Cyberspace Dalam Kajian Sosial Politik Untuk Memahami Realitas Sosial Kontemporer

Posted on

hidup-di-era-cyber-200x135 Cyberspace Dalam Kajian Sosial Politik Untuk Memahami Realitas Sosial KontemporerCyberspace dalam perdebatan sosial budaya, politik dan ekonomi. Kajian cybernetic yang update untuk memahami realitas sosial, budaya dan politik: Cyber-Society, Cyber-Technolgy, Cyber-Politics-Cyber-Democracy, Cyber-Culture, Cyber-Economics, sepertinya membawa konsekuensi akan telaah ulang atas teori-teori sosial (dan politik) yang telah kita kenal. Jhon Armitage, telah membuka “perkara” ini dalam buku yang dieditorinya bersama  Joanne Roberts, Living With Cyberspace: Technology & Society in the 21st Century (2002). Sambil mengenang Nicholas Zurbrugg, seorang teoritikus cyber, Armitage, dalam buku tersebut mengusung pemikiran Castells, bahwa ‘space of flows’ (arus ruang) cenderung mendominasi ‘space of places’ (ruang tempat). Dan beberapa gagasan cyber-sosial lain yang menarik.

Kontribusi utama yang dicapai dari perembukan konseptual dan praktis mengenai teori cyber  ini adalah penemuan bahwa dengan kita  hidup di Cyberspace, pada dasarnya kita hidup dengan  sejumlah resiko teknologis di dalam konteks ‘social imaginary ‘ dan signifikansi-signifikansinya.  Dengan demikian, gagasan utama dan masalah utama teori cyber di  abad-21 ini, seperti ‘battlespace’, ‘E(electronic)-democracy’ dan ‘cybereconomy’, adalah terutama  menyangkut penilaian ulang (reappraisal)  terhadap teori-teori ‘masyarakat informasi’ serta  pemetaan terhadap  teritori baru cybernetic (new cybernetic territory) seperti ‘military-industrial-media-entertaintment network’, ‘cyberadvocacy’ , ‘E(electronic) –commerce, dst.

Armitage dan Joanne Robert, keduanya editor buku ini menegaskan:

“Given such cyber theoritical and empirical threats and opportunites there is an urgent demand for a continuing multidisiplinary exploration of the sometime insecure yet often reassuringly real and imaginary borders between cyberspace and everyday life, between technology and its social significant.” (pg 2) (Mengingat ancaman dan peluang cyber secara  teoritis maupun empiris, ada kebutuhan mendesak untuk terus mengeksplorasi secara multidisipliner perbatasan nyata maupun imajiner yang  kadang-kadang tidak aman namun sering meyakinkan  antara dunia maya dan kehidupan sehari-hari, antara teknologi dan significansi sosialnya).

 

Pokok-Pokok Pikiran:

Cyber Society

Masalah pokok yang dibahas  pada bagian pertama ini adalah apa kaitan antara konsep ‘masyarakat informasi’ dengan ‘masyarakat cyber’?  David Lyon membahas apa sajakah yang menjadi kontradiksi dari ‘masyarakat informasi’, dan bagaimana  Cyberspace benar-benar melampaui ‘masyarakat informasi’.  Franks Webster, di sisi lain membahas tawaran pembatasan dan pilihan yang secara kontradiktif ditawarkan oleh Cyberspace.  Menurutnya, sulit memahami bagaimana masyarakat yang miskin tekonologi dapat menciptakan masa depan sendiri, saat kita terkunci di dalam peran subordinasi oleh system pasar global yang kuat dan efektif.

Artikel berjudul “Cyberspace; Beyond the Information Society” oleh David Lyon berangkat dari keyakinan bahwa  konsep Cyberspace  masih terus significant. Apa yang dibayangkan William Gibson dalam potret dystopian[1] tentang Cyberspace dalam novel Neuromancer, yang dewasa ini lebih difahami dalam istilah utopian[2].

Signifikansi Cyberspace didorong oleh pengalaman cyberspatial,[3] yang terus dipromosikan produk-produk teknonology serta kapasitasnya yang  mengikis rintangan-rintangan lama dan dianggap telah menciptakan kebebasan individu. Di Negara seperti Finlandia dan Malaysia, fitur Cyberspace bahkan disandingkan dengan program-program perubahan social yang positif.

Tetapi, apakah Cyberspace benar-benar membawa kita melampaui ‘masyarakat informasi’, konsep yang masih disukai beberapa tahun belakangan?

Lyon menyarankan bahwa pengalaman cyberspatial dan program perubahan positif, harus menyuplai lebih dari sekadar redefenisi konsep masyarakat ‘post-industrial’ dan ‘masyarakat informasi’ yang berasal dari tahun 70-an dan 80-an.

Istilah ‘masyarakat industri’ atau ‘masyarakat kapitalis’ telah dipakai para sosiolog selama beberapa decade abad 21, walaupun saling bersaing (contested). Di tahun 1980-an muncul gagasan “information society’ (masyarakat informasi)[4] dan segera menelorkan beberapa konsep dekatnya seperti ‘knowledge-based economies’ (ekonomi berbasis pengetahuan) dan  di tahun 90-an muncul ‘network society’ (masyarakat jaringan).

Pendekatan baru terhadap gagasan masyarakat post-industry  dan masyarakat informasi, dan khususnya Cyberspace, adalah mengekplorasi apa yang diungkapkan kepada kita mengenai transformasi social dan budaya. Yang paling depan dari transformasi ini adalah  bahaya yang muncul dari salah pengertian atas formasi-formasi social baru di era revolusi teknologi informasi dan komunikasi.  Menurut Armitage dan  Roberts,  tulisan David Lyon ini  dapat dianggap sebagai pelopor terhadap penemuan Cyberspace oleh sosiolog yang mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sosio-politik, moral dan budaya melalui analisis asal muasal dan dampak Cyberspace.

 

Cyberspace, seperti halnya ‘information society’, adalah sebuah konstruksi, sebuah produk imaginasi, yang coba digunakan untuk  menangkap beberapa fitur significant dunia saat ini. Untuk itulah pemahaman sosiologis diperlukan,  tidak hanya akan mengindikasikan asal-usul social  serta konsekuensi-konsekuensi social teknologi komunikasi dan informasi, tetapi juga menunjuk pada pertanyaan-pertanyaan politis, moral dan budaya yang muncul, didorong  oleh information society dan Cyberspace.

 

Cyberspace mempunyai banyak ambiguitas, paradok dan kontradiksi. Ini dapat ditelusuri dari perdebatan mengenai masyarakat informasi, walaupun  Cyberspace sekarang tampil lebih sebagai pengalaman cultural. Cyberspace  bukanlah semata produk dari beberapa teknologi baru, tetapi juga produk  postmodernitas.

 

Teori masyarakat Informasi dimulai dengan apa yang diduga sebagai revolusi teknologi dan bergerak dari sana ke analisis perubahan struktur pekerjaan menuju ke eksplorasi terhadap aliran informasi, teknologi, financial dll. Studi mengenai Cyberspace dimulai dari pertanyaan tentang aliran (flows). Dimensi spatial adalah bukti dari kata Cyberspace itu sendiri, dan banyak terbuat dari virtuality of space dan realitas cyber. Jika saya mengakses Bank melalui internet, atau melakukan teleconfrens dengan orang lain di lebih dari satu tempat, apakah  yang dilakukannya untuk pengalaman pre-electronic saya, berada di sini daripada di sana?.“…it is crucial to recall that cyberspace can be experienced only by embodied persons positioned in locales. Cyberspace and virtuality do not just operates through and across space, they are irreducibly spatial phenomena.” (page 24).(sangat penting untuk mengingat bahwa dunia maya hanya bisa dialami  oleh orang yang terwujud,  yang diposisikan di lokasinya. Cyberspace dan virtuality tidak hanya beroperasi melalui dan melintasi ruang, keduanya adalah  fenomena spasial yang tak teruraikan).

 

Modernitas sendiri mungkin bisa ditafsir pada satu level sebagai upaya sukses untuk mengontrol ruang, untuk mengatur teritori (wilayah). Tetapi secara elektronis memungkinkan aliran mengambil lebih jauh, mengikis penanda  jarak temporal dan batasan fisik. Dalam terminology Paul Virilo, perbedaan antara here (di sini) dan there (di sana) tidak lagi berarti apapun.  Di jaman ini,  kecepatan komunikasi memutus (disconnect) kelompok tertentu secepat ia mengkoneksikan yang lainya. Komunikasi memproduksi polarisasi, bukan homogenitas desa global.

Kontribusi paling nyata dari teknologi komunikasi dan informasi terhadap globalisasi  adalah menghidupkan dalil  ‘the death of distance’ (matinya jarak), tetapi hal ini tetap ambigu. Castells memperlihatkan bahwa ‘space of flows’ (arus ruang) cenderung mendominasi ‘space of places’ (ruang tempat).

Frank Webster dalam artikel berjudul Cybernetic Life: Limit to Choice  membahas tiga fenomena, yang menurutnya kontradiksi namun saling berhubungan. Pertama, persepsi bahwa sekarang seseorang dapat menentukan seperti apa hidup yang diinginkan. Kedua, jaminan bahwa tidak ada fondasi di mana seseorang dapat membangun kehidupan yang baik (good life). Ketiga, keyakinan bahwa tidak ada alternative kecuali berkompromi dengan cara dunia.

Terlalu banyak pemikiran kontemporer, khususnya element yang berkaitan dengan cyberculture dan teknologi baru, merayakan kemungkinan penemuan diri (self-invention), sementara  berpaling dari dimensi-dimensi tekno-kapitalis yang membatasi, dan bahkan menentukan, bagaimana orang hidup hari ini.

Meminjam istilah Manuel Castell, orang-orang berinteraksi atas (interacted upon) dan bukannya berinteraksi (interacting) di dalam abad informasi. Mereka penerima dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh mereka yang memiliki akses terhadap dan privilej atas modal, pendidikan, pengetahuan, dan tentu saja teknologi di dalam jaringan global.

Mengutif Cees Hamelink:

  • Seperempat populasi dunia tidak menikmati pertumbuhan ekonomi.
  • Dari 174 negara anggota PBB, 89 lebih buruk kondisinya dari beberapa decade sebelumnya.
  • Dari 358 milioner top dunia, adalah setara dengan income dari 45 persen penduduk dunia.
  • Lebih dari satu juta penduduk tidak bisa mengonsumsi air bersih
  • Hampir 1 milyar anak-anak buta huruf.

Sulit memahami bagaimana orang-orang yang miskin teknologi dapat menciptakan masa depan sendiri, pada saat mereka terkunci di dalam peran subordinasi  sistem pasar global yang ganas, kuat serta efektif.

Webster dalam tulisan ini mencari sebuah solusi terhadap masalah-masalah bioteknologis dan sosio ekonomi yang  tampil dari kemunculan dan kumandang Cyberspace.

Melalui analisis terhadap kontradiksi secara biologis dan politis, yang terimplikasi dalam penciptaan diri (self-creation) dan pemeliharan ‘hidup baik’ yang tidak terautentifikasi di abad ke 21, Webster mempertanyakan keyakinan yang menyebar bahwa ‘tidak ada alternative kecuali kompromi terhadap cara dunia’.

Gejolak yang dieksplorasi Webster melalui pemeriksaan terhadap fungsi “hidup baik” merupakan peringatan terhadap bahaya penciptaan diri dan kontradiksi yang terhadap melalui perubahan yang terus menerus dalam system pasar global.

Bagaimana individu dapat terlepas dari keterbatasan menuju pilihan-pilihan. Webster menghubungkan aspek teori sosial yang conserned dengan cyberculture dengan cara ITC mengkomunikasikan perayaan perasaan yang  mencerminkan kemungkinan penemuan diri.  Dia juga menghubungkan ini ke ditinggalkannya dimensi-dimensi techno-kapitalisme yang menghalangi – dan bahkan menentukan – bagaimana orang hidup hari ini.

 

Jhon Armitage dan Joanne Roberts dalam artikel berjudul “Chronotopia”,  mengeksplorasi istilah chronotopia, dengan coba menggambarkan sejumlah ketakutan akan kecepatan (speet) yang ditawarkan Cyberspace.

Armitage Dan Roberts memeriksa signifikansi sosial dan kecepatan dan ruangnya. Mereka menyajikan analisis terbaru mengenai  utopia kecepatan dan ruang temporal, sebagaimana digambarkan dalam khayalan sosial, bisnis kontemporer yang populer, techno-sosial dan literatur politik dunia maya serta teori sosial.

Dalam kontribusi yang membangkitkan sejumlah kecemasan sebagaimana digarisbawahi oleh Frank Webster, penulis ini menyayangkan keseragaman berkembang biak dari chronotopia di imajinasi sosial. Bagi Amitage dan Roberts, percepatan ekses spasial hipermodern dapat mengakibatkan  penindasan sosial pada saat elit kinetik global  mencari dunia yang bebas dari gangguan.

Elit kinetic global adalah sekelompok orang yang menguasai teknologi informasi, yang secara eksklusif merancang, memproduksi, dan menyebarkan produk teknologi informasi.

Armitage dan Roberts lebih jauh  memperingatkan bahwa, meskipun upaya untuk mencapai chronotopia, ketidaksempurnaan akan bertahan di jalan menuju hypermodernity. Mengambil dari esai fenomenologis Paul Virilio pada pengalaman kacau kontemporer yang mengkhawatirkan  dari kecepatan-ruang dan surplus,  A Landcape of Events,  dan karya  Bauman, Individualized Society,  Armitage dan Roberts mengidentifikasi individu chronodyspobia berpengalaman hipermodern atau exessive. Mereka menyimpulkan dengan elaborasi gagasan zona abu-abu bercerai yang  mereka usulkan sebagai respon dan alternatif darurat umum dari lanskap peristiwa di mana aturan kecepatan di atas ruang.

Kedua penulis berusaha  menunjukkan bahwa masyarakat Cyber adalah masyarakat yang jauh lebih tidak pasti, daripada ketidakpastian dalam bisnis  dan literatur lainnya di dunia maya, yang  ingin kita percaya.

Cyber Culture

Sekarang ini, perbatasan konvensional diantara subjek dan spesialiasi seperti cybernetic dan studi budaya, ilmu politik, hubungan internasiona, studi media dan bahkan filsafat mulai kolaps. Analisis cibernetika dan budaya sudah lebih bersifat politis dan internasional. Misalnya, spesialiasi politik seperti hubungan internasional sekarang mulai mengkaji konfigurasi antara cybernetic dan budaya.  Bagian ini menggabungkan tiga ilustrasi bagaimana hubungan-hubungan antara cybernetic dengan budaya, kehidupan sehari-hari, Cyberspace, teknologi dan masyarakat.

Pada artikel berjudul “Cyberspace as Battlespace: The New Virtual Alliance off Military, the Media and The Entertainment Industry”, James Der Derian, seorang ahli Politik dan Hubungan Internasional asal Amerika Serikat menganalisa dampak perkembangan budaya terhadap Cyberspace yang telah muncul sebagai “battlespace” (ruang pertempuran) terhadap pola-pola transformasi budaya dan konsekuensinya terhadap militer Amerika, media dan industry hiburan.

De Derian berargumen bahwa Militer Amerika tengah bersiap diri untuk perang yang akan bertarung di dalam bentuk yang ditampilkan secara elektronik melalui “real-time networks…actually virtuality.” Bagi De Derian, militer Amerika terlibat dengan “a new form of network warfare, yang muncul dari apa yang disebutnya “virtuous war’. Di sini , slaughter menjadi “distant and discriminate, efficient and ethical”. Namun demikian, perang jaringan adalah juga berhubungan erat dengan figur-figur utama di kalangan militer Amerika dengan Korporasi Virtual  media dan industry hiburan Amerika seperti “Viacom-CBS-MTV-Paramount-Blockbuster-Iwon”.

Der Derian memberinya label  “Militery-industrial-media-entertainment network atau MIME-NET dan menyarankan bahwa hal ini sangat terkait secara krusial dengan perubahan dari ‘geopolitics’ ke ke kecepatan atau ‘chronopolitics’ dan karenanya dengan konfigurasi fundamental dari ruang dan kekuatan melalui jaringan politik berkecepatan tinggi (high-speet network politics) yang muncul di Cyberspace.

Dalam kontribusi untuk memahami chronopolitics, Der Derian mengajukan pertanyaan kritis: apakah manusia adalah  “….relentless as the web, is the face – and the guts – of a virtual future?”

Ia tidak menjawabnya secara gamlang tetapi dengan memberi ilustrasi tetang program ‘beta-network of virtuour war,” dari lembaga yang baru saja dibentuk Institute for Creatives Technologies, karena joint project ini  bertujuan untuk ‘mengumpulkan ahli-ahli, sumber-sumber financial, dan perangkat virtual reality untuk memproduksi  apa yang disebut ‘state-of-the-art military simulation’ (keadaan seni simulasi militer).

Ilustrasi mengenai Proyek Intitute for Creatives Technologies mengekspose  ‘full spectral reach of virtuous war’ (jangkauan spectrum penuh dari perang suci), sama seperti jaringan kerjasama antara Media Amerika dan Industri Hiburan, Militer dan sector Universitas. Militer Amerika beralih dari teknologi perang actual (actual war) ke technology perang virtual (virtuous war).

Misanya, sekarang perang melalui jaringan internet, teknologi drone, tracking teroris melalui internet dst.

Ahli media dan budaya dari Australia, McKenzie Wark dalam artikel berjudul “Codework: From Cyberspace to Biospace, from Neuromancer to GATTACA” menempatkan computer dan kode-kode lainnya di dalam fungsi Cyberspace dan ‘biospace’.  Wark menghubungkan novel sains fiksi Neuromancer dari William Gobson, dengan  karya film futuristic dari Andrew Niccol, GATTACA.

Dalam Novel klasik mengenai ‘the art of living with Cyberspace’,  Neuromancer yang dikarang oleh William Gibson,  seorang yang pertama kali menggunakan istilah Cyberspace, menggambarkan suatu saat Case, salah satu tokoh dalam cerita memelototi beberapa pohon yang serupa tapi berbeda. “Case would have been hard pressed to distinguiseh a pine from an oak, but a streetboy’s sense of style told him that these were too cute, too entirely and definitively treelike”. Pohon-pohon itu bertumbuh tidak natural, tetapi semacam versi sintesa genetic.

 

Neuromancer yang terbit di tahun 1984, pada saat penggunaan internet masih sangat terbatas, namun kekuatan intuisi penulisnya bukan saja mampu memprediksi masa depan, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan saat ini.

Novel ini bercerita tentang Henry Dorsett Case, seorang seorang pengedar narkoba yang beroperasi di kota Chiba Jepang, yang dulunya seorang hacker computer yang berbakat, yang dihukum karena mencuri data majikannya. Sebagai hukuman, system syaraf pusatnya dirusak dengan mikotoksin, sehingga dia tidak dapat lagi mengakses jaringan computer global di Cyberspace, sebuah realitas virtual ruang data (a virtual reality dataspace) bernama MATRIX. Case yang putus asa mencari klinik ajaib untuk menyembuhkan dirinya, diselamatkan oleh Molly Million, seorang samurai dan tentara bayaran untuk seorang mantan perwira militer Amerika, yang misterius bernama Armitage. Molly  menawarkan diri untuk menyembuhkan Case jika bersedia bekerja sebagai hacker  untuk  bosnya.

Film GATTACA dianggap serupa dengan Newromancer, karena juga menemukan kemungkinan-kemungkinan saat ini. GATTACA adalah film fiksi ilmiah yang terbit 1997 ditulis dan disutradarai oleh Andrew Niccol, dibintangi oleh Ethan Hawke dan Uma Thurman. Film ini  menyajikan visi biopunk dari masyarakat masa depan yang didorong oleh eugenika di mana anak-anak potensial dikandung melalui rekayasa genetic, untuk memastikan mereka memiliki sifat-sifat keturunan terbaik orang tuanya. Vincent Freemen (dimaikan Hawke) yang dikandung di luar program eugenika berjuang untuk mengatasi diskriminasi genetic untuk mewujudkan mimpinya melakukan perjalanan ke luar angkasa.

Film ini mengacu pada kekuatiran atas teknologi reproduksi yang memfasilitasi eugenika, dan kemungkinan konsekuensi perkembangan teknologi tersebut bagi masyarakat. Ia juga mengeksploirasi ide mengenai takdir dan cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatur kehidupan. Karakter-karakter dalam film ini menggambarkan pertarungan individu dengan diri dan masayarakatnya untuk menemukan dimana tempat mereka di dunia, dan seperti apa takdir mereka ditentukan sesuai dengan genetika mereka.

Apa yang disebut Biospace dalam GATTACA adalah sama dengan apa yang disebut Neuromancer sebagai Cyberspace. Hal itu membuat  kebijakan jalanan yang melihat apa yang tersembunyi di dalam kode-kode. Dengan membaca, membaca secara dekat, dari karya-karya seni yang mengintuisi kemungkinan-kemungkinan di dunia ini,  kita memperlengkapi diri kita dengan beberapa kesempatan memilih di antara kemungkinan-kemungkinan itu…Inilah yang dapat disebut ‘codewrok’, pekerjaan unrevelling kemungkinan-kemungkinan yang tertangkap dalam kode – dan terbebas darinya.

Dalam Imaginasi popular, gen adalah serupa tulisan dalam alphabet, tanda-tanad dalam kode DNA, yang mana mengeja corak dan bentuk dari organism karena itu adalah programnya. Ada dua bentuk metapora yang memberi pemahaman popular mengenai gen dan bagaimana bekerjanya gen. Satu datang dari programming computer.  Hanya dengan sebuah bug didalam kode computer menyatakan dirinya dalam operasi yang keliru dalam computer yang bermaksud untuk menjalankan program bug-ridden, demikian juga kesalahan operasi dalam tubuh organic dibayangkan mempunya dasarnya didalam bug analog dalam program genetic.

Analogi lain datang dari semiotika, studi mengenai tanda. Di sini analogi dibandingkan dengan kode genetic pada bahasa, dan melihat ungkapan tubuh oleh kode genetic sebagai analog terhadap makna ungkapan dalam teks. Di sini kesalahan dapat dibayangkan lebih estetis dari teknis. Singkatnya, pemahamana popular dari kode genatik umumnya berasalah dari pemahamanan terhadap bentuk-bentuk kode yang lain. Kekuatiran popular terhadap interfensi teknologis terhadap kode genetic, berasal dari ketakutan yang dihasilkan oleh kaitan-kaitan metaporik. Jika ada kode maka masuk akal jika orang kwatir bahwa control terhadap terhadap kode dapat menjadi control terhadap semuanya, khususya dijama kita di mana Informasi telah merasuki kehidupan dalam segala aspeknya.

Ketakutan atas control terhadap bahasa manusia, bahasa mesin, dan kode genetic biologis menyatu menjadi visi paranoid dari cyberspace sebagai biospace. Sebagaimana diangkat dalam film GATTACA.

Khususnya, Wark focus pada peranan dari tubuh manusia (human flesh) di dalam mode menjadi  (becoming) dan pengaruh hal ini terhadap penampilan kita, dan budaya seperti halnya kemampuan kita mengadopsi ‘the art of living with Cyberspace’.

Wark mengusulkan dan menjelaskan signifikansi perkembangan yang secara umum diabaikan dalam perdebatan tentang hubungan antara cyberspace dan biospace; perluasan Cyberspace terhadap very fabric of biological being). Bukan sekedar focus pada “dolly” sapi cloning, Wark mempertimbangkan contoh-contoh dari Cyberspace dan cloning manusia. Memperlihatkan bahwa ada dorongan-dorongan astistik yang sangat substansial dan sangat berpengaruh  dalam perkembangan kontemporer di arena cultural dari teknologi informasi dan komunikasi.

Penulis film GATTACA  melihat apa yang tersembunyi dalam kode, dan Wark membacanya sebagai karya seni klasik  yang romantic untuk kepenuhan kemungkinan yang ada dalam ‘codework” yakni   “the work unraveling the possibilities caught in the code- and existing free of it” (hal 73).

Dalam tulisan berjudul “A is for Animatic (Automata, Androids and Animats”,  Ahli filsafat Australia, Cathryn Vasseleu menawarkan diskusi mengenai animasi atau yang disebutnya  “the art of giving cartoons characters the illusion of life.” Animasi sangat dikenal sebagai seni memberikan karakter karton terhadap ilusi kehidupan dan diapresiasi sebagai bentuk hiburan massal, namun perannya dalam merealisasikan konfigurasi budaya baru belum banyak dipikirkan.

Dengan konvergensi biologi dan cybernetic, para ilmuan bahkan seniman mengambil animasi sebagai metode memodelkan kompleksitas kehidupan yang membentang diantara seni, biologi, filsafat, teknik dan ilmu komputer.

Vasseleu menggunakan istilah animatic, yakni semacam mesin animasi untuk mendiskusikan hubungan animasi dengan automaton ( dan peran sentralnya dalam evolusi di bidang cinema (perfileman).  Animatic sebagai produk teknololgi yang konsern dasarnya adalah penemuan metode yang memungkinkan dihasilkannya fenomena dan sensasi-sensasi yang memperlihatkan dynamika. Dynamika adalah kekuatan yang menghasilkan gerakan yang tidak dapat diprediksi atau dijelaskan berdasarkan prinsip yang sudah ditentukan sebelumnya.  Sistem dynamika memvisualisasi cosmos dalam bentuk energy, gerakan, interaksi, chaos, dan tranformasi, bukan keseimbangan, statis, kejadian yang dapat diprediksi, dan permanen.

Dalam konteks dinamisme ini, animatik memiliki tujuan memunculkan objek dan pengalaman yang di dalam dirinya sendi hidup, dimensional, energik dan animated. “By virtue of this objective, animation is closely aligned with the consep of a “creative spiritual force” (page. 84).

Animatik telah menjadi sebuah agen budaya dalam menghidupkan konsep kekuatan spiritual kreatif, melalui realisasi tujuannya melalui sarana teknologi automata (robot, cyborgs, avatar).

Konsep automaton juga memainkan peran penting dan paradoks dalam konfigurasi kesadaran modern sebagai  ‘autonomous creative force”.

Cyberspace juga memiliki bentuk automata yang penulis sebut sebagai cybernetic automata, yang mencakup semua bentuk dan kombinasi lingkungan fisik dan virtual dan ‘agen’ yang mengandung cybernetic feedback, procedural dan system informasi di dalamnya yang diciptakan dapat beroperasi secara otomatis, terlepas dari keinginan pembuatnya.

Pada titik ini, teknologi otomata dan animasi berada dalam paradox. Sebuah automaton, atau mesin otomatik adalah mekanisme yang dapat mengatur dirinya sendiri, yang memungkinkan menjalankan fungsinya tanpa intervensi manusia.  Automata adalah suatu system berdasar pada mekanisme feedback, yang menggantikan operasi program mesian yang terkontrol.

 

Automaton dan automated action, sunguh membawa banyak inplikasi terhadap system komunikasi dan control. Inilah yang menjadi kekuatiran Friedrick Kitteler yang dikutip penulis:

“We are all being controlled trough our machines, and the more networked machine become, the stricter the mechanisms of control and the safeguards will get.” (hal. 86)

Gendre film animasi yang palong sukses di abad 21 adalah karton animasi. Teknologi animasi telah memunculkan dan menvisualisasikan prilaku dinamis di dalam kehidupan artificial yang dianimasikan dan penggunaannya sebagai metode animasi kehidupan secara artificial.

 

 

 

Cyber Politics

Istilah cyber politics, merangkum sejumlah corak dari produksi kekuatan cybernatik, mulai dari e-democracy, dan Web atau Web-Orchestrated Cyberdemocracy’ ke praktik-praktik mediasi kaum perempuan di cyberspace, serta kemunculan technopower dan cyberfutures.

Bentuk-bentuk kekuatan cybernetic dipengaruhi, ditransmisi dan didistribusikan di dalam cyberspace. Karena itu cyber politic menjadi garda terdapat dalam perkembangan teknologi, politik dan social yang tengah berlangsung di cyberspace.

William H. Dutton dan Wan-Ying Lin dalam tulisan mereka “E-Democracy: A Case Study of Web-Orchestrated Cyberadvocay”,  membahas issu mobilisasi kelompok sebagai factor sentral terhadap ‘sistem pluralis’.  Penulis mengembangkan pendapat bahwa ilmuan politik harus mengakrabkan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar cybernatik untuk mengeksplorasi hubungan-hubungan empiris dantara ITdan political grouping. Dan selanjutnya, cyber-politik secara progresif menginfiltrasi kehidupan sehari-hari, mengeksplorasi peranan cyberdemocrasy yang dapat dimainkan dalam kampanye politik, khususnya pada akar rumput akan semakin penting.

Melalui penelitian yang dilakukan pada kampanye website, yang diberinama ‘public uprising’ di Los Angeles, California disimpulkan beberapa point:

  • Tingkat efektivitas web tergantung pada penggunaan semua media yang ada (all channels), bukan hanya web.
  • Web menciptakan sejumlah saluran alternative untuk menjangkau public, yang memotong peran gatekeeper tradisional (para wartawan dan editor media).
  • Web memungkinan organisasi gerakan dengan cepat dan mendapatkan perhatian public.
  • Web memungkinkan akses lebih mudah dan murah, mengubah konfigurasi jaringan komunikasi, mengubah siapa mengatakan apa kepada siapa.

 

Saskia Sassen dalam tulisan “Mediating Practices: Women With/in Cyberspace” menganalisis bentuk-bentuk budaya dan praktik melalui mana kaum perempuan mengartikulasikan penggunaan cyberspace dengan istilah mereka sendiri.  Sassen berfokus pada dua konsekuensi utama yang muncul dari kenyataan bahwa cyberspace adalah embedded secara social dan politik.

Pertama, bahwa cyberspace di infleksi oleh nilai-nilai, budaya, system kekuasaan dan aturan-aturan isntitusional di mana dia terembedded. Dalam hal ini, Sassen melihat bahwa terembededenya cyberspace itu juga mengandung isu gender dalam beberapa komponennya, dan demikian juga cyberspace itu sendiri.  Jika berfokus pada isu wanita dalam cyberspace itu karena terdapat sangat banyak variasi aspek peng-genderan secara geografis, demokrafi, pendapatan,ras dan etnik serta Negara bangsa.

Kedua, dengan demikian konsekuensi berikut dari cyberspatial yang terembedded, adalah bahwa artikualsi antara cyberspace dan individu – apakah sebagai aktor social, politik, ekonomi- dibentuk dalam teminologi mediasi budaya, bukan sekedar pertanyaan mengenai akses dan memahami bagaimana menggunakan perangkat keras dan lunak teknologi. Karena itu, “mediating cultures are likely to be shaped by gendering as well as by other marking conditions” (hal.96).  Sassen juga memberi perhatian pada masalah-masalah yang muncul dari kompleksitas konsep gender dan subjektivitas perempuan dan laki-laki.

Sassen menyimpulkan: Cyberspace can accommodate a broad range of social struggles and facilitate the emergence of new types of political subjects the do not have to go through the formal political system. (hal. 119).

Kaum perempuan secara historis dipinggirkan dalam system politik formal dan banyak dari perjuangan mereka berlangsung di luar system politik formal, dan Cyberspace menyediakan lingkungan untuk kaum perempuan berjuang dan memunculkan mereka sebagai actor-aktor politik non-formal.

Tim Jordan dalam tulisannya, “Technopower and its Cyberfutures”, mengeksplorasi pertanyaan seputar kekuasaan di cyberspace dengan menggunakan beberapa teori mengenai kekuasaan, terutama dari Max Weber, Barry Barnes dan Michel Foucault.  Jordan menilai, konsepsi kekuasaan individu dan social dari Weber dan juga Foucault dapat berguna secara komprehensif untuk memahami cyberpower dakam konteks sosio-politik.

Jordan mengidentifikasi dua bentuk cyberpower, individual power dan social powers. Hubungan antar keduanya dinilai tengah berkembang kearah control terhadap fabric of cyberspace oleh sejumlah elit digital, yang di saat yang sama harus menyediakan lebih banyak kemungkinan-kemungkinan aksi bagi individu-individu.

Cyberpower social adalah kekuatan dominasi, melalui mana elit yang berdasar pada keahlian di bidang teknologi yang menciptakan cyberspace terus mendapatkan kemajuan dalam kebebasan bertindak, sementara pengguna individual semakin bergantung pada bentuk-bentuk teknologi yang kurang bisa mereka control.

Kemajuan kontrol oleh elit  atas teknologi inilah yang memungkinkan Cybespace tetap eksis, dan untuk menentukan apa yang bisa dilakukan di cyberspace. Namun demikian, control ini juga dipengaruhi oleh permintaan dan kekuasaan individu-individu virtual.  Salah satu trend kunci di dalam Cyberspace adalah pertarungan yang terus berlangsung antara digital elit dan individu-individu virtual.

Hanya jika ketika sarana-sarana social yang membuka nilai-nilai yang tertanam bahwa bentuk-bentuk baru dominasi dari digital elit, dan dalam beberapa kasus berbalik kepada mereka. Perubahan dan perkembangan yang terus terjadi di cyberspace dikondisikan oleh kekuasaan yang saling terkait ini.  Hidup di cyberspace diselimuti dengan bentuk-bentuk cyberpower.

Cyber Economics

Cybernetic dalam konteks masyrakat kapitalis modern maupun postmodern adalah bagian dari hasil transformasi ekonomi yang terus berlangsung.  Pada bagian ini sejumlah penulis membahas sejumlah issu terkait bagaimana pengaruh cybernetic dalam bidang ekonomi.

Ian Miles dalam tulisan “Toward the Cybereconomy: Making a Business Out of Cyberspace”, mengeksplorasi gagasan cybereconomy dalam kaitannya dengan bagaimana prosedur-prosedur bisnis berbarengan dengan operasi-operasi cybernetics.  Menurutnya, tampilan cybereconomy mendemonstrasikan dua hal.

Pertama, semakin pentingnya peranan dari apa yang disebutnya ‘knowledge-intensive servis firm’ dan para pekerjanya dalam membantu melakukan evolusi dari bisnis ini berlangsung dalam konteks ‘knowledge economy’.

Kedua, adalah bagaimana teknologi komunikasi dan informasi digunakan untuk mereorganisasi aliansi-aliansi ekonomi dan mengarahkan ulang prosedur-prosedur bisnis di dalam kerangka ‘information economy’.

Verena Conley dalam tulisan “ Women-Cybercitizens”, membahas manifesto yang secara provokatif dikemukakan oleh Donna Haraway berjudul “Cyborg Manifesto for Socialist Feminism” hampir dua decade lalu, yang mengirimkan pesan yang kuat kepada kaum wanita untuk terkoneksi di Cyberspace dan menanggalkan shakles patriarkcy dan symbol-simbol tradisional.  Dalam hal ini, Conley menekankan spekulasi bagaimana hidup di Cyberspace dari sudut pandang feminism dan ekonomi politik.

Emansipasi Feminis yang terknoneksi secara online di cyberspace sebagaimana gagasan Haraway tidak dapat dilepaskan dari pembebasan secara politis dengan implikasi socialist.  Karena itu, Conley menelusuri mulai dari pemikiran Carl Max, ke  pandangan Engels tentang masyarakat burjois, hingga munculnya tulisan-tulisan feminism yang didorong munculnya pandangan strukturalisme dan pos-strukturalisme, terutama Martin Heideggers dan Michel Foucoult.

Pandangan Marx dalam tulisan mengenai Ekonomi Politik menyatakan bahwa relasi-relasi social diatur oleh hubungan-hubungan ekonomis dan bahwa fungsi-fungsi social adalah berdasarkan hubungan kekuasaan yang umumnya tidak terlihat. Selanjutnya, dalam pandangan Engels, masyarakat borjuis didasarkan pada akumulasi kapitalisme, di mana perempuan dianggap sebagai property kaum laki-laki. Kepemilikan pribadi menghasilkan ketidaksetaraan di antara kelas social dan seks.

Martin Heideggers yang menkritik teknologi sebagai alat control kaum kapitalis atas dunia telah dipakai kaum feminism untuk mempertanyakan representasi mereka dalam masyarakat.   Michel Foucoult yang dalam bukunya Dicipline and Punish yang menelusuri bagaimana proses pendisiplinan subjek dan menemukan bagaimana teknologi represif terhadap tubuh, termasuk grammar dan sintak telah dipakai untuk mengontrol dan membatasi ruang gerak kaum perempuan.

Penulis mengidentifikasi empat point yang akan mentransformasi kehidupan kaum perempuan di jaman yang dipengaruhi cyberspace.

Pertama, bahwa jika simulasi menggantikan representasi maka symbol-simbol hirarkhis akan menjadi sekedar sirkulasi tanda-tanda. Ini juga berimplikasi pada persoalan gender bahkan semua bentuk symbol dalam hubungan manusia. Dengan simulasi, ada proses pembebasan, di mana segala sesuatu dapat dibentuk ulang. Sayangnya, simulasi sebagai pembebasan melahirkan hubungan kekuasaan yang membawa ke bentuk dominasi baru yakni pasar, dan kekosongan jiwa dalam hubungan manusiawi.

Kedua, menghilangnya oposisi antara yang privat dan yang public, di mana ukuran-ukuran sukses dalam system otoritas tradisional seperti pernikahan atau melahirkan anak bagi wanita, dan sekarang beralih di mana ukuran kesuksesan dari penilaian public dan uang. Kaum perempuan harus mengubah orientasinya dari pernikahan, memelihari anak, mengelola rumah tangga, ke peranan dan eksistensi di ruang publik. Melalui Cybermedia, kaum perempuan dapat membuat suara mereka lebih didengar, dan mereka dapat terkoneksi secara global dengan sesame perempuan dan mengajukan pandangan dan hak mereka dengan menekan pemerintah dan perusahan. Namun, kecenderungan menjadi transnasional dapat merusakkan hak-hak sipil yang dijanjikan oleh Negara.

Ketiga, bahwa teknologi baru membawa bentuk-bentuk baru pembebasan sekaligus tekanan-tekanan. Hal ini dapat membawa potensi neo-imperialisme. Kaum perempuan harus waspada sebagaimana dikemukakan Haraway sebagai UN Humanism, memberi sesuatu atas dasar rasa ibah dapat dengan mudah berubah jadi narsis dan kepentingan pribadi. Untuk menghindari tekanan teknologi, kaum perempuan dapat menggantinya dengan simulasi, namun harus tetap menjadi manusiawi, yakni tetap menjaga “jiwa” didalam dunia yang serba digital.

Keempat, kaum perempuan juga sekarang ini membawa ‘dominasi informatik’, dengan mengunakan Cyberspace untuk mencapai tujuan mereka sendiri. Sementara kaum perempuan di Negara maju dapat mengakses dengan muda segala fasilitas, di belahan dunia lain kaum perempuan tidak memiliki kemapuan untuk mengakses teknologi, karena alasan ekonomi atau bahkan karena tabu (larangan adat/agama), atau karena buta huruf.

Penulis berpandangan empat point di atas akan mentransformasikan kehidupan kaum perempuan di abad yang dipengaruhi Cyberspace ini. Penulis mengajukan hipotesa bahwa dengan Cyberspace kaum wanita akan memasuki kenyataan simulasi dan akan meninggalan representasi.  “Women-cybercitizen will hopefully link henceforth with machines to help create and re-create the world” (hal. 155).

 

 

 

Phil Graham dalam tulisan “Space and Cyberspace: On the Enclosure of Consciousness “, membahas makna tentang ‘ruang’ dalam pandangan ekononomi politik dan hubungannya dengan kesadaran mengenai Cyberspace.

Bahwa konsep mengenai waktu dan ruang  telah berubah-ubah dan hilang dalam studi ekonomi politik. Dan jika membahas mengenai ‘ruang’ maka akan merujuk pada hubungannya dengan beberapa aspek seperti tenaga kerja, sewa, sirkulasi waktu dan uang, penyusutan mesin dst.

Konsep terbaru mengenai ‘ruang’ oleh Manuel Castells yang disederhanakan menjadi ‘space of flow’, di mana ruang yang konkret direduksi menjadi bagian dari aspek waktu; ruang adalah ekspresi masyarakat, ruang adalah kristalisasi waktu, ruang adalah material pendukung pembagian waktu dalam praktik social, dst.

Namun konsep ini, menurut Graham mengabaikan apa yang menjadi pondasi dari kapitalisme yang dibangun diatas ruang konkret yang berada independen dari apa yang orang lakukan.  Dalam kapitalisme, ruang itu harus diduduki/dimiliki secara eksklusif. Sebagai contoh tanah. Tanpa kepemilikan pribadi yang ekslusif, kapitalisme tidak ada.

Menurut Graham, defenisi berdasarkan tekno-legal dan politik yang dihubungkan dengan perkembangan kepemilikan pribadi dalam kapitalisme historis tidak dapat dilepaskan dari hubungannya dengan keberadaan hubungan-hubungan social yang berlangsung dalam ruang tertentu. Ia menyarankan bahwa konsepsi manusia terkait dengan pentingnya ruang itu berkaitan dengan gagasan dan pengetahuan mereka mengenai harta, pekerjaan, keluarga, komunitas, kebangsaan, beragam bentuk ruang social dan simbolik lainnya.

Ruang social dan simbolik itu termanifestasikan secara tidak sama dengan ruang kongkret, hal ini karena ruang  geoteknis seperti darat, laut dan udara, bukan hanya tidak ada hubungannya dengan kegiatan manusia di dalam ruang itu, tetapi juga terpisahkan dari pengalaman terbatasi yang mereka rasakan ketika berupaya encroack kegiatan orang lain.

Sementara di dalam apa yang Graham sebut sebagai ‘electrospace’ (spectrum radio) ia mengidentifikasi ada monopoli ruang ekonomi. Dengan demikian electrospace telah menjadi atribut ruang  geoteknis dari Cyberspace dan fluktuasi pengembilan keputusan manusiawi.  Dalam hal ini, Cybrspace telah disiapkan untuk menjadi privatisasi atas semua skala spatial dan tetap tidak akan tidak koheren dengan bank data public seluruh dunia. Jadi bagi Graham, Cyeberspace sebagai global electrospace keseluruhannya merangkul ruang konkret.

Kesimpulan

Setelah membaca keseluruhan tulisan dalam buku ini, ada beberapa gagasan yang menarik perhatian. Bahwa teori-teori kritis tentang Cyberspace membuka mata kita terhadap agenda-agenda, bahaya-bahaya tersembunyi dari konsep dan produk teknologi yang tengah dikembangkan oleh kaum global kinetic elite.

 

  • David Lyon mengatakan Cyberspace  bukanlah semata produk dari beberapa teknologi baru, tetapi juga produk dari postmodernitas yang mengandung banyak ambigu, dan kontradiksi. Di dalam Cyberspace, kecepatan komunikasi memutus (disconnect) kelompok tertentu,  secepat ia mengkoneksikan (connect) yang lainya. Komunikasi memproduksi polarisasi, bukan homogenitas desa global.
  • Frank Webber mengatakan, ada kaitan antara kapitalisme informasi dengan fantasi-fantasi tak terbatas penciptaan diri (self-creation) yang tengah berlangsung dalam budaya cybernetic sekarang ini. Dinamika tekno-capitalisme telah diwarnai perayaan akan kebebasan individu, namun menimbulkan kekuatiran atas pembatasan-pembatasan yang dapat menjelma menjadi pembatasan atas tindakan individu di abad 21.
  • John Armitage dan Joanne Roberts mengingatkan bahwa pandangan utopia tentang kecepatan (chronotopia) yang didominasi oleh kaum elit yang mengusai teknologi dan informasi (global kinetic elit) dapat berubah menjadi dystopia (chronodystopia) atau ‘grey zone of disenggagemen’ di mana kecepatan dan ruang menjadi hantu bagi manusia yang tidak sanggup menjadi bagian karena dapat mengimbangi kecepatan dalam “landscape of event”.
  • Ahli Politik dan Hubungan Internasional asal Amerika Serikat, James De Derian dalam tulisannya menganalisa dampak perkembangan budaya terhadap Cyberspace sebagai “battlespace” (ruang pertempuran), terhadap pola-pola transformasi budaya dan konsekuensinya terhadap militer Amerika, media dan industry hiburan.
  • Menggunakan analisis atas Novel Nowromancer dan Film GATTACA, hli media dan budaya dari Australia, McKenzie Wark menggambarkan kecemasan atas control terhadap bahasa manusia, bahasa mesin, dan kode genetic biologis menyatu menjadi visi paranoid dari Cyberspace sebagai biospace. Khususnya, terutama tubuh manusia (human flesh) yang direkayasa sebagai bagian dari ‘the art of living with Cyberspace’.
  • Cathryn Vasseleu, mengatakan teknologi Animasi sebagai pengembangan dari automaton dan automated action, sunguh membawa banyak inplikasi terhadap system komunikasi dan control. Inilah apa yang menurutnya menjadi kekuatiran Friedrick Kitteler ketika mengatakan, : “We are all being controlled trough our machines, and the more networked machine become, the stricter the mechanisms of control and the safeguards will get.” (hal. 86)
  • William H. Dutton dan Wan-Ying Lin mengatakan, cyber-politik secara progresif telah menginfiltrasi kehidupan sehari-hari. Mereka mengatakan bahwa cyberdemocracy yang dapat dimainkan dalam kampanye politik, khususnya pada akar rumput akan semakin penting.  Namun, tingkat efektivitas web tergantung pada penggunaan semua media yang ada (all channels), bukan hanya web.
  • Saskia Sassen mengatakan, kaum perempuan secara historis dipinggirkan dalam system politik formal dan banyak dari perjuangan mereka berlangsung di luar system politik formal, dan Cyberspace menyediakan lingkungan untuk kaum perempuan berjuang dan memunculkan mereka sebagai actor-aktor politik non-formal.
  • Tim Jordan mengatakan, Cyberpower social adalah kekuatan dominasi, melalui mana elit yang berdasar pada keahlian di bidang teknologi yang menciptakan cyberspace terus mendapatkan kemajuan dalam kebebasan bertindak, sementara pengguna individual semakin bergantung pada bentuk-bentuk teknologi yang kurang bisa mereka control. Kemajuan kontrol oleh elit  atas teknologi inilah yang memungkinkan Cybespace tetap eksis, dan untuk menentukan apa yang bisa dilakukan di cyberspace. Namun demikian, control ini juga dipengaruhi oleh permintaan dan kekuasaan individu-individu virtual. Salah satu trend kunci di dalam Cyberspace adalah pertarungan yang terus berlangsung antara digital elit dan individu-individu virtual.
  • Ian Miles mengatakan, semakin pentingnya peranan dari apa yang disebutnya ‘knowledge-intensive servis firm’ dan para pekerjanya dalam membantu melakukan evolusi dari bisnis ini berlangsung dalam konteks ‘knowledge economy’. Teknologi komunikasi dan informasi telah digunakan untuk mereorganisasi aliansi-aliansi ekonomi dan mengarahkan ulang prosedur-prosedur bisnis di dalam kerangka ‘information economy’.
  • Verena Andermatt Conley mengatakan, empat point yang akan mentransformasi kehidupan kaum perempuan di jaman yang dipengaruhi cyberspace.  Pertama, kaum perempuan akan membuang jauh representasi dan merangkul simulasi. Kedua, perempuan akan menjelma menjadi cybercitizen sejalan dengan menghilangnya oposisi antara yang public dan yang privat. Ketiga, akan terjadi imperialism baru dari kecenderungan bentuk-bentuk pembebasan dan sekaligus tekanan dalam teknologi baru. Keempat,  terjadi dominasi informasi antara kaum perempuan yang memiliki akses teknologi dengan kaum wanita yang tidak memiliki akses, karena alasan ekonomi, tabu, atau karena buta huruf.
  • Phil Graham mengatakan, ada monopoli ruang ekonomi di dalam ‘electrospace’ (spectrum radio. Electrospace telah menjadi atribut ruang  geoteknis dari Cyberspace dan fluktuasi pengembilan keputusan manusiawi.  Dalam hal ini, Cybrspace telah disiapkan untuk menjadi privatisasi atas semua skala spatial, namun tetap tidak akan tidak koheren dengan bank data public seluruh dunia. Jadi bagi Graham, Cyeberspace sebagai global electrospace, secara keseluruhannya merangkul ruang konkret, bukannya mengabaikan.

 

 

Sumber Bacaan: Armitage Jhon and Roberts, Joanne, ed. 2002, Living With Cyberspace: Technology & Society in the 21st Century, Continuum, USA.

______________________________________

Direview oleh Stepanus Bo’do (Universitas Tadulako), dengan penyuntingan oleh WK.

[1] Dystopian konsep mengenai suatu tempat yang kacau yang tidak ideal.

[2] Utopian konsep mengenai suatu tempat yang teratur dan didambakan.

[3] Cyberspatial adalah ruang virtual yang dibuat secara elektronik secara eksklusif dihuni oleh objek-objek maya.  Cyberspatial adalah ruang virtual (wiki)

[4] Daniel Bell dalam bukunya The Coming Post Industrial Society, masyarakat pasca industri atau masyarakat Informasi mulai terbentuk karena adanya pergeseran dalam struktur masyarakat. Ditandai dengan banyaknya masyarakat yang bekerja dalam pelayanan jasa  menggantikan peranan buruh yang bekerja dalam industri.

 

 

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *