Budaya Pop di Indonesia: Mencairnya Identitas Pasca Orde Baru

Posted on

pop-culture-in-Indonesia-200x135 Budaya Pop di Indonesia: Mencairnya Identitas Pasca Orde BaruBuku “Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics” yang dieditori oleh Ariel Heryanto, menggambarkan budaya populer di Indonesia setelah jatuhnya Orde Baru dan kerusuhan politik 1998. Era ini dipercaya sebagai penanda bagi munculnya arus besar perubahan dalam produksi dan konsumsi budaya populer di Indonesia. Melonggarnya belenggu politik dan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan serta perkembangan teknologi informasi menjadi motor penggerak arus besar tersebut.

Krisis ekonomi yang melanda Asia pada tahun 1997 memberikan dampak langsung dan pengaruh negatif pada pemerintah yang tengah berkuasa. Ini pula yang dialami oleh rezim pemerintahan Orde Baru. Jatuhnya rezim Orde Baru secara umum membawa perubahan besar-besaran di Indonesia. Mulai dari sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem budaya dan tatanan kemasyarakatan pun tak luput dari perubahan tersebut.

Selain itu, pertumbuhan industrialisasi di Asia Tenggara sejak tahun 1980-an juga membawa dampak perluasaan konsumsi dan berbagai bentuk baru media semakin menyuburkan budaya populer. Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia  tidak luput dari perkembangan tersebut.

Selama ini budaya populer dianggap sebagai komoditas massal yang hanya menyajikan kedangkalan. Stereotype yang terbangun ini membuat kajian yang menjelaskan perubahan sosial tersebut masih minim. Budaya populer direndahkan sedemikian rupa karena hubungan eratnya dengan kapitalisme. Pembentukan identitas yang berlapis-lapis dan saling bertentangan di Indonesia tersimpul dengan erat oleh budaya populer[1].

Pasca-Orde Baru atau reformasi perseteruan politik identitas berkelindan di antara (1) semangat kedaerahan dan kewenangan  nasional, (2) sinkretisme Jawa dan meningkatnya kesalehan baru Islam, 3) patriarki dan gerakan perempuan, 4) selera budaya tinggi dena rendah dan 5) kesenjangan dan pemberdayaan teknologi  (Heryanto, 2008). Masyarakat luas dapat menyaksikan bagaimana budaya populer dipergunakan dengan sedemikian rupa untuk membangun citra. Musik, film sampai televisi membantu penyebaran produk budaya populer dengan cepat dan masif.

Budaya Populer Menembus Batas

Budaya populer yang juga biasa disebut budaya pop terbukti mampu melintasi berbagai sekat bidang kehidupan. Lebih dari itu ia mampu menembus sekat geografis dalam penjagaan ketat negara-negara berkonflik. Dalam buku Popular Culture In Indonesia : Fluid Identities In Post-Authoritarian Politics yang tulis Ariel Heryanto dan kawan-kawan mencontohkan bagaimana ketika konflik Indonesia-Malaysia memanas akibat perebutan Blok Ambalat[2] budaya pop mampu mencairkannya.

Fenomena Peterpan dan Siti Nurhaliza mampu menghipnotis penggemar-penggemar mereka di kedua negara berkonflik ini. Masyarakat penggemar di kedua negara seperti melupakan segala masalah yang dihadai. Bahkan ketika Timor Leste yang baru saja memerdekakan diri dari Indonesia, kehadiran Peterpan, grup musik pop Indonesia mampu menyihir dan menggetarkan hati penonton di Dili, Ibukota Timor Leste. Digambarkan Ariel Heryanto (2008) Bagaimana Presiden Xanana Gusmao menyambut kedatangan musisi muda tersebut secara pribadi (Detik Hot, 2005). Luke Arnold, seorang mantan mahasiswa Ariel Heryanto yang hadir dalam pertunjukkan Peterpan di Timor Leste menggambarkan:

Almost every young person in town rocked up. People were climbing up phone towers and jumping over the stadium fences just to get view. It seemed like civil order was about to break down. But this time it had nothing to do with independence struggles. Only five years or so after their independence, people were literally falling over each other to see a band from the country they had separated from. It felt like a moment of reconsiliation. The woman next to me said: ‘we actually love Indonesians, we just hate their military’ (Arnold, 2006: 3).

Sebenarnya para kreator budaya pop tidak selalu berniat untuk menyampaikan pesan atau nilai politik dalam karya-karyanya dan konsumennya pun tidak perlu mencari pesan atau nilai poltisnya. Budaya po lebih sering dipahami sebagai barangn dagangan untuk meraup laba, meski ada kasus budaya pop yang terang-terangan dirancang untuk membuahkan peryataan poltik atau kritik sosial. Namun menurut Heryanto (2008) dalam tiga dekade belakangan apa yang mungkin pada awalnya dimaksudkan semata-mata sebagai suatu hiburan kemudian menyerap muatan poltik ketika beredar di tengah-tengah masyarakat dan menyebar dalam lingkup yang amat luas. Bahkan lebih luas darI apa yang dibayangkan sebelumnya.

Kontroversi Inul

Jika pada masa orde baru, dinamika politik dalam produksi dan konsumsi budaya pop terjebak dalam pertentangan antara kubu yang menerima dan kubu yang melawan status quo yang berpusat pada ideologi resmi yang diakui rezim pemerintahan yani kombinasi kejawen, sekularisme, militierisme, bapakisme dan pembangunanisme serta kepribumian, maka pada masa pasca-orde baru atau reformasi perseteruan politik indentitas berkelindan di antara (1) semangat kedaerahan dan kewenangan  nasional, (2) sinkretisme Jawa dan meningkatnya kesalehan baru islam, 3) patriarki dan gerakan perempuan, 4) selera budaya tinggi dena rendah dan 5) kesenjangan dan pemberdayaan teknologi sebgaimana dipaparkan Heryanto (2008) dari hasil penelaahan etnografi kritisnya yang mendalam dan luas terhadap wacana Inulmania[3] di Indonesia.

Inul adalah satu diantara sedikit perempuan Indonesia yang bisa masuk ke dalam cover majalah Time Asia dimana karir pertamanya dideskripsikan oleh Walsh (2003) sebagai berikut:

Virtually overnight, Inulmania swept Indonesia, and within weeks, Inul was bumping and grinding on the cover of major national magazines preparing on television more often than the country’s President … TV program in which she appeared consistenly drew 14 share points, well above the norm for music show (Walsh, 2003).

Kontroversi segera mengikuti kesuksesan mendadak Inul (Heryanto 2008). Pertama dimulai dengan serangkaian pencekalan yang dilakukan oleh sebagian besar pemerintah daerah dan lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia, Front Pembela Islam di awal tahun 2003. Kontoversi Inul memasuki babak baru di akhir April 2003, ia bertemu Rhoma Irama[4].

Babak baru ini merupakan babak anti-klimaks yang menandai penarikan diri Inul dalam penampilan publik. Sebagian kalangan berpandangan bahwa Inul menerima pandangan mayoritas masyarakat luas dan mulai merubah penampilannya yang dianggap kontoversial itu. Pada tahun 2004 namanya masih menjadi kontoversi yang banyak dibicarakan orang. Ini berlanjut hingga tahun 2006 dimana suatu kelompok Islam mendorong penyusunan sebuah rancangan perundang-undangan Anti-Pornografi yang salah satunya dilatar belakangi fenomena kontroversi Inul.

Dikotomi Pribumi Dan Non-Pribumi

Kajian berikutnya dilakukan oleh Heryanto yang menganalisis dua judul film yang menampilkan tokoh dan karakter etnis keturunan Cina yakni Ca Bau Kan (2002) dan Gie (2005). Heryanto membawa dua pertanyaan krusial. Pertama perubahan apa, jika ada yang terjadi dalam sikap dan pandangan yang ada ditengah masyarakat terutama di dalam budaya pop terhadap minoritas Cina? Secara lebih khusus apakah pemahaman yang telah lama memasyarakat bersifat fatalis dalam melihat etnisitas sebagai sesuatu yang berasal dari kelahiran, turun-temurun dan mengikuti garis patrilineal bukan konstruksi sosial yang sarat akan beban politis masih tetap bertahan atau mengalami gugatan? Apakah perasaan kebangsaan sebagai gagasan proyek masyarakat majemuk yang modern, beragam dan tidak utuh itu lebih kuat atau justru lebih lemah ketimbang pemahaman masyarakat yang menempatkan penduduk asli atau pribumi sebagai pemegang hak waris yang istimewa dan sesuai dengan kodrat?

Dari hasil kajiannya, Heryanto menyimpulkan bahwa pertama, seperti halnya Ca Bau Kan, Gie merupakan upaya menyimpang dan menantang gagasan dominan dan stereotip etnis di Indonesia, terutama mengenai minoritas Cina. Namun di saat yang bersamaan kedua film menunjukkan betapa sulitnya mencapai niat tersebut (Heryanto, 2008). Para tokoh utamanya, terutama Gie, sudah berusaha ditampilkan berbeda dengan tipikal orang Cina di Indonesia, namun tidak disertai sikap dan kerangka pemikiran yang progresif atau subversif terhadap pemahaman mendasar soal etnisitas yang dominan. Kedua, dari sisi kebangsaan dan status kelompok etnis Cina, Gie lebih progresif ketimbang Ca Bau Kan. Gie lebih banyak menampung aspek-aspek yang majemuk dalam proyek pembangunan bangsa, tanpa pandang bulu terhadap latar belakang etnis warga negaranya.

Pada bagian lain Rahmah Ida[5] dalam Heryanto (2008) mengamati tentang paranoia akan globalisasi yang ditanamkan rezim orde baru masih belum hilang ssepenuhnya.  Ini sejalan dengan temuan penelitiannya yang berjudul Consuming Taiwanese Boys Culture: Waching Meteor Garden With Urban Kampung Women In Indonesia. Dari hasil risetnya ini Ia menyimpulkan bahwa masyarakat urban kelas menengah bawah memang mengakui bahwa nilai dan norma budaya yang muncul dalam Meteor Garden cukup sama dengan keyakinan dan nilai yang dipegang masyarakatnya. Selain itu penilaian gender juga sangat kentara dalam cara perempuan kampung menanggapi representasi hubungan lelaki-perempuan.

Salah satu alasan mengapa perempuan itu menonton Meteor Garden adalah karena drama ini menampilkan sosok pahlawan lelaki yang ideal (Ida dalam Heryanto,2008). Temuan lainnya yang juga sangat menarik dalam penelitian ini adalah “gadis-gadis menyukai F4[6] tapi masih tidak menyukai orang Cina (di Indonesia)… mereka hanya suka melihat lelaki Cina di TV (Ida dalam Heryanto,2008). Nampaknya kegandrungan pada bintang-bintang berwajah orietal di layar televisi tidak serta merta menghapus stereotip etnis minoritas Cina yang selama puluhan tahun dihidupkan di bawah rezim orde baru.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa wacana etnis Cina belum menyentuh akar permasalahan utama yakni penghapusan dikotomi pribumi-nonpribumi sekaligus pengistimewaan etnis Cina dalam konteks keindonesiaan. Apa yang dipetik dari dua kajian ini masih berupa kulit luarnya saja. Represi identitas kepribumian yang dialamatkan pada etnis Cina tak berubah sepenuhnya dari wacana Orde Baru, namun mewujud dalam rupa yang berbeda: terperangkap dalam euforia kebebasan dengan mengistimewakan etnis Cina di antara ribuan etnis lain yang hidup di Indonesia (Wijaya, 2014: 154 – 155).

Indonesian Idol Rasa Barat

Potret lain dari pengaruh globalisasi dalam gaya yang baru dapat dilihat pada kajian Penelope Coutas[7] berjudul: “Fame, Fortune, Fantasi: Indonesian Idol And The New Celebrity”.  Coutas menyoroti soal selebriti Indonesia kontemporer genre baru yang diciptakan melalui reality show seperti Indonesian Idol. Kendati bayangan, pemaknaan dan gambaran yang diciptakan di dalam dan oleh Indonesian Idol boleh jadi sekilas tampak sebagai representasi imperialisme budaya, perbedaan antara yang lokal dan yang global sifatnya sangat problematik. Indonesian Idol digambarkan sebagai proses pencitraan selebriti yang gambling serta model hubungan penonton layar kaca yang baru, yang partisipatif dalam konteks global yang sangat memikat (Coutas dalam Heryanto, 2008).

Dari hasil kajiannya Coutas melihat bahwa Indonesian Idol merupakan contoh hibriditas budaya dan plularisme dengan citarasa “glokal” (Wijaya,2014). Dalam hal ini, fungsi sosial citra Idola adalah menjadi media penghubung antara yang lokal dan yang global, serta menunjukkan keterlibatan Indonesia dalam hingar-bingar pertelivisian global (Coutas dalam Heryanto, 2008). Kenyataan bahwa keinginan menjadi selebriti yang dihasilakan Indonesian Idol tergantung pada pemilihan yang demokratis, menunjukkan bahwa para penonton, terutama pendukung dapat disebut sebagai pemilih aktif. Coutas berpendapat bahwa Indonesian Idol bukanlah contoh pola logika biner dari yang lokal atau yang-global, timur atau barat, produsen atau konsumen, penonton atau selebriti, namun merupakan representasi pemahaman tentang selebriti yang beredar secara global sebgai suatu ruang sendi, sebuah wilayah milik bersama.

Infotainment Meredomestifikasi Peran Perempuan

Kajian selanjutnya dari Vissia Ita Yulianto[8] berjudul: “Consuming Gossip: A Rre-Domestification of Indonesian Women” menemukan bahwa industri infotainment berpengaruh dan berfungsi dalam kehidupan khalayak dalam peran yang berbeda. Di samping sebagai bahan obrolan di kantor dan di lingkungan rumah, infotainment juga untuk mengisi sela waktu dalam kegiatan keseharian. Tah hanya perempuan, lelaki pun membiasakan diri dengan infotainment sehari-hari yang populer agar bisa membangun mengakrabkan diri dengan lingkungan pergaulannya (Yulianto dalam Heryanto,20008).

Yulianto melihat pengaruh kuat dan luas dari infotaninment tersebut hingga pada tabloidisasi gosip. Tak hanya sampa di situ, infotainment juga menginspirasi beberapa pihak untuk mengampanyekan pesan-pesan sosial kepada khalayak perempuan.

Di era pasca-Orde Baru, menurut Yulianto media melalui acara gosip yang sangat dapat dipertanyakan secara moral dan intelektual, telah menjembatani antara kegiatan yang menyennagkan dan peran perempuan yang konvensional. Acara gosip selebriti menghadirkan pola baru kembalinyadomestifikasi perempuan (Yulianto dalam Heryanto, 2008)

Menurutnya pula acara-acara gosip berwujud infotainment hanya mempopulerkan dan mengukuhkan berbagai perangkat nilai domestik paling konservatif yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. Perempuan ditempatkan sebagai target utama dan telah mengalihkan  perhatian perempuan untuk terlibat langsung dalam mengurus kepentingan bersama di tengah kehidupan masyarakat. Inilah yang dimaksud olehnya meredomestifikasi perempuan yang sesungguhnya telah berlangsung sejak zaman kolonialisme Belanda, tahap peneguhan nilai-nilai Islam, dan periode modernisasi sepanjang 32 tahun pemerintahan Orde baru (Yulianto dalam Heryanto,2008).

Simulasi Referensial atau Simulakrum ?

Kajian berikutnya yaitu dari Edwin Jurriëns[9] dengan judul: “Television Dreams: Simulation For A New Reality Of Indonesia”. Ia menganalisis acara mingguan Metro TV yakni Newsdotcom (2006-2008) dan membahas sejumlah tradisi diskursif yang dimunculkan dan menyimpang dari program tersebut, serta menyinggung sisi-sisi kontroversial yang mengiringinya.

Jurriëns melihat pencitraan yang digunakan Newsdotcom untuk  membentuk realitas  alternatif dalam bentuk Republik Mimpi sebagai praktik simulasi, agak berbeda dengan konsep simulasi Baudrillard yang secara intrinsik terhubung dengan simulaksra, yaitu serakan tanda yang tak memiliki rujukan, dirancang untuk membangun keutuhan ilusi dan mengubah simulasi menjadi kondisi yang tak terhindarkan, meliputi segalanya.

Konsep Baudrillard mengenai simulasi adalah tentang penciptaan kenyataan melalui model konseptual atau sesuatu yang berhubungan dengan “mitos” yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Model ini menjadi faktor penentu pandangan kita tentang kenyataan. Segala yang dapat menarik minat manusia – seperti seni, rumah, kebutuhan rumah tangga dan lainnya – ditayangkan melalui berbagai media dengan model-model yang ideal, disinilah batas antara simulasi dan kenyataan menjadi tercampur aduk sehingga menciptakan hyperreality dimana yang nyata dan yang tidak nyata menjadi tidak jelas.
Kebudayaan industri menyamarkan jarak antara fakta dan informasi, antara informasi dan entertainment, antara entertainment dan ekses-ekses politik. Masyarakat tidak sadar akan pengaruh simulasi dan tanda(signs/simulacra), hal ini membuat mereka kerap kali berani dan ingin – mencoba hal yang baru yang ditawarkan oleh keadaan simulasi – membeli, memilih, bekerja dan macam sebagainya.

Di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang masif realitas telah hilang. Kini kita hidup di zaman simulasi, di mana realitas tidak hanya diceritakan, direpresentasikan, dan disebarluaskan, tetapi kini dapat direkayasa, dibuat dan disimulasi. Realitas buatan ini bercampur-baur, saling sengkarut menandakan datangnya era kebudayaan postmodern. Simulasi mengaburkan dan mengikis perbedaan antara yang nyata dengan yang imajiner, yang benar dengan yang palsu.

Proses simulasi inilah yang mendorong lahirnya term ‘hiperrealitas’, di mana tidak ada lagi yang lebih realistis sebab yang nyata tidak lagi menjadi rujukan. Baudrillard memandang era simulasi dan hiperrealitas sebagai bagian dari rangkaian fase citraan yang berturut-turut:

  • Merefleksikan kenyataan
  • Menutupi atau menyesatkan kenyataan
  • Menutupi ketiadaan dalam kenyataan
  • Menunjukkan tidak adanya hubungan diantara kenyataan manapun dan murni hanya sebagai simulacrum. (Ritzer, 2003).

Praktik simulasi dalam Newsdotcom lebih meurpakan praktik simulasi referensial ketimbang simulasi simulakra, karena program tersebut secara sengaja dan terus-menerus justru mematahkan ilusi yang dibangunnya melalui parodi, beralih dari alam Republik Mimpi ke Indonesia dan menguliahi penonton tentangn bagaimana mekanisme ideologis bekerja di balik proses produksi media.

Dalam Program Newsdotcom ini citra hiperrealitas menghadirkan sisi-sisi politik Indonesia yang sebelumnya dibenamkan dominasi simulakra Orde Baru. Selain itu, program ini juga menandakan sebuah babak dalam kehidupan sosial politik di Indonesia, di mana orang-orang tidak perlu lagi menggunakan cara-cara yang relatif lunak dan serba tersirat seperti plesetan untuk mengungkapkan keragaman atau perbedaan pendapat di ruang publik (Jurriëns dalam Heryanto,2008). Itulah mengapa disamping tokoh seperti Gus Dur yang tidak mempermasalahkan pemarodian karakter dirinya, Newsdotcom juga diyakini bisa menjadi media pendidikan politik bagi masyarakat (Tresnawati 2007 dalam Heryanto 2008)

Kesimpulan

Secara umum buku ini sangat baik dibaca sebagai referensi untuk studi-studi tentang media dan budaya populer di Indonesia. Berikut adalah beberapa keunggulan dari buku ini

  • Sebagian besar isi buku ini merupakan makalah yang dipresentasikan dalam diskusi panel “New Media, Pop Culture Inter (Asia) tahun 2005 di Thailand.
  • Menguraikan secara komprehensif bagaimana dampak pertumbuhan industrialisasi di Asia Tenggara setelah tahun 1980-an yangg membawa akibat perluasan konsumsi dan berbagai bentuk media di Indonesia
  • Analisa cukup tajam dalam menangkap fenomena sosial ke-kinian Indonesia pasca-Orde Baru

Kritik

  • Buku ini kurang menggali lebih dalam konteks ke-Orde Baru-an dan keterkaitannya dengan budaya populer selain lebih banyak tekstual.
  • Ariel Heryanto entah disadari atau tidak olehnya nampak menunjukkan ketendensiusan berlebihan dan ketidak-berimbangan dalam melihat fenomena etnis China di Indonesia.
  • Kajian media dan feminisme yang dilakukan cenderung belum beranjak dari paradigma lama

Daftar Pustaka

Heryanto, Ariel (2012).  Budaya Populer di Indonesia: Mencairnya Identitas Pasca-Orde baru. Terj Eka S. Saputra. Jogjakarta: Jalasutra.

Heryanto, Ariel (2008). Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics. London & NY : Routledge.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman (2003). Diterjemahkan oleh Alimandan. Teori Sosiologi Modern.  Jakarta: Prenada Media.

Wijaya, Bambang Sukma (2014). Jurnal Desain : Menonton Indonesia di Remang Kabut  Euforia Reformasi.

__________________________________________

[1] Konsep budaya populer dalam buku Heryanto (2008) ini merujuk pada berbagai ragam tindakan komunikatif yang beredar luas dan disajikan untuk sebgian besar rakyat biasa atau oleh rakyat atau kombinasi keduanya. Kategori pertama merujuk pada pesan-pesan yang dikomodifikasi dan diproduksi massal seperti musik, film dan televisi serta kaitivitas pemaknaan terkait. Kategori kedua meliputi tindakan komunikatif non-industrial yang relatif madiri, menyebar lewat banyak cara seperti forum publik, parade, festival dan lain-lain. Kelompok yang disebut belakangan ini sering, tapi tidak selalu bertolak-bleakang atau menjadi alternatif atau komoditas hiburan dan gaya hidup yang diproduksi massal.

[2] Tanggal 21 Februari 2005 di Takat Unarang (nama resmi Karang Unarang) Sebanyak 17 pekerja Indonesia ditangkap oleh awak kapal perang Malaysia KD Sri Malaka. Angkatan laut Malaysia mengejar nelayan Indonesia keluar Ambalat. Malaysia dan Indonesia memberikan hak menambang ke Shell, Unocal dan ENI. Berkaitan dengan itu pula surat kabar Kompas mengeluarkan berita bahwa Menteri Pertahanan Malaysia telah memohon maaf berkaitan perkara tersebut. Berita tersebut segera disanggah oleh Menteri Pertahanan Malaysia yang menyatakan bahwa kawasan tersebut adalah dalam kawasan yang dituntut oleh Malaysia, dengan itu Malaysia tidak mempunyai sebab untuk memohon maaf karena berada dalam perairan sendiri. Sejajar dengan itu, Malaysia menimbang untuk mengambil tindakan undang-undang terhadap surat kabar KOMPAS yang dianggap menyiarkan informasi yang tidak benar dengan sengaja.

[3] Adalah komunitas penggemar penyanyi dangdut kontroverial Inul Daratista

[4] Musisi dangdut kenamaan dari Indonesia yang biasa dikenal dengan julukan Si Raja Dangdut.

[5] Dosen di Departemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga surabaya.

[6] Boyband asal Taiwan yang sangat digandrungi oleh anak muda, terutama perempuan di Indonesia.

[7] Guru Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas dari Perth Western Australia. Sedang menyelesaikan studi doktoral di Murdoch University Perth dengan fokus pada penggunaan teknologi media untuk memfasilitasi aktivitas belajar mengajar bahasa selain bahasa Inggris

[8] Peneliti Indonesia dengan basis riset gender dan bekerja paruh waktu untuk NGO Indonesian gender-focusses.

[9]Dosen Bahasa Indonesia dan Budaya di University of New South Wales College di Canberra.

____________________________________________________

Direview oleh Rizky Zulfauzan (Universitas Palangkaraya), dengan penyuntingan oleh WK.

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *