Analisis Wacana Kritis – Critical Discourse Analysis – CDA

Posted on

Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis atau dikenal dengan singkatan CDA, adalah analisis kritis yang dilakukan terhadap wacana yang berkembang dan dikembangkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, memiliki kekuasaan, dengan memproduksi wacana dominan untuk menguasai ruang publik agar pihak-pihak lain juga ikut terdominasi dan terkuasai. Ini adalah agenda wacana atau produksi  wacana (Wodak dan Chilton). Alat yang digunakan untuk memproduksi wacana adalah bahasa, dengan penggunaan dan pilihan teks bahasa yang sejalan dengan misi kuasanya. Tak jarang dalam permainan bahasa ini memanfaatkan ruang kesadaran palsu dari publik untuk di-utilisasi sehingga sejalan dengan kepentingan dengan pihak yang memproduksi wacana tersebut. Di sinilah perlunya pengenalan isu-isu kritis dalam analisis wacana yang mencakup teks, konteks dan preteks (Widdowson) untuk membedah penggunaan bahasa dalam masyarakat. Analisis wacana kritis dilakukan untuk membongkar wacana dominan yang diproduksi tersebut. Oleh karenanya, studi analisis wacana kritis ini meliputi tema tentang ‘siapa yang membangun wacana’, ‘kekuasaan dan pemegang kekuasaan’ (power holder), dalam basis ‘filosofi analisis wacana kritis’.

Nah, ada beberapa kata kunci dalam bahasan Analisis Wacana Kritis ini: wacana, kuasa, bahasa, teks.

Wacana (diskursus, discourse), merupakan praktik sosial untuk mengonstruksi realitas sosial (objek, situasi, identitas, relasi sosial, dll). Atau, dengan kata lain, menciptakan realitas sosial, karena realitas sosial adalah realitas yang telah dikonstruksikan.

Baca artikel saya, “Memahami Realitas Sosial”.

Dalam Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis atau CDA, wacana adalah aksi sosial, praktik sosial. Aksi sosial mengonstruksi realitas sosial (objek, situasi, identitas, relasi sosial). Nah, dalam mengkonstruksikan atau bahkan menciptakan wacana ini, menggunakan bahasa sebagai instrumennya. Bahasa dalam wacana, merupakan aksi sosial (relasi sosial, dinamika kelompok, institusi sosial dan politik) yang diproduksi dan diinterpretasi oleh individu-individu ketika berinteraksi dengan individu lain. Maka, wacana, adalah bahasa dalam pengertian aktif, dinamis, ‘digunakan’ atau language in use, language in action. Sedangkan ‘bahasa’ dalam pengertian ‘alat komunikasi’ berbeda dari ‘bahasa yang diaktifkan’ yakni wacana ini.

Wacana adalah ‘language in action’.

Wacana, sebagai agen pengonstruksi realitas, juga dipengaruhi oleh beberapa kondisi yang melingkupinya, misalnya pengetahuan atau yang dikenal dengan model kognitif.

Model Kognitif, memahami wacana dari aspek pengetahuan kognitif yang berkaitan dengan pembentukan wacana.

Pertama, adalah pikiran (mind), adalah koleksi input yang secara otonom dan spesifik menentukan apa yang harus dilakukan, ia sebagai prosesor sentral yang berhubungan dengan intelejensi dan pemikiran kreatif. Kedua, adalah intuitif, menurut teori pikiran (theory of mind), yakni kemampuan manusia untuk menebak dan memprediksi.

Model kognitif CDA, menurut teori campuran, menjelaskan trik yang digunakan oleh pikiran manusia khususnya dalam memproses wacana. Wacana (wacana sosial) berisi frame dan komunikasi linguistik (Van Dijk, 1991, 1993a).

Aspek kognitif dari komunikasi ini, yang merupakan kerangka kognitif yang menstrukturkan pengetahuan dasar, berpengaruh dalam produksi wacana. Di dunia politik pun terjadi demikian, karena tidak semua orang mampu atau bersedia untuk merespons situasi politik secara kritis. Mereka bisa jadi mengekspresikan atau meragukan dunia politik, dalam pemahaman dan bahasanya sendiri (Wodak, 2005:45). Dalam penelitian transdisiplin, Wodak mengutip Fairclough, bahwa dialog antar dua disiplin atau kerangka kerja (framework) bisa menuntun ke arah pengembangan keduanya melalui proses masing-masing (Chiepello & Fairclogh, 2002, dalam Wodak, 2005:53).

Baca artikel saya sebelum ini, “Konstruksi Sosial Atas Realitas, Sosiologi Pengetahuan, Fenomenologi, Filsafat Ilmu dan Wacana”

Wacana (narasi) yang disederhanakan, diterjemahkan, dikondensasi merupakan konstitusi wacana sebagai imajinasi, dipengaruhi oleh selektivitas struktural, ruang lingkup dan raihan wacana (narasi) untuk membentuk wacana seperti apa yang diproduksi, bahasa seperti apa yang digunakan.

Relasi dialektikal antar wacana dan elemen dalam kehidupan sosial yang penuh dengan aneka karakter dengan proses-proses perjuangan politik. Proses politik untuk mengambil suatu manfaat adalah suatu hal yang wajar dan masuk akal bagi wacana atau narasi, untuk menciptakan hegemoni. Maka diperlukan suatu rekonstruksi wacana yang terbentuk dari realitas material, institusi dan kerangka kerja aksi.

Jadi, wacana bersifat kontekstual, gramatikal, aksi sosial, dan tentu saja, diwarnai oleh kepentingan. Inilah yang membedakan dengan bahasa (language). Bahasa digunakan tanpa ada unsur ‘kepentingan’. Tetapi jika ‘bahasa’ dimainkan untuk sebuah ‘kepentingan tertentu’, menggunakan bahasa tertentu, diksi (pilihan kalimat atau kata-kata tertentu), mengapa menggunakan kata atau kalimat yang ini, bukan yang itu, dll, inilah yang disebut ‘wacana’. Makanya, tadi saya tuliskan, bahwa ‘wacana’ adalah ‘language in action’.

Nah, unsur kepentingan inilah yang mendekatkan pengertian ‘wacana’ pada pengertian politik dan kekuasaan. Dan memang, CDA atau Analisis Wacana Kritis ini menaruh minat pada kajian tentang kekuasaan dan politik, yakni tentang siapa yang memproduksi wacana dan siapa pemegang kuasa (power holder) untuk memproduksi wacana tersebut. Para pemegang kuasa ini dalam memproduksi wacana memaksudkannya untuk tujuan meraih dan melestarikan kekuasaannya. Dengan cara apa? Dengan memproduksi wacana dominan, agar narasi yang terbentuk selaras dengan kepentingannya!

CDA atau Analisis Wacana Kritis hadir untuk membongkar wacana dominan ini. Inilah sifat ‘kritis; dari Analisis Wacana Kritis atau CDA ini.

Nah, siapa pemegang kuasa (the power holder) dan bagaimana mereka memproduksi wacana untuk maksud mereka, dan di bidang atau sektor apa sajakah bekerjanya mekanisme wacana dan produksi wacana beserta pirantinya (bahasa, diksi, kuasa, dsb), akan saya tulis di tulisan berikutnya.

Namun sebelum itu, supaya nyambung dengan tulisan ini, maka setelah tulisan ini akan saya sambung dulu dengan tulisan “Bahasa dan Teks Dalam Analisis Wacana Kritis”.

Gambar Gravatar
Pengajar di Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya, peneliti, peminat Rekayasa Sosial dan Pembangunan Politik, Personal Edification Coach metode MiracleWays™, blogger, Internet-Based Marketer (IBM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *