Bahasa dan Interpretasi Teks dalam Analisis Wacana Kritis

Posted on
DSCF3238-200x135 Bahasa dan Interpretasi Teks dalam Analisis Wacana Kritis
teks relasi kuasa

Dalam Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA), wacana adalah aksi sosial, praktik sosial. Aksi sosial dalam mengonstruksi realitas sosial (objek, situasi, identitas, relasi sosial). Wacana adalah penggunaan bahasa (language in use, language in action), yakni meliputi teks, baik teks lisan maupun teks tertulis.

Baca artikel saya sebelum ini, “Analisis Wacana Kritis  

Bahasa yang dikoneksikan dan diorganisasikan akan menjadi wacana. Teks dan wacana dapat dibedakan menurut konten dan intensitas relasinya pada realitas. Wacana memiliki daya jangkau yang panjang, intensitas pada realitas, proses makna dan negosiasi, sedangkan teks adalah berdaya jangkau pendek, dan merupakan produk dari wacana.

Wacana  lisan, dalam interaksi lisan, berbeda dari wacana tertulis. Dalam wacana lisan, sifat teksnya adalah simultan, fana, tidak meninggalkan jejak, tidak terekam. Teks tertulis, dibuat oleh pembuat wacana (discourse participants) yakni penulis teks. Tidak seperti pada teks lisan, teks tertulis ini terpisah dari penulisnya, bersifat otonom. Pembaca teks tertulis berada tidak bersamaan dengan penulis teks, sehingga ia menafsirkan (meng-interpretasi) teks secara terpisah, yang ada kemungkinan berbeda dari maksud penulis teks tersebut.

Karena inilah, Zellig Harris mengingatkan bahwa interpretasi tidak sesederhana mengartikan sebagaimana yang dimaksudkan penulis teksnya.

Meng-Interpretasi Teks

Analisis linguistik, bicara tentang bagaimana dan mengapa teks itu memiliki makna, berbasis tatabahasa dalam sebuah bahasa. Teks memiliki eksistensi ketika berkonjungsi dengan konteks, sebagai refleksi dari wacana (Widdowson, 2004:19). Teks dan tatabahasa memiliki dimensi interpersonal relations dan ideational relations.

Intensi dan Interpretasi Atas Teks

Sejak teks diproduksi, baik secara lisan maupun tertulis, tidak dapat dikategorikan sebagai kalimat sintaksis. Di sini  teks lebih bersifat epi-fenomena, artinya ia muncul sebagai sebuah gejala dan intensi pragmatis. Artinya, teks dan tata bahasa (grammar) memiliki makna kontekstual, gramatikal, pragmatis; ia berisi kode  bahasa, bersifat memandu (leading others), serta dipengaruhi oleh kultur.

Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA), dilakukan bukan pada makna teks, tetapi pada “apa yang mungkin dimaksudkan oleh teks” dan “apa yang mereka dapatkan dari pemaknaan itu”. Tidak ada kaitan dengan makna dan proses semantik dari teks tetapi pada bagaimana teks itu dimainkan, yakni pada faktor kontekstualitas. Konteks adalah konteks situasi ketika teks itu dibuat (Malinowski, dikutip Widdowson, 2004:37).

Bahasa mencerminkan realitas, dan menciptakan realitas (yang diinginkan), melalui tanda (Saussure), ia meng-kode tanda; bahasa bisa hadir sebelum realitas. Bahasa digunakan sebagai strategi wacana (eufemisme, disfemisme, labelisasi, stereotipe). Bahkan menurut saya, sebagai strategi kebudayaan (baru), ketika bahasa digunakan untuk menciptakan realitas melalui coding bahasa untuk mempengaruhi pikiran dan perilaku manusia.

Analisis Linguistik Terhadap Teks

Kondisi keberagaman teori dan penelitian sosial terkait tujuan, objektif, dsb, maka dibutuhkanlah suatu analisis tekstual secara detil, analisis teks linguistik, non-linguistik, modalitas semiotika, yakni analisis antar wacana atau  analisis antar teks, yang memiliki kontribusi pada analisis sosial.

Kompleksitas persoalan dan realitas sosial dan politik membutuhkan penyederhanaan wacana (discursive simplification), seleksi wacana, yang membutuhkan analisis linguistik secara detil, untuk mendekati penyederhanaan dan seleksi tersebut dilakukan berikut sumber-sumber yang digunakan dalam analisis linguistik tersebut. Hal ini sejalan dengan gagasan Leeuwen  tentang representasi, -yang digunakan dalam Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA)-, digunakan untuk mengembangkan sumber bagi analisis tekstual pada basis transdisiplin serta untuk mengoperasionalkan analisis tekstual untuk memperkuat penelitian dan teori sosial. Penyederhanaan wacana model Jessop ini (kondensasi dan translasi) dan model dialektika wacana Harvey, mengonstitusi pengerangkaan (framing) secara transdisiplin dan prinsip analisis representasi.

Menggunakan CDA Dalam Dialog Transdisipliner

Relasi rekontekstualisasi antara praktik sosial dapat direkontekstualisasikan secara semiotik sebagai relasi rekontekstualisasi antara genre praktik sosial yang berbeda, misalnya pidato politik dan laporan media.

Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA) sebagai Analisis Teks, merupakan hasil dari pendeskripsian mengenai isi teks pada level proses dibuatnya teks (processing analysis) yang digunakan untuk melakukan penafsiran (interpretasi) terhadap teks.

Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA) sebagai Analisis Sosial, adalah kegiatan yang berkenaan dengan kondisi sosial yang mempengaruhi proses pembuatan teks untuk menjelaskan hadirnya sebuah teks.

Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis (CDA) membentangkan antar momen wacana dari proses sosial, praktik dan perubahannya dalam relasi dialektikal. Objek penelitian (teori, metode dan agenda) dilakukan melalui dialog transdisipliner yang ditujukan pada integrasi koheren dari wacana dan analisis wacana. Pengembangan teori dan metode wacana dan analisis teks agar konsisten dengan pandangan dialektikal dari realitas sosial.***

 

Strategi Wacana Dalam Dunia Bisnis

Dalam dunia bisnis pun tak luput dari pertarungan wacana dominan elitis maupun non-elitis. Yaitu wacana dominan (produk, jasa) yang dipoduksi oleh “power holder” (pemilik produk, jasa) untuk membentuk wacana publik atau wacana dominan (promosi produk hingga diterima publik). Kuasa kecil non-elitis bisa diperankan oleh kompetitor maupun calon konsumen yang juga memiliki kuasa semisal sikap kritis hingga penolakan, dengan menggunakan perangkat pengetahuannya. Pertarungan wacana (perang dagang atau perang iklan) adalah pertarungan antar kompetitor terhadap produk sejenis di ruang publik.

Konsepsi wacana, pembentukan wacana, wacana dominan, kuasa, power holder beroperasi di ranah sosial, politik, ekonomi, bisnis, dll. Bahkan menurut saya, telah beroperasi di wilayah budaya, sebuah strategi kebudayaan baru dalam memunculkan dunia baru, peradaban baru!***

 

Berlanjut…..

Mengenal K-Strategies Dalam Critical Discourse Analysis

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *