Belajar Filsafat-Ilmu Dikit, Biar Bisa Berpikir Lintas Isi Kepala

Posted on

Berpikir lintas isi kepala membutuhkan pemahaman sedikit, bahwa kebenaran yang kita anut dan yakini itu bertemu-beradu dengan kebenaran yang diyakini orang lain. Dan orang itu banyak. Maka akan ada sekian kebenaran beserta parameter dan para pengikutnya… hehe….

Keributan sekarang ini berawal dari kegagapan berpikir lintas isi kepala, yang darinya melebar ke lintas budaya. Berpikir demikian, akan membuat adem. Karena apa-apa yang kita yakini hanyalah tafsir atas apa yang diyakini itu. Itupun jika tafsir kita benar.. Nah, benar menurut apa… Kebenaran itu apa sih….

Ini dulu deh…

Dalam beberapa sekuel ke depan, saya turunkan tulisan pemikiran filsafat ilmu, yang bersumber dari pemikiran dua pemikir filsafat ilmu yang sudah dikenal namanya oleh para pembelajar kearifan di negeri ini. Jujun Suriasumantri, dengan Filsafat Ilmu-nya, dan Aholiab Watloly, dengan Sosio-Epistemologi-nya.

Dua-duanya bicara tentang proyek humanisasi dalam berpikir rasional untuk meraih kebenaran dan kebijakan.

Maka, kajian berikut ini, pertama kali akan menautkan filsafat ilmu dan sosio-epistemologi. Kajian ini berisi 6 bagian: Misi keilmuan; Membangun Pemahaman Filsafat Ilmu; Membaca Kebenaran; Kritik Atas Ilmu; Membangun Sikap Ilmiah, Moral dan Sosial; dan Kesimpulan

Filsafat Ilmu dan Sosio-Epistemologi

Pertautan antara Filsafat Ilmu (FI) dan Sosio Epistemologi (SE) –keduanya adalah kajian filsafat ilmu- melahirkan pemahaman filsafat ilmu yang lebih menggerakkan. Filsafat, yang berada di dataran tinggi ide, pemikiran, “berada di angkasa” dan sulit membumi, karena memang berurusan dengan dataran pemikiran radikal, menemui kesadaran sosialnya pada pertemuannya dengan sosio-epistemologi, yang membuka kesadaran ilmu pengetahuan berbasis “rasio sosial” guna menghadirkan ilmu pengetahuan sebagai “proyek pembaruan” bagi nilai guna keadaban, humanisasi dan emansipasi untuk merespons kehidupan sosial yang dinamis. Maka sintesis FI-SE ini lebih menggugah “pembangunan ilmu” pada praxis: konteks sosial dan humanitas-emansipasi.

Tulisan ini bersumber dari dua buku filsafat ilmu karya Jujun S. Suriasumantri, yang berjudul “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer”, dalam tulisan ini disebut “Jujun”. Dan buku karya Aholiab Watloly, berjudul “Sosio-Epistemologi: Membangun Pengetahuan Berwatak Sosial”, dalam tulisan ini disebut “Watloly”.

 

Mempelajari dialog antara keduanya akan memberi asupan nutrisi bagi pemikiran filsafat ilmu yang mendasari aktivitas keilmuan. Kedua buku ini menyajikan filsafat ilmu dengan ceruk kedalaman (niche) masing-masing, namun saling melengkapi dan mengenergi. Jujun menawarkan pemahaman dasar namun luas dengan membuka jalur pemikiran untuk memasuki filsafat ilmu, melalui pengenalan dasar hakikat ilmu dengan pemahaman ontologis (objek telaah ilmu), epistemologis (cara mendapatkan ilmu pengetahuan) dan aksiologis (kemanfaatan ilmu pengetahuan). Sedangkan Watloly menawarkan visi baru hakikat pengetahuan dan keilmuan serta “pembangunan ilmu” pada konteks sosial dan humanitas-emansipasi, yakni pengenalan sketsa penalaran sosio-epistemologi (pengetahuan berwatak sosial). Ia menukikkan filsafat ilmu pada arena penjelajahan ilmu pengetahuan berbasis “rasio sosial” guna menghadirkan ilmu pengetahuan sebagai “proyek pembaruan” bagi nilai guna keadaban, humanisasi dan emansipasi untuk merespons kehidupan sosial yang dinamis. Inilah Sosio-Epistemologi: Membangun Pengetahuan Berwatak Sosial.

 

Sosio-epistemologi (filsafat pengetahuan) ini mendayai teori kritis hingga kritik atas teori pengetahuan dan tuntutan-tuntutan metodologis. Hal ini dimaksudkan untuk pembaruan teori dan perkembangan rasionalisasi masyarakat, dengan melakukan kritik atas teori sosial modern yang menurut Max Horkheimer, telah melakukan social discrimination, membawa konflik cara berpikir ideologis dalam pemikiran filsuf dan pemikir ideologis modern! Sangat menggugah dimensi kesadaran keilmuan kontekstual-humanistik dan yang lebih menarik, menyediakan perangkat operasional filsafati, teori dan metodik secara lebih jelas, pejal dan menantang.

Kedua buku tersebut sama-sama menawarkan misi berpikir filsafat ilmu, tetapi keduanya berbeda dalam pendekatan untuk membangun pemahaman dan penjelajahan konseptual dari apa yang disebut “cara berpikir filsafati” dan “cara berpikir ilmiah”. Jika buku Jujun memberi “gambaran umum”, maka buku Watloly menyelami secara holistik relung epistemologis ilmu pengetahuan dengan menunjukkan kehadiran teori-teori sosial dari positivis sampai teori kritis, dan dihubungkan dengan struktur rasionalitas masyarakat yang terinstitusionalisasi melalui kebudayaan.

 

Agar lebih mudah, kandungan kedua buku tersebut saya sajikan dalam sistematika:

 

Pendahuluan: Misi Keilmuan

Apa misi keilmuan kedua buku tersebut.

 

Membangun Pemahaman Filsafat Ilmu

Bagaimana kedua buku ini membangun pemahaman filsafat ilmu sebagai dasar berpikir bagi aktivitas keilmuan.

 

Membaca Kebenaran

Bagaimana kedua buku ini membaca kebenaran

 

Kritik Atas Ilmu

Pemosisian kajian filsafat ilmu oleh kedua buku

 

Membangun Sikap Ilmiah, Moral dan Sosial

Membuka sisi aksiologi

 

Kesimpulan.

_________________________

Pendahuluan: Misi Keilmuan

Pertama yang bisa dikatakan adalah bahwa daya jelajah dalam persoalan filsafat ilmu kedua buku sama-sama luas tetapi ada kekhasan dalam penekanan isi, gagasan utama dan penjelas serta gaya penyampaian, sehingga misi keilmuan keduanya walaupun sama-sama mengupayakan pengenalan kerangka berpikir filosofis akan hakikat ilmu, masing-masing memiliki titik tekan dan daya tekan yang khas. Buku Jujun menjelajah pemahaman filsafat ilmu mulai dari dasar berpikir dan bertanya untuk mendapatkan jawaban. Buku ini mengenalkan alur-alur berpikir dalam kegiatan keilmuan dan menerapkannya pada masalah-masalah praktis dalam kehidupan (halm. 13). Pengenalan filsafat sebagai cara berpikir untuk kegiatan keilmuan, merupakan dasar yang sangat penting bagi pembelajar ilmu. Setelah pemahaman dasar-dasar pengetahuan dan pemahaman filsafat ilmu buku ini membawa pembaca pada misi yang lebih luas yakni pemahaman ilmu dalam konteks kebudayaan hingga penggunaan dalam struktur bahasa serta pada aspek aplikatif yakni pada bidang penelitian dan penulisan ilmiah.

 

Jujun memandang filsafat ilmu sebagai bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah), yang ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakikat ilmu yaitu (1) objek apa yang ditelaah ilmu; (2) pertanyaan tentang bagaimana proses dan cara memperoleh ilmu pengetahuan; dan (3)  pertanyaan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Pertanyaan terkait kelompok pertanyaan pertama disebut landasan ontologis ilmu; kelompok kedua adalah epistemologis; dan kelompok ketiga adalah aksiologis. (halm. 33-34). Pengenalan pemahaman filsafat ilmu dengan mengemukakan dasar-dasar ontologis-epistemologi-aksiologis merupakan dasar pengetahuan yang kokoh untuk membentuk alur kegiatan berpikir melalui penalaran (halm. 42 – 49), memahami sumber pengetahuan (halm. 50-54), pencarian kebenaran, struktur pengetahuan ilmiah (halm. 141-161), berpikir ilmiah (halm. 165-225), hingga tanggungjawab sosial ilmuwan (halm. 237-245). Misi yang lebih luas dari buku Jujun ini adalah membawa pemahaman ilmu dalam konteks pengembangan kebudayaan. Jujun memandang ilmu sebagai bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan (halm. 272). Karenanya, kajian buku ini mementingkan juga pada usaha meningkatkan peranan ilmu sebagai sumber nilai yang mendukung kebudayaan (nasional), dengan mengoperasikan gagasan (1) ilmu sebagai cara berpikir, yakni berpikir ilmiah untuk mendapatkan kebenaran ilmiah; (2) ilmu sebagai asas moral, yakni meninggikan kebenaran dan pengabdian secara universal; (3) nilai-nilai ilmiah sebagai pengembang kebudayaan (halm. 273-280). Akhirnya, misi keilmuan buku Jujun menegaskan peranan ilmu pengetahuan dan sains (dengan membedakan ‘ilmu pengetahuan’ dan ‘pengetahuan’) pada dataran aplikatif sebagai muara ke dunia nyata, yakni penjelasan buku ini tentang struktur penelitian dan penulisan ilmiah (halm 307-363). Buku ini cukup menjangkau kebutuhan dasar hakikat ilmu mulai pemahaman dasar hingga aplikatif bahkan lebih luas, pada konteks kebudayaan.

 

Setelah membaca buku Jujun ini dan berlanjut ke buku Watloly, ditemukan sebuah napas, semangat dan rasa baru akan hakikat ilmu pengetahuan dan eksistensi ilmu pengetahuan dalam konteks sosial, rasio sosial dan kebudayaan dalam sajian yang lebih tegas dan menonjol. Visi baru proyek pemikiran filosofis (epistemologis yang mencair) dari buku Watloly, dirancang melalui pengenalan sketsa penalaran sosio-epistemologis untuk terus menyapa realitas sosial yang selalu mengalir dengan aneka kepentingan untuk dikritisi dan dimaknai bagi kehidupan itu sendiri. Intinya buku ini  memuat misi pengantaran filsafati ke dalam berbagai diskursus, konstruksi pemikiran, debat, komunikasi dan konsensus pemikiran demi kepentingan praxis (kemanusiaan dan kemasyarakatan).

 

Artinya, sosio-epistemologi tawaran Watloly ini menempatkan pengetahuan dan keilmuan dalam sebuah tataran pertautan filosofis dan praxis untuk kepentingan manusia (halm. 8). Landasan ontologis – epistemologis – aksiologis beserta elaborasinya, jika di buku Jujun kita berkenalan dengan gaya populer dengan contoh-contoh keseharian, di buku Watloly kita berkenalan dengan elaborasi dengan sajian teoretikal yang lebih padat. Buku Watloly memulai dengan pemahaman ‘pengetahuan’ yang dipandang sebagai sebuah konstruksi sosial (social constructed), sedangkan unsur-unsur, nilai-nilai kemanusiaan dan sosial budaya menjadi bibit, pupuk serta perangsang atau pendorong pertumbuhan pengetahuan (halm. 21).

 

Ruang penjelajahan pengetahuan dilakukan berdasarkan prinsip sosiologi pengetahuan. Artinya konstruksi pengetahuan merupakan pengkajian yang  mendalam tentang hasil kreasi manusia atau masyarakat, dan menggunakan indigenisasi sebagai pendekatan sosio-epistemologi yang menguak sisi-sisi endogen (dari dalam) masyarakat, atau memahami hakikat pengetahuan dari perspektif masyarakat (halm. 41). Kekhasan ini yang berbeda dari penjelasan dalam buku Jujun. Buku Jujun juga mengakui masyarakat sebagai “sumber pengetahuan” dalam pengertian masyarakat sebagai tempat keberadaan masalah atau gejala yang ingin dicari jawabannya dan masyarakat berupaya mencari jawabannya dengan ‘metode pencarian jawaban’ ala masyarakat seperti metode coba-coba (try and error), penafsiran, pengalaman (common sense). Sistem pengetahuan milik masyarakat yang mewujud dalam “local genius”, “local wisdom” diakui sebagai sumber pengetahuan dalam buku Jujun, namun dianggap memiliki kelemahan karena tidak bersandar pada cara berpikir ilmiah (berdasar akal sehat, rasionalitas).

 

Di sinilah pentingnya ilmu, yang mencoba menafsirkan gejala alam dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian (buku Jujun halm. 107-113). Di sinilah diakui metode ilmiah (metode penelitian) dalam rangka “mencari jawaban yang benar” atas suatu masalah atau gejala. Diperlukan “intervensi” metode ilmiah untuk “mengakomodasi” sistem pengetahuan masyarakat (yang tidak ilmiah tadi) dalam rangka mencari kebenaran.

 

Sedangkan dalam buku Watloly, anasir sistem pengetahuan tadi dipandang sebagai sebuah kontribusi dari masyarakat baik yang berupa tata pikir yang bersifat harian maupun pengetahuan lokal (local knowledge) yang pra-ilmiah, dalam rangka mengembangkan sistem pengetahuan yang memadai bagi kepentingan kemanusiaan dan kemasyarakatan (buku Watloly halm. 41-42), karena pengetahuan dipandang sebagai  konstruksi sosial, sehingga pengetahuan yang khas manusia adalah produk pertukaran antar manusia atau antar subjek berdasarkan kaidah logis dan etis dalam konteks historisnya (halm. 21). Dalam hal ini buku Watloly membawa misi penghadiran “pengetahuan yang khas manusia” atau pengetahuan seorang manusia dalam konteks sosialnya yang khas, sehingga penjelajahan revolusi keilmuan dalam konteks historisnya dengan mengelaborasi teori-teori sosial yang hadir sebagai penjelas realitas sosial (konstruksi teoretis) yang mengiringi kegiatan berpikir filsafati. Dimulai dari rentang waktu ketika muncul logika alam, yang memunculkan teori-teori positivistik yang empiris, hingga penjelajahan teori kritis (buku Watloly halm. 49-75).

 

Elemen kesadaran kritis yang ditawarkan Watloly ini juga sangat membedakan dari Jujun. Kesadaran kritis dalam sosio-epistemologi mengemban tugas pembebasan, dan karenanya, setiap individu bebas memformulasikan pikiran atau jawabannya atas setiap realitas permasalahan yang dihadapi. Masyarakat  ditempatkan sebagai subjek yang bertautan (dialektis) dengan kesadaran sesaat, kesadaran palsu dan struktur-struktur pengetahuan maupun struktur sosialnya (halm. 76).  Fondasi dialektika sosio-epistemologi ini membuka cakrawala penjelajahan tanpa batas akan pemikiran keilmuan berbasis (pemikiran) filsafat (kebenaran), mengandaikan teori pengetahuan dan keilmuan yang berkekuatan refleksi-aksi (lingkaran praxis) yang membuka ruang dialog bebas sebagai jembatan menuju humanisasi. (halm.79). Ia tidak berhenti pada pencarian legitimasi empiris (dunia realitas sosial), namun lebih jauh, dengan tetap berada pada dataran filosofis dan pada tegangan dialektis, sosio-epistemologi sebagai filsafat pengetahuan, hendak meneguhkan dirinya pada posisi kritik atas keilmuan dan  keberadaan. Ia berpandangan bahwa pengetahuan bukan sekedar refleksi atas realitas sebab kebenaran pengetahuan lebih mengandung kepentingan-kepentingan yang lebih mendasar. (halm. 99).

 

Untuk itu, sosio-epistemologi merancang pangkalan pemikiran (basis penalaran) dalam 5 teori dasar: teori konsensus, teori dialektika, teori logika diskursif, teori emansipasi dan teori komunikasi rasional (halm. 102-115). Buku Jujun tidak memiliki term ini tetapi “hanya” memberikan hembusan pemikiran ilmiah-metodik dalam kemasan populer.

 

Karenanya dapat dikatakan bahwa (misi) buku Watloly ini merupakan penjabaran tingkat lanjut, eksplisit dan pejal dari (misi) buku Jujun yang implisit, dengan kontekstualitas yang lebih nyata, dinamis, operasional, dan humanis-emansipatif. Hadirnya penjelasan teori-teori sosial mulai positivistik hingga teori kritis (halm. 117 – 251) menandai revolusi epistemologis dan munculnya benih-benih pemikiran sosio-epistemologis menunjukkan posisi kajian sosio-epistemologi dalam dataran hakikat ilmu serta keseriusan dan kesadaran (dan upaya penyadaran) dari buku Watloly ini akan konteks peradaban dan kebutuhan mendesak “penghidupan-pendayaan ilmu pengetahuan” dalam struktur kebudayaan. Dan, pembangunan masyarakat pun didasarkan pada landasan sosio-epistemologi yang dibangun melalui hubungan dialektis antara teori dan praxis. Inilah misi sosio-epistemologi (pengetahuan berwatak sosial!).

Bersambung ke…

Membangun Pemahaman Filsafat Ilmu

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *