakang dari kehidupan “offline”.

Tulisan ini mereview tentang penggunaan metode penelitian kualitatif khususnya metode etnografi (etnografi konstruktivisme), berdasarkan hasil penelitian etnografi konstruktivis tentang komunitas virtual di Saudi Arabia. Penelitian ini menggunakan metode etnografi berparadigma konstrukivisme, dengan teknik observasi terselubung-partisipatif. Kita simak penggunaannya untuk membongkar komunitas tertutup ini, di negara yang amat ketat konstruk agama dan dominasi negara.

 

Artikel yang ditulis oleh Yeslam Al-Saggaf (YAS) dan Kirsty Williamson (KW), keduanya dari Charles Sturt Universty, Australia, merupakan hasil penelitian keduanya tentang keberadaan komunitas virtual di Saudi Arabia. YAS dan KW, dalam artikelnya memfokuskan penggunaan  metode etnografi dalam paradigma konstruktivis, dengan teknik observasi-terselubung dan partisipatif, untuk mengekplorasi partisipasi individual dalam komunitas virtual di Saudi Arabia.

Kata kunci: etnografi, paradigma konstruktivis, etnografi konstruktivis, observasi terselubung, NVIVO, komunitas virtual, Saudi Arabia, perempuan Saudi.

Artikel tersebut, berdasarkan pada penelitian selama 8 bulan melakukan observasi-tersembunyi dan partisipasi (selama 2000-2001), bertujuan untuk menyoroti penggunaan etnografi (observasi-terselubung dan partisipatif) pada studi tentang komunitas virtual pada konteks sosial dan kultural pada masyarakat Saudi. YAS dan KW menyatakan bahwa temuan mereka sangat bermakna, mendalam serta kaya dalam deskripsi, mengingat masyarakat Saudi dikenal lekat pada ajaran agama (Islam), dan pemerintahnya sangat ketat dalam mengontrol masyarakatnya, terutama dalam hal penggunaan internet (namun tidak pada komunitas virtual).

Penelitian YAS dan KW ini, yang sekaligus menjawab kekurangan studi tentang komunitas virtual di negara-negara Teluk Arab, Arab maupun di Barat, merujuk pada studi-studi ekstensif terhadap komunitas virtual yang dinisbahkan pada tujuan sosial di Saudi, yang dilakukan oleh seorang pria Arab yang tinggal dan hidup bersama masyarakat Saudi. Komunitas virtual di Saudi, salah satunya yang terbesar (pada tahun 2000) adalah Al-Saha Al-Siyasia, mencapai jumlah ratusan ribu pengguna. Komunitas ini memungkinkan para pria dan wanita dalam masyarakat konservatif ini (Saudi) untuk berbicara satu sama lain. Hal yang sebelumnya sangat tidak mungkin terjadi, dalam sebuah negara yang memegang teguh ajaran agama (Islam).

Di tengah kelangkaan studi tentang komunitas virtual, baik di Arab maupun di Barat, penelitian YAS dan KW ini memuat beberapa masalah menarik dengan fenomena baru, yaitu:

  1. Partisipasi individual dalam komunikasi offline (dunia nyata) antara pria dan wanita tidaklah mungkin di Saudi.
  2. Pemerintah Saudi sangat ketat mengontrol penggunaan internet, tetapi tidak demikian kepada komunitas virtual.
  3. Partisipasi individu dalam komunitas virtual, online (dunia maya) ini akankah berpengaruh pada kehidupan off-line (di luar line internet) orang Saudi. Misalnya, akankah partisipasi dalam komunitas virtual oleh wanita Saudi yang merupakan 45% pengguna internet di negara ini (Al-Zaharni, 2002), “menular”[1] pada kehidupan sosial (nyata) mereka, dengan  bercakap-cakap dengan pria bukan “muhrim-nya” (Wheeler, 2000; Al-Munajjed, 1997)?
  4. Karena pria dan wanita bisa diamati berbicara satu sama lain secara online, akankah mereka berbicara satu sama lain secara offline sebagai hasil komunikasi mereka secara online? Termasuk pembicaraan-pembicaraan yang berbau “cabul” sebagaimana dapat terjadi pada dunia maya di komunitas virtual Saudi? (Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999).

 

Terdapat banyak diskusi dan literatur (Preece, 2005; Preece, 2000; Jones dan Kucker, 2001; Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999) mengenai anasir  yang menyusun sebuah masyarakat virtual. Untuk tujuan artikel ini, komunitas virtual didefinisikan sebagai “agregasi sosial yang muncul dari net (jaringan) ketika sejumlah orang melakukan diskusi publik cukup panjang, dengan perasaan manusia yang memenuhi, untuk membentuk web hubungan pribadi di dunia maya” (Rheingold, 2000:xx).

Komunitas virtual yang diteliti dalam studi ini menggunakan sebuah mode komunikasi “asinkron” daripada “sinkron”, yakni ketika partisipan berinteraksi dalam waktu tertunda, yaitu, tanpa setiap orang berkumpul pada waktu tertentu.

Sebagian besar studi dalam literatur sekarang ini memfokuskan pada metode yang digunakan, bukannya filosofi yang mengikutinya. Penekanan artikel ini adalah pada penggunaan keduanya, viz metode, etnografi, dan fondasi filosofisnya, yakni paradigma konstruktivis.

Fokus juga mengarah pada dua kunci teknik etnografi, yaitu observasi-terselubung dan partisipasi, yang digunakan untuk mengumpulkan data, termasuk seleksi dan deskripsi setting dan mendapatkan masukan. Setelah gambaran analisa data, artikel menampilkan sampel dari penemuan untuk tujuan ilustrasi. Penemuan dalam artikel ini berkaitan dengan karakteristik utama dari partisipasi dalam komunitas virtual di Saudi Arabia dan telah diperoleh menggunakan teknik observasi-terselubung dan partisipasi. Penemuan dari teknik lain, wawancara, dimasukkan dalam artikel yang diterbitkan sebelumnya (Al-Saggaf, 2004). Akhirnya, artikel ini menawarkan beberapa kesimpulan mengenai metode untuk penelitian yang memfokuskan pada komunitas virtual.

 

Paradigma Konstruktivis

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengeksplorasi partisipasi individual dalam komunitas virtual di Saudi Arabia. Karena ini merupakan hal yang penting untuk menempatkan hasil studi dalam konteks sosial dan kultural dari masyarakat Saudi, pendekatan interpretivist (yang dikaitkan dengan metode penelitian kualitatif) tampak paling cocok. Interpretivist mempercayai bahwa realitas, secara sosial terbentuk dan ditempatkan dan oleh karena itu relatif pada konteks spesifik. Mereka juga mempertimbangkan pemahaman perspektif dan makna yang dibentuk orang secara individual mengenai esensial situasi mereka (Williamson, 2002). Alasan lain untuk pemilihan kerangka kerja interpretivis adalah karena sebuah tujuan sekunder dari studi ini adalah untuk mempelajari mengenai pengalaman individual dan persepsi mereka mengenai efek partisipasi mereka pada kehidupan off-line mereka, yang dicapai melalui penggunaan wawancara semi-terstruktur, dan diskusi.

Salah satu paradigma populer yang muncul di bawah pendekatan interpretivis adalah paradigma konstruktivis. Dalam hal asumsi-asumsi ontologis, paradigma ini menyatakan bahwa realitas mengenai fenomena sosial khusus adalah ganda dan terkonstruksi. Konstruktivis mempercayai bahwa tidak ada realitas obyektif tunggal “di luar sana” mengenai sebuah fenomena khusus; selain itu, terdapat realitas ganda yang terbentuk dalam pikiran orang di bawah studi.

Dalam hal asumsi-asumsi epistemologis-nya, paradigma ini menyatakan bahwa investigator dan responden menciptakan bersama pemahaman dan kemudian, ketika melaporkan penemuan mereka, peneliti cenderung untuk mengakui subyektiftas mereka. Peneliti juga cenderung untuk menerima bahwa mereka sendiri mempengaruhi proses penelitian dan, untuk alasan ini dalam laporan mereka, mereka juga merefleksikan pada peran mereka sendiri (Marshall dan Rossman, 1999). Dalam hal asumsi-asumsi metodologis-nya, konstruktivis mempercayai bahwa mereka harus mempelajari fenomena dalam bidang di mana hal ini terjadi, karena mereka menyadari pentingnya pemahaman praktek-praktek kultural orang dan makna yang mereka bawa pada kultur (Denzin dan Lincoln, 2000; 21). Schwandt (1994:128) mempercayai bahwa penelitian yang dilakukan dalam sebuah paradigma konstruktivis adalah sangat serupa dengan penyelidikan naturalistik seperti yang ditunjukkan dalam Lincoln dan Guba (1985). Penyelidikan naturalistik, contohnya, menyukai metode kualitatif (interpretivist) karena mereka lebih cocok dalam menangani realitas ganda (Lincoln dan Guba, 1985:40). Dalam penyelidikan naturalistik, proses penelitian adalah interaktif dan orang yang tahu (penyelidik) dan yang diketahui adalah tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Penyelidik memilih untuk menegosiasikan makna dan penafsiran dengan sumber daya manusia darimana data diperoleh karena ini adalah realitas mereka di mana penyelidik berusaha untuk merekonstruksinya (Lincoln dan Guba, 1985:41).

Paradigma konstruktivis mencakup dua teori konstruktifis kunci. Pertama, teori konsep personal, pertama kali digambarkan oleh Kelly (1963) dan menekankan realitas individual atau penafsiran dunia. Kedua, teori konsep sosial, pendukung utamanya dimana Berger dan Luckmann (1967) menekankan pengaruh masyarakat, kultur, dan lingkungan sosial pada realitas. Teori konsep personal menyatakan bahwa orang membentuk realitas mengenai dunia mereka secara individual dan itulah mengapa realitas mengenai sebuah fenomena adalah tidak tunggal tetapi majemuk, yang ada dalam pikiran individual (Charmaz, 2000; Denzin dan Lincoln, 2000; Schwandt, 2000). Setiap orang membentuk realitasnya mengenai dunia berdasarkan pada persepsi individual dan setiap orang merasakan/ menerima dunia dalam sebuah cara yang bisa jadi berbeda dari persepsi orang lain terhadapnya (Saule, 2002; Hammersley, 1995; Kelly, 1991; Lincoln dan Guba, 1985). Bagaimanapun, ketika makna diperoleh dari kejadian-kejadian, orang-orang, obyek-obyek (dengan tujuan untuk membuat kesan, atau mengorganisir mereka) adalah realitas yang terbentuk, orang dan obyek dalam pandangan terbentuk adalah dianggap kesatuan nyata (Lincoln dan Guba; 1985; 84).

Konstruksi sosial dari teori realitas menyatakan bahwa makna dikembangkan melalui interaksi orang dan hal-hal seperti: bahasa, kultur, lingkungan dan agama (Berger dan Luckmann, 1967). Konstruksionis sosial menyadari kepentingan bahasa, kultur, dan lingkungan dalam cara orang membuat kesan mengenai dunia mereka (Berger dan Luckmann, 1967). Williamson (2002:30) menyatakan “Konstruksionis sosial memandang orang sebagai alat perkembangan untuk aktivitas mereka bersama, yaitu, mereka secara sosial membentuk realitas”. Ini berarti bahwa, dalam konstruksi sosial atas realitas, orang membentuk realitas mereka bersama. Menurut Schwandt (1994:127) konstruksi sosial realitas tidak fokus pada “aktivitas membuat-makna dari pikiran individual, tetapi pada penghasilan kolektif makna seperti yang dibentuk oleh konvensi bahasa dan proses sosial lainnya”.

Literatur menunjukkan bahwa penelitian pada komunitas virtual telah mendapatkan manfaat dari kedua teori konstruktivis itu (contohnya, Markham, 2005; Manaszewicz, Williamson dan Mckemmish, 2002; Dodge dan Kitchin, 2001; Costigan, 1999; Fernback, 1999). Dalam buku yang sering dikutip, CyberSociety 2.0: Revisiting Computer-Mediated Communication and Community, Jones (1998:5) menyatakan bahwa media komunikasi yang dimediai oleh komputer tidak menciptakan realitas sosial mengenai komunitas virtual, ini adalah percakapan dan interaksi yang terjadi antara orang yang membentuk realitas. Ini menyokong poin yang dibuat Berger dan Luckmann (1967) mengenai realitas yang ada, seperti yang disebutkan diatas, melalui interaksi antara proses sosial. Dengan memperhatikan konstruksi realitas personal, Fernback (1999) dan Markham (1998), keduanya setuju bahwa partisipan membentuk realitas mereka mengenai komunitas virtual yang mereka miliki secara pribadi dan bahwa realitas ini ada dalam pikiran partisipan ini, yang berarti realitas mengenai komunitas virtual juga majemuk dan terbentuk.

Studi ini menggunakan kedua teori sebagai lensa di mana komunitas virtual di Saudi Arabia diinterpretasikan. Konstruksionisme sosial digunakan untuk menafsirkan cara partisipan menjalankan dirinya sendiri dalam hubungan dengan orang lain dan cara komunitas virtual mempengaruhi perilaku mereka. Konstruktivisme personal digunakan untuk memahami bagaimana partisipan secara individual mengembangkan kesan komunitas mereka dan kepemilikan pada komunitas itu.

MASYARAKAT SAUDI adalah masyarakat kolektivis; agama dan kultur secara kuat mempengaruhi bagaimana orang berperilaku, secara umum, pada orang lain, dan juga bagaimana mereka berlaku dalam cara yang serupa dari satu orang dengan orang lain. Adanya konstruktivisme sosial adalah mengenai bagaimana orang mengembangkan makna mereka bersama, kerangka kerja ini adalah lebih cocok bagi konteks Saudi dibandingkan lainnya.

 

Etnografi Konstruktivis

Etnografi bisa dilakukan dalam beberapa kerangka kerja seperti pasca-modern dan kritis (Saule, 2002). Etnografi yang dilakukan pada studi ini adalah dalam paradigma konstruktivis. Konstruktivis memilih menggunakan etnografi karena ini memungkinkan mereka untuk menampilkan realitas majemuk yang dimiliki bersama oleh partisipan dan juga penafsiran alternatif ketika mereka muncul dari data (Fetterman, 1989). Etnografer meneliti orang dalam konteks sehari-hari mereka (Saule, 2002:180) dengan berpartisipasi dalam aktifitas sosial sehari-hari mereka dengan tujuan untuk mengamati dan memahami mereka (Minichiello et al, 1990:18). Etnografer menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan analisa dokumen. Ini seharusnya dicatat bahwa, ketika beberapa peneliti memperlakukan observasi partisipan sebagai sinonim untuk etnografi (Bow, 2002), dalam partisipasi studi sekarang ini adalah diperlakukan sebagai teknik yang bisa digunakan untuk mengumpulkan data. Metode ini dinyatakan dalam cara ini dengan tujuan untuk membedakannya dari metode “observasi partisipan”. Penulis mengambil posisi dari pembedaan antara istilah “teknik” dan “metode”. Yang pertama harus berarti prosedur spesifik yang digunakan untuk mengumpulkan atau menganalisa data. Yang terakhir seharusnya berarti aturan-aturan umum yang mengatur pelaksanaan prosedur ini.

Menurut Saule (2002:180-181), terdapat tiga implikasi untuk melaksanakan etnografi dalam paradigma konstruktivis, yang kesemuanya telah dinyatakan dalam bagian sebelumnya. Konstruktivis, pertama, menerima bahwa sebuah teori tidak bisa memenuhi dan secara kategori menjelaskan sifat fenomena yang ada. Yaitu, karena realitas yang ada hanya dalam pikiran dari masing-masing individual, dan masing-masing persepsi individual dari realitas akan jadi majemuk. Kedua, konstruktivis menyadari bahwa peneliti tidak bisa jadi obyektif dan untuk alasan ini mereka membuat pengaruh potensial mereka pada penafsiran fenomena eksplisit dalam teks etnografi, ini memungkinkan pembaca teks untuk memiliki sebuah pemahaman latar belakang dan posisi peneliti. Ketiga, konstruktivis mempercayai bahwa hanya melalui interaksi peneliti dengan yang diteliti dimana sifat konsep sosial bisa diuraikan. Ini sejalan dengan penelitian etnografi karena etnografer diketahui berpartisipasi secara langsung dalam setting dimana orang dan aktifitas dibawah studi berdampingan.

 

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam studi YAS dan KW ini menggunakan 4 teknik etnografi:

  1. Observasi-terselubung mengenai sebuah komunitas virtual;
  2. Peran partisipan dengan penelitian dalam komunitas virtual serupa lainnya;
  3. Wawancara semi-terstruktur secara online dengan partisipan reguler;
  4. Wawancara semi-terstruktur face-to-face dengan informan kunci.

Temuan yang diperoleh melalui metode ini ditriangulasi untuk membantu dalam membentuk kepercayaan dari hasil penelitian (Bow, 2002; Maxwell, 1996; Lincoln dan Guba, 1987).

Artikel ini memfokuskan hanya pada partisipasi dan teknik observasi-terselubung:

  1. Sebagai seorang pengamat tersembunyi dalam komunitas pertama, peneliti memastikan bahwa aktifitas biasa komunitas dan perilaku alami mereka tidaklah dipengaruhi (Angrosino dan Mays de Perez, 2000; Locke, Spirsudo, dan Silverman, 2000).
  2. Peneliti sebagai pengamat-tersembunyi juga menjamin bahwa tidak ada distorsi pada penemuan penelitian karena kebingungan dari perannya (yaitu, anggota atau peneliti) (Glesne, 1999; Paccagnella, 1997).
  3. Tidak-berpartisipasi menghindarkan peneliti dari kedekatan secara emosional dengan partisipan; sehingga memungkinkan dia untuk berkonsentrasi pada observasinya.
  4. Menurut literatur, menjadi pengamat dan seorang partisipan dalam waktu yang sama melibatkan dua peran tersendiri, dimana peneliti bisa jadi tidak bisa mencapainya secara berhasil (Tedlock, 2000; North, 1994; Lincoln dan Guba, 1987).
  5. Terdapat keuntungan yang menonjol dari peneliti ketika menjadi seorang partisipan dalam sebuah komunitas virtual yang serupa tetapi berbeda. Menjadi seorang partisipan adalah cara terbaik untuk memahami orang-orang (Suler, 1999). Dalam komunitas dimana dia adalah partisipan, peneliti bisa untuk berhubungan dengan anggota komunitas, memikat dirinya sendiri dalam beragam situasi dan ambil bagian dalam aktifitas komunitas beragam. Ini memungkinkan dia untuk memahami, secara mendalam, kultur komunitas dan mendapatkan wawasan ke dalam persepsi anggota komunitas. Partisipasinya juga memungkinkan dia untuk melaporkan persepsinya mengenai pengalaman virtualnya, yang dianggap sangat penting bagi penemuan penelitian menurut Lincoln dan Guba (1985), Markham (1998), Marshall dan Rossman (1999) dan Locke et al (2000).

 

Tentang Komunitas Virtual Saudi

  1. Komunitas virtual ini merupakan forum berbasis web diskusi publik asinkron, yang bertempat di salah satu website[2] internet provider di Saudi (website ini mulai beroperasi sejak Maret 1997, dua tahun sebelum internet diperkenalkan secara resmi di Saudi).
  2. Pada tahun 2000, mencapai jumlah ratusan ribu pengguna.
  3. Menggunakan internet: web, email, chat, dan MSN Messenger.
  4. Tidak ada biaya langganan, cukup menggunakan user name dan password.
  5. Digunakan oleh 45% perempuan Saudi.
  6. Sebagian besar anggota aktif dalam komunitas menganggap forum sebagai komunitas “riil” (lihat kutipan 1).
  7. Mengijinkan laki-laki dan perempuan Saudi saling berkomunikasi (termasuk pembicaraan-pembicaraan yang ditabukan di dunia nyata), yang tidak dapat dilakukan di dunia nyata (offline).
  8. Para anggotanya rata-rata menjadi ”ketagihan” atau mengalami ketergantungan pada komunitas virtual (lihat kutipan 2).
  9. Beberapa anggota komunitas virtual, dalam melakukan komunikasi, memiliki kecenderungan melakukan komunikasi mengelompok (grouping, mojok). Beberapa di antaranya menjadi intim dan terlibat pembicaraan tentang cinta (lihat kutipan 3), tentang hal-hal yang berbau cabul (lihat kutipan 4). Grouping ini lebih lanjut berkembang menjadi basis kekuatan para anggota untuk saling bertahan dan melindungi kelompok kecilnya dari kelompok lain.
  10. Perluasan hubungan online ke wilayah offline, dunia nyata (lihat kutipan 5).

 

Kutipan 1:

Al-Anood, seorang partisipan wanita, yang menyatakan perasaannya pada komunitas dan anggotanya, membuat poin ini:

”Pada forum bahwa saya merasa bahwa ini adalah bagian dari eksistensi saya dan perasaan saya pada anggotanya keramahan dan cinta, hal-hal yang tidak mengijinkan saya untuk menulisnya di forum lain, saya mendekati anda dengan semua rasa terimakasih dan cinta. Forum ini adalah seperti rumah yang berisi antara dinding-dindingnya seseorang yang hatinya setia dan yang jiwanya bersahabat” (jurnal Observasi, Minggu 15, 24 Oktober, 2001).

 

Kutipan 2:

Thamer, seorang partisipan pria, yang menjelaskan bagi partisipan pria lainnya seberapa sulit untuk meninggalkan komunitas ini, menggambarkan hal ini:

”Masalahnya adalah bahwa saya jatuh cinta dengan komunitas ini. Saya merasa bahwa saya adalah salah satu anggotanya. Saya menghargainya. Dan setiap waktu saya memperketat tas pinggang saya (berarti mencoba pergi), saya menemukan diri saya tertahan, jadi saya membawa kembali tas pinggang saya. Saya tidak bisa. Dan saya menemukan banyak orang menghentikan saya (untuk pergi)”. (Jurnal observasi, Minggu 7, 18 Mei 2001).

 

Kutipan 3:

Hamid, seorang partisipan pria, yang menanyakan ketidak hadiran teman wanitanya:

(nama dihilangkan) ”…ketiadaanmu semakin lama. Dan kerinduanku padamu sangat besar… Kami rindu untuk hari ketika mata kami mendapati tanganmu menulis. Apakah hari itu akan datang segera?” (Jurnal Observasi, Minggu 34, 28 Maret, 2002).

 

Kutipan 4:

Ahlaam, wanita berusia tiga puluh empat tahun yang menggunakan “pria” sebagai metafora untuk ketidak-bisa-tiduran:

”Dan ketidak-bisa-tiduranmu masih menciumku. Saya telah terbiasa dengan ciuman panjang dan bodohnya. Dan saya terbiasa ketika dia membawa saya dengannya. Ketika dia datang dia membuka lengan kukuhnya padaku. Dia memelukku dan melingkarkan lengannya di tubuhku. Dia menciumku dan memperlama ciumannya. Saya berusaha untuk keluar dari pelukannya tetapi saya tidak pernah berhasil. Selalu dia lebih kuat dan memiliki tangan yang lebih panjang yang menarik saya padanya sebelum saya pergi”. (Jurnal Observasi, Minggu 24, 3 Januari 2002).

 

Kutipan 5:

Wafa, partisipan wanita, ketika membicarakan partisipan wanita lainnya, berkata:

“Hei, lihat seperti saya memenangkan kamu atas hahahaha (tertawa) Saya akan memberitahumu mengapa ketika kita bertemu malam ini Ok!” (Jurnal observasi, Minggu 5, 29 April 2001).

Al-Wafi, seorang partisipan wanita, berbagi perasaannya setelah rapat offline-nya dengan beberapa peserta dari Jeddah:

”Perasaan sensasional yang saya dapatkan setelah bertemu denganmu adalah sulit bagi manusia untuk menggambarkannya atau menyatakannya, tetapi saya selalu mengulangi bahwa ini adalah kesan kepemilikan, ya, kesan kepemilikan pada sesuatu adalah perasaan menakjubkan yang bisa memberikan pembenaran” (Jurnal observasi, Minggu 25, 12 Januari 2002).

Etika

  1. Perekaman, analisa dan pelaporan isinya, di mana terdapat perlindungan terhadap identitas individual, namun bukanlah merupakan pelanggaran etika jika melaksanakan penelitian dalam lingkungan virtual (Ess, C. AoiR Ethics Working Committee 2002; Eysenbach dan Till,2001; Glesne, 1999; Paccagnella, 1997; Frankel, 1999:King, 1996).
  2. Persetujuan etika untuk studi ini diberikan dari Etika dalam Human Research Committee di Charles Sturt University sebelum studi dimulai. Aplikasi untuk persetujuan etika adalah konsisten dengan standard untuk rangkaian penelitian etika yang ditetapkan oleh Charles Sturt University.

 

Teknik Observasi

  1. Tidak terstruktur

Pada awal penelitian (pertengahan Maret 2001 dan pertengahan Juli 2001), proses observasi adalah sedikit tidak terstruktur. Peneliti selama tahap ini memasuki forum secara reguler tetapi dengan sebuah pandangan luas. Dia melihat pada acara-acara, aktifitas-aktifitas, dan perilaku-perilaku yang menonjol dalam forum dan merekam catatan lapangannya dalam sebuah jurnal. Observasinya dipengaruhi oleh apa yang dilaporkan dalam literatur sekarang pada komunitas virtual (lihat Jones dan Kucker, 2001; Preece, 2000; Rheingold, 2000; Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999; Holmes, 1997; Jones, 1997; Turkle, 1995). Tahap yang tidak terstruktur memungkinkan peneliti untuk menjadi lazim dengan kultur komunitas virtual, sejarahnya, orang-orangnya, dan sifat aktifitas mereka. Selama tahap ini juga peneliti mencatat sifat-sifat menonjol dalam komunitas, dan membuat sebuah daftar pemeriksaan dari kategori observasi untuk penggunaan dalam tahap selanjutnya.

 

Tabel 1 menetapkan beberapa kategori ini (urutan tidak penting).

 

Pengelompokan Bertemu offline Pembagian informasi Agama Persahabatan
Sejarah Berapi-api Pujian/ salam Penyingkapan Status
Trivia Kultur offline Humor Kecabulan Hubungan cinta
Pengaruh relijius Rasa malu Mempertahankan teman Waktu yang dihabiskan Keintiman
Respek Diskusi intelektual Dukungan emosional Komitmen Atmosfer keluarga
Reputasi Penggunaan aksen Salah paham Menunjukkan nama asli Perhatian

Tabel 1: Kategori observasional yang dikembangkan dalam tahap tak terstruktur

 

  1. Terstruktur

Dalam tahap terstruktur, observasi terkonsentrasi utamanya pada kategori-kategori, beberapa darinya, yang ada di daftar diatas. Selain itu untuk mencatat observasi mengenai topik-topik yang sehari-hari ditempelkan pada forum, peneliti juga menulis reaksinya sendiri, refleksi dan penafsirannya mengenai observasinya. Melakukan ini membantunya mengatasi masalah subyektivitas (dari seorang pengamat tunggal) di mana dia, pada tahap akhir penelitian, melakukan kompensasi dengan menggunakan triangulasi dengan data dari teknik lain seperti wawancara. Komentar-komentar yang mengandung wawasan pada perilaku partisipan atau yang menarik, disalin dan diterjemahkan secara instan dalam dokumen yang sama.

 

Menjadi Partisipan

  1. Untuk mempermudah perbandingan data, situs di mana peneliti harus bertindak sebagai partisipan diperlukan seserupa mungkin dengan situs yang diobservasi. Untuk mencapai hal ini, peneliti menggunakan mesin pencari khusus yang mendaftar sebagian besar forum di negara itu (ditemukan sebanyak 176 forum), dan selanjutnya menyeleksi beberapa untuk observasi sejenak, membandingkan mereka dengan situs dimana dia telah melakukan observasi-tersembunyi.
  2. Selanjutnya peneliti bergabung dengan dua situs dan berpartisipasi selama beberapa hari sebelum memutuskan yang mana yang akan dipilih. Selanjutnya dia menghentikan partisipasi dalam satu situs dan melanjutkan dengan situs lain untuk sisa periode delapan bulan partisipasi.
  3. Peneliti mencatat catatan lapangan harian dalam sebuah jurnal serupa untuk yang digunakan dalam forum yang diamati secara diam-diam tetapi dalam kasus ini mereka adalah mengenai pengalaman virtualnya sendiri (menjadi seorang anggota) yang termasuk reaksi-reaksinya, refleksi-refleksi dan penafsiran-penafsiran.
  4. Proses partisipasi dan pencatatan catatan lapangan mengambil dua hingga tiga jam setiap hari tetapi kadangkala ini membutuhkan lima jam, bergantung pada jumlah topik baru dan volume jawaban bagi topik-topik peneliti atau topik-topik baru yang ditunjukkan oleh partisipan lainnya.

 

Analisis Data

  1. Data dari empat teknik berbeda, termasuk dua yang dibahas disini, dianalisis ketika mereka dikumpulkan. Catatan lapangan observasional dan partisipasi harian dicatat dalam MS Word dan disimpan sebagai dokumen RTF, dengan sebuah dokumen tunggal yang mencakup satu minggu catatan lapangan. Contohnya, Obsv_W2_03_05_05.doc mewakili catatan lapangan observasional yang dikumpulkan dalam minggu kedua yang dimulai pada 3 Mei 2005.
  2. Pada akhir masing-masing minggu, dokumen RTF ini diimpor ke NVIVO (sebuah paket software untuk mengelola data kualitatif) untuk analisa. Ini berarti bahwa analisa catatan lapangan adalah dilakukan pada basis mingguan. Catatan lapangan observasional dan partisipasi dibaca pertama dan kata kunci (dalam masing-masing dan setiap line) yang mencakup ide-ide tertentu, ditandai. Tema berikutnya berdasarkan pada kata kuncinya dibuat dan diubah ke dalam mode-mode dalam NVIVO. Selain fakta bahwa mode-mode ini mewakili tema-tema yang berkembang, mereka juga menyimpan semua data yang berkaitan dengan tema khusus untuk semua dokumen mingguan. Akhirnya muncul strukturisasi lebih lanjut atau pengaturan mode-mode ke dalam kelompok-kelompok dan kategori-kategori berdasarkan pada konsep umum penelitian yang mereka agendakan. Tahap terakhir ini (proses kategorisasi) adalah iteratif, emergent dan iteratif.

 

Temuan dalam Penelitian YAS dan KW

  1. Perluasan hubungan pada media telepon atau tatap muka menyatakan bahwa komunitas virtual tidak selalu tetap hanya online, tetapi bisa jadi menjadi setting offline. Ini adalah penting untuk dicatat bahwa, ketika partisipan pria dan wanita mengakui melakukan komunikasi lintas jender melalui email, chat dan MSN Messenger, tidak ada bukti yang cukup yang menyatakan bahwa partisipan pria telah bertemu tatap muka dengan wanita dari forum. Pembauran orang dewasa yang bukan ”muhrim-nya” ini (dari jenis kelamin yang berlawanan) adalah dianggap salah dalam Islam, dan masyarakat Saudi khususnya, tidak menyetujui dan mentoleransi aktivitas ini. Untuk alasan ini, mungkin, partisipan tidak mengakui/ menerima untuk bertemu tatap muka dengan jenis kelamin yang berbeda.
  2. Grouping, tidak hanya secara sederhana didasarkan pada minat atau pengetahuan umum, tetapi lebih pada hubungan offline yang telah dibuat anggota setelah mereka bertemu dan mengenal satu sama lain online. Contohnya, anggota kelompok X, yang secara reguler bertemu di Riyadh, berbeda dalam hal kapasitas intelektual, gaya menulis dan minat, sekarang mereka mewakili sebuah kelompok kuat.

 

Kesimpulan

  1. Observasi terselubung dan partisipasi telah terbukti efektif dalam penelitian komunitas virtual di Saudi Arabia. Selain biaya rendah mereka, kecepatan hasil, dan kemudahan akses pada sebuah area geografi yang lebih luas dan dari kenyamanan kursi peneliti, ini adalah jelas bahwa mereka memungkinkan peneliti untuk memberikan penemuan yang dalam dan kaya dalam gambaran. Melakukan observasi-tersembunyi dan partisipasi pada dua komunitas virtual yang berbeda, tetapi serupa menghindari peneliti mengganggu aktifitas biasa komunitas dan perilaku alami dan memperkenalkan distorsi pada penemuan penelitian karena kebingungan perannya.
  2. Melakukan studi pada komunitas virtual dalam paradigma konstruktivis memungkinkan peneliti untuk menggali komunitas ini dalam konteks kultural mereka sendiri. Lensa teori konsep pribadi dan sosial telah terbukti berguna untuk pemahaman komunitas virtual dibawah studi. Teori konsep sosial berguna untuk memahami bagaimana anggota secara kolektif berlaku online. Contoh, teori ini berguna untuk pemahaman mengapa partisipan secara umum tidak melawan nilai-nilai kultural dan bertemu dengan jenis kelamin berbeda offline sebagai hasil komunikasi mereka dalam komunitas virtual. Di sisi lain, teori konsep personal adalah berguna untuk memahami cara anggota secara pribadi membentuk kesan komunitas mereka dan persepsi mereka mengenai keberadaan orang lain. Contohnya, teori ini memungkinkan peneliti (penulis pertama) untuk memahami realitas yang dia bentuk sendiri mengenai pengalaman virtualnya dan melaporkan persepsinya mengenai hal itu dalam teks.
  3. Penggunaan metode penelitian kualitatif untuk studi ini yang diberi pedoman oleh sebuah kerangka kerja interpretive juga terbukti tepat. Menggunakan etnografi dalam paradigma konstruktivis memungkinkan pelaksanaan observasi-terselubung dan partisipasi dalam cara yang menghasilkan hasil yang dalam, bermakna dan kaya sifatnya. Ketika sebuah metode penelitian kuantitatif digunakan, penemuan akan jadi faktual dan superficial. Penggunaan sebuah survei oleh kuisioner yang diisi-sendiri, contohnya, untuk penelitian tidak bisa memberikan gambaran kaya seperti yang ditunjukkan oleh observasi dan partisipasi.***

_______________

[1] Dampak komunitas virtual pada kehidupan off-line orang, merupakan subjek yang secara serius kurang diteliti, bahkan di dunia Barat (Dodge dan Kitchin, 2001; Jones dan Kucker, 2001).

[2] Pada waktu observasi, halaman utama dari forum berisi link-link untuk topik yang baru dipasang. Entry (masukan) diatur menurut tanggal di bawah satu sama lain dari yang paling baru hingga paling lama. Link-link kecil pada halaman utama bisa membawa pengguna pada topik yang paling lama yang ada di halaman lainnya. Selanjutnya pada judul topik adalah nama panggilan penulis topik dan sebuah gambar yang menunjukkan berapa kali topik itu dibaca. Ketika angka ini besar, ini diobservasi bahwa lebih banyak pembaca tertarik pada topik, kemungkinan karena mereka menganggap hal itu menarik atau penting.

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *